Archive for February, 2009
PidatoCabup
Pidato Calon Bupati Bantul 2030
Assalamualaikum wr wb
Kalo untuk TD (Technopreneurship Department) sendiri sejak awal taun ditargetkan ada 4 poin yang dicapai di akhir kepengurusan:
1. Menjadi sumber dana bagi BEM
2. Tidak bergantung kepada dana dari dekanat
3. Menanamkan jiwa wirausaha di Teknik
4. Enterpereneurshipnya bergerak ke arah technopreneur
Tiap taun kita bisa begitu sukses, sementara untuk sumber dana alternatif bagi BEM bisa terlaksana. Dari acara TOBAT (Try Out Bareng Teknik) kita dapet untung 10 juta lebih. Dan kemaren ketika ospek juga sempet menyediakan kantong gandum juga, ada keuntungan yang diperoleh disitu.
TD sebagai departemen yang tidak bergantung dari dana dekanat yang tiap taun ada raker yang gontok2an, tiap taun Departemen dan BSO (Badan Semi Otonom) rebutan, kita berusaha mengurangi poin disitu. Kita menguasahakan bagaimana ke arah mencari dana sendiri. Acara Scientech.com (Science and Technologi Competition) dapet dana dari Dikti 7.5 juta. Porsi dana dari dekanat kita cuma minta 750 ribu dan itu nggak sempet diambil
Evaluasi poin ketiga menanamkan jiwa wirausaha di Teknik. Semester pertama sempat mendirikan EEC (Engineering Entrepreneur Community), yaitu komunitas enterepenur di Teknik bareng sama KM/HM (Keluarga Mahasiswa/Himpunan Mahasiswa). Untuk semeseter selanjutnya, komunitas ini nggak jalan. Sempat mengadakan outbound bareng sama Fosma (Forum Silaturrahmi Mahasiswa Alumni ESQ) tapi terbentur sama SDM di TD sendiri, karena Desember kemaren terbentur sama acara Scientech dan TOBAT. Ke depannya nggak pengen TD terkesan kaya taun kemaren yaitu, ngejar proker
Sementara untuk TD sendiri feeling kewirausahan sudah mulai berkembang.
Paling susah dilaksanakan adalah menggeser entrepereneur ke technopreneur, ini kendala internal. Sejak awal taun staffnya minim. Dari angkatan 2007 sendiri cuma beberapa orang, dibantu angkatan 2006. Dengan sumber daya terbatas mencoba menggeser paradigma tersebut. Untuk taun ini adalah gimana mempersiapkan anak2 angkatan 2007 untuk taun kedepannya menjadi technopreneurship. Membimbing angkatan 2007 utnuk ikut PKM dan sebagainya. Alhamdulillah anak2 punya visi itu untuk kedepannya, dan untuk Kadept TD selanjutnya kita punya calon 4 orang ditentukan saat makrab besok.
Trouble nya mirip kaya Sosmas, ketika awal2 angkatan 2006 masih aktif tetapi begitu selesai ospek dan angkatan 2008 masuk, mereka mulai menghilang. Salahnya adalah ketika angkatan 2008 masuk, kita berpikir bagaimana membina angkatan 2008, tapi yang angkatan 2007 terlepas. Harapannya angkatan 2007 bisa mandiri dan membimbing angkatan 2008. Tapi ternyata angkatan 2007 merasakan adanya kecemburuan sosial, jadi mereka memilih untuk melepaskan diri. Angkatan 2007 sekarang tinggal sekitar 10 orangan. Sedangkan angkatan 2008 dari 64 orang yang mendaftar yang bertahan samapi sekarag ada sekitar 30 orang.
PR ke depannya bagi TD ya tinggal 2 itu, bagaimana kewirausahaan lebih berkembang di Teknik dan technopreneurship benar2 menjadi techno.
Mungkin itu, assalamualaikum wr wb
Catatan:
(Tulisan ini merupakan ucapan seorang Fauzi Muharram pada saat rapat PH terakhir BEM KMFT UGM periode Mas Ayi, pertengahan bulan Desember 2008. Tulisan ini gue ketik secara langsung secara real time ketika Fauzi selaku Ketua Departemen TD mendapatkan kesempatan bericara untuk mengevaluasi segala dinamika di dalam TD selama masa kepemimpinannya. Nggak lupa dengan sedikit editan disana-sini supaya keliatan lebih rapi dan enak dipangan mata, kaya gue gitu…
Tambahan juga, si Fauzi yang asli produk Bantul ini puya cita2 untuk jadi Bupati Bantul di taun 2030 nanti. Karena itulah tulisan ini berjudul demikian. Kalo pada nggak percaya, ya kita buktiin aja nanti di taun segitu.)
Add comment February 16, 2009
TechnicalMeetingAutis
Di sela2 liburan gue di awal bulan Februari, ketika gua lagi di Depok, hp gue berdering. Datang seekor sms dari Fauzi Muharram alias Fauzi Ingah-Ingih alias Fauzi Cabul (Calon Bupati Bantul) yang isinya menyatakan bahwa tanggal 14-15 Februari bakalan ada lomba debat di Ambarukmo Plaza, biasa disingkat Amplaz. Lomba debat ini diadain oleh salah satu produk deodoran ketek yang bernama, sebut saja “Mbleketek” (bukan nama sebenarnya. Kalo nama sebenernya ntar disangka promosi. Huehehehe… Gue sih mau aja promosiin brand itu, asal ada kompensasinya lah…). Dan, gua bareng Fauzi Cabul diamanahin untuk ngewakilin Fakultas Teknik UGM dalam lomba debat itu, bareng 2 temen gue lainnya yang bernama Ade Autis dan Ikhsanudin.
Lomba debat ini temanya tentang “menghadapi perubahan iklim di masa mendatang”, nggak jauh2 beda sama produk deodoran keteknya si Mbeleketek ini. Si Mbleketek ini pada tanggal segitu emang ngadain event promosi di Amplaz, dan lomba debat ini adalah salah satu bagian dari event tersebut, untuk menarik massa tentunya.
Gue yang sama sekali nggak punya pengalaman debat, akhirnya menyetujui untuk ambil bagian di lomba debat ini. Soalnya anak2 Teknik yang lain lagi pada disibukkan dengan acara HPTT alias Hari Pendidikan Tinggi Teknik, jadi kita2 yang pengangguran ini lah yang bakal mewakili. Agak aneh juga sih, secara gitu gue nggak hobi debat sama sekali. Ngedebat pedagang atau sopir angkot dalam masalah harga juga nggak pernah. Paling dulu waktu mau beli handphone aja kita berdebat adu tawar harga. Atau ngedebat polisi waktu kena tilang. Atau dulu gue pernah jadi juri debat waktu Ospek Teknik taun 2008 kemaren.
Beberapa hari sebelom hari H, gue di sms sama si Fauzi Ingah-Ingih buat dateng di Technical Meeting alias TM. TM nya ini hari Jumat 13 Februari jam 19.30, bertempat di Jalan Imogiri. Karena gue nggak tau jalan Imogiri dimana, akhirnya gue minta ditemenin. Dan Fauzi Cabul pun bersedia nemenin, karena dia adalah makhluk asli produksi Bantul yang udah apal jalan2 di Jogja. Bahkan dengan menutup mata pun, dia masih bisa melintasi jalan2 di kota Jogja ini. Bisa nabrak, maksudnya…
Akhirnya selepas Maghrib, berkumpullah kita berdua di BEM. Menggunakan motor Astreanya Fauzi Ingah-Ingih, kita berangkat. Tapi tiba2 di tengah jalan hujan turun rintik2. Namun hujan ini nggak menghalangi langkah kita untuk tetap melanjutkan perjalanan, soalnya insya Allah kita adalah makhluk2 berintegritas tinggi yang selalu mengusahakan untuk menghargai waktu. Jadilah kita terobos hujan itu supaya bisa sampe tujuan sebelom jam 19.30 sebagaimana yang udah dijanjikan.
Di tengah jalan ternyata Adzan Isya berkumandang. Akhirnya mampirlah kita di masjid untuk sholat Isya dulu. Selesai sholat ternyata ujannya malah tambah deres. Deres banget malah. Tapi sekali lagi, hujan ini pun nggak mampu untuk menghalangi langkah laju motor kita. Fauzi Cabul langsung mengeluarkan jas hujannya dan menggulung celananya ke atas sampe memperlihatkan pahanya yang item dan nggak ada mulus2nya itu. Hohohoho… Nggak kok, ini mah bid’ah, nggak ada di cerita nyata.
Sementara gue cukup dengan make topi di bawah helm gue, untuk nutupin kacamata supaya nggak kebasahan. Dan kita pun menerobos hujan, menyerahkan sisanya dan segalanya kepada Allah semata. Atau dengan kata lainnya, “Tawakkal aja…”
Sampe jalan Imogiri, ternyata kita sempet kebingungan nyari tempatnya. Setelah ngelirik sana-ngelirik sini, akhirnya kita pun memutuskan untuk nanya orang. Gue pun turun dan nanya ke Bapak2 pedagang nasi goreng kaki lima yang ada di situ.
“Misi Pak numpang nanya. Jalan Imogiri nomer 162 sebelah mana Pak?”
Gue nanyanya menggunakan Bahasa Indonesia yang baik namun belom tentu benar, alias bahasa sehari2. Tapi ternyata si Bapak itu ngejawabnya pake bahasa planet. Bukan bahasa planet sih, tapi bahasa Jogja asli yang levelnya masih asli banget.
“!#@?+x#$ *!@#+?xE %$#@!*& X^+#*@”
Gitu kira2 jawaban si Bapak itu. Nggak ngerti kan lu? Ya sama, gue juga nggak ngerti…
Tapi selaku mahasiswa Teknik Nuklir UGM dengan IPK 3.02 yang punya kapasitas otak nggak kalah dengan otaknya Habibie, gue bisa menarik kesimpulan bahwa lokasi yang gue tuju nggak jauh dari tempat gue sekarang.
“Oh jadi ini tinggal lurus aja ya Pak? Nanti tempatnya di sebelah kiri jalan?”
Dan si Bapak itu menjawab,
“Injih, ler wae!”
Hah apa tuh artinya gue nggak ngerti…
Mungkin “ler” artinya lurus aja, atau arah Utara (dari kata ngalor). Buat gue yang berdarah Jawa Timur, kalo mau ngomong “lurus aja” biasanya pake istilah “bablas wae”. Sementara kalo kedua pertanyaan gue ditraslate ke bahasa Jawa Timur, kira2 jadi gini terjemahannya:
“Kulo nuwun Pak, arep takon. Dalan Imogiri nomer 162 iku ngendi Pak?”
“Oh dadi iki bablas wae Pak? Engko’ tempat’e nang kiri dalan?
Oke cukup, sampe disini pelajaran Bahasa Jawa kita hari ini.
Kita kembali lagi. Setelah nanya ke Bapak itu, kita pun berhasil menemukan lokasi yang dimaksud, sebuah rumah yang kayanya merupakan kantor Event Organizer alias EO, telihat dari plang EO tersebut yang terpampang di atas. Kita sebut saja EO ini dengan nama “Mbahwek”, juga bukan nama sebenernya. Sekali lagi, kalo gue nulis nama aslinya, itu mah sama aja kaya promosi gratisan. Ogah ah, emangnya akika cowo gratisan bo…
Waktu menunjukkan pukul 19.40-an. Setelah memarkir motor, kita pun masuk ke dalem. Lirik sana-lirik sini, akhirnya gue nemu orang yang bisa gue tanya. Seorang Mas2 yang penampilannya agak gaul dan trendy gitu deh.
“Mas ini yang technical meeting Rexona itu ya?”
Si Mas2 yang gue tanya pun menjawab,
“Iya. Ini yang apa?”
“Kita yang debat Mas”
“Mmm… Dari mana?”
“Dari UGM”
“Oh ya udah, gabung aja. Silahkan duduk, bareng temen2 yang laen!”
Mas2 yang merupakan salah satu panitia EO itu pun menyuruh dan memaksa gue serta Fauzi Ingah-Ingih untuk duduk di ruangan yang udah penuh dengan manusia itu. Bukan duduk sih tepatnya, tapi lesehan.
Lalu gue pun ngeleseh di space yang kosong. Karena di situ udah lumayan rame, gue langsung ngajak salaman 2 orang yang posisinya ada persis di deket gue, sekalian kenalan. Laki2 dua2nya, Ternyata mereka dari UAD alias Universitas Ahmad Dahlan, peserta lomba debat juga. Mereka juga dari Fakultas Teknik, soalnya lomba debat ini ditujukan buat perwakilan dari Fakultas Tekniknya doank.
Setelah mendapatkan posisi lesehan yang enak, gue mulai ngeliat2 sekeliling ruangan yang ukurannya nggak seberapa itu. Di sebelah Barat berkumpul orang2 yang sebagian besar laki2, termasuk gue. Agak heran juga gue, ini peserta debat tapi kok tampang sama style nya kaya preman ya? Pada make baju warna2 gelap dan celana jins gitu. Padahal umumnya lomba debat kan diisi oleh aktivis2 yang identik dengan celana kain dan jaket khas aktivis. Tapi disini cuma Fauzi Cabul doank yang berdandan kaya gitu, lainnya nggak. Termasuk 2 anak UAD tadi, yang keliatan lebih “normal” dibanding yang lainnya.
Lalu gue ngeliat ke sebelah Timur dan… Subhanallah… Banyak pemandangan indah terpampang disana!
Di situ duduk berjejer beberapa ekor perempuan atau Mbak2 dengan dandanannya yang khas anak gaul, plus juga dengan bajunya yang nggak kalah gaulnya. Rambutnya, khas rambut yang akrab dengan salon-menyalon. Kulitnya, khas kulit yang akrab dengan perawatan tambal sulam dan ketok magic sana-sini. Bajunya, Subhanallah… Menampakkan keindahan2 ciptaan Allah yang ada pada tubuh seorang wanita. Alhamdulillah, eh Astagfirullah…
Sebenernya sih mungkin bagi mereka dandanan kaya gitu tergolong biasa aja. Tapi buat gue dan Fauzi Ingah-Ingih yang sehari2nya hidup di lingkungan yang insya Allah terjaga, dandanan kaya gitu udah tergolong luar biasa. Entah itu luar biasa menyejukkan mata, luar biasa menentramkan, luar biasa menggoda, luar biasa bejatnya atau luar biasa apanya lah terserah. Fauzi Cabul pun sependapat, dan kita saling bisik2,
“Ini apa sih, kok isinya kaya ginian semua…”
“Ji, nanti abis ini kita mesti langsung muroja’ah nih, ngecek apalan kita ada yang ilang nggak…”
Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.
Ajaib juga nih, masa iya peserta debat kok kinclong2 aya gitu? Masa iya anak Teknik yang kebanyakan laki2, ada yang menggairahkan kaya gitu?
Akhirnya gue dan Fauzi Ingah-Ingih pun kembali ngobrol2 ngalor-ngidul ngetan-ngulon sama anak2 UAD tadi, sambil nungguin Technical Meeting nya mulai. Sekarang udah masuk jam 8 dan TM ini masih belom mulai. Kata Mas2 tadi sih, nunggu peserta yang belom dateng. Sekalian juga orang dari Mbleketeknya yang terbang langsung dari Jakarta, mengalami penundaan penerbangan. Aduh payah juga nih, ngaret melulu. Dasar Indonesia… Tapi ya nggak apa2 lah, sambil nunggu acaranya mulai, gue bisa sedikit ngelirik ngeliatin Mbak2 kinclong yang ada di sebelah Timur itu. Huohohoho… Astagfirullah…
Setelah jarum jam menunjukkan pukul 20.30-an, akhirnya TM dimulai. Itu pun bukan dengan orang Mbleketeknya langsung yang masih di jalan, tapi oleh salah seorang panitia dari EO Mbahwek itu tadi. Ini juga kayanya gara2 si anak UAD nggak henti2nya memprotes kengaretan ini. Ya iyalah, kasian mereka. Udah datengnya on time jam 7, sambil ujan2an juga, eh acaranya ngaret. Udah gitu nggak dapet makanan dan minuman pula, selain makanan syahwat yang diberikan oleh Mbak2 itu tadi.
TM pun dimulai, dan TM ini ternyata ajaib juga. Ajaib, soalnya ternyata semua komponen pendukung event Mbleketek besok dikumpulin jadi 1 di TM ini. Jadi di sini isinya bukan cuma peserta lomba debat doang, tapi juga ada SPG, band, kru, MC, dll.
Oh ternyata Mbak2 kinclong penggoda iman yang ada di sebelah Timur itu rupanya adalah SPG buat event besok. Pantesan aja tampilannya pada good looking kaya gitu. Sementara laki2 yang agak2 preman yang gue sebut tadi ternyata perwakilan dari band pengisi event besok. Dan ada satu lagi Mbak2 yang manis dan mukanya mirip artis, yang ternyata dia kebagian jatah jadi MC. Halo Mbak, boleh kenalan nggak?
Konyol juga nih TM kaya gini. Semua komponen itu dikumpulin dalam 1 forum. Jadi ketika TM nya dibacain oleh Mas2 dari Mbleketek yang akhirnya datang juga, semua komponen tau seluk beluk komponen lainnya yang mestinya bukan urusannya.
Contohnya, TM dimulai dengan ngebahas masalah SPG. SPG itu harus gini dan gitu. Besok ada games, games nya itu gini dan gitu. Terus ada quiz dan doorprize, hadiahnya gini dan gitu. Dan hal2 lainnya yang mestinya itu jadi urusan internal Mbleketek dan Mbahwek itu sendiri, tapi pada akhirnya didenger juga sama gue dan lain2nya. Plus, mau nggak mau, ketika dia lagi ngebahas tentang SPG, kita2 yang bukan SPG jadi nggak ada minat sama pembicaraan ini. Satu2nya minat mungkin dari pandangan mata ini yang nggak henti2nya ngelirik ke SPG2 yang semuanya perempuan itu. Astagfirullah…
Ada yang lebih konyol lagi. Di situ ada 2 lembaran materi yang tergeletak gitu aja, seakan2 nunggu untuk diambil. Materi yang pertama adalah jalannya acara keseluruhan. Materi satu lagi tentang product knowledge buat pegangan SPG2 itu tadi. Nah karena forum ini dicampur, akhirnya ada beberapa orang yang kebagian materi product knowledge yang mestinya cuma buat SPG itu tadi. Di dalem materi itu, ada soal quiz yang bakal dikasi besok. Plus jawabannya juga ada disana.
Apa artinya? Ya artinya adalah, kalo emang buat quiz besok pertanyaannya adalah seperti yang tertera di situ, ya gue udah tau jawabannya. Jadi bisa curi start gitu. Langsung aja semua pertanyaan beserta jawaban yang ada disitu gue catet, kali aja besok gue dapet kesempatan buat jawab quiz. Kan lumayan, hadiahnya t-shirt sama travelling kit. Hohohohoho…
Berdua sama Fauzi Ingah-Ingih gue catet itu jawabannya. Sementara si anak UAD cuma gue bisikin aja, nggak tau dia bakal ngikutin juga apa nggak. Sedangkan anak UII di sebelah gue nggak gue kasih tau tentang ini, soalnya dia nggak kebagian materi yang ini. Aduh liciknya…
Akhirnya setelah bla bla bla bla bla, TM untuk SPG pun selesai. Dan Mas2 dari Mbleketek itu mempersilahkan para SPG untuk pulang karena urusan mereka udah beres, termasuk masalah seragam yang baru dateng besok pagi. Yah Mbak jangan pulang dulu, kita belom sempet kenalan dan tuker2an nomor handphone…
Lalu TM pun beralih ngebahas tentang lomba debat, yang ngebuat MC dan band jadi planga’-plongo’. Debatnya begini dan begitu, peraturannya begini dan begitu. Standar sih, kaya lomba debat pada umumnya, yaitu dikasi satu pernyataan, terus ada yang positif dan ada yang negatif alias ada yang pro dan kontra. Tapi tetep aja, gua nggak punya pengalaman sama sekali ikut lomba debat kaya beginian.
Pesertanya ada 8 tim, dibuat sistem turnamen. Kebetulan tim gue, Fakultas Teknik UGM yang oleh Fauzi Cabul dikasi nama “Fantastic Future”, kebagian nomor 5, yang berarti besok kita harus tanding lawan UNY alias Universitas Negeri Yogyakarta yang dapet nomor 6. Sodara serumpun nih, kan kampus kita sebelahan. Nanti kalo debatnya nggak selesai di Amplaz sini, kita lanjutin di belakang aja ya.
Hadiahnya adalah 1,5 juta untuk juara 1, 1 juta untuk juara 2 dan 750 ribu untuk juara 3. Sementara semua peserta bakalan dapet kenang2an atas keikutsertaannya. Nggak tau kenang2annya apa, palingan produk2nya Mbleketek. Ya iyalah, namanya juga promosi. Tapi kalo boleh milih sih, gue pengen kenang2annya si Mbak2 SPG itu aja, lumayan buat mainan di kosan. Aduh aduh, Astagfirullah…
Lama kemudian setelah segala seluk beluk lomba debat selesai dibahas, TM untuk lomba debat ini pun selesai. Sekali lagi, Mas2 Mbleketek itu pun mempersilahkan kita untuk meninggalkan ruangan. Terpaksalah gue melangkah sebelom sempet berkenalan dengan Mbak2 MC yang manis itu. Ya nggak apa2 lah, tawakkal aja. Kalo emang rezeki, pasti suatu hari nanti kita akan dipertemuka kembali. Huiks huiks…
Sesaat sebelom pergi, jiwa narsis gue mulai keluar. Sebelom pamitan, gue berujar sama anak2 UAD yang kebagian nomor 7.
“Eh nanti kita ketemu di semifinal ya!”
Dan anak UAD itu pun tersenyum lalu mengiyakan. Terus gue menghampiri anak2 UII yang kebagian nomor 2.
“Eh nanti kita ketemu di final ya, insya Allah!”
Anak UII itu juga tersenyum dan mengiyakan. Hohohoho… Semoga besok jadi kenyataan. Dan seandainya uang hadiah sebesar 1,5 juta itu ada di situ saat itu juga, gue juga bakalan ngomong gini ke dia.
“Eh, insya Allah nanti lu gue bawa pulang ya!”
Hehehehe… 1,5 juta, oh 1,5 juta…
Lalu gue dan Fauzi Ingah-Ingih dan semua peserta debat lainnya pun meninggalkan ruangan untuk bergegas pulang. Di luar, gue masih sempet ngeliat 2 orang Mbak2 SPG yang tadi ikut TM di dalem. Dan ternyata Mbak2 SPG ini lagi ngobrol2 sama Mas2 dari Mbahwek yang gue tanyain di waktu awal tadi. Huh, dasar buaya! Huahahahaha…
Lalu gue dan Fauzi Cabul pun melajukan motor menembus malam untuk kembali ke BEM, setelah sebelomnya sempet berhenti gara2 10 meter dari kantor Mbahwek itu tadi ada kecelakaan motor yang mengakibatkan pengemudinya pingsan. Motor Astreanya Fauzi Ingah-Ingih pun terus melaju dan melaju… Brrrrmmmm…. Brrrrmmmm….
5 comments February 13, 2009
LPJmediaOpini
Laporan Pertanggung Jawaban
Divisi Media dan Opini
Keluarga Muslim Adz-Dzarrah
Teknik Fisika UGM
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaa ha illallaah wallahu akbar
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Mukaddimah alias Pendahuluan
Hmmm… Nggak terasa 1 tahun telah berlalu. Dan Alhamdulillah hari ini aku atas nama C-Kink Sahid Syaifullah masih diberikan kesempatan untuk menulis lembar demi lembar LPJ ini. Lembaran LPJ yang nantinya harus aku pertanggungjawabkan di akhirat nanti.
Di suatu malam yang terang benderang, seorang anak manusia bernama Huda datang menghampiri diriku di tengah sunyinya ruang BEM. Beliau selaku Ketua Kamadz terpilih secara jujur dan terbuka langsung menawarkan posisi Ketua Divisi Media dan Opini di Keluarga Muslim Adz-Dzarrah (Kamadz) di periode 1429 Hijriah kepada ku yang autis dan nggak ngerti apa-apa ini.
Tawarannya nggak langsung aku terima. Setelah itu aku berdiskusi dengan seorang makhluk lainnya yang bernama D. Miftahul Anwar yang saat tulisan ini ditulis, beliau telah duduk sebagai Ketua Umum BEM KMFT UGM. Beliau menyarankan aku untuk menerima posisi sebagai Ketua Divisi Media dan Opini tersebut. Aku pun manggut-manggut aja, meskipun sejatinya juga masih belom yakin.
Akhirnya aku bersemedi selama beberapa menit di dalem kosan, dan akhirnya dibukakan pintu hatiku oleh Allah Al-Baasith, Allah Yang Maha Melapangkan, bahwa aku bersedia untuk menerima tawaran Huda sebagai Ketua Divisi Media dan Opini. Sebuah hal yang sesungguhnya amat berat, karena sekecil apapun amanah tetap akan dipertanggungjawabkan di akhirat nantinya.
Yang juga melatarbelakangi diriku untuk mengemban posisi ini adalah karena sejatinya media memiliki peran penting dalam menyebarkan cahaya Islam. Tidak bisa dipungkiri bahwa hari ini media massa telah dikuasai oleh Zionis Yahudi dan dimanfaatkan dengan optimal untuk memenuhi nafsu mereka. Kaum Muslimin pun banyak yang tidak sadar dengan propaganda mereka. Untuk itulah umat Islam harus bangkit, dan penguasaan di bidang media adalah salah satu kewajiban yang harus dipenuhi dalam rangka menyiarkan keagungan Islam ke seluruh penjuru dunia.
Idealita
Setelah resmi mengemban amanah ini, aku langsung menyusun proker untuk Divisi Media dan Opini selama 1 tahun ke depan ini. Proker ini mengacu kepada proker Divisi Media nya Keluarga Muslim Teknik (KMT) yang aku peroleh dari ukhti Alviana Hanivatun Nisa serta proker Divisi Media nya SKI Teknik Sipil (Al-Hadiid) yang aku peroleh dari akhi Friski Cahya Nugraha. Kedua proker tersebut aku jadikan sebagai referensi dalam membuat proker Divisi Media dan Opini di Kamadz ini, yang hasilnya adalah sebagai berikut:
1. Mading (update setiap bulan)
Tujuan:
a. Meningkatkan ketertarikan untuk mempelajari Islam
b. Menambah wawasan tentang pengetahuan Islam dan umum
c. Memperbaiki sudut pandang membaca terhadap isu yang menyudutkan umat Islam
2. Buletin (terbit setiap 2 bulan
Tujuan:
a. Memperkenalkan Kamadz ke masyarakat umum
b. Menambah wawasan tentang pengetahuan Islam dan umum
3. Kamadz Dunia Maya
Tujuan:
a. Memperkenalkan Kamadz ke masyarakat umum melalui dunia maya
Itu kiranya proker dari Divisi Media dan Opini untuk 1 tahun ke depan.
Sementara dari staff, jumlah staff yang terdaftar ada 3 orang dengan komposisi sebagai berikut: Barra (Teknik Nuklir 2007), Bekti (Teknik Nuklir 2007), dan Apriadi (Teknik Nuklir 2006). Kemudian masuk seorang staff lagi yang bernama Andhika (Fisika Teknik 2007). Masuknya Andhika pun bisa dikatakan melalui jalur khusus, karena waktu itu aku secara lisan minta tolong Andhika buat bantu-bantu di Divisi Media dan Opini Kamadz, dan beliau pun mengiyakan. Alhamdulillah…
Realita
Akhirnya sampai lah kita di bagian paling menyedihkan di LPJ ini, yang aku pun merasa berat untuk menulisnya dan merasa malu saat menyadarinya. Realita. Realita yang memang nggak pernah seindah idealita.
Dari 3 proker di atas, ternyata nggak semuanya bisa terlaksana dengan sukses.
Untuk mading yang direncanakan untuk hadir setiap bulan, ternyata hanya muncul 1 kali dalam 1 tahun ini. Itupun bukan Divisi Media dan Opini yang mengerjakannya, melainkan atas inisiatif Dhanis, Andhika dan rekan2.
Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Kamadz meluncurkan mading yang bernama Madz-Magz (alias Kamadz Magazine). Mading yang cukup eksis ketika itu, namun lama kelamaan mulai ditinggalkan oleh masyarakat Teknik Fisika karena nggak pernah di update lagi.
Dan sedihnya, aku yang semestinya bertanggung jawab disini malah nggak berperan apa-apa. Ampunilah hamba-Mu yang hina ini Ya Allah…
Bagaimana dengan buletin? Sami mawon… Nggak ada 1 buletin pun yang beredar selama 1 taun ini.
Sementara untuk Kamadz Dunia Maya, Alhamdulillah mulai akhir tahun lalu Kamadz udah punya email. Baru email doank, belom punya friendster dan facebook. Friendster sekarang udah mulai kehilangan penggemarnya karena banyak beralih ke facebook. Tapi hati-hati, facebook itu buatan orang Yahudi loh! Karena ke-Yahudi-annya itulah, sebaiknya Kamadz nggak mengeksiskan diri di dunia facebook. Sedangkan untuk blog nggak jadi diwujudkan karena khawatir blog itu cuma punya halaman utama doank, tapi isinya kosong sama sekali.
Evaluasi
Kenapa hal-hal yang menyedihkan itu bisa terjadi? Banyak jawaban yang bisa kita peroleh disini.
Pertama, jelas dari diriku sendiri. Nggak tau kenapa, aku merasa rasa kepemilikanku atas Kamadz makin hari makin berkurang. Di awal-awal aku sangat semangat, ditandai dengan adanya rapat PH dan rapat Divisi Media dan Opini. Itu semua terjadi sebelum bulan Juni, sebelum UAS semester genap yang kemudian dilanjutkan dengan libur panjang.
Ketika itu, aku udah punya tekad bahwa insya Allah Kamadz bisa eksis di Fakultas Teknik, baik itu lewat mading atau buletin. Selama ini nggak banya SKI yang pernah menerbitkan buletin, dan Kamadz harus jadi garda terdepan disana.
Tapi nggak tau kenapa, setelah bulan Agustus dan mulai masuk semester ganjil, semangat itu perlahan mulai luntur. Ditambah lagi, nggak ada seorang pun yang mencoba untuk men-charge nya kembali. Astagfirullah… Ampunilah hamba-Mu yang tidak mampu istiqomah ini Ya Allah…
Sejak setelah libur tahun ajaran, semua seakan futur. Aku baru tersadar bahwa sejak setelah bulan Agustus itu, nggak ada lagi yang namanya rapat PH. Nggak tau, apakah memang nggak ada, atau sebenernya ada tapi aku aja yang nggak tau. Sehingga forum PH yang seharusnya jadi ajang untuk mengisi kekosongan ini malah nggak berjalan dengan semestinya.
Pun demikian dengan keadaan internal Divisi Media dan Opini. Sejak setelah liburan tahun ajaran itu, ternyata ada beberapa staff yang (sepertinya) ganti nomor handphone. Pernah beberapa kali aku kirim sms, tapi nggak ada yag delivered. Jadilah komunikasi dengan para staff pun terputus. Pun kita jadi nggak pernah ada rapat lagi setelah itu.
Hal ini membuat aku bingung sendiri. Aku punya idealita agenda yang sejatinya harus aku kerjakan. Tapi semangatku telah terlanjur turun, dan lebih lagi nggak ada suatu forum yang mampu me-refresh semangat ini kembali. Sejatinya aku sangat mengharapkan rapat PH, karena itulah forum untuk kita saling mempererat ukhuwah kita.
Sampai hari ini, udah banyak klipingan-klipingan dari koran tentang artikel-artikel ke-Islam-an yang ingin aku sampaikan kepada khalayak umum, khususnya warga Teknik Fisika. Tapi ya itu tadi, aku kebingungan bagaimana caranya aku mengeksekusi keinginan ku ini? Sampai detik ini pun klipingan-klipingan itu tetep tersimpan di laci kamar kosan ku.
Plus, sejak bulan Agustus aku dapet amanah baru di BEM KMFT UGM. Aku yang tadinya sebagai Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia Departemen Kajian Strategis, mulai saat itu harus mengemban posisi sebagai Ketua Departemen Kajian Strategis, menggantikan posisi Miftah yang naik menjadi Menko Eksternal. Dan selama 1 semester terakhir, waktu ku emang lebih banyak tersita disana.
Dan sampai pada akhirnya, tibalah hari ini. Hari dimana aku harus mempertanggungjawabkan amanah ku ini selama 1 tahun dalam bentuk LPJ. Astagfirullah… Aku nggak tau harus berkata apa nanti jika ke-tidak-amanah-an ku selaku Ketua Divisi Media dan Opini ini harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Astagfirullah…
Kritik dan Saran
Sejatinya nggak pantes untuk makhluk hina dan rendahan seperti diriku ini mencoba memberikan kritik dan saran. Sejatinya kritik dan saran itu lebih pantas untuk ditujukan pada diriku sendiri. Semoga kritik dan saran ini bisa bermanfaat. Jika ada tulisan yang salah dan kurang berkenan, silahkan tinggalkan saja, karena itu berasal dari diriku selaku manusia biasa yang lebih cenderung mengikuti hawa nafsunya.
Rapat PH adalah satu hal yang penting, yang berguna untuk me refresh kembali semangat rekan-rekan yang mungkin sempat luntur akibat kuliah dan kegiatan lainnya. Jadi sebaiknya optimalkan rapat PH, karena para PH adalah garda terdepan dari organisasi itu sendiri.
Mengenai keadaan staff yang dirasa kurang eksis, hendaknya ada kejelasan mengenai sistem kaderisasi dan rekruitmen di Kamadz itu sendiri. Dari tahun ke tahun, staff Kamadz banyak yang ghaib, yaitu ada namanya tapi nggak ada orangnya. Pun banyak staff Kamadz yang ternyata berada di Divisi yang tidak sesuai dengan keinginannya. Serta, bagaimana nasib staff-staff dari periode sebelumnya, kurang ada kejelasan disana.
Pemilihan PH hendaknya disesuaikan dengan kondisi masing2 PH. Ternyata kemarin banyak PH yang lebih eksis di luar Kamadz daripada di Kamadz itu sendiri, yang mengakibatkan keadaan internal Kamadz sedikit terbengkalai.
Masalah pendanaan dan lainnya juga terasa kurang jelas. Pun demikian dengan nasib Kamadz itu sendiri, kurang memiliki gaung di mata masyarakat Teknik Fisika.
Namun apapun alasannya, Kamadz harus tetap hidup. Cahaya Islam harus selalu bersinar di jurusan Teknik Fisika. Nggak cuma di dalam diri individu-individunya saja, tapi juga secara sosial dan memasyarakat. Hendaklah ada sebagian diantara kita yang mengajak kepada yang ma’ruf, serta mencegah dari yang munkar.
Ucapan Syukron alias Terima Kasih
Akhir kata, aku atas nama C-Kink Sahid Syaifullah ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
- Allah Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Segala puji hanya bagi-Mu Ya Allah, Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, yang telah memberiku nikmat Islam dan nikmat untuk bertemu dengan saudara-saudara ku di Kamadz ini.
- Nabi besar Muhammad Rasulullah saw, manusia terindah yang pernah terlahir ke muka bumi. Shalawat dan salam tercurah selalu pada mu Ya Rasul. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertatap muka, insya Allah.
- Pudji Indrawati dan Astoto Slamet, selaku kedua orang tua ku yang telah merawat dan mendidik anak laki-laki satunya ini. Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhumma kama rabbayanii saghiiraa.
Selanjutnya, aku juga mau ngucapin terima kasih sekaligus permintaan maaf kepada:
- Huda selaku Ulil Amri alias Khalifah alias Amirul Mukminin di Kamadz periode 1429 Hijriah ini. Mohon maaf jika aku gagal melaksanakan tanggung jawab yang kamu amanahkan kepadaku ini dengan baik. Kamadz periode ini emang kurang eksis, dan ternyata aku turut berkontribusi disana. Semoga kedepannya kita bisa terus berpacu untuk lebih baik lagi.
- Dhanis dan rekan2 yang telah mengkoordinir Madz-Magz dengan sangat baiknya. Terima kasih atas segala teguran yang telah diberikan, dan mohon maaf jika dalam perjalanannya ternyata proker ku malah berantakan kaya gini.
- Barra, Bekti, Apriadi dan Andhika, kita pernah berada di bawah 1 atap yang sama, atap Divisi Media dan Opini. Mohon maaf jika selama ini silaturahim kita agak terputus.
- Faisal, Nasrul, Aulia, Hafiq dan semua Kamadz-er lainnya. Jangan pernah lelah untuk terus menebarkan cahaya Islam di muka bumi.
- Mas Boni selaku Amirul Mukminin Kamadz periode sebelumnya, yang telah memperkenalkan aku dengan dunia Kamadz dan telah mempromosikan diriku kepada Miftah untuk membantunya membangun Departemen Kajian Strategis BEM KMFT UGM.
