Reply: MohonPamitDanTerimaKasih

“Dear Rendhyy,,,

Gue sediiiiiiihhhh..

SUKSES yah Rendhy.. kalau kita jalan2 tetep ikut yah reenn :)

I’ll be missing you ren :’((((“

-TOK, Operation System Development Officer-

 

“Jiaaaaaahhhhh minjem duit dong buat bayar penalty…wkwkwkwk”

-DGP, Custom Clearance Officer-

 

“Wah koperasi peminjaman dana talangannya mana nih ? :p

Goodluck mas rendy ! maaf juga kalo ada salah kata / perbuatan yg kurang menyenangkan / menyinggung selama kenal..

Sukses dtempat baru yaa…”

-TWA, Custom Clearance Officer-

 

“Dear Rendhy,

Jadi sedih ditinggal kamu. Hik hik hik… Anyway, life must go on, money must go in.. So good luck and success for you. We miss you…”

-AIS, Accounting General Manager-

 

“Dear Pak Rendhy,

Semoga sukses selalu yah dalam segala bidang.”

-DLA, Secretary-

 

“Yah gak bisa futsal bareng lagi donk Mas. Hehehehe

Sukses ya ditempat yang baru.”

-TRS, FMCG Operation Officer-

 

“Its hard to believe ya nces,u gonna leave us.

Its just a sweetest things to have a bestfriend and brother like, im gonna miss u so damn much nces.               

i love u nces “

-VRE, Commercial Support Officer-

 

“Sdr Rhendy,

Saya ucapkan terima kasih atas dedikasi nya buat Puninar, saya doakan sukses ditempat kerja yang baru dan tetap lakukan silaturahmi dengan teman2 kerja di Puninar.”

-SRU, Marketing Director-

 

“Mas Rendhy,

Sukses ya Mas…..”

-YBT, SHE Operation Manager-


“Dear Rendhy,

Kami menyampaikan terimakasih atas peran dan karya Rendhy yang sudah memberikan nilai tambah buat perusahaan selama Rendhy bergabung di Puninar.

Mohon maaf jika sekiranya ada yang mungkin tidak berkenan selama ini.

Semoga apa yang dialami dan dipelajari di Puninar, dengan semangat, kebersamaan, teamwork ; akan menjadi bagian perjalanan hidup yang tak terlupakan dan memberikan dampak positif.

Terus berkarya, dimanapun anda berada. Semoga sukses.

Selalu ingat : I CARE for U

Good luck,”

-SWA, Human Capital & General Service General Manager-

 

“Rendhy, semoga sukses di tempat yang baru.”

-MAF, Sales & Marketing Manager-

 

“Goodluck Rend….still contact di BB dan twit.”

-DJE, Warehouse Automotive Manager-

 

“Ren…. Sukses selalu.

Terimakasih untuk bantuannya selama ini, rhen. J

Mohon maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan.

GBU always!!!! Semangat!!!”

-PLO, Secretary-


“Good luck Rendhy. I miss u a lot.”

-TLU, President Director-


“Hehehe

Keep contact ya ren”

-MSA, Recrutiment Supervisor-

 

“Be successful Rendhy…”

-BLA, Marketing Deputy Director-

 

“Good luck C Kink,

It’s short but it’s mean a lot …..”

-EMU, Hauling Operation Officer-

 

“Dear Rendy

Semoga semakin sukses ditempat yang baru..

Terima kasih”

-DPU, Administration Head Manager-

 

“Dear Rendhy.

Semoga sukses ditempat yang baru. Mudah”an kita masih tetap berkomunikasi dan saling menjaga tali silaturochim. آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن
Ditunggu kunjungannya lagi di Pangalengan, salam buat Ibu dan bapak juga keluarga.

Salam”

-DAJ, General Affair Supervisor-

 

“Semoga lebih sukses ditempat yaqng baru ….. so many people will miss you.

Tapi betul, “The COMPANY run our job but WE run our life….”’.

Good luck,”

-AMI, President Commissioner-

MohonPamitDanTerimaKasih

Kepada yth Bapak/Ibu dan rekan kerja Puninar Logistics,

 

Dengan hormat,

 

Hari ini, 5 Oktober 2012,  adalah hari terakhir saya bekerja dan beraktifitas di Puninar Logistics. Tak terasa sudah 1 tahun 9 bulan saya berada di dalam Rumah Puninar dan kini tiba saatnya bagi saya untuk mohon pamit kepada seluruh Bapak/Ibu dan rekan kerja yang telah menemani saya di dalam keluarga besar Puninar Logistics.

 

Ucapan terima kasih dan permohonan maaf saya sampaikan sebesar-besarnya kepada

 

-          Bapak Tjahjadi Lukiman, Bapak A.M Iljas, jajaran Dewan Komisaris dan Dewan Direksi, seluruh BU Leader, Division Head, dan ADH Coordinator serta jajaran management yang telah memberikan saya kesempatan untuk belajar dan berkarya di Puninar Logistics.

