Posts filed under 'Lika-liku laki-laki yang tak laku-laku di dunia yang pe'

100Truths #2

100 Truths
WHAT WAS YOUR:
1. Last beverage = Mineral water / Eau de mineral / Mizu desu.
2. Last phone call = Numpang misscall pake nomor Fren gue yang baru beli
3. Last text message = Oh gitu, emh… Day activity kamu menurut kamu penting semua nggak, kalo misal dari 5 kegiatan kamu 2 nggak gitu penting mendingan kamu pake buat istirahat minimal tidur 2 jam, tapi kalo bisa setengah jam sebelumnya kamu makan dulu, temenku ada yang sukses gemuk pas nyoba cara ini, tapi kalo penting semua, weekend kamu pake buat istirahat TOTAL kalo bisa sambil olahraga 15-30 menit cukup kok! Minum vitamin, juga terus night activitinya jangan gitu, kalo nggak penting-penting banget mending dikurangin jamnya, jadi tidur nggak diatas jam 12 (jangan bilang kamu ngopi malem-malem?) sangat nggak disarankan. Justru saranku ganti pake susu :-) Gitu deh. (buset dah, panjang banget?)
4. Last song you listened to = Flower – L’arc~en~ciel
5. Last time you cried = Has just forget / J’oublie / Wasuremasu
HAVE YOU EVER:
6. Dated someone twice = Siapa juga yang mau ngedate sama gue? Secara gitu gue makhluk hina dan rendahan
7. Been cheated on = Pernah
8. Kissed someone & regretted it = Mau lu gue cium?
9. Lost someone special = Mbah Surip? Soeharto? WS Rendra?
10. Been depressed = Sometimes but very very rare / Combien de temps, mais ce tres rare
11. Been drunk and threw up = Never lah yaw…
FIRST THREE FAVORITE COLOURS:
12. White
13. Black
14. Green
THIS YEAR HAVE YOU: (2009)
15. Made a new friend = A lot of. Jiheisho-Kuni no tomodachi et mes amies du lip and friends from BEM KMFT UGM
16. Fallen out of love = Sudah lupa tuh… Keseringan sih!
17. Laughed until you cried = Gue kalo ketawa mah cool kalee
18. Met someone who changed you = Ho oh. Lurah, Kadus dan seluruh warga Desa Cucukan
19. Found out who your true friends were = I don’t have any single true friends / Je n’ai pas un bon amie / Tomodachi ga imasen
20. Found out someone was talking about you = Bien sure! Gue gitu loch…
21. Kissed anyone on your friend’s list = Buset dah… Emang lu mau gue cium? Sini sini… Cup cup mmmuuuuaaaachhh… Hueeeek pait!
22. How many people on your friends list do you know in real life = Hope I have one / Je prie, j’ai un amie
23. How many kids do you want to have = Cukup 4 anak. Kebanyakan ya?
24. Do you have any pets = Ada. Cacing dan kelabang yang suka ngintipin gue di kamar mandi kosan
25. Do you want to change your name = Peut-etre. C-Kink? Syahid Syaifullah? Nicholas Saputra? Mawar (bukan nama sebenarnya)?
26. What did you do for your last birthday = Nongkrong di angkringan, bersilaturrahim sama sesama pelanggan angkringan, ngobrolon bermacam-macam hal dari jam 9 malem sampe jam 1 pagi, sampe angkringannya tutup!
27. What time did you wake up today = 09.13, soalnya gue baru tidur jam 04.39 abis Subuh
28. What were you doing at midnight last night = Ngenet di VidiNet, ngupload video di youtube sama ngupload blog
29. Name something you CANNOT wait for = Die / Shinai / Mon mort
30. Last time you saw your Mother = 29 September 2009. Mama how are you today?
31. What is one thing you wish you could change about your life? = Nothing. I love my live with what my live today / Je suis heureux avec ma vie maintenant
32. What are you listening to right now = Start – Depapepe
33. Have you ever talked to a person named Tom = Tom? Where are you, Tom?
34. What’s getting on your nerves right now = Apa ya? Besok gue jadi moderator diskusi sekolah kaderisasi. Tapi insya Allah nggak nervous kok
35. Most visited webpage = Yahoo et WordPress et Youtube et Facebook et Detiksport
36. Whats your real name = R***** A**** P*******
37. Nicknames = C-Kink
38. Relationship Status = Single dengan 0 anak / Celibataire sans enfant
39. Zodiac sign = Virgo
40. Male or female? = (Fe)Male
41. Elementary? = SD Negeri Beji VII Depok. Sekarang gimana kabarnya ya?
42i. Middle School = SMP Negeri 2 Depok. Masih berdiri kah bangunannya?
43. High School/College = SMA Negeri 1 Depok / Teknik Nuklir UGM
44. Hair colour = Green. Whoaaaaaa, alien! Black absolutely
45. Long or short = Tergantung musim
46. Height = 183 cm
47. Do you have a crush on someone? Nggak ngerti maksud pertanyaannya / Je ne comprends pas
48: What do you like about yourself? Everything. Je m’aime! I love myself full! Idih narsis…
49. Piercings= Ogah…
50. Tattoos = Mbahmu kui…
51. Righty or lefty = Bang stop kanan Bang, kanan!
FIRSTS :
52. First surgery = Nggak banget deh
53. First piercing = Ogaaaaaaah!
54. First best friend = Would you be the first?
55. First sport you joined = Walking / Me promene / Shanposuru
56. First vacation = Rumah tetangga. Gyaaaaaa…
58. First pair of trainers = Nggak ngerti…
RIGHT NOW
59. Eating = Nggak. Tadi sih makan nasi goreng sapi sama anak2 LIP. Gue mesen porsi 1 ½. Terus punya Ido nggak abis, gue makan. Chacha juga nggak abis, gue abisin. Wooaaah…
60. Drinking = Nggak juga
61. I’m about to = Sleep / Dormir / Nemasu
62. Listening to = Nature sound of Jangkrik, Kodok, Angin malam dan… Kuntilanak?
63. Waiting for = My funeral / mon mourir
YOUR FUTURE :
64. Want kids= 4. Kurang banyak apa kebanyakan?
65. Get Married= 13 – 13 – 2013. Tanggalnya keren khaaaaaan…
66. Career = Entrepreneur!
WHICH IS BETTER :
67. Lips or eyes? = Dua-duanya boleh
68. Hugs or kisses? = Pertama kita pelukan dulu, terus cipika-cipiki-cibibir dikit-dikit, terus… Terus… Terus… Ahhhhhhhh…
69. Shorter or taller? = Nggak masalah. Lebih kecil kayanya enak deh…
70. Older or Younger? = Yang muda yang memimpin! Yang tua yang berkarya! Yang mana aja yang banyak duitnya!
71. Romantic or spontaneous ? = Spontan aja deh, jijik gue sama yang romantis-romantis
72. Nice stomach or nice arms? = Both of them, also added with nice knowledge and nice personaliti
73. Sensitive or loud ? = Dua-duanya siap. Tarik maaaaang!!!
74. Hook-up or relationship? = Nggak ngerti deh
75. Trouble maker or hesitant? = Trouble solver and self-confidence
HAVE YOU EVER :
76. Kissed a stranger? = Siapa? Will you be the first?
77. Drank hard liquor? = Je n’ai jamais. Nggak banget dah
78. Lost glasses/contacts? = Bukan ngilangin, tapi ngerusakin…
79. Sex on first date? = Kali gitu ada yang mau sama gue yang kurus kerempeng begeng cacingan gini… Huehehehe
80. Broken someone’s heart? = Nah buat lu yang baca, pernah nggak gue bikin lu patah hati? Pasti sering banget deh. Iya khan? Akika gitchu loh bow…
81. Had your own heart broken? = Cukup 3 kali aja, di jaman gue muda dulu
82. Been arrested? = Pernah. Dasar polisi j***uk!
83. Turned someone down? = Nggak ngerti coy!
84. Cried when someone died? = Nggak lah. Kematiannya adalah kebahagiaannya karena dia akan segera bertemu Tuhannya
85. Lied to your bestfriend? = Bestfriend? Do i have?
DO YOU BELIEVE IN
86. Yourself? = Bien sure! Ya iyalah
87. Miracles? = Impossible is possible!
88. Love at first sight? = Itu bukan cinta, itu mah napsu. Kalo gitu sih sering, tiap ngeliat perempuan-perempuan bertanktop dan celana pendek di jalan-jalan. Hihihihi… Astagfirullah…
89. Heaven? = Jelas!
90. Santa Claus? = Ah cuma dongeng
91. Kiss on the first date? = Siapa sih yang mau gue cium dan mau nyium gue? Cape deh pertanyaannya gini melulu.
92. Angels? = Yup. Ada Jibril, Mikail, Malik, Izrail, Israfil, Munkar, Nakir, Ridwan, Rokib sama Atid, yang wajib diketahui
ANSWER TRUTHFULLY:
94. Had more than 1 girlfriend/boyfriend at a time? = 1 aja nggak pernah punya! Gile aje lu!
95. Did you sing today = Absolutely, in my bathroom. “Apa sih yang kau tunggu… Apa sih yang kau mau… Langsung saja…”
96. Ever cheated on somebody? = Lupa…
97. If you could go back in time, how far would you go? = Nggak mau. Apa yang terjadi, terjadilah. Masa lalu biarlah berlalu
98. If you could pick a day from last year and relive it, what would it be? = Ogaaaaaah… Yang telah terjadi adalah yang terbaik untuk kita semua
99. Are you afraid of falling in love? = Nggak. Justru gue takut kalo ada orang yang naksir sama gue. Susah nolaknya!
100. Posting this as 100 truths? = Hmmmm???

4 comments October 18, 2009

DiSuatuSore

Di suatu sore di awal bulan Oktober, gue lagi asik makan-makan di FoodFest dalam rangka ulang tahunnya Nanda yang ke-758. Udah sepuh banget dah ini orang. Kita makan-makan sepuasnya, gratis! All you can eat, all you can drink, all you can see, all you can order, dan all Nanda can pay.

Berdua sama Hasan yang sama-sama nggak tahan denger kata gratisan, kita mesen banyak menu. Ini dia nih menunya:

-          Double beef steak

-          Nasi kebuli kambing porsi extra

-          Soto Konro

-          Ayam goreng kremes 2 porsi

-          Vanilla coffee 3 gelas

-          B-smash 1 gelas

Yang kalo di total semua, haranya Rp 143.000,00. Wuaooouww…!!! Kapitalis…

Lagi asik suap-suapan sama Hasan, hp Nokia 6681 gue bergetar. Ada sms (pura-pura) nyasar isinya kaya gini, dengan bahasa yang udah disesuaikan :

Istilahnya, aku nggak ada sama sekali usaha buat pedekate sama dia, yang ada dia kali… Tapi kadang jadi eneg sendiri, tiap kali dia ngomong, seolah-olah dia nyudutin kaya aku yang ngedeketin dia… Beuh, ogah lah ya… Hmmmm. Dah mentok aku, ilang kesabaran”

Dilanjutkan dengan sms singkat :

“Maaf, salah kirim Mas…”

Dari beberapa pendahuluan dan pengalaman sebelumnya yang kepanjangan kalo ditulis disini, ketauan banget kalo si pengirim sms itu, sebut saja “Juminten” (bukan nama sebenarnya) lagi curhat-curhatan sama “Rohali” (juga bukan nama sebenarnya). Mereka berdua temen gue. Si Juminten ini, kayanya lagi ngomongin tentang gue ke Rohali. Dan lazimnya sms-an yang isinya ngomongin orang, tanpa sadar kita suka salah milih send contact, bukan ngirim ke temen curhat kita tapi malah ke orang yang lagi kita omongin. Bukan gitu?

Itu pendahuluannya. Yang dimaksud “Dia” dalam sms si Juminten tersebut, nggak lain dan nggak bukan adalah gue sendiri, makhluk paling hina abad ini. Ayo kita baca sekali lagi sms tersebut :

Istilahnya, aku nggak ada sama sekali usaha buat pedekate sama dia, yang ada dia kali… Tapi kadang jadi eneg sendiri, tiap kali dia ngomong, seolah-olah dia nyudutin kaya aku yang ngedeketin dia… Beuh, ogah lah ya… Hmmmm. Dah mentok aku, ilang kesabaran”

Sekarang, kita tafsirkan kalimat per kalimat :

Istilahnya, aku nggak ada sama sekali usaha buat pedekate sama dia

yang ada dia kali…

Tapi kadang jadi eneg sendiri

tiap kali dia ngomong, seolah-olah dia nyudutin kaya aku yang ngedeketin dia…

Beuh, ogah lah ya…

Udah dibaca? Oke, kita lanjut lagi. Jadi gini, mungkin, si Rohali lagi mancing-mancing Juminten tentang gue. Dan, itulah jawaban dari Juminten, bahwa di nggak pengen pedekate ke gue, malah gue yang pedekate ke dia, tapi dia eneg gara-gara gue malah nuduh dia yang pedekate ke gue.

Emang iya?

Beneran?

Masa sih?

MASA SIH GUE PEDEKATE SAMA ELO???

Buset dah… Pedekate? Huahahahaha… Mari kita tertawa bersama-sama

Huahahahahaha…

Kurang keras!

Huahahahahahahahahahaha…

Masih kurang keras!

HUAHAHAHAHAHAHAHA…!!!

Mantab gaaaaan!

Sebagaimana isi sms si Juminten tadi, dia nyangkanya gue lagi pedekate sama dia. Dan dia eneg dengan semua “pedekate” gue ke dia.

Idih, please deh? Emang elo siapa, sampe gue perlu bela-belain pedekate sama elo?

Iya, gue nggak bo’ong kalo gue emang lumayan “akrab” sama dia. Sengaja pake tanda kutip, soalnya mungkin maksud keakraban disini berbeda antara gue dan dia. Gue juga lumayan dapet “chemistry” sama dia. Tapi apa cuma dengan gitu doang, semua itu dianggap sebagai usaha gue buat pedekate ke dia?

Ya mohon maap. Beberapa anak muda jaman sekarang yang pola pikirnya udah teracuni, emang banyak yang menganggap bahwa hubungan antara pemuda dan pemudi haruslah dalam suatu ikatan yang mereka namakan “pacaran”. Keakraban yang terjadi di dalamnya, seringkali dikaitkan sebagai tahapan untuk menuju proses “pacaran” tersebut.

Tapi sekali lagi mohon maap, ogah banget kalo gue disangka sebagai bagian dari kaum-kaum tersebut. Ogah banget kalo kedekatan kita selama ini, dianggap sebagai sebuah proses pedekate. Tampar pipi gue kalo gue sampe mau pacaran sama elo! Bismillah, hal itu nggak akan terjadi, insya Allah.

Apakah semua hubungan antara pemuda dan pemudi selalu dikaitkan dengan pedekate? Apakah harus diakhiri dengan “pacaran”? Tidak bisakah kita berpikiran positif, tanpa perlu menggembar-gemborkan istilah “pedekate”, melainkan merupakan salah satu bentuk SILATURRAHIM? Dan kalau istilah tersebut terlalu berat, tidak bisakah kita menyebutnya sebagai sebuah RELATIONSHIP?

Sorry banget yah, gue sama sekali nggak ada niat buat pedekate sama elo. Apalagi buat mengangkat elo sebagai “pacar” gue. Maap, kewajiban kita jauh lebih banyak daripada sekedar ngurusin “pacar” ataupun pedekate, dan gue pun juga nggak berminat sama yang namanya pacaran.

Mungkin elo bisa ngedapetin sms dari gue. Mungkin elo bisa ngedapetin lirikan mata gue. Mungkin elo bisa ngedapetin ucapan lisan gue. Tapi yang jelas, JANGAN HARAP ELO BISA NGEDAPETIN HATI GUE. Kalo pun tenyata elo nggak mau menerimanya, justru itu lebih bagus, soalnya GUE JUGA OGAH NGASIH HATI GUE BUAT ELO.

Tapi sekalipun di sore itu gue dapet sms kaya gitu, tampilan luar gue tetep biasa aja seakan nggak terjadi apa-apa. Gue tetep berlaku seperti biasa, malah cengar-cengir cengengesan sama Hasan gara-gara di depan kita udah numpuk 6 buah piring dan 4 buah gelas.

Cuma dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, jari-jemari tangan kiri gue segera bergerak menggenggam hp nokia 6681 gue. Gue buka phonebook nya, jari gue mengarahkan ke contact name nya si Juminten. Lalu dengan penuh percaya diri dan dengan ucapan Bismillah, gue pilih tulisan DELETE.  Aaaaaaaah… Legaaaa…

Astagfirullahaladzim… Sore ini, satu contact name telah terhapus dari phonebook gue. Satu silaturrahim telah terputus. Satu jaringan bisnis telah terputus. Dan satu pintu gerbang untuk membawa gue memasuki dunia baru dengan segudang wawasan dan pengalaman baru, juga telah tertutup. Ampuni aku ya Rabbi… Ternyata, mencari teman itu nggak gampang ya…

C-Kink

Di kamar kosku

5 Oktober 2009

00.12

Add comment October 8, 2009

Motivation

“Cep cep cep… Iya iya aku ngerti… *berusaha ngerti soalnya aku nggak tau masalahnya apa* Btw secara keseluruhan anak KKN atau yang 1 rumah sama kamu? Ya udah kamu tularin aja yang positif-positif di diri kamu ke mereka biar yang negatif-negatif bisa berkurang gitu… Mungkin kalo kamu kurang suka sama perilaku atau apa lah aku nggak tau… Ya dibilang langsung aja… Diberaniin… Atau adain sharing apa gitu kek… Kamu kan koordinator tim kamu kan? Oiya kalo Nanda nggak kan? Konsultasi aja sama dia enaknya gimana… Atau kamu curhat gitu kek sama ketuanya. Daripada stress gitu kan nanti sia-sia juga dah lama-lama KKN tinggal di tempat yang sama, ngerjain apa-apa kemaren bareng-bareng bukannya makin akrab malah jadi gini… Inget lho kalo kamu liat/ngerasa ada sesuatu yang negatif ya sebisa mungkin wajib dihentikan… Pake cara alus dulu… Baru kalo lama-lama nggak berubah-berubah ya ditegasin. Anggap aja mereka semua itu sodara kamu yang mesti kamu jaga…”

“Emangnya kamu lagi mainan apa kok lawan-lawanan?  Heee… Yaaa… Ibaratnya kamu orang baik di lingkungan yang kurang baik… Aku sih percaya banget kamu nggak bakal terpengaruh mereka, ya kan? Ya kan? Kamu pasti bisa… Malah seharusnya kamu itu bersyukur karena dikasih situasi kaya gini yang bisa bikin kamu makin tambah sabar, tambah dewasa dll… Udah ya nggak usah terlalu dipikirin masah ini… Kasian kamu nanti makin tambah sakit kalo kebanyakan pikiran.”

Add comment October 8, 2009

SecuilSMS

“Salah nggak kalo gue minta temenin cowo gue pas gue sakit? Lebih penting mana nemenin cewe lo sakit walaupun lewat telpon atau kumpul bareng temen-temen buat main kartu?”

“Main kartu di tempat cewe yang lagi sakit. Cup cup cup…”

“Kalo lo jauh sama cewe lo?”

“Mending main kartu. Kalo gue lagi sakit, gue pengennya istirahat aja. Kadang-kadang kalo ada yang nelpon malah ngeganggu istirahat gue. Huohohoho.”

“Terus kalo cewe lo sakitnya udah sampe muntah darah atau apa kek parah dan minta lo buat nemenin dia walaupun cuma by phone saat lo main kartu gimana?”

“Ya udah berarti emang bukan rezekinya kita. Berarti waktu tadi atau kemaren atau dulu kita telpon-telponan, itu jadi telpon-telponan kita yang terakhir. Banyak-banyak istirahat aja biar cepet sembuh terus bisa ketemuan lagi.”

“Salah orang…”

“Bener banget. Soalnya kalo kita lagi sakit parah, ada baiknya kita lebih sibuk mikirin tentang batu nisan yang ada tulisannya nama kita. Apa yang ada disana, gimana rasanya dan siapa yang bakal kita temuin disana. Karena sebaik apapun cowo/cewe kita, sedikitpun dia nggak bakal bisa ngebantuin kita ngelewatin sempitnya tanah kuburan. Maap yah kalo nggak nyambung”

Depok, Sabtu 19 September 2009, 00:22

Add comment October 8, 2009

TigaKata

Di tengah hening malam waktu lagi asik ngelaptop, handphone Nokia 6681 ku yang berisi nomor Im3 berdering. Ada sms masuk didalamnya. Pengirimnya adalah seorang perempuan, salah seorang temen ku. Dia mengirimi aku sebuah puisi lewat sms tersebut. Begini bunyinya:

“Tiga kata

Terus bermain-main di otakku

Tak pernah hengkang barang sedetik

Tiga kata itu membentuk rupa

Yang jua tak lekas pergi

Tiga kata itu

R***** A**** P******”

(note: tiga kata R***** A**** P****** adalah inisial nama lengkap ku. Tapi aku sengaja nggak nulis nama asli ku disini, karena nggak ada R***** di dunia maya, yang ada hanyalah C-Kink!)

Hmmm… Bingung juga nih kok tiba-tiba dapet puisi kaya gini. Karena bingung mau ngebales gimana, akhirnya aku cuma bisa nulis:

“Iya thank q. Tapi Alhamdulillah, aku nggak pernah melakukan hal yang sama untuk 3 kata yang bernama **** ********** ********”

(note: 3 kata yang dibintang-bintang tersebut adalah nama lengkap si pengirim sms. Nggak etis kalo aku publish disini, jadi silahkan terka sendiri)

Dan aku hanya bisa minta tolong kepada kalian semua yang membaca tulisan ini. Seandainya kalian mendapatkan puisi sebagaimana yang aku dapatkan, maka balasan/jawaban apa yang akan kalian berikan kepada si penulis puisi tersebut? Ditunggu jawabannya yaaaa…

Add comment October 8, 2009

KataMutiara #2

Di lobi lantai 2 Jurusan Teknik Fisika UGM, disaat baru selesai kuliah dan menunggu kuliah selanjutnya, sekumpulan anak-anak nuklir lagi asik kongkow-kongkow menunggu dosen masuk. Di sebelah kiri ku ada seekor anak manusia bernama Muhammad Sultan Iskandarsyah yang akrab dipanggil “Richard”. Idih nggak mungkin banget… Maksudnya, “Nanda”.

Beliau lagi asik nerima telepon dari salah seorang kerabat perempuan yang bernama Roberta Purnamasari, akrab dipanggil “Robert”. Loh perempuan kok namanya Robert, supaya lebih feminim, selanjutnya kita panggil “Riris” aja yah…

Kedua ekor makhluk ini asik berbagi kejayusan yang penuh dengan hinaan, ledekan dan cacian lewat telepon. Bla bla bla bla, saling ngeles, saling ngeledek, saling ngebales, dll. Sampe tiba-tiba waktu lagi ngeles dari serangannya Riris, mulut Nanda berucap:

“… Mobilitas seseorang menentukan kualitas hidupnya…”

Tuing tuing… Kita puter sekali lagi:

“… Mobilitas seseorang menentukan kualitas hidupnya…”

Yaaaa begitulah. Aku tertegun mendengar ucapan Nanda. Nggak tau apakah dia ngomongny serius, atau cuma becanda karena lagi ngeles dari ledekannya Riris. Tapi hidayah itu bisa dateng kapan aja. Nasihat itu bisa dateng dari siapa aja. Pelajaran itu bisa dateng dari mana aja. Dan hari ini, Insya Allah aku telah mendapatkan itu semua.

Selama 24 jam dalam sehari, dimana aja kita berada? Apakah cuma di kasur, beranjak ke depan tivi, lalu ke kamar mandi, keluar bentar cari makan, dan kembali ke kasur lagi? Dengan keseharian yang seperti itu, maka pengalaman apa aja yang kita dapet selain berita-berita infotainment nggak penting yang ditayangkan di layar kaca?

Mari sekarang kita pertanyakan kembali kepada diri kita sendiri. Seberapa banyak tempat yang kita kunjungi. Seberapa banyak orang yang kita temui. Seberapa banyak langkah yang kita lalui. Dan seberapa banyak pengalaman yang kita alami. Lalu, masihkah kita tetap tertinggal, duduk terdiam dan termangu seperti saat ini?

Add comment October 8, 2009

AkuSenang

AkuSenang

(note: tulisan ini adalah kejadian beberapa jam sebelum tulisan ku yang judulnya “DiaMasihBerlari”)

Minggu, 30 Agustus 2009, Yogyakarta

Sekitar jam 12 siang, setelah aku pulang dari rumah Pak Baha’udin selaku DPL KKN Unit 183 untuk minta tanda tangan, aku bergegas menuju kantor Tiki yang berada di jalan veteran. Nunu yang udah mangkat ke Jakarta mengirimkan LPK-nya lewat Tiki, dan aku harus segera mengambilnya langsung disana.

Sebelomnya jam 10-an aku ditelpon sama orang Tiki Jogja yang mengatakan bahwa kiriman untuk saudara C-Kink sudah sampai. Tapi karena di kiriman itu nggak ada alamat konkrit kosanku dan juga nggak ada tenaga pengantar yang masuk (karena pas hari libur), akhirnya aku disuruh supaya dateng sendiri kesana buat ngambil kirimannya. Di telepon pun kita sempet gontok-gontokan ngebahas dimana itu Umbulharjo, Jalan Taman Siswa dan Jalan Veteran. Ya maklum lah Mas, akika kan orang perantauan bow…

Sampe Tiki, akhirnya semua beres. LPK Nunu udah di tangan. Sementara di kosan udah menunggu LPK-LPK anak Cucukan lainnya, yang pengumpulannya molor jauh dari tanggal yang udah aku tetapkan. Huh dasar bangsa Indonesia sukanya telatan dan mepet-mepet deadline. Dan betapa peranku sebagai Kormasit sangat-sangat tidak dihargai… Huiks huiks… Udah ah, kok malah jadi curhat colongan?

Finally aku pulang ke kosan dengan selamat. Segera aku kumpulkan semua LPK yang berserakan kemudian menyusunnya menjadi 1 bundel. Jadinya lumayan tebel juga nich. Kalo dipake buat nimpuk maling kayanya enak deh…

Sekitar jam 1-an, aku segera berangkat lagi membawa bundelan LPK itu untuk dijilid. Aku memacu MyLovelySolBro menuju pusat fotokopi Prima yang letaknya berseberangan dengan Mirota. Sampai disana, ternyata Prima tutup! Ya maklum lah, namanya juga hari Minggu. Untung tadi aku sempet ngeliat fotokopian yang di sebelah utaranya Gading Mas buka. Aku lupa nama tempat fotokopian itu apa, jadi sementara kita sebut aja fotokopian itu dengan nama “Mawar” (bukan nama sebenarnya). Aku pun memutar arah MyLovelySolBro menuju fotokopi Mawar.

Sampailah di tempat fotokopi Mawar. Segera aku tenteng bundelan LPK dan aku serahkan kepada pegawai disana. Beginilah percakapan antara makhluk imut tersebut dengan pegawai fotokopi Mawar. C untuk C-Kink dan B untuk Bunga (juga bukan nama sebenarnya).

C          :“Mas, ini tolong difotokopi 3 kali. Terus semuanya djilid ya!”

B          :“Oh iya Mas, siap! Yang asli juga dijilid?”

C          :“Iya Mas”

B          :“Oke!”

C          :“Jilidnya pake warna biru muda ya Mas, kaya warna ini (menunjuk ke sampel warna yang ada di tempat fotokopian tersebut)”

B          :“Siap Mas!”

C          :“Kalo nanti malem diambil bisa nggak Mas?”

B          :“Nanti malem jam berapa Mas?”

C          :“Jam 7 ya Mas. Bisa kan?”

B          : “Bisa donk Mas. Apa sih yang nggak bisa buat Mas yang ganteng ini… (sambil berkedip *triiing)”

C          : “Aaaaaah, Mas bisa aja deeeech… (sambil menjawil dagu si Mas Bunga)”

B          : “Aduh geli Mas… Mau lagi dong dijawil-jawil… (sambil menggesek-gesekan tangan ke lehernya sendiri)”

C          : “Yuuuk sini yuuuuk… (sambil menjulurkan lidahnya melet-melet keluar-masuk. Slruuuup…)”

STOP!!!!

Kita kembali lagi ke bahasan awal. Lupakan semua dialog menjijikkan di atas!

Akhirnya disepakati bahwa bundel tersebut bisa aku ambil jam 7 malem nanti. Sementara sekarang masih sekitar jam setengah 2 siang. Akhirnya aku pun pamit pulang sama si Mas Bunga tersebut. Dadaaaaah…

5 jam kemudian…

Jarum jam di kamar kosanku yang berukuran 5 x 3 meter menunjukkan angka 18.30. Sementara layar televisi yang aku putar ke chanel Global TV masih menampilkan 2 orang komentator sedang beradu mulut membahas preview balapan di GP Belgia, Spa-Franchorchamps malam ini. Aku pun segera bergegas dan berkemas dan masuk ke dalam MyLovelySolBro untuk menuju fotokopi Mawar, mengambil LPK yang aku jilid tadi siang.

Sampai disana, ternyata penjilidan masih belom selesai seutuhnya. Aku pun nongkrong disana sembari menunggu prosesi penjilidan berakhir. Sambil nongkrong, aku memperhatikan kertas-kertas yang sedang digarap oleh para pegawai fotokopi mawar lainnya. Dan you know what, hampir semua kertas yang ada disana merupakan LPK! Sama seperti tujuan aku ada disini malam ini!

Disana bertebaran LPK-LPK entah milik unit dan subunit mana aja. Demikian juga dengan konsumen yang datang, sebagian besar dari mereka datang untuk memfotokopi LPK, menjilidnya, atau bahkan mengambil LPK yang sudah dijilid. Plus ada beberapa yang memfotokopi RPK yang ukurannya segede gaban, kira-kira seukuran kertas A2.