- Mas Ayi selaku Ketua Divisi Sumber Daya Manusia periodenya Mas Boni, sekaligus sebagai atasanku waktu itu. Lauh Mahfudz menuliskan bahwa ternyata kita bertemu lagi di BEM KMFT UGM dan kita ternyata lebih eksis disana.
- Sungkowo dan Kholid selaku rekan2 di Divisi Sumber Daya Manusia periode Mas Boni dulu.
- Dan semua pihak lainnya yang aku kenal maupun yang nggak aku kenal, yang kenal aku maupun yang nggak kenal aku. Semoga suatu hari nanti kita semua bisa dipertemukan di Jannah-Nya.
Sekian kiranya LPJ ini dibuat dalam keadaan sadar, dengan usaha sebaik-baiknya, dengan tulus dan ikhlas tanpa ada paksaan dari pihak manapun, kecuali atas perintah Huda supaya aku segera menyelesaikan LPJ ini secepatnya sebelum tanggal 15 Februari. Hohohoho…
Add comment February 13, 2009
KajianValentine
Kajian Valentine, 11 Februari 2009
Pembicara: Demi kemaslahatan umat, nama kita rahasiakan
Tempat: Sekretariat BEM KM FT UGM
Waktu: Pukul 16.00 – 17.00
Asal mula valentine muncul adalah terlampau sederhana. Ada semacam keresahan sosial di kalangan Katolik Roma dalam perayaan hari Natal. Ketika perayaan hari besar setiap tahunnya hanyalah berupa hari raya Natal, Katolik Roma merasakan kekurangan ruh jika hari raya itu hanya 1 kali dalam 1 tahun. Karena itu mereka berusaha membuat tradisi baru bernama valentine. Valentine bermula dari sebuah tulisan Santo Valentine, seorang Uskup Agung di 3 daerah di sekitar Roma.
Dalam rangka mencapai misi gold gospel dan glory, maka Valentine ini menjadi momentum bagi umat Katolik untuk menambah pundi2 kekayaan. Mereka meng-create sedemikian rupa supaya seolah2 niai historis dari perayaan valentine ini menjadi bagian dari agama mereka.
Paa abad ke-15 an awal, dalam tarikh Yunani kuno pada bulan Januari hingga Februari terjadi pernikahan antara Dewa Zeus dengan Dewa Her. Lalu dikaitkan supaya terkesan historis dengan agama mereka, sehingga timbul istilah Leparcus (kesuburan). Januari-Februari adalah masa2 dimana dewi kesuburan mampu bereproduksi. Leparcus atau Dewi Kesuburan menjadi bagian momentum adanya valentine.
Tradisi yang kemudian dilakukan oleh umat Katolik Roma waktu itu adalah dengan mempersembahkan sebuah sesaji berupa kambing bagi Dewi Kesuburan. Dan setelah itu, mereka melakukan upaya yang sifatnya hura2 seperti minum anggur, dan keluar dari rumah2 mereka menuju jalanan untuk menyentuh siapapun yang mereka temui. Sebagai bentuk ekspresi menginginkan kesuburan, para wanita muda melakukan perzinaan pada momentum tersebut. Itu terjadi pada tanggal 15 Februari pada awal abad ke-15.
Ini berkesesuaian dengan misi2 Katolik, gold glory dan gospel. Momentum valentine ini dikembangkan sedemikian rupa sampai abad ke-19. Mereka ramai2 mengirimkan ucapan valentine. Diawali dari Inggris yang mencetak beribu2 kartu ucapan (greeting card). Pada batas tertentu telah mencapai 1.5 milyar cetakan di seluruh dunia.
Sejak itu valentine selalu di show up ke publik, karena adanya keuntungan material yang diperoleh disitu, tanpa peduli apakah itu sesuai dengan agama mereka atau tidak. Terlihat adanya upaya sebuah materialisasi terhadap momentum ini.
Ternyata budaya valentine seperti itu sudah mulai merasuk ke dalam jati diri bangsa Indonesia. Survey yang dilakukan LSM di kota2 besar di Indonesia, pada momen itu tingkat hunian di hotel2 kelas marjinal meningkat drastis. Namun ternyata waktu check-in dan check-out nya tidaklah 1 hari sebagaimana lazimnya, tapi hanya beberapa jam saja, antara 2 sampai 5 jam. Dan berdasarkan hasil survey di apotek2, banyak alat kontrasepsi yang dijual di apotek2 terjual habis.
Fatwa untuk tidak merayakan valentine datang dari Timur Tengah. Pada 1420 Hijriah, ulama besar Saudi Arabia berfatwa, “Ketika valentine itu dikatakan sebagai hari raya, Islam tidak mengakui hari raya selain Idul Fitri dan Idul Adha. Ketika valentine itu dikatakan sebagai hari kasih sayang, Islam tidak mengartikan kasih sayang hanya pada momentum tertentu saja, melainkan pada setiap saat dan kepada siapapun”.
Dalih apapun yang digunakan untuk merayakan valentine, itu tidak diperbolehkan. Barangsiapa yang mengikuti suatu kaum, ia termasuk kaum tersebut. Hendaklah manusia saling tolong-menolong dalam kebaikan dan jangan ah tolong-menolong dalam hal yang buruk. Jadi, tidak semsetinya kita mengikuti perayaan valentine, dan tidak boleh sekalipun mendukung perayaan valentine tersebut.
(Insya Allah demikian. Mohon maap kalo tulisannya berantakan, tulisan ini dibuat secara real time ketika si pembicara sedang menyampaikan materi, dengan sedikit merapikan disana-sini)
Add comment February 13, 2009
MenkoEksternal
Huuuuaaaaah… Akhrnya mau nggak mau taun ini gue masih harus eksis lagi di BEM KMFT UGM yang ajaib ini…
Berdasarkan rencana gue di akhir taun 2008 kemaren, dealitanya gue pengen segera berhenti dari segala kegiatan ke-BEM-an. Udah cukup selama 3 semester gue ikut BEM dengan posisi sebagai Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia Departemen Kajian Strategis selama 2 semester dan Ketua Departemen Kajian Strategis selama 1 semester. Gue rasa udah cukup banyak pengalaman yang gue dapet disana. Meskipun sejatinya pengalaman itu nggak akan abis kalo mau terus kita cari, tapi gue juga harus membagi porsi antara organisasi dengan kuliah yang agak terbengkalai selama ini.
Ya begitulah. Ketika semester 1 gue nggak ikut organisasi apa2, IP gue masih bisa nyampe angka 3.5 dan itu adalah nilai tertinggi untuk 1 angkatan Teknik Nuklir 20006. Semester 2 cuma ikut di SKI Kamadz yang nggak begitu eksis, masih bisa dapet IP 3.13. Nah semester 3 pertama kalinya kenal Kastrat dan BEM, IP langsung terjun drastis jadi 2.73. Dan terakhir di semester 4 dan lebih eksis di BEM, IP juga masih tetep dapet 2.88, dengan bonus ada 1 mata kuliah 3 sks yang dapet nilai E. Nggak tau deh ni sekarang semester 5 bakalan dapet berapa.
Maka dari itulah resolusi gue di taun 2009 sejatinya adalah ingin kembali kepada fitrah gue selaku seorang engineer. Anak Teknik udah seharusnya bergerak di bidang keteknikan, jangan melulu berpolitik. Jadilah gue berencana di taun 2009 ini gue mau off total dari BEM dan organisasi lainnya untuk kembali berkutat dengan apa yang namanya Dosis Radiasi, Tampang Lintang Makroskopik, Paparan, Termoluminesensi, Burnup dan Konversi Bahan Bakar, Nilai Batas Dosis, dll. Nuklir oh nuklir…
Tapi ternyata semua berubah. Gara2nya adalah karena salah seekor sohib karib gue yang bernama Dede Miftahul Anwar pada akhirnya terpilih jadi ketua BEM KMFT UGM periode 2009. Dulu dia lah orang yang ngajak gue untuk masuk Kastrat (sehingga seharusnya dia lah orang yang paling bertanggung jawab atas merosotnya IP gue. Hohohoho…). Selama 1 taun kita eksis di Kastrat bareng2, dia sebagai Ketua Departemen dan gue sebagai Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusianya. Sampe akhirnya dia diangkat jadi Menteri Koordinator Lini Eksternal dan gue kebagian jatah gantiin posisi dia sebagai Ketua Departemen Kastrat.
Terus suatu ketika dia nyalon jadi ketua BEM, dan emang udah seharusnya dia nyalon. Gue pun termasuk salah seorang yang ngompor2in dia supaya mau jadi ketua BEM dan gue juga termasuk salah satu tim suksesnya. Dan sampai akhirnya dengan mudah dia kepilih jadi ketua BEM. Horeeee…!!!
Nah setelah dia jadi ketua BEM, otomatis dia harus milih orang2 buat mengisi susunan kabinetnya. Dan nggak tau atas alasan apa akhirnya dia minta gue supaya mau ngisi posisi Menteri Koordinator Lini Eksternal, posisi yang dulu pernah dia pegang.
Secara gitu gue udah niat buat mau kembali ke bangku kuliah dan menjadi mahasiswa studi oriented. Tapi karena gue orangnya sami’na wa watho’na, akhirnya dengan sedikit tolakan dan sedikit keengganan yang bisa dimentahkan, gue terima posisi itu.
Plus juga gue ngerasa ada perasaan nggak enak ketika telah menjerumuskan dia buat jadi ketua BEM. Buat sebagian orang, mungkin posisi ketua BEM adalah suatu targetan atau suatu prestise atau apalah yang menunjukkan kapabilitas seseorang. Tapi itu nggak berlaku buat kita, soalnya Insya Allah kita sadar bahwa jabatan adalah amanah, hendaknya jangan diberikan kepada seseorang yang memintanya. Dan di akhirat nanti kita bakalan diminta pertanggung jawaban atas amanah tersebut. Jadi, posisi sebagai ketua BEM bukanlah suatu kebanggaan, tapi suatu amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Nah terus masa iya gue yang udah menjerumuskan Miftah buat jadi ketua BEM, terus gue lepas tangan gitu aja setelah dia akhirnya terplih jadi ketua BEM? Jadilah mau nggak mau, gue nggak bisa dan nggak berdaya untuk nolak waktu Miftah minta gue buat tetep stand by nemenin dia disana. Meskipun sejatinya awalnya gue udah nggak begitu berminat ikut BEM lagi karena mau mengejar IP yang makin hari makin ajaib aja.
Jadilah kini pada akhirnya gue masih tetep bertahan di BEM, dengan sekarang menempati posisi Menteri Koordinator Lini Eksternal, selanjutnya disebut Menko Eksternal. Ternyata pemilihan gue di posisi ini pun bukan tanpa alasan, soalnya di posisi Menteri Koordinator Lini Internal diisi oleh Fauzi Muharram alias Fauzi Ingah-Ingih alias Fauzi Cabul (Calon Bupati Bantul) yang juga angkatan 2006 kaya gue dan Miftah. Dulu si Fauzi ini menjabat sebagai Ketua Technopreneurhip Departemen (wirausaha) selama 2 periode / 3 semester.
Jadilah kita bertiga selaku angkatan 2006 yang tersisa. Dan Miftah pun menyebutnya sebagai “Segitiga Bermuda” ( yang gue pelesetin jadi “Segitiga Ber-Muda”, soalnya kita bertiga paling tua sendiri di BEM sini, namun kita masih berjiwa muda loh…). Fauzi dapet amanah buat mewujudkan misi Miftah di bidang “advokasi” dan “kemandirian keuangan”, gue dapet amanah mengaplikasikan misi Miftah di bidang “pengokohan jaringan” dan “kultur ilmiah”, sementara kita berdua dapet amanah juga di bidang “media sebagai basis informasi”, mengingat kita berdua sama2 hobi ngeblog.
Dan sebagai Menko Eksternal ini, gue membawahi 2 Departemen plus 1 Biro, yaitu Departemen Sosmas (Sosial Kemasyaratan), Departemen Kastrat (Kajian Strategis) dan Biro Humas. Jadi disini gue bertugas untuk mengkoordinir mereka bertiga serta sebagai kepanjangan tangan dan lisan Miftah terhadap mereka.
Itu kira2 gambaran Menko Eksternal. Kini kita langsung beralih aja ke pengalaman gue selama 1 bulan menjabat sebagai Menko Eksternal.
Menko Eksternal itu nggak punya proker, karena emang nggak punya staaf dan proker2 itu jatahnya Departemen atau Biro. Jadi selama awal2 menjabat sebagai Menko Eksternal, yang gue lakukan hanyalah sebatas mendengarkan curhatannya anak2 2008 tentang segala seluk-beluk dunia ke-BEM-an. Plus juga selaku angkatan yang paling tua, gue bertugas untuk membagi pengalaman gue ke mereka dengan ikhlas dan dengan senang hati. Secara gitu gue bakalan lengser dan mereka lah yang bakalan jadi penerus selanjutnya.
Job pertama adalah ketika Miftah minta tolong anak2 2008 buat ngadain aksi advokasi terhadap masalah agresi Israel terhadap Jalur Gaza, Palestina. Aksi itu berupa orasi, shalat ghaib dan penggalangan dana. Panitianya adalah anak2 2008. Karena anak2 2008 masih agak awam, jadi disini gue bertugas untuk menjawab segala kebingungan anak2 2008 itu, terkait konsep aksi, persiapan, logistik, dan macem2.
Plus sebelom aksi itu berlangsung, gue usul supaya diadain dulu diskusi tentang sejarah negara Israel dan kedhzaliman2 mereka kepada bangsa Palestina. Alhamdulillah usul gue ini langsung dikabulkan. Dan gue pun secara sepihak langsung nunjuk Fahjri Adhi Nugroho si manusia geblek jarang mandi untuk jadi pemantiknya, yang dijawab dengan protes dan mencak2 dari dia gara2 dia kaget tiba2 disuruh jadi pemantik.
Dari situ terkumpul dana yang lumayan banyak buat beli es cendol, kira2 sekitar 3 juta lebih dikit. Kalo segelas es endol harganya 3 ribuan, dana sebesar 3 juta itu kira2 bisa beli 1000 gelas es cendol untuk bangsa Palestina yang kehausan. Duh masa iya sih…
Dana itu rencananya mau disalurkan ke lembaga kemanusiaan yang akan menyalurkannya langsung ke Palestina. Opsinya ada dua, yaitu PKPU (Posko Keadilan Peduli Umat) atau MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Setelah diskusi bla bla bla, akhirnya kita bakalan ngasih ke MER-C aja. Dan gue diamanahi untuk mengontak si MER-C itu.
Setelah gue mengontak si MER-C, kita pun janjian di sekretariat BEM. Lalu di siang hari yang terang benderang, salah seorang relawan MER-C bernama Muhammad Genta dateng ke BEM dan langsung gue sambut dengan se amplop uang berjumlah 3 jutaan. Lalu kita pun bertransaksi, ijab kabul, dan nggak lupa juga foto2 buat dokumentasi. Serta nanya2 lebih jauh lagi tentang MER-C itu sendiri, gimana awalnya Mas Genta bisa masuk MER-C dan gimana cerita relawan MER-C yang diberangkatkan ke Palestina sana. Setelah selesai itu semua, si Mas Genta ini ninggalin kartu nama dan dia pun pergi melenggang kangkung membawa serta uang 3 juta itu. Dari sini Insya Allah BEM KMFT UGM telah membuka satu link tersendiri dengan rekan2 MER-C. Semoga besok2 yang dateng kesini nggak melulu Mas Genta lagi, tapi Mbak2 good looking gitu, biar kita bersemangat buat gabung di MER-C juga. Huehehehehe…
Itulah job pertama gue selaku Menko Eksternal. Selanjutnya, yang gue lakukan adalah mengisi kekosongan kekuasaan di BEM gara2 Pak Bos Miftah harus pulang kampung dulu ke Tasik selama beberapa hari. Jadilah gue dan Fauzi diamanahi untuk menghandle segala dinamika BEM selama Miftah sedang cuti hamil itu.
Terus di penghujung bulan Januari, tiba2 kita kedatengan 2 ekor makhluk BEM KM, yaitu Guntoro selaku Menko Internal dan satu lagi gue lupa namanya selaku Menteri Advokasi. Kita pun ngobrol ngalor-ngidul ngulon-ngetan bla bla bla bla, yang intinya dia mengumumkan bahwa sore ini akan ada konsolidasi BEM se-UGM untuk menyambut kedatangan rekan2 dari Universitas Widyagama Malang.
Selaku Menko Eksternal, gue punya idealita bahwa suatu hari nanti BEM Teknik harus bisa eksis di mata dunia, untuk tahap awal minimal di UGM sendiri dulu. Karena Fakultas Teknik adalah Fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak, seharusnya ini bisa jadi kekuatan tersendiri. Dan sebagaimana bunyi lirik lagu ciptaan gue yang judulnya “Teknik Bersatu”, yang bunyinya gini: “Bersatulah mahasiswa Teknik/Bersatu dalam suka dan duka/Buktikan kepada dunia/Bahwa kita adalah juara”, jadi gue pengen membawa dan membuktikan bahwa anak2 Teknik adalah anak2 juara dan harus bisa membuktikan eksistensi serta kontribusi bagi dunia ini.
Untuk tahap awal, gue pengen mengeksiskan diri di lingkup UGM dulu. Jadilah gue dengan patuh memenuhi undangan untuk konsolidasi itu, meskipun datengnya agak telat gara2 nungguin Miftah yang pada akhirnya gue dateng kesana sama si Fahjri, manusia geblek jarang mandi yang tadi udah pernah gue sebut sebelomnya.
Konsolidasi ini diadain di BEM KM. Selain gue dan Fahjri, dateng juga perwakilan dari BEM Pertanian, Dema Hukum dan anak2 BEM KM sendiri. Dan itulah pertama kalinya gue bisa langsung berhadapan dan berdiskusi secara face to face dengan orang2 atas macem Qodaruddin si Ketua BEM KM, Ganendra si Sekjend BEM KM, Zulfan si Ketua BEM Pertanian dan lain2nya. Suatu forum yang Insya Allah memperkenalkan gue dengan para calon pemimpin bangsa ini nantinya.
Di forum konsolidasi itu intinya mengumumkan bahwa besok kita bakalan kedatengan temen2 BEM Universitas Widyagama Malang (UWM), dengan susunan rundown acara yang udah diatur oleh Mas Ganendra. Di UWM ini ada 4 Fakultas, yaitu Teknik, Ekonomi, Hukum dan Pertanian, dan dalam rundown tersebut direncananakan bahwa rekan2 UWM akan berdiskusi dengan BEM2 Fakultas sesuai dengan Fakultasnya masing2. Jadilah tiap Fakultas harus mempersiapkan diri untuk berbagi cerita dengan rekan2 UWM.
Lalu gue pun langsung mencoba menghubungi anak2 BEM Teknik untuk persiapan penyambutan. Akhirnya kita sepakat untuk ngajak anak2 UWM main2 ke sekretariat BEM Teknik sekaligus studi banding. Tapi sebelomnya kita mesti beres2 dulu, soalnya BEM ini tuh berantakan banget.
Sebenernya niat untuk beres2 sih udah ada dari dulu, tapi ya karena kecenderungan manusia adalah menuruti hawa nafsunya, akhirnya niat itu nggak terlaksana. Barulah sekarang mumpung ada momen yang tepat, yaitu kedatangan rekan2 UWM, akhirnya kita bisa menggerakkan massa untuk bantu beres2 BEM. Nggak lupa kita juga nyiapin struktur organisasi untuk dibawa rekan2 UWM dan snack kecil2an untuk pencuci mulut.
Akhirnya di sore hari kita nongkrong di BEM KM buat nyambut kedatangan rekan2 UWM. Tapi sebelomnya kita udah pada mandi dulu setelah sebelomnya badan kita bau asem semua gara2 beres2 BEM itu tadi. Akhirnya rekan2 UWM dipandu Mas Ganendra pun tiba di BEM KM dan langsung diarahkan untuk berdiskusi dengan Fakultas masing2. Untuk yang Fakultas Teknik UWM ada 3 orang, yang terdiri dari 2 orang laki2 dan 1 orang perempuan. Pas untuk gue angkut cukup dengan 1 mobil aja.
Sepanjang perjalanan, Miftah selaku tour guide nunjukin place2 yang interest di jalanan yang kita lewatin. Dan akhirnya kita pun sampe ke sekre BEM Teknik dengan selamat, yang disana dilanjutin dengan sesi diskusi. Namanya sih diskusi, tapi nggak tau kenapa ini kok malah jadi debat gitu. Padahal dari konsep awal tiap BEM aja udah beda. Tapi ya nggak apa2 lah, namanya juga anak muda…
Akhirnya setelah debat eh diskusi ini selesai, kita pun mengembalikan rekan2 UWM kembali ke pangkuan Mas Ganendar. Nggak lupa sebelomnya kita udah tuker2an link sama rekan2 Teknik UWM, supaya kedepannya silaturrahim kita bisa terjaga. Serta gue sempet ngasih kartu nama autis gue ke mereka. Nggak tau deh gimana respon mereka ntar kalo ngeliat kartu nama gue itu. Huohohoho…
Dan nggak lupa di tengah malem Mas Ganendra juga ngucapin terima kasih atas bantuan temen2 Fakultas Teknik. Iya sama2 Mas, makasih juga tadi kita udah kebagian jatah nasi bungkusnya.
Itu kira2 pengalaman 1 bulan pertama menjadi Menko Eksternal. Cuma ada 1 rencana yang belom kesampean, yaitu ngobrol2 dengan Pak Muslih selaku Sekjend Katgama alias Keluarga Alumni Teknik Gadjah Mada. Sebenernya sih kita udah punya nomor telponnya Pak Muslih, tapi nggak tau kenapa dia kayanya susah banget dihubungin. Kalo kata Mas2 ECC (Engineering Career Community) sih Pak Muslih itu adalah orang sibuk yang nggak mau nerima telpon atau bales sms dari orang2 yang nggak dikenal. Aduh sampe segitunya…
Dan kedepannya, masih ada 11 bulan lagi yang harus gue lalui sebagai Menko Eksternal. Idealitanya sih masih 11 bulan, tapi kan bisa aja kurang. Kaya misalnya gue dipecat atau lengser di tengah jalan, gue mengundurkan diri, atau mungkin gue meninggal selama masa jabatan. Ya nggak apa2 lah, tapi semoga ntar anak-istri gue dapet uang pensiun ya. Hehehehe…
3 comments February 10, 2009