Archive for September, 2008
KenapaYa
Kenapa ya kok bahasa Inggris dijadiin sebagai bahasa Internasional? Kenapa gak bahasa Arab atau bahasa Indonesia aja?
Kenapa ya kok mata uang Dolar dijadiin sebagai mata uang perdagangan Internasional? Kenapa gak Dinar, Dirham atau Rupiah aja?
Kenapa ya kok sebagian besar universitas2 terbaik di dunia adanya di Barat? Kenapa gak di Timur Tengah atau di Indonesia aja?
Kenapa ya kok dunia perfilman isinya orang Barat semua? Kenapa bukan orang Timur Tengah atau orang Indonesia?
Kenapa ya kok gampang banget penyanyi2 Barat mengorbitkan namanya hingga ke seluruh penjuru dunia? Kenapa penyanyi2 Indonesia gak bisa kaya gitu?
Kenapa ya dunia fashion kok berkiblatnya ke Barat? Kenapa gak berkiblat ke Timur Tengah atau ke Indonesia aja?
Kenapa ya orang2 kita kok banyak yang ngelanjutin kuliahnya di Barat? Kenapa gak di Timur Tengah atau di Indonesia sendiri aja?
Kenapa ya banyak orang2 kita yang merasa bangga bisa kerja di perusahaan2 asing? Kenapa gak di perusahaan2 nasional aja?
Kenapa ya kok teknologi2 maju berkembangnya dari Barat? Kenapa gak dari Indonesia aja?
Kenapa ya pemilihan presiden Amerika jadi headline di seluruh dunia? Kenapa ketika pemilu Indonesia beritanya gak mendapat tempat di media internasional?
Kenapa ya kok sampe hari ini kita masih BELOM JUGA SADAR kalo kita sedang DIBODOHI dengan ideologi KAPITALISME?
Kenapa ya kok kita merasa NYAMAN dengan KEBODOHAN kita ini?
Hmmm… Ada yang bisa menjawab pertanyaan2 di atas? Meskipun ada yang bisa menjawabnya, tapi bukan itu yang aku butuhkan. Aku butuh niat, kesungguhan, aksi dan langkah nyata dari kita semua untuk MENOLAK semua kebodohan di atas. BERANI?
2 comments September 26, 2008
AdaApaDenganKucing
KCB #1
(Bukan “Ketika Cinta Bertasbih” tapi “Kucing Cuilik Berkalung”)
Rabu, 17 Ramadhan 1429 H / 17 September 2008 M
Sore hari di suatu tempat di Kota Jogjakarta, khususnya di ruang BEM KMFT UGM, aku sama Ketua BEM Teknik yang bernama, sebut saja “Mas Ayi” (memang nama sebenarnya), baru pulang dari membeli ta’jil buat buka puasa hari ini. Mas Ayi memarkir motornya di parkiran sebelah Timur BEM.
Di parkiran itu terlihat ada 2 ekor kucing yang lagi nongkrong di sela2 motor yang teparkir. Yang satu kucingnya udah agak gede. Yang satu lagi kucingnya masih kecil, plus ada kalung & lonceng nya. Si kucing kecil berkalung itu mendekat ke kaki ku. “Krincing krincing…” kira2 gitu bunyinya. Jangan protes lho…
Aku melangkah masuk ke ruang BEM. Kucing kuwi isih ngintili awak ku sing kuru iki (hwayo artinya apa…?). Di dalam BEM ada beberapa ekor makhluk, tapi aku agak lupa siapa aja, salah satunya adalah seekor manusia yang bernama, sebut saja Andhika (juga nama sebenarnya). Sampai pada akhirnya beberapa ekor makhluk tersebut mulai beranjak pergi meninggalkan ruang BEM, menyisakan 5 ekor anak manusia, yaitu aku sendiri, Mas Ayi, Dwinna, kembarannya Dwinna yang aku lupa namanya (kata Nadia sih namanya Kiki) dan seekor laki2 yang aku gak tau namanya.
Aku mulai membuka bungkusan batagor yang tadi baru dibeli buat ta’jil. 2 bungkus batagor itu kita geletakin di lantai beralaskan bungkus plastiknya, supaya bisa kita santap rame2. Tiba2 si kucing berkalung yang tadi ngintili aku dari luar, secara perlahan mulai berjalan dengan keempat kakinya dan keenam kumisnya mendekati batagor yang tergeletak. Hidungnya mengendus2 naik turun. “Ndus ndus…” kita anggap aja bunyinya kaya gitu. Jangan pada protes lagi lho…
Melihat hartanya terancam, Mas Ayi mencoba melindungi batagor itu dengan cara mencegah si kucing mendekat lebih dekat lagi ke batagornya. Si kucing kecil yang lemah dan tak berdaya itu gak bisa berkutik menghadapi tangan Mas Ayi yang kotor, panuan, kudisan dan banyak bulunya itu. Kucing itu pun mencoba mendekati bungkusan bubur ayam yang masih terbungkus rapi. Tapi kucing itu kayanya gak suka bubur ayam. Terbukti bubur ayam itu ditinggalkannya begitu saja. Mungkin dia sukanya sama bubur tikus kali ya…
Lalu kucing itu mencoba lagi mendekati batagor yang tergeletak. Dan lagi2, tangan Mas Ayi menghadangnya. Bahkan Mas Ayi gak segan untuk menggendong kucing itu keluar ruang BEM. Kami pun kembali menikmati batagor tersebut. Eh tapi si kucing gak mau kalah. Ia masuk lagi ke ruang BEM dan melangkah mendekati batagornya. Dan sekali lagi, Mas Ayi mulai menghalau kucing itu ke luar ruang BEM. Kucing itu masuk lagi. Digendong keluar lagi oleh Mas Ayi. Masuk lagi, dikeluarin lagi. Masuk lagi, dikeluarin lagi. Masuk lagi, dikeluarin lagi. Masuk lagi, dikeluarin lagi. Begitu seterusya sampe aku bosen nulisnya…
Singkat cerita setelah batagornya habis dan setelah melaksanakan Sholat Maghrib, ronde kedua dimulai, yaitu bubur ayam. Kucing tadi masih iseng masuk2 ke ruang BEM. Pun ketika aku dan Mas Ayi makan bubur ayam di ruang BEM, kucing itu mencoba untuk mengendus2nya. Lalu aku keluarkan sebutir kerupuk dan aku sodorkan ke moncong kucing itu. Kucing itu mendekatinya dan perlahan mulai memakannya. “Kraus kraus…” kurang lebih bunyinya kaya gitu.
Kerupuk itu dimakannya. Setelah abis, Mas Ayi mencoba membagi kerupuknya dengan si kucing. Tapi Alhamdulillah, si kucing tidak mau memakan kerupuknya Mas Ayi, malah membiarkannya tergeletak begitu saja. Wah kucing ini hebat juga ya, bisa ngebedain mana orang baik dan mana orang jahat. Huahahahahaha…
Jadilah aku dan Mas Ayi berbagi kerupuk buat si kucing, sementara bubur ayam nya masuk ke perut kami masing2. Setelah semua beres, aku meninggalkan ruang BEM untuk pulang ke kosan, meninggalkan Mas Ayi, seekor anak manusia yang aku lupa namanya dan kucing itu di ruang BEM.
Kamis, 18 Ramadhan 1429 H / 18 September 2008 M
Sekitar jam 11 siang, aku mau ke ruang BEM untuk sekedar nongkrong sembari berleha2. Baru nyampe di depannya, aku ketemu seekor anak manusia yang sebelomnya udah kita ketahui bernama Andhika. Andhika dengan tampangnya yang memelas dan penuh rasa iba serta bela sungkawa dan duka cita, berujar kepada ku,
“Mas, kucing yang kemaren udah pergi…”
Aku yang baru dateng dan gak ngerti apa2, mencoba untuk mempercepat sambungan koneksi ku dengan ucapan Andhika.
“Hah? Kucing yang mana, yang kemaren sore?”
“Iya Mas…”
“Emang kucingnya pergi ke mana?”
“Kucingnya pergi bukan untuk sementara, tapi untuk selamanya…”
Aku sedikit mikir. Pergi untuk selamanya? Pergi selamanya berarti ke mana ya? Ke Las Vegas? Gak mungkin. Ke planet Mars? Juga gak mungkin. Ke medan perang Afghanistan? Lebih gak mungkin. Masuk lagi ke dalem rahim ibunya? Tambah gak mungkin. Berarti kemungkinan terburuk adalah…
“Hah? Mati?”
“Iya Mas…”
Inna lillahi wa inna illaihi rajiuun… Telah berpulang ke rahmatullah, seekor kucing bin bapaknya kucing pada malam hari Rabu 17 September 2008.
Kata Andhika, menurut penuturan saksi mata bernama Fauzi dan Doni, mayat kucing itu ditemukan tergeletak tak berdaya dan bersimbah darah di lantai depan ruang BEM. Dari kondisinya, tim forensik berasumsi bahwa kucing itu meninggal akibat tertabrak, eh terlindas motor. Iya, di belakang ruang BEM emang ada parkiran motor. Dan mungkin salah satu dari motor yang melintas malam itu telah tanpa sengaja MEMBUNUH si kucing imut dan lucu tersebut. Dan Doni berinisiatif menguburkan kucing itu di tanah kosong di bawah pohon di belakang ruang BEM.
Ya apa mau dikata, kucing itu telah kembali ke pangkuan-Nya. Gak ada lagi kucing kecil imut yang akan mengendus2 makanan ku. Gak ada lagi kucing kecil imut yang bisa dielus2. Dan aku sangat menyesal karena di beberapa jam sebelum kematiannya, aku tidak berbagi bubur ayam ataupun batagor ku dengannya, hanya beberapa butir kerupuk saja, yang notabene kerupuk itu gak akan mengenyangkan perut melainkan hanya memperbanyak kentut… Duuuut… Ih bau…
KCB #2
(Bukan “Ketika Cinta Bertasbih” tapi “Kucing Cuilik Bulukan”)
Ini masih lanjutan dari cerita diatas. Masih di hari dan tanggal yang sama, sekitar jam 1-an aku meninggalkan ruang BEM dan kembali ke kosan dengan aura dan perasaan hati yang galau akibat ditinggal mati si kucing. Huiks huiks…
Sesampainya di kosan, setelah memarkir MyLovelySolBro, aku beranjak ke kamar. Persis di depan kamarku, tepatnya di kesetnya, ada seekor kucing kecil bulukan sedang tidur. Wah ada apa ini? Dari mana kucing ini berasal? Apakah kucing ini adalah reinkarnasi dari kucing yang baru aja mati tadi?
Tanpa berniat mengganggu kucing yang sedang bermimpi indah itu, aku membuka pintu secara perlahan. Lalu aku masuk ke dalem. Ternyata kucing itu terbangun. Kucing itu tampak kebingungan. Kepalanya menoleh kesana-kemari, seakan mencari2 sesuatu. Eh tiba2 kucing itu ikutan masuk ke dalem. Dia juga celingukan di dalem kamarku. Aku biarin aja tuh kucing menjelajahi kamar kos ku yang berukuran 5×3 meter ini.
Lama kuperhatikan, ternyata si kucing masih aja mondar-mandir gak jelas. Aku bingung apa yang dia cari. Terus aku inget kalo di depan kosan ku ada bekas makanan sisa sahur tadi pagi. Aku kan sahurnya pake catering, kaya di rantang2an gitu. Dan siang ini rantangnya belom diambil sama si pemilik cateringnya, masih tergeletak di depan kosan. Aku gendong kucing itu ke depan kosan dan aku sodorkan kucing itu ke rantang tadi. Kucing itu terlihat mengendus2 dan kemudian ia mencomot cabe ijo yang tersisa. Aduh, kok ngambilnya cabe sih…
Lalu aku masuk lagi ke dalem dan selanjutnya aku tidur2an di kamar sambil membaca koran. Eh si kucing juga ikutan masuk ke dalem, ditinggalkannya makanan yang masih tergeletak di depan. Kucing itu masih tetep mondar-mandir gak jelas mengitari kamar kos ku. Karena gemes, akhirnya aku gak tega ngebiarin kucing itu sendirian. Aku gendong kucing itu dan aku taro di dada ku, samentara posisi ku sendiri masih tiduran sambil baca koran “Republika”.