Tiba-tiba ada sebuah mobil Daihatsu Taruna datang dan parkir disana. Kucluk kucluk, aku memperhatikan Taruna itu dengan saksama, mengingat Taruna adalah mobil milik keluargaku di Depok dan Taruna juga adalah mobil yang pertama kali aku coba mengendarainya.

Dari dalam mobil turun 2  ekor perempuan, yang satu berjilbab dan yang satu lagi hitam tapi manis, dengan rambut bekas rebonding salon, kaos hijau ketat dan celana pensil. Mereka membawa kantong plastik putih bertuliskan “KKN PPM UGM”, sebagai bukti bahwa malam ini dia datang kesini dengan tujuan yang nggak jauh beda dengan tujuan ku.

Dengan harap-harap cemas, aku berharap supaya dia melangkah kesini dan berhenti di dekatku untuk bertansaksi dengan pegawai fotokopi Mawar. Tapi ternyata hal itu nggak terjadi, malah mereka ngambil posisi yang jauh dari aku. Huh payah banget dah ah…

Padahal kalo mereka posisinya deketan, kan aku jadi bisa punya temen ngobrol buat nungguin LPK ku selesai dijilid.

“Halo Mbak…! Malem ini Mbak pake celana dalem warna apa?”

BLETAAAAK…!!! Dan sebuah sendal jepit mendarat mulus di jidatku.

Oke, buang semua imajinasi nggak jelas tersebut. Akhirnya aku hanya bisa menuggu LPK ku sambil menatap mbak-mbak itu dari kejauhan, tanpa sanggup bertegur sapa. Huiks huiks… Sroootttt…

Finally jam 7 lewat belasan menit, LPK ku selesai juga. 4 bundel LPK semuanya sudah terjilid rapi dengan cover warna biru muda.

C          : “Berapa Mas?”

P          : “Ini semuanya… (ngitung)

Mmmmm… (masih ngitung)

… (tetep ngitung)

Kriiiik… Kriiik…

Oh iya, bentar ya Mas!”

C          : “??????”

Dan si Mas Putri (bukan nama sebenarnya) itu pun ngeloyor pergi meninggalkan aku sendiri. Dia menemui salah seorang pegawai lainnya di belakang. Mengeluarkan kertas, menulis sesuatu, lalu datang kembali ke hadapanku.

P          : “Semuanya 12 ribu Mas!”

C          : “Oke. Ini Mas!”

P          : “Iya, terima kasih Mas!”

(untuk mempersingkat waktu, jangan harap ada adegan homoisme di dialog yang kedua ini!)

Aku ambil 4 jilid bundelan LPK ku yang ditaro di dalem kantong plastik item plus kertas kuitansi di dalemnya. Kok banyak banget sampe 4 bundel? Ya iya duonks, 1 buat dikumpul ke LPPM, 1 buat DPL, 1 buat Kecamatan dan 1 lagi buat arsip ku sendiri. Tanpa perlu berlama-lama, aku segera melangkah pergi dan bersama MyLovelySolBro bergerak menuju Sate Padang Chaniago untuk membeli 2 porsi sate padang dibungkus dibawa pulang.

Di sepanjang perjalanan, otak ku yang ber-IQ 128 ini bertanya-tanya, perasaan tadi aku fotokopi LPK 3 kali dan ngejilid 4 LPK, tapi kok biayanya murah banget ya, cuma 12 ribu? Padahal 1 bundel LPK aja udah tebel banget sampe 300 halaman lebih. Jadi fotokopi 1 bundel minimal kenanya 300 x 100 = 30 ribu rupiah, tapi kok aku cuma bayar 12 ribu?

Akhirnya aku cek kembali kuitansi yang udah aku geletakin gitu aja di dalem kantong plastik item. Mataku yang minus 3.5 kanan-kiri mencoba memperhatikan angka demi angka dan huruf demi huruf dengan saksama. Tik… Tik… Tik… Tik… Nah ini dia!

Aku menemukan adanya kejanggalan dalam kuitansi tersebut. Dari pengamatan ku, ternyata biaya 12 ribu yang aku bayar tadi hanya untuk biaya jilid 4 kali! Artinya apa? Artinya, biaya fotokopi bundelan LPK sebanyak 3 kali nggak ikut kehitung! Whoaaaaaa…!!!

Padahal, mestinya biaya fotokopi 3 x 300 halaman itu lebih mahal daripada sekedar 4 kali jilid. Ini nggak bisa dibiarkan, aku harus segera bertindak untuk menumpas kedzhaliman ini! Akhirnya selepas membungkus 2 porsi Sate Padang Chaniago, aku melangkah kembali ke tempat fotokopi Mawar.

Sesampainya disana, aku memarkir MyLovelySolBro. Turun dari mobil, tukang parkir yang hari ini kayanya udah sering banget ngeliat tampangku yang imut ini segera menyapa ramah,

“Dateng lagi Mas? Ada yang ketinggalan?”

Dan spontan aku pun menjawab,

“Iya Pak, kunci mobil saya ketinggalan!”

(lah terus barusan naik mobil pake apa?)

Aku segera standby di meja penerimaan dan menunggu ada salah seorang pegawai yang datang menghampiri ku. Lumayan lama aku menunggu. Meskipun banyak pegawai yang terlihat lagi nggak sibuk, tapi nggak ada seorangpun yang sadar akan keberadaan ku. Mungkin sebenernya mereka sadar, tapi karena wajahku beberapa menit yang lalu udah muncul disini dan takut aku komplain macem-macem, jadinya nggak ada yang berani nyamperin aku. Sampai akhirnya si Mas Putri yang tadi dengan penuh leadership dan softskill yang tinggi datang menuju ke arahku.

P          : “Iya, ada apa Mas?”

C          : “Ini Mas. Tadi kan saya fotokopi ini semua 3 kali, terus empat-empatnya dijilid. Tapi kok biayanya cuma 12 ribu ya Mas? (sambil menunjukkan kuitansi)?”

P          : “Mana Mas? (sambil melihat kuitansi)”

C          : “Tuh Mas coba diliat”

P          : “Liat… Liat… Liat…”

C          : “Kayanya biaya fotokopi nya belom keitung ya Mas?”

P          : “Mmmm… (berpikir sebentar) Wah iya, bener banget Mas!”

C          : “Nah khaaaan…”

P          : “Tunggu sebentar ya Mas!”

Sama seperti sebelomnya, Mas Putri beranjak ke belakang, diskusi sama temennya, nyoret-nyoret kertas, lalu balik lagi menghampiri aku.

P          : “Ini Mas, jadi semuanya 112 ribu Mas”

C          : “Tadi kan saya udah bayar 12 ribu, berarti ini saya tinggal nambahin 100 ribu lagi kan?

P          : “Bener banget, Mas pinter deh!”

C          : “Ya iyalah, C-Kink Cute geeetoo looooch…!!! Ini Mas uangnya!”

P          : “Oke. Makasih banyak ya Mas!”

C          : “Iya nggak apa-apa kok, sama-sama ya Mas”

Transaksi selesai dan aku masuk kembali ke dalam MyLovelySolBro. Tak lupa, sebelumnya aku serahkan dulu uang 1000 rupiah ke tukang parkirnya, tukang parkir yang sama dengan beberapa menit yang lalu dan tadi siang. Wah Pak, hari ini emang rejekinya Bapak, bisa dapet 3 ribu rupiah dari tangan 1 orang!

Di perjalanan pulang, aku merasa bahagia. Aku senang, hari ini telah berbuat jujur. Aku senang, LPK yang bikin naik darah ini akhirnya beres juga. Sepanjang perjalanan, aku menyetel musik J-Rocks keras-keras sembari mulutku komat-kamit ikut menyanyikan syairnya. Dan jika aku tau apa yang telah menantiku di kosan nanti, mungkin kebahagiaan ku hari ini bakalan lebih bertambah lagi. Huahahahaha…

Tamat

(note: idih, berbuat baik kok pamer sih! Udah ditulis di blog terus dipublikasiin ke khalayak umum lagi. Dasar manusia jaman sekarang, susah nyari orang-orang yang hatinya ikhlas!)

Add comment October 8, 2009

Berwarna

“Seharusnya hidup ini penuh dengan warna-warni. Kalaupun ternyata dia tidak berwarna, maka akulah yang akan mewarnainya!”

Kalimat tersebut aku jadikan status di facebook ku pada hari Sabtu 29 Agustus dini hari yang lalu. Dan sampai detik ini, Senin 31 Agustus 2009, sudah ada 8 orang yang menyukai kalimat tersebut dan 7 comment yang masuk, yang sebagian besar lebih banyak becandanya.

Ya, seharusnya hidup ini penuh dengan warna-warni. Apa jadinya jika layar televisi hanya menampilkan warna hitam dan putih? Apa jadinya jika menu makanan hanya nasi dan air putih? Apa jadinya jika pelangi tidak memiliki 7 warna?

Aku ingin melakukan banyak hal baru.

Aku ingin pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya.

Aku ingin melakukan hal-hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.

Aku ingin memainkan apa yang belum pernah aku mainkan sebelumnya.

Aku ingin mempelajari semua yang belum pernah aku pelajari sebelumnya.

Aku ingin mendapatkan sesuatu yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya.

Aku ingin menikmati apa yang belum pernah aku nikmati sebelumnya.

Aku ingin menemukan apa yang belum pernah aku temukan sebelumnya.

Karena aku hanya ingin hidupku ini penuh dengan warna. Dan aku sendirilah yang akan memberinya warna!

Warnailah aku dengan celupan cahaya-Mu, Ya Rabbul Alamin…

5 comments September 14, 2009

NaikDarah

Graaaaawwllll…Gyaaaaaaaa…Grrrrrr…Auuuuuum…!!!

Sebelomnya gue mau intermezzo dulu. Sebagaimana judul tulisan ini, ini merupakan salah satu momen langka di dalam hidup gue yang menyedihkan ini. Momen apa itu? Sebuah momen yang bernama: NAIK DARAH!

Sejujurnya gue sendiri udah lupa kapan terakhir kali gue naik darah. Mungkin waktu dulu, waktu gue nulis tulisan yang judulnya “NyolotLagi”. Itupun udah sekitar beberapa bulan yang lalu. Kalo selama ini muka imut gue ini sering dicap jutek, itu mah emang udah rezekinya dari sono, dari pabrik udah kaya gitu. Itu juga cuma tampilan luarnya doang, dalemnya nggak gitu.

Kenapa? Karena selama ini gue selalu berusaha mencoba memposisikan diri gue sebagai makhluk hina yang sabar dan ikhlas dalam menjalani dinamika kehidupan ini. Bukan cuma sabar dan ikhlas, bahkan sangat sangat sangat sangat penyabar. Saking penyabarnya, sampe-sampe bukan sifat penyabar lagi yang gue punya, tapi: GOBLOK!

Dan entah kenapa, hari ini ke-goblok-an gue ini telah mampu membuat gue berada dalam situasi naik darah yang langka ini. Nggak ada asap kalo nggak ada api, nggak ada semut kalo nggak ada gula. Nggak ada Anang kalo ngak ada Krisdayanti, dan nggak ada Adly Fairuz kalo nggak ada Shireen Sungkar. Idih nggak nyambung!

Sedihnya, yang menjadi api, gula, Krisdayanti ataupun Shireen Sungkar dalam kasus ini adalah makhluk-makhluk yang seharusnya gue anggap sebagai keluarga kecil gue sendiri, yaitu mereka-mereka yang tergabung di dalam tim KKN.

Cobaan terberat gue tahun ini mungkin adalah ketika gue ditunjuk sebagai kormasit. Seharusnya kormasit dan KKN adalah dua hal yang menyenangkan. Seharusnya kormasit dan KKN adalah dua hal yang bisa memberikan sejuta kenangan. Dan semua itu bisa terjadi jika semua komponen di dalamnya saling mendukung, saling membantu, dan saling toleransi antara satu sama lain. Namun sangat disayangkan, komponen-komponen yang gue punya ternyata nggak punya pemahaman yang sama. Jadilah kini terjadi apa yang kita namakan dengan istilah: NAIK DARAH.

Rasanya nggak etis kalo gue menceritakan kepada khalayak umum secara terbuka tentang hal-hal apa aja yang bikin gue jadi naik darah malem ini. Sebelom emosi semakin membuncah dan sebelom ada darah yang tertumpah, mendingan tulisan ini diakhiri sampe disini aja yah. Dadaaaaaahhh…!!!

Jumat 28 Agustus 2009 malem

Kosan tercinta, Karangwuni C-19

2 comments September 13, 2009

RenunganPojokKPTU

Hari ini aku duduk seorang diri di Plaza KPTU. Meninggalkan kuliah Penerapan Radiasi di Industri yang hari ini dibatalkan karena hanya dihadiri oleh 3 dari 15 mahasiswa, dimana 12 orang sisanya masih menjalani KKN di lokasinya masing-masing. Berteman laptop dihadapanku yang dari tadi nggak selesai-selesai donwload update-an AVG. Dan handphone nokia 6681 yang sengaja kugeletakkan di sebelahnya, berharap ia akan berdering dengan memunculkan tulisan “1 new message” di layarnya.

Aku melihat sekeliling. Di hari terakhir bulan Agustus ini, mahasiswa baru sedang menjalani minggu-minggu pertama perkuliahannya. Eksistensi mereka di kampus teknik ini dapat terlihat dengan sangat jelas. Bukan karena rambutnya yang sebagian besar masih cepak sisa Ospek kemarin, tapi lebih karena mereka yang selalu bergerak secara BERGEROMBOL dalam rombongan-rombongan tertentu. Grombol… Grombol… Grombol…

Adalah hal yang wajar bagi para mahasiswa baru untuk bergerak dalam rombongan, khususnya rombongan teman-teman dari 1 jurusan. Kenapa? Karena dengan umur mereka yang baru seumur jagung di kampus Teknik ini, jumlah teman yang mereka miliki baru segelintir aja. Kalo bukan temen Jurusan, temen Ospek, ya temen kosan atau temen SMA yang sama-sama kuliah disini. Demikian juga dengan kampus Teknik ini yang merupakan lingkungan baru bagi mereka. Jadi kemanapun mereka melangkah, sangat jarang mereka bergerak sendiri-sendiri. Kecuali kalo mau ke toilet.

Dulu, aku pun demikian. Bersama anak-anak nuklir 2006, kita selalu bergerak secara bersama-sama. Mau ke bagian pengajaran, bergerak bareng-bareng. Mau daftar praktikum di MIPA, jalan kesana bareng-bareng. Mau daftar kuliah umum di Fakultas, naik ke atas bareng-bareng. Mau makan di burjo juga bareng-bareng. Cuma sayang aja kita nggak diizinin untuk nemenin Ayu Hayu dan Mega ke kamar mandi bareng-bareng…

Betapa di masa-masa awal perkuliahan dulu, kebersamaan dan kekeluargaan antar temen-temen seangkatan masih terasa sedemikian besarnya. Tak pernah kaki kita melangkah sendiri, pasti ada saudara kita yang menemani. So sweet banget dah ah…

Kini aku telah memasuki tahun ke-4 perkuliahanku. Sudah 3 kali aku melihat mahasiswa-mahasiswa baru datang ke kampus ini. Aku sudah tidak muda lagi. Umurku telah menua, dan kini aku telah memasuki tahun-tahun terakhir perkuliahanku. Bagaimana anak-anak angkatan 2009 melihatku saat ini, adalah sama dengan bagaimana aku melihat kakak-kakak angkatan 2003 di waktu dulu.

Dan apa yang terjadi dengan anak-anak nuklir 2006? Sebagaimana manusia pada umumnya, setelah menjalani tahun-tahun yang penuh pengalaman, kini kita telah menemukan dunia kita masing-masing dan telah bergerak dengan caranya masing-masing. Sudah jarang lagi kita bergerombol bersama-sama, kecuali beberapa perkuliahan di kampus atau untuk momen-momen tertentu yang memang kita rencanakan sebelumnya.

C-Kink yang di semester 1 dulu meraih IP paling tinggi seangkatan (woooooo pamer!), kini telah disibukkan dengan BEM dan dunia tulis-menulisnya.

Hasan yang dulu kosannya dijadikan basecamp, kini telah disibukkan dengan usaha bisnisnya dan niatnya memperdalam ilmu agama.

Herlambang si ketua angkatan, kini telah menikah dan berkeluarga dengan 1 orang anak perempuan yang baru brojol bulan Agustus lalu.

Aji Kurniadi yang hanya menjalani 1 tahun di Teknik Nuklir, kini telah berbahagia menjalan kuliah di Fisipol yang dipenuhi dengan pemandangan-pemandangan penyejukk mata.

Nanda yang dulu hobi keramas (sampe sekarang pun masih hobi), kini disibukkan dengan bisnis konveksi dan permainan sahamnya.

Ayu Hayu dan Mega yang dari dulu sibuk ngecengin C-Kink, sampe sekarang masih tetap sibuk dan nggak kenal menyerah untuk selalu ngecengin C-Kink…

Ichsan yang dulu paling eksis sendiri di kampus, kini kita semua nggak ada yang tau dia lagi sibuk ngapain.

Fariz yang dulu giat menjadi seorang ahli nuklir, kini telah menjalani kehidupannya yang baru sebagai seorang Disc Jockey dengan penghasilan jutaan rupiah per manggung.

Prima yang dari dulu sibuk belajar, sampe sekarang juga masih tetep sibuk belajar (sekali-kali main wuoy, jangan belajar melulu).

Begitupun juga dengan anak-anak nuklir 2006 sisanya, Rully, Aji, Hanung, Leo, Mariano, Taufik, Sekar (loh?), Widi, Ari, Sazar, Saga dll. Yang namanya nggak kesebut jangan marah ya…

Kini, telah lebih dari 3 tahun aku menjalani perkuliahan di Teknik Nuklir ini. Apa kabar mereka semua? Masihkah kita memiliki semangat untuk menyukseskan nuklir di Indonesia, sebagaimana semangat kita sewaktu kita masuk Teknik Nuklir dulu? Masihkah kita berikrar untuk menegakkan kedaulatan PLTN di bumi Ibu Pertiwi?

Dan sebelom semua itu terjadi, mari kita selesaikan perkuliahan kita di Teknik Nuklir ini untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik, bersama-sama!

Add comment September 13, 2009

DiaMasihBerlari

Jogjakarta, Minggu 30 Agustus 2009

Malem-malem, pulang dari ngurusin Laporan Pelaksanaan Kegiatan (LPK) KKN Sub Unit Cuk-Cuk-an yang bener-bener juuuaancuk, serta setelah mampir di Sate Padang Chaniago buat ngebungkus 2 porsi sate padang, akhirnya aku tiba di kos-kosan paling kueeerrrreeeen sak dunyo-akhirat, Karangwuni C-19, dengan selamat sehat wal-afiat. Plus dipenuhi aura-aura bahagia karena LPK itu akhirnya selesai juga.

Aku lihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 19.30 lebih sekian menit. Tanganku yang kekar dan berotot ini dengan tangkas langung menyalakan televisi di kosan dan memindahkan channelnya ke Global TV yang sedang menyiarkan olahraga paling makjrot abad ini: Balap mobil Grand Prix Formula 1!

Brrruuuummm… Brrrruuuummm… Ngueeeeengggg… Deru mesin F1 berpacu membahana dan menggema di kamar kosku. Di layar, mobil-mobil F1 yang terlihat seperti mainan tampak saling berlomba beradu cepat. Sayang aja Global TV ku warnanya item putih, jadi mobil-mobil di layar warnanya kelihatan sama semua, nggak ketauan mana yang Ferrari, mana yang Mclaren, Brawn GP, Renault, dll. Sementara aku segera membuka porsi pertama sate padangku untuk aku nikmati dengan sebungkus keripik pedes. Sruuupuut… Nyam nyam…

Selang beberapa saat, layar televisi menampikan urutan posisi sementara pada balapan yang berlangsung di Spa-Franchorchamps, Belgia ini. Posisi pertama dipegang si iceman dari Finlandia, Kimi Raikkonen. Ah itu mah udah biasa, secara gitu dia naik Ferrari, walaupun tahun ini sinarnya agak-agak redup gara-gara ketutupan sama cahaya dari Brawn GP dan Red-Bull.

Pas baca siapa yang di posisi kedua, aku sedikit terkejut. Kenapa? Karena ada nama Giancarlo Fisichella disana! Wuaouw, surprise!

Kenapa bisa kaget? Ya wajar aja lah, sejak pindah ke tim debutan Force-India dari tahun 2008 kemaren, Fisichella dan Force-India nya kan langganan papan bawah. Tahun lalu di tahun pertamanya mengikuti F1, Force-India mengakhiri musim dengan 0 poin. Begitupun dengan tahun ini, telor itu masih belom pecah. Jadi ketika melihat ada nama Fisichella di belakang Raikkonen, benar-benar suatu karunia yang luar biasa! Meskipun aku nggak ngerti tadinya Fisichella start dari posisi berapa dan gimana ceritanya kok dia bisa nyasar di posisi 2. Harusnya kan di posisi 1 ya! Huohohohoho…

(catatan: 1 hari setelah tulisan ini selesai ditulis, akhirnya aku baru tau kalo ternyata Fisichella dapet pole position di balapan ini! Luar biasa!)

Balapan masih menyisakan 22 lap lagi dari total 44 lap. Jarak antara Fisichella dan Raikkonen pun sangat deket, nggak sampe 1.1 detik. Dan jarak antara Fisichella dengan Fernando Alonso di posisi ke-3 ada sekitar 2.7 detik. Artinya masih ada peluang buat Fisichella naik podium di balapan kali ini. Aku sendiri pun sudah berharap besar supaya itu terjadi, mengingat terakhir kali Fisichella naik podium adalah di tahun 2006 kemaren waktu masih di Renault.

Bapalan terus berlangsung. Lap demi lap telah terlampaui dan Fisichella serta Raikkonen masih saling kuntit-menguntit dengan jarak nggak pernah lebih dari 1.4 detik. Sementara di belakangnya Alonso udah mesti out gara-gara bannya bermasalah, dan kini ada Sebastian Vettel di posisi ke-3 dengan terpisah jarak sekitar 5 detik.

Sampai pada akhirnya balapan tinggal menyisakan beberapa lap lagi. Fisichella masih terus menguntit Raikkonen. 4 lap lagi. Posisi masih sama. 3 lap lagi. Posisi masih tetep sama. Sementara jauh di belakang, mesin mobil Rubens Barichello terlihat mengeluarkan asap, pertanda mesin akan jebol dan terjadi kebocoran oli. Tapi Barichello masih bisa melanjutkan balapan dengan kecepatan yang agak dikurangi. Aku pun khawatir dengan keadaan Fisichella, jangan sampe terjadi sesuatu yang bisa menggagalkan podium pertamanya bersama Force-India ini.

2 lap lagi. Posisi masih juga sama. Final lap. Nggak ada perubahan posisi. Mobil Fisichella pun baik-baik saja. Dan akhirnya, bendera finis dikibarkan, dengan Raikkonen yang pertama kali melintasinya. Di belakangnya, Fisichella mengikuti dengan penuh percaya diri. Yes…!!! Finish…!!! Fisichella juara 2! Alhamdulillah… Allahu akbar…

Dengan penuh kebahagiaan, aku teriak-teriak sendirian di kamar. Nggak lupa juga ditambah dengan loncat-loncatan di kasur sembari mengepalkan tangan ke udara. Dan diakhiri dengan bersujud syukur di lantai kamarku yang hari ini belom disapu. Alhamdulillah, malam ini Fisichella dapet juara 2…

Sekalipun hanya juara ke-2, tapi itu sudah sangat membahagiakan. Ini adalah suatu penantian yang panjang, bukan hanya bagi aku sendiri, tapi juga bagi Fisichella dan bagi Force-India. Mengingat sejak pertama terjun ke balapan F1, Force-India belom pernah sekalipun memperoleh poin. Dan hari ini, akhirnya telor itu terpecahkan oleh tangan Fisichella di balapannya yang ke-224. Bukan hanya memperoleh poin, tapi juga podium pertama. Sekaligus juga ini menjadi podium pertama bagi Fisichella sejak tahun 2006 lalu ketika dia masih berjaya bersama Renault dan Alonso.

Ini adalah sebuah bukti, bahwa meskipun Fisichella berada di tim kecil, namun semangatnya untuk tetap berlari masih tetap ada. Bahwa meskipun Fisichella sudah termasuk pembalap senior, namun kemampuannya untuk terus berlari masih tetap mumpuni. Dan Fisichella, dengan segala pengalaman yang dimilikinya, tetaplah salah satu pembalap hebat yang pernah ada di muka bumi ini. Wooooo narsis!

Aku jadi teringat bahwa dulu aku pernah menciptakan sebuah lagu untuk Fisichella. Ketika itu di awal musim balap 2005, ketika Fisichella baru pindah dari Jordan menjalani balapan perdananya bersama Renault. Di seri pembuka musim 2005 di GP Australia, Fisichella berhasil meraih kemenangan kedua dalam karirnya dengan sangat meyakinkan. Hal ini membuatku terinspirasi untuk membuat sebuah lagu untuk Fisichella. Sebuah lagu berjudul: “Ketika Dia Mulai Berlari”

Maret 2005

Ketika Dia Mulai Berlari

C-Kink

Reff:

Teruslah kau berlari raih semua mimpimu

Tak usah peduli apa yang kan terjadi

Tetaplah kau berlari lanjutkan langkahmu

Bahaga telah menantimu disana

Kulihat dirimu meraih inginmu

Kulihat dirimu mengejar mimpimu

Kulihat dirimu menggapai cintamu

Tak perlu kau ragu-ragu

Ku kan s’lalu mendukungmu

Balik ke reff

Kulihat dirimu mulai berdiri

Kulihat dirimu mencoba berlari

Kulihat dirimu menyatukan hati

Kau tak kan pernah sendiri

Ku kan s’lalu menemani

Mereka tak mengerti

Dan tak mau mengerti

Semua tentang dirimu

Andai mereka tahu

Yang ada di hatimu

Semua tak kan menyangka

Balik ke reff

Aku disini kan s’lali menanti

Suatu saat nanti kau akan menjadi

Yang terbaik bagiku terbaik baginya

Yang terbaik bagi mereka

Terbaik bagi kita semua

***

Teruslah berlari, Fisichella. Berlari untuk hari ini. Berlari untuk esok hari. Berlari untuk lusa nanti. Berlari untuk 1000 tahun lagi…

GO FISICHELLA GO!!!

Add comment September 13, 2009

DiTengahHeningMalam #2

Sedikit cerita. Masih bertempat di Dusun Butuh, Desa Cucukan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Waktu di layar handphone Nokia 6681 menunjukkan pukul 00.07, hari Selasa, 4 Agustus 2009. Masih dengan handphone yang sama, salah satu inboxnya berbunyi sedemikian:

Juminten:

“Kink, maaf ya, tapi sebaiknya kamu pulang. Diantara temen-temen, cuma kamu yang akhir-akhir ini jarang ikut andil dalam program subunit. Jadi tolong, kamu evaluasi diri sendiri, sebelum temen-temen mengevaluasi kamu.”

C-Kink Cute:

“Iya thank q. Sebenernya aku juga punya hak buat ngomong yang sama, tapi selama ini aku lebih milih buat tutup mulut.”

Juminten:

“Terserah kamu, Kink. Aku bisa bicara seperti ini, pasti ada alasannya, bukan cuma dari pendapat pribadiku. Ya udah, yang penting aku dah bilangin kamu, gimanapun aku yang paling tua disini.”

C-Kink Cute:

“Iya nggak apa-apa, thank q. Aku minta maaf kalo terlalu lalai. Keunggulan kamu ber-6 adalah kamu bisa saling cerita 1 sama lain dan kelemahanku terbesar adalah aku selalu lebih memilih untuk tutup mulut. Jangan lupa bahwa aku paling muda disini, jadi mohon bimbingannya.”

Dan tulisan ini aku akhiri pada pukul 00.21 tanpa penjelasanlebih lanjut lagi. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya…

1 comment September 10, 2009

DiTengahHeningMalam

Sedikit intermezzo. Tulisan ini mulai diketik pada hari Jumat 17 Juli 2009 di sebuah rumah di Dusun Butuh, Desa Cucukan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada pukul 01:30 dini hari. Tanpa maksud dan tanpa tujuan, hanya sekedar intermezzo menikmati dinamika KKN yang terjadi. Ditemani oleh bunyi jangkrik yang saling bersahut-sahutan dan bunyi ngorok orang-orang. Groooook… Zzzzzz… Groooook…

Inbox di handphone ku malam tadi kemasukan sms yang bunyinya kaya gini:

“Pak, kami makan tempat lain aja. Habis itu langsung pulang Cucukan. Kalian tadi nentuin tempat makan lama. Belom lagi waktu kami di basement kalian juga lama. Tolong dimengerti 2 hal. Satu, aku lagi sakit batuk, parah lagi. Tapi untuk pergi-pergi 1 unit aku selalu usahain, seperti kemarin malam dan malam ini. Dua, besok pagi aku nyetir motor 4 jam, aku juga harus jaga badanku sendiri.”

Dan aku balas dengan seperti ini:

“Iya aku atas nama pribadi mohon maap sebesar-besarnya. Terima kasih banget atas segala pengertiannya. Maap kalo hari ini udah bikin nggak enak. Hati-hati di jalan.”

Betapa bahagianya menjadi orang yang emosional. Kapanpun kita merasakan sesuatu, maka dengan mudahnya kita bisa menyampaikan apa yang kita rasakan kepada orang lain pada saat itu juga. Apapun yang kita rasakan, dengan mudahnya bisa kita tunjukkan ke orang lain

Sejatinya aku pun ingin seperti itu. Dengan gamblang mampu menunjukkan kepada orang lain, apa yang kita rasakan pada saat ini. Tapi aku menyadari bahwa kepalaku di desain dengan 2 telinga dan hanya 1 mulut. Telingaku di desain untuk pasrah mendengar keluhan-keluhan orang lain. Mulutku di desain untuk menyembunyikan apa-apa yang sedang aku rasakan. Hanya jariku yang didesain untuk lebih banyak bergerak di atas tuts keyboard.