 

-          Seluruh rekan-rekan Management Trainee Batch 4: Torik, Echa, Edi, Reza, Via, Riky, Rahman, Alfa, Selvi, Sisi, Jalu, Yogi, Dito, dan Deva, yang telah menemani keseharian saya selama berada disini dan akan selalu menjadi bagian yang tidak pernah terlupakan di dalam perjalanan hidup saya.

 

-          Mas Gema, Pak Giri, Pak Hendy dan rekan-rekan MD dan MI yang telah menjadi partner kerja dan memperkenalkan dunia management kepada saya.

 

-          Pak Fadil, Mbak Sukma, Mas Arif, Mbak Milka dan seluruh rekan-rekan HRD, HRO dan Training yang telah membentuk kami selaku Management Trainee sehingga kami dapat tumbuh dan berkembang menjadi seperti saat ini. Tak lupa kepada Pak Affan dan Pak Yosia selaku mentor saya selama masa pendidikan.

 

-          Seluruh rekan-rekan Management Trainee Batch 1, 2, 3, 5, 6 dan 7 serta semua pihak yang pernah terlibat dalam kepanitiaan di lingkungan Puninar yang telah mengajarkan kepada saya tentang arti sebuah kebersamaan dan kekompakan.

 

-          Bu Yenny beserta komite Risk Management, Bu Sriwajuti beserta komite Culture dan Mas Aang beserta komite Senam Sehat Puninar yang telah memberikan warna baru di dalam keseharian saya di Puninar.

 

-          Seluruh PIC PDCA, ADH Project dan PIC Standarisasi yang telah memberikan dukungan bagi kami di team MD-MI dalam menjalankan aktivitas dan rutinitas pekerjaan harian kami.

 

-          Mas Rully, Mas Stefandy, Firdi, Amar, Bagus, Wahyudi, dan seluruh member team futsal Puninar yang telah menyisihkan waktunya untuk berolahraga bersama di sela-sela kesibukan kerja.

 

Serta kepada seluruh penghuni Rumah Puninar lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu-persatu disini, saya ucapkan terima kasih banyak atas kerja sama, arahan dan bimbingan yang telah diberikan kepada saya selama ini. Tak lupa saya memohon maaf jika selama ini ada perilaku atau ucapan saya yang kurang berkenan di hati Bapak/Ibu.

 

Demikian informasi ini saya sampaikan, terima kasih banyak atas perhatian dan kerjasamanya.  Semoga Puninar dapat semakin tumbuh dan berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan negara, semoga Rumah Puninar dapat memberikan perlindungan dan rasa aman bagi seluruh penghuninya, dan semoga persaudaraan yang telah kita jalin selama ini dapat tetap terjaga hingga akhir zaman.

 

“Excellent, Fantastic, Yes We Can…!!!”

 

Best regards,

 

C-Kink

 

Image“As we go on, we remember all the times we had together…”

TipeTipeJomblo


Alkisah di suatu pagi ketika gue sedang termenung sembari duduk manis, ummm maksud gue jongkok manis di kamar mandi (you know what I did there…), entah mengapa gue terpikirkan untuk mengklasifikasikan kaum jomblo, termasuk gue sendiri, ke dalam beberapa tipe berdasarkan karakteristik tertentu. Bahwa di dunia ini kaum jomblo itu, termasuk gue sendiri, ada banyak jumlahnya, adalah benar adanya. Namun  dari sekian banyak kaum jomblo itu, termasuk gue sendiri, ternyata bisa digolongkan menjadi beberapa tipe. Tapi sebelumnya gue mau protes dulu karena dari tadi gue nge-mention diri gue sendiri sebanyak tiga kali, seakan-akan memberikan penekanan bahwa gue adalah makhluk jomblo. Cuih…

Kita kembali lagi ke laptop. Jadi, berdasarkan pengamatan sepintas terhadap jomblo-jomblo di sekitar gue, termasuk gue sendiri, dan tanpa dilandasi oleh penelitian yang tepat akurat tajam aktual dan terpercaya, berikut ini gue mengklasifikasikan beberapa tipe jomblo sesuai karakteristik mereka masing-masing:

1.       Jomblo Susah Move On

Jomblo tipe pertama ini adalah jomblo yang masih menyimpan rasa dengan mantannya yang terakhir, atau yang kedua sebelum terakhir, atau yang ketiga sebelum terakhir, atau entah yang ke berapa lah. Tapi umumnya sih sama yang terakhir. Jadi, mereka-mereka yang masih ada rasa sama si mantan (padahal mungkin si mantan sendiri udah punya gandengan baru), dan rasa itu membuat mereka terjebak dalam kejombloannya, adalah definisi dari Jomblo Susah Move On. Ya, mereka susah untuk move on dari yang lama, sehingga pintu hati mereka tertutup untuk mencari yang baru.