Si kucing sekarang lagi celingukan di dada ku. Mungkin dalam hati ia mikir, ini badan orang apa mayat busuk, kok bau banget. Aku elus2 kucing itu. Puss puss meooong…
Dalam posisi sedeket ini, aku perhatiin kalo teryata mata kiri kucing itu gak pernah kedip. Gak tau kenapa, tapi cuma mata kanannya aja yang suka kedip, mata kirinya gak pernah. Muka nya juga penuh dengan dempul dan tambalan, kaya abis dari bengkel. Eh maksudnya banyak koreng dan bekas luka gitu. Intinya gak mulus lah, gak kaya model2 iklan Ponds atau Biore yang kulitnya pada PuBer putih bersih itu.
Kucing itu bergerak perlahan. Dia berjalan perlahan mendekat ke arah kepala ku. Sampai pada akhirnya kepala si kucing itu menyentuh dagu ku yang penuh dengan jenggot. Ya udah iseng2 aku gerak2in aja kepala ku, aku elus2 si kucing dengan jenggot ku. Eh si kucingnya malah kesenengan.Dia langsung rebahan dan mulai tidur di deket jenggot ku. Waduh ini kucing menjajah tempatnya malaikat yang senantiasa gelantungan di jenggot ku nih.
Selesai baca koran, aku beranjak ke toilet buat cuci muka melepas panas di siang bulan Ramadhan ini, setelah sebelomnya aku angkat dan aku gendong kucing itu yang tadi tidur di dada ku. Setelah aku masuk ke dalem toilet dengan pintu yang kubiarkan terbuka, lagi2 kucing itu ikutan mengintili aku ke dalem toilet. Kucing itu, sekali lagi, mondar-mandir gak jelas di dalem toilet. Mau nyari apa Pus, mau nyari tinja?
Dari gosip2 yang aku denger dari ibu2 tukang gosip, katanya kucing tuh gak suka air. Iseng2 aku cipratin air dikit2 ke badan kucing itu. Kucing itu fine2 aja kok, cuma ngegeleng2 dikit sekedar membersihkan air dari badannya. Ah terbukti gosip tetaplah gosip selama ia masih menjadi gosip dan akan tetap menjadi gosip…
Supaya gak ngenganggu, aku gendong kucing itu keluar. Persis di depan pintu toilet, kucing itu mulai merunduk mengendus2 seperti biasa. Dan tiba2 kucing itu mulai meminum air yang masih tergenang di kamar mandi ku. Gluk gluk gluk gluk… Anggap aja bunyinya kaya gitu.
Aku turut prihatin dan berduka cita atas keadaan si kucing ini. Niat ku sih mau ngasi kucing ini air beneran, bahkan susu kalo perlu. Tapi sedihnya, pada saat itu air galon ku udah abis. Ya udah deh, aku biarin kucing itu minum air genangan dengan sendirinya. Untuk memudahkan, aku ambil air dari ember pake gayung terus aku sodorin ke kucing itu. Akhirnya kucing itu pun minum air dari gayung tersebut. Betapa sedihnya nasibmu wahai kucing kecil…
Selepas dari toilet aku balik lagi tidur2an di kamar untuk sekedar melepas lelah. Kucing itu masih tetep ngikutin aku. Dia tinggalin segayung air yang tadi aku kasih. Ya udah deh sambil tiduran, aku gendong kucing itu dan aku taro lagi di dada ku. Aku pun mencoba memejamkan mata seupaya tidur, dengan seekor kucing kecil yang juga lagi tiduran di dada ku. Wah pokoknya kita udah kaya anak kembar deh.
Lagi enak2 tiduran, tiba2 di depan kamar kos ku terdengar suara beberapa orang anak kecil. Mereka ngomong2 apa gitu, gak jelas. Terus salah seorang dari mereka berteriak2 memanggil,
“Mas… Mas…”
Kata2 “Mas” diatas tuh diucapkan dengan teriak lho, bukan dengan bisikan lembut kaya ayam2 yang suka nongkrong malem2 di pinggir jalan. Hwayo ayam apa tuh?
Aku yang kepedean dan merasa bahwa panggilan “Mas” itu ditujukan buat ku, segera bangkit dari tidur ku. Lalu aku keluar kamar menemui mereka, yang ternyata ada 3 ekor anak kecil.
“Mas liat kucing kecil gak?” ujar salah seorang dari mereka dengan logat khas Jogjakarta.
“Oh kucing kecil? Sebentar ya…,” jawabku. Lalu aku melangkah ke dalam kamar dan menggendong kucing yang tadi tiduran di dada ku. Mungkin kucing ini yang mereka maksud. Aku gendong kucing itu dan aku bawa tunjukin ke mereka.
“Kucing ini Dek?”
“Iya Mas…”
Aku menyodorkan kucing itu ke mereka. Salah seorang dari mereka mengambilnya dan langsung mengelus2nya. Untuk menyejajarkan badanku yang 2 kali lebih tinggi dari mereka, aku duduk lesehan di depan kamar kos ku.
“Ini kucing kamu Dek?” tanyaku yang merasa paling tua sendiri di antara mereka. Ya iyalah…
“Bukan Mas, tadi nemu.”
“Oh ya udah kamu ambil aja.”
“Gak usah Mas, dititipin di sini aja.”
Hah nitip? Lalu kami berempat mulai duduk bersama dengan posisi mereka bertiga di hadapan ku. Ih jadi kaya orang mentoring aja.
Aku mulai bertanya2 tentang asal-usul kucing ini kepada mereka. Aku juga bercerita gimana awalnya kucing ini bisa ada di kamarku. Mereka yang belakangan diketahui masing2 kelas 2 SD, 3 SD dan 4 SD pun menjawabnya dengan penuh antusias. Ternyata mereka nemu kucing itu di jalan, deket rumah mereka. Niatnya mau mereka pelihara, tapi mereka udah gak boleh melihara kucing lagi sama keluarganya. Sampe pada akhirnya kucing yang mereka kasi nama “Pussy” ini terdampar di depan kamarku, yang membuat mereka mengejarnya sampe kesini.
Tapi obrolan kami gak cuma itu doank. Mereka juga cerita banyak tentang kucing2 lainnya yang pernah singgah di hati mereka. Ada kucing lucu yang warnanya kuning, ada kucing yang diusir dari rumah salah seorang dari mereka, dan ada kucing yang mereka beri nama “Ben”. Hah, Ben? Kucing kok namanya Ben? Yah gak apa2 namanya juga anak kecil… Sekalian aja ntar kucingnya dikasi nama Charlie, Freddy, Bambang atau Fernando Jose.
Ada kiranya 1 jam aku ngobrol sama anak2 itu, mulai dari masalah kucing sampe hal2 lainnya. Sampe pada akhirnya adzan Ashar berkumandang dan aku terpaksa mengusir mereka untuk pulang ke rumah masing2. Lalu mereka pun pulang, sedangkan si kucing ditinggal dan dititipkan di kosan ku.
Selepas mereka pulang dan aku sholat Ashar, aku berniat untuk melanjutkan tidur siang ku yang tadi sempet terganggu. Aku pun merebahkan diri ku untuk tiduran, menyusul si kucing kecil yang udah tidur duluan di atas karpet kamar ku.
+- 20 menit kemudian aku terbangun. Kucing itu masih tertidur di deket pinggang ku. Tanpa berniat mengganggu tidurnya, aku bangun secara perlahan dan bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan berdandan. Waktu lagi cuci muka dan sikat gigi, tiba2 kucing itu ikutan masuk ke kamar mandi dan melintas di bawah kaki ku. Aduh pussy, kenapa diri mu selalu mengintili kemana pun aku melangkah?
Akhirnya aku gendong kucing itu ke luar kamar mandi dan aku berikan segayung air keran buat dia melepas dahaga. Selesai cuci muka plus dandan, aku bergegas untuk berangkat ke kampus, mau ada meeting sama anak2 BEM. Tapi aku bingung juga, ketika aku pergi nanti ini kucing mau diapain. Diapain ya enaknya? Dibawa ke BEM? Ditinggal di dalem kamar sendirian? Di lempar ke penggorengannya abang2 burjo? Atau mau disembelih di angkringan buat dijadiin nasi kucing? Selama ini kan cuma sebutannya aja yang nasi kucing, padahal lauknya mah cuma tempe sama teri gak ada kucing2nya pisan. Gimana kalo dibikin nasi kucing dalam makna sebenarnya, yaitu nasi dengan kucing goreng sebagai lauknya? Hiiiii…..
Balik lagi ke bahasan awal. Lalu aku putuskan untuk meninggalkan kucing itu di depan kosan ku aja. Aku gendong kucing itu keluar kamar dan aku taro di deket rantang bekas saur tadi pagi. Aku sodorin rantangnya ke kucing itu. Dan kucing itu pun mencomot sisa perkedel yang ada di sana. Nah gitu donk makannya perkedel, jangan cabe…
Selagi kucing itu makan, aku bergegas masuk ke dalem mobil. Ketika pintu mobil aku tutup, kucing itu sedikit tersentak. Lalu dia menghentikan makannya dan ganti menoleh ke arah ku yang udah duduk manis di balik setir. Kucing itu menatap ku kosong, seakan ada sesuatu yang ia pikirkan. Seakan2 kucing itu gak mau berpisah dengan ku, pengen selalu bersama2 dengan ku kapanpun dimanapun di setiap suka maupun duka. Co cwiit…
Aku juga gak tega ngeliatnya. Kucing itu menatap penuh harap ke arahku, Aku balas menatap ke arahnya. Aduh gimana nih… Kapan lagi aku bisa bercengkrama sepuas2nya dengan seekor kucing, mengingat di rumahku di Depok aku gak diperbolehkan melihara kucing. Akhirnya kaki ku bergerak menekan pedal gas dan aku meninggalkan kucing itu sendirian di depan kamar kos ku dengan mata yang masih menatap ke arah mobilku. Goodbye kucing ku sayang. Ku pasrahkan nasib kita kepada Zat Yang Maha Berkehendak. Jika masih ada umur, tentu Dia akan mempertemukan kita kembali suatu hari nanti. Dan mobilku pun melaju meninggalkan kosan ku.
Singkat cerita, malamnya aku baru pulang ke kosan. Aku berharap kucing itu sedang tertidur di keset depan kamar ku sebagaimana keadaan di siang tadi. Tapi harapan ku ternyata hanya tinggal harapan. Tak ada siapapun yang lagi ngorok di atas keset tersebut. Aku menengok ke sekeliling, mencari2 kiranya si kucing masih berada di sekitar sini. Tapi hasilnya nihil, kucing itu gak ada di sekitar sini. Hanya ada hembusan angin malam yang semilir menusuk kalbu, yang menjadi saksi kemana perginya kucing itu…
1 comment September 26, 2008
LaguCintaLaura
Wahai segenap manusia di seluruh penjuru dunia di manapun kalian berada, pernahkah kalian mengenal seekor makhluk yang bernama Cinta Laura? Pernahkah? Kenalkah? Pernah kenal kah? Kalo gak kenal ya gak apa2, gitu aja kok repot…
Baru2 ini gw denger2 Cinta Laura banting bibir jadi seekor penyanyi. Lagunya udah sering diputer dimana2 dan udah masuk chart juga katanya. Tapi gw belom pernah denger, itu lagu kaya gimana sih kok sampe bisa masuk chart segala. Maklum lah, gw sebagai seekor aktivis gak punya waktu buat nonton tivi2 kaya gitu yang sebagian besar acaranya berisi SAMPAH semua.
Sampe pada akhirnya pada suatu kebetulan yang sudah ditakdirkan di dalam Lauh Mahfudz, akhirnya rasa penasaran gw terobati juga. Waktu itu kebetulan gw lagi minjem flashdisk nya salah seekor anak Teknik Nuklir yang bernama Satria Prahara buat ngopi surat perijinan penambahan SKS. Terus waktu iseng2 gw buka flashdisknya, ternyata di dalemnya ada lagu2 Indonesia terbaru, salah satunya adalah lagunya Cinta Laura yang berjudul “Oh Baby”. Ya udah tanpa menunggu kiamat dateng, langsung gw copy dan langsung gw dengarin dengan saksama dan dalam tempo dan waktu yang sesingkat2nya.