Semua orang punya hak untuk berbicara. Semua orang punya hak untuk menyampaikan pendapatnya. Semua orang punya hak untuk mengutarakan perasaannya. Semua orang juga punya hak untuk mengeluh, meskipun sebaiknya hal ini dihindari. Karena manusia itu diciptakan dengan desain banyak berkeluh kesah dan juga kikir.

Dan karena aku melarang lisanku untuk mengeluh, maka biarlah jari-jemari ini yang mewakilinya.

  1. Satu unit tim KKN tidak hanya terdiri dari 1 atau 2 orang, atau 3 orang. Tapi jauh lebih banyak dari itu. Dalam kelompok besar seperti ini, maka kesendirian adalah hal yang sebaiknya dihindari, jika tidak ada urgensi di dalamnya. Dan janganlah kita bercerai-berai, berpeganglah!
  2. Berdasarkan perhitungan kalender, aku mulai batuk-batuk pada tanggal 16 Juni 2009, yaitu ketika menghadapi UAS. Sampai detik ini, 17 Juli 2009, batuk ini belum juga ilang. Padahal udah 3 kali gonta-ganti obat, mulai dari Nelco Spesial, Vicks 44 sampai Activet (ups nyebut merk!).

Lalu, pernahkah ada yang mendengar aku mengeluh akan batukku ini? Apakah batuk ini menghambat gerak-gerik kehidupan ku? Dan aku mencoba untuk tetap tersenyum, meskipun batuk ini secara perlahan mulai menggerogoti tubuhku dari dalam. Plus ditambah dengan radang tenggorokan, demam, pilek dan bersin-bersin sejak 2 hari terakhir yang Alhamdulillah bisa dilalui dengan F.G Troches dan Enervon-C, serta kadang-kadang Neozep atau Decolgen (wah nyebut merk lagi!).

Tapi itu nggak penting. Ketika orang lain sakit, adalah tugas kita untuk merawatnya dan menjaganya. Namun ketika aku sendiri yang sakit, maka sebisa mungkin jangan sampe orang lain tau bahwa aku lagi sakit. Cukuplah Allah dan diri ini menjadi saksi atas kesakitan yang aku alami. Karena aku nggak mau menjadi sampah hanya karena sakit seperti ini.

Apakah definisi dari sakit? Silahkan menjawab sesuai persepsi masing-masing.

Namun bagiku, sakit adalah salah satu media ujian yang digunakan Allah untuk mengangkat derajat keimanan seorang hamba-Nya. Apakah kita mengaku bahwa kita telah beriman, namun kita tidak diuji?

Serta sakit adalah salah satu media yang digunakan Allah untuk membersihkan dosa-dosa hamba-Nya. Tidakkah Allah menurunkan suatu penyakit pada seseorang, melainkan hal tersebut akan menghapus dosa-dosa kecil pada dirinya. Sekalipun penyakit tersebut hanyalah berupa demam.

  1. Manajemen diri, manajemen pribadi, manajemen waktu, manajemen fisik. Janganlah memaksakan melakukan sesuatu yang emang itu nggak memungkinkan dan justru akan membahayakan. Dan, 1 hari ada 24 jam. Coba kita review kembali, apa aja yang telah kita lakukan selama 24 jam itu? Dapatkah kita membagi porsi dan prioritas, kapan kita harus bekerja, kapan kita harus refreshing, kapan kita harus beristirahat dan kapan kita harus bertindak?
  2. Sekumpulan mahasiswa mengeluh dan mendemo Rektorat, dengan satu tuntutan yaitu “turunkan harga BBM”. Apakah nyambung, antara wewenang Rektorat dengan naik-turunnya harga BBM? Padahal mungkin Rektorat juga sedang dipusingkan oleh harga BBM yang melambung tinggi. Tapi anak didiknya nggak mau mengerti, malah ikut-ikutan menuntut dirinya yang sebenernya juga pengen ikutan nuntut.
  3. Sekali lagi, betapa bahagianya menjadi orang yang emosional. Yang dengan gampangnya bisa menyampaikan kepada orang lain tentang apa yang ia rasakan. Dan betapa sedihnya menjadi orang yang pendiam. Yang hanya bisa diam melihat sesuatu berjalan tidak sesuai keinginannya. Serta hanya bisa diam dan minta maaf mendengar segala keluhan yang dialamatkan kepadanya.

Karena pendiam selalu berada pada posisi lemah. Karena pendiam selalu berada pada posisi kalah.

Udah selesai? Eits jangan salah. Nih masih ada sms lagi.

“Pak, plan b. Kami pulang nunggu kalian. Ngatiyem (bukan nama sebenarnya) nggak mau pulang tanpa kalian. Sebelomnya maaf, Ngatiyem selalu sms ke Watijo (juga bukan nama sebenarnya) karena nggak mau sms kamu sendiri karena alasan pribadi.”

Ah, sedihnya aku. Pendiem, blo’on, lemah, kalah dan cacingan. Betapa hinanya aku ini, bahkan orang lain sekedar mengirim sms ke aku yang hina ini pun enggan.

Setelah itu, tak ada dialog. Tak ada tatapan mata. Dan tak ada suara. Yang ada hanyalah hati yang menangis. Mata yang merintih. Lisan yang membisu. Tenggorokan yang batuk-batuk dan bengek-bengek. Serta hidung yang meler dan penuh ingus. Srooott… Sroott… Dan, laptop ini menjadi saksi atas itu semua.

Di tengah hening malam, Cucukan, 17 Juli 2009, 02:23.

1 comment September 10, 2009

MasihTentangPBA

Cerita ini masih ada hubungannya sama KKN PBA, alias Pemberantasan Buta Aksara yang dicancel tempo hari, yang membuat hari ini aku menulis tulisan ini di salah satu sudut rumah di Desa Cucukan, Kecamatan Prambanan, Klaten. Kalo masih belom pada ngerti tentang PBA, silahkan baca tulisan ku yang dulu-dulu yang judulnya “Farewell Lombok” atau “11 Juni 2009”.

Ini cerita pasca itu semua. Sekalipun kejadiannya udah lama banget, tapi aku masih berniat untuk menuliskan sebagian diantaranya di tulisan ini. Supaya cerita-cerita tentang PBA itu nggak hangus dan menguap seiring dengan berjalannya waktu.

***

Hari Minggu sore, biasanya anak-anak PBA selalu rutin rapat di pelataran KPTU Fakultas Teknik. Tapi, nggak demikian dengan hari ini, 14 Juni 2009. Karena pada tanggal 11 Juni yang lalu tim “KKN Lombok almarhum” telah resmi dibubarkan, maka sejatinya hari ini nggak ada rapat rutin kaya dulu lagi. Bukan cuma hari ini, tapi hari-hari selanjutnya pun insya Allah juga nggak bakalan ada lagi.

Pasti akan terasa aneh, jika ada sesuatu yang selama ini rutin kita lakukan, lalu tiba-tiba rutinitas itu tidak kita lakukan lagi. Begitupun dengan hal ini. Beberapa orang terlihat belom bisa menerima kenyataan yang ada. Dan sudah pasti, salah satu orang tersebut adalah aku sendiri! Hohohohoho… Hal ini dibuktikan dengan sms yang aku kirim pagi-pagi ke beberapa koordinator KKN PBA Lombok almarhum.

“PBA’s info:

Aku atas nama C-Kink Cute izin nanti sore agak telat dateng rapat, atau mungkin malah nggak dateng sama sekali.

Eh tapi ntar sore kan emang udah nggak ada rapat lagi ya? Huehehehe… Huiks huiks…”

Sumpah, bener-bener cacingan deh orang yang ngirim sms kaya diatas…

Soreya, aku berniat mejeng di KPTU untuk mengecek, adakah kiranya anak-anak lainnya yang bakal tetep dateng ke KPTU meskipun nggak ada rapat. Kan kalo kaya di film-film, biasanya si tokoh-tokoh dalam film tersebut kalo lagi kangen pada momen-momen tertentu, pasti akan mendatangi tempat kenangan yang bisa membawanya kembali ke memori tentang momen tersebut. Jadi sore ini aku pun udah nongkrong duduk manis di KPTU seperti minggu-minggu sebelomnya, seakan nggak pernah terjadi apa-apa tentang pembatalan KKN PBA Lombok ini.

Hasilnya, berapa orang yang tetep dateng ke KPTU? Alhamdulillah, hanya ada 2 orang! Siapa aja? Yang pertama jelas aku sendiri. Dan orang kedua yang beruntung di sore hari ini adalah seekor gadis eh janda perawan asal kota Oslo, eh Solo, yang bernama Mega Agustina. Horeeee…!!!

Weits jangan pada seneng dulu. Apakah Mega dateng ke KPTU karena dia juga merasakan apa yang aku rasakan? Bisa dibilang jawabannya adalah: NGGAK! Soalnya kita berdua mejeng di KPTU karena lagi ngerjain tugas-tugas buat UAS besok, bareng-bareng sama anak nuklir yang lain Hohohohoho…

Sepintas aku mencoba berharap akan muncul wajah-wajah lain selain wajahnya Mega yang busuk bopeng dan korengan itu. Tapi ternyata tetep nggak muncul wakjah-wajah lainnya. Hanya ada sebuah sms stress dari salah satu rekan KKN PBA Lombok yang masuk ke inbox ku pada sekitar pukul 16:50-an.

“Kink, kamu kok belom dateng? Ayo cepetan ikut nggak? Nek iya cepetan kesini ya… Anak-anak dah pada mau cabut lho… Sore ini kan kita mau survey ke Lombok… Huiks… :’-( “

Iyaaaaa, ini aku udah di KPTU dari tadi. Kamu yang dimana? Ayo kita jalan-jalan ke Lombok yo! Huiks huiks… Uhuhuhuhu…

Sampe Maghrib, nggak ada lagi yang dateng. Akhirnya aku pun pulang ke kosan tercinta. Ya nggak apa-apa lah, mungkin yang lain lagi pada belajar menghadapi UAS besok. Eh nggak juga sih, padahal UAS kan masih 1 minggu lagi.

Apakah udah selesai? Masih belom. Di malem harinya ketika aku lagi asik leyeh-leyeh di kosan, dateng lagi sms stress yang lain:

“Hadirilah launching Maskapai Penerbangan KKN Airlines… Dengan rute khusus, satu-satunya di dunia: Jogja-Gorontalo-Lombok-Purworejo-Prambanan…”

Hoooaaaaah… Alhamdulillah, rupanya bukan aku doank yang stress! Huehehehe… Terima kasih banyak atas kesediaan 2 orang di atas menemaniku menjadi makhluk stress. Emang anak psikologi bener-bener ngerti kondisi psikis orang lain dah ah!

Rutenya Jogja-Gorontalo-Lombok-Purworejo-Prambanan. Jogja adalah starting point tempat kita semua berasal. Gorontalo adalah destinasi awal kita, KKN PBA di Gorontalo. Lalu di cancel, dan dipindah ke Lombok yang menjadi harapan kita semua. Yang di Lombok ini pun di cancel, dan si pengirim sms diatas oleh LPPM diplotting untuk masuk di tim KKN di Purworejo. Dan karena nggak punya temen di sana, akhirnya dia pindah tim ke tim KKN di Prambanan bareng temennya.

Kalo misalnya aku disuruh menulis rute kaya gitu, mungkin hasilnya bakalan jadi kaya gini:

Jogja-Bantul(*1) – Gunung Kidul(*2) – Gorontalo – Lombok – Laut Jawa(*3) – Rumah sakit(4) – Kuburan(5) – Alam barzah(6)

*Keterangan:

(1)    Dulu aku pernah ditawarin Sarah buat gabung di tim KKNnya, bareng Sazar sama Leo. Kita pun udah survey tempat ke daerah Bantul, dan sempet makan-makan bareng. Tapi karena ternyata jumlah anggotanya overload, akhirnya aku, Sazar dan Leo ditendang dari tim KKN ini. Huiks huiks…

(2)    Setelah ditendang, akhirnya Sarah ngoper aku ke temennya anak elektro yang mau KKN di Gunung Kidul. Tapi sekali lagi, karena anggotanya overload, aku berinisiatif memutuskan untuk mengundurkan diri dari tim tersebut. Lebih baik mengundurkan diri sekarang, daripada nanti aku ditendang lagi.

(3)    Pesawat yang aku tumpangin yang berangkat dari Lombok mengalami gangguan, terus kecelakaan dan jatoh di Laut Jawa. Plung!

(4)    Setelah jatoh di Laut Jawa, tim Sar berhasil mencari tubuhku yang terapung-apung tanpa busana. Waw, tanpa busana? Six packnya keliatan donks…??? Dan setelah itu aku dibawa ke rumah sakit untuk memenuhi keinginan para suster yang ingin melihatku yang six pack ini dalam keadaan tanpa busana.

(5)    Karena akibat kecelakaan pesawat tersebut ternyata nyawaku udah nggak bisa diselamatkan lagi, akhirnya jasadku harus berakhir di kuburan deh.

(6)    Dan nyawaku dibangkitkan untuk menghadapi hari penghitungan. Allahu Akbar!

Hiiii… Serem banget sih rutenya? Nggak serem kok, asal kita mau siap-siap menghadapi itu semua.

Kita balik lagi ke bahasan awal. Ya kira-kira begitulah secuil cerita tentang perilaku anak-anak KKN PBA Lombok amarhum pasca pembubaran. Ternyata yang stress nggak aku sendirian. Dan selain beberapa contoh di atas, mungkin ada banyak perilaku-perilaku stress lainnya yang nggak terekspos oleh mata ku yang minus 3.5 ini.

Ceritanya udah selesai? Belom donk, lanjut lagi yah! Lanjutkan! Lebih cepat lebih baik!

In the end, aku terdampar di tim KKN Unit 183 dengan tema reguler “Pendidikan Pemilih dan Pemantauan Pemilu (P4)” yang ditempatkan di Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Dan aku ditunjuk paksa untuk menjadi Kormasit yang bertugas mengepalai 1 sub unit. Kormasit, biasa dipelesetkan menjadi Korma-SHIT!

Ada 2 hal yang membuat tim KKN ini memiliki kaitan dengan tim KKN PBA Lombok almarhum. Pertama, karena aku 1 unit sama anak nuklir bernama Muhammad Sultan Iskandarsyah, yang akrab dipanggil Ngadimin. Eh maksudnya Nanda, yang perilakunya sehari-hari sangat jauh berbeda dengan nama lengkapnya. Di tim KKN PBA Lombok almarhum aku juga barengan sama dia, dan setelah tim itu dibubarkan, Alhamdulillah aku sama Nanda di plotting di tim yang sama oleh LPPM.

Kedua, adalah kehadiran Pak Baha’udin sebagai DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) untuk unit KKN ini. Terus kenapa? For your info, Pak Baha atau Pak Udin ini juga merupakan DPL tim KKN PBA Lombok almarhum! Jadi sekalipun aku sama Nanda udah dipindah dari tim yang lama, tapi DPL nya tetep sama. Dan untuk mengadvokasi semua keluhan rekan-rekan tim KKN PBA Lombok almarhum lainnya, aku sama Nanda berinisiatif untuk usil meneror Pak Udin dengan terus menerus membisikkan kata “Lombok” pada telinga beliau.

“Pak Lombok Pak… Lombok… Loooombooooook… Lombooook Paaaak… Paaaaak Loooomboooook Paaaaak… Loooomboooook… Hihihihihihihi…”

Dengan harapan, semoga Pak Udin menjadi nggak tenang setiap kali denger kata Lombok. Lalu beliau menjadi nggak tenang, resah dan gelisah, hingga hari-harinya selalu dibayang-bayangi oleh kegagalan memberangkatkan 20 ekor makhluk imut untuk KKN di Lombok. Hihihihi…

Tapi Alhamdulillah, semua inisiatif yang kita usulkan itu sampe hari ini belom pernah terlaksana. Ya iya lah, masa ya iya dong! Cristiano Ronaldo kan pemain sepak bolah, bukan pemain sepak bodong!

Sampe pada akhirnya, ketika Pak Udin sedang berkunjung kesini untuk rapat unit, setelah selesai rapat aku dan Nanda diberi kesempatan untuk sedikit ber-say hello sama Pak Udin. Kita ngobrol ngalor-ngidul ngetan-ngulon. Dengan segala usaha dan jerih payah, akhirnya kita berhasil mengarahkan bahan obrolan untuk membahas tentang PBA! Huahahaha…

Pak Udin bercerita tentang PBA, dimana dia termasuk salah satu anggota disana. Tentang PBA tahun ini, PBA-PBA tahun sebelomnya, dan segala sesuatu terkait PBA. Lalu tema semakin mengerucut hingga membahas tentang PBA Lombok. Kriiiik… Kriiiik…

Setelah Pak Udin memberikan gambaran umum tentang PBA Lombok tahun ini yang nggak jadi diadakan, aku dan Nanda pun membuka kedok kami berdua yang sebenernya kepada Pak Udin.

Ternyata…

Kami berdua…

Selama ini…

Adalah…

WONDER WOMAN!

Kriiiik… Kriiiik…

Idih nggak nyambung!

Karena ceritanya udah mulai nggak nyambung dan penulisnya juga mulai ikutan nggak nyambung, jadi tulisan ini sampe disini dulu aja yah… Jangan protes loh, yang nulis kan aku! Kalo mau protes, protes aja sana ke toko material terdekat. Eh kurang ajar, emangnya aku adukan semen!

Bersambung…

Add comment September 10, 2009

MariMenanamKacang

Cucukan, Sabtu sore, 18 Juli 2009.

Sore-sore menjelang Ashar, aku lagi mejeng di teras depan pondokan KKN. Sendirian menatap langit biru dan awan putih diangkasa, dengan jari kelingking kanan menggaruk-garuk hidung serta jari jempol kiri mengorek-ngorek kuping. Persis kaya orang cacingan.

Nggak gitu juga sih, tapi sore itu aku lagi asik nerima telpon, dengerin orang curhat. Karena di dalem rumah nggak ada sinyal, ya udah aku nongkrong aja di teras sambil cengar-cengir setiap ada warga desa yang melintas di depan rumah.

Sampe tiba-tiba aku melihat wajah yang aku kenal. Wajah itu punya Supri, salah satu pemuda desa yang aku kenal dari pertemuan Karang Taruna. Supri, laki-laki, 17 tahun, SMAN 1 Prambanan kelas 2 jurusan IPS, dengan rekor 22 kali bertanding, 19 kali menang dan 7 kali kalah serta 4 kali seri. Panjang umur juga ini orang, baru tadi siang aku sms dia supaya minta ditemenin ke rumah Pak RT, eh sore ini dia nongol. Masih dengan handphone di telinga, aku ber-say hello sama Supri.

“Mau kemana?”

“Mau nanem kacang. Mau ikut?”

Ikut nanem kacang? Wah tawaran menarik nih.

“Dimana?”

“Di sana, di sawah”

(Ya iyalah di sawah, masa di bioskop?)

Supri mengakhiri kalimatnya dengan tangan dan telunjuk menunjuk ke arah sawah yang dimaksud. Tanpa perlu berpikir 5 kali apalagi 10 kali, aku segera menyanggupi ajakannya.

“Wah boleh, boleh. Tunggu sebentar ya!”

Segera aku tancap gas, menutup telpon secara sepihak dengan alasan mau main-main di sawah bareng warga setempat. Meninggalkan orang diujung telpon yang misuh-misuh gara-gara curhatanya dipotong mendadak. Lalu aku mengambil sendal dan segera melangkah keluar. Prok prok prok… Kira-kira gitu bunyi langkah sendalku, mirip gaya berjalannya Pak Kapiten.

Dengan segenap semangat yang ada, aku berjalan menemani Supri menuju ke sawah. Meskipun Supri mau nyawah, tapi jangan samakan baju yang dipake Supri pada hari ini dengan baju-baju petani yang biasa kita lihat di buku-buku jaman sekolah dulu. Nggak ada kaos oblong putih, celana kain digulung selutut dan caping di atas kepala. Yang ada hanya celana jins selutut sama kaos warna biru. Anak muda banget dah pokoknya.

Sawahnya sendiri terletak nggak jauh dari pondokan tempat aku tinggal. Persis di sebelah selatan pondokan itu udah area persawahan. Tinggal jalan dikit, melewati pematang, melintasi parit, mendaki gunung, lewati lembah dan sungai mengalir indah ke samudra, akhirnya sampailah kita di petakan sawah yang masih kosong yang siap untuk ditanemin kacang.

Ternyata aku dan Supri bukan yang pertama nyampe disana. Udah ada pemuda-pemudi desa lainnya yang udah eksis duluan di sawah tersebut. Mereka bersiaga dengan propertinya masing-masing. Ada cangkul, bajak, serta kayu panjang yang ujungnya dibuat lancip, buat ngelobangin tanah. Sedangkan yang perempuan membawa kacang tanah untuk ditaburin. Dan aku sendiri nggak bawa apa-apa, cuma bawa niat dan semangat. Semangaaaaattt…!!!

Dengan kucluk-kucluk, aku pun ikutan mejeng disana. Jreeeeng… Semua orang mulai sibuk dengan kerjaannya masing-masing meninggalkan aku yang mati gaya ngejongkrok di pematang. Mereka mulai ngebajak dan nyangkulin tanah, dilanjutin dengan ngelobangin tanah pake kayu yang ujungnya lancip. Lobangnya pun dibuat teratur dengan jarak tertentu. Kemudian yang perempuannya naburin kacang ke lobang-lobang tadi. Setelah itu lobang yang udah terisi kacang tadi ditutup lagi pake tanah.

Supaya nggak mati gaya, aku pun memperhatikan perempuan yang lagi menabur kacang dan membuka pembicaraan yang agak provokatif, supaya aku diajak juga.

“Ini cara nanem kacangnya gimana Mbak?”

Dari semua perempuan disini nggak ada seorangpun yang langsung jawab. Mungkin mereka malu membuka dialog dengan orang asing sepertiku, atau mungkin mereka begitu terpesona dan terpana dengan kehadiranku sampe-sampe bingung mau jawab apa. Gyaaaaaa…!!!

Untungnya salah seorang pemuda di ujung sana yang punya inisiatif tinggi langsung mengajak aku ikut serta terlibat dalam proses penanaman kacang.

“Ayo Mas, sini ikut nutupin lobangnya aja”

Aku pun berdiri dari posisi jongkokku dan segera menghampiri dia.

“Oh nutupin lobang ini ya?”

Seperti udah disebut di beberapa paragraf sebelom ini, lobang yang udah ditaburin kacang mesti ditutup lagi pake tanah. Si pemuda yang ngajak aku ikut nutup lobang pun memberi contoh cara penutupan lobang yang baik dan benar serta sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan dan disertifikasi ISO. Aku pun mengikutinya dan menutup lobang-lobang lainnya yang udah ditaburin kacang.

Kosrek… Kosrek… Akhirnya aku nggak jadi mati gaya, malah asik berkutat dengan tanah untuk menutup lobang-lobang berisi kacang. Selama hampir 1 jam aku nutupin lobang di petak sawah seluas kira-kira sekian kali sekian meter. Ya anggaplah 5×20 meter, mungkin segitu. Tapi karena kita ngerjainnya rame-rame, jadi nggak terasa capek. Malah kerasanya asik, seru dan menyenangkan. Maknyus dah.

Tanpa terasa, 1 petak udah selesai ditanemin. Masih ada 1 petak lagi yang perlu digarap. Petak yang kedua ini ukurannya lebih besar, kira-kira 2 kalinya petak yang pertama atau bahkan lebih. Kita masih harus melakukan hal yang sama, mulai dari membajak dan nyangkul sampe nutupin lobang. Tapi karena tadi adzan Ashar udah berkumandang, aku memutuskan untuk pamit dulu bentar, mau numpang sholat.

Selesai sholat, niatnya mau langsung ke sawah lagi. Mengabaikan makan siang yang udah disiapin sejak tadi aku baru berangkat. Tapi handphoneku berdering dan sekali lagi aku mesti dengerin orang curhat dulu. Setelah itu baru deh aku bisa balik nyawah lagi.

Sama seperti sebelumnya, di petak yang kedua ini aku kebagian jatah nutupin lobang. Satu demi satu lobang aku tutupin pake tanah yang aku tendang-tendangin. 1/6 bagian petak yang kedua ini kira-kira telah terselesaikan, dan semua orang memutuskan untuk istirahat dulu. Akhirnya kita pun ngaso bentar di pematang sawah.

Bekal yang udah disiapin sama Supri dkk pun dibuka. Rame-rame kita ngejongkrok sambil minum teh anget. Nggak lupa ngemil makanan-makanan yang udah disedian Sruput sruput… Nyam nyam… Maknyus banget dah ah, nongkrong di tengah sawah ditemenin teh anget dan cemilan, plus kebersamaan antar sesama warga. Serta, pemandangan sawah yang luar biasa ditambah latar belakang perbukitan Gunung Kidul yang menjulang tinggi. Subhanallah… Super sekali…

Segelas teh udaah aku teguk habis. Setelah bersantai, lalu kita semua pun kembali nyawah lagi. Masih ada sisa petak sawah yang belom kita garap. Dengan energi penuh yang baru kita charge, kita lanjutkan lagi prosesi penanaman kacang di sawah ini. Lebih cepat lebih baik.

Kita mulai ngebaja dan nyangkulin tanah. Terus si Supri dan temennya mulai ngelobangin tanah yang udah dicangkul pake kayu yang ujungnya dibuat lancip. Yang perempuan masukin 2-3 butir kacang ke tanah yang udah dilobangin. Dan terakhir aku menutupi lobang-lobang itu dengan tanah.

Untuk mempersingkat cerita, nggak terasa petak yang kedua ini udah selesai juga. Persis bertepatan dengan berakhirnya adzan Maghrib. Hooaaaahh… Cuma ngegarap 2 petak ini aja kita makan waktu mulai dari menjelang Ashar sampe persis Magrhib. Biarpun badan agak sedikit pegel, tapi capeknya nggak terasa. Soalnya disini kita ngerjainnya rame-rame, sekian banyak orang ngegarap 1 sawah sekaligus. Bener-bener luar biasa! Ajiiiiib…

Setelah lobang terakhir aku tutup, kita pun mulai bergegas meninggalkan sawah. Hari juga udah mulai gelap, serangga-serangga mulai keliaran, dan para ayam mulai keluar mencari mangsa. Ups, ini maksudnya apa?

Akhirnya kita pun berpamitan dan melangkah pulang ke kediaman masing-masing dengan penuh rasa senang dan bahagia karena telah selesai menanam kacang di 2 petak sawah. Terbenamnya matahari sore ini nggak menyurutkan kebersamaan di antara kita, karena insya Allah di keesokan hari pun matahari akan terbit kembali dari arah Timur. Dan aku pun menawarkan diri, kalo besok-besok mau ke sawah lagi, jangan ragu untuk mengajak aku ya. Mau mau mau?

Add comment September 10, 2009

AkuIniBodoh

Pagi-pagi, disaat orang-orang telah sibuk dengan kesibukannya masing-masing, 7 ekor makhluk KKN desa Cucukan masih terlelap dengan angan-angannya sendiri. 2 orang masih ngorok, 2 orang lagi berkutat di dapur bikin sarapan, 2 orang baru pulang belanja dan langsung ikut sibuk di dapur, sementara 1 orang sisanya dari tadi pagi jam 6 sedang asik nyampah nggak jelas sambil ngelaptop, nulis sebuah tulisan yang hasil tulisannya itu bisa kita baca saat ini. Huehehehe…
Sarapan udah hampir siap. Tapi tiba-tiba salah seekor makhluk terlihat mengenakan jaket dan membawa tas, segera melangkah keluar dan berpamitan padaku.

“Nicholas Saputra, aku pulang ke Jogja dulu ya!”

*Catatan: Nicholas Saputra??? Fakta atau fiksi, hayoooo???
Aku yang lagi ngetik nggak jelas sejenak tersentak. Dalam waktu sepersekian juta detik, sel-sel di otakku yang lemot ini segera berpikir,
Hei, kan itu orang-orang lagi pada masak buat sarapan kita. Bentar lagi juga selesai kok. Kamu pulangnya nanti aja, ayo kita sarapan dulu bareng-bareng. Pulangnya ntar aja abis makan.
Sejatinya otak ini telah merespon seperti itu. Tapi apa daya, lisan ini terlalu lemah untuk bersuara. Akhirnya aku hanya bisa menjawab,

“Pulang sekarang? Nggak sarapan dulu aja?”

Jeder! Lisanku ini nggak mampu mengeluarkan kalimat yang sesuai dengan apa yang aku inginkan. Dan makhluk itu pun menolak permintaan yang aku berikan. Akhirnya aku hanya bisa berkata,

“Hati-hati di jalan ya!”

…. … … Kriiik… Kriiiiik… … Dziiiiiing…
Kadang kala aku sering merasa sedih sendiri. Karena kebodohanku, aku tak mampu melarang apa-apa permintaan orang lain. Dan aku juga tak mampu untuk mengutarakan permintaan ku yang sesungguhnya. Padahal bisa aja kalimat dialog tadi aku ubah jadi kaya gini:

“Nicholas Saputra, aku pulang ke Jogja dulu ya!”
“Pulang sekarang? Kalo aku nggak ngasih izin gimana?”
“Nggak ngasih izin kenapa?”
“Kamu sarapan dulu disini, abis itu baru kamu boleh pulang.”

Contoh dialog kedua ini mungkin lebih tepat sasaran daripada dialog yang pertama. Tapi ya udah lah, nasi udah menjadi bubur. Tinggal ditambahin ayam, usus, telor, kecap sama kerupuk aja biar jadi bubur ayam. Pun demikian, setiap orang punya kesibukan dan hak nya masing-masing yang tidak sepatutnya kita interupsi. Bukan begitu?

Add comment September 10, 2009

11Juni2009

00.01– 04.30

Lokasi: Kosan Karangwuni C-19

Aktivitas: Tidur

Zzzzzz… Groooook… Zzzzzz… Mmmmm malam ini aku mimpiin siapa ya? Mimpi Asmirandah? Mimpi Cincyah Laurah? Nia Ramadhani? Apa mimpiin Dude Herlino? Ah whatever, yang jelas paginya aku nggak harus keramas loh… Ups, Astagfirullah.

04.30 – 06.45

Lokasi: Kosan Karangwuni C-19

Aktivitas: Get prepared!

Je me reveille et je me leve. Apres prier, je me prepare pour mes activites d’aujourd hui. Je me lave, puis je m’habiller. Ce matin, je prends mon petit dejeuner. Parceque il y a une chocolat dans ma maison, alors je mange une chocolat pour mon petit dejeuner. Juste une chocolat. Puis, je prepare ma voiture et je vais au BEM. Bonjour et bon voyage!

06.45 – 07.50

Lokasi: Sekretariat BEM KMFT UGM

Aktivitas: Rendez-vous

Aku bukan PH pertama yang dateng di BEM buat menghadiri forga PH BEM pagi ini. Si Fauzi alias Bejo Suro dan si Ikhsan udah eksis duluan. Dan sampe beberapa menit setelah jam 7, PH yang udah dateng baru ada kita ber-3 tambah pak Bos Miftah. Akhirnya jam 07.30 setelah makhluk2 lainnya dateng, barulah forum ini dibuka, yang intinya menyatakan bahwa acara kita yang sedianya berangkat dari sini jam 07.00, harus diundur jadi setelah jam 10.00 karena jam 09.00 kita mau ketemuan dulu sama pihak Dekanat.

Karena masih ada beberapa puluh menit sebelom acara bareng Dekanat, akhirnya kita mejeng dulu di Kansera, tempat makan paling “…” di Pogung Kidul. Paling apa ya? Silahkan isi sendiri aja deh…

07.50 – 08.40

Lokasi: Warung makan Kansera

Aktivitas: Ya makan lah, masa dugem?

Setelah tadi pagi di kosan cuma sempet sarapan dengan sebatang coklat Silver Queen Chunky Bar, akhirnya pagi ini aku sempet sarapan dalam makna sebenernya. Sepiring nasi plus sayur dan telor dadar serta 2 buah tempe, semoga cukup untuk mengganjal perutku yang six pack di pagi ini.

08.40 – 10.20

Lokasi: Ruang sidang 2.2 KPTU FT UGM

Aktivitas: Forum bareng Dekanat

Jam 09.00 kita semua pada naik ke ruang sidang 2.2 buat ketemuan sama Dekanat. Disini dipertemukan antara perwakilan elemen mahasiswa dari BEM dan KM/HM, sementara Dekanat menghadirkan orang2nya terkait ranah kemahasiswaa, yaitu Pak Jamasri selaku Wadek Kemahasiswaan, Riset dan Kerja Sama, Pak Indra selaku Kepala Seksi Kemahasiswaan yang baru, menggantikan Ibu Eny yang dimutasi ke Fakultas Hukum 2 minggu lalu dan Pak Wawan selaku asisten Pak Jamasri untuk urusan kemahasiswaan.

Acara yang diselenggarakan oleh pihak Dekanat emang beda dengan acara mahasiswa. Forum ini yang aku rasa mestinya bisa cukup simpel, dilangsungkan di ruangan yang paling bagus di KPTU sini. Plus, nggak lupa Dekanat juga menyediakan snack buat kita2. Padahal nggak ada snack pun nggak apa2 kok, itu kan belinya pake dana Fakultas. Tapi ujung2nya snack itu nggak aku makan, aku kasih ke Lia dan Eva serta rekan2 Departemen Advokasi lainnya yang lagi sibuk ngurusin wawancara BOP.

10.20 – 11.30

Lokasi: Bulaksumur – Seturan – Maguwoharjo

Aktivitas: Looking for place for fishing

Akhirnya, keberangkatan acara forga PH yang sedianya pengen dimulai jam 7, baru bisa terlaksana jam setengah 11 gara2 mesti ketemuan dulu sama Dekanat. Rencananya kita pada mau mancing, terus hasil pancingannya dimakan rame2. Jadilah kita bergerak ke arah Seturan untuk mencari dimana gerangan tempat pemancingan. Sesampainya di Seturan, ternyata empang yang ada nggak sesuai dengan yang diharapkan. Akhirnya kita berangkat lagi ke arah Maguwoharjo atas instruksi Nalar Sujancuk yang tau tempat pemancingan disana. Dan setelah menempuh perjalanan selama +- 1 jam, kita pun sampe deh di tempat pemancingan.

11.30 – 15.00

Lokasi: Tempat pemancingan di Maguwoharjo

Aktivitas: Mancing. Mancing ikan apa mancing emosi?

Setibanya di tempat pemancingan dan setelah Dzuhur, kita langsung segera sewa pancingan, pasang umpan, dan let’s go fishing! Inilah pertama kalinya aku mancing from the whole life! Pertama kali ngerasain gimana megang dan motong cacing, pertama kali ngerasain gimana menusuk cacing itu ke kail pancingan kita, pertama kali ngerasain ngelempar pancingan ke empang, dan pertama kali ngerasain gimana geregetannya kalo tau cacing kita udah dimakan ikan tapi ikannya nggak nyangkut di kail!

Iya, di acara mancing ini, aku dapet gelar sebagai “makhluk paling blo’on”. Coba silahkan bayangin aja, dari 17 kali aku ngelempar umpan, belom satu ekor ikan pun aku dapet! Cacingnya sih udah kemakan, tapi ikannya itu lho nggak mau nyangkut. Betapa susahnya membuat ikan itu tersangkut di kail kita.

Sebenernya sih waktu si ikan makan cacing kita, itu terasa banget, pancingan kita terasa ketarik gimana gitu. Dan ketika terasa gitu, aku langsung segera menarik pancinganku ke atas. Tapi sesampainya di atas, terlihat bahwa cacing yang ditaro di ujung kail udah tiada, sementara ikannya nggak ikut kesangkut. Dan ini terjadi sampe 17 kali! Duh masa iya sih aku digoblokin sama ikan? Ini sih sama aja aku bersedekah cacing buat ikan2 itu…

Tapi Allah Maha Tau bisikan hati hambanya. Akhirnya di umpan yang ke-18, pancinganku terasa ditarik dan aku segera balas menariknya. Ketika kail itu terangkat, voila! Ada seekor ikan tersangkut disana! Tapi sedihnya, ikan itu adalah sekecil2nya ikan di empang ini, bukan ikan yang layak untuk dikonsumsi. Akhirnya setelah aku pamerin ikan ku itu ke orang2, dengan berat hati aku lepasin lagi ikan itu ke empang. Dadah ikan…

Apakah aku puas dengan ikan sekecil itu? Jelas nggak! Segera aku ambil cacing lagi, aku sangkutin dan aku mulai mancing lagi. Tapi ternyata keberuntungan nggak datang 2 kali. Mulai dari umpan ke-19 sampe umpan ke-25-an, sampe cacingnya udah abis, aku nggak berhasil ngedapetin seekor ikan pun. Ya udahlah, emang nasibnya gini… Padahal si Rindi cuma perlu 13 umpan untuk mendapatkan ikan pertamanya. Dan setelah itu dia berhasil mendapatkan ikannya yang kedua dan ketiga dan seterusnya. Sementara orang yang paling banyak dapet ikan hari ini adalah si Fauzi alias Bejo Suro, yang dulu emang lahirnya di kolam ikan, makanya dia jago banget mancing.

Setelah umpannya habis semua, akhirnya kita minta ikan hasil tangkepan kita buat dimasakin, plus beli 2 ekor ikan lagi. Dan kita pun makan siang dengan 2 piring penuh berisi ikan. Ditambah tuker2an kado di akhir acara, yang pada akhirnya aku mendapatkan sebuah organizer dari Rindi.

15.00 – 15.30

Lokasi: On the way we’re back

Aktivitas: Balik ke kampus Teknik

Sedianya kita masih pengen nongkrong di tempat pemancingan lebih lama lagi. Tapi karena jam 4 aku udah janjian mau nonton perdana film KCB, Ketika C-Kink Bertasbih, bareng sama anak2 Nuklir, maka jam 3 kita buru2 cabut dari tempat, setelah sebelomnya nggak lupa bayar dulu. 135 ribu rupiah untuk 10 orang.

Akhirnya dengan segenap ilmu Formula 1 warisan Giancarlo Fisichella yang aku punya, aku geber mobilku dari Maguwoharjo balik ke kampus Teknik sekuat tenaga. Jam setengah 4-an aku nyampe di Teknik lagi, melintasin Ayu dan Hayu yang lagi mejeng di Tugu Teknik buat nungguin taksi. Dan sedihnya, taksi yang mereka tunggu adalah mobil Toyota Soluna ku!

Setelah Ashar, aku langsung tancap ke Tugu Teknik buat memingit 2 ekor anak manusia itu. Lalu mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang, menyisakan aku sendirian di kursi depan. Asli mirip banget kaya sopir taksi. Setelah argo disetel ke nominal awal, taksi pun melaju menuju Amplas. Tarik Mang!

15.30 – 16.00

Lokasi: Perjalanan menuju Amplas

Aktivitas: Doing what taxi driver does

Aku bertiga sama Ayu dan Hayu di dalem mobil yang menuju Amplas. Sempet takut juga sih, mengingat mereka berdua adalah perempuan dan aku adalah satu2nya setengah laki2 yang ada di mobil. Rasanya ngeri2 gimana gitu… Ntar kalo tiba2 di tengah jalan, Ayu mengeluarkan sebilah pisau dari tasnya dan diarahin ke leherku gimana? Atau tiba2 Hayu memukulku dari belakang dengan sepatu, dan aku pingsan, lalu aku dibuang di tengah jalan dengan keadaan tanpa busana, gimana? Atau Ayu dan Hayu bersekongkol menculik aku dan Toyota Soluna ku untuk dimintain tebusan, gimana? Atau mereka berdua minta supaya mobilnya dibawa ke tempat sepi, terus ngajakin main “mobil goyang”, gimana? Ah kalo itu sih nggak apa2, aku ladenin kok… Ups, Astagfirullah…

16.00 – 18.20

Lokasi: Amplaz

Aktivitas: Nonton Ketika C-Kink Bertasbih

Persis jam 4, aku nyampe di depan 21 Amplaz, dengan menenteng Ayu sama Hayu dibelakang. Seakan2 aku adalah Fahri di film Ayat-Ayat C-Kink. Lalu apakah Ayu dan Hayu berperan sebagai Maria dan Aisya? Ya nggak lah, biarpun aku jadi Fahri, mereka cuma jadi pemeran pembantu aja kok. Pemeran pembantu sebagai pembantu. Pembantu dalam arti sebenarnya. Gitu lho…

Dan akhirnya aku berhasil duduk manis di dalam bioskop beberapa detik sebelom filmnya dimulai. Di sebelah kiri ku ada Asep Budi Lestiyono, calon Bupati Karanganyar yang dari dulu ngebet banget pengen cepet2 nikah. Sementara di sebelah kanan ku adalah koridor. Di seberang koridor, ada Ayu dan Hayu lagi mojok berduaan. Di sebelah kirinya Ayu ada 1 kursi kosong, tempatnya si Apriadi.

Melihat ada kursi kosong, aku sempet nawarin gini ke Ayu, “Yu, nggak usah aku temenin kan?” ujar ku sambil menunjuk ke kursi kosong disebelahnya. Dan Ayu hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. Nggak tau senyum malu2, senyum mupeng, senyum girang apa senyum pengen muntah. Tapi kayanya opsi terakhir yang lebih mendekati deh. Gyaaaaa….

Kemudian selama 2 jam aku nonton film Ketika C-Kink Bertasbih sambil sesekali  bermesraan sama Asep kalo lagi ada adegan2 yang bisa bikin mupeng. Tapi mohon maap, disini aku nggak mau nyeritain filmnya ya…

2 jam telah berlalu dengan penuh rasa puas akibat melihat banyak wajah cantik bertebaran di film tersebut. Pengen rasanya buru2 keramas, tapi nggak lah, aku masih punya harga diri donk… Lalu kita pun segera Magrhib. Sejatinya aku masih pengen di Amplaz sini, nongkrong rame2 sama anak2 Nuklir. Tapi karena setelah ini aku ada farewell party sama anak2 tim “KKN PBA Lombok (Insya Allah)”, akhirnya aku buru2 cabut dari Amplaz, meninggalkan yang lainnya yang pada pengen makan bareng. Nggak lupa, 2 ekor piaraanku yang bernama Ayu dan Hayu juga aku bawa pulang. Padalah si Hayu ngajakin mampir dulu ke Caesar, mau dugem. Besok2 aja Yu ya…

18.20 – 19.10

Lokasi: Amplaz – Pogung – Karangwuni – Pizza Hut

Aktivitas: Our taxi is moving

Sebenernya temen2 tim “KKN PBA Lombok (Insya Allah)” awalnya janjian jam 5 sore di KPTU. Tapi aku udah izin bakalan dateng telat gara2 mau nonton Ketika C-Kink Bertasbih dulu. Dan karena sekarang udah lewat Maghrib sementara aku masih di Amplaz, segera aku sms Bram dan Mega untuk nanyain posisi mereka dimana. Ternyata mereka pada mau jalan ke Pizza Hut, mau makan2 ditraktir sama Dhani.

Dengan seluruh energi yang tersisa aku geber Toyota Soluna ku secepatnya utuk mulangin Ayu dan Hayu ke kandang mereka masing2. Kemudian aku pulang dulu ke kosan buat Isya, karena tadi udah adzan waktu lagi di jalan. Dan setelah Isya plus dandan plus get prepared, aku segera tancap gas ke Pizza Hut. American Favourite, Vegetable Lovers, Garlic Bread, I’m coming!

19.10 – 21.30

Lokasi: Pizza Hut tugu

Aktivitas: Farewell party tim “KKN PBA Lombok (Insya Allah)”

Jam 7 aku nyampe di Pizza Hut. Cuma ada 12 orang disana: Bram, Hasan, Nana, Didi, Karin, Vella, Nanda, Mega, Ponti, Fariz, Dhani, Apri. Plus Putri yang dateng belakangan. Segera saja kita pesen makanan, beberapa loyang pizza ukuran large, beberapa spaghetti, garlic bread dan teman2nya, plus beberapa gelas minuman dan beberapa pitcher coca cola. Duh kenapa mesti coca cola ya, kan coca cola termasuk salah satu perusahaan yang ikut menyumbang untuk Israel?

Namanya juga farewell party, mungkin ini terakhir kalinya kita bisa ngumpul bareng2 lagi. Ke-20 ekor makhluk yang sedianya tergabung dalam tim “KKN PBA Lombok (Insya Allah)”, kini harus berpisah dan melaksanakan KKN dengan timnya masing2, terpisah satu sama lain. Jadilah kita puas2in acara makan2 ini. Dipuas2in nya bukan karena ini acara farewell party, tapi karena ini makannya dibayarin! Ohohohoho… Dan terhitung malam ini aku udah makan 4 slice pizza, 6 slice garlic bread dan sekian gelas coca cola.

Di penghujung acara, akhirnya Dhani buka suara kenapa dia mau bayarin kita semua ini. Ini karena pada tanggal 8 Juni kemaren, dia baru aja jadian sama Fariz si anak onta. Wuaouw… Ini dia salah satu manfaat tim KKN. Selain untuk nambah temen, ngejar sks dan nyari nilai, juga bisa buat cari jodoh! Felicitation!

Jam 9-an semua makanan udah abis disantap. Dan kita juga udah berkali2 dipelototin orang2 gara sepanjang makan mulutnya nggak berhenti bersuara, ditambah lagi ketawanya Ponti yang bisa bikin anak kecil nangis. Dengan sangat tau diri, kita pun izin pamitan sama pegawai2 Pizza Hut. Nggak lupa kita foto2 dulu rame2 di depan Pizza Hut. Foto2 yang mungkin bakalan jadi foto terakhir kita. Uhuuhuhuhu… Huiks huiks…

Niatnya, abis makan kita pada pengen karaokean. Apri, Mega sama Nanda udah pada setuju. Apalagi Nana, yang paling semangat goyang kalo lagi karaoekean. Plus Hasan, dengan bermodalkan sebuah tiang, maka Hasan udah persis banget kaya penari striptease profesional! Tapi karena yang lain udah pada kecapekan, dan Fariz selaku donatur utama juga nggak berkenan, akhirnya kita nggak jadi karaokean deh.

Dan seiring dengan malam yang semakin larut, kita pun pulang kerumah masing2. Hasan sama Nanda nebeng di mobil ku. Sementara meja dan kursi Pizza Hut itu menjadi saksi bisu farewell party kita malam ini, karena di esok hari belom tentu kita semua bisa berkumpul kaya gini lagi.

21.30 – 21.50

Lokasi: Pizza Hut tugu – Pogung Kidul – Karangwuni

Aktivitas: Pulang

Hoaaaahmm… Ngantuk… Selepas dari Pizza Hut, aku mulangin Nanda dan Hasan ke kosan masing2. Dan kemudian aku beranjak pulang ke kosan ku sendiri, berteman radiotape mobil yang lagi nyetel lagu J-Rocks dari kaset. “Kini ku ingin… Pergi darimu… Tak kan ada yang bisa menahanku lagi…”

21.50 – 00.00

Lokasi: Kosan Karangwuni C-19

Aktivitas: Istirahat? Belom waktunya!

Biarpun raga ini telah letih, biarpun mata ini telah ngantuk, biarpun kaki ini telah lelah, biarpun badan ini telah kurus dan biarpun otak ini telah cacingan, tapi malem ini aku nggak boleh langsung tidur. Sejujurnya malam ini aku merasa bahagia karena telah dipertemukan dengan ke-20 ekor anak manusia di tim “KKN PBA Lombok (Insya Allah)”, sekalipun ujungnya harus berpisah juga. Dan perasaan bahagia itulah yang membuat aku masih terjaga sampai detik ini.

Tapi bukan itu yang bikin aku nggak boleh tidur, melainkan karena aku belom ngerjain laporan paktikum radiokimia! Batas akhir pengumpulan laporan masih 15 jam lagi, dan sampai detik ini aku masih belom selesai ngerjain.

Dari tadi seharian Rio sms aku, nanya kapan aku bakalan ngerjain laporannya, soalnya dia mau minjem yang itung2annya. Dengan jujur aku jawab bahwa aku baru bisa ngerjain ntar malem banget, soalnya hari ini aku banyak kegiatan. Dan memenuhi janji ku pada Rio, akhirnya aku emang baru bisa ngerjain laporan itu malem ini, disaat semua orang mungkin udah pada mimpi indah dalam kasurnya masing2. Malemnya mimpi, besok paginya keramas deh. Ups, Astagfirullah…

Bermodal pulpen, aku segera mengerjakan laporan itu. Ngerjainnya bener atau salah itu nggak penting, yang penting laporannya selesai!

Di tengah2 ngerjain laporan, perasaan bahagia campur sedih gara2 mesti berpisah sama tim “KKN PBA Lombok (Insya Allah)” masih tetep ada. Akhirnya sejenak aku istirahat dari ngerjain laporan, aku ambil handphone Nokia 6680 ku dan segera mengetik sebuah sms,

“Temen2 tim KKN Lombok almarhum, terima kasih banyak atas segala kebersamaan kita selama ini. C-Kink Cute mohon maaf sebesar2nya kalo pernah berbuat salah. Jika selama ini ada kekurangan mohon dimaafkan dan jika ada kelebihan mohon dikembalikan. Semoga suatu hari nanti kira semua bisa dipertemukan kembali di resepsi pernikahannya Fariz dan Dhani. Insya Allah”

Lalu aku kirim ke temen2 KKN ku. Dan aku kembali berkutat dengan laporan praktikum radiokimia. Nggak berapa lama handphone ku kembali berdering, dapet balesan dari temen2 atas sms barusan. Tapi karena aku udah nggak punya banyak energi lagi (baca: pulsa) jadi aku hanya bisa membacanya dan kembali sibuk mengutak-atik angka2 dalam laporan praktikum.

00.00 – 00.50

Lokasi: Kosan Karangwuni C-19

Aktivitas: Hooooaaaaaahmm… J’ai sommeil! Je veux dormir maintenant!

Lepas tengah malem, laporan masih belom beres juga. Padahal besok pagi, eh nanti pagi mau dipinjem sama Rio. Malem ini baru itung2annya doang yang udah selesai. Akhirnya daripada besok eh nanti aku kesiangan, akhirnya aku memutuskan untuk tidur dulu sejenak dan ngerjainnya dilanjutin lagi abis Subuh nanti.

Segera aku kemasin berkas2 laporan ku dan beranjak tidur. Sebelomnya aku ngeliat buku les bahasa Prancis ku yang tergeletak, dan aku ingat bahwa nanti malem aku ujian les Prancis level 2, sementara aku belom belajar sedikitpun! Yah nggak apa2 lah, Allah tau apa yang terbaik bagi hamba2Nya. Aku tinggalkan laporan praktikum ku dengan azzam bakalan ngerjain besok pagi, serta aku tinggalkan buku les bahasa Prancis ku dengan niat bakalan belajar entah kapan, kalo masih ada umur.

Dan sejurus kemudian aku pun terlelap. Zzzzzz…. Groooook… Zzzzzz…

2 comments June 13, 2009

Aku Tau

Aku tau aku ini blo’on

Lebih blo’on dari yang mereka bayangkan

Lebih blo’on dari yang terblo’on

Aku tau aku ini lembek

Lebih lembek dari yang mereka lihat

Lebih lembek dari apa yang ada di telapak kakimu

Aku tau aku ini pecundang

Yang sudah sangat pecundang

Bahkan lebih pecundang daripada pecundang itu sendiri

Dan aku juga tau

Bahwa aku tak pantas untuk hidup lebih lama lagi

Segeralah bawa aku pergi

Meninggalkan dunia ini

Secepatnya

C-Kink

Yogyakarta, Juni 2009

Add comment June 13, 2009

FarewellLombok

Minggu sore, 7 Juni 2009, seperti biasa 20 ekor anak manusia yang tergabung dalam tim “KKN PBA Lombok (Insya Allah)” mengadakan rapat rutin di pelataran KPTU. Sekalipun nggak semua 20 ekor yang hadir di rapat ini.  Rapat yang mungkin, menjadi rapat untuk terakhir kalinya. Kalo pun bukan yang terakhir, ya berarti jadi rapat yang kedua sebelom terakhir. Kalo pun bukan juga, berarti rapat ketiga sebelom terakhir. Atau keempat sebelom terakhir. Atau kelima sebelom terakhir. Dan seterusnya dan seterusnya…

Kenapa rapat terakhir? Karena ke-20 ekor makhluk cacingan yang tergabung dalam tim tersebut, hampir 99.99% dipastikan harus bercerai dari bahtera rumah tangga yang telah dijalaninya selama ini. Uhuhuhuhu… Huiks huiks…Sroooot…

Pada akhirnya, semua harapan dan impian kita untuk menjalani liburan bermutu selama 2 bulan di Lombok harus dibatalkan. Bukan cuma dibatalkan, tapi ke-20 ekor makhluk yang namanya telah terdaftar di sini juga harus dipecah dan disebar ke tim2 KKN lainnya. Artinya, udah kita nggak jadi berangkat ke Lombok, kita pun harus menjalani KKN sendiri2 dengan tim yang terpisah. Buajigur tenan…

Perkembangan terakhir dari Bramantya Utami Rahmasari selaku “Ketua Unit KKN PBA Lombok (Insya Allah)” menyatakan bahwa sampai detik ini, 1 bulan sebelom keberangkatan, belom ada izin dari Pemda Lombok bahwa kita boleh melaksanakan KKN PBA di sana. Nggak tau kenapa bisa gitu. Ya emang beginilah birokrasi di Indonesia, lebih ribet dan lebih kusut serta lebih keriting daripada rambutnya Budi Anduk sekalipun.

Terus, dulu waktu kita registrasi KKN, tema “KKN PBA Lombok” belom masuk ke LPPM. Jadi waktu disuruh masukin tema, kita milihnya “belum menentukan tema”. Dan Bu Wiwin, dosen FIB yang juga orang dari Komisi Pemberantasan Buta Aksara, menjajikan bahwa setelah tema itu terdaftar, beliau bakal segera memasukkan nama kita ke tema tersebut.

Tapi sampai hari ini, tema itu masih belom terdaftar juga. Dan LPPM telah terlanjur memplotting orang2 yang “belem menentukan tema” secara acak ke tema2 lain yang masih kekurangan orang. Jadi pada rilis daftar terbaru dari LPPM, ke-20 orang di tim “KKN PBA Lombok (Insya Allah)”  telah diplotting secara acak di tim2 KKN lain. Sebagai contoh, aku atas nama C-Kink Cute barengan sama M. Sultan Iskandarsyah alias Nanda si Anak Setan, terdaftar di KKN Pemilu, daerah Klaten 3. Bram selaku Ketua Unit tim ini, terdaftar di tim KKN di Pekalongan. Dan Fariz si Anak Onta, terdaftar di tim dengan tema “Sosialisasi Peningkatan Kualitas Susu Sapi Perah” di Boyolali. Masa iya onta minum susu sapi? Baru liat kaaan, susu kaya gini…

Beberapa orang di antara kita malah udah pernah dihubungin sama timnya masing2. Nana udah berkali2 di sms sama tim KKN Gunung Kidulnya, dan sebagai orang baru yang udah terima jadi dan nggak ikut kerja dari awal (survey tempat, bikin proposal, nyari dana dll), seakan2 ada resistansi dari orang2 di tim KKN tersebut terhadap Nana selaku orang baru. Hal ini membuat Nana 100% nggak betah sehingga ingin rasanya dia segera mengakhiri hidup ini dengan menenggak sebotol Baygon sampe habis. Jangan lupa Baygonnya dikasih gula, biar rasanya manis!

Dan yang paling menyedihkan adalah, Bu Wiwin yang awalnya “menjajikan” bahwa nama2 kita akan ditarik dari plottingan LPPM untuk dimasukkan ke dalam tim tersendiri, ternyata hari ini dia “tidak berkuasa” untuk “menarik” nama kita dari daftar yang udah dibuat oleh LPPM. Dalam artian, ke-20 ekor makhluk di tim “KKN PBA Lombok (Insya Allah)” telah tertutup kemungkinannya untuk melaksanakan KKN bareng2. Bu Wiwin tak punya daya dan upaya untuk melakukannya. Membuat kita sakit hati dibuatnya, mengingat beberapa bulan lalu beliaulah yang mengatakan bahwa “Silahkan kalian daftar dulu, tanpa tema. Nanti kalo kalian udah diplotting ke tema tertentu, biar saya yang narik nama2 kalian untuk dimasukkin ke KKN PBA!”

Tapi apapun yang terjadi, nasi telah menjadi bubur. Sementara bubur ayam depan gang harganya 4000 rupiah semangkok. Terus apa hubungannya?

Ya intinya, impian kita semua untuk melaksanakan program Pemberantasan Buta Aksara di Lombok akhirnya pupus sudah. Plus, kini kita pun harus menjalani hari2 kita dengan tim KKN kita masing2. Nggak akan ada lagi tampang sangar Fariz. Nggak akan ada lagi tawa nyablak Ponti. Nggak akan ada lagi jempol cantengan Bram. Nggak akan ada lagi denda2an Putri. Nggak akan ada lagi senyum manis Didi (Hueeeek…). Nggak akan ada lagi wajah imut C-Kink. Nggak akan ada lagi rapat di KPTU. Dan nggak akan ada lagi…

Kini kita semua harus mempersiapkan diri menjalani 2 bulan kedepan dengan orang2 baru. Orang2 yang mungkin belom kita kenal sama sekali. Orang2 yang mungkin akan bersikap sinis terhadap kita selaku pendatang, yang udah tinggal terima jadi. Orang2 yang mungkin nggak lebih imut dari C-Kink dan nggak lebih melas daripada Hasan, serta nggak lebih lebar daripada Ponti. Ups…

Dan sebelom tim “KKN PBA Lombok Insya Allah” resmi dibubarkan, maka izinkanlah aku atas nama C-Kink Cute yang hina dina kurus begeng kerempeng serta cacingan ini untuk mengucapkan kata2 terakhir kepada kalian semua…

-          Nicky, ajarkan aku ilmu2 untuk mempersiapkan diri menghadapi pegunungan yang terjal itu, saudara!

-          Jafar, jangan lupa tentang semua harapan dan impian kita untuk makan siang bareng di Bu Siti! Gyaaaaa…

-          Didi, suaranya kalo nyanyi serak2 basah gitu loh, mirip suaranya Rhoma Irama keselek sendal jepit! Hihihihihihi.

-          Bram, pak Ketua yang jempol kakinya cantengan… Selaku anak buah, maafkan kami semua yang susah diatur ini. Dan mohon maaf juga jika selama ini kami ada salah dan lupa. Semoga amal ibadah jempol kakimu diterima di sisi-Nya…

-          Dani, acara Djarum yang sering kamu ikutin itu apa ya? Aku juga mau ikutan duonks… Dan kita tunggu undangan resepsi pernikahannya ya! Fariz oh Fariz…

-          Ponti, walaupun mungkin tim kita nggak lagi bersama, tapi jagalah Fariz selalu di dalam hatimu… Eh tapi Fariz mah udah diambil Dani sekarang.

-          Naga, selaku anak Geodesi tolong siapin pemetaan tanah kuburan yang cocok buat aku. 2 x 3 meter aja juga udah cukup kok.

-          Nana, kalo goyang hot juga loh! Ayo kapan mau ngebor lagi? “Datanglaaaah… Aku menunggumu disini…”

-          Vella, apa kabar Vella? Baik2 aja kah?

-          Karin, minta senyumnya dooooonk… Huehehehe.

-          Daru, biarpun kita nggak lagi berada di tim KKN yang sama, tapi kosan kita tetep di Karangwuni C-19 kan? Ya iya lah, masa ya iya donk…

-          Dedi, kemana aja nih kok jarang keliatan ya?

-          Vita, nyok karaokean nyoooook! Kalo kamu sempet baca CV-ku, itu aku punya +- 40 lagu ciptaan, silahkan kalo mau kamu nyanyiin. Siapa tau ada produser yang ngelirik. Ngelirik aku lho, bukan ngelirik kamu. Ohohohoho.

-          Putri, terima kasih atas segala ketulusannya untuk berujar “Eh jangan salah, C-Kink suaranya bagus lho!” +- 20 tahun aku hidup akhirnya ada juga yang memuji suaraku. Gyaaaaaa…

-          C-Kink, loh C-Kink kan aku sendiri? Ya nggak apa2, tetep imut selalu ya!

-          Hasan, Mega, Nanda, Fariz, Apri, nggak usah comment apa2 ya, udah bosen setiap hari ketemu melulu di jurusan.

-          Ibu Wiwin, semoga jangan sampe anak perempuan saya nanti kelakuannya mirip sama Ibu. Astagfirullah…

Terima kasih atas segala kebersamaan kita selama ini. Semoga suatu hari nanti, kita bisa dipertemukan kembali, entah dimana. Dan jika suatu hari nanti kita telah menjadi orang besar, ingatlah bahwa dulu kita pernah saling mengenal, pernah berada dalam satu hati yang sama. Dan kalaupun ternyata kalian telah lupa, maka sesungguhnya aku akan selalu mengingatnya, Insya Allah.

Yogyakarta, Juni 2009

Karangwuni C-19, kosan yang sama kaya kosannya Daru, cuma beda kamar

2 comments June 13, 2009

AnakNuklir

1 minggu sebelom makrab nuklir 2006 yang bertempat di villa Green Apple, Kaliurang, 29-30 Mei 2009, sebuah sms dari seekor makhluk nuklir 2006 masuk ke inbox handphone ku.

“Kink bikin mars nuklir 2006 dunk…

Hweheheh

-Mega-”

12:43

20 Mei 2009

Mega Sucipto Santoso, salah satu dari 3 ekor “bunga bangkai” yang tumbuh di Teknik Nuklir 2006, meminta aku yang imut dan six pack ini untuk membuat sebuah lagu tentang nuklir 2006. Ternyata kartu nama ku akhirnya membawa manfaat juga, dimana di kartu nama itu aku menuliskan skill “Loser, Writer, Bassis & Song writer” sebagai kemampuan yang aku punya. Dan kata2 “Song writer” itu akhirnya kini harus dibuktikan untuk memuaskan keinginan syahwat si Mega. Ups, Astagfirullah…

Tapi karena aku bukan cowo gratisan, aku nanya balik ke Mega, berapa dia berani bayar untuk lagu mars nuklir 2006 ini. Dan dia pun menjawab,

“Mega bayar pake senyuman dey!

Kyahahahahahahaha…

-Mega-“

Senyuman? Emang kalo dirupiahin, senyuman Mega harganya berapa? Apakah hanya dengan modal senyuman Mega, perutku bisa kenyang? Apakah hanya dengan modal senyuman Mega, aku bisa membeli kebutuhan hidup sehari2? Apakah hanya dengan modal senyuman Mega, anak-istriku bisa makan? Lebay mode: on!

“Gyahahaha…

Makrab uda jadi yah…

Dinyanyiin disana gituh…

Oke2!

Seep!

-Mega-“

Waduh, dasar manusia jaman sekarang udah berjiwa kapitalis semua, antek2 dari neoliberalisme. Maunya menuntut banyak, tapi nggak mau memberi. Mau menerima, tapi enggan bersedekah. Apa kata dunia? (Kalimat tersebut seharusnya diucapin buat Mega apa buat aku sendiri yah?)

Tapi profesionalisme harus tetap dijaga. Apalah arti sebuah materi duniawi dibandingkan surga dan ridha Allah yang tiada bandingannya. Akhirnya dengan segenap keikhlasan serta ketulusan hati yang tersisa, aku pun langsung mengkonsep dan merumuskan lagu untuk nuklir 2006 beberapa menit setelah sms Mega tersebut, mengingat kebetulan siang itu jam 1 aku juga lagi nggak ada kerjaan.

Aku ambil gitar, kertas, pulpen dan aku mulai bersenandung. Tes tes tes… Satu dua tiga… Pap cuap pap pap cuap… Pap cuap pap pap cuap… Jreeeng… Jreeeeng…

2 jam kemudian…

Lagu yang diminta Mega itu akhirnya jadi juga. Setelah mengalami perombakan nada serta perapihan lirik disana-sini, lagu itu bisa tercipta dengan sukses sekitar jam 3-an. Dan selaku komposer yang profesional, aku langsung menghubungi si pe-request lagu dan memberikan laporan bahwa lagu yang dia minta sudah jadi. Mendengar laporan tersebut, Mega selaku pe-request lagu memberikan respon,

“Kyaaaa

Cepat banget bikinnya,

-Mega-“

15:57

20 Mei 2009

Iya, terima kasih atas apresiasinya. Tapi kembali lagi ke bahasan awal, berani bayar berapa untuk lagu ini? Kalo si DewiQ kan 1 lagu ciptaannya bisa berharga sampe 1 milyar rupiah. Nah kalo aku, silahkan perkirakan sendiri berapa harga yang pantas untuk lagu ciptaan seekor C-Kink. Hohohohoho…

Dan seperti tujuan semula, akhirnya lagu ini bisa dibawakan dengan sangat tidak sukses pada acara makrab nuklir 2006 di villa Green Apple, Kaliurang. Karena waktu itu lagu ini belom sempet aku rekam dan aku publish kepada khalayak umum, jadilah di acara makrab itu aku harus perform sendirian, dalam artian aku sendiri yang main gitar dan aku juga yang nyanyi. Dan hasilnya, akibat mendengar suaraku yang mirip banget sama suaranya Jason Mraz keselek gerobak angkringan, sebagian peserta makrab harus menderita gangguan lambung dan pencernaan, plus muntah!

Ya udah, itulah kira2 sejarah tentang terciptanya sebuah lagu tentang nuklir 2006, yang aku kasih judul “Anak Nuklir”. Mau tau liriknya kaya gimana? Ini ada kok dibawah. Silahkan dibaca…

Mei 2009

Anak Nuklir

C-Kink

Kawan semua cobalah kau dengarkan

Sebuah nyanyian yang tak terlupakan

Tentang sekumpulan anak manusia

Anak Teknik Nuklir itu adalah kita

Teknik Nuklir adalah ilmu kita

Reaksi fisi neutron biasa untuk kita

Dan uranium jadi santapan kita

Serta Geiger-Muller dia teman kita

Walaupun banyak yang ketakutan

Katanya anak nuklir harus nikah duluan

Ayolah hiraukan dan berpegangan

Nuklir bersatu tak terkalahkan

Reff:

Kita adalah anak Teknik Nuklir

Yang akan menghadapi semua tantangan yang ada

Walau kita dihina walau kita dicerca

Namun kita yakin bahwa nuklir akan selalu berjaya

Bidang ilmu kita ada banyak macamnya

Mulai gambar teknik dan kalkulus dua

Serta komputasi dan radiokimia

Material nuklir juga mekanika fluida

Walaupun bayak yang tidak percaya

PLTN kan ada di Indonesia

Ayolah kawan kita bersama

Membuat PLTN menjadi nyata

Reff:

Kita adalah anak Teknik Nuklir

Yang akan menghadapi semua tantangan yang ada

Walau kita dihina walau kita dicerca

Namun kita yakin bahwa nuklir akan selalu berjaya

Jangan pernah lupa

Nuklir adalah anugrah Yang Kuasa

Marilah bersama

Menguasainya

Memanfaatkannya

Nuklir untuk Indonesia

Reff:

Kita adalah anak Teknik Nuklir

Yang akan menghadapi semua tantangan yang ada

Walau kita dihina walau kita dicerca

Namun kita yakin bahwa nuklir akan selalu berjaya

***

Oiya, buat kamu2 semua yang mau dapetin lagu diatas, silahkan kirim email ke c_kink_noa_zoro@yahoo.com dengan judul “minta lagu anak nuklir”. Nanti Insya Allah bakalan dapet reply dari aku plus lagu “Anak Nuklir” di dalemnya. Tapi lagu ini jangan dibajak dan jangan dikomersialkan lho ya…

Ya udah deh segini aja. Terus apa inti dari tulisan ini? Nggak lain dan nggak bukan adalah untuk numpang promosi lagu. Ohohohoho… Nggak cuma promosi aja, tapi juga sekalian jual diri, bahwa aku punya rezeki lebih untuk bikin lagu. Jadi silahkan aja kalo ada yang mau minta dibikinin lagu, ntar Insya Allah bakalan dibuatin deh! Mau mau mau?

Add comment June 13, 2009

MenkoEksternal#5

Udah jadi tanggung jawab gue buat nulis tulisan tentang Menko Eksternal tiap bulannya. Dan hari ini, sambil dengerin lagu2nya Depapepe, inilah yang bisa gue ceritain tentang bulan ke-5 dimana gue menjalani hari2 selaku Menko Eksternal BEM KMFT UGM.

Dari sisi perkuliahan dan akademik, bulan Mei ini gue disibukkin dengan laporan yang kejar tayang, kaya sinetron2. Di penghujung semester pekuliahan, seperti biasa banyak tugas2 yang dikashi para dosen untuk kejar setoran. Serta tugas2 berbentuk presentasi yang juga nggak boleh dilupakan. Jadi dengan segala kesibukan itu semua, eksistensi gue di acara2 BEM agak berkurang di bulan Mei ini. Plus, selama 1 minggu di awal Mei gue juga menyempatkan diri untuk pulang kampung ke Depok tercinta, bertemu sanak saudara dan handai taulan. Soalnya kalo nggak pulang sekarang, mungkin besok2 gue nggak bakalan sempet pulang lagi. Kan akika mau KKN boo…

Oke, sekarang mari kita beralih apa aja yang terjadi di bulan Mei. Diawali dari tanggal 2 dan 3 Mei. Makrab, makrab dan makrab. Lagi2 makrab. Kali ini yang makrab adalah Departemen Medpro yang digabung sama Biro Humas, mengingat sedikitnya sumber daya manusia yang mereka punya. Sekalian juga makrab ini digabung sama acara pembubaran panitia HPTT 63. Seperti biasa, diadain di Pantai Parangkusumo. Dan meskipun gue sering banget makrab di pantai, tapi nggak pernah sekalipun gue ngeliat ada temen2 gue yang pake bikini! Kenapa ya? Astagfirullah…

Kemudian gue menyempatkan diri untuk pulang kampung ke Depok selama 1 minggu, untuk mencicipi masakan2 buatan Pudji Indrawati alias nyokap gue yang enakna tak tertandingi. Setelah gue balik dari Depok, gue langsung disambut dengan acara BEM Athlon yang diampu oleh Bejo Suro selaku Menko Internal. BEM Athlon ini adalah serangkaian acara yang mempertandingkan Departemen2 di BEM. Ada lomba masak, voli, futsal dan cerdas cermat.

Yang pertama adalah lomba masak. Gue, Miftah dan Bejo Suro kebagian jatah buat jadi juri. Sementara pesertanya adalah Departemen2 yang berlomba2 menyajikan masakan paling enak yang mereka bisa untuk dinilai oleh para juri. Gue sempet khawatir juga jadi juri lomba masak, yang harus menilai masakan peserta dengan cara mencicipinya. Gue takut, setelah mencicipi masakan peserta, hidup gue harus berakhir di rumah sakit akibat keracunan makanan!

Tapi ternyata itu nggak terjadi. Nggak terjadi atau belom terjadi ya? Alhamdulillah racun dari para peserta nggak mempan di tubuh gue. Dan pada akhirnya Technopreneurship Department meraih juara di lomba masak ini. Gara2 ada si Ana Yunita Masura selaku kokinya.

Besok paginya, masih dalam rangkaian acara BEM Athlon, adalah pertandingan futsal antara PH (Pengurus Harian) lawan Departemen Kastrat. Disini gue tergabung selaku tim PH, ngelawan mantan rekan2 gue di Kastrat. Sekalipun gue masih punya ikatan emosional dengan Kastrat, tapi profesionalitas harus tetep dijunjung tinggi. Dan pada akhirnya, pertandingan dimenangkan oleh tim PH dengan skor 5-4, dimana gue selaku striker yang duet dengan Nalar Sujancuk mencetak 2 gol dan sisanya diborong oleh Nalar sendiri.

Setelah itu, udah  nggak ada lagi acara yang gue ikutin, kecuali Teleskop. Itu pun gue cuma nyampah doang, cuma numpang minta sarapan gratisan. Dan di minggu2 terakhir bulan Mei, gue bertiga bareng Miftah dan Bejo Suro kebagian jatah buat ngewawancarain anak2 BEM dalam rangkaian agenda kaderisasi.

Ya udah deh, kira2 cuma itu kegiatan gue selaku Menko Eksternal di bulan Mei ini. Ke depannya masih ada bulan Juni yang mungkin bakalan jadi bulan terakhir gue memangku jabatan sebagai Menko Eksternal BEM KMFT UGM. Kenapa? Soalnya Insya Allah bulan Juli dan Agustus nanti, gue harus melaksanakan KKN di Klaten (KKN nya nggak jadi di Lombok loh! Uhuhuhuhu… Huiks huiks…).

Jadi, selama 2 bulan gue bakalan vakum dari sega macem kegiatan BEM2an. Dan setelah 2 bulan itu, apakah di bulan September ketika gue kembali nanti, nama gue masih akan tercantum di struktur organisasi BEM KMFT UGM? Biarlah waktu yang akan menjawabnya…

Add comment June 13, 2009

AkuDalamSepi

Aku Dalam Sepi

Malam kelam tanpa bintang

Indah pesona ratu kegelapan

Desir angin menerkam mencekam

Sembunyi di balik hitam bayangan

Dalam aku sendiri sepi

Membuka hati menjerit mati

Dalam aku diam bermimpi

Lepas belenggu jiwa nan suci

Apakah aku

Apakah malam menjadi teman

Dimanakah aku

Dimanakah ada cahaya keabadian

Siapakah aku

Siapakah pagi mengusik mimpi

Kemanakah aku

Kemanakah pergi bintang malam ini

Bukan jiwa kan terluka

Bukan hati kan menangis

Namun cinta kan bahagia

Namun diri kan bersuka

Dan aku

Masihkah ada bunga mekar mengangkasa

Dan aku

Masihkah ada langit biru bergelora

Dan aku

Masih bermimpi menyuci hati

Dan aku

Masih disini di dalam sepi

C-Kink

Yogyakarta,Mei 2009

Add comment May 24, 2009

1ooTruths

BASIC
001. Real name → C-Kink Ardya or C-Kink noa Zoro
002. Like it? → I hope Sahid Syaifullah is better
003. Nickname(s)→ C-Kink. But I do allow you to call me “Nicholas Saputra” :-D
004. Status → Une etudiant du Gadjah Mada Universitaire/ Gadjah Mada daigaku no gakusei desu/ student at Gadjah Mada University
005. Zodiac sign → Virgo, symbolic by a girl
006. Male or female → Male, Insya Allah…
007. Elementary→ SDN Beji VII Depok
008. Middle School → SLTPN 2 Depok
009. High School → SMUN 1 Depok
010. Hair color → Black. Will it be white or grey?
011. Long or short → Now is middle. I used to be bald, and used to be long-ioning hair.
012. Eye color → Black and white
013. Weight → 59 kg
014. Height → 183 cm
015. Righty or lefty → Righty
016. Loud or Quiet → Totemo shizuka desu/ very very quiet
017. Sweats or Jeans → Jeans
018. Phone or Camera → Phone
019. Health freak → No
020. Piercings?→ Never
021. Do you have a crush on someone? → Maybe, but I don’t mind
022. Eat or Drink → Like to eat and also like to drink
023. Purse or Backpack → Purse, but empty-handed is better
024. Tattoos → Never
025. Do You Like Yourself? → Oui, d’accord/ Hai, so desu/ Yes I do
026. Current worry? → Always feel free

THIS OR THAT:
027. Orange or Apple Juice? → Jus d’orange/ orenji juusu/ orange juice
028. Night or Day? → Soir/ yoru/ night
029. Sun or Moon? → Both of them are gift
030. TV or Internet? → Internet
031.PlayStation or XBox? → Playstation. I did never play an X-Box
032. Kiss or Hug? → Both of them aren’t problem. Would you give me some? Hohoho…
033. Iguana or Turtle? → I had ever raise a turtle once
034. Spider or Bee? → Bee, they were on Al’Qur’an
035. Fall or Spring? → I hope I had them
036. Limewire or iTunes? → Don’t know both of them
037. Soccer or Baseball? → Love soccer so much

FIRSTS:
038. First surgery → Circumcision, maybe?
039. First piercing → Never
040. First best friend → I hope I have one…
041. First Sport → Faire du randonee/ shanposuru/ Walk
042. First award → 1st rank on class, when I was on 4th grade elementary
043. First crush → I don’t mind
044. First pet → Bird and fish. They was there on my home
045. First big vacation → Bali at high school. First time I went out from Java Island!
046. First big birthday → My little was full of big birthday party. Thanks to my parents, the purpose is to give me a lot of my friend. But I’m sorry now I don’t have any.

CURRENTLY:
047. Eating → Roasted rice with roasted chicken, 2 hours ago with my jiheishoo-kuni friends
048. Drinking → Ice coffeemix
049. I’m about to → Writing this post
050. Listening to →Winamp who plays l’arc~en~ciel
051. Singing → Just in my heart
052. Typing → This post
053. Waiting for → My funeral

YOUR FUTURE:
054. Want kids → Yes, their name are Muhammad Sahid Syaifullah, Muhammad Sulaima Ibrahim, Siti Aisya Asmiranda or Siti Fatimah Khumaira
055. When → Later after married
056. Want to get married → ABSOLUTELY!!!
057. When → My first plan is when I’m on my 3rd year college. But my Mom doesn’t agree, so let the time answer it
058. Where Do You Want To Live → Indonesia, especially Depok or Jogja
059. Careers in mind → Writer, musician and also statesman
060. What Did You Want To Be When You Were Little → Train driver
061. Mellow Future Or Wild → Must get ready for both of them
062. Something You Would Never Try → Everything thing that is said forbidden on Al-Qur’an

WHICH IS BETTER WITH GIRL? (OR BOY IF YOU’RE A GIRL)
063. Lips or eyes → Both of them. The way she stares and the way she talks
064. Shorter or taller → Shorter, easy to hug
065. Romantic or spontaneous → Spontaneous, because romantic is DISGUISTING!!!
066. Nice stomach or nice arms → Both. Also nice personality and nice knowledge
067. Sensitive or loud → I don’t mind
068. Hook-up or relationship → Doesn’t matter, because I don’t understand
069. Trouble maker or hesitant → Problem solver and self-believer
070. Hugging or Kissing? → Give me each and I will answer. Huehehehe…
071. Tan Skinned or Light? → Not a matter, but not green please. That is an alien!!!
072. Dark or Light Hair? → Doesn’t matter, the most important thing is that she has a hair
073. Muscular or Normal? → Muscular? Wow, I will be the one who get knocked-out first!!!

HAVE YOU EVER:
074. Lost glasses/contacts → Never lost glasses, but always damaged it
075. Ran away from home → Never. J’aime mon famille/ Watashi no kazoku wa totemo omoshiroi desu/ My family is so lovely
076. Held a gun/knife for self defense?→ Never. But I hope I can use a sword well, like Roronoa Zoro
077. Killed somebody → Physically not, but maybe yes in their spirit
078. Broken someone’s heart → So many times! Ahahahaha…
079. Been arrested → Yes in a little case: Ride 3 persons on a motorcycle, drive on a wrong way and move through the red traffic light
080. Cried when someone died →Never. Their dead is their happiness
081. Kissed A Stranger? → Wow, is there anyone who will do this to me?
082. Climbed Up A Tree? → Yes but not that high
083. Liked A Friend As More Than A Friend? → Always!!! Hohohoho…

DO YOU BELIEVE IN:
084. Yourself → Sure. This is my body, my mind, my personality, my competence, that all are gift
085. Miracles → Yes. Impossible is possible, you know?
086. Love at first sight → No. That was just a passion, not a thing that we should called love
087. Heaven → Yes, absolutely sure. That is my homeland, Insya Allah…
088. Santa Claus → No, just a fairy tale
089. Kiss on the first date → Like someone would do this to me

ANSWER TRUTHFULLY:
090. Is there one person you want to be with right now → Yes. I’m sick of being alone
091. Do You Like Someone? → Yes, because I’m still normal
092. Are you seriously happy with where you are in life → Sure. Whatever will be happen, it was the best for us and we should pass it happily
093. Do you believe in God → ABSOLUTELY!!!

LASTS
094. Recieved/Sent Text Message → “Ah payah, silahkan cari sendiri artinya. Ya udah, met makan buat semua ya,”
095. Received Call → Gomiiko, my big sister
096. Call Made → Check my balance
097. Comment On MySpace → Je n’ai pas/ arimasen/ I don’t have any
098. Missed Call → Adji Ahmad Jaka Bramantya, since I was riving so I can’t answer his call
099. Person You Hung out With? → My jiheishoo-kuni friends, had dinner on Nasi Bakar
100. Post as 100 truths and tag people!

I tag all of you who read this article!

4 comments May 24, 2009

Ahahahahaha

Minggu 17 Mei 2009, sore hari di salah satu sudut KPTU sayap Selatan Fakultas Teknik UGM . Gue lagi rapat sama anak2 KKN. Sebenernya istilah rapat juga kurang cocok sih, soalnya kita cuma nongkrong2 doank mempererat kekeluargaan. Ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas. Yang penting hari ini semuanya bisa saling ketemu dan bertatap muka.

Ketika lagi ngobrol2 nggak jelas, topik pembicaraan mengarah ke kegiatan abis rapat 2 minggu lalu. Waktu itu abis rapat di GSP kita makan2 di Pondok Cabe terus karaokean di Happy Puppy (baca tulisan gue yang judulnya “3Mei2009”). Si Bram waktu itu nggak ikut karaokean gara2 pengen nonton AC Milan tanding. Dia membuka pertanyaan,

“Eh gimana waktu itu karaokeannya, rame nggak?”

Beberapa orang menimpali pertanyaan tersebut. Sementara gue tertawa lebar mengingat gimana waktu itu si Hasan betah banget ndangdutan ditemenin Nana yang hobi ngebor. Lalu spontan Bram nanya ke gue yang terkenal cool, kalem, tenang, tentram dan damai kalo lagi rapat, eh lagi nongkrong,

“Kamu gimana kemaren Kink, ikut nyanyi juga nggak?”

Ditanya gitu gue pun tersenyum dan membalas,

“Weiits, jelaaaas…! Ikutan nyanyi juga donk…!”

Dan si Bram setengah nggak percaya berujar,

“Ah masa?”

Tapi tiba2 salah seekor makhluk disitu yang bernama Putri ikutan ngasih komentar untuk memperkuat jawaban gue,

“Eh jangan salah, C-Kink suaranya bagus loh…!”

Kriiiiik…

Kriiiiik…

Kita replay sekali lagi ucapan Putri barusan:

“Eh jangan salah, C-Kink suaranya bagus loh…!”

Replay sekali lagi,

“Eh jangan salah, C-Kink suaranya bagus loh…!”

Sekaliiiii lagi,

“Eh jangan salah, C-Kink suaranya bagus loh…!”

Sekarang kita teliti lebih jauh lagi, khususnya pada kalimat “C-Kink SUARANYA BAGUS loh”…

HAAAAAAAAAAAH??? C-KINK SUARANYA BAGUS???

Di dalam hidup gue yang udah menyentuh usia 20 tahun ini, mungkin inilah pertama kalinya ada orang yang bilang di depan gue langsung bahwa “suara gue bagus”. Huiks huiks… Srooooot…

Nggak bisa dipungkiri, gue emang nggak punya bakat nyanyi. Lidah gue cadel dan artikulasi kata2 yang keluar dari mulut gue juga nggak jelas. Plus, rentang jangkauan nada suara gue lain dengan orang2 kebanyakan, yaitu beberapa nada lebih rendah dari umumnya. Hal ini ngebuat suara gue nggak nyampe buat nyayiin lagu2 pada umumnya, karena nada suara gue kerendahan. Pun demikian, hal ini juga yang ngebuat gue nggak bisa teriak2. Kalo pun ada nada2 tinggi, itu semua gue akalin dengan suara falchetto. Tapi jadinya malah lebih mirip suara kambing nahan mencret. Bener2 rezeki gue emang bukan di bidang tarik suara, sekalipun gue hobi bermusik dan bisa nyiptain lagu.

Tapi sore itu, akhirnya ada juga orang yang secara spontan berujar bahwa “C-Kink suaranya bagus loh…!”. Nggak tau juga sih, mungkin selama ini ada yang salah dengan pendengarannya si Putri. Huehehehehe…

Ya nggak masalah kok. Intinya, gue mengucapkan terima kasih banyak buat Putri yang lidahnya telah kepleset untuk memuji suara gue yang nggak ada enak2nya ini. Hohohohoho… Apa yang diucapkan Putri itu semoga nggak sia2 dan bisa memotivasi gue untuk mempelajari dunia tarik suara dengan lebih semangat lagi. Serta karena gue punya banyak kekurangan dalam hal ini, tinggal bagaimana gue mengakalinya, soalnya nggak ada yang namanya kekurangan jika kita bisa mengubahnya menjadi suatu kekuatan.

Dan sejak sore itu, semoga gue diberi pintu rezeki untuk memudahkan jalan gue di dunia tarik suara. Sehingga suatu hari nanti ketika gue bernyanyi, maka suara gue akan mampu membuat anak kecil menjadi menangis, membuat pasangan yang bertengkar menjadi bunuh2an, membuat orang stress menjadi semakin stress, membuat pengunjung restoran jadi nggak napsu makan, membuat ibu hamil langsung keguguran dan membuat tokek2 kabur ketakutan. Semoga…

Add comment May 18, 2009

DhaniaChairunnisa #3

(Sekali lagi, sebelom baca tulisan ini, baca dulu tulisan yang sebelomnya ya, “DhaniaChairunnisa #1” sama “DhaniaChairunnisa #2”, biar lu2 semua pada ngerti. Ngerti kagak?)

Entah sudah berapa kali matahari terbit dari arah Timur. Dan entah sudah berapa kali burung2 pulang ke sarangnya. 8 tahun telah berlalu sejak C merasakan bagaimana bahagianya ia yang seorang pecundang menjalani ujian caturwulan satu meja bersama D yang istimewa. Kini C dan D sedang menjalani tahun ketiga perkuliahannya di kampus masing2, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Paramadina.

Bulan ini, tepatnya tanggal 15 Mei, D berulang tahun. Bukan C namanya jika ia tidak tau tanggal ulang tahun D. Dan sekali lagi, bukan C namanya jika ia berani untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada D secara terang2an, meskipun hati kecilnya sangat menginginkannya, sekalipun hanya 1 kali dalam seumur hidupnya.

Ratusan bahkan ribuan orang mungkin telah mengucapkan ucapan selamat ulang tahun pada D. Dan mungkin ia tidak begitu peduli jika ada salah seekor penghuni kota Yogyakarta yang turut menyampaikan ucapan selamat ulang tahun padanya. Apalah artinya seonggok pecundang seperti C dibandingkan seorang ratu seperti D.

Beberapa waktu sebelumnya, C yang merupakan seorang pemusik yang diberikan rezeki berupa kemampuan untuk menciptakan lagu, telah mampu membuat sebuah lagu yang ia tujukan untuk D. Lagu itu terinspirasi dari sosok D yang pernah hadir dalam kehidupan C. Meskipun mungkin lirik dan nada nya sangat jauh dari nilai2 estetika dan keindahan, tapi memang hanya itulah yang mampu dilakukan untuk C dalam menanggapi perasaannya terhadap D.

Lagu itu selama berbulan2 hanya menjadi konsumsi pribadi C seorang diri. Karena kepecundangannya, C tidak berani untuk mempopulerkan lagi tersebut. Setiap ada waktu, C memetik gitarnya dan memainkan lagu itu seorang diri. Hanya seorang diri. Jadilah mungkin tidak banyak yang tau akan lagu tersebut, apalagi si D, yang merupakan sumberi inspirasi C di dalam menulis lagu itu. Meskipun sejatinya, C berharap suatu hari nanti D akan mendengarkan lagu ciptaannya tersebut.

Dan kini, di hari ulang tahun D, sekali lagi tetap tidak ada yang mampu C lakukan. Kecuali sekedar me-launching lagu yang pernah ia ciptakan itu. Lagu yang terinspirasi dari keindahan seorang D. Lagu yang setia menemani C di malam sepinya. Sebuah lagu yang berjudul “Dhania (Selalu Selamanya)”.

Juni 2008

Dhania (Selalu Selamanya)

C-Kink

Kubuka lembaran masa lalu

Kubaca cerita dalam hidupku

Dan ku teringat tentang dirimu

Yang pernah temaniku

#

Ku teringat semua tentang kita

Ku teringat semua cerita kita

Cerita saat kita bersama

Nikmati suka dan duka

*

Meski kini kita tak lagi bersama

Namun rasa ini akan selalu ada

Membayang menyelimuti diri

Walau dirimu kini telah pergi

(Dan tak akan pernah terobati)

Reff:

Dhania kau kan selalu ada di hatiku

Walaupun dirimu t’lah jauh dariku

Dhania kau s’lalu ada di mimpiku

Karena cintaku untukmu

Selalu s’lamanya

Meski kini ku tak tau

Dimanakah dirimu oh berada

Namun rasaku ini

Takkan pernah berakhir

Selalu untukmu selamanya

(CATATAN:

Bagi yang ingin mendapatkan lagu tersebut, silahkan kirim email ke alamat c_kink_noa_zoro@yahoo.com dengan subject: “minta kirim lagu”. Insya Allah nanti bakalan dikirim email balesan plus lagu tersebut dan liriknya. Jangan lupa juga untuk mencantumkan identitas diri, soalnya lagu ini masih sangat belum populer dan ada kemungkinan dibajak serta dikomersilkan oleh pihak2 yang tidak bertanggung jawab.)

Itulah sebuah lagu yang C ciptakan dengan si D sebagai sumber inspirasinya. Dan itulah kiranya sekelumit cerita yang pernah C alami. Cerita tentang cinta pertama C.

Butuh keberanian tersendiri bagi C untuk menceritakan kisahnya yang bodoh ini. Namun C sadar, bahwa cepat atau lambat, suatu hari nanti ia pasti akan segera pergi meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dunia dengan segala isinya, dengan segala kehidupannya, dengan segala lika-likunya, dan dengan segala cerita cintanya.

Dan C hanya tak ingin jika tiba waktunya ia pergi nanti, semua ceritanya akan terbawa ke dalam tanah kuburan bersamanya. Kini adalah saatnya bagi C untuk membuat dunia tau tentang cerita2 yang pernah terjadi di dalam kehidupannya. Sehingga meskipun jika suatu hari nanti C telah pergi, semoga semangat C akan tetap selalu menyala di muka bumi ini.

Tidak ada harapan C terhadap D atas apapun yang ia ceritakan disini. C hanya ingin, jika suatu hari nanti C diberi rezeki untuk bertemu dengan D lagi, D masih ingat dan akan selalu ingat tentang hari2 ujian caturwulan yang pernah dilalui bersama. C hanya ingin D ingat bahwa di dunia ini, pernah hidup seorang pecundang yang bernama C itu sendiri. C hanya ingin bahwa D ingat bahwa mereka berdua pernah saling mengenal. Dan kalaupun ternyata D lupa akan itu semua, maka sesungguhnya C akan selalu mengingat D di dalam hatinya. Insya Allah…

Yogyakarta, 16 Mei 2009

Tamat

Add comment May 18, 2009

DhaniaChairunnisa #2

(Oiya, sebelom baca tulisan ini, baca dulu tulisan yang sebelomnya ya, “DhaniaChairunnisa #1”, biar lu2 semua pada ngerti. Ngerti kagak?)

Hari telah berganti. Kini C telah duduk di salah satu sekolah menengah atas negeri di kota tersebut. Sementara D berada di sekolah yang berbeda dengannya. Namun perasaan itu akan selalu sama, meskipun kini sangat kecil kemungkinan C akan mampu melihat sosok D lagi.

Tapi selalu ada kesempatan di setiap kesempitan. Meskipun mereka sekolah di tempat yang berbeda, seringkali selama beberapa waktu C masih diberikan kesempatan untuk melihat keindahan seorang D. Beberapa teman D bersekolah di tempat C berada. Dan kadang2 setelah pulang sekolah, C sering meilhat D berada tak jauh di depan pintu gerbang sekolah, menunggu kepulangan temannya. C melirik ke arah D, dan D pun melirik ke arah C. Mereka berdua saling lirik2an layaknya film India. Bo le cu ri yaaa… Bo le ja ne pyaaaa…

Kali ini, tak ada lagi nama C yang disebut dari bibir D. Demikian juga dengan C. Meskipun kini usianya telah bertambah, namun kedewasaan C masih sangat kekanak2an, lebih kanak2 daripada anak bayi sekalipun. C sangat ingin sekedar menyapa D, tapi apa daya nyali tak sampai. Dasar cemen lu C!

Dan itu terjadi tidak hanya sekali. Mereka seringkali diberikan kesempatan untuk saling bertatap muka. Tapi karena emang si C ini idiotnya udah stadium tingkat tinggi yang mungkin tidak bisa disembuhkan lagi, ia masih tetep tidak berani sekedar menggerakkan bibirnya untuk memanggil nama si D. Begitupun dengan kesempatan lainnya, seperti ketika D yang sedang naik becak hendak pulang ke rumahnya. Becak yang ditumpangi D seringkali berjalan melintasi C yang kebetulan lewat. Meskipun mereka berdua saling tau sama tau, tapi mari sama2 kita gebukin si C, karena si C masih belom berani untuk menyapa D!

Selang beberapa waktu mereka tidak bertemu lagi. Hingga suatu hari, C yang merupakan seekor anak band mendapatkan kesempatan untuk manggung dalam acara pentas seni yang diadakan oleh sekolahnya D. Berlima, C lolos audisi dan berhak untuk naik panggung.

Akhrnya tibalah hari yang dinantikan. C naik ke atas panggung dengan 4 orang temen bandnya. Dan dari atas panggung ia melihat sosok D sedang menonton di salah satu sudut. C tidak tau apakah D sadar akan kehadiran C di atas panggung, namun C hanya bisa berusaha untuk memberikan performance yang terbaik yang ia bisa, sembari hati kecilnya berharap semoga D menyaksikan aksi panggungnya itu.

Tahun telah berganti, kini D telah melanjutkan ke pintu gerbang perkuliahan. Ia melanjutkan studinya di kampus STEKPI, Jakarta Selatan. Sementara C masih sibuk berkutat dengan tahun terakhirnya menjalani kehidupan sekolah. Dan sejak saat itu, C pun tidak pernah melihat keindahan sosok D lagi.

Dan kini, waktu telah semakin berlalu. Hari ini C sedang sibuk menyelesaikan studinya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sedangkan D yang awalnya kuliah di STEKPI, setelah 1 tahun ia memutuskan untuk berpindah studi. Jadilah kini D berada di Universitas Paramadina, Jakarta, yang diketuai oleh rektor bernama Anies Baswedan.

Namun, dimanapun mereka berada, C akan selalu berharap akan kehadiran seorang D, meskipun mereka berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Sementara layar komputer hanya diam membisu menyaksikan mereka berdua.

Bersambung…

Add comment May 18, 2009

DhaniaChairunnisa #1

(Sebelomnya gue mau nanya dulu ah. Ini kenapa judul tulisannya kok kaya nama perempuan ya?)

Alkisah pada jaman dahulu kala ketika penduduk bumi sedang menikmati euforia milenium, tersebutlah 2 ekor anak manusia yang masih imut2 plus amit yang berada di sekolah yang sama. Kita sebut saja si “C”, pemuda cacingan berumur 13 tahun dan kakak kelasnya yang bernama si “D”, gadis anggun yang 1 tahun lebih tua dari si C.

C, seorang lelaki yang sangat tidak populer di sekolahnya dan tidak memiliki seekor temanpun, yang bahkan untuk berbicara dengan orang lain pun ia sangat2 malu dan nggak berani melakukannya. Sementara D, seorang perempuan laksana ratu sekolah, yang kemanapun ia melangkah mata semua orang akan tertuju padanya dan mencoba menyapanya. Kehidupan mereka berdua sangat bertolak belakang, laksana tukang siomay dan tukang copet. Tukang siomay kalo dipanggil akan segera mendekat, sementara tukang copet kalo dipanggil akan segera berlari menjauh. Wuuuuuush…

Pada suatu hari, ketika sekolah tersebut mengadakan ujian caturwulan (dulu kan masih pake nama caturwulan/cawu, bukan semester kaya sekarang), anak2 kelas dimana C berada akan dipasangkan dengan anak2 dari kelas dimana D berada. Semua anak kelas C berlomba2 mencari tau siapa pasangan duduknya, dengan harapan bisa numpang nanya2 jawaban atau sekedar menjadi pelindung kalo mau nyontek atau ngebet.

Disaat orang2 mencari tau pasangan duduknya, nggak demikian dengan C. Dia tetap menjalani hari2nya seperti biasa, merenung seorang diri di pojokan kelas berteman bayangannya sendiri.

Sampai akhirnya, tiba2 kelas tersebut didatangi oleh beberapa ekor perempuan kakak kelas. Salah seorang diantara mereka bertanya, “Eh yang namanya C orangnya yang mana?”. Lalu salah seorang anak kelas tersebut menunjuk sosok C yang sedang berbicara dengan tembok di pojokan kelas. C yang merasa ditunjuk2, segera menoleh sekilas. Tapi dia tau, tidak akan pernah ada orang yang mau membagi perhatian dengannya. Ia menyangka bahwa bukan dirinyalah yang sedang ditunjuk, melainkan tembok yang ada di hadapannya. Akhirnya C kembali kepada kesibukannya semula, berbicara dengan tembok. Sementara beberapa perempuan kakak kelas tadi tersenyum cekikikan seakan2 baru melihat Vidi Aldiano keselek jam tangan.

Akhirnya tibalah hari ujian. Dengan langkah tanpa semangat, C masuk ke kelas dan mencari tempat duduk sesuai nomornya. Ia duduk manis disana, menatap meja kayu dihadapannya. Dan tiba2 seorang perempuan datang dan duduk di sebelahnya. Mata C sekilas melirik ke arah perempuan tersebut dan… C hampir tidak mempercayai penglihatannya…

Perempuan itu bukan kakak kelasnya.

Perempuan itu bukan manusia.

Perempuan itu bukan perempuan.

Karena perempuan itu adalah BIDADARI!!!

Dag dig dug… Jantung C yang lemah dan cacingan berdetak. Ia berpikir dalam hati, kenapa ada bidadari di sekolah ini? Bukankah tempatnya bidadari seharusnya adalah di khayangan sana?

Bidadari eh perempuan itu tersenyum manis menyapa C. Sementara C tidak siap menerima senyuman semanis itu. Ia benar2 gugup, sampai2 ia merasakan ada cairan yang menetes dari balik celananya. Ih ngompol… Dan C hanya mampu membalas senyuman itu dengan senyuman ala kadarnya, yang kalo diperhatikan baik2 lebih mirip seorang anak kecil nahan mencret. Crett… Crettt… Ih bau!

C mencoba mencari tau siapa nama bidadari eh perempuan itu. Dan diperolehlah bahwa perempuan itu bernama D. D juga termasuk salah seorang perempuan yang ketika itu main2 ke kelas C dan bertanya yang manakah orang yang bernama C.

Akhirnya, hari2 ujian caturwulan C berikutnya dihabiskan dengan 1 meja bersama D. Ternyata D tidak hanya menarik, tetapi juga ramah. Seringkali D mencoba mengajak berbicara C dengan hal2 yang kecil. Tapi dasar C orangnya blo’on dan idiot serta goblok plus tolol. Dengan kemampuan komunikasi yang jauuuuuuuuh dibawah manusia normal pada umumnya, C bingung harus berkata apa setiap kali D mengajaknya bicara. Jadilah C terlihat sebagai sosok yang diam dan kaku, sangat bertentangan dengan kata hatinya yang ingin berbicara dengan D.

Seminggu lamanya C melangsungkan ujian disisi D. Seminggu lamanya D mencoba menyapa C. Dan seminggu lamanya pula C bingung tidak tau harus berkata apa. Dasar goblok lu C, mati aja sono!

Akhirnya hari Sabtu pun tiba, yang artinya ujian caturwulan akan berakhir hari ini. Artinya juga, setelah ini C akan kehilangan kesempatan untuk bertemu D. Karena mereka akan kembali ke kelasnya masing pada tahun ajaran baru. Tidak ada yang dapat C lakukan selain merenung seorang diri, berterima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bidadari seperti D.

Dan, cinta pertama C pun terkubur bersamaan dengan dimulainya libur tahun ajaran. Huiks huiks… Srrooooott…

***

Tahun ajaran telah berganti. Ini tahun terakhir D bersekolah di tempat ini, kalo dia lulus nanti. C masih berharap suatu hari nanti ia dapat bertemu kembali dengan D. Tapi emang dasar si C ini blo’onnya udah kebangetan, dia pun nggak tau apa yang harus dilakukan kalo emang beneran ketemu sama si D.

Dan karena masih berada di satu sekolah yang sama, probabilitas bertemunya mereka berdua masih cukup tinggi. Dan tibalah pada suatu hari dimana dalam beberapa kesempatan, D dan teman2nya berjalan berpapasan dengan C. Dengan penuh keramahan dan kehangatan, D selalu menyapa C setiap kali mereka berpapasan. Dan bodohnya, C tidak pernah membalas sapaan tersebut. Hanya senyum yang mampu ia berikan, entah apakah D akan melihat senyuman itu atau tidak.

Betapa ini adalah suatu kehormatan besar bagi seorang C yang setiap harinya menghabiskan waktu bersama bayangannya sendiri tanpa seorang pun teman. Seumur hidupnya, baru kali ini ada orang yang mau menyapanya ketika sedang berpapasan. C memang sangat2 pecundang dan cacingan, yang membuatnya tidak punya banyak teman. Ketika di jalan ada yang ingat dengan sosok C, itu sudah sangat bagus untuknya. Apalagi sampai ada orang yang mau menyapa C, ini benar2 suatu kebahagiaan baginya. Betapa C terharu melihat inilah pertama kalinya ada orang yang mau menyapa dia. Saking terharunya, sampe jadi pengen nangis. Nangis dulu yuk… Huhuhuhuhu… Huiks huiks…

D selalu menyapa C disetiap papasan, dan C, sekali lagi, dengan idiotnya nggak pernah mampu membalas sapaan tersebut, meskipun sebenernya hati C sangat menginginkannya. Sampai selang beberapa waktu, mungkin D lelah dengan C yang tidak pernah membalas sapaannya. Dan akhirnya D tidak pernah lagi menyapa C di setiap papasan. Sementara C sangat merindukan namanya disebut oleh bibir D yang manis itu.

Hari berganti hari, tak ada lagi sapaan dari D untuk C. Dan C pun tidak pernah berani untuk mulai menyapa D duluan. Dasar C emang goblok banget dah ah… Dan akhirnya hari kelulusan pun tiba. D dinyatakan lulus dan diterima di salah satu sekolah swasta di kota itu. D pun beranjak pergi meninggalkan masa mudanya. Sementara C hanya bisa menyesali kebodohannya yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik terhadap orang2 di sekitarnya.

Dan ikan lou-han itu pun tersenyum… Menertawakan kegoblokan C dan cinta pertamanya itu…

Bersambung…

Add comment May 18, 2009

AngkringanTonight #3

Another side story of angkringan!

Malem ini gue ujian lisan bahasa Jepang. Ujian lisan yang dimulai dengan watashi wa C-Kink desu, Depok kara kimashita, Karangwuni ni sundaimasu, hatachi desu, Gadjah Mada daigaku no gakusei desu, dozo yoroshiku onegashimasu dan diakhiri dengan owarimashoo ja mata itsuka. Plus, dipenghujung acara kita ditunjukin nilai hasil ujian tulis kemaren, dimana gue dapet nilai perfect: 100! Sssssttt nggak usah pada tepok tangan gitu dong, biasa aja kaleee! Sementara si Wangi Wan-Wan* dapet nilai 94 dan AndhiBaka* San dapet nilai 95.

Sepulang dari tempat les, gue ngeliat angkringan di depan kosan gue lagi sepi, cuma ada seonggok gerobak yang dijaga oleh Mr X (sebut saja demikian) selaku pedagang angrkingan. Karena gue nggak tega ngeliat Mr X mejeng sendirian disana, akhirnya gue memutuskan untuk makan malem di angkringan ini sambil mesra2an berdua sama Mr X. “Mas ngamar yuk Mas, 2 ribu bolak-balik!”

Menu gue di angkringan ini selalu sama: mi rebus telor dobel! Cuma minumnya aja yang ganti2, sesuai kebutuhan. Kadang es jeruk, kadang coffeemix anget, kadang es teh, kadang darah gadis muda di kosan sebelah, kadang kuah mi rebus, dll. Malem ini gue putuskan untuk minum segelas es jeruk nggak pake kulitnya.

Seperti biasa, jiwa ke-Kastrat-an gue sering muncul di saat2 berkhalwat kaya gini. Nggak tau kenapa malem ini gue penasaran, sebenernya berapa penghasilan makhluk di depan gue ini dari berdagang angkringan per harinya? Kalo kata orang2, pedagang burjo itu sehari bisa dapet sampe 700ribuan. Nah kalo pedagang angkringan?

Sembari menunggu mi rebus telor dobel gue mateng, iseng2 gue nanya sama si Mr X ini,

“Mmmm… Mas, dari angkringan ini seharinya dapet untung berapa Mas?”

“Ya Alhamdulillah lumayan banyak lah…”

Lumayan banyak? Alhamdulillah… Mendengar kata “lumayan banyak”, yang terbayang di otak gue adalah nominal uang dengan besaran antara 200ribu sampe 300ribu per harinya.

“Emang rata2 sehari dapet berapa Mas?”

“Biasanya sih dapet 50ribu”

50ribu per hari? Untuk bekerja dari jam 2 siang sampe jam 12 malem, dapetnya 50ribu per hari? Alhamdulillah…

Gue pun berpikir, betapa makhluk di hadapan gue ini dengan sabarnya bekerja hampir 10 jam perhari demi selembar uang 50ribuan. Padahal di saat yang bersamaan, mungkin nominal segitu biasa kita hambur2kan dalam waktu singkat. Padahal tadi sore, gue baru aja membelanjakan angka sebesar itu untuk beli pulsa Im3.

“Biasanya paling banyak sehari dapet berapa Mas?”

“Kemaren saya pernah dapet sampe 70ribu seharinya…”

“Kalo paling dikit Mas?”

“Yaaaa sekitar 20 ribu waktu itu pernah”

Begitulah neraca keuangan hariannya Mr X ini. Rata2nya 50 ribu per hari. Kalo kita kaliin perbulan, jadi 50000 x 30 = 1500000, alias satu juta lima ratus ribu rupiah. Alhamdulillah… Masih lebih tinggi dari bates UMR kota Jogja. Tapi itu pun kalo Mr X bedagang setiap hari dengan penghasilan rerata 50ribu. Kalo lagi nggak jualan? Kalo lagi nggak begitu laku?

Mr X melanjutkan curhatnya,

“Biasanya saya paling sepi itu hari Sabtu!”

“Oh iya Mas, pada malem mingguan semua ya?”

Ya wajar lah, malem Minggu kan pada ngeluyur semua. Mending kalo malem minggu buka gerobaknya jangan di sini Mas, tapi di Ambarukmo Plaza aja! Atau di Hugo’s, Boshe, Empire dll. Tapi kalo malem Jumat gantian buka gerobaknya di Al-Ittihaad, Mardiyah, Baiturrahman, dll.

“Ini makanannya titipan kan Mas? Yang modal dari Mas sendiri apa aja?”

“Ya ini, gula, teh, coffeemix…”

“Gerobaknya punya Mas kan?”

“Iya, punya saya sendiri”

“Kalo piring sama sendoknya ini Mas?”

“Ini juga punya saya semua. Cuma makanannya aja yang titipan”

Sebagaimana yang udah gue ceritain di “AngkringanTonight #1”, makanan2 ini diambil oleh Mr X dari istilahnya “Majikan”. Abis nggak abis, makanannya bakal dibalikin lagi ke “Majikan” itu.

“Ini kalo nggak abis dibalikin ke juragannya kan Mas?”

“Iya”

“Juragannya itu nitipin makanannya cuma kesini doang apa ke tempat lain juga?”

“Seinget saya, kalo nggak salah dia punya 6 gerobak”

Wah, 6 gerobak? Kayanya asik juga tuh bisnis kaya gini. Ayo, ada yang mau jadi juragan angkringan?

Selepas itu, mi rebus telor dobel gue udah mateng dan gue sibuk dengan mangkok di hadapan gue yang menunggu untuk disantap. Mi nya lho yang disantap, bukan mangkoknya! Srupuuut… Srupuuut… Aaaaahh…

Yogyakarta, 5 Mei 2009

Add comment May 18, 2009

3Mei2009

00.01– 00.35

Lokasi: Balai dukuh di Parangtritis

Aktivitas: Gitaran

Malem ini, eh pagi ini gue lagi ngikut makrab sekaligus pembubaran panita HPTT 63 bareng anak2 Teknik. Yang namanya makrab, setiap detiknya itu harus dimanfaatin, termasuk tengah malem kaya gini.

Sebelomnya sampe jam 11 malem, kita nongkrong di pantai Parangkusumo sambil nyalain api unggun dan bakar jagung. Plus, kita juga main “truth or truth”, plesetannya “truth or dare”. Nggak semua orang kebagian jatah truth or truth ini, cuma mereka yang namanya keluar dari undian aja yang dapet giliran. Dan sedihnya, gue yang berangkatnya nyusul justru kebagian giliran persis setelah gue dateng. Jadilah gue yang baru menginjakkan kaki di pantai, leyeh2 bentar, eh tiba2 nama gue keluar dari undian dan gue kebagian giliran jadi korban truth or truth ini. Duh, ini pasti konspirasi Yahudi!

Ada 5 pertanyaan yang harus gue jawab secara jujur dan apa adanya. Cinthya Laura selaku MC mempersilahkan semua orang untuk ngasih pertanyaan2 yang menusuk dan mengulik macem2 hal. Tapi dibatesin, pertanyaannya nggak boleh menghasilkan jawaban yang berupa nama orang. Dan pertanyaan yang gue dapet adalah sebagai berikut, plus jawabannya:

  1. Pernah suka sama temen 1 jurusan nggak?

Jawab: PERNAH!

Gue jawab aja jujur apa adanya. Ohohohoho…

  1. Kapan sukanya?

(maksudnya, kapan suka sama temen 1 jurusan itu?)

Jawab: SEMESTER 5!

Sebelom ngejawab, sebenernya gue bingung sama maksud pertanyaan ini. Tadinya mau gue jawab aja, “SAMPE SEKARANG!”. Tapi melihat suasana yang kayaknya bakal semakin ancur kalo gue jawab  gitu, akhirnya gue nggak jadi jawab gitu deh. Yah ini mah nggak truth lagi.

  1. Apakah kamu berencana menikahi orang yang kamu suka itu?

Jawab: NGGAK!

Ya iyalah, cuma sebatas suka doang gitu loh… Kalo pertanyaannya diganti, “Apakah kamu berencana menikahi Asmirandah”, maka dengan lantang gue ngejawab, “HARAPAN ITU MASIH ADA, INSYA ALLAH!”

(emang Asmirandahnya mau?)

  1. Di BEM ini betah nggak sama kepemimpinannya Miftah?

Jawab: BETAH!

Kan sebelomnya gue udah pernah ngerasain yang kaya gini di Kastrat, jadi biasa aja tuh.

  1. Pernah suka sama sesama anak BEM nggak?

Jawab: PERNAH!

Sama kaya nomor 2, sebenernya bukan kata “pernah” yang pengen gue ucapkan. Awalnya gue bakalan jawab, “SERING!”. Tapi sekali lagi, kayanya gue bakalan jadi bulan2an kalo jawab gitu.

Untung cuma dibatesin 5 pertanyaan doang. Kalo lebih, bisa tambah ancur aja dah…

Kita balik lagi ke jam 00.01 di tanggal 3 Mei. Kita semua udah pada ngumpul lagi di balai dukuh, udah pulang dari pantai. Beberapa orang memilih untuk tidur dan istirahat, sementara gue memilih untuk genjrang-genjreng klentang-klenting bareng Nalar, Reza dan Abdul menyayikan lagu2nya Bang Iwan Fals.

“Untukmu yang duduk sambil diskusi

Untukmu yang biasa bersafari

Di sana… Di gedung DPR”

00.35 – 01.25

Lokasi: Balai dukuh di Parangtritis

Aktivitas: Main UNO

Ini dia hobi favorit gue kalo lagi makrab, MAIN UNO! Uno itu semacem permainan kartu gitu loh. Permainan kartu yang menyenangkan yang bisa dimainkan oleh sekian banyak orang sekaligus, dan kalo stock kartunya udah abis, permainan tetep berlanjut dengan cara mengocok ulang kartu2 yang nggak kepake. Segala strategi dipake disini, mulai dari intrik, kolusi, koalisi, bahkan sampe politik uang sekalipun…

Plus, kartu Uno ini juga punya nilai historis buat gue. Dulu, gue pertama kali kenal Uno gara2 diajakin sama Triyas Sukmawati, temen SMP gue. Waktu lagi liburan kuliah, waktu semua pada pulang ke Depok, gue barengan sama Mastur, Adis, Prisman dan Ega rame2 main Uno di rumah Triyas. Triyas juga yang ngajarin cara main Uno dan segala macem kejahatan di dalemnya, termasuk bahwa kita mesti ngomong “Uno” kalo kartu kita tinggal 1.

Terus kenapa kartu Uno ini punya nilai historis? Jawabannya simpel aja, karena terhitung sejak tanggal 23 Juni 2008, sosok bernama Triyas Sukmawati udah nggak ada lagi di dunia ini. Beliau telah pergi lebih dulu, dikarenakan penyakit apa gitu gue lupa, tapi intinya ada semacem cairan di otaknya. Jadilah kini guru yang mengajarkan gue main Uno telah tiada. Dan Uno itu adalah salah satu warisan yang Triyas tinggalin buat gue. Semoga gue bisa mengamalkannya dan memberikan sedekah jariyah ini untuk beliau.

Kalo di kartun One Piece, waktu kecil Roronoa Zoro selalu kalah adu pedang lawan Kuina. Dan selamanya Zoro nggak akan pernah ngalahin Kuina, gara2 Kuina udah meninggal akibat jatoh dari tangga. Lalu Zoro bertekad untuk menjadi pendekar pedang terbaik di dunia, sebagaimana janjinya pada Kuina. Sedangkan gue, karena ilmu ke-Uno-an gue ini gue dapet dari Triyas, maka gue pun bertekad untuk memberikan yang terbaik dan mengerahkan segenap kemampuan yang gue punya kalo lagi main Uno…

Dan, yang memperkenalkan kartu Uno ini di BEM adalah si kembar-cacingan Gilang dan Rara-Galuh. Pertanyaannya, apakah mereka berdua, yang ngenalin Uno ke gue di BEM, juga bakalan menyusul jejak Triyas untuk meninggalkan dunia ini lebih dulu? Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Ihihihi…

01.25 – 02.00

Lokasi: Balai dukuh di Parangtritis

Aktivitas: Leyeh-leyeh menjelang bobo

Game Uno kita udah selesai. Tyaz, Anton, Ari, Rara-Galuh, Takur dan Biebah selaku peserta Uno memutuskan untuk mengakhiri permainan ini dan beranjak tidur. Pun demikian dengan Wangi, yang nggak ikutan main Uno soalnya kebagian job buat ngeberesin kartu2 yang berantakan sekaligus ngocok kartu2nya. Kocok kocok kocok… Crott crott crott ah ah… Astagfirullah, apaan tuh?

Gue yang sejatinya masih pengen maen, akhirnya ikutan udahan juga. Niat gue mau langsung tidur, tapi karena efek 2 gelas good day yang gue minum hari ini, akhirnya gue baru bisa tidur sekitar jam 01.40–an.

02.00 – 04.00

Lokasi: Balai dukuh di Parangtritis

Aktivitas: Tidur

Zzzzz… Zzzzz… Grooook… Zzzzz…

Sssssttt, jangan berisik! Gue lagi tidur nich! Zzzzz… Zzzzz… Grooook… Zzzzz…

04.00 – 05.00

Lokasi: Balai dukuh di Parangtritis

Aktivitas: Ibadah pagi

Tau lah ya, jam segini tuh jam2nya apa. Ho oh bener banget, yaitu jamnya para dugemers pulang kembali ke kosan akibat kepanasan denger adzan Subuh berkumandang.

05.00 – 05.30

Lokasi: Balai dukuh di Parangtritis

Aktivitas: Muhasabah

Sejatinya abis subuh ini gue pengen langsung pulang, soalnya jam 8 nanti ada pembekalan KKN. Tapi ternyata rencana berubah, dikarenakan pagi ini akan ada muhasabah yang istimewa. Apa istimewanya? Istimewa karena yang didaulat untuk menjadi pemantik pada muhasabah ini adalah gue sendiri! WUAAAAA…!!!

Ini pertama kalinya gue ngisi muhasabah. Dan gue pun nggak bisa menolak soalnya disini gue termasuk orang yang di-tua-kan, meskipun padahal aslinya masih muda. Thanks buat Abdul dan Tifa yang telah melobi gue buat jadi pemantik. Dan lidah gue pun komat-kamit mengucapkan kata2 yang kiranya bisa bermanfaat buat muhasabah ini.

Setelah sekitar setengah jam gue komat-kamit, akhirnya muhasabah ini selesai juga. Dan sepanjang acara muhasabah, sepintas2 gue liatin wajah2 para pesertanya. Dan Alhamdulillah, sepertinya muhasabah gue ini cukup sukses. Terlihat dari banyaknya peserta yang tertidur daripada yang menangis! Horeeee!!!

Lalu gue pun pamitan sama orang2 dan pulang ke Jogja naik mobil titipan yang disetirin Miftah.

05.30 – 06.30

Lokasi: Mobil Avanza plat B yang melaju dari Jalan Parangtritis sampe kosan

Aktivitas: Tidur

Waktu berangkat, mobil beranggotakan 7 ekor makhluk ini rame oleh celoteh makhluk2 di dalamnya. Mereka adalah Miftah, Ade, Izzat, Franky, Riva, Reza dan gue sendiri. Banyak tema yang kita bahas, mulai dari strategi dakwah Mas Maulana, keunikan sepeda panjang dan permasalahannya di lampu merah, posko registrasi UM UGM, sampe pantai Parangkusumo yang kalo malem banyak ayamnya. “Mas ngamar yuk Mas, dua ribu bolak-balik!”.

Tapi di perjalanan pulang, cuma ada bunyi mesin mobil dan radio yang terdengar. Penumpangnya pada tidur semua, kecuali Miftah yang kebagian job jadi supir. Termasuk gue yang juga ikutan tidur, soalnya jam 8 nanti mau ada pembekalan KKN dan gue nggak mau ketiduran di tengah2 acara. Jadilah sekarang gue nyicil tidur di mobil dan baru bangun beberapa saat sebelom mobil itu nyampe ke kosan paling keren abad ini, Karangwuni C-19.

06.30 – 08.00

Lokasi: Kosan Karangwuni C-19

Aktivitas: Get prepared

Demi mengejar pembekalan KKN jam 8, sampe kosan gue langsung mandi dan prepare buat berangkat nanti. Semua persiapan beres jam 07.15-an. Gue dan Nanda udah janjian berangkat bareng, dia bakal jemput gue di kosan jam setengah 8. Karena masih ada beberapa menit sebelom Nanda jemput gue, akhirnya gue memutuskan untuk tidur lagi, itung2 menghemat energi. Kan sekarang dunia ini lagi krisis energi!

Waktu menunjukkan pukul 07.30. Beberapa menit kemudian akhirnya dateng juga. Bukan Nanda yang dateng, tapi smsnya Nanda. Isinya mengatakan bahwa dia baru aja bangun tidur. Gubrak…!!! Ya udah, sambil nungguin Nanda prepare, gue tidur lagi dengan dandanan yang udah siap untuk berangkat. Sampe akhirnya jam 8 gue dibangunkan oleh bunyi motornya Nanda yang mejeng di depan kosan gue.

08.00 – 08.15

Lokasi: Antara kosan dan Fakutas Filsafat

Aktivitas: Cuci mata

Pembekalan KKN ini bakal diadain di Fakultas Filsafat UGM. Motor Nanda melaju kesana, melintasi pasar Sunday Morning yang akrab diebut “sanmor”. Dan sanmor adalah salah satu tempat yang efektif untuk cuci mata, dimana disini kita bisa ngeliat paha, betis, lengan dan bentuk tubuh perempuan2 punuk unta lainnya yang dijual gratisan di pinggir jalan. Astagfirullah… Kalo gini terus bisa2 apalan surat An-Naas sama Al-Falaq gue bakalan ilang nih…

08.15 – 12.00

Lokasi: Fakutas Filsafat

Aktivitas: Pembekalan KKN

Seperti udah diduga, gue dateng telat. Sebagai konsekuensi, gue sama Nanda dan beberapa orang yang telat lainnya nggak kebagian kursi di ruangan. Sampe pada akhirnya panitia ngebawain kursi dan kita pun bisa duduk di pojok ruangan paling belakang.

Ada 4 materi yang dikasih di pembekalan KKN ini, plus 1 General Test di penghujung acara.

  1. GMC, asuransi, dan bla bla bla tentang kesehatan.

Materi ini dibawain oleh ibu2 berjilbab panjang yang gayanya cool. Meskipun cool, tapi omongan2nya sangat unik bin ajaib yang seringkali bisa bikin kita tersenyum. Plus banyak info2 seputar dunia kesehatan yang beliau berikan disini. Tapi nggak sampe ngebahas tentang kesehatan reproduksi lho, belom cukup umur.

  1. Latar belakang dan filosofi KKN PPM UGM.

Materi yang kedua ini diawali dengan menyanyikan Hymne UGM. Baru kali ini gue denger Hymne UGM Setelah 3 taun kuliah disini. Dan untuk materi ini, gue nggak ngerasa lagi berada di ruang kuliah mendengarkan dosen ngasih materi, tapi rasanya lebih mirip nonton pertunjukan Srimulat! Si pemateri yang ibu2 ini emang 100% mbanyol, khas orang Jawa. Mbanyolannya pun Srimulat banget. Udah Bu ntar kalo pensiun jadi dosen, bikin grup lawak aja!

  1. Prosedur pelaporan.

Materi ini diisi oleh seorang bapak yang sukses ngebuat gue tertidur selama beberapa detik.

  1. Etika mahasiswa.

Materi terakhir ini mengingatkan gue akan pelajaran PPKn jaman dulu. Tapi yang ini lebih aplikatif dan real, dimana si ibu pemateri menceritakan pengalaman2 konyol yang pernah terjadi di tim2 KKN yang lalu yang terkait dengan persoalan etika.

  1. General test.

Ujian, pilihan ganda, 45 soal. Mau nyontek silahkan, mau ngebet buka buku juga silahkan. Tapi gue nggak melakukan keduanya, cukup membiarkan tangan ini mau nyoret jawaban yang mana. Sisanya, tawakkal ajah…

12.00 – 13.30

Lokasi: Kosan Karangwuni C-19 dan burjo

Aktivitas: Makan sambil istirahat

Pulang dari pembekalan KKN dan selepas Dzuhur, gue nyempetin diri buat mampir ke burjo terdekat. 1 piring nasi telor, 2 biji tahu goreng dan 1 gelas good day moccacino es jadi temen santap gue untuk sarapan siang ini. Duh parah juga nih, masa sarapan jam 12 siang?

Sebelom pulang, nggak lupa gue minta 1 moccacino es lagi buat dibungkus. Gara2 banyak kerjaan, akhir2 ini good day jadi akrab banget sama gue buat membantu menghilangkan rasa kantuk. Yang ada bukannya ngantuk gue ilang, tapi dompet gue makin tipis gara2 keluar biaya ekstra.

Sejatinya gue ada janji sama Mega, Ryo dan Leo untuk ngerjain tugas Komputasi Nuklir jam 1 di KPTU. Tapi karena mata gue terasa berat banget plus perut yang penuh nasi telor, akhirnya gue leyeh2 dulu di kosan sambil baca koran. Dan beberapa menit kemudian, gue udah sukses terlelap dengan berselimutkan koran Republika yang lagi gue baca. Zzzzzz…

Belom sampe 10 menit gue ngorok, gue dibangunkan oleh sebuah sms dari Mega. Isinya,

“Dimana?”

Dan gue bales aja,

“Di KPTU. Tapi aku masih di kosan.”

Lalu gue segera bangkit dari alam mimpi, segera cuci muka, ganti baju plus dandan dan dengan kecepatan tinggi segera gue geber MyLovelySolBro menuju KPTU.

13.30 – 15.30

Lokasi: KPTU Sayap Utara

Aktivitas: Ngerjain tugas kelompok

Sesampainya di KPTU, udah ada Mega, Ryo dan Leo plus Mas Arstyo selaku asisten dosen untuk mata kuliah Komputasi Nuklir. Selama sekitar 1 setengah jam, dengan tabah nya beliau mengajarkan kita2 yang tambeng dan blo’on ini tentang pemrograman Delphi. Integer, variable, radio button click, begin, syntac error dll jadi santap siang kita di KPTU.

Sekitar jam 3-an kerja kelompok ini harus diakhiri karena Mas Arstyo mesti meninggalkan kita untuk pergi ke alam sana. Dan sambil nungguin Mega yang ada janji mau ngedate sama Irwan, kita pada nongkrong dulu di KPTU, curhat2an. Curhatnya Ryo selaku asisten praktikum Deteksi dan Pengukuran Radiasi, curhatnya Leo yang hobi keramas setiap pagi dan malem, serta curhatnya Mega yang bulu keteknya nggak pernah dicukur. Lama kemudian datenglah Irwan dan kita pun beranjak meninggalkan tempat itu.

15.30 – 16.50

Lokasi: Sekretariat BEM KMFT UGM

Aktivitas: Istirahat sore

Setelah Ashar, sedianya gue mau berangkat ke GSP untuk rapat KKN. Tapi sekali lagi, badan yang kurus kering begeng kerempeng cacingan dan six pack ini terasa sangat lelah dan letih untuk diajak bekerja. Akhirnya daripada memaksakan diri dan berujung di rumah sakit Sarjito atau kuburan Pogung, gue memutuskan untuk nangkring di BEM dulu. Segera gue rebahkan badan, dan nggak perlu nunggu waktu lama untuk mata gue ini bisa terpejam.

Di sebelah gue juga ada si Ade, yang semalem ikut ke Parangtritis dan tadi pagi ikut pembekalan KKN serta siangnya juga terlihat lagi kerja kelompok di KPTU. Sama kaya gue, Ade juga menjadikan BEM ini sebagai tempat peristirahatannya. Jadilah sore ini kita berdua lomba ngorok2an di BEM. Gue jadi vokalis utama, si Ade jadi backing vokalnya.

Jam setengah 5-an akhirnya gue bangun. Karena nyawa gue masih belom terkumpul seluruhnya, gue nggak langsung berangkat ke GSP. Iseng2 gue baca Buku Pesan jaman dulu yang kegeletak nggak jauh disana. Buku Pesan yang menjadi saksi kegagalan gue menapaki karir sebagai Kadep Kastrat. Buku Pesan yang menjadi saksi perpisahan gue kepada orang2 BEM di penghujung 2008. Buku Pesan yang gue pake untuk pamitan kepada kabinet BEM 2009. Tapi nggak tau kenapa, kok ternyata periode sekarang gue masih eksis di BEM ya?

Setelah nyawa gue komplit, barulah gue berangkat menuju GSP. Tarik Maaaang…!!!

16.50 – 18.20

Lokasi: GSP Sayap Timur

Aktivitas: Rapat KKN

Sampe GSP anak2 udah pada ngumpul. Ada Bram, Putri, Hasan, Nanda, Fita, Vela, Nana, Jafar, Didi, Dani dan Naga. Ternyata, rapatnya belom dimulai. Rapat baru dimulai persis beberapa detik sebelom gue dateng. Tapi tetep aja gue mesti bayar denda. 3000 rupiah gara2 telat, plus 5000 rupiah gara2 minggu lalu nggak dateng pake izin, soalnya gue lagi di Pantai Depok lagi main air bareng anak2 PSDM. Di tengah acara, nongol Fariz, Nicky dan Ponti. Sementara Naga harus pergi gara2 ada rapat diklat pepala.

Sebenernya rapat ini nggak bisa dibilang rapat sih. Ini cuma forum rutin mingguan yang kita adain untuk saling mengenal dan mengakrabkan diri lebih lanjut, mengingat kedepannya Insya Allah kita bakalan ditempa selama 2 bulan full di sebuah desa di Lombok sana. Jadilah kita ngobrol2 aja sampe Magrib, plus Magrib berjamaah di GSP.

Biasanya, abis rapat kita langsung pulang dan sibuk dengan urusan masing2. Tapi sore ini kita sepakat untuk makan malem bersama. Setelah negoisasi sana-sini, akhirnya kita sepakat restoran Pondok Cabe lah yang akan menjadi tempat kita mengisi perut malem ini.

18.20 – 20.20

Lokasi: Restoran Pondok Cabe

Aktivitas: Makan malem

Ini pertama kalinya gue makan di Pondok Cabe. Dari namanya, ketauan bahwa menu utama dari restoran ini adalah sambel2nya yang hot dan sexy itu. Tapi sedihnya, gue adalah orang yang nggak kuat makan makanan pedes. Setiap makan pasti gue nggak pernah pake cabe atau sambel. Jadilah di lidah gue, mau itu Pondok Cabe, Spesial Sambal atau Extra Hot, semuanya sama aja kayak restoran2 lainnya yang nggak menspesialkan menu sambel2an.

Semua orang yang tadi dateng rapat pada ngikut makan disini, kecuali Naga sama Ponti. Sepiring nasi goreng udah cukup untuk menu gue malem ini. Dari namanya, Pondok Cabe, pasti nasi goreng ini pun bakalan pedes juga. Jadilah gue berinisiatif untuk nyingkirin dulu potongan2 cabe yang ngumpet di balik nasi supaya nggak ikut kebawa masuk ke mulut gue.

Selepas makan, Fita yang paling muda sendiri ngerasa mupeng ngeliat home band yang dari tadi menghibur para pengunjung Pondok Cabe dengan lagu2 yang mereka bawain. Dia pengen ikutan nyanyi disana. Tapi malu gara2 nggak ada temennya. Lalu si Fariz yang punya wajah mirip bintang bokep papan atas segera memberanikan diri untuk ngomong sama mas2 home band tersebut, bahwa si Fita pengen ikutan nyanyi.

Sempet malu2 kucing selama beberapa saat, akhirnya setelah dipaksa oleh kita semua, Fita memberanikan diri untuk maju ke depan, ikutan nyanyi bareng home band. Dan di salah satu lagu dia duet bareng Fariz. Duet Fita-Fariz ini mengingatkan gue akan sebuah film jaman dulu yang berjudul “Beauty and The Beast”. Hohohohoho…

Sementara si Hasan, paling nggak bisa diem kalo denger musik2 kaya gini. Bawaannya pengen goyang terus. Apalagi kalo ngeliat ada tiang nganggur, wah udah deh semakin menjadi2. Keinginannya untuk bergoyang sambil gesek2 di tiang udah nggak tertahankan lagi. Jadilah gue dan Nanda harus bekerja keras untuk menahan hasrat Hasan tersebut. “Jangan disini San, kamu lagi nggak bawa shampoo kan?”

Selesai nyanyiin 3 lagu, Fita balik lagi ke meja. Dia mengaku kalo sebenernya dia belom puas dan masih pengen nyanyi lagi. Tapi kalo dia nyanyi disitu terus, bisa2 Pondok Cabe bakalan kehilangan pengunjungnya. Akhirnya Nana dkk pun ngajakin untuk karaokean aja. Ajakan yang nggak bertepuk sebelah tangan. Lebih maknyusnya lagi, Fariz yang udah punya penghasilan sendiri dari aksi2 kriminalnya, bersedia untuk ngebayarin kita karaokean! Di ruangan yang gede, 2 jam! Jadilah Heppy Puppy menjadi destinasi kita setelah Pondok Cabe ini.

Tapi ternyata nggak semuanya ikutan. Bram dan Jafar pengen pulang gara2 pengen nonton Milan vs Catania, yang berujung dengan skor 2-0 untuk Milan. Pun demikian dengan Dani. Dengan segenap makhluk tersisa, kita segera melangkah menuju Heppy Puppy.

20.20 – 22.40

Lokasi: Heppy Puppy

Aktivitas: Karaokean

Wuaaaaah… Udah lama gue nggak karaokean! Terakhir karaokean adalah waktu Tam-Tam ngadain farewell party akan kelulusannya dari S1 Fakultas Hukum UGM yang diadain di tempat yang sama dan ruangan yang sama dengan malem ini, bareng anak kos2an. Kini setelah 2 bulan berlalu, akhirnya gue bisa menyalurkan bakat terpendam gue ini, yang saking terpendamnya sampe gue sendiri nggak tau gimana cara ngeluarinnya!

Bintang di malem ini jelas si Fita, yang emang hobi nyanyi. Plus Nanda, yang juga merupakan vokalis di band Teknik Nuklir yang ada gue sebagai bassisnya. Juga Didi, yang kalo nyanyi hobinya teriak2 persis kaya vokalisnya Aerosmith keselek jagung bakar! Jangan lupa Nana, yang paling semangat buat goyang, lagu genre apapun bisa dibuat untuk goyang. Serta Hasan, yang tadi udah gue bilang paling nggak tahan untuk goyang. Apalagi kalo denger lagu dangdutan, wuaaaah jangan tanya… Untung aja di ruangan ini nggak ada tiang. Kalo pun ada pasti Hasan bertiga sama Fariz dan Nanda udah langsung beratraksi. Huehehehe…

2 jam telah berlalu dan sesuai janjinya, Fariz lah yang ngebayarin semuanya. Sekitar 207ribu rupiah harus keluar dari kocek Fariz. Nggak lupa, kita sempetin diri untuk foto2 dulu di Heppy Puppy, minta tolong mbak2 resepsionis buat motoin. Dan setelah semua selesai, akhirnya kita pulang kembali ke kandang masing2.

22.40 – 23.50

Lokasi: Kosan Karangwuni C-19

Aktivitas: Capek deeeeh…

Jam 11 kurang akhirnya gue kembali ke kosan gue tercinta, setelah sebelomnya nganterin Hasan pulang dulu. Sejatinya badan gue yang berotot dan six pack ini udah capek banget, tapi mengingat masih banyak kerjaan untuk esok hari, jadi gue nggak bisa langsung tidur.

Sampe di kosan, gue ngerasa lantai kosan gue penuh dengan debu2 yang entah darimana datangnya. Karena gue cinta kebersihan dan si kebersihan pun juga cinta sama gue, akhirnya gue ambil sapu dan gue bersihin kosan gue. Dimana2 orang mah nyapu pagi2 atau sore2, ini malah malem2. Sambil nyapu juga sekalian gue beresin kamar gue yang sedikit berantakan. Biarpun kesannya berantakan, tapi untuk ukuran laki2, kamar gue termasuk bersih dan rapi lho! Nggak percaya kan? Ya sama, gue juga nggak percaya…

Abis beres2, tugas lain masih menanti. Gue belom bikin draft praktikum buat besok. Jadilah gue kerjain draft parktikum itu. Karena belom ada kepastian besok dapet praktikum yang mana, sekalian aja gue bikin draft buat 2 praktikum, biar besok nggak ribet. Sementara laporan praktikum yang sedianya mau gue kerjain hari ini, masih tetap tergeletak dan terbengkalai seperti sedia kala.

Selesai bikin draft, gue beres2 tas dan ngisi tas gue dengan properti yang bakal gue bawa kuliah besok pagi, supaya besok pagi gue nggak perlu repot preparasi lagi tapi tinggal ambil tas dan langsung berangkat. Setelah tas gue beres, barulah gue rebahan di karpet. Gue kalo tidur emang nggak pernah di kasur, lebih milih untuk tidur di karpet. Kasurnya gue berdiriin dan gue senderin ke tembok. Emang apa enaknya tidur di karpet? Ya nggak tau sih, sama aja kok. Tapi mau itu karpet atau kasur, bakal lebih enak lagi kalo ada seorang istri yang nemenin tidur gue malem ini. Wuuuuaaaaaaah…!!! Istrinya siapa hwayooo???

Koran Republika hari ini belom selesai gue baca semua. Sambil rebahan di karpet, sambil gue baca tuh koran. Dan sekali lagi, nggak perlu waktu lama buat gue sukses terlelap berselimutkan koran tersebut. Zzzzz… Grooook… Zzzzz…

SELESAI

Ending:

Subhanallah Alhamdulillah, benar2 hari yang membahagiakan, bertemu banyak orang, melakukan banyak kegiatan, terus bergerak selama 24 jam, dll. Sangat kontras dengan keseharian gue yang biasa gue habiskan seorang diri berteman laptop dengan microsoft wordnya, atau dengan buku2 yang setia menemani hari2 gue. Seandainya setiap hari adalah penuh warna seperti ini…

Tapi kalo setiap hari kaya hari ini,

TERUS GUE BELAJARNYA KAPAN?

Tugas kuliah yang terbengkalai…

Laporan praktikum yang tergeletak…

Makalah yang menunggu ditulis…

Tugas presentasi yang terlupakan…

Nuklir oh Nuklir…

3 comments May 5, 2009

MenkoEksternal #4

Another month has passed. That was April, the month when we had something called UTS, known as “Ujian Tidak Serius” (while UAS is known as “Ujian Agak Serius”). Those UAS were held for 2 weeks, and Bem’s activities are stopped for a while during the UAS.

Now, lets go review what I had done on April. Check this one out!

1st April

There is another university who comes visit our college. In January, that was Widyagama University, Malang. In February, Skin-Tehcnology Academy was the one. There were no university came to Engineering Faculty on March. And on April, there was a university who came here. The biggest university in Banten Province. It was Untirta, Sultan Ageng Tirtayasa University.

We were welcoming them on KPTU. About 60 Untirta’s students were come. It was so lovely to saw our friends from far away. Because, university students are the persons who will be this country next leader, so it was an important thing to make a relationship with those next leaders.

1st April

Another event also held on this day. An installation for all BEM newcomers (note: installation here means “pelantikan”, not “instalasi” like what we use on computer program). But sadly, not all newcomers were came.

1st – 6th April

I was pointed to be a coordinator for a little committee called Palelu. Palelu is a committee built to socialization about Pemilu, also known as general elections. The Pemilu itself will be held on 9th April. Due to the low-respect from engineering student, as a BEM we had a duty to socialize it to them. While Palelu is a simple-call for “Pasukan Peduli Pemilu”.

There were 3 divisions on Palelu. First is media, second is stand, and the last is simulation. They were work about a week. Even though the target person wasn’t that much, but I did appreciated to they who had been participated on Palelu. Salute!

4th April

There was a little conflict on internal BEM’s situation. It started because a single memo wrote on BEM’s Message Book. And together with Fauzi, both we were initiative to hold a little family forum called Forga, Forum Keluarga. About 13 persons were come. I don’t really know are they felt free and satisfied about the summary of this Forga. But I hope it can make our relationship getting better dan more even better.

19th April

I had invited by Ganendra, the vice president of BEM KM UGM. He wanted to invite all of BEM-Faculty’s vice president and organized a forum called “vice president’s forum”. Because our BEM doesn’t has a vice president, so I was the one whose been selected to be a representative from Engineering Faculty, due to my position as a Menko Eksternal.

26th April

This was the last week on April. And I had 2 events were held on this day. First is Sambatan, Sambil Kerja Bakti Pererat Persahabatan. It was KRT’s program, a monthly event with purpose to clean-out BEM’s office. And then, I was invited by PSDM to participate on their Forga at Depok beach, Bantul. It was so lovely to having my body burn by sunshine, all day long in Depok beach, together with its soft sand and blue sea. Also, we didn’t forget to eat seafood there. I choose squid with oyster sauce for my breakfast-lunch. Mmmm… Yummy…

That is our review on April. There aren’t so many events, because people were busy with UAS, and so many committees were built and start to work this month. It means that the events will be happen more on May. So, let’s go welcoming May!

Add comment May 5, 2009

BingungNgasihJudul

“Kuesioner.

Menurut kamu, apa sifat/kepribadian C-Kink yang kamu nggak suka?

Silahkan jawab dengan sejahat2nya dan sekejam2nya. Thank q.”

Mungkin ada beberapa diantara lu semua yang ngerasa familiar dengan susunan kalimat diatas. Familiar karena kalimat tersebut pernah nangkring selama beberapa waktu di inbox lu. Bukan begitu? Bukaaaaan… Meskipun mungkin nggak semuanya yang me-reply kalimat tersebut. Uhehehe..

Mirip dengan kasus pemilu 9 April kemaren, baru2 ini gue buka kuesioner terbuka kepada temen2 gue. Kali ini temanya bukan tentang pemilu lagi, tapi tentang sifat/kepribadian C-Kink yang nggak disukai oleh makhluk2 di sekitarnya.

Kuesioner ini disebar melalui handphone dengan menggunakan operator yang memberikan 100 sms gratisan di pagi hari. Jadilah sms2 itu gue sebar selalu sebelom jam 12 siang. Plus, karena cuma bisa maksimal 100 sms per hari, jadi waktu penyebarannya pun gue bagi jadi 3 hari, yaitu selama Selasa sampe Kamis 28 – 30 April 2009.

Yang menjadi responden, sekali lagi adalah orang2 yang namanya terdaftar di phone book gue. Selama 3 hari itu ada kira2 159 sms yang disebar. Dan sampe tulisan ini ditulis, cuma ada sekitar 58 orang yang ngasih balesan. Jauh lebih sedikit dibanding kuesioner pemilu kemaren yang jumlah responden yang nge-reply nya mendekati angka 100 ekor.

Tapi karena jawaban yang diberikan disini sifatnya abstrak, dalam arti nggak ada pilihan2 yang gue tawarkan untuk dipilih, jadi gue nggak bisa buat diagram/tabel tentang sifat/kepribadian apa yang ada di diri gue yang dominan nggak disukai oleh sebagian besar makhluk. Jawabannya pun bervariasi, mulai dari yang kritis, yang galak, yang malu2, yang cari aman, yang jawabnya ngaco, dan yang nggak mau jawab.

“Silahkan jawab dengan sejahat2nya dan sekejam2nya.”

Kenapa harus sejahat2nya dan sekejam2nya? Karena sadarlah wahai manusia, betapa manusia itu diciptakan dengan sifat kikir lagi berkeluh kesah. Dan kecenderungan manusia adalah menuruti hawa nafsunya. Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap harta, jabatan, wanita dan pujian. PUJIAN! Itu kata kuncinya. Bukan Pudji Indrawati lho, itu mah nama nyokap gue…

Manusia adalah makhluk yang haus akan pujian. Seringkali manusia tidak bisa lepas dari kehidupan tanpa mengharapkan pujian. Seringkali muncul riya2 kecil akibat terlalu berorientasi pada pujian.

Namun tak selamanya pujian itu menyenangkan. Sesungguhnya, ketika kita menerima pujian, maka diibaratkan kita sedang menusukkan sebilah pisau ke leher kita, karena pujian itu ada kalanya bisa lebih tajam dari mata pisau itu sendiri. Mampu menusuk dan membunuh dari dalam tanpa kita sadari.

Pujian seringkali membuat kita lupa diri.Pujian membuat kita terlena dan terbuai karenanya. Pujian membuat kita terbang ke langit2. Semakin banyak pujian, semakin tinggi kita terbang. Tapi karena kita terbangnya di dalem rumah, jadilah kita kepentok atap loteng. PLETOK…!!! Aduh sakit…

Intinya, pujian adalah salah satu sarana untuk mendekatkan diri kita kepada sesuatu yang bernama KESOMBONGAN!

(Kalo nggak sepakat ya nggak apa2, nggak maksa kok yeeeee… Intinya adalah bahwa timbangan itu harus selalu berada dalam posisi yang setimbang, jangan terlalu berat dan juga jangan terlalu ringan)

Jadilah, perlu ada semacam evaluasi untuk menghindari terjadinya hal2 sebagaimana tersebut dalam paragaf di atas. Dalam hidup ini kita berinteraksi dengan banyak makhluk, dan mungkin ada kalanya beberapa mahkluk tersebut merasa nggak nyaman dengan segala polah dan tingkah laku kita selama ini. Tapi sekali lagi, karena sebelomnya kita telah terlalu terbuai dengan segala puja-puji, jadilah kita terlena dan lupa bahwa sejatinya masih banyak makhluk2 yang tidak nyaman dengan sifat/kepribadian kita.

Atas dasar itulah gue membuat kuesioner kaya gini, kuesioner terbuka yang mempersilahkan seluruh responden untuk mengkritisi eksistensi dari seekor C-Kink selama hidup di dunia ini. Ini bukan masalah krisis identitias sebagaimana pertanyaan salah satu responden, tapi ini adalah masalah bagaimana menganalisis segala SWOT yang ada di diri kita untuk kehidupan bermasyarakat yang lebih baik lagi nantinya. Karena, harapan itu masih ada, Insya Allah. Mari kita dukung terus. LANJUTKAAAAAN!!!

Oh iya, melalui tulisan ini, gue juga mau ngucapin terima kasih banyak buat lu semua yang udah ikhlas untuk me-reply sms gue (kalo lu emang pada ikhlas). Segala masukan dari kalian amatlah berharga dan akan selalu gue simpan di tempat sampah. Ups… Maksudnya tersimpan selalu di dalam hati. Hatinya siapa, gue nggak tau deh… Hohohoho…

Mohon maaf juga kalo mungkin kuesionernya cuma 1 arah. Maksudnya, gue ngasi pertanyaan ke elu, lu jawab sms gue, tapi gue terus nggak ngasih feedback atas jawaban lu. Ya harap dimaklumi, karena persediaan pulsa adalah terbatas, jadi nggak semua jawaban bisa dikasih feedback balik. Huh, lagi2 terkendala di masalah dana. Dasar pemerintah kapitalis, nggak mau mengalokasikan dana lebih untuk kegiatan riset2 ilmiah! Jangan kita dukung terus. JANGAN LANJUTKAAAAAN!!!

Jadi sekalian aja deh disini mungkin bisa gue kasi feedback dikit2. Sebenernya sih bukan feedback, tapi komentar gue atas kritik-saran yang masuk. Itu pun dikemas dengan bahasa yang jauh dari kata serius. Huehe…

Mau tau beberapa jawaban mereka atas pertanyaan gue? Nih, silahkan dibaca. Sekali lagi, nama2 responden gue rahasiain. Dan komentar dari gue ditulis dalam kurung serta ditulis miring. Kalo tulisannya nggak miring, kepala lu sendiri aja yang dimiringin…

Monggo…

Pertanyaan:

“Kuesioner.

Menurut kamu, apa sifat/kepribadian C-Kink yang kamu nggak suka?

Silahkan jawab dengan sejahat2nya dan sekejam2nya. Thank q.”

Jawaban:

Mahasiswi, 22, Depok

“Sok keren, kalo bercanda suka bablas, jadi nyakitin.”

(Maklum lah hobi nonton F1 yang pembalapnya keren2 dan suka bablas sana-bablas sini. Kalo sakit periksa ke dokter aja)

Mahasiswi, 19, Depok

Jahat… Gue di katain terus! Pelit!! Semena2 kalo sama gue.”

(Wuaaah… Maapkan aku wahai saudariku…Ayo sini gue traktir di burjo. Air putih sama cabe rawit ya)

Mahasiswi, 21, Parung

“Songong.”

(Kenapa mesti nyolot2an… Nyenyenyenyenye… Biasa aja kaleee… Nggak usah pake otot…)

Mahasiswi, 20, Solo

Nggilani.”

(Buajigur…)

Mahasiswi, 21, Jogja

“Pelit, pukil, pethakil. Hahaha.”

(Bahasa mana nih?)

Mahasiswa, 22, Depok

“Suka ngupil sembarangan.”

(Nggak sembarangan kalee. Gue mah kalo ngupil selalu di idung gue sendiri, nggak pernah di idung orang lain)

Mahasiswi, 21, Depok

  1. “Nggak mikir kalo ngomong sampe pernah bikin orang nangis. Huahaha.
  2. Gombal ah.
  3. Kaku
  4. Ceking.
  5. Sok imut.”

(Kalo nangis air matanya di lap donk pake gombal, tuh gombalnya ada kan? Laki2 kalo nggak kaku, ntar istrinya bakalan nggak bahagia donk… Ups ini ngomongin apaan sih?)

Karyawati, 24, Bekasi

“Cuek, nggak peka, nyebelin, nggak pernah kasih kabar sama temen2nya. Kadang2 dudul.”

(Dudul Depok apa dudul Garut? Eh itu mah dodol ya. Dasar dodol! Eh salah, dasar dudul! Dudul dasar…)

Mahasiswi, 21, Bogor

“Kenape lo? Sableng lo kambuh lagi? Aneh… Ada orang minta dihina-dina. Berhubung gue baik, gue nggak mau ikutan menghina lo. Hoho…”

(Ini sebenernya yang sableng siapa ya?)

Mahasiswi, 19, Jogja

“Matre.”

(€… £… ¥… $… Rp… Cring… Cring…)

Mahsiswa, 20, Jogja

“Sombong dan baik hati, tidak suka menabung, tidak punya peri… … Minta maaf atas kelancangan saya. :-D

(Seseorang bisa tolong panggil penerjemah?)

Mahasiswa, 21, Depok

“Sifat yang nggak disukai (mohon maaf kalo nggak sesuai dan ada kata2 yang nggak berkenan).

Suka terlalu cuek sama keadaan sekitar…

Kadang2 suka let everything flow naturally… Gitu aja kayaknya.”

(Sepakat!!! Jangankan keadaan sekitar, sama berat badan sendiri juga cuek kok…)

Mahasiswi, 21, Depok

“Hahaha… Nyolot dah… Sama cupu.”

(Cupu? Cupu dida cupu didada… Cubida cubida cupu didada… Loh kok malah jadi Nikita Willy?)

Mahasiwi, 21, Jogja

C-Kink itu:

  1. Aneh (nggak jelas).
  2. Kadang pergi+dateng sesuka kentut (hahaha :-P )
  3. Keliatan sombong (nggak tau bener apa nggak)

(Sekalian aja dateng nggak dijemput pulang nggak dianter. Terus gue muncul dari sumur, jalan mendekat, dan bisa nongol keluar dari tivi. Hiiii…)

Mahasiswi, 21, Depok

“Lo tanya sama gue apa yang paling nyebelin dari diri lo?

Lo tu sekarang nyebelin, sombong banget…

Lupa ya sama temen sendiri?

Oiya jadi orang jangan terlalu pendiem, ntar disangka bisu lho… Hahaha.”

(… … … … … … … … … … … … … … … (ceritanya bisu. Huehe))

Mahasiswi, 21, Jogja

“Aslm, aku nggak tau sifat jeleknya Mas C-Kink, yang aku tau Mas C-Kink baik2 aja^^, aku kan belom terlalu kenal pribadi Mas C-Kink gimana^^.Hehe…”

(Ya makanya ayo kita saling mengenal pribadi kita lebih deket lagi. Istilahnya ta’aruf gitu… Hohohoho…)

Mahasiswi, 19, Jogja

“Mas C-Kink itu keras kepala. Kalo punya pendapat pasti kekeuh mempertahankan pendapat tapi kurang menerima pendapat orang… Itu kalo kata ku lho… Jangan marah ya Mas… Ampun. He…”

(Hei hei hei nanti kamu pulang lewat mana? Ntar aku cegat loh! Bakalan aku ajak traktir makan di Iga Bakar! Hehe…)

Mahasiswa, 21, Bogor

“Pendiem… Tapi cool kok… :)

(Kriiik… Kriiiik…)

Mahasiswi, 21, Depok

“Sifat apa ya Kink? Suka nakut2in. Hehe… Kalo nggak, lebay dan sok lucu.”

(Please deh… Jangan lebay… Jangan paksa aku ‘tuk begitu-begini… Kyaaaaa Tika-Tiwi!!!)

Mahasiswi, 19, Jogja

“Kadang2 meremehkan diri sendiri tapi bisa disaat yang lain, membunuh orang lain. Yang paling aku nggak suka, Mas unpredictable.”

(Hah masa? Udah berapa orang yang aku bunuh? Waaaa… Berapa banyak darah lagi yang harus tertumpah?)

Mahasiswi, 21, Depok

“Suka aneh… Hehe…”

(Biarin aja aneh, yang penting nggak jelas yeee…)

Mahasiswi, 21, Depok

“Eh gila, buat apaan sih nanya2 begituan… Penting?”

(Nggak kok, buat lu mah nggak penting)

“Ya jangan nangis donk… Yang gue nggak suka, lu tuh belom jadi pejuang sejati seperti apa yang lu gembar-gemborkan selama ini. Lu pikir aja sendiri…”

(Pejuang, adalah PErempuan berbaJU panjANG… Wah gue mesti beli jilbab nih…)

Mahasiswi, 21, Depok

“C-Kink itu pendiem… That’s it… Kadang gue suka gemes aja sama lo. Kayaknya susah banget dah buat ngomong. Hahaha…”

(Kalo gemes dicubit aja sini… *cubit* Auw sakit! Masa gue dicubit pake tang?)

Karyawan, 21, Jakarta

“Kepribadian jeleknya C-Kink:

Jadi orang dibalik layar melulu alias ngumpet a.k.a jarang tampil…

Cuek banget, tapi Alhamdulillah nggak sampe apatis.

Kalo bisa lebih optimis dan agresif lagi…

Udah ah gitu aja… Mudah2an bermanfaat dan bisa jadi lebih baik… Piss bro… ;-) .

Btw gantian ah giliran lu sekarang.”

(Kalo kata pepatah,”Dibalik layar masih ada layar…” Hohoho…)

Mahasiswi, 21, Bogor

“Kemisteriusan lo. Autis. Aneh aja lo mah. Dari luar tampak dingin dan pendiem sangaaaat. Taunya aslinya jauh dari kata pendiem… Hahaha.

Tapi nggak apa2. Jadikan kemisteriusan lo itu sebagai keunggulan komparatif lo yak.”

(Misterius? Aduh, gue harus tetep bertahan menyembunyikan jati diri gue sebagai sosok seorang vampir di film Twilight!)

Karyawati, 21, Depok

“Semuanya yang ada di C-Kink aku ngga suka… Hihi… :-P :-P

(Ah masa sih… Belom liat kan senjata rahasia gue… Huehehe…)

Mahasiswa, 19, Jogja

“Kalo menurutku sifatnya nggak ada yang ku suka, baik kok orangnya…”

(Sekali lagi, tolong panggil penerjemah!)

Mahasiswi, 21, Bandung

C-Kink itu sok cool.”

(Sepakat, cool & calm! Gue malah nggak bisa ngebayangin kalo gue berubah jadi pribadi yang hot & sexy!)

Mahasiswa, 20, Jogja

“Nggak mau ngajarin aku klentingan gitar sampe bisa :-P

(Sini aku ajarin. Setengah jamnya 20ribu rupiah. Mau mau mau?)

Mahasiswi, 20, Jogja

“Aneh…

Kayak anak kecil…

Nggak nyambungan…

Ke-PD-an…

Hahaha, nah lho… PUAS?? Pisss ^^v”

(Kaya anak kecil? Asiiik berarti gue imut donk!!! (Nggak nyambung))

Mahasiswi, 20, Jogja

“Terlalu kalem, kurang tegas, kurang supel, kurang berkarakter, bercandaannya kadang garing. Mmmm… Apalagi ya? Terlalu kurus po ya? Haha, pizz… ;-)

(Segini terlalu kurus ya? Oke deh ntar aku coba minum WRP Slim Shape biar jadi lebih langsing… Hihihi)

Siswi SMA, 17, Depok

“Menurut saya PRIA itu dewasa, beda dengan COWOK yang masih mencari jati diri.”

(Lah terus gue yang mana? Pasti jawabannya nggak ada diatas, kan akika betina bo…)

Mahasiswi, 21, Depok

“Sifat C-Kink yang nggak pernah bales sms gue… Itu bisa dikategorikan sebagai sifat sombong tau… Padahal isi smsnya baik2… Itu aja… Sekian dan terima kasih.”

(Mungkin para operator seluler juga berkata yang sama… “Raih 88 Suzuki Swit setiap harinya selama 85 hari! Ketik KEJAR kirim ke bla bla bla bla bla…”)

Mahasiswi, 20, Jogja

“Terlalu kritis, sampe kalo liat inget RS… Hehehehe… -kidding-“

(Berikanlah daging mu padaku… Uwoooo…)

Mahasiswi, 19, Jogja

“Mas C-Kink sukanya bawa2 kembaran… Padahal aku kan ngak kembar… T.T”

(Huiks… Ini gara2 si Nicholas Saputra sering dibilang kembaran sama aku…)

Mahasiswi, 19, Jogja

“Karena aku merasa belom tau kepribadian Mas C-Kink yang sesungguhnya, rasanya aneh kalo berkomentar tentang sifat jelek Mas C-Kink… Jadi aku bilang aja yang aku tau, menurut persepiku Mas C-Kink itu seperti apa…

Seseorang dengan gaya bicara teratur, bisa menahan emosi, banyak ide = kreatif, lebih banyak diem, bicara hanya bila diperlukan, lebih suka mengeluarkan aspirasi lewat tulisan… Tapi di sisi lain, ada kegilaan2 yang nggak terduga, yang bertolak belakang dari sikap lebih suka diemnya itu… Oh ya, ada lagi… Narsis… He…

Itu aja sepertinya…”

(Hmmm… Teruskan perjuangan mu, anak muda! Narsis is the music of my country!)

Mahasiswi, 21, Depok

“Aslm. Maaf sebelumnya… ^,^. Agak feminim dalam bertutur kata, cukup nyeleneh, nggak jelas. Makasih atas kesempatannya… Semoga bermanfaat ;)

(Aiiih masa sih bo, emangnya akika terlalu feminim ya? Aduwh gimandang dong bow…)

Mahasiwi, 20, Jogja

“Kacrut, kupret, ketek.”

(Lagi2, tolong panggilin penerjemah khusus bahasa kucing ya!)

Mahasiswa, 19, Jogja

“Aku belom menemukan kepribadian Mas yang aku nggak suka.”

(Ah, kamu terlalu jujur anak muda… Setelah baca tulisan ini, pasti langsung nemu banyak kan?)

Mahasiswa, 20, Jogja

“Cuek, naif sama kurus. Lagi identity crisis ya?”

(Bukan kok, cuma lagi penelitian buat tugas akhir)

“Tai, emangnya lu anak psikologi! Udah ngambil TA lu ya? Lulusnya jangan buru2, bareng2 aja…”

(Iya, psikologi kenukliran insya Allah. Mau lulus lama kok ngajak2… Hohoho)

Mahasiswi, 19, Jogja

“Bermuka judes. Eh itu sifat bukan ya… Piss…”

(Judes kaya lagunya The Beatles: Hey Judes… Don’t make it bad… Take a sad song… And make it better…)

Mahasiswi, 20, Jogja

“Dingin, tak berperasaan, non ekspresi, keliatannya introvert dan tertutup. Hehe.”

(C-Kink: Dingin dingin… Empuk!)

Mahasiswi, 19, Jogja

“Bingung, males mikir, hehe.”

(Kalo gitu pertanyaannya diganti deh: Parameter konstanta Taylor pada material air untuk energi neutron 1 MeV diketahui A=19.601, -α1=0.09037, – α2=-0.02522 dan μ=0.07066. Tentukan besarnya Faktor Build Up! Ayo dipikir!)

Mahasiswi, 20, Jogja

“Mas C-Kink tidak pernah mentraktirku… Hahahaha. Piss.”

(Aduh, ini secara tersirat ngajakin supaya kita dinner berdua ya? Huehehe)

Mahasiswi, 21, Bandung

“Sifat dan kepribadian C-Kink yang nggak disuka: suka makan rumput, berjenggot dan bertanduk.”

(Tambahin: kalo digodain suka nyeruduk. Dan kalo diajak ngomong cuma bisa jawab “Mbeeeeek…!!!”. Kurang ajar emang gue gajah! Eh salah ya?)

Mahasiswi, 22, Jogja

“Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan, itu yang menjadikan seseorang itu unik… Jadi, buat kuesioner ini jawabannya nggak ada (pasti seneng dijawab kaya gini).”

(Terus besok2 aku nanya ke kamu: apa sifat/kepribadian C-Kink yang kamu suka? Jawabannya juga sama “Nggak ada (pasti seneng dijawab kaya gini)”)

“Suka maksa”

(Lagi donk, yang banyak)

“Suka maksa,

Suka maksa,

Suka maksa,

Suka maksa,

Suka maksa,

Suka maksa,

Suka maksa,

Suka maksa,

Suka maksa,

Suka maksa,

Iseng.

Udah cukup?”

(Cape dueh…)

Mahasiswa, 21, Jogja

“Suka ngupil.”

(Terus habis itu upilnya disentil ke sembarang arah. Tuuiiiing…)

Mahasiswa, 23, Jogja

“Apa ya, waduh kalo itu sulit. Ana akan merasa salut sama antum jika antum bisa mencari sendiri kejelekan antum. Kalo udah bisa kasih tau ana ya! :-)

(Kalo nyari dari sudut pandang sendiri sih udah. Sekarang waktunya nyari dari sudut pandang orang lain)

“Biasanya mencari kejelekan sendiri itu lebih sulit daripada mencari kesalahan orang lain. Belum tentu pendapat orang lain itu bener, akan lebih akurat jika itu berasal dari diri sendiri.

Kalo dari ana sendiri, ana kurang begitu tau kepribadian antum yang tersembunyi, afwan ya ana nggak bisa bantu.”

(Kalo kata pepatah: “Bagaikan gajah di pelupuk mata, bagai membeli semut dalam karung di seberang lautan”)

Mahasiswi, 20, Jogja

“Yang nggak aku suka? Nggak tau, Mas kepinteran kali yaa… Wkwkwkwkwk…”

(Ho oh. Pinter cari alasan…)

Mahasiswa, 21, Jogja

“Nggak tau bos, kamu jarang keliatan di jurusan… Mungkin itu sifat jelekmu…”

(Terus sifat baiknya apa? “Kamu sering banget keliatan di BEM”. Gubrak…!!!)

Mahasiswa, 19, Jogja

“Kalo si xxxxx kan hobinya berburu bidadari, Mas kebalikannya: Mas yang diburu bidadari!”

(Sumpe loh! Dan semoga bidadari itu bernama Asmirandah…)

Mahasiswa, 21, Jogja

“Mungkin ya Kink, terlalu frontal langsung nanya… Tanpa kamu ngebuka diri dulu. Basa-basi kadang emang dibutuhin…”

(Misi Mas… Ayo mari masuk dulu! Ini tehnya silahkan diminum… Gimana kabar nenek, sehat? Masih suka salto di tengah jalan? (Basa-basi…))

Mahasiswa, 21, Jogja

“Afwan baru bales. Menyendiri, tapi di sisi lain juga bisa team work kok. Maap bila salah.”

(Ini pake majas apa ya namanya? Sendiri tapi bisa teamwork?)

Mahasiswi, 20, Jogja

“Mukanya sok innocent dan terlalu baik hati dan nggak sombong, tapi itu juga yang bikin Mas C-Kink menarik. Hehehe. So potensi plus masalah.”

(Gyaaa… Kamu terlalu jujur, anak muda! Ayo abis ini aku traktir di Hartz Chicken! Huehehe)

Yah begitulah kira2 gambaran dari jawaban yang masuk ke dalem inbox gue. Sekali lagi, gue ucapin terima kasih sebesar2nya atas segala bentuk perhatian yang telah diberikan, karena sejatinya perhatian itu nggak melulu dalam bentuk pujian tapi juga bisa dalam bentuk kritikan sebagaimana yang gue tulis di atas.

Dan yang mesti diinget, Insya Allah semua kritik dan saran tersebut nggak akan sia2, akan selalu terkenang di dalam hati. Meskipun keliatannya di atas tadi gue ngasih komennya terkesan asal2an, tapi aslinya nggak gitu kok. Aslinya jauh lebih ngasal lagi daripada yang gue tulis di sini. Hohoho…

Salah seorang responden ada yang ngirim tulisan kaya gini ke gue:

“Mas, jangan tanya tentang kepribadian pada orang yang belom begitu dekat dengan mu. Aku tadi asal jawab… First sight… Di dunia maya maksudnya. Akan sangat subjektif… Aku nggak tau kamu seperti apa… Kita aja baru kenal.

Maap yo jika tadi kata2nya aneh…

Pagi ini aku belom makan orang, jadi maklum aja… Hehe.”

Dan komentar gue adalah, ya nggak masalah! Kalo ternyata kritikan itu dateng dari orang2 yang emang udah lumayan deket sama gue, itu kan wajar, secara gitu mereka tau keseharian gue. Tapi kalo kritikan itu dateng dari orang2 yang ngak begitu deket atau yang baru kenal sekalipun, itu artinya adalah bahwa mereka mengomentari gue berdasarkan kesan2 awal yang mereka liat.

Jadi intinya, itu adalah kesan pertama yang diliat oleh orang lain ketika mereka ketemu sama kita. Emang sih mungkin nggak bakal lebih objektif daripada yang udah deket dan udah lama kenal, tapi seenggaknya itu bisa jadi feedback buat kita sendiri bahwa ternyata seperti itulah first impression kita di mata mereka. Gitu lho jeng…

Dan tanpa banyak basa-basi lagi, marilah kita akhiri tulisan ini segera, karena gue juga udah capek nulisnya. Yuk yah! Yuuuuuuuk…


Add comment May 5, 2009

WalkingALone

Walking Alone

You know it’s been so long

Since the last time I’m walking alone

I’m walking alone through this city

Just by myself with nobody

With my feet and my foot

I never feel this good

The night was so lovely

Doesn’t care that I’m lonely

Many cars moving anywhere

And the bikes are here and there

See so many people everywhere

But I am here going nowhere

Then I look at the sky

Its beauty makes me want to fly

Because the star shines so brightly

While the moon moves so slowly

But I realized and remember

That I will never fly like a flier

I always point me a finger

Then admit myself a loser

I’m still walking alone

And I’m still keep moving on

Is there any brilliant light

Who will guide me through this fight?

Hour by hour has gone

Day by day also has gone

So does my past, they had gone

And then, I will be the one who’s gone

C-Kink

Yogyakarta, 2 Mei 2009

Add comment May 5, 2009

MalamIni

Malam ini
Aku berjalan sendiri
Di bawah langit malam hari
Tanpa sinar rembulan menemani
Tanpa cahaya bintang menerangi
Hanya awan mendung yang menaungi

Malam ini
Aku berjalan sendiri
Melangkahkan kaki
Mengitari Pogung malam hari

Malam ini
Aku berjalan sendiri
Menuju kosan Rully
Untuk mengembalikan
Buku berjudul “Confession of an Economic Hit Man”
Karya John Perkins dari seberang lautan

Malam ini
Aku telah sampai di kosan Rully
Ternyata lampu kamarnya mati
Kuketuk pintunya
Tak ada jawaban disana
Berarti Rully sedang tidak ada

Malam ini
Aku berjalan sendiri
Menuju kosan Hasan
Yang letaknya berdekatan
Untuk menitipkan
Buku yang hendak ku kembalikan

Malam ini
Aku telah sampai di kosan Hasan
Lampu kamarnya menyala berkilauan
Tapi tidak ada sendal Hasan di pintu depan
Kuketuk pintunya
Tak seorang pun membalasnya
Berarti Hasan juga tidak ada
Dan buku itu harus tetap ku jaga

Malam ini
Aku berjalan sendiri
Menuju kosan Reza
Untuk meminjam buku
Yang sudah lama kutunggu
“Melawan Iblis Mepisthopeles
Bunga Rampai Tinjauan Kritis
Anti PLTN Fisi”

Malam ini
Aku telah sampai di kosan Reza
Ku menuju ke lantai dua
Dan kuhampiri kamarnya
Setelah mengetuk sekian lama
Ternyata Reza tidak berada di kamarnya
Sekali lagi, buku itu harus tertunda ku baca

Malam ini
Aku bingung mau kemana lagi
Jadi aku melangkahkan kaki
Menuju burjo untuk menambah energi

Malam ini
Aku telah sampai di burjo itu
Ku pesan nastel, tempe dan tahu
Serta minum milo disertai es batu
Enam ribu
Uang yang harus kukeluarkan dari kantongku

Malam ini
Aku baru menyadari
Bahwa aku harus ke kosan Andhika
Untuk menyerahkan
PR bahasa Jepang yang harus diselesaikan
Pada hari Senin depan

Malam ini
Aku berjalan sendiri
Menuju ke kosan Andhika
Yang letaknya terpencil di ujung sana
Terjepit antara dua rumah warga

Malam ini
Aku melewati kosan Sazar
Tempat aku biasa membeli pulsa
Serta meng-copy file kuliah dari komputernya

Malam ini
Aku telah sampai di kosan Andhika
Ku telusuri gang menuju kamarnya
Ternyata lampu kamarnya tidak menyala
Kuketuk pintunya
Tak ada jawaban di sana

Malam ini
Aku tau persis kebiasaan Andhika
Dimana ia tidak pernah mengunci pintu kamarnya
Jadi ku dorong saja pintunya
Dan ternyata…
Terbuka!
Kuletakkan PR bahasa Jepang itu di mejanya
Semoga ia melihatnya

Malam ini
Aku tidak tau harus kemana lagi
Jadi kuputuskan untuk kembali
Balik ke BEM lagi

Malam ini
Aku berjalan sendiri
Melintasi Selokan Mataram
Yang airnya bersinar temaram
Memantulkan keindahan cahaya malam

Malam ini
Aku melewati warung Bu Minah
Tempat dulu kita biasa tertawa bersama
Menikmati nasi goreng dengan pedasnya
Diiringi lelucon jayus tanpa makna
Dan obrolan yang membuka segala rahasia

Malam ini
Aku melewati warung Herlambang
Dengan tulisan Ejo yang terpampang
Warung ini butuh banyak kasih sayang
Tapi ingat, ini bukan warung remang-remang

Malam ini
Aku berjalan sendiri
Menikmati Pogung di malam hari
Yang penuh dengan warna-warni
Warna-warni dari para penghuni

Malam ini
Aku berjalan sendiri
Dan ketika kulihat ke atas sana
Bintang bulan masih enggan untuk menyapa
Hanya rintik hujan yang telah mereda
Membasahi bumi dengan cintanya

Malam ini
Aku melintasi jurusan Teknik Sipil
Jurusan yang lebih besar dari seonggok upil
Tempat Primas, Dede, Friski dan Teguh menghabiskan waktu
Demi menuntut ilmu
Untuk mencampur semen, pasir dan batu

Malam ini
Aku telah kembali ke BEM lagi
Dan segera ku buka lemari
Tempat ku meletakkan tas dan kunci
Kunci mobil ku yang setia menanti
Di parkiran Arsi

Malam ini
Aku berkendara seorang diri
Di temani sebuah mobil Toyota Soluna
Yang setia mengantarku kemana-mana
Tanpa pernah lelah apa lagi curiga

Malam ini
Aku telah sampai di kosan Karangwuni
Segera kubuka laptop Eight-Pi
Lalu kupaksa jari-jari ini
Untuk mengetik sebuah puisi
Dan puisi itu, saat ini,
Baru saja kalian nikmati

C-Kink
Yogyakarta, 19 April 2009

2 comments April 20, 2009

Evaluasi3Bulan

Hari itu, di awal bulan Februari, Hayu Miftah Utami selaku Ketua Umum BEM KMFT mewajibkan seluruh PH alias Pizza Hut, eh maksudnya Pengurus Harian untuk nulis harapan, impian, keinginan, target, rencana atau apapun yang ingin dicapai selama 3 bulan ke depan. 3 bulan dalam arti bulan Februari, Maret dan April. Kita semua nulis keinginan kita masing2 di selembar kertas. Terus kertasnya dikumpulin jadi satu, dan dimasukkin ke dalem botol.
Tadinya botol tersebut mau dikubur di dalem tanah biar kesannya lebih nampol. Tapi karena takut nanti lupa nguburnya dimana dan nggak bisa diambil lagi, jadilah botol tersebut dipegang sama Miftah sendiri. Dan botol itu baru boleh dibuka lagi 3 bulan kemudian. Botol yang berisi harapan2 kita semua selama 3 bulan kedepan.

3 bulan kemudian…
(kaya di film2)

3 bulan telah berlalu sejak hari itu. 3 bulan yang sangat singkat, nggak sampe 1 paragraf…
Akhirnya tibalah hari di mana kita bakalan ngebuka botol keramat itu. Di penghujung rapat PH, Miftah Nur Muslimah mengeluarkan botol itu untuk kita buka rame2. Karena botolnya disegel, jadi botol itu kita potong tengahnya pake cutter. Tau cutter kan? Itu loh yang biasa dipake perempuan buat warnain kuku…
Sreek sreeek… Cutter tesebut membelah bagian tengah botol. Dan setelah botolnya kebelah semua, tiba2, wuuuuuuuussssssh….!!! Muncul seonggok jin dari dalem botol tersebut!
Hah, masa iya ada jin nya? Ya nggak lah… Kalau pun ada ya nggak bakal keliatan, kan jin makhluk ghaib gitu loch.
Lanjut lagi. Botol itu dibuka dan kertas2 di dalemnya dikeluarin. Sampe pada gilirannya gue dapet kertas punya gue sendiri. Berisi harapan2 yang gue tulis di bulan Februari lalu Mau tau apa tulisan gue waktu itu? Ini dia…
Idealita

Individu:
- Harus ikut les bahasa Jepang atau Prancis
- Harus ada kejelasan mengenai nasib personal literatur yang udah dikirim ke penerbit
- Harus baca 10 buku dalam 3 bulan ini
- Harus ngeposting 20 tulisan dalam 3 bulan ini
- Harus nyiptain 3 lagu dalam 3 bulan ini

BEM KMFT UGM
- Udah punya koneksi face to face dengan 15 instansi internal UGM
- Udah punya koneksi face to face dengan 5 instansi eksternal UGM
- BEM KMFT UGM harus eksis dan aktif di tingkat eksternal, minimal universitas
- BEM KMFT UGM punya nama dan disegani di tingkat universitas

(catatan: tulisan idealita itu nggak ada di kertas lho, cuma gue tambahin di sini aja)
Kira2 itu hal2 yang gue tulis di kertas itu. Target2 yang ingin gue capai selama 3 bulan. Target nya pun dibagi 2, ada target untuk individu dan ada target untuk BEM dengan porsi gue selaku Menteri Koordinator Lini Eksternal.
Lalu, gimana kenyataan selama 3 bulan ini? Apakah target2 tersebut terpenuhi? Yuk mari kita saksikan realita yang terjadi…

Realita

Individu:

1. Harus ikut les bahasa Jepang atau Prancis
Realita: Sukses!
Nggak cuma les bahasa Jepang atau Prancis, tapi les bahasa Jepang dan Prancis. Les Prancis level 1 udah selesai, dengan status excellent dan nilai tertinggi sekelas. Sekarang lagi coba lanjut ke level 2.

2. Harus ada kejelasan mengenai nasib personal literatur yang udah dikirim ke penerbit
Realita: Gagal!
Terakhir kali ngirim email ke penebit, penerbit Resist Book nggak ngasih respon balik. Sementara Gradien Mediatama belom bisa ngasih jawaban pasti soalnya baru dinilai oleh 2 orang dari seharusnya 5 orang.

3. Harus baca 10 buku dalam 3 bulan ini
Realita: Sukses!
Baca 11 buku dalam bulan ini:
+ Jangan Berlebihan (Manshur bin Muhammad Al-Muqrim)
+ Perilaku-Perilaku Setan (Muswadi Ahmad, LC)
+ Hidup Setelah Mati (Jasim Muhammad Al-Muthawwi)
+ Metode Menjemput Kematian (Al-Ghazali)
+ Fatwa-Fatwa Rasulullah (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)
+ Penyesatan Opini (Adian Husaini)
+ Confession of an Economic Hit Man (John Perkins)
+ Capita Selekta Aliran Sempalan di Indonesia (M. Amin Djamaluddin)
+ Indonesia Butuh Nuklir (Agus Mustofa)
+ Mossad Behind Every Conspiracy (Herry Nurdi)
+ Hypnotic Writing (Joe Vitale)

4. Harus ngeposting 20 tulisan dalam 3 bulan ini
Realita: Sukses!
Posting 21 tulisan di blog. Plus ngirimin 1 tulisan ke 5 media massa, tapi Alhamdulillah nggak ada 1 media massa pun yang mau nampilin tulisan itu.

5. Harus nyiptain 3 buah lagu dalam 3 bulan ini
Realita: Sukses!
Dalam rentang waktu 3 bulan ini berhasil nyiptain 6 buah lagu:
+ Kembalilah
+ Sendiri
+ Hidup Ini Indah
+ Lelah (lirik oleh Cinthya)
+ Pemilhan Umum
+ Di Ujung Lelah (lirik oleh Fina)

BEM KMFT UGM

1. Udah punya koneksi face to face dengan 15 instansi internal UGM
Realita: Belom tau?
Fungsi ini dipegang sama Humas. Tapi belom sempet dapet update-an terbaru dari Humas. Nggak cuma Humas yang punya forum Humas se-UGM, ternyata Advo juga punya forum Advokasi se-UGM. Dan Departemen2 lain juga punya, cuma belom terdata.

2. Udah punya koneksi face to face dengan 5 instansi eksternal UGM
Realita: Belom tau?
Fungsi ini utamanya juga dipegang Humas. Tapi yang udah konkrit dan dipegang langsung oleh Menko Eksternal adalah Universitas Widyagama Malang, Akademi Teