Archive for November, 2008
LebihDekatDenganC-Kink
Assalamualaikum wr wb
Kepada seluruh makhluk di seluruh penjuru dunia binatang di manapun kalian berada, dalam kesempatan kali ini marilah kita mengenal lebih jauh lagi tentang eksistensi dari seekor makhluk imut yang diketahui bernama C-Kink, yang Insya Allah lahir pada tanggal 22 Muharram 1408 Hijriah di sebuah rumah sakit yang sekarang sudah roboh di salah satu sudut daerah Pasar Minggu.
Kepribadian
C-Kink adalah seekor makhluk dengan kepribadian yang unik yang sampai detik ini masih belom bisa diidentifikasikan oleh para dokter hewan di seluruh penjuru dunia. Secara general, 1 kata sudah cukup untuk mewakili kepribadian beliau, yaitu: “Aneh”. Aneh dimananya? Ya aneh dimana2. Kalo kata “aneh” masih belom mewakili, kita tambahkan dengan kata “Autis”. Kalo masih belom mewakili juga, kita tambahkan kata “Ajaib”. Wuaouw… Ini kenapa kok kesannya beliau adalah makhluk yang gimana gitu? Ya nggak salah juga sih karena C-Kink adalah seekor satwa langka yang keberadaannya patut dilindugi dan dilestarikan, karena hanya akan terlahir seekor C-Kink dalam setiap kurun waktu 500 tahun.
Karakter
Apa beda karakter dengan kepribadian? Hmmmm… Tanyakanlah kepada monitor komputer di hadapan mu itu. Yang jelas secara umum karakter yang dapat kita temukan dalam diri seekor C-Kink diantaranya adalah:
1. Imut
Hah imut? Kalo ini sih semua orang juga mengakuinya… Jangan pada protes ya. Kalo mau protes, protes aja sana ke kebun binatang terdekat.
2. Cool
Cool (dibaca: kul) adalah karakter yang cukup menonjol yang hadir dalam diri C-Kink. Pendapat ini disetujui secara absolut oleh C-Kink itu sendiri, jadi sekali lagi jangan pada protes ya…
3. Jayus
Menurut Kamus Besar Anak Autis yang diterbitkan oleh PT C-Kink Loser Production Jayus adalah suatu keadaan dimana suatu banyolan yang seharusnya lucu ternyata malah ditanggapi secara tidak lucu . Begitupun dengan C-Kink. Sebenernya sih bukannya C-Kink itu jayus, tetapi banyolan2 yang dilontarkan oleh beliau adalah banyolan tingkat tinggi yang hanya dipahami oleh orang2 dengan tingkat intelejensia tertentu. Jadi nggak semua orang bisa tertawa mendengarnya, melainkan hanya orang2 dengan tingkat intelejensia tertentu saja.
4. Malas
Hooooaaaahmm… Ini juga merupakan karakter yang menonjol pada diri C-Kink. Beliau adalah makhluk yang sangat2 malas. Bahkan untuk sekedar mengisi perut untuk memenuhi kebutuhannya sehar2 pun beliau juga sering merasa malas, yang mengakibatkan badan beliau menjadi seksi dan six pack seperti sekarang ini.
5. Polos
Sebuah slogan salah satu produk permen mengatakan, “Polos, permen bolong rasa plong!” Tentunya slogan tersebut nggak ada hubungannya dengan tulisan ini. Udah gitu, produknya kan bernama “Polo”, bukan “Polos”. Aduh, polos banget sih kamu…
6. Dan karakter2 lainnya yang akan muncul belakangan
Cukup jelas.
Kekurangan dan kelebihan
Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh seekor C-Kink diantaranya adalah sebagaimana tertulis berikut ini:
1. Imut
Huohohohoho… Kalo tadi imut secara karakter, maka imut disini adalah imut secara fisik. Ih apanya tuh yang imut2? Jangan berfantasi dan berimajinasi yang aneh2 dulu. Cukup liat C-Kink dengan sekilas pandangan mata, maka kalian akan menemukan sesosok wajah cute terpampang di sana. Subhanallah…
2. Baik
Iya, C-Kink itu makhluk yang baik lho. Dan baiknya pun kepada semua makhluk tanpa pilih2, Insya Allah demikian. Saking baiknya, beliau pernah mengizinkan sekitar 1400 virus untuk menetap dan tinggal di dalam laptopnya. Kalo ini mah lebih tepatnya disebut baik apa blo’on ya?
3. Pendiam
Pernah denger istilah “silence is gold” yang artinya “di dalam badan yang kuat terdapat jiwa yang sehat”? Ya, tentu saja arti tersebut adalah sangat2 ngaco dan ngasal. Maksudnya istilah “diam adalah emas”. Nah itulah yang coba diterapkan dalam diri C-Kink. Lisannya selalu diusahakan untuk terjaga dari hal2 yang nggak berguna. Tapi sekalinya ngomong, waaaah, udah deh ketauan aslinya.
4. Ganteng
Hueeeekk… Apa2an nih… Jijik ah…
5. Dan kelebihan2 lainnya yang akan muncul belakangan
Cukup jelas
Sementara itu, kekurangan2 yang hadir pada diri seekor C-Kink adalah sangat2 banyak. Beberapa diantaranya adalah:
1. Kurang berat badan
Yaelah kalo ini mah nggak perlu dipertanyakan lagi. Dunia telah mengakuinya. Kalo beliau gemuk, tentunya nama beliau bukan lagi C-Kink tapi ganti jadi G-Ndut.
2. Kurang jelek
Iya, beliau ini terlalu ganteng, jadi seringkali membuat orang lain iri terhadap kegantengan beliau. Astagfirullah…
3. Kurang gizi
Wah ini masih berkaitan dengan poin pertama di atas. Tapi biaya maintenance alias pemeliharaan seekor C-Kink cukup murah kok, soalnya beliau tergolong makhluk yang jarang makan. Itu tuh kekurangan apa kelebihan ya?
4. Kurang ajar
Terkait dengan poin “jayus” pada bahasan sebelom ini, terkadang banyolan2 yang beliau lontarkan telah menyentuh suatu layer yang bernama kurang ajar. Tapi untungnya ke-kurang ajar-an beliau dapat tertutupi oleh senyuman manis beliau yang dapat mendamaikan dunia, dapan melerai orang yang bermusuhan, dan dapat menghentikan anak kecil dari tangisannya. Ah so sweet…
5. Dan kekurangan2 lainnya yang akan muncul belakangan
Cukup jelas.