Secara pribadi gw penasaran dengan lagunya Cinta Laura ini. Si Cinta Laura yang punya bibir ajaib yang awalnya terkenal sebagai pemain sinetron, kini mulai merambah ke dunia tarik suara. Emangnya dia bisa nyanyi? Ya makanya gw penasaran. Tapi sebelomnya gw udah pernah denger salah satu lagunya Cinta Laura. Yang judulnya “Becyek” itu lho, yang liriknya cuma tediri dari kata2 Ujyan, Macyet, Becyek, dan Oujyek doank. Itu juga paling cuma ulah usil seseorang yang iseng me-remix kata2 tesebut.
Nah di kesempatan ini setelah gw berhasil mengcopy lagu tersebut dengan sukses dan mendengarkannya dengan seksama, maka terketuklah hati gw yang lemah lembut ini untuk sedikit berkomentar tentang lagu “Oh Baby” nya Cinta Laura. Mau tau seperti apa? Let’s get it on..
Duk tak duk… Tak duk duk tak duk…
Tonet tonet…
Duk tak duk… Tak duk duk tak duk…
Tonet tonet…
Ih bunyi apaan tuh? Anggap aja mewakili bunyi2an instrumen musik. Jangan protes ya.
Lagu ini dibuka dengan dentuman drum dan sedikit betotan bass dan gitar yang beraroma minor. Wah ini lagu pasti nuansanya RnB banget. Itu komentar gw waktu pertama kali denger lagu ini. Lalu suara ajaib Cinta Laura dari bibirnya yang juga gak kalah ajaibnya itu mulai membahana.
Kau bikin pusing tujuh keliling
Buat aku mabuk kepayang
Gayamu cool dan seksi
Bla bla bla bla bla bla
Itu tadi lirik dari bait pertama lagu ini, masih dengan nada2 minor dan nuansa RnB. Lumayan juga, suaranya lembut2 tipis gitu. Terbayang lah jenis suara kaya gitu bisa keluar dari bibir seekor Cinta Laura. Tapi lirik tersebut ada yang gw tulis bla bla bla bla bla. Kenapa demikian? Soalnya gw masih gak jelas, waktu di bagian itu si Cinta Laura ngomong apaan. Dengan bibirnya yang berkarakter itu, gw gak tau kalimat apa yang dia ucapkan di situ, apakah bahasa Indonesia, apakah bahasa British atau mungkin emang sebenernya dia lagi kumur2. Kalo ada yang tau, tolong kasitau gw ya…
Kau sihir aku yang sedang kosong
Disaat aku butuh cinta
Mantra-mantra dahsyatmu
Menarik aku yang sendiri
Memang lagi putus cinta
Itu bait keduanya. Auranya masih sama kaya bait pertama, cuma liriknya udah lumayan bisa gw tangkep meskipun gw harus bekerja keras untuk mendapatkan kata2 apa yang keluar dari bibir ajaib Cinta Laura.
Katakan katakan kau sungguh-sungguh
Hanyalah aku di dalam hatimu
Katakan katakan kau cinta aku
Untuk selamanya kau jadi milikku
Kalo yang ini udah bagian bridge nya, satu bagian sebelom reff. Disini nadanya udah mulai bernuansa mayor dan agak2 ngepop, gak minor lagi kaya di bagian awal. Pas nyampe sini gw langsung enjoy. Wah ini lagu ternyata enak juga ya. Ditambah lagi dengan suaranya si Cinta Laura yang lembut2 tipis gak jelas, yang membuat bulu kuduk gw semakin merinding. Hah merinding? Emangnya kuntilanak?
I don’t wanna lose you
Yes I wanna hold you
I don’t wanna make you
Make you sad and make you cry
Oke, kita sampe di bagian reffnya. Dan you know what? Gw INTEREST banget sama reff dari lagu ini! Interest disini maksudnya “tertarik” lho, bukan “bunga bank”, soalnya bunga bank itu kan riba dan riba itu haram. Terus apa hubungannya bunga bank dengan lagu ini? Ya gak ada lah…
Iya, secara jujur gw kaget begitu denger bagian reff dari lagu ini, bener2 maknyuss banget. Musiknya mengalun santai, dengan nada2 mayornya yang seakan mampu menutupi nada2 minor di awal lagu ini. Aura RnB yang disajikan di awal lagu telah hilang dan tergantikan dengan nuansa pop yang ada di bagian reff ini. Ditambah dengan lirik lagu yang menggunakan bahasa British yang sesuai dengan karakter dan bentuk serta spesifikasi bibir seekor Cinta Laura, membuatnya semakin enak didenger. Apalagi suaranya Cinta Laura juga gak terlalu jelek kok, mengingat beliau dikaruniai bibir yang unik seperti itu.
Plus, gw agak bingung dengan nuansa yang disuguhi di bagian reff ini. Musiknya cuma terdiri dari ketukan bunyi drum, betotan bass serta semacam sound efek yang kayanya berasal dari keyboard ditambah sedikit melodi. Musiknya bener2 minimalis. Kalo kata orang2 arsitek, “Modern Minimalis”, meskpun gw sendiri juga gak tau artinya apaan. Ya intinya di bagian reff ini musiknya minimalis tapi punya suatu nuansa yang berbeda yang gak bisa diungkapkan denga suara kentut.
Oh baby baby baby
Setelah reff, lagu ini kembali kaya bagian awalnya, balik lagi ke nada2 minor dengan sedikit genjrengan gitar. Sementara Cinta Laura nya sendiri mengucapkan lirik Oh baby baby ditambah dengan suara latarnya yang mencoba berimprovisasi, mengingatkan gw dengan Britney Spears, Christina Aguilera atau Laela Sari saat di masa jayanya dulu. Ih kenapa ada Laela Sari segala?
Selanjutnya lagu ini ngulang lagi dari awal. Gw mulai bisa menikmati lagu ini secara holistik dan menyeluruh. Taapi bakalan lebih terasa lagi kalo Cinta Laura nya nyanyiin lagu ini secara langsung di depan mata kepala gw sendiri. Wuaouw… Dan ketika sampe bagian reff untuk kedua kalinya, bibir gw yang gak se-seksi bibir Cinta Laura ini pun inkut bersenandung pelan.
I don’t wanna lose you
Yes I wanna hold you
I don’t wanna make you
Make you sad and make you cry
Yuk yah. Secara keseluruhan, gw ucapkan SELAMAT atas keberhasilan Cinta Laura dan rekan2nya yang terlibat dalam lagu ini yang telah mampu membuat gw menyisihkan sebagian umur di dalam hidup gw hanya untuk menulis secuil komentar tentang lagu “Oh Baby” ini. Go Cinta Laura, Go! Biarlah kafilah berlalu, anjing tetap menggonggong. Eh kebalik ya? Whatever lah. Yang penting, intinya gw suka lagu ini. Hohohohoho….
Oh iya. Ada yang tau gak, yang nyiptain lagu ini tuh siapa ya? Ahmad Dhani bukan?
8 comments September 20, 2008
MerekaJugaManusia
Assalamualaikum wr wb
Kepada seluruh manusia di seluruh penjuru dunia binatang…. Kepada seluruh umat manusia di manapun kalian berada… Dan kepada manusia-manusia yang kemanusiaannya itu dimanusiakan oleh kemanusiaan manusia yang memanusiakan manusia-manusia yang manusianya manusia itu bermanusiakan manusia yang manusia-manusianya manusia…
Seperti biasa, paragraf pertama selalu diawali dengan tulisan2 gak jelas. Kalo dalam bahasa Cinta Laura disebutnya, “gak meaning”. Tapi gak peduli apakah itu meaning atau gak meaning, mari kita simak dulu lagu berikut ini.
“Coba kau pikirkan… Coba kau renungkan…
Apa yang kau inginkan telah aku berikan…
Coba kau pikirkan… Coba kau renungkan…
Tanya bintang-bintang hanya kau lah yang kusayang…”
Nah… Pernahkah kalian denger tentang lirik lagu barusan? Tentunya udah gak asing lagi kan? Apalagi dengan grup band yang mempopulerkan lagu tersebut, semua makhluk mengetahuinya. Dari pengamen sampe musisi Java Jazz, dari sopir angkot sampe paspampres, dari tukang sayur sampe tukang ngibul, pasti kenal sama band fenomenal yang satu ini. Band apakah itu?
Sheila on Seven? Bukan…
Kerispatih? Bukan…
Ressa Herlambang? Ih ngaco…
Backstreet Boys? Buset dah…
Mulan Jamilah? Tambah ngaco aja lu…
Jadi band apaan donk?
Yup, tebakan kalian semua adalah BENAR jika di tulisan kali ini kita bakalan ngebahas tentang sebuah band asal Sumatera yang bernama “Kangen Band”. Kenal kan? Siapa sih yang gak kenal Kangen Band, apalagi dengan vokalisnya itu yang Insya Allah mirip banget sama Tom Cruise. Jangan ada yang protes lho.
Kangen Band, sebuah band fenomenal dan extra ordinary yang seringkali dijadikan bahan olok2an oleh kaum muda kebanyakan. Dari namanya aja udah sering jadi bahan ceng2an. Ada yang menyebutnya dengan sebutan “Kenjyen Band” (dari kata “Kangen” yang dibaca dengan ejaan bahasa British) atau “Miss Band” (bahasa Inggris untuk kata “Kangen”).
Band ini juga sering diolok2 karena lagu2nya yang bener2 Kenjyen banget, yaitu berirama cengeng dan melayu2 gitu. Dan ditambah lagi dengan vokalisnya yang bernama Glenn Fredly, eh maksudnya Andhika. Bukan Andhika Dwi Putra atau Andhika Pratama, apalagi Andhika Ratnasari (emang ada?). Iya si Andhika, seorang vokalis yang bener2 berkarakter dan berkharisma, sampe2 banyak orang yang sirik dengan beliau dan mengekspresikan rasa siriknya itu dengan mengolok2 beliau.
Plus, si frontman dari band ini yang bernama Dodhy yang tak lain dan tak bukan adalah gitarisnya. Sekali lagi, si Dodhy ini juga punya karakter dan kharisma yang luar biasa yang ngebuat orang2 ikut2an sirik sama beliau.
Itulah Kangen Band. Kita gak memungkiri kalo akhir2 ini mereka sering menghiasi layar akuarium di rumah kita. Eh maksudnya layar kaca, yaitu televisi. Bukan cuma di televisi aja (kalo di Sunda disebutnya “telepisi” dengan hurup “ep”, soalnya di Sunda kan gak ada abjad “pi”), tapi juga di radio2 dan dibantu lagi oleh para pengamen jalanan yang seringkali nampang di lampu merah atau di warteg2 kaki lima. Dengan itu, lagu2 mereka semakin hari semakin populer. Dan sedikit banyak orang2 mulai mengenal dan menghapal seperti apa tampang2 personelnya yang imut2 itu.
Tapi, semakin hari semakin banyak juga orang2 yang menghina, merendahkan, meremehkan dan menjelek2kan Kangen Band. Ada yang bilang lagu2nya sampah lah, ada yang bilang personelnya jelek lah, ada yang bilang alirannya cupu lah, dan segala caci-maki lainnya yang tidak seharusnya didengar oleh kakek2 di bawah umur. Bahkan, ada sebuah band rap yang entah dari mana asalnya yang bernama “Eight Ball” yang secara terang2an menzhalimi Kangen Band dalam salah satu lagu mereka, yang liriknya berisi kata2 yang tidak seharusnya diucapkan oleh orang2 yang berintelektual tinggi.
Apa yang salah dengan Kangen Band? Salahkah mereka jika mereka punya wajah yang imut2 seperti itu? Salahkah mereka jika mereka memainkan musik2 maknyuss seperti itu? Salahkah? Sakahlah? Kahlasah? Sahkalah? Kalahsah? Ih apa sih…
Tentunya, tidak ada kata SALAH atas apa yang telah mereka lakukan selama ini. Yang ada hanyalah OPINI masyarakat2 yang gak berperikemanusiaan yang dengan sombongnya menjelek2kan Andhika dan teman2nya.
Atas dasar apa kita menilai lagu mereka cupu? Atas dasar apa kita menilai tampang mereka rusak? Atas dasar apa kita menilai Kangen Band dengan sebutan sampah?
Tidak ada yang mendasari semua itu selain satu hal yang bernama KESOMBONGAN. Iya, manusia tidak pernah lepas dari sifat sombong. Bahkan banyak orang yang bangga dengan kesombongannya itu. Padahal, tidak akan masuk surga orang yang di hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar dzarrah pun.