Bagaimana cara untuk lepas dari status Jomblo Susah Move On ini? Kalo kata Om Mario Teguh, obat dari putus cinta adalah dengan cara jatuh cinta lagi.  Jadi kalo situ susah move on, gih sana cari pelampiasan supaya bisa beralih dari yang lama. Asal, pelampiasannya jangan sama sabun ya, apalagi sama timun…

*astagfirullahaladzim…*

2.       Jomblo Terjebak Masa Lalu

Kita berlanjut ke tipe kedua, yaitu Jomblo Terjebak Masa Lalu. Hah, apaan nih? Secara umum, Jomblo Terjebak Masa Lalu hampir mirip dengan Jomblo Susah Move On. Jomblo Terjebak Masa Lalu adalah mereka-mereka yang sering melamun dan mengenang hal-hal indah yang pernah mereka alami di masa lalu, entah itu dengan mantan ataupun non-mantan tapi merupakan orang-orang yang pernah mendapat tempat spesial di hatinya. Mereka selalu mengenang bahwa dulu pernah begini, pernah begitu, atau pernah romantis-romantisan dengan si ini, si itu, atau si nganu. Akhirnya kenangan masa lalu itu menghalangi mereka untuk menerima apa yang ada di masa kini, karena ekspektasi mereka yang terlalu tinggi membuat mereka mudah kecewa jika apa yang mereka hadapi di masa kini tidaklah se-romantis apa yang pernah mereka rasakan dulu.

Lalu, bagaimana caranya untuk melepas status Jomblo Terjebak Masa Lalu? Yah, realistislah, wahai anak muda. Kalau kata dosen-dosen strategi di kampus gue, Indonesia ini lemah karena semuanya terjebak dengan istilah “kejayaan masa lalu”, yaitu ketika Sriwijaya dan Majapahit menguasai Asia Tenggara. Padahal dari sisi strategi, mereka yang sukses bukanlah mereka yang mengenang masa lalu, melainkan mereka yang mampu memprediksi masa depan dan selanjutnya MENCIPTAKAN masa depan mereka sendiri. Jadi, jangan terjebak dengan kejayaan masa lalu, segeralah beralih untuk menciptakan kejayaan di masa kini dan masa depan. Super sekali!

3.       Jomblo Ngenes

Ummm sebelumnya gue tegaskan dulu bahwa tipe jomblo yang ketiga ini bukanlah sedang membicarakan gue sendiri. Sekali lagi, ini bukan lagi ngomongin gue. Bukan kok, ini bukan gue. Tenang aja, bukan ngomongin gue. BUKAN GUE WUOY, BUKAN…!!!

#kemudianstroke

*inhale, exhale*

Jadi, tipe jomblo yang ketiga ini kita sebut dengan Jomblo Ngenes. Sebenernya gue males juga sih nulisnya, karena gue tau pasti lu semua bakal langsung membayangkan bahwa gue adalah sosok yang tepat untuk menjadi model jomblo tipe ini. Tapi… …Ah, sudahlah…

Jomblo ngenes adalah mereka-mereka yang menjadi jomblo karena -mohon maaf- selalu ditolak setiap kali menyatakan perasaannya. Atau dengan kata lain: nggak laku (backsound: JLEB!). Ya, mereka ditolak karena berbagai penyebab. Apa saja sebab-sebab itu? Sepertinya terlalu frontal jika gue tulis disini, tapi intinya adalah bahwa para jomblo ngenes ini adalah mereka yang menjomblo karena ditolak melulu.

Adakah cara untuk melepaskan diri dari status jomblo ngenes? Seharusnya sih ada, dan kalaupun ada, seharusnya gue udah bisa terlepas dari status ini. Eh, maksudnya ada kok, ada cara untuk lepas dari status ini… *panik*. Gimana caranya?

Kalo dari teori ekonomi, kan ada supply dan demand alias penawaran dan permintaan. Selain itu ada juga istilah consumer surplus, producer surplus, serta willingness to pay. Nah, gue nggak mau menjelaskan apa arti dari istilah-istilah tersebut, karena gue juga nggak tau apakah istilah-istilah itu ada hubungannya sama cara untuk lepas dari status jomblo ngenes. Tapi intinya, percayalah bahwa se-ngenes-ngenes-nya suatu makhluk, pasti mereka memiliki pasangannya masing-masing. Mereka hanya perlu memantaskan diri untuk menjadi pribadi yang pantas bagi pasangannya itu. Jadi kalau selama ini ditolak terus, itu karena dua alasan: bisa jadi karena dia belum pantas bagi yang menolaknya, atau justru yang menolak lah yang memang tidak pantas untuk dia. Semoga alasan yang kedua adalah yang mendekati kebenaran… #ngeles

  1. Jomblo Sombong

Wow, keren juga nih ada istilah Jomblo Sombong. Siapakah mereka? Jomblo Sombong, secara definisi, adalah jomblo-jomblo yang sombong. Udah, titik. Gitu aja.