Prinsip hidup + penjelasan
Kalo kata sebuah iklan rokok, jadi orang itu harus punya prinsip. Sedangkan kata seorang ketua RT, lingkungan perumahan mereka haruslah dijaga oleh seorang prinsip supaya terciptanya keamanan lingkungan, khususnya dari tangan2 pencuri. Itu mah hansip, dodol!
Tanpa bermaksud mempertentangkan definisi prinsip maupun hansip di atas, mari kita lihat hansip2 apa saja yang dimiliki oleh seekor C-Kink. Eh bukan hansip, tapi prinsip.
1. There is no God except Allah and Muhammad is Allah prophet
2. Impossible is possible
3. Jangan takut sendiri
4. You’ll never walk alone
Aduh tapi males juga nih kalo dijelasin satu2. Jadi silahkan kalian terjemahkan menurut bahasa kalian sendiri ya.
5. Jika kita punya waktu untuk mengeluh, maka seharusnya kita punya waktu untuk bertindak
6. Tak ada seorang pun yang meminta terlahir sebagai pecundang. Tetapi ia dapat memilih apakah ingin mati sebagai seorang pecundang ataukah mati sebagai seorang pemenang
7. Berbuat baiklah kepada siapapun yang kita temui. Jika ternyata ia mengkhianati kita, maka itu adalah urusan dia dengan Tuhannya
8. Badan boleh kurus, tapi otot harus ter-urus
9. Maaafkanlah orang lain sebelum orang itu sempat meminta maaf kepada kita
10. Hari ini kita ikhlas dibilang aneh. Tapi biarlah waktu yang akan membuktikan siapa yang aneh sebenarnya
11. Dan prinsip2 lainnya yang akan muncul belakangan
Insya Allah demikian. Silahkan definisikan sendiri kalimat2 tersebut sesuai dengan kemampuan intelejensia kalian.
Sikap yang diambil dalam momen tertentu
Maksudnya apa nih? Agak susah juga kalo disuruh menjelaskan tentang contoh kasus dan menyikapinya. Intinya, C-Kink adalah seekor makhluk yang “seri”, bukan “paralel”. Maksudnya apa? Seri adalah jika kita hanya bisa berkonsentrasi dan fokus pada satu hal dalam suatu waktu tertentu. Sedangkan paralel adalah jika kita bisa berkonsetrasi dan fokus pada banyak hal dalam suatu waktu tertentu.
Intinya, orang seri baru bisa beralih ke pekerjaan lain setelah satu pekerjaan selesai. Sedangkan orang paralel bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Insya Allah demikian. Dan secara umum, C-Kink termasuk golongan orang yang hanya bisa fokus ke satu pekerjaan pada satu waktu tertentu, dan baru bisa beralih ke pekerjaan lain setelah pekerjaan sebelumnya terselesaikan.
Sikap ketika berinteraksi dan berkonflik dengan orang lain
Sebelumnya mari kita flashback dulu ke salah satu prinsip yang berbunyi “berbuat baiklah kepada siapapun yang kita temui. Jika ternyata ia mengkhianati kita, maka itu adalah urusan dia dengan Tuhannya”. Secara general, C-Kink tidak pernah mempermasalahkan segala konflik yang terjadi antara beliau dengan orang lain. C-Kink terlalu polos pada semua orang, termasuk kepada pihak2 yang berniat untuk menipunya sekalipun.
Lalu, “maaafkanlah orang lain sebelum orang itu sempat meminta maaf kepada kita”. Silahkan terjemahkan kalimat tersebut sesuai kadar intelejensia kalian masing2. Yang jelas beliau adaah orang yang easy going yang tidak suka banyak menuntut macem2 dari orang2 di sekitarnya. Everybody knows himself better, dia lebih kenal siapa dirinya sendiri. Jadi nggak perlu kita repot2 memaksakan keinginan kita kepada orang lain.
Hal yang dibenci
Hal-hal yang dibenci oleh seekor makhluk bernama C-Kink diantaranya adalah:
- Kedzaliman Israel dan Amerika
Kalo ini udah pada ngerti kan, jadi nggak perlu dibahas lebih jauh lagi ya.
- Perempuan bercelana jins ketat dan perempuan punuk unta
Kenapa perempuan bercelana jins ketat adalah sebuah hal yang C-Kink benci? Karena beliau merasa bahwa ada semacam magnet di sana yang membuat mata setiap laki2 akan selalu menyempatkan diri untuk menikmatinya. Kalo itu nggak dosa ih nggak apa2, tapi kalo terjadi terus-menerus, maka apa yang bisa kita pertanggung jawabkan di akhirat nanti? Demikian juga dengan perempuan yang berlenggak-lenggok bagaikan punuk unta.
- Makhluk2 sombong
Nah ini juga udah cukup jelas kan. Tidak pantas bagi manusia dan makhluk2 lainnya untuk berlaku sombong di muka bumi ini.
Hal yang disenangi
Beberapa hal yang disenangi oleh C-Kink diantaranya adalah:
- Kucing
Meeeeoooong…. Aw, so sweet… Hati manusia mana yang nggak tergoda melihat seekor kucing manis nan lucu dan imut plus menggemaskan. Pus pus meooong…
- Meningkatkan kompetensi diri
Sebagai seekor makhluk hina dan rendahan, C-Kink memiliki niat dan keinginan untuk selalu meningkatkan integritas dan kompetensi diri. Namun sedihnya, semua itu hanya terbatas di niat doank, nggak banyak yang terwujud dalam langkah nyata.
- Bermusik
Definisi bermusik disini adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan musik, entah itu nyanyi, main gitar, main bass, ngulik lagu maupun bikin lagu.
- Menulis
Poin yang ini mungkin nggak perlu dijelasin lebih lanjut lagi. Cukup sudah tulisan ini mewakili semuanya. Huohohohoho…
Hal yang bisa membuat senang dan bahagia
Apa aja hal2 yang bisa membuat C-Kink senang dan bahagia? Wuaah, banyak banget. Intinya, hal2 yang bisa membuat beliau bahagia adalah jika hal2 tersebut merupakan hal2 yang bisa membawa dunia ini ke arah yang lebih baik. Maksudnya apa? Maksudnya adalah semua hal yang itu akan berdampak baik bagi kehidupan dunia dan kelangsungan hidup manusia pada umumnya. Contohnya bila melihat ada orang yang berbuat baik demi kemaslahatan umat manusia, maka C-Kink akan merasa senang dan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.
Dan, hal yang bisa membuat C-Kink bahagia adalah jika beliau melihat ada orang lain bahagia. Bahagia melihat anak kecil berada dalam gendongan ibunya. Bahagia melihat anak SMA diterima di universitas favoritnya. Bahagia melihat tukang becak nggak mengeluh dengan hidupnya. Bahagia melihat guru yang mengajar murid2nya dengan tulus dan ikhlas. Bahagia melihat anak2 muda respek dan hormat kepada orang tua. Dan lain2nya.
Hal yang bisa membuat marah dan kecewa
Huuaaah… Kalo yang ini sih tinggal di balik aja sama yang diatas. Hal2 yang bisa membuat C-Kink marah dan kecewa diantaranya adalah jika beliau harus menunggu sesuatu yang tidak pada waktunya. Marah bila melihat Israel sengan semena2 mendzhalimi rakyat Palestina. Marah melihat kebodohan penguasa2 yang tunduk pada harta dan mengabaikan kesejahteraan umatnya. Marah melihat kesombongan dan arogansi tingkat tinggi yang seenaknya sendiri. Dan lain2nya.
Lain-lain
Lain-lain tuh apa ya? Hmmm… Mendingan segini dulu aja deh. Kalo masih ada yang kurang jelas dan kurang memuaskan, silahkan tanyakan keingintahuan kalian kepada C-Kink, mumpung beliau masih hidup. Okeh? Ya udah ya. Daadaaaaah…
Wassalamualaikum wr wb
5 comments November 8, 2008
AduhMalunya
Huy huy huy huy huy huy… Cerita ini masih kelanjutan dari tulisan sebelomnya lho, yang judulnya “LagiLagiIlang”. Disitu kan diceritain tentang kejadian ketika sendal Bata Power gue ilang di MusTek. Nah disini gue bakalan nyeritain kejadian setelah sendal gue itu ilang. Jadi buat lo2 semua, sebelom baca tulisan ini lebih jauh lagi mendingan lo baca dulu deh tulisan gue yang “LagiLagiIlang” itu, biar nyambung.
Singkat cerita, setelah sendal gue ilang tersebut, gue langsung inisiatif buat beli sendal baru. Mumpung lagi nggak ada kerjaan, ya udah gue minta tolong Andhika buat nemenin gue beli sendal di sebuah super market mini alias mini market bernama Gading Mas. Tapi gue lebih suka menyebut mini market tersebut dengan nama Mas Gading, biar kesannya kaya nama orang gitu. Mas Gading Martin? Apa Mas Gading Laura? Ih ngaco dueh…
Gue berangkat ke Mas Gading naik motor bareng Andhika. Tentunya gue yang dibonceng dan Andhika yang nyetir motornya. Kalo gue yang nyetir, mungkin saat itu kami nggak bakalan nyampe ke Mas Gading melainkan malah mendarat mulus di Rumah Sakit Sardjito, Panti Rapih atau bahkan langsung ke kuburan, dan hari ini pun gue nggak bisa menulis tulisan ini untuk dibaca oleh lo2 semua. Huiks huiks…
Bla bla bla bla bla bla bla dan sampailah kami di Mas Gading. Selesai parkir motor, gue melangkah ke lantai 2 Mas Gading, ke tempat sendal2. Gue searching sendal2 disana. Bukan searching modelnya yang bagus yang mana, tapi searching sendal mana yang ukurannya paling besar yang pas buat kaki gue. Soalnya sendal disana ukurannya kebanyakan nomor 40 atau 41, dan ukuruan itu nggak muat buat kaki gue. Sendal disana ukurannya paling besar 43, tapi agak jarang. Nggak semua model yang ada disana yang punya ukuran 43.
Oh sebelomnya, perlu dijelasin dulu kalo sendal disana secara general terbagi 2 jenis, yaitu sendal jepit, yaitu yang ada jepitannya diantara jempol dan telunjuk, serta sendal selop, yaitu yang diantara jempol dan telunjuk nggak ada jepitannya. Gue lebih suka make yang sendal selop, soalnya lebih comfort aja dan ruas2 jari antara jempol dan telunjuk nggak bakal lecet2 gara2 jepitan yang ada di sendal jepit.
Gimana dengan merk nya? Ini yang menarik untuk dibahas. Kenapa? Soalnya sendal disana merk nya pelesetan semua, istilah halus untuk abal2 alias palsu. Dulu waktu sendal Bata item gue nyemplung ke got waktu mau makan di Jogja Chicken (keterangan lebih lengkapnya silahkan baca tulisan gue yang judulnya “SandalDanPemiliknya”), gue beli sendal baru juga di Mas Gading ini, di tempat yang sama dengan yang gue datengin saat ini.
Waktu itu pilihan gue jatuh kepada sebuah sendal selop warna item dengan sedikit ornamen putih plus tulisan “Quiksilver” pada selopnya. Harganya 16000 rupiah lho! Eits, jangan pada kaget dulu. Mana mungkin merk setenar Quiksilver meluncurkan produk sendal seharga rp 16.000,00? Hmmmm… Coba kita telaah lebih jauh lagi, anak muda.
Quiksilver, sebuah merk terkenal yang counternya banyak beredar di mall2 yang identik dengan kata2 mahal dan mewah, ternyata hadir di sebuah mini market sekelas Mas Gading. Sepintas, itu adalah hal yang nggak mungkin. Tapi jangan salah. Itu semua bisa menjadi mungkin jika sendal yang gue beli itu merknya adalah Quiksilver, bukan Quicksilver. Loh emang apa bedanya? Ada, yaitu pada satu huruf, dan huruf itu adalah huruf “C”. C untuk C-Kink? Ya nggak lah, C itu untuk Cincyah Laurah…
Iya, yang di jual di Mas Gading itu adalah Quiksilver, yang merupakan plesetan dari Quicksilver. Modelnya sih nggak kalah dengan Quicksilver yang asli, yang ada huruf “C” nya. Tapi nggak tau deh gimana kualitas Quiksilver yang gue beli ini, yang nggak ada huruf “C” nya. Quiksilver gue itu sekarang lagi nangkring di rak sepatu di rumah gue di Depok. Quiksilver itu yang tadinya gue pake setelah sendal Bata item gue nyemplung ke got. Tapi setelah gue dibeliin sendal Bata Power biru sama keluarga gue, Quiksilver gue itu telah tergantikan perannya.
Kita balik lagi ke bahasan awal. Setelah searching ukuran kesana kemari, akhirnya gue memilih sebuah sendal selop yang modelnya sumpah jelek banget dengan warna dasar item plus ornamen warna coklat keunguan yang sama sekali nggak matching. Yang jelas, sendal pilihan gue itu modelnya bener2 nggak banget deh. Satu2nya alasan kenapa gue milih sendal itu adalah karena cuma sendal itu yang punya ukuran nomor 43. Sendal lainnya rata2 berukuran nomor 40 atau 41. Sebuah alasan yang sangat2 nggak masuk akal dan nggak rasional.
Gue tunjukin pilihan gue itu ke Andhika. Dan Alhamdulillah, Andhika adalah seekor makhluk pintar berintelejensia tinggi yang dengan tegas menolak sendal pilihan gue itu. Dia pun berasumsi sama, bahwa sendal itu modelnya bener2 nggak banget. Mungkin harga diri gue bakalan turun drastis kalo gue terlihat berjalan di tempat terbuka dengan mengenakan sendal itu.
Akhirnya gue taro sendal terkutuk itu ke tempatnya semula dan gue mulai searching lagi. Sekali lagi, bukan model yang gue jadikan patokan, tapi ukurannya. Karena sendal yang ukurannya 43 udah nggak ada lagi, akhirnya gue ngalah turun 1 level ke sendal2 berukuran 42. Mata gue menangkap sosok sebuah sendal selop warna item dengan ornamen putih bernomor 42. Modelnya mirip dengan Quiksilver gue yang dulu, yang gue beli di tempat yang sama.
Gue ambil sendal itu dan gue tunjukin ke Andhika. Alhamdulillah dia pun sepakat, soalnya sendal yang ini emang nggak jelek2 banget. Harganya pun standar, 16800 rupiah. Dan Andhika agak kaget ngeliat tulisan merk yang terpampang di bagian selopnya: “Bilabong”.
Bilabong? Merk sekelas Bilabong dijual di Mas Gading dengan harga rp 16.800,00? Weits jangan pada takjub dulu. Seperti udah dibilang, yang dijual disini tuh sendal Bilabong lho, bukan Billabong. Bedanya apa? Billabong yang asli tuh huruf “L” nya dobel, sedangkan sendal gue ini huruf “L” nya cuma satu. L untuk Laura? Iya mungkin, Laura Yagami.
Okeh, akhirnya gue ambil Bilabong abal2 itu untuk gue jadikan sebagai pelindung kaki gue plus alas kaki yang akan menemani gue kemanapun gue melangkah dan akan menjadi saksi setiap langkah kaki yang gue tuju. Welcome home my Bilabong. My fake Billabong.
Sebelom gue bawa ke kasir, gue menyempatkan diri dulu untuk beli barang2 lain. Mumpung gue lagi di Mas Gading, jadi sekalian aja gue beli barang2 yang gue rasa perlu untuk gue beli. Masih di lantai 2, dengan sendal Bilabong di tangan, gue menuju bagian stasionary untuk beli sebungkus kertas binder isi 100 lembar dengan harga 4500 rupiah. Lalu gue turun ke lantai bawah. Niatnya sih gue mau beli cemilan dan beberapa properti kamar mandi semacem sabun, shampo, odol, sikat gigi dll. Tapi mengingat setelah ini gue pulangnya ke BEM, bukan ke kosan, akhirnya gue nggak beli itu semua. Gue cuma ngambil 2 pak Adem Sari sachetan untuk mencegah leher gue dari penyakit radang tenggorokan. Jadilah kini gue menggenggam sendal Bilabong, kertas binder dan 2 pak Adem Sari di tangan gue. Lalu gue segera menuju kasir.
Sebenernya, di antara sekian penjaga kasir di Mas Gading ini yang sebagian besar perempuan, ada seekor perempuan yang terlihat lebih “kinclong” di antara yang lainnya. Biasanya tiap kali gue ke Mas Gading, kalo mau bayar gue selalu ngincer mbak2 penjaga kasir yang kinclong ini. Lumayan lah sambil nunggu barangnya diitung, gue bisa sedikit refreshing memandangi kekinclongannya. Astagfirullah…
Tapi malem ini mbak2 kinclong itu nggak keliatan. Ya udah deh gue asal milih kasir yang agak sepi. Gue datengin tuh kasir dan gue taro barang2 gue disana. Sembari nungguin barang2nya diitung, mata gue sempet ngeliat2 ke sekitar Mas Gading. Kebetulan mata gue beradu pandang dengan seekor mbak2. Buru2 deh gue buang pandangan dan ngeliatin yang lain. Tapi terus pandangan gue ke dia lagi, dan lagi2 gue mergokin kalo dia juga lagi ngeliat ke arah gue. Gue buang lagi pandangan gue. Terus gue sempet2in ngelirik ke dia lagi. Eh ternyata dia juga lagi ngelirik ke gue. Aduh jadi malu… Ada apa mbak liat2? Pasti ujung2nya mau minta nomor handphone deh… Ya udah sini nggak usah malu2. Nggak minta pun bakalan tetep gue kasih kok. Huehehehe… Astagfirullah…
Nah itu sedikit intermezzo aja. Mbak2 yang hobi ngelirik gue itu (idih ge-er…) sekarang udah ikutan ngantri di kasir yang sama dengan kasir gue, cuma jeda 1 orang doang, Jadi urutannya adalah gue, seekor laki2, lalu si mbak2 itu.
Akhirnya barang gue selesai diitung. Terus si mbak2 kasirnya bilang, “Tiga puluh satu ribu Mas!”. 31000. Angka itu yang tertera di layar komputer kasir. Gue keluarin dompet biru gue yang sering dikatain “lucu” sama temen2 perempuan gue yang udah pernah liat. Nggak tau juga sih lucunya dimana. Mungkin karena di dalem dompet biru gue itu ada 2 lembar foto gue di dalemnya, jadi muncullah istilah lucu tersebut. Idih narsis.
Gue buka dompet gue dan gue lirik uang di dalemnya. Deg. Gue kaget. Seinget gue, tadi pagi ada selembar uang 100000-an di dompet gue, minimal 50000 lah. Tapi ini kok nominal terbesarnya cuma 10000 rupiah doank? Itu pun juga cuma selembar. Sisanya adalah beberapa lembar uang 1000 rupiah yang gue nggak tau jumlahnya berapa.
Panik. Gue mulai ngerasa panik. Tapi paniknya cuma di dalem hati aja. Nggak gue tunjukin dalam ekspresi wajah, raut muka ataupun attitude dan tingkah laku. Kan ngikutin pelajaran yang gue dapet dari para trainer, yaitu bahwa meskipun diri kita sedang bermasalah, tapi tampilan luar kita nggak boleh memperlihatkan bahwa kita sedang memiliki masalah. Bahasa kerennya: profesional.
Bingung. Gue takut uang gue kurang. Akhirnya dengan ucapan Bismillah, gue itung lembar demi lembar uang gue tersebut. 1 lembar 10000 rupiah, itu yang udah pasti. Terus gue itung uang seribuannya. 1 lembar, 2 lembar, 3 lembar, 4 lembar, bla bla bla bla bla dan itungan gue terhenti di angka 12 lembar. Berarti ada 12 lembar uang seribu rupiah dan 1 lembar uang 10000 rupiah yang kalo ditotal berjumlah 22000 rupiah.
Deg. 22000 rupiah? Gue liat lagi nominal yang tertera di layar komputer kasir, disana terlihat angka 31000. Gue masih nggak percaya. Gue itung lagi uang di dompet gue. Dan sedihnya, hasilnya tetep sama, cuma ada rp 22.000,00. Sedangkan sekali lagi, gue ngeliat bahwa di layat komputer kasir tertera angka 31000.
…
…
…
OH MY GOD! DUIT GUE KURANG!
Panik. Pucat. Bingung. Kalut. Takut. Bau kentut. Badut. Burung perkutut. Lelembut. Ih apa sih kok nggak nyambung?
Dag dig dug der, jantungan lah gue saat itu juga. Tapi sekali lagi, cuma hati gue yang ngerasa gitu, sedangkan tampilan luar gue tetep datar dan tanpa ekspresi seperti biasa. Tapi sedihnya, laki2 di belakang gue kayanya udah mulai nyadar kalo duit gue kurang. Hei Mas, kalo udah tau ya tolong dibantu, jangan malah cekikikan sendiri gitu.
Akhirnya dengan jiwa profesionalisme seperti anjuran para trainer, dengan gaya cool gue ngomong sama Andhika yang berada agak jauh di sebelah gue. Gue colek dia terus gue berujar,
“Dik, minjem uang bentar donk!”
Saat ini, hanya Andhika satu2nya manusia yang gue kenal yang ada di situ, yang bisa gue minta pertolongan. Dan Alhamdulillah akhirnya Andhika menjawab,
“Wah, aku nggak bawa dompet Mas!”
DUUUAAAAARRR!!! Merapi meletus. Samudera Pasifik tsunami. Tanah bergemuruh. Bumi gonjang-ganjing. Matilah awak…
Andhika, ternyata nggak bawa dompet dan intinya, dia nggak bawa uang sama sekali. Pupuslah harapan gue untuk berharap lebih jauh lagi.
Akhirnya dengan segenap tenaga tersisa dan semangat yang masih ada, dengan wajah polos dan tanpa dosa gue ngomong ke mbak2 penjaga kasir tersebut.
“Mbak, itu Adem Sarinya dibalikin aja deh…”
Mbaknya kaget. Dia bengong. Sambungan kabel di otaknya mencoba mempercepat koneksi terhadap ucapan gue barusan. Lalu setelah loadingnya beres, dia berujar,
“Dua2nya Mas?”
“Iya Mbak…”
Kriiiik… Kriiiik… Kriiiik… Seumur2 baru kali ini gue ngembaliin barang kaya gini. Untung mbak2nya baik. Dia manut ngikutin perintah gue. Dia ambil Adem Sarinya, dia balikin ke tempatnya dan dia mulai mencet2 komputer kasirnya.
Kejadian ini diliat dengan jelas oleh laki2 yang ngantri di belakang gue. Pun demikian dengan mbak2 di belakang laki2 itu yang tadi sempet lirik2an sama gue. Aduh malunya… Tapi nggak apa2 Mbak, saya masih tetap bersedia ngasih nomer handphone saya kok buat Mbak…
Akhirnya setelah perhitungan selesai, di layar komputer kasir tertera angka 21300. Fiuuuh… Alhamdulillah, akhirnya budget nya sesuai dengan isi dompet gue. Bukan cuma sesuai, tapi nyaris mendekati kematian, atau kalo dalam bahasanya si Ashif, temen gue di Kastrat, yang kaya gini tuh namanya “Near Dead Experence”, pengalaman mendekati kematian.
Hati gue lega ngeliat angka 31000 itu terreduksi jadi 21300. Sekali lagi dengan ekspresi wajah datar, polos dan tanpa dosa, gue keluarin uang 22000 rupiah satu2nya itu dari dompet gue dan gue kasi ke mbak2 penjaga kasir. Mbak2 itu pun mengambilnya dan balik ngasih gue 2 keping uang logam bernilai total rp 700,00 buat kembalian. Transaksi selesai. Ijab kabul beres. Sendal Bilabong dan kertas binder udah di tangan. Akhirnya pergilah gue meninggalkan kasir kemaluan itu, sekali lagi dengan gaya yang tenang seakan2 nggak terjadi apa2. Huohohoho…
Sampe di tempat parkir, Andhika ngeluarin motornya. Dan gue disamperin sama mas2 tukang parkir. Karena Andhika nggak bawa uang, jadilah gue yang bayar uang parkir itu. Alhamdulillah, Subhanallah, Segala Puji Hanya Bagi Allah, tarif parkir motor di Mas Gading hanya sebesar 500 rupiah. Dan dengan satu2nya uang yang tersisa, yaitu uang rp 700,00 hasil kembalian tadi, gue kasih uang itu ke mas2 tukang parkir, dan kami pun dibebaskan untuk melajukan motor kami melintasi jalan raya. Aaaah, lega… Seandainya aja parkir motor disana bayarnya rp 1000,00, apologi macem apa lagi yang bakal gue pake ke tukang parkir itu? Haruskah gue nyuciin bajunya dulu supaya bisa dibebaskan menebus uang parkir itu? Yah, intinya sekarang gue udah bebas dari Mas Gading itu, dengan uang yang tersisa di dompet adalah 200 rupiah doank. Uang yang mungkin bakal gue kasih ke tukang ngelap motor di perempatan lampu merah nanti.
Sesampainya di BEM, gue baru inget. Tadi pagi emang ada uang sebesar rp 350.000-an di dompet gue. Tapi sedihnya di hari itu ternyata gue menghabiskan 150000 rupiah untuk beli bensin buat makanan MyLovelySolBro, 168500 rupiah untuk beli pulsa di FreesqCell, dan sisanya buat beli makanan yang pada akhirnya hanya tersisa rp 22.000,00 itu di dompet gue.
Aduh malunya…
4 comments November 8, 2008
LagiLagiIlang
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 3 November 2008/5 Dzulqaidah 1429 di petang hari setelah Maghrib yang syahdu dan menenangkan, aku beserta 2 ekor anak manusia yang bernama, sebut saja Ayi Wirawan (21/M/Bantargebang) dan Andhika Pranayudha (19/M/Ciputat) yang saat itu lagi nongkrong di BEM KMFT UGM, merasakan adanya bunyi cacing2 yang menggeliat-geliat di dalam perut kami. Cacing2 itu menggelinjang dan menimbulkan bunyi keroncongan yang bersumber dari dalam perut. Apa artinya? Artinya adalah bahwa kami bertiga terkena penyakit cacingan.