Di dalam dunia musik Indonesia, ada PeterPan. Ada Nidji. Ada Kerispatih. Ada Dewa. Ada Aura Kasih. Ada ST12. Ada Agnes Monica.Ada T2. Ada Balawan. Dan Ada Band. Masudnya ada Ada Band, gitu loh. Mereka semua adalah pihak2 yang telah berjasa mewarnai dunia musik nasional. Dan salahkah jika Kangen Band masuk ke dalam salah satu dari mereka?
Sesungguhnya dengan kehadiran Kangen Band justru semakin memperkaya khazanah dunia musik Indonesia. Kangen Band tidak menebarkan benih2 permusuhan. Kangen Band juga tidak menyuarakan suara2 perpecahan. Lalu kenapa kita mesti mencela dan menghujat mereka?
Cukuplah sudah semua cacian yang diberikan kepada Kangen Band. Buanglah semua kesombongan yang selama ini membelenggu diri kita. Seperti apapun hujatan yang diberikan kepada Kangen Band, hal itu justru semakin membuat orang penasaran dan semakin meningkatkan popularitas mereka.
Namun itu semua dibuktikan sendiri oleh Kangen Band bahwa mereka bukan sekedar band yang numpang lewat. Mereka punya genre lagu yang lain dari yang lain. Bahkan front leader mereka yang bernama Dodhy, yang juga seringkali dijadikan bahan ejekan, ternyata memiliki kemampuan untuk menciptakan lagu2 bagus. Bisa dilihat dari banyaknya penyanyi atau band2 lain yang membawakan lagu2 yang diciptakan oleh si Dodhy, dan lagu2 itu pun laris di pasaran.
Maka alasan apa lagi yang akan kita gunakan untuk tetap menghujat Kangen Band? Sesungguhnya kita adalah manusia, dan Kangen Band pun juga merupakan manusia. Pantaskah manusia merasa lebih hebat dari manusia yang lain? Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kita atau fisik kita, tetapi Dia melihat ketakwaan kita. Dan apakah kamu suka memakan daging saudara mu sendiri?
Wassalamualaikum wr wb
Add comment September 20, 2008
TambahSatuLagi
Setiap harinya, manusia bertambah menjadi semakin tua. Bukan cuma setiap hari, tapi juga setiap menit bahkan setiap detik pun umur kita terus bertambah. Detik demi detik terus berlalu, semakin mendekatkan kita kepada suatu hal yang bernama kematian.
Di bulan ini, khususnya bulan September, aku telah melangkah maju. Bukan melangkah maju menuju suatu kebaikan atau melangkah maju untuk menempuh cita2, tapi melangkah maju mendekati kematian. Kok bisa? Ya bisa duonk… Soalnya di bulan September ini akika berulang tahun lho bow… Huohohoho…
Sebelom berlanjut lebih jauh lagi, mari kita nyanyi2 dulu…
“Happy birthday to you…
Happy birthday to you…
Happy birthday happy birthday…
Happy birthday to you…”
Eh stop dulu. Kita kan orang Indonesia, kok nyanyinya pake bahasanya Cinta Laura sih? Mari kita nyanyi sekali lagi…
“Selamat ulang tahun kami ucapkan…
Selamat ulang tahun kita kan doakan…
Selamat ulang tahun sehat sentosa…
Selamat panjang umur dan bahagia…”
Hore… Plok… Plok… Plok… Plok… Pit piuw… Suiiit suiiit… Cewek godain kita donk… Astagfirullah…
Iya, kira2 begitulah. Hari ini, eh bukan hari ini tapi bulan ini umur ku tambah 1 lagi. Bukan berarti tambah tua, tapi tambah deket dengan kematian. Gak terasa udah +- 20 tahun sejak terakhir kali aku brojol dari rahim seorang perempuan cantik bernama Pudji Indrawati. Tapi itu kalo pake tanggalan Masehi. Kalo pake tanggalan Hijriah mungkin udah 21 tahun lebih dikit, soalnya aku terlahir di bulan Muharram 1408.
Nah, sekarang apakah sebaiknya kita berbahagia atau bersedih? Bukan kita sih, tapi aku doank. Bahagia apa sedih nih? Happy or sad? Hmmm… Kalo pertanyaan itu ditujuin buat aku, mungkin jawabnya adalah bahagia. Eh gak bahagia, sedih kok. Eh bahagia aja. Eh sedih deh. Eh bahagia kali. Eh sedih ah. Eh bahagia tau. Eh sedih lah.Eh bahagaia donk. Eh sedih aja deh. Eh bahagia apa sedih ya? Tanyakanlah pada ayam yang mengeong itu… Meooooong… Ih ayam kok mengeong, ayam kan menggonggong… Guk guk…
Kita kembali lagi ke bahasan awal, atau dalam bahasa Semarangnya, “kembali ke Laptop”. Bulan ini umurku telah bertambah dan kematian semakin mendekat. Apakah yang sudah aku lakukan selama 20 tahun ini? Sudahkah aku memanfaatkan 20 tahun ini dengan sebaik2nya?
Mari kita flashback ke masa2 20 tahun yang lalu. Kita runut satu-persatu dari jaman dulu, dari sejak aku brojol di salah satu ranjang empuk di sebuah rumah sakit di Pasar Minggu, meskipun rumah sakit tempat aku pertama kali menghirup udara dunia itu kini telah tiada, entah tergusur atau diruntuhkan. Tapi yang aku inget aja lho, yang lupa ya biarlah terlupa…
Kita mulai dari umur 0 tahun. Disini aku sama sekali gak inget apa2. Lanjut ke umur 1 tahun. Aku juga gak inget apa2. Terus ke umur 2 tahun. Aku masih gak inget apa2. Lalu ke umur 3 tahun. Aku juga tetep aja gak inget apa2. Duh gimana nih, masa gak inget apa2 sih? Ya sutralah, kita loncat aja ke tahun2 selanjutnya…
Sampe kelas 3 SMP, hidupku masih totally rubbish. Hah apaan tuh totally rubbish? Total = merek air minum kemasan, Rubi = batu permata. Jadi Totally Rubbish = merek batu permata kemasan. Bukan begitu? YA BUKAN LAH, MASA YA BUKAN DONK… Huehehehe, biasa aja kali… Mulan aja Jamilah, bukan Jamidonk. Kalo pusing juga kan sakit kepalah, bukan sakit kepadonk. Ih maksa deh…
Totally rubbish tuh artinya Benar-Benar Sampah. Weits, jangan langsung tutup idung kalo denger kata “sampah”. Apalagi tutup mata. Ya kalo matanya ditutup ntar tulisan ini gak kebaca lah, eh gak kebaca donk.
Udah2, mari kita kembali ke laptop. Jadi intinya, sampe jaman SMP, kehadiranku di dunia ini cuma sekedar nyampah doank. Sampah masyarakat. Ya kira2 begitulah. Sebenernya sih sampe sekarang juga aku masih tetep hanya sekedar sampah masyarakat, cuma gak mau ngaku aja. Huohohoho…
Kita berlanjut ke jaman SMA. Sampe SMA juga sebenernya masih tetep sampah, tapi sedikit demi sedikit aku udah mulai mengerti akan arti kehidupan. Di saat itulah pertama kalinya aku mengungkapkan cita2ku di depan kelas. Waktu itu, cita2ku masih simpel dan membuatku ditertawakan oleh seluruh penghuni kelas. Apa itu? Yaitu aku bercita2 untuk MATI SYAHID. Huahahahahaha… Mari tertawa bersama2…
Tapi itu no problemo. Seiring dengan berjalannya sang waktu, khususnya di akhir2 kelas 3 SMA, aku mulai dapat menentukan arah dan tujuan hidup ku ini. Bergaul dengan tukang minyak bakal membuat kita kecipratan wanginya, sementara bergaul dengan tukang jagal bakal membuat kita kecipratan darahnya, sedangkan bergaul dengan Komeng akan membuat kita ketularan gantengnya. Nah, di kelas 3 ini Alhamdulillah aku berada di kelas yang kondusif dengan makhluk2 di sekitarku yang memnungkinkanku untuk meningkatkan kompetensi diri. Jadilah di kelas 3 ini aku telah mampu membuat semacam Life Planning. Penjelasan mengenai life planning ini telah aku tulis di suatu postingam tersendiri di blog ini.
Plus, di kelas 3 semester 2 ini juga merupakan pertama dan terakhir kalinya aku dapet ranking semasa SMA. Itu pun gak nanggung2, langsung ranking 2. Dan dilanjuti dengan kesuksesan ku meraih nilai UAN tertinggi ke-11 dari +-240 siswa di SMA serta keberhasilan menembus UM UGM di pilihan pertama yaitu Teknik Nuklir. Terima kasih buat temen2 SMA yang telah mampu memberikan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan potensi diri ini.
Kita berlanjut ke jaman kuliah. Selama tahun pertama kuliah, aku termasuk golongan mahasiswa kupu2, Kuliah-Pulang Kuliah-Pulang. Outputnya, nilai IP ku selalu diatas 3. Semester pertama 3.5, semester kedua 3.13. Nyombong dikit nich…
Tapi ya cuma itu doank, cuma ngefek di IP. Sementara softskill, public speaking, leadership dan lain2nya sama sekali gak terasah. Akhirnya karena sebuah kecelakaan, terdamparlah aku di BEM KMFT UGM, tepatnya di Departemen Kajian Strategis. Nah barulah disini kehidupanku yang sebenarnya dimulai. Aku mulai belajar banyak hal,m mulai dari hal yang sepele sampai hal yang besar sekalipun.
Kini aku telah berumur 20 tahun. Kalo dibandingkan dengan umur Muhammad Rasulullah saw, umur ku udah 1/3 umur beliau. Yang berarti kira2 1/3 perjalanan hidup telah aku lalui. Itu pun kalo aku emang bakalan diwafatkan di umur 60-an. Gimana kalo ternyata malaikat maut menjemput di umur ku yang ke 21? Atau bahkan nyawaku telah diambil persis setelah aku menyelesaikan tulisan ini?
Tapi gak peduli seberapa banyak sisa waktu ku di dunia ini, yang pasti aku akan terus mencoba untuk memberikan semua yang terbaik yang aku punya. Untuk siapa? Untuk semuanya. Untuk orang tua, untuk keluarga, untuk lingkungan, untuk tanah air, untuk bangsa dan negara, serta untuk Allah Lillahi Ta’ala.
Aku gak tau berapa lama lagi aku masih bisa bernapas di dunia ini. Namun aku telah bertekad, suatu hari nanti Insya Allah nama ku akan tercantum di buku sejarah dunia. Dan untuk mewujudkan hal itu, maka aku harus bisa MEMBAWA INDONESIA MENJADI NEGARA YANG BESAR DAN BERJAYA. Aku harus bisa MENUMBANGKAN KESOMBONGAN AMERIKA SERIKAT DAN ISRAEL. Aku harus bisa MEMBEBASKAN PALESTINA DARI KEDZHALIMAN ISRAEL. Dan aku harus bisa membuat PARA LELUHURKU BANGGA KARENA MEREKA TELAH MELAHIRKAN SEORANG MANUSIA SEPERTI AKU. Insya Allah demikian…
Aku telah melamli 20 tahun di daam hidup ku ini, sebagian besar berisi dengan penuh kesia2an. Kini di sisa umur ku selanjutnya, aku bertekad untuk menjadi lebih baik lagi dan memang harus menjadi lebih baik lagi. Semoga di dalam sisa umur ku ini, aku dipermudah untuk mewujudkan cita-cita ku ini… Amiin.
2 comments September 20, 2008
IniRahasiaLho
Assalamualaikum wr wb
Eh eh eh eh eh, ini ada sesuatu yang gw rasa perlu untuk disebar luaskan. Tulisan ini gw dapet dari message di friendster, dari salah seorang teman yang sebaiknya gak kita kasi tau namanya. Tapi temen gw itu juga kayanya dapet tulisan ini dari temennya lagi. Dan temennya temen gw itu pun mungkin juga dapet dari temennya yang lain. Jadi gw juga masih gak ngerti tulisan ini sanadnya kaya gimana, apakah dha’if, marfu, hasan, shahih atau apalah.
Tapi gak peduli kaya gimana sanad dari tulisan ini ya harapannya kita bisa ngambil ibrah dari sini. Loh emang si ibrah kenapa kok perlu diambil segala? Pertanyaan jayus kaya gitu sebaiknya gak usah dijawab deh, mendingan langsung dibaca aja nih tulisannya. Oiya, tulisan ini isinya gak gw ubah sama sekali, cuma formatnya aja yang diutak-atik dikit biar keliatan rapi kaya yang punya blog ini.
>>>>
ini surat dari agen rahasia daku <_>
dengan translation
PIDATO BUSH
(dapet dari e mail temen)
Pidato presiden bush
Sifat : Rahasia
Waktu : Rahasia
Tempat : Rahasia
Ehm ehm…
Kepada yang terhormat Direktut CIA, FBI, Direktur Bank
Dunia, ADB, IMF, CEO Haliburton, Exxon Mobil,
freeport,
Bangkir2 Internasional, Dan semua yang telah membantu
kami membiayai perang irak, Afganistan, serta
menyebarluaskan kekuasaan Imperium global, Direktur
media dan televisi CNN, ABC, NBC, yang telah membantu
propaganda kita, kami ucapkan terima kasih
Hari ini adalah hari yang sangat penting karena pada
hari ini saya akan melaporkan keadaan indonesia, yang
dulu kita takuti itu, sekarang sama sekali tak berdaya
di hadapan kita.
Karena kini tak ada satupun yang perlu kita takutkan
dari negeri itu, laporan Intelejen mengatakan bahwa
tak ada satupun bahaya potensial yang akan mengganggu
kepentingan kita di negeri itu.
Kita tidak perlu takut kepada angkatan bersenjata
mereka,karena senjata yang mereka gunakan adalah
kiriman dari negeri kita, lihatlah ketika kita
jatuhkan embargo senjata, tentara-tentara mereka
seperti maung ompong ha ha ha ha (penonton tertawa),
yang lebih lucu lagi kemarin presidennya sendiri yang
memelas pada kita untuk menghentikan embargo itu ha
haha. (penonton tertawa)..
kasihan-kasihan.
Tak perlu takut pada generasi mudanya, rupanya faham
materialisme, budaya konsumtif, hedonisme,
individualisme,yang kita ajarkan itu lewat iklan-iklan
kita,tayangan-tanyangan televisi kita, film-film kita,
propaganda-propaganda kita, sudah tertanam pada hati
dan pikiran sebagian besar dari mereka, jangankan
memikirkan negeri atau umatnya lebih-lebih agamanya,
kini mereka hanya memikirkan kesenangan diri mereka
sendiri, bayangkan saja Negara semiskin itu
penduduknya menempati urutan tertinggi dalam urusan
berbelanja baju ke Singapura,mengalahkan jepang,
australia, dan cina sekalipun. ha ha ha (penonton
tertawa ).
Tak perlu takut tentang pelajar-pelajarnya, karena
mahasiswa-mahasiswa terbaiknya selalu kita rekrut dan
kita pekerjakan di perusahaan-perusahaan minyak atau
tambang kita, dan kita menyuap mereka dengan gaji yang
besarnya sama dengan loper koran di negeri kita ha ha
ha. (penonton tertawa ). Bayangkan orang-orang
terbaiknya hadirin.
Tak perlu takut kepada pemimpin politik dan
pejabatnya,
karena sebagian besar dari mereka adalah orang yang
gila jabatan dan sangat mudah untuk disuap, untuk uang
dan jabatan, mereka bisa kita minta untuk melakukan
apa saja sesuai keinginan kita. ha ha ha ha ( penonton
tertawa ).
Tunggu,tunggu, Ada kabar yang lebih menggembirakan
lagi,menurut laporan Intelejen yang saya terima, bahwa
di sana telah terkotak-kotak menjadi banyak kelompok
dan golongan.
Tiap-tiap kelompok menjatuhkan yang lain dan
mengganggap kelompoknya yang lebih baik dari yang
lain, ada bibit kebencian yang besar di antara mereka
yang dapat kita manfaatkan. sangat mudah bagi
Intelejen kita yang berpengalaman untuk mengadu domba
di antara mereka.
Hutang mereka sudah sangat besar dan hampir mustahil
bisa mereka bayar, 22% APBN mereka habis untuk
membayar hutang kepada kita, sehingga mengurangi
anggaran pendidikan mereka, kesehatan mereka, dan
pelayanan sosial mereka.Sehingga di negeri itu banyak
penduduknya yang kelaparan,miskin, sakit dan tak mampu
berobat, ini merupakan keuntungan bagi kita. Karena
semakin lama jika kondisi tidak berubah, maka akan
tercipta generasi yang lemah dari negeri itu. Yang
tidak akan mampu melawan kita, seperti yang selama ini
kita harapkan.
Kekayaan negeri mereka hampir semuanya kita kuasai,
lebih dari 96 % ladang minyak mereka telah kita
miliki, tambang batu-bara, tembaga, emas, yang
beroperasi di negeri itu hampir semuanya adalah milik
kita. Lebih dari itu mimuman-minuman, makanan-makanan,
buku-buku, walau banyak yang ngopi, komputer-komputer,
software-soffware mereka, walau banyak yang ngebajak,
bahkan odol dan sabun yang mereka gunakan adalah
produksi perusahaan2 kita. ha ha ha (penonton
tertawa),
….Indonesia merupakan ladang dollar kita yang harus
tetap kita pertahankan bagaimanapun caranya, 200 juta
lebih penduduk negari itu merupakan konsumen bagi
produk-produk perusahaan kita.
Singkat kata Indonesia telah kalah dari kita baik dari
segi Ekonomi, militer, politik, budaya,Teknologi, dan
lain-lain dan lain-lain
Untuk menjaga agar kondisi ini tetap berlangsung, maka
saya sarankan agar lebih mengefektifkan promosi budaya
konsumtif dan hedonisme kepada mereka, kepada
agen-agen
CIA agar memecah belah umat islamnya, tebarkan
kecurigaan dan fitnah di antara mereka, biar mereka
terus berkelahi dan tidak punya waktu untuk melawan
Imperialisme kita,terus rekrut generasi muda
terbaiknya agar bekerja untuk perusahaan-perusahaan
kita, sehingga tidak akan banyak gerakan yang
menentang kita.
Sebelum mengakhiri pidato ini, saya ucapkan terima
kasih atas kerja sama yang luar biasa ini, kepada
seluruh pihak yang telah ikut serta membantu usaha
kita,perusahaan-perusahaan Multinasional, Televisi dan
Media masa, Bank Dunia, IMF, CGI, Negara-Negara
sekutu, Economic Hit Man, Mafia Berkeley, yang
terhormat pejabat korup indonesia. Dan lain-lain, dan
lain-lain.
Sekian dan terima kasih.
President USA
George W. Bush
NB; sifat sangat rahasia, boleh di buka kepada public
25 tahun yang akan datang.
Sumber : Rahasia juga…
>>>>
Nah itu dia. Kurang lebihnya begitu. Harapannya dari sini kita bisa koreksi diri. Kita bisa menilai, ternyata seperti inilah kenyataanya. Betapa kita, bangsa Indonesia yang telah dikaruniai kekayaan alam yang tiada habisnya ini hanya dianggap sebagai seekor pecundang oleh George Bush dan konco2nya.
Sadarkah kita bahwa selama ini kita telah dibodohi? Sadarkah kita bahwa selama ini kita telah dianggap rendah oleh mereka?
Kalau selama ini kita belom sadar, maka sekaranglah waktunya untuk sadar. BANGUNLAH WAHAI BANGSA INDONESIA!!! SADARLAH WAHAI MANUSIA!!! Sesungguhnya kita adalah bangsa yang BESAR! Kita telah dikaruniai berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain, tapi kenapa kita memilih untuk menyia2kan itu semua, bahkan kita malah menjual murah itu semua kepada mereka?
Sampai ketika tulisan ini ditulis, negara ini telah berumur 63 tahun. Akankah angka ini berhenti di angka 63? Akankah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini kembali dijajah oleh mereka?
Tentunya tidak ada seorangpun yang menginginkan hal tersebut terjadi. Kecuali jika orang tersebut adalah George Bush atau Ariel Sharon dan konco2nya. Hari ini kita hanya bisa melihat mereka tersenyum dan tertawa2.
Karena itulah, marilah bersama kita BANGKIT dan MEMBANGUN negara ini. Sudah cukup selama ini kita menjadi alas kaki bagi mereka. Marlah bersama2 kita berjuang dan berusaha untuk membuat negara Indonesia kembali kepada FITRAHNYA. Jangan ragu dan jangan takut, karena sesungguhnya Allah bersama kita…
Wassalamualaikum wr wb
6 comments September 11, 2008
PengalamanPertama
Hari Minggu 7 September 2008 / 7 Ramadhan 1429 H yang lalu BEM KMFT UGM ngadain acara open house buat nyambut para calon anggota baru yang telah mendaftar, mengisi formulir dan wawancara. Untuk periode kali ini, total ada lebih dari 600 formulir yang diambil, lebih dari 500 formulir yang dikembaliin, dan sekitar 400 orang yang ikutan wawancara. Tapi di open house ini kayanya yang hadir cuma sekitar 200-300 orang aja, gak semuanya dateng.
Open house ini merupakan kegiatan rutin yang diadain oleh Departemen Pengembangan Organisasi, sebuah departemen yang ngurusin masalah SDM, kaderisasi dan litbangnya anak2 BEM. Di acara ini, para PH (Pengurus Harian) diwajibkan untuk hadir, karena bakalan ada sesi perkenalan dengan para calon anggota baru. Gw yang baru menjabat 1 bulan sebagai Ketua Departemen Kajian Strategis mau gak mau harus ikut dateng, dan mau gak mau juga nanti gw harus maju ke depan dan memperkenalkan diri di hadapan anggota baru yang jumlahnya ratusan pasang mata itu.
For your info aja, seumur2 gw jarang banget nampil jadi “main figure” di depan umum. Kalo nanya2 di waktu seminar atau diskusi sih lumayan sering, tapi kalo gw harus memperkenalkan diri di depan ratusan orang, wuaduh akika belom pernah tuh bo… Gimandang nich…
Di acara ini para Pengurus Harian ditempatkan berjejer di pojok depan, duduk di kursi yang tersusun rapi. Gw sempet malu juga sih harus duduk di posisi ini, soalnya audiens dan yang lainnya pada duduk lesehan di lantai. Cuma PH dan MC aja yang dapet tempat duduk. Awalnya gw sempet ikut lesehan bareng anggota baru, tapi menjelang acara dimulai gw dipaksa untuk duduk di kursi para pejabat ini.
Acara dibuka oleh seekor gadis bernama Ansita selaku MC sekaligus protokoler dan pembawa acara. Eh emangnya bedanya MC, protokoler, sama pembawa acara tuh apa?
Setelah dibuka lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum BEM KMFT UGM yang bernama Ayi Wirawan. Lalu dilanjutkan dengan sambutan plus perkenalan para PH yang terdiri dari Bendahara Umum, Kesekretariatan, Kerumahtanggaan, Kordinator Lini Internal, Kordinator Lini Eksternal, Departemen Advro (Advokasi dan Propaganda), Departemen OASE (Olahraga dan Apresiasi Seni), Departemen Infotek (Informasi Teknik), Departemen Technopreneurship, Departemen Sosmas (Sosial Kemasyarakatan), Departemen Kastrat (Kajian Strategis) dan terakhir Departemen PO (Pengembang Organisasi).
Kastrat dapet jatah kedua sebelom terakhir. Wuaduh bingung nih gw, mau ngomong apaan di depan nanti. Gw kan gak punya public speaking dan communication skill yang bagus. Retorika juga gak bisa sama sekali. Bahkan penempatan gw sebagai Ketua Departemen Kastrat pun merupakan sebuah kebetulan yang bener2 kebetulan, gara2 Ketua Departemen Kastrat sebelumnya yang bernama Dede Miftahul Anwar harus menempati posisi barunya sebagai Koordinator Lini Eksternal. Karena pada saat itu staff Kastrat yang masih hidup cuma tersisa 9 orang, ya pada akhirnya dari sedikit orang tersebut gw lah yang ditunjuk oleh si Ketua Umum untuk menggantikan posisi Miftah.
Kita kembali lagi ke jalannya acara. Semua udah pada nampil, tinggal Kastrat dan PO aja yang belom. Sekarang lagi giliran Sosmas. Miftah yang duduk di deket gw dan seekor anak Kastrat yang bernama Nadia Aghnia Fadillah yang berdiri di depan gw sambil foto2 jalannya acara, mencoba untuk mengarahkan gw untuk ngomong apa di depan nanti. Gw manut2 aja, secara gw juga bingung ntar mau ngomong apaan.
Isa Falaq selaku Ketua Departemen Sosmas telah menyelesaikan sambutannya. Lalu Ansita selaku protokoler menyebut nama gw,
“Selanjutnya, kita perkenalkan, Ketua Departemen Kajian Strategis, Rxxxxx Axxxx! Beri aplaus yang meriah…!!!”
Seisi ruangan bertepuk tangan, membuat gw semakin bingung apa yang mesti gw omongin di depan sana. Tapi apapun yang terjadi, the show must go on. Gw beranjak dari tempat duduk, lalu gw melangkah ke depan. Gw ambil mikrofon dari tangan Ansita, lalu dengan penuh rasa malu gw melangkah ke depan, berjalan perlahan sampai kira2 ke tengah ruangan.
Gw cek tombol on-off di mikrofon, gw ketuk2 dengan jari untuk mengecek apakah sudah nyala atau belom. Setelah mantap, akhirnya gw dekatkan mikrofon itu ke bibir dan lisan gw pun berujar,
“Yo, terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…”
Dijawab dengan serempak oleh para calon anggota baru baru di seluruh penjuru ruangan, “Waalaikumussalam warahmatulahi wabarakatuh…”
Gw mengatur diri, mencoba membuat serileks mungkin. Lalu gw kembali berujar,
“Pertama2, saya atas nama pribadi mengucapkan terima kasih dan selamat atas kehadiran temen2 di sini, yang berarti bahwa temen2 di sini semuanya telah bergabung di dalam keluarga besar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik UGM…”
Gw menghentikan ucapan gw sebentar. Mengambil napas. Audiens masih tetap diam memperhatikan gw di depan, sementara sepintas terdengar kasak-kusuk entah di sebelah mana. Lalu gw kembali melanjutkan,
“Kedua, saya ucapkan terima kasih atas kesediaan temen2 semua yang telah menyisihkan sebagian umur dalam hidup kalian hanya untuk menghadiri acara ini…”
Gw kembali diam sejenak. Menghela napas sembari menjaga diri serileks mungkin.
“Ketiga, saya atas nama BEM meminta maaf kepada temen2 semua disini karena kami dipaksa untuk duduk di kursi itu…” Tangan gw menunjuk ke tempat gw duduk tadi, tempat dimana para Pengurus Harian sedang duduk. “…yang notabene tempatnya sedikit lebih tinggi daripada kalian. Semestinya gak seharusnya kami duduk di situ. Kita semua kan sama, maka seharusnya kami pun ikut duduk di bawah dan lesehan juga bersama teman2.”
Terdengar beberapa orang bertepuk tangan kecil atas ucapan gw barusan. Ah lumayan, ada juga yang merhatiin.
“Yah mungkin satu2nya alasan mengapa kami bisa duduk disana adalah karena kami brojol lebih dulu daripada temen2 semua…”
Gw berhenti sejenak. Kira2 3 poin tadi cukup untuk membuka mimbar bebas ini. Mencoba untuk percaya diri, gw kembali melanjutkan.
Nah sekarang kita bicara tentang Kastrat. Apa sih Kastrat itu? Kastrat adalah Kajian Strategis. Mungkin banyak temen2 yang merasa asing dengan istilah Kastrat itu sendiri. Kajian itu makanan apa? Strategis itu binatang apa? Bahkan ketika wawancara pun banyak orang yang dengan terang2an menolak, gak mau masuk Kastrat. Ketika saya menjelaskan tentang Kastrat dan mencoba menawarkan Kastrat, banyak yang menolak, ‘Hah Kastrat? Gak Mas, gak mau’”.
Sampe sini gw baru nyadar kalo tadi gw belom memperkenalkan diri. Langsung gw ubah haluannya.
“Oh iya tadi saya belom memperkenalkan diri ya? Iya, nama saya Rxxxxx dari departemen Kajian Strategis, Teknik Nuklir angkatan 2006. Disini saya gak akan bertanya mana anak Teknik Nuklir atau mana anak Kastrat, tapi saya ingin bertanya, mana anak Teknik?” ujar gw seraya mengangkat tangan kanan gw ke atas untuk meraih perhatian audiens.
Terlhat hampir sebagian besar audiens ikut serta mengangkat tangannya, membuktikan kalo mereka emang asli anak Teknik. Tapi ada beberapa orang yang gak ngangkat tangan, mungkin karena males, mungkin karena gak respon atau mungkin karena gak nyimak pertanyaan gw. Melihat ada beberapa orang yang gak ngangkat tangan, gw iseng berujar,
“Wah itu tadi kok ada yang gak angkat tangan. Anak Fisipol ya? Apa anak Kedokteran?” yang disambut dengan sedikit tawa kecil dari audiens.
“Ok, kita kembali lagi ke Kastrat. Sebenernya di sini saya gak bermaksud unutk membuka aib KAstrat, tapi ya apa mau dikata, inilah kenyataannya. Pada periode ini, open recruitmen untuk Kastrat ternyata memiliki peminat yang sedikit, bahkan paling sedikit di antara departemen2 yang lain. Kalo gak salah jumlahnya hanya sekitar 17 orang. Bener2 sedikit lah. Bahkan itu pun gak nyampe 5% dari jumlah kalian yang mendaftar di BEM ini, yang jumlahnya ada sekitar 400 orang.”
Terlihat beberapa orang tersenyum mendengar realita ini.
“Yah tapi itu gak masalah. Meskipun secara kuantitas atau secara jumlah kita kalah, tapi kalo ditanya kualitas, yaaa kita…” Gw sedikit menggantung kalimat gw. “… kalah juga!”
Gw ngeliat ada beberapa orang yang ketawa kecil. Gw juga ngeliat ke arah anak2 BEM lama yang lagi pada ngumpul di pinggiran, yang kayanya pada ketawa2 juga. Setelah tawa meeda, kembali gw melanjutkan,
“Iya, Kastrat emang orangnya paling sedikit. Tapi secara pribadi saya gak apa2 kok, yah saya ikhlas. Biarlah itu menjadi derita saya…”
Beberapa orang tertawa lagi, membuat gw harus mengalah sejenak untuk ngedengerin tawa mereka.
“Nggak kok, gak gitu juga sih. Biarpun anak Kastrat cuma sedikit, tapi saya percaya kalo anak Kastrat itu Insya Allah hebat2. Itu terbukti ketika saya ngewawancarain beberapa orang kemaren. Anak2 Kastrat tuh adalah orang2 yang luar biasa, beda dengan departemen yang lain. Mereka adalah calon2 orang hebat. Hal ini bisa saya lihat dari sorot matanya…”
Lagi2 gw ngeliat para audiens ketawa. Padahal gw masih belom menyelesaikan kalimat gw. Karena audiensnya lagi pada ketawa, ya udah gw ikutan cengengesan aja di depan, gak ngelanjutin kalimat gw.
Setelah tawa audiens mereda, baru gw lanjutin lagi,
“Ya pokoknya bisa diliat lah dari sorot matanya…”
“Kita kembali lagi ke Kastrat. Mengenai struktur Kastrat sendiri, di dalamnya itu terdiri dari 2 divisi yaitu divisi Internal dan divisi Eksternal, serta 1 divisi lagi yaitu divisi Pengembangan Organisai khusus internal Kastrat.”
Gw berhenti sejenak. Niatnya gw ingin memperpanjang kalimat gw diatas mengenai struktur organisasi di dalam Kastrat tu sendiri. Tapi karena gw gak bisa nemuin kata2 lagi dalam waktu cepat, ya udah masalah struktur organisasi gw tinggalin dan gw beralih ke topik lain.
“Kastrat itu sendiri, seperti namanya, punya hobi untuk melakukan diskusi dan kajian2. Jadi Kastrat disini akan mencoba untuk meningkatkan minat2 diskusi para mahasiswa. Salah satu realitasnya adalah dengan mengadakan suatu kegiatan yang bernama DiSpoSu.”
Gw berhenti mengambil napas.
“Apa itu DiSpoSu?”
Gw berhenti lagi supaya orang2 penasaran.
“DiSpoSu itu adalah singkatan dari…”
Gw mengucapkannya dengan perlahan, kata demi kata.
“…Diskusi-Spotan-dan-Suka2.”
Lagi2 audiens tertawa. Gak tau juga sih apa yang diketawain, singkatan dari kata DiSpoSu itu tadi atau mungkin gara2 orang yang berbicara di depan mereka saat ini lebih tepat jika disebut dengan lumba2 daripada seorang Ketua Departemen.
“Ya itu tadi, DiSpoSu. Jadi kalo ntar temen2 ketemu dengan anak Kastrat, silahkan langsung tarik mereka dan ajak diskusi bareng. Terserah mau diskusi apa. Kita terima diskusi apa aja kok. Mulai dari Sheila Marcia yang kena kasus narkoba, atau Robinho yag pindah ke Manchester City, ya kita bersedia.”
Gw memutar otak mencari kata2 apa yang harus gw keluarkan selanjutnya untuk menyambung tema DiSpoSu ini. Tapi lagi2 dengan keterbatasan otak gw yang kemampuannya masih kalah dengan processor yang udah rusak sekalipun, akhirnya gw kembali mengubah topik pembicaraan. Namun sayangnya karena udah kehabisan kata2, ya gw pun berniat mengakhiri.
“Mungkin segitu dulu aja ya, karena tadi saya udah di briefing oleh panitia supaya ngomongnya jangan lama2…”
Beberapa orang terlihat tersenyum kecil.
“Yah saya pribadi menyadari kalo pasti banyak di antara temen2 yang ingin tanya jawab dengan saya, tapi ya gimana, panitia gak mengizinkan…”
Belom sempet gw nyelesaiin kalimat gw, lagi2 audiens tertawa. Begitupun dengan anak2 BEM lama yang juga pada ketawa, bahkan ada yang sampe terjungkal. Karena ruangan jadi rame, terpaksa gw ngalah dan berdiam sebentar, sampe tawa audiens mereda kembali.
“Jadi gitu, kalo mungkin temen2 pengen tau lebih lanjut tentang saya, mungkin bisa nanti aja di luar forum ini ya…”
Lagi2 beberapa orang tersenyum.
“Mungkin segini aja dulu. Tapi yang perlu diingat, gak peduli dari departemen manapun kalian berasal, sesungguhnya kita ini adalah anak BEM. Juga gak dari jurusan mana kalian berasal, sesungguhya kita ini adalah mahasiswa teknik. Dan gak peduli dari manapun kalian berasal, sesunggunya kita ini adalah Bangsa Indonesia,” ujar gw sembari mengepalkan tangan kanan gw ke atas saat mengucapkan “Bangsa Indonesia”.
Terlihat beberapa anak juga ikut mengangkat tangannya. Terlihat juga yang lain bertepuk tangan kecil.
“Ya terima kasih, mungkin segitu aja dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Dijawab oleh audiens, “Waalaikumussalam warahmatulahi wabarakatuh…”
Gw pun melangkah beranjak dari tegah ruangam menuju tempat para Pengurus Harian berkumpul. Gw berikan mikrofon kembali kepada Ansita. Ansita pun meraihnya dan dia berujar kepada audiens,
“Beri aplaus yang meriah sekali lagi untuk Ketua Departemen Kajian Strategis!” yang disambut dengan tepok tangan dan aplaus meriah dari para audiens.
Lalu gw pun duduk di posisi gw semula. Tapi gw teringat dengan ucapan gw tadi yang mengatakan bahwa gak seharusnya gw duduk di tepmat yang notabene posisinya lebih tinggi daripada anak2 baru yang duduk lesehan. Gw pun bangkit dari tempat duduk gw dan ikut lesehan bareng anak2 baru.
Kemudian seekor anak autis bernama Nadia datang menghampiri gw dan berujuar, “Yah Mas, kok malu2in sih…”
3 comments September 9, 2008
WawancaraAh
Baru2 ini, BEM KM FT UGM ngadain open recruitment untuk para mahasiswa baru yang mau ikutan gabung jadi pengurus. Algoritma dari open recruitment ini yaitu :
Ambil formulir -> Isi formulir -> Balikin formulir -> Wawancara -> Tunggu kabar
Nah jadi setelah ngutak-ngatik formulir, selanjutnya para mahasiswa baru harus menjalani prosesi wawancara untuk mengetahui bakat potensinya.
Kebetulan gw kebagian tugas buat ngewawancarain para anak baru ini. Pada rapat Pengurus Harian (PH) sebelomnya, Reza Nurrahman selaku Ketua Departemen Pengembagan Organisasi (PO) mewajibkan kepada seluruh PH khususnya para Kadep (Ketua Departemen) untuk menjadi petugas pewawancara. Selain itu, tiap2 Departemen juga diusahakan mengirimkan beberapa ekor delegasi untuk membantu ngewawancarain kalo2 Kadepnya gak bisa hadir.
Jadilah disini gw punya tanggung jawab baru untuk menjadi pewawancara. Wawancara dimulai sejak hari Sabtu 30 Agustus 2008 / 28 Sya’ban 1429 H pukul 08.00 waktu setempat. Karena ada suatu urusan, gw baru bisa dateng ke sekre BEM sekitar jam 9-an. Disana udah banyak orang yang lagi wawancara. Terus gw dikumpulin sama Reza bareng beberapa pewawancara lainnya yang juga baru dateng buat dikasi TOR (Team of Reference) dan sedikit pengarahan. Akhirnya dengan modal nekat gw mulai stand by pada posisi gw untuk menyambut anak baru yang mau wawancara. Sementara si Reza sendiri kembali pada posisinya selaku Korlap (Koordinator Lapangan) untuk prosesi wawancara ini, yang kerjanya mejeng di depan sekre dan mengarahkan para anak baru.
Lalu Reza memanggil seekor lelaki dan mengarahkannya untuk mendatangi gw. Si lelaki itu pun manut2 dan duduk persis di depan gw. Gw ambil formulirnya, gw tulis nama gw di bagian belakangnya dan gw mulai ngewawancarain si anak tersebut sembari menulis komentar2 gw tentang dirinya di halaman bagian belakang formulirnya.
Awalnya gw juga bingung ini yang mau ditanya tentang apa aja. Gw pun mulai dengan pertanyaan2 standar yang terinspirasi dari formulirnya, buat mendapatkan gambaran kira2 orang di depan gw ini tuh karakternya gimana. Kemudian gw lanjutkan dengan menanyakan kekurangan dan kelebihan dia. Lalu beralih ke departemen yang dia pilih, dan terakhir tentang komitmennya. Gak lupa di sela2 wawancara gw punya tugas buat ngejelasin tentang semua departemen yang ada di BEM ini untuk mengarahkan orang2 yang gw wawancarain. Dan di akhir wawancara gw juga harus menjelaskan tentang sistem kaderisasi di BEM ini serta tak lupa untuk meminta orang yang udah selesai wawancara buat ngisi database di komputer.
Setelah orang pertama ini selesai, lalu datang lagi orang kedua yang berjenis kelamin insya Allah perempuan. Gw mulai wawancarain dia. Ternyata dari wawancara ini, gw bisa nebak kalo orang yang lagi duduk di hadapan gw ini adalah orang hebat. Ketauan dari ngomongnya, pengalamannya, skillnya, dan lain2. Asyik juga nih, bisa ketemu sama orang hebat kaya gini, secara gw juga bisa ikut termotivasi dan terpancing untuk semakin meningkatkan kompetensi diri gw.
Lalu setelah orang hebat ini selesai, datang lagi orang selanjutnya. Perempuan lagi. Begitu ngeliat formulirnya, gw agak kaget juga. Dia ini perempuan, tapi jurusannya Teknik Mesin. Jarang lho bisa ngeliat anak perempuan di Teknik Mesin. Dan ketika gw liat tempat tanggal lahirnya, ternyata dia lahir di Kaiserslautern, Jerman. Wuaouw…
Begitulah seterusnya, gw mewawancarai banyak orang sampe gak ada lagi orang yang dateng. Sejatinya wawancara ditutup jam 4 sore, tapi kalo udah sepi ya kita udah bisa pulang.
Gw pibadi enjoy juga sih dengan wawancara ini. Dari sini kita bisa ketemu banyak orang, mulai dari orang hebat sampe orang luar biasa hebat, dari orang pendiem sampe ahli pidato, dari pemalu sampe over pede, semuanya ada. Membuat gw belajar rendah hati dan semakin sadar bahwa dunia ini luas. Ada banyak manusia2 hebat dan mereka bertebaran dimana2. Beberapa di antaranya beredar di Fakultas Teknik UGM dan mengikuti open recruitment BEM KMFT UGM ini.
Di hari2 selanjutnya, wawancara tetap berjalan. Apalagi di hari kedua, yaitu hari minggu. Hari minggu ini gw kosong gak ada kuliah. Ya iya lah, aneh2 aja kalo ada dosen minta kuliah di hari Minggu. Jadinya gw bisa seharian nongkrong di BEM buat menyambut anak2 baru yang minta diwawancarain.
Dari sini gw bisa kenal banyak orang dengan banyak karakteristik. Ada anak yang gw wawancarain yang umurnya baru 16 tahun, tapi dia udah kuliah gara2 waktu SMP dan SMA kemaren dia ikut kelas akselerasi. Buset dah, kecil amat? Gw aja umur segitu masih ngempeng sama nyokap…
Terus juga gw ada pengalaman lain. Ketika itu jam udah menunjukkan pukul 5 sore. Sejatinya wawancara udah ditutup. Tapi tba2 kucluk2 ada seorang pemuda yang dateng, mau minta wawancara. Reza selaku Korlap menolak untuk mengizinkan orang itu untuk diwawancarai dan menyarankan supaya orang tersebut dateng lagi aja keesokan hari. Tapi gw gak tega ngeliatnya. Dia udah dateng entah dari mana, bela2in kesini buat wawancara. Udah gitu juga gak ada seorangpun yang bisa menjamin apakah kita masih tetp hidup di keesokan hari. Jadilah gw mengizinkan pemuda itu untuk masuk dan gw berkenan untuk mewawancarai dia. Reza ngalah aja sama gw yang tambeng ini.
Ternyata pemuda itu asalnya dari Bali. Dari wawancara gw dengan dia, gw sedikit banyak bisa mengulik karakter dia. Dan setelah gw timbang2, ternyata pilihan departemen yang dia minati kurang cocok dengan potensi dan karakter yang dia punya. Gw pun menawarkan alternatif departemen lain kepada dia. Dari sini kita diskusi lagi panjang lebar, mengarahkan minat dan potensi dia. Akhirnya dia pun mantap untuk pindah departemen, berbalik drastis meninggalkan pilihan awalnya. Semoga potensi mu lebih terasah di sana, anak muda…
Dari situ, gw mulai merasa gak tegaan untuk tidak melayani orang, khusunya para anak baru tersebut. Di hari Senin, sejatinya gw ada kuliah 4 kali, dari jam 7.30–09.10, lalu 09.30-12.00, kemudian 13.00-14.40 dan terakhir 15.30-17.10. Setelah selesai kuliah ke 2 yang berakhir jam 12 kurang, gw beranjak ke BEM setelah sebelomnya sholat Dzuhur dulu di Musholla Teknik. Mestinya wawancara ini ada break dulu untuk Dzuhur dari jam 11.45 sampe jam 13.00 Tapi ketika gw nyampe di BEM sekitar jam, 12.25-an, ternyata di depan BEM udah banyak anak baru yang lagi nongkrong, nunggu giliran wawancara. Lagi2 gw gak tegaan ngeliat mereka ditelantarkan oleh birokrasi ini. Ya udah akhirnya setelah berdiskusi dengan orang2 yang ada di BEM, wawancara dibuka lagi pukul 12.30. Orang2 pun manut aja. Dan kembali gw pun harus mewawancarai para anak baru, lebih cepet setengah jam dari jadwal seharusnya.
Seharusnya jam 1 siang gw ada kuliah lagi, mata kuliahnya Regulasi Nuklir yang diampu oleh Bu Anung Muharini. Tapi gw masih berada di BEM, masih ngelanjutin ngewawancara anak baru. Sebenernya gw pengen beranjak dari ruang BEM ini dan masuk ke kelas untuk mengikuti kuliah. Tapi sekali lagi, gw gak tegaan ngeliat banyak anak baru ngegerombol di depan pintu BEM buat ngantri wawancara. Terlebih, jumlah pewawancara yang tersedia gak sebanding dengan jumlah orang yang mau wawancara.
Akhirnya gw memutuskan untuk tetap bertahan disitu. Gw putuskan untuk gak ikut kuliah. Gw gak tega ngeliat anak2 baru ngantri dan terlantar kaya gitu. Ya udah gw pun ngelanjutin tugas gw buat ngewawancarain mereka.
Mungkin ini terdengar lebay atau berle, tapi ya begitulah. Gw ngerasa kalo kuliah gw tuh adalah urusan pribadi gw, jadi gak apa2 lah gw korbanin dulu. Sedangkan gw selaku Ketua Departemen juga punya tanggung jawab di wawancara ini, yang mana ini adalah urusan sosial. Kalo gw gak ngewawancarain mereka, terus mereka gimana?
Dalam urusan birokrasi, tentunya kita semua pengen dipermudah kan? Contohnya kalo bikin SIM, bikin KTP atau buat laporan ke kantor pemerintah. Kita pengennya kita dateng, dilayani dengan cepet, birokrasinya dipermudah, petugasnya ramah2, dan akhirnya urusan bisa selesai tanpa perlu waktu lama. Kadang2 yang bikin lama adalah karena petugasnya yang gak profesional, yang ngelayaninnya males2an, yang suka main lempar dan main oper tanggung jawab, dan sebagainya. Kita yang tadinya penegn dapet layanan memuaskan akhirnya malah harus kecewa sendri karena tidak dilayani dengan sebaik2nya.
Begitupun yang mau coba gw terapkan di prosesi wawancara ini. Para anak baru tentunya pengen birokrasi wawancarana dipermudah. Dateng, ngambil formulir, wawancara, ngisi database, selesai terus udah deh beres. Tapi sedihnya, rekan2 gw di BEM pun ternyata banyak juga yang gak profesional. Sejatinya mereka punya tugas buat wawancara, tapi mereka malah asik ngerumpi dan ngobrol2 di ruang BEM, menuh2in tempat aja. Ngelayanin para anak baru nya juga setengah hati, males2an. Kalo disuruh wawancara, mereka dengan sok sibuk mengopernya ke orang lain.
“Yang lain aja!” ujarnya sambil menunjuk orang lain. Atau,
“Bentaran, gw lagi sibuk!” Padahal dari tadi dia cuma ngobrol2 gak jelas atau bahkan malah tidur2an.
Tapi lain ceritanya kalo yang mau wawancara adalah anak perempuan, apalagi yang charming dan good looking. Mereka langsung bersiap siaga pada posisinya dan meminta untuk wawancara. Huh, dimana harga diri mu? APAKAH ITU YANG NAMANYA MAHASISWA?
Dalam kasus ini, kita bertugas sebagai pelayan. Pelayan bagi siapa? Bagi para anak baru yang kebingungan dengan prosesi wawancara ini. Dan anak baru itu pun tentunya tidak ingin dipersulit dengan birokrasi yang ada, lebih2 dengan petugas yang yang males2. Tapi sedihnya, rekan2 gw di BEM pun bisa dikategorikan ke dalam petugas2 pemalas tersebut. DIMANAKAH JIWA RENDAH HATI KALIAN, HAI MAHASISWA? APAKAH KALIAN HANYA MAU DILAYANI, SEMENTARA KALIAN SENDIRI TIDAK MAU MELAYANI?
Astagfirullah, kenapa kita jadi marah2 gini? Oke cukup. Mari kita kembali lagi ke jalan yang benar. Jadi, hal itulah yang coba gw terapkan ke diri gw, yaitu suatu hal yang bernama PROFESIONALISME. Dari sini gw juga menempatkan posisi gw sebagai PELAYAN yang tanggung jawabnya adalah untuk MELAYANI anak baru yang mau wawancara. Ya contohnya itu tadi, gw masih menerima wawancara meskipun semestinya jam wawancara sudah habis atau ketika sedang isirahat.
Gara2 ini juga, gw sempet bolos kuliah. Tapi itu gak masalah, kuliah adalah urusan pribadi diri gw, sedangkan wawancara adalah urusan sosial antara interaksi gw dengan orang lain dan gw juga punya tanggung jawab disana. Dan gara2 ini juga, pada akhirnya gw jadi orang yang mewawancarai anak baru paling banyak diantara pewawancara lainnya. Mungkin jumlahnya ada sekitar 50 orang atau lebih, gw gak tau pastinya.
Oke sekarang mari kita kembali lagi ke jalan yang lurus. Dari wawancara itu pun, lagi2 gw bertemu banyak orang hebat. Mungkin ini beberapa diantaranya :
Ada yang jago dan hobi masak. Sampe sekarang dia udah punya banyak resep dan dia masih terus mencoba resep2 baru. Dari SMP, dia udah mulai terbiasa masak. Dia pun menjual hasil masakannya itu kepada teman2nya dan di sebuah Sekolah Dasar yang ada si depan rumahnya. Dari situ dia mulai tertarik untuk belajar masak lebih giat lagi dan membuka usaha jualan makanan. Ketika gw tanya cita2nya, ternyata dia pengen mendirikan sebuah restoran dan kemudian akan dia buat waralaba/franchise.
Ada yang bener2 inovatif. Dia pernah ikutan Jawara Lifebuoy dan jadi juara, dapet duit kalo gak salah 25 juta-an. Wuaouw… Gw agak lupa dia punya karya inovatif apa, tapi yang jelas buat gw itu udah hebat banget. Gw agak2 minder juga sih waktu wawancarain dia. Gak ada sesuatu yang bisa gw banggain dari diri gw, kecuali bahwa gw brojol ke dunia ini 2 tahun lebih awal dari dia, sehingga pada saat ini status gw adalah pewawancara dan dia adalah yang diwawancarain. Selain itu dia juga pelopor terbentuknya suatu ekskul baru di sekolahnya dulu. Wuaouw… Lagi2 gw cuma bisa melongo…
Ada yang lagi2 salah milih departemen. Dari wawancara gw ke dia, dia dengan jujur mengatakan kalo dia punya obsesi buat jadi ketua BEM. Gw pun terhenyak. Cuma orang yang bener2 hebat yang berani menceritakan cita2 hebatnya. Terus gw mengulik lebih jauh lagi tentang dirinya. Dari situ gw nyadar kalo dia punya potensi hebat dan potensi itu gak bakal berkembang di departemen yang dia pilih sekarang. Kemudian kita diskusi lagi, lama banget. Akhirnya ia pun mantap untuk pindah departemen seperti yang gw saranin. Ketika gw liat jam tangan gw, ternyata kita telah berdiskusi selama 40 menitan. Padahal normalnya wawancara cuma sekitar 15 menit doank lho.
Ada yang pernah jadi juara lomba fotogenik apa gitu. Wuaouw… Ini engineer apa artis? Padahal basic dia di olahraga. Tapi baru2 ini dia gak sengaja ikut semacam agen modelling, kemudian secara gak sengaja juga dia ikut suatu kontes apa gitu. Dan ternyata dia langsung meraih juara pertama lomba fotogenik itu. Wuaouw… Untuk sekalian kalinya mulut gw menganga lebar. Kalo ada kulkas mungkin muat tuh dimasukin ke mulut gw yang lagi nganga itu.
Ada yang hobi nulis. Kalo ini banyak nih, tapi karakternya macem2, diantaranya :
Ada yang suka banget nulis puisi. Waktu gw tanya udah berapa ribu puisi yang ia bikin, ternyata hampir setiap hari dia nulis puisi. Tiap malem ia berkutat dengan puisinya. Bahkan gw tanyain, setelah wawancara ini apakah dia bakal nulis puisi tentang gw? Dia pun menjawab sambil cengengesan, “Ya mungkin aja!” Aduh gw jadi malu…
Ada yang suka bikin cerpen dan bikin novel. Novelnya udah ada kira2 sekitar 4 buah. Kaget gw, itu kan tergolong jumlah yang banyak untuk ukuran novel. Terus gw minta izin buat liat novelnya, tapi dia gak mau ngasih. “Malu…” gitu katanya. Aduh, sebuah karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dipublikasikan kepada umum, supaya si penulis bisa dapet feedback dari karya sastranya itu. Dia cerita, ternyata novel itu bercerita tentang pengalaman pribadinya. Mungkin kaya di film “Fiksi” yang dibintangi Ladya Cheryl itu. Kalo dikasi liat ke orang lain, bakalan ketauan deh gimana perasaannya dia terhadap orang2 di sekitarnya itu.
Ada yang hobi nulis juga dan suka bikin blog. Untuk orang2 yang punya blog, gw langsung menyodorkan formulir mereka yang ada di tangan gw dan meminta mereka buat nulis alamat blognya. Tapi ternyata gak semua orang mau. Kebanyakan malah pada kaget, alasannya masih malu. Yah hari gini kok malu sih? Kan tadi kita udah punya dalil di atas, yang berbunyi “karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dipublikasikan kepada umum, supaya si penulis bisa dapet feedback dari karya sastranya itu.” Gw gak tau dapet kalimat ini darimana, barusan aja terlintas waktu lagi ngetik tulisan ini Huohohohoho… Kalo gw sih, gw bakalan dengan senang hati mempromosikan blog gw ke orang lain. Tanpa diminta pun bakalan gw kasih kok.
Iya mungkin itu tadi sebagian orang2 yang kebetulan gw inget waktu gw lagi nulis tulisan ini. Mohon maap ya buat temen2 yang merasa namanya gak tercantum dalam kategori kelompok orang2 diatas. Bukannya kita gak inget, tapi kita cuma lupa. Hohohoho… Sama aja ya? Ya pokoknya itulah intinya, maapin gw ya…
Gara2 wawancara ini juga, waktu hidup atau life time gw jadi agak berkurang. Dari abis sahur dan berkegiatan pagi, gw ke kampus buat kuliah. Kelar kuliah, gw nongkrong di BEM sampe sore. Sampe bener2 sore, bahkan sampe Magrhib buat ngeladenin orang2 yang mau wawancara. Malemnya setelah ta’jilan dan buka puasa, dilanjutkan dengan tarawih keliling sama anak2 BEM. Keliling kemana aja, bisa di Masjid Kampus, Masjid Nurul Islam, atau masjid lainnya, mentok2 keliling di kosan gw sendiri buat tarawih sendirian.
Sebenernya selama 1 minggu wawancara itu ada 1 hari dimana gw merayakan hari kelahiran gw, atau dalam bahasa Norwegianya, “Hari Ulang Tahun”. Mohon maap ya jika tanggalnya dirahasiakan. Tapi ya itu tadi, di hari ultah gw pun gw masih tetep harus bertugas dalam tanggung jawab gw untuk mewawancarai anak baru.
Di hari itu, gw kuliah nya 2 kali. Yang pertama jam 07.00-08.40, yang kedua jam 09.00-10.40. Selesai kuliah pertama, seekor temen gw yang bernama M. Sazar Assegaf hendak meminta softcopy foto2 waktu kerja praktek di Kamojang. Lalu kami melangkah ke BEM untuk mewujudkan keinginan Sazar, karena laptopnya gw taro di mobil dimana mobilnya gw parkir di Jurusan Teknik Arsitektur dimana parkirannya berada di dekat ruang BEM.
Jam menunjukkan pukul 08.45. Niat gw ke BEM cuma mau ngasi softcopy ke Sazar terus kemudian ikut kuliah lagi jam 9, kuliah Non-Destructive-Test yang diampu oleh (lagi2) Bu Anung Muharini. Ruang BEM lagi sepi, cuma ada Fauzi Muharram yang lagi wawancarain seekor anak.
Ketika Sazar lagi ngopy, tiba2 datang 2 ekor perempuan. Mereka nanya ke gw tentang wawancara. Sedikit gw ragu. Niat gw sih pengen masuk kuliah. Tapi gw juga punya tanggung jawab untuk melayani dan memuaskan kedua perempuan ini. Eits, istilah “melayani” dan “memuaskan” di sini jangan di salah artikan lho… Maksudnya, gw punya amanah buat mewawancarai SETIAP anak baru yang mau wawancara, kaya tadi yang dah gw bilang di beberapa paragraf sebelum ini.
Akhirnya lagi2 gw pun mengalah, Gw putuskan untuk mewawancarai mereka dan gw izin Sazar buat gak ikut kuliah. Lalu gw meminta salah seorang perempuan itu untuk duduk di depan gw, dan satu lagi untuk bersabar menunggu Fauzi yang masih mewawancarai orang lain.
Gw mulai mewawancarai dia dengan pertanyaan standar. Lalu ketika gw ngeliat prestasi terbaiknya, gw sedikit terperangah. Hah beneran nih? Gw nanya ke dia buat memastikan, dan dia pun menjawab jujur. Gw bertanya sekali lagi tentang prosesi untuk meraih prestasi tersebut, dan lagi2 dia menjawab apa adanya. Dari situ, gw langsung minder melihat sesosok orang di hadapan gw ini… Membayangkan diri gw yang gak punya prestasi apa2 harus mewawancarai orang sehebat dia.
Eh tapi emangnya prestasi apa sih yang dia punya? Ya gw mohon maap, gw gak bisa memberitahukannya karena gak diizinkan oleh orangnya sendiri. Awalnya gw sempet ngebecandain dia tentang prestasinya itu, tapi dia minta gw supaya gak cerita ke siapa2. Ya udah gw pun tutup mulut dan mematuhi keinginan dia. Yang jelas, prestasi yang dia raih itu adalah sebuah pencapaian yang sangat2 luar biasa dan fenomenal menurut kacamata gw. Terlebih, ternyata dia memutuskan untuk memilih kuliah di Fakultas Teknik. Jarang lho ada anak Teknik yang punya prestasi kaya dia. Kalo anak Humaniora sih mungkin wajar, tapi anak Teknik? Wuaouw luar biasa… Gw pun berkesimpulan kalo mahkluk di hadapan gw ini adalah salah satu aset Fakultas Teknik UGM yang paling berharga, yang kelestariannya perlu dilindungi. Untuk itu mari kita masukkan beliau ke penangkaran Suaka Margasatwa atau ke reservasi Cagar Alam untuk menjaga kelestariannya. Huohohohoo….
Iya, meskipun gw minder, tapi sekali lagi gw harus tetep profesional selaku pewawancara. Ya udah deh gw mencoba sebaik mungkin untuk mewawancarai perempuan asal Tenggarong ini. Meskipun sejatinya dengan segudang pengalaman dan prestasi yang dia punya, dia secara kasta berada jauh lebih tinggi dari gw yang cuma makhluk rendahan ini.
Pun demikian, di hari ulang tahun gw itu, wawancara tetep berlangsung. Gak ada waktu buat beristirahat sejenak dan refreshing. Juga gak ada waktu buat nraktir anak BEM makan2 di suatu tempat dimana gitu, karena sejatinya waktu itu emang lagu bulan puasa. Jadi mana bisa kita makan2 di snag hari? Huehehe…
Setelah lelah mewawancarai puluhan orang selama 1 minggu, akhirnya tibalah gw di hari Jumat 5 September 2008 / 5 Ramadhan 1429 H pukul 17.42 yang berarti batas wawancara sudah ditutup. Ah lega…. Alhamdulillah gw telah diberi kesempatan untuk mewawancarai banyak orang. Alhamdulillah gw telah dipertemukan dengan banyak orang untuk menambah khazanah keilmuan gw. Dan Alhamdulillah akhirnya wawancara ini telah berakhir. Tinggal nunggu pengumumannya ditempel di keesokan hari. Dan setelah wawancara ini usai, kini gw harus kembali ke tanggung jawab gw semula selaku mahasiswa Teknik Nuklir, yaitu untuk kuliah, belajar dan menuntut ilmu supaya nantinya gw menjadi orang besar yang berilmu yang dengan ilmu ini Insya Allah akan gw bawa INDONESIA MENJADI NEGARA BESAR DAN BERJAYA. Berjanjilah…!!!
3 comments September 9, 2008