25 April 2010
Hari ini hari minggu. Karena gue sekarang statusnya pengangguran dengan usaha sampingan, jadi hari minggu yang tenang ini gue manfaatin buat baca buku yang secara-hampir-nggak-sengaja gue pinjem dari kamar Aryo. Seharian gue ngejogrok di atas kasur, membaca halaman demi halaman buku yang judulnya “Cosmopolitan Career Book”, yang ngebahas tentang persiapan kaum perempuan dalam menghadapi dunia kerja. Padahal akika kan laki-laki ya bow, kok bacanya buku buat perempuan?
Setelah ngebaca buku yang penuh informasi mengenai dunia kerja itu, gue jadi tertarik untuk mencoba satu langkah baru dalam hidup gue. Apa itu? Adalah: melamar kerja!
Ya, sejatinya gue emang lebih tertarik buat berwirausaha. Tapi gue punya tanggung jawab moral selaku anak Teknik Nuklir, bahwa ilmu nuklir gue yang tergolong langka di Indonesia, harus dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa Indonesia. Dan untuk mewujudkannya, maka target gue adalah PT PLN.
Kenapa bukan BATAN? Jawabannya sederhana: karena pegawai BATAN statusnya PNS! Dan yang gue pengen adalah pegawai BUMN. Jadi PLN lah opsi yang gue pilih.
Sebenernya ada BUMN di bidang kenukliran, namanya PT Batan Teknologi (BanTek). Tapi kata senior-senior gue di BATAN, Bantek ini kurang berkembang dan kurang jelas nasibnya bakalan dibawa kemana. Kaya lagunya Armada, “Mau dibawa kemana… BUMN ini…”
Dan kenapa nggak milih BATAN, karena senior-senior gue pun juga menyarankan demikian (meskipun hanya 2 orang yang ngasih saran). Semuanya terjadi waktu diklat Deteksi dan Spektroskpi waktu diklat di Pusdiklat BATAN Pasar Jumat awal Maret kemaren.
Seorang pegawai senior berusia +-53 tahun di unit PTAPB BATAN Jogja berkata, “Dek, nanti kalo kamu mau cari kerja, jangan masuk BATAN.” “Loh emangnya kenapa Pak?” “Hidupnya nggak sejahtera!”
Seorang pegawai berusia +- 31 tahun di unit PPR BATAN Serpong ketika ditanya “Pak kalo jadi PNS di BATAN gitu enak nggak sih Pak?”, menjawab “Yaaaah enak sih, tapi gajinya ya segitu-segitu aja”. Beliau melanjutkan, “Tapi mungkin nanti kalo BATAN udah ada remunerasi, bisa jadi gajinya naik lah, lumayan!”. Kalimat terakhir beliau diamini oleh pegawai BATAn yang lain.
Dan lu semua tau, hari ini istilah REMUNERASI menjadi isu yang negatif. Semua gara-gara si jancuk Gayus Tambunan dan kroco-kroconya, manusia yang nggak tau bersyukur. Padahal, pegawai BATAN sangat-sangat mengharapkan adanya REMUNERASI ini. Dan kini mereka yang nggak berdosa ikut kena getahnya, padahal selama ini mereka telah setia mengabdi pada ilmu pengetahuan.
Jadi, sementara lupakan BATAN dan kita beralih ke BUMN bernama PLN.
Lanjut lagi. Malemnya, setelah gue agak jenuh ngebaca buku Cosmopolitan Career Handbook, gue langsung menjajah kamar Aryo yang emang lagi kosong dan mengokupansi internetnya. Gue search “lowongan kerja PLN”. Dari semua hasil, ada 1 hasil yang dirasa signifikan, tentang lowongan kerja PLN Februari 2010 kemaren. Gue klik dah tuh.
Dan setelah gue buka, ternyata emang ada lowongan kerjaan, biarpun sekarang udah ditutup. Gue liat baik-baik, ada posisi yang ditawarkan, diiringi dengan kualifikasi lulusan dan asal jurusannya. Twiiiiiinnnggg… Gue screening daftar lowongan tersebut. Setelah gue screening berkali-kali sampe mata gue jadi minus 3.5, langsung gue beralih ke halaman facebook dan nulis status:
“Niatnya sih mau masuk PT PLN. Tapi gue hampir nangis setelah tau bahwa ternyata PLN nggak nyediain lowongan untuk lulusan Teknik Nuklir… Huuaaaaaa…”
Huaaaaaaaa… Iya, gue kan niat banget masuk PLN. Gue udah janjian sama sohib buluk gue si Maryo bahwa gue bakalan jadi atasannya di PLN. Dan gue juga udah janjian sama temen diklat yang namanya Marsya bahwa setelah diklat ini, kita bakalan ketemu lagi November 2010 di PLN. Tapi apa daya, PLN nggak menyediakan tempat bagi lulusan Teknik Nuklir.
Tapi perjuangan belom berakhir. Masih dengan bermodalkan buku Cosmopolitan Career Book, gue mau coba membuang malu dengan nyari info mengenai peluang untuk lulusan Teknik Nuklir di PLN. Langsung gue ketik “alamat email PLN” dan gue search.
Tring tring tring… Banyak hasil yang ditampilkan. Gue buka satu-satu, dan Alhamdulillah ada salah satu result yang nampilin alamat email beberapa unit PLN. Langsung dah dengan muka tebel gue kirim email ke alamat yang didapet di situ. Isi emailnya gue tujuin buat HRD (biarpun email yang gue tuju kayanya nggak spesifik nyampe ke HRD) unit setempat. Gue curhat, bahwa gue adalah mahasiswa tingkat akhir Teknik Nuklir UGM. Di info lowongan PLN, nggak ada pos untuk lulusan Teknik Nuklir, kebanyakan Teknik Elektro. Terus gue nanya deh, ada nggak posisi yang mungkin secara general atau spesifik bisa diisi oleh lulusan Teknik Nuklir.
Gue kirim email ke beberapa alamat yang ada disitu. Beberapa detik setiap abis ngirim email, muncul notifikasi bahwa alamat email yang gue tuju salah atau udah nggak berlaku lagi. Wadooooohhh, berarti result search gue tadi keluaran jaman kapan ya? Tapi ada juga beberapa yang nyampe, kayanya… Dan status facebook gue pun berubah jadi:
“Berjudi dengan mengirim email ke semua unit PT PLN yang alamat emailnya diketahui”
Sementara di status gue sebelomnya terjadi diskusi sengit dan kemelut di depan gawang. Banyak yang komen, ngasih saran dan dukungan tentang ilmu nuklir gue yang berharga ini dan gimana baiknya masa depan gue nanti.
Intinya sih, gue pengen masuk PLN adalah karena:
- BUMN, jadi statusnya pegawai BUMN. Ngikutin jejak bokap gue.
- PLN punya tugas di bidang pembangkitan dan pendistribusian.
- Pembangkitan. Bisa jadi, kalo nanti PLTN jadi dibangun di Indonesia (dan Insya Allah jadi, harus jadi!), PLN lah yang bakal diamanahin untuk mengelolanya. Dan ilmu mengenai radiasi, khususnya proteksi radiasi, nggak semua orang punya.
- Pendistribusian. Hari ini kita sering denger masyarakat protes karena rumahnya sering mati lampu. Dan ini berefek negatif dan berdampak sistemik secara holistik dan jangka panjang, baik kepada konsumen maupun PLN sendiri. Nah, gue punya kewajiban untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat Indonesia, yaitu bagaimana seluruh wilayah Indonesia bisa teraliri listrik, dan nggak ada lagi keluhan mengenai masalah byar-pet yang sumpah bikin kesel (byar-pet nya loh yang ngeselin, bukan keluhannya)
- PLN, BUMN skala nasional. Lebih baik hujan gudeg di negeri sendiri daripada hujan sashimi di negeri orang. Anak bangsa seperti gue sebaiknya bekerja untuk memajukan negaranyam, bukan untuk perusahaan asing apalagi yang malah menguntungkan bangsa lain. Tapi idealisme ini bisa luntur jika dan hanya jika lulusan Teknik Nuklir kaya gue gini ternyata emang nggak punya tempat untuk berkreasi di negeri sendiri. (gaya banget, padahal lulus aja belom)
- Mungkin segitu dulu aja ya alasannya. Sisanya menyusul.
Jadi kalo bukan di PLN, dimana lagi? Intinya, jangan sampe gue, C-Kink Cute yang imut ini, suatu hari nanti diklaim oleh bangsa Malaysia bahwa gue adalah milik mereka… Nehi nehi! No way!
Sekian untuk hari ini.
26 April 2010
Siang-siang setelah gantian sama Bayu buat menjajah komputernya Aryo, gue ngenet lagi. Langsung buka email, siapa tau ada balesan dari PLN. Dan, jreeeennngg… Alhamdulillah nggak ada. Yang ada malah email dari orang PATIR BATAN, ngebahas lebih lanjut tentang tugas akhir gue yang berurusan dengan LSC alias Liquid Scintillation Counter. Ya udah deh, otomatis status facebook gue sekarang”
“Email gue ke PLN kok nggak ada yang dibales yaaaaa…”
Selang beberapa saat, internet gue tinggal dulu. Gue balik ke kamar buat baca buku tentang PLTN-Terapung dan nyalin tulisan dari sana, tentang komentar Patrick Moore, pendiri Greenpeace yang dulu menolak PLTN namun kini telah mendapat hidayah bahwa sesungguhnya PLTN adalah opsi yang paling masuk akal, mengenai mitos-mitos negatif seputar PLTN.
Abis nyalin, gue langsung balik ke kamar Aryo lagi buat ngenet, buat ngupload komen Patrick Moore tadi di blog dan notes facebook gue. Nah lagi asik-asik ngenet, plus baca dan mau ngasih komen di detiknews tentang aktivis yang demo di depan gedung DPR/MPR buat nolak PLTN di Indonesia, tiba-tiba layar komputer di depan gue mendadak menjadi gelap. Lampu kamar Aryo mati. Speaker dan stabilizer juga mati. Ada apa gerangan?
Setelah merenung sejenak, akhirnya gue tau bencana apa yang menimpa gue yang lagi asik ngenet: MATI LAMPU! Buajigur… Ngasemik… Niat mulia gue mengupload komentar Patrick Moore terpaksa ditunda dulu. Gue pun balik lagi ke kamar gue.
Dan di tengah rasa kekecewaan yang membuncah akibat mati lampu ini, gue langsung ngambil handphone gue, buka facebook dan update status:
“Dasar PLN! Lagi asik ngenet, eh mati lampu! Berarti emang gue harus masuk PLN supaya nggak ada lagi rakyat Indonesia yang mengalami kekecewaan seperti apa yang gue rasain saat ini…”
C-Kink
26 April 2010

Posted by Rina on May 3, 2010 at 2:02 am
hahaha…ih…sumpah kamu gokil tp lucu banget.. udah deh drpd nganggur mending daftar ke batan aj… btw kamu emang sering ke patir? LSC-mya tmpat siapa?
Posted by ckinknoazoro on May 9, 2010 at 12:23 am
hohohoow thank q… tapi maap, sementara Batan belom jadi prioritas dulu yah, kecuali kalo udah ada remunerasi. hohohow…
gag pernah kok ke Patir, kemaren baru sekali kesana. di LSC nya Mas Sigit & Pak Satrio
Posted by Myrtle Hartley on May 30, 2010 at 10:21 am
Hah am I actually the first comment to this incredible writing?
Posted by ckinknoazoro on July 27, 2010 at 10:13 pm
@myrtle: no you’r not
Posted by ijal rahman on August 25, 2010 at 7:23 pm
yoi sama kaya w u
babe w juga PLN
susah bgt masuknya y
Posted by ckinknoazoro on October 29, 2010 at 1:25 am
@ijal: kata temen gue yang udah di pln, pln cuma susah masuknya aja, tapi pas kerjanya gag sesusah yang diperkirakan. seleksinya yang susah, banyak pesaing, banyak tahapan. tapi kalo udah keterima, plong….
Posted by ince on November 3, 2010 at 5:10 pm
numpang nanya dunk..
alamat klo mw riset tentang nuklir(PLTN) di mana ya?
trims
Posted by ckinknoazoro on December 30, 2010 at 1:08 am
maksudnya alamat? alamat kantornya?
kalo mau studi terkait bisa main2 ke BATAN aja. ada 4: di Jogja, Bandung, Jakarta (Pasar Jumat) sama Serpong. kalo untuk yang orang-orang non-nuklir mungkin bisa ke Pusat Diseminasi Iptek Nuklir (PDIN) di Batan Pasar Jumat.