Ya nggak lah! Bukan cacingan maksudnya, tapi itu adalah tanda2 kecil dari laparnya perut seseorang. Kaya kiamat aja, ada tanda2 kecil dan ada tanda2 besar. Ya udah tanpa menunggu kami jadi cacingan beneran, kami bertiga melangkahkan kaki ke sebuah restoran, eh rumah makan yang terletak di Pogung yang bernama Ngundi Rejeki.
Ngundi Rejeki yang terletak persis di pengkolan ini merupakan tempat makan favorit anak2 Pogung dan sekitarnya. Beberapa alasan diantaranya adalah karena harganya yang murah, pelayannya ramah, penyajiannya cepet dan birokrasinya yang nggak berbelit. Plus, kalo lagi makan di sini kadang2 kita sering ketemu sama orang yang kita kenal. Jadi tunggu apa lagi, mari makan di Ngundi Rejeki sekarang juga! (pesan ini disponsori oleh: Rumah Makan Ngundi Rejeki. Alamat: Pogung Kidul pengkolan Selokan Mataram).
Kita lewatin aja bagian makan2 tersebut, ditakutkan kalian nanti malah bakalan ngiler ngeliatin aku makan sop daging sapi plus jus jeruk. Singkat cerita, kami bertiga telah selesai makan dan kini tibalah waktunya untuk kembali pulang ke BEM. Kaya lagunya Kangen Band, “kembali pulang”. Kekasih yang dulu hilang… Kini dia t’lah kembali pulang…Ih kok malah nyanyi sih.
Di perjalanan pulang, tiba2 Afgan berkumandang. Berarti menandakan bahwa sudah masuk waktu Isya. Loh emang apa hubungannya si Afgan sama waktu Isya? Ya iyalah, yang berkumandang kan Afgan Isya. 1 jam sebelomnya, yang berkumandang itu Afgan Maghrib. Kalo pagi2 jam 4-an, ada Afgan Subuh. Buset dah, itu mah Adzan, dodol!
Karena Afgan eh, adzan berkumandang, kami bertiga melangkahkan kaki ke Musholla Teknik. Musholla Teknik yang biasa disingkat ShoNik, eh maksudnya MusTek ini berada di seberang ruang BEM, bersebelahan. Tapi bangunannya berdiri sendiri2, nggak dempetan kaya di ruko2 gitu. Lalu aku sama mas Ayi masuk ke ShoNik eh ke MusTek dari pintu arah Jurusan Arsitektur yang berada di sebelah Utara Mustek, karena posisi kami emang lebih deket dari situ setelah pulang dari Ngundi Rejeki tadi. Sedangkan si Andhika memutuskan untuk ke BEM bentar, lalu dia ke MusTek lewat pintu utama yang berada di sebelah Selatan Mustek, karena posisi ruang BEM lebih deket dengan pintu utama MusTek daripada pintu arah Jurusan Arsitektur.
Mas Ayi berjalan di depan ku. Ia lepaskan sendalnya di emperan MusTek sebelah Barat. Aku menyusulnya dan kuletakkan sendal ku di sebelahnya sendal mas Ayi. Lalu aku beranjak ke lantai kedua untuk mengumandangkan Afgan eh adzan Isya dengan suara ku yang Insya Allah merdu dan menghanyutkan layaknya Afgan yang asli. Ih dari tadi Afgan melulu, ngefans ya?
Selesai adzan, aku turun ke bawah buat wudhu, shalat rawatib, nungguin orang2 dateng, terus ke lantai 2 lagi buat qomat, dan turun lagi ke bawah buat melaksanakan shalat Isya berjamaah. Lalu bla bla bla bla bla bla bla bla… Akhirnya shalat berjamaah selesai dan aku tutup dengan shalat rawatib.
Lalu aku beranjak untuk meninggalkan MusTek. Aku melangkah ke emperan Utara untuk mengambil sendal ku. Sesampainya di sana, aku nggak melihat sendal ku itu. Yang ada Cuma sendal biru punya mas Ayi. Dan juga nggak ada sendal2 lainnya soalnya orang2 datengnya dari pintu utama di sebelah Selatan, jadi mereka pada naro sendalnya di sana.
Aku menyusuri emperan Utara itu sekali lagi. Dan aku masih nggak menemukan sendal ku disana. Wah, kemana nih sendal, mungkinkah beliau ilang? Berdasarkan premis yang ada, aku berasumsi awal bahwa sendal ku emang ilang. Tanpa perasaan berdosa dan tanpa perubahan ekspresi wajah apapun, dalam hati aku berujar, “Alhamdulillah sendal ku ilang!”
Tapi aku masih punya asumsi lain. Mungkin aja sendal ku itu udah nangkring di ruang BEM, dibawa sama siapa gitu yang iseng. Lalu aku meninggalkan Mustek dan berjalan kaki secara nyeker alias tanpa alas kaki ke ruang BEM. Di depan pintu yang terkunci ada Andhika dan Doni yang nungguin aku untuk ngebukain kunci pintunya. Tapi ternyata di sana pun aku juga nggak menemukan kehadiran sendal ku itu. Wuah ilang beneran nih.
Aku masih belom nyerah. Akhirnya aku nyeker sekali lagi ke MusTek. Dan aku telusuri lagi emperan Utara tempat sendal ku terakhir kali aku lihat. Dan sekali lagi, hasilnya nihil. Sendal ku telah hilang dan raib entah kemana. Sekali lagi aku pun berujar, “Alhamdulillah sendal ku ilang.”
Lalu aku balik lagi ke ruang BEM masih dengan kondisi tanpa alas kaki. Di sana udah ada mas Ayi sekarang. Melihat kedatanganku tanpa alas kaki, mereka bertanya,
“Gimana sendalnya?”
Dan aku menjawab singkat,
“Alhamdulillah ilang”
Tanpa ekspresi, tanpa perubahan raut wajah, dan tanpa perubahan suasana hati. Insya Allah demikian.
Iya, akhirnya sepasang sendal selop Bata dari bahan jins berwarna biru dengan tulisan Power itu kini telah tiada dan telah berpindah tangan ke seseorang entah siapa. Eh bukan berpindah tangan, tapi berpindah kaki, kan sendal dipakenya di kaki.
Aku pribadi sih nggak masalah sendal ku ilang. Sebagaimana tulisan ku sebelumnya yang berjudul “Sendal dan Pemiliknya”, aku berpendapat bahwa sendal ini hanyalah titipan dari Allah kepada kita. Sebelom ini pun aku udah pernah kehilangan sepasang sepatu Ellese yang kuhadapi dengan ikhlas dan membuatku mendapatkan sepasang sepatu Puma dan sepasang sepatu Bata lainnya. Plus, dulu juga aku pernah kehilangan sebelah sendal Bata ku yang nyemplung ke got, yang membuat ku mendapatkan sendal Bata bertuliskan Power itu sebagai gantinya. Duh dari tadi Bata melulu nih, mau promosi lagi ya?
Yang aku sedihkan adalah nilai historis dari sendal Bata Power itu. Kan dulu waktu sendal Bata ku kecemplung got, aku menggantinya dengan sendal QuickSilver abal2. Lalu aku bawa sendal QuickSIlver itu ke Depok. Sesampainya di sana keluarga ku tercinta menyadari kalo anak laki2nya yang imut ini kini udah nggak lagi mengenakan sendal Bata yang udah bertaun2 nongkrong di kakinya. Akhirnya aku ceritakan kejadian nyemplungnya sendal Bata ku yang membuat aku harus beli sendal QuickSilver ini.
Mungkin keluarga ku terenyuh mendengarkan penuturan ku tentang nyemplungnya sendal Bata tersebut. Lalu tanpa aku sadari, mereka berinisiatif untuk membelikan ku sebuah sendal baru. Ya itulah sendal selop Bata berbahan jins warna biru dengan tulisan Power diatasnya. Sebuah sendal yang punya nilai historis yang sangat tinggi, karena merupakan pembuktian sebuah kasih sayang keluarga. Aku pun terkejut dan bahagia ketika pertama kali dapet sendal tersebut, soalnya sendal ku selama ini hanyalah sendal2 standar yang nggak punya nilai estetika dan seni di dalamnya. Pemilihan sendal Bata Power ini adalah keputusan keluarga ku untuk memberikan sebuah alas kaki yang gagah dan macho yang matching dengan body anak laki2nya yang juga macho dan six pack ini.
Tapi apa mau dikata. Sekarang sendal itu udah raib entah kemana. Sendal yang dulu aku dapet dengan nilai historis yang tinggi, kini juga lenyap dengan nilai historis pula. Dasar maling nggak tau diri. Bukan masalah materinya yang membuat kita bersedih, melainkan adalah adanya nilai historis yang dimiliki oleh materi tersebut. Dengan ini, apa yang harus ku katakan di hadapan keluarga ku nanti jika mereka bertanya kenapa sendal Bata Power yang dulu mereka belikan dengan penuh rasa cinta kini nggak nangkring di kaki ku lagi?
Pun demikian dengan sepatu Ellese ku yang dulu ilang di depan ruang BEM. Sepatu itu modelnya SAMA PERSIS dengan punya kakak ku, karena kita emang belinya janjian dan kompakan gitu, biar kaya anak kembar. Tapi si maling nggak tau diri itu emang sukanya nyolong hal-hal yang bernilai historis tinggi.
Ya udahlah tawakkal aja. Semoga si maling bisa memanfaatkan sendal Bata Power ku itu di jalan yang benar dan untuk kegiatan yang bermanfaat. Dan terakhir, sekali lagi aku hanya bisa berkata, “Alhamdulillah sendal ku ilang.”
1 comment November 5, 2008
LaguCintaLaura#2
Auwououououououo… Nguk nguk nguk nguk…
Huaaahh… Senangnya hari ini kita bisa bertemu kembali. Otreh, sebagaimana judulnya, kali ini kita bakalan membahas lagi tentang lagunya Cinta Laura. Tulisan ini masih kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Lagu Cinta Laura”, yang menceritakan tentang lagu Oh Baby.
Sedikit intermezzo, kan di tulisan gue yang waktu itu gue bilang kalo gue denger lagu Oh Baby nya cuma lewat komputer doank. Nah baru2 ini akhirnya gue baru liat video klipnya. Huehehehe… Norak banget yuah. Waktu itu waktu gue lagi di Depok, dari kamar kakak gue yang lagi nonton tivi kok tiba2 ada suara2 Cincyah Laura yang lagi nyanyi lagu Oh Baby. Kaget gue. Terus gue buru2 ngeliat, eh ternyata bener itu video klipnya Cincyah Laura. Wuaaah…
Oh iya, untuk selanjutnya nama Cinta Laura kita sebut aja dengan Cincyah Laurah ya, mengikuti logat yang keluar dari bibir beliau sendiri.
Video klipnya Cincyah Laurah yang pertama kali gue liat itu merupakan cuplikan dari film nya yang berjudul sama, Oh Baby. Plus, ada adegan2 dimana si Cincyah ngedance dan joget2 gitu. Mana jogetnya petakilan banget, kaya orang cacingan. Hohohohoho… Ah whatever, yang penting Cincyah Laurah tetaplah Cincyah Laurah.
Gue lumayan sering ngeliat video klip tersebut, tapi nggak pernah full dari awal. Biasanya gue nonton pas udah nyampe tengah2, pas udah mau masuk reff kedua. Tapi pada akhirnya gue bisa ngeliat tuh video klip secara full, gara2 salah seekor temen gue di BEM yang bernama Sigit Laura iseng2 nge-download video klip tersebut. Eh bukan iseng2, tapi kayaknya emang dia udah niat banget pengen donwload. Huehehehe… Dan pada akhirnya, gue pun ikut2an minta file nya dan jadilah video klip Oh Baby tersebut juga tersimpan dengan manis di laptop gue sekarang ini. Yah ketauan deh…
Nah itu tadi sedikit pendahuluan tetntang nasib lagu Oh Baby nya Cincyah Laurah yang beberapa waktu lalu sempet mengusik perhatian gue yang imut serta lucu dan menggemaskan ini. Kata beberapa ekor makhluk yang gue temuin, sebenernya lagunya Cincyah Laurah bukan cuma ini doank, tapi ada 1 lagi yang juga lumayan ngetop, yang judulnya “You Say Aku”.
Sebenernya gue juga punya itu lagu. Sama 1 lagu lainnya yang judulnya “We Can do It”. Tapi yang lagu “You Say Aku” punya gue itu nggak penuh dari awal sampe akhir, cuma cuplikannya doank. Jadi nggak puas deh, nggak bisa denger full 1 lagu.
Hingga pada akhirnya, lagi2 seekor makhluk bernama Sigit Laura yang udah pernah kita kenal di beberapa paragraf sebelum ini, lagi2 nge-download video klip Cincyah Laurah yang You Say Aku ini. Dan dia dapet video klipnya full, dari awal sampe akhir. Malah dapet yang ada teksnya juga, jadi kaya di karaoke2 gitu. Ya udah deh tanpa sungkan2 langsung gue copy file nya dan kini di laptop gue ada video klipnya Cincyah Laurah yang Oh Baby sama You Say Aku. Huahahahahaha…
Oke, setelah gue dengerin lagu tersebut, maka kini tibalah saatnya untuk mengkaji dan menganalisis sebuah lagu berjudul “You Say Aku” yang dari judulnya aja udah terlihat jelas menyalahi kaidah dan pola struktur bahasa yang berlaku. Gitu kata guru2 Bahasa Indonesia jaman gue sekolah dulu. Tanpa banyak cing-cong lagi, let’s check it out!
Duk tak duk duk tak
duk duk tak duk duk tak
Seperti biasa, kita anggap aja itu bunyi dentuman drum yang udah langsung membahana begitu lagu ini dimulai. Plus selanjutnya ada bunyi2an bass dan efek string elektronik sebagai openingnya. Ketukan drumnya lumayan enak, seakan mengajak kita2 yang denger untuk bergerak, berdendang dan bergoyang. Auranya agak2 mirip sama lagunya Avril Lavigne yang Girlfriend atau yang Best Damn Thing. Selagi drum dan bassnya mengajak kita untuk goyang, suara Cincyah yang six pack, eh yang seksi itu mulai mengalun.
You say aku seperti barbie
You look so pretty menarik hati
Di bait pertama ini, nuansa bahagia langsung terasa. Kord nya juga bernuansa mayor yang standar, konvensional dan umum digunakan di lagu2 pop manapun. Contoh, lagunya Gaby yang “Tinggal Kenangan”. Tapi seperti biasa, nggak tau kenapa kok ini si Cincyah suka banget ya pake lirik yang berbau2 British. Istilahnya, gado2 antara British-Indonesia. Ya nggak apa2 lah, emang dia punya karakter lebih si situ kok.
Oh iya, waktu denger si Cincyah ngucapkin kata “seperti barbie”, kedengerannya kaya “seperti babi”. Kaget juga nih, masa si Cincyah memuji dirinya sampe setinggi itu. Ya masih mending gitu, daripada ntar malah jadi “seperti babu”.
You say aku layaknya peri
Tebarkan cinta di atas bumi
Kalo ini nadanya dan auranya masih sama kaya yang bait pertama. Waktu ngucapin kata “seperti peri“ untung bisa kedengeran dengan jelas kalo dia ngomong kata “peri”, bukan peci. Ntar jadinya malah “you say aku seperti peci”. Loh emang apa hubungannya peci sama lagu ini?
Baby please please
Don’t play on me
Baby please please
Love me love me
Ini udah masuk ke bagian bridge. Sekali lagi, lirik British masih tetep dominan di lagu ini. Don’t play on me tuh artinya apa ya? Jangan main2 dengan ku bukan? Ah whatever, let’s move to the reff section of this song.
Baby baby my baby
You drive me crazy
Baby baby my baby
My heart is beating honey
Baby baby my baby
Please say you love me
Baby baby my baby
Baby mmuuuaaacch…
Naaaah… Seperti biasa, lagu2 Cincyah Laurah selalu “nampol” di bagian reffnya. Beneran deh, maknyuss banget. Dengerin bagian reff lagu ini serasa makan cumi goreng tepung di toko material. Loh emangnya ada?
Kalo kita dengerin, reff lagu ini still use British’ as its main languange. The Indonesia’s only showing in the little part of the opening section. Wuaduh apaan nih, kok gue jadi ikut2an ber-British ria? Yah, sebagaimana lagu Cincyah sebelumnya yang berjudul Oh Baby, bagian reff di kedua lagu ini sama2 make bahasanya orang Bule sana. Bahkan bukan cuma di 2 lagu ini, tapi di lagu yang satu lagi yang We Can Do It juga bagian reffnya sama2 make bahasa Inggris. Aduh, dimana Nasionalisme mu, Cincyah?
Yah sebagai seekor Indo, emang lebih enak sih kalo ngomongnya pake bahasa British juga. Tapi untuk selanjutnya, usahain supaya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia ya, kan kita ini adalah Bangsa Indonesia. Untuk 3 lagu ini, nggak apa2 kalo lebih dominan menggunakan bahasa British, gue maapin kok. Tapi besok2 jangan diulangin lagi ya… Idih emang gue siapa, seenaknya maksa2. Huehehehe…
Dan bait reff dari lagu tersebut ditutup dengan sebuah kecupan dari si Cincyah. Baby, mmuuuuaaaaach… Uuuaaaaah senangnya… Mmmuuuuaaach juga buat kamu Cincyah. Hueeeeek…
Duk tak duk duk tak
duk duk tak duk duk tak
Abis reff, musiknya balik lagi ke bagian awal. Dan kalo kita perhatiin, ketukan drumnya dari awal sampe akhir nggak berubah lho, gitu2 doank. Tapi nggak masalah, yang penting enak buat goyang dan jejingkrakan.
You say aku seperti putri
Yang kau cari selama ini
Ini nadanya sama kaya di bagian awal tadi. Cuma ada sedikit improvisasi aja biar nggak kedengeran monoton. Terus lanjut ke bagian bridge dan masuk ke reff lagi. Dan seperti biasa, ketika udah masuk reff yang kedua, bibir gue ini juga mulai ikut2an mendendangkan liriknya. Langsung enjoy gue. Bahkan kalo nggak malu, gue bakalan langsung goyang dan joget2 ngikutin gaya si Cincyah saat itu juga. Untung waktu itu lagi banyak orang, jadi gue membatalkan niat gue buat ngedance deh.
Baby baby my baby
You drive me crazy
Baby baby my baby
My heart is beating honey
Baby baby my baby
Please say you love me
Baby baby my baby
Baby mmuuuaaacch…
Huahahahahaha… Puas gue nyanyi2 ini lagu. Enak buat dinyanyiin, enak buat goyang, dan enak buat dimasak pake bumbu kecap. Akhir kata, mari kita tunggu lagu2 Cincyah Laurah berikutnya. Dan ingat selalu, jangan pernah beli bajakan! Dapatkan kaset dan cd-nya di tukang sayur terdekat! Huek gaya banget gue ngingetin kaya gini, padahal di laptop gue lagu2nya juga bajakan kok. Video klipnya juga cuma modal download gratisan. Udah gitu yang download juga bukan gue tapi temen gue. Gue cuma ngopi file nya aja. Huh dasar anak muda Indonesia jaman sekarang…
Dan pertanyaan penutup kita masih selalu sama. Lagu ini diciptain sama siapa ya?
1 comment November 5, 2008