*kriiiiikkk.. kriiiiiikkk…*

“Jomblo itu nasib, single itu prinsip.” Pernah denger tagline semacam itu? Ya, itulah salah satu tipikal dari Jomblo Sombong. Secara de facto mereka adalah jomblo. Tapi mereka enggan mengakui ke-jomblo-annya dengan beralibi menggunakan tagline sebagaimana tersebut di atas. Jomblo itu nasib, single itu prinsip. Mau jomblo ataupun single, intinya kan sama: sama-sama nggak punya pasangan!

“Saya tidak single, karena sesungguhnya saya telah terikat relationship dengan seseorang di masa depan.” Nah, kalau tagline yang ini juga udah pernah denger? Ini juga salah satu tipikal dari Jomblo Sombong. Secara logika otak gue yang beranjak lemot ini, gimana ceritanya ada orang yang terikat relationship dengan seseorang di masa depan? Kecuali menggunakan alatnya Doraemon, rasanya tidak mungkin. Karena jika anggaplah kita punya pasangan di masa depan, maka ketika kita telah tiba di masa depan tersebut, sesungguhnya si pasangan di masa depan itu telah berada di masa depan yang lebih depan lagi. Sehingga sampai kapanpun kita tidak akan pernah bertemu dengan si pasangan masa depan itu. Bukan begitu? CMIIW!

Intinya adalah, Jomblo Sombong adalah mereka-mereka yang enggan mengakui ke-jomblo-annya, baik secara langsung atau tidak langsung. Bagaimana cara lepas dari status Jomblo Sombong ini? Mirip dengan Jomblo Ngenes, yaitu bahwa setiap orang memiliki pasangannya masing-masing. Orang sombong pun, insya Allah juga memiliki pasangannya sendiri. Hanya saja, ya mohon jangan bersedih jika ternyata pasangannya pun sama sombongnya.

  1. Jomblo Prinsipil

Dan tipe terakhir, adalah Jomblo Prinsipil. Gue nggak tau apakah ada istilah “Jomblo Prinsipil”, terutama pada kata “Prinsipil” yang memiliki kata dasar “Prinsip”. Tapi kalaupun nggak ada istilah seperti itu, ya udahlah kita ada-adain aja, gapapa kan ya?

Apakah Jomblo Prinsipil itu? Jomblo Prinsipil adalah mereka-mereka yang memutuskan untuk menjadi jomblo dan tetap menjadi jomblo dikarenakan sebuah prinsip. Prinsip yang tentunya hanya mereka sendiri yang memahaminya. Prinsip yang sejauh apapun kita memaksanya, mereka tetap akan terus menjomblo. Hanya satu alasan yang membuat mereka memutuskan untuk melepas satus jomblonya, dan alasan itu bernama: PERNIKAHAN!

Lalu, apa bedanya Jomblo Prinsipil dengan Jomblo Sombong? Ouw, jelas beda jauh, sobat. Jomblo Sombong, sebagaimana disebut diatas, enggan mengakui ke-jomblo-annya. Padahal dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak lepas dari seputar percintaan dan asmara, termasuk galau-galaunya juga. Sementara, Jomblo Prinsipil TIDAK PERNAH dan TIDAK TERTARIK membahas dan mempermasalahkan hal-hal seperti itu. Bagi mereka, romansa dan asmara hanyalah bagi pasangan sah mereka, setelah mereka mendaftar ke KUA. Jadi, Jomblo Prinsipil tidak pernah mempermasalahkan status orang lain, apalagi status dirinya sendiri, dan tidak tertarik dengan dunia per-galau-an sebagaimana banyak dialami oleh pemuda-pemudi jaman sekarang.

Bagaimana cara untuk melepaskan diri dari status Jomblo Prinsipil? Sebagaimana telah disebut sebelumnya, hanya ada satu cara, yaitu pernikahan. Jadi, wahai para anak muda, tinggalkanlah sabun dan timun, kemudian datangi KUA segera. Huahahahaha…

***

Iyes, itu tadi adalah tipe-tipe jomblo yang berhasil gue definisikan ketika gue sedang ngejongkrok di kamar mandi rumah. Tanpa bermaksud menusuk dan menyindir, bagi kita semua yang jomblo, kita termasuk jomblo tipe yang mana? Apakah kita adalah jomblo yang susah move on? Apakah kita adalah jomblo yang sombong? Atau apakah kita adalah jomblo ngenes? Kalau gue sih udah jelas jawabannya: Iya, gue jomblo ngenes!

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa masih banyak tipe-tipe jomblo yang bisa jadi belum terdefinisikan disini. Gue hanya memberi contoh lima aja, mungkin sisanya bisa lu tambahin sendiri. Misal, ada Jomblo Playboy, yaitu jomblo-jomblo yang tidak niat berkomitmen karena hanya ingin have fun doang. Atau mungkin, Jomblo Alay. Udah jomblo, alay lagi. Kasian banget dah…

Pada akhirnya hanya ini yang bisa gue berikan untuk kalian semua. Semoga ada manfaat dan pelajaran yang bisa kita ambil dari sini. Dan terakhir, gue ingin mengutip sebuah kalimat bijak dari seorang sohib yang juga pernah gue posting di twitter gue.

“Karena sesungguhnya cinta itu tidak hanya memberi, tetapi juga harus menerima. Menerima kenyataan bahwa kamu ditolak berkali-kali.”

Salam Jomblo Ngenes!

Depok, 25 April 2012, 01:09

*lagi nungguin Chelsea tanding di semifinal Liga Champions lawan Barcelona-

LongTimeNoHere


 

Sabtu, 7 April 2012. Gue baru saja selesai mengumpulkan tugas ujian tengah semester mata kuliah Manajemen Strategi dan Lingkungan Bisnis Dinamis yang membuat mata gue yang minus 3,5 kanan-kiri ini terjaga hampir di sepanjang malam. Tubuh ini butuh istirahat sejenak, lepas dari ruangan 4 x 4 meter alias kamar gue yang hampir setiap malem selalu gue berantakin dengan buku-buku dan jurnal-jurnal perkuliahan maupun gitar dan tas yang berserakan. Juga lepas dari meja kerja berukuran 1 x 2 meter yang digunakan oleh 4 orang alias meja kerja di kantor gue tempat gue menghabiskan hampir 9 jam per hari di dalam hidup ini. Dan, D’Mall atau yang dulu dikenal sebagai Mall Depok hadir sebagai tempat pelarian.

 

Kenapa D’Mall? Sejatinya di sepanjang jalan Margonda Raya ada banyak mall-mall selain D’Mall itu sendiri. Ada Margo City, Depok Town Square, Plaza Depok, dan ITC Depok (kalau mau dianggap sebagai mall). Lalu kenapa D’Mall? Kenapa bukan yang lain? Karena D’Mall yang baru hidup kembali ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh mall-mall lainnya. Dan itu adalah: tempat foodcourt yang nyaman, sepi, cozy dan tentu saja: gratis! Alias kita tidak perlu membeli makanan atau minuman untuk dapat duduk manis disitu. Kecuali kalau si mas-mas pramusaji tiba-tiba datang menghampiri sembari berkata, “Mau pesan apa Mas?”. Dan mohon maaf sobat, pertanyaan itu selalu gue jawab dengan pilihan menu yang paling murah yang ada disini. “Teh manis panas aja Mas”. Mendengar jawaban itu, gue seringkali berpikir bahwa si mas-mas itu dalam hati akan berkata. “yo mbok pesen’e sing akeh to mas, ojo koyo wong melarat ngono. Apik-apik kok kere, piye iki rek…

 

Gue mengemudikan MyLovelySolBro dari parkiran Pascasarjana FE UI menuju parkiran D’Mall. Sekilas info mengenai MyLovelySolBro alias My Lovely Soluna Brother, kini dia lah yang menemani setiap langkah gue di ibukota ini, entah itu ke kantor, ke kampus, ataupun ke tempat-tempat lainnya. Efek dari utilisasi yang berlebihan ini adalah kini kilometer MyLovelySolBro telah mencapai angka 110 ribu di usianya yang telah mencapai 11 tahun, dimana 5 tahun diantaranya dihabiskan di tangan gue. Semoga dia bisa tetap setia menemani gue sampai gue menjadi direktur nanti.

 

Margonda siang ini belum begitu padat. Di jalanan depan D’Mall, terlihat beberapa ekor anak manusia dengan dandanan horor sedang mengadakan aksi teatrikal, memakan sebagian badan jalan. MyLovelySolBro telah masuk ke basement D’Mall dan berjajar rapi di tengah puluhan mobil-mobil lainnya yang gue yakin harganya jauh lebih mahal dibanding Toyota Soluna hijau metalik yang sedang gue pegang ini.

 

Sesampainya di lantai dasar, sebuah panggung terhampar di aula D’Mall. Melihat dari backdrop, spanduk, meja-meja dan sekumpulan manusia yang sedang berada di sana, terlihat jelas bahwa mall ini sedang mengadakan festival dance. 5 orang anak perempuan seusia ABG kemudian naik ke atas panggung yang masih sepi dan diiringi dentuman musik yang gue lupa judulnya apa, mereka berlatih headstand dengan dipandu instruktur. Gue pribadi tidak begitu terkejut melihat anak-anak sekecil itu mampu melakukan headstand. Gue baru akan terkejut jika ternyata mereka mampu melakukan breaststand. Ups…

 

*Astagfirullahaladzim… Apa yang ada di pikiranmu, anak muda…*

 

Kaki ini terus melangkah menuju eskalator. Satu demi satu lantai telah gue lewati. Ternyata sudah banyak yang berubah sejak terakhir kali gue kesini. Akhirnya tiba lah gue di lantai atas, tempat dimana foodcourt yang gue idam-idamkan itu berada. Mata melirik kesana-kemari mencari dimana gerangan colokan listrik, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, seonggok meja beserta kursi yang masih kosong berdiri persis di sebelah lokasi colokan listrik. Pantat gue yang seksi ini pun segera menduduki tempat itu sebelum keburu ada orang lain yang menjajahnya.

 

Duduk manis seorang diri di foodcourt D’mall. Ditemani laptop Compaq, smartphone Blackberry, beserta tas bahu dengan buku Good to Great karya Jim Collins di dalamnya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali gue duduk manis di tempat ini. Segera Blackberry gue membuka aplikasi foursquare dan check ini di D’Mall dengan status yang berbunyi, “Long time no here.”

 

Mata ini melihat sekeliling. Memperhatikan apa yang terjadi dan mengawasi apa yang mungkin terjadi di sekitar sini. 5 orang bocah laki-laki berbaju hitam-hitam terlihat sedang menikmati makanan cepat saji. Selesai makan, mereka bangkit dan beridiri menuju lokasi yang agak luas, dan membentuk sebuah formasi. Selanjutnya mereka melakukan gerakan-gerakan layaknya SM*SH sedang berjoget di atas panggung Inbox atau Dahsyat yang dikelilingi oleh alay-alay ibukota. Ya, ternyata mereka adalah salah satu peserta festival dance sebagaimana gue sebut sebelumnya. Silahkan saja sobat, silahkan jika anak-anak seumuran kalian ingin mengabdikan diri di dunia dance dan bermimpi menjadi seperti SM*SH kelak. Silahkan kalian berdansa, namun hanya satu pesan gue: jangan jadi homo, please…

 

Amazone, tempat bermain semacam Timezone, seperti biasa tidak banyak dikunjungi oleh manusia. Seperangkat mesin permainan Dance-Dance Revolution berdiri manis di dekat gue tanpa ada seorangpun di atasnya. Membuat kaki ini gatel ingin segera meloncat-loncat disana. Ya, gue termasuk salah seorang yang gemar bermain Dance-Dance Revolution. Satu tahun lalu, gue rutin bermain disini. Begitupun dengan mesin permainan Time Crisis 3, yang juga termasuk salah satu favorit gue. Permainan menembak itu menyenangkan, sobat. Gue telah berkali-kali menembak musuh-musuh yang ada di sana, termasuk sang raja terakhirnya. Namun entah mengapa gue selalu gagal menembak perempuan dan sudah ditolak sebanyak 3 kali dalam 1 tahun terakhir ini…

 

*Eaaaa… Ada yang curcol!*

 

Radio Pop FM Jakarta masih tetap berada di sudut sana. Dulu, sekali lagi, dulu, persisnya sekitar 1 tahun yang lalu, tempat itu adalah salah satu tempat yang rutin gue kunjungi hampir setiap minggu. Tidak perlu gue ceritakan apa yang gue lakukan disana, karena kalau lu bertanya pun gue juga belum tentu bersedia memberikan jawabannya. Radio itu masih tetap sama, hanya orang di dalamnya saja yang kini sudah berbeda.

 

Menit terus berjalan, kini dari aula lantai dasar mulai terdengar bunyi dentuman musik keras dan orang-orang mendekat mengerumuninya. Suara MC terdengar membahana, pertanda bahwa festival dance tersebut sudah dimulai. Dan karena bunyi musik tersebut cukup menggangu konsentrasi, akhirnya gue pun mengakhiri tulisan ini dan bersegera untuk menonton festival dance tersebut. Siapa tau kemudian ada seorang instruktur yang tertarik melihat bodi gue yang six pack ini dan berminat untuk menjadikan gue personel Cherry Belle yang ke-sepuluh. Eh, maksudnya menjadikan gue sebagai personel SM*SH ke-delapan. You know me so weeeeeeeeell…

 

Depok, 7 April 2012, 14:06

 

 

 

 

 


IndividualUniqueness


 

Uniqueness. Istilah itu seakan sudah tidak asing lagi di telinga kita. Jajaran Top Management tanpa kenal lelah berulang kali menekankan kepada perusahaan untuk memiliki uniqueness supaya perusahaan dapat tetap kompetitif di dunia industri, serta dapat tumbuh dan terus berkembang dengan menjadi dominan di lahannya masing-masing.

 

Sejatinya, uniqueness atau keunikan tidak hanya menjadi miliki suatu perusahaan atau organisasi saja. Sebagai individu, seseorang juga hendaknya mampu memiliki uniqueness di dalam dirinya sendiri yang membuatnya memiliki nilai lebih sehingga dapat tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan kerja dan lingkungan sosialnya.

 

Memang, pada dasarnya setiap orang terlahir unik: setiap orang memiliki ke-khas-an masing-masing dan tidak akan sama antara satu orang dengan yang lainnya, bahkan terhadap anak kembar sekalipun. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah kita sudah merasa cukup dengan keunikan yang “sudah dari sananya”, ataukah kita terus berusaha untuk menggali dan mencari keunikan-keunikan yang masih bisa kita kembangkan?

 

Keunikan pada seorang manusia dapat diwujudkan dalam banyak hal, yang secara umum definisi keunikan tersebut dapat diartikan sebagai “hal yang paling berkesan dimata orang lain ketika mengingat orang tersebut.” Ada orang yang selalu menyapa semua orang dan memberi keceriaan dimanapun dia berada; itulah keunikan orang tersebut. Ada orang yang selalu tersenyum dan dengan ramah bersedia mengajarkan segala hal satu persatu; itulah keunikan orang tersebut. Ada orang yang selalu bisa menjadi pemberi solusi saat ada masalah; itulah keunikan orang tersebut. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Setiap manusia diberikan kesempatan untuk menjalani hidup, dan rasanya sungguh sangat sia-sia jika hari-hari dilalui dengan datar-datar saja. Untuk dapat tumbuh dan berkembang, seseorang hendaknya memiliki uniqueness pada dirinya sendiri. Memang pada akhirnya bukan orang tersebut-lah yang dapat menlai dan mendefinisikan keunikan apa yang ada pada dirinya, melainkan dari bagaimana kesan dan pesan orang-orang di sekitarnya terhadap dirinya. Untuk itu ada baiknya ketika kita telah mencoba untuk membentuk uniqueness di dalam diri kita, sejenak kita tanyakan kepada rekan kita, “Apa keunikan yang ada pada diri saya?”

 

ApaYangSedangKitaLakukan?


 

Alkisah ada 4 orang pekerja bangunan sedang membangun sebuah sekolah.  Mereka membangun dinding sekolah: menyusun batu bata, mencampur semen dan menumpuk batu bata yang satu diatas yang lainnya. Kemudian ada seorang pemuda yang bertanya kepada mereka, “Apa yang sedang kalian lakukan?

 

Pekerja pertama menjawab, “Saya sedang menumpuk batu bata yang satu diatas batu bata yang lainnya.” Karena menurutnya memang itulah yang sedang dia lakukan.

 

Pekerja kedua menjawab, “Saya sedang membangun sebuah dinding.” Karena menurutnya tujuan dari dia menyusun batu bata demi batu bata tersebut adalah untuk membangun sebuah dinding.

 

Pekerja ketiga menjawab, “Saya sedang membangun sebuah sekolah.” Karena menurutnya dinding-dinding yang akan dia bangun tersebut nantinya akan diperuntukkan untuk sekolah.

 

Pekerja keempat menjawab, “Saya sedang membangun sebuah peradaban.” Karena menurutnya dari sekolah tersebut akan terjadi proses pendidikan dan pengajaran didalamnya, yang merupakan cikal-bakal sebuah peradaban untuk umat manusia di masa depan.

 

***

 

Seringkali kita alpa untuk menyadari, apa tujuan dari aktivitas yang kita lakukan dalam keseharian kita. Kita melakukan aktivitas sehari-hari, namun pernahkah kita mencoba untuk memahami, sejatinya apa tujuan kita melakukannya. Apakah kita hanya sebatas melakukannya, ataukah kita tahu bahwa aktivitas-aktivitas yang kita lakukan merupakan salah satu langkah untuk menuju suatu tujuan besar.

 

Sebagian besar diantara kita tentunya memiliki impian besar: menjadi direktur, menjadi pengusaha sukses, membangun yayasan pendidikan, menjadi negarawan, mendirikan rumah sakit, atau lainnya. Semua impian tersebut tidak mungkin dapat dibangun hanya dalam satu malam. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan langkah yang perlu seseorang lakukan untuk mencapai impiannya.

 

Untuk menuju Surabaya dari Jakarta dengan menggunakan mobil misalnya, sebelum sampai ke Surabaya tentunya kita harus melewati Cikampek, jalur pantura, Cirebon, Semarang, Tuban, Gresik dan barulah sampai di Surabaya. Begitupun untuk meraih tujuan hidup dan impian kita, banyak langkah dan proses yang perlu kita lewati terlebih dahulu, termasuk aktivitas-aktivitas di dalamnya.

 

Kembali sebuah pertanyaan yang ditujukan untuk diri kita masing-masing, “Apa yang sedang kita lakukan?”. Apakah kita hanya sebatas melakukannya karena itulah aktivitas harian kita, ataukah kita tahu bahwa aktivitas tersebut akan menuntun kita untuk mencapai sebuah impian besar?

 

Dengan menyadari hal tersebut, keluhan akan aktivitas yang dilakukan tidak akan terjadi lagi. Karena kita menyadari, meskipun mungkin terlihat kecil atau sepele, justru itulah salah satu proses untuk mencapai tujuan besar. Meskipun hanya sebatas menumpuk satu batu bata diatas batu bata yang lainnya, namun justru dari situlah langkah awal sebuah peradaban akan terbangun.

 

Sehingga sekali lagi, ketika kita ditanya “Apa yang sedang kita lakukan?”, maka jawaban seperti apa yang kita berikan?

 

 

ResensiBuku: Cracking Zone – Rhenald Kasali

Cracking Zone

 

Cracking Zone – Rhenald Kasali

Keterangan buku:

Penulis            : Rhenald Kasali

Judul               : Cracking Zone

Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal               : 356 halaman

“Bagaimana memetakan perubahan di abad 21 dan keluar dari perangkap comfort zone”

Kalimat tersebut menjadi tagline pada buku Cracking Zone karangan Rhenald Kasali ini. Ya, siapa yang tidak kenal dengan Rhenald Kasali, seorang guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia  yang aktif mendalami konsep daya saing dari Prof. Michael Porter – Havard University, sekaligus seorang pendiri Rumah Perubahan, sebuah wadah kewirausahaan sosial dan menjadi rumah bagi mereka yang mengalami kesulitan melakukan perubahan.

Buku Cracking Zone ini membahas tentang perubahan, yaitu apa yang telah terjadi  dalam landscape bisnis Indonesia beberapa tahun terakhir. Para pembuat perubahan tersebut dalam buku ini adalah definisi dari istilah crackers. Crackers adalah para pemecah kode-kode perubahan, mereka tidak menganut asas wait and see yang bisa dianut para profesional-konvensional, melainkan segera bertindak dan menerobos ke dalam cracking zone.

Di masa lalu Indonesia pernah mengenal para crackers seperti  alm. Sosrodjojo (Teh Botol) dan Tirto Utomo (Aqua) yang telah mengubah wajah industri minuman. Dulu mungkin orang akan merasa aneh ketika melihat teh dan air mineral dijual dalam kemasan, namun hari ini hal tersebut sudah menjadi salah satu kebutuhan wajib kita khususnya ketika sedang bepergian. Begitupun dengan para crakckers dari seluruh dunia seperti kakak-beradik Dick dan Maurice yang membangun kedai burger siap saji (McDonald’s), ataupun Bill Gates yang memperkenalkan sistem operasi windows untuk komputer (Microsoft).

Crackers bukan hanya terdiri dari barisan para penemu, melainkan juga pengubah industri yang menimbulkan kehancuran atau retakan pada kebun-kebun milik tetangga-tetangga mereka. Buku ini membahas bagaimana perkembangan dan kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, telah membuat suatu perubahan dalam gaya dan pola hidup masyarakat Indonesia. Kemudian fenomena ini ditangkap oleh seorang crackers bernama Hasnul Suhaimi, CEO XL, yang telah memperbaharui industri telekomunikasi Indonesia. Bagaimana tarif telepon seluler di Indonesia yang dulu berkisar antara Rp 5.000 – Rp 6.000 per menit, kini dengan tarif Rp 1 per detik hanya dibutuhkan beberapa puluh rupiah saja.  Serta bagaimana perumusan formulasi strategi XL untuk merebut posisi Indosat dalam industri telekomunikasi nasional, yang bernama Formula 123, yaitu XL harus ber-SATU untuk menjadi nomor DUA dalam jangka waktu TIGA tahun.

Bagi orang-orang yang gemar perubahan dan ingin memperbaharui diri, buku ini mampu menambah wawasan dan semakin membuka mata untuk segera bertindak. Karena untuk mengubah wajah industri tidak cukup hanya dengan para leaders, tetapi dibutuhkan ilmu yang lebih untuk menjadi crackers.

“Saatnya merubah cara-cara lama. Berikan perasaan it’s me, dan tempatkan diri Anda pda krisis. Kemenangan akan datang kemudian.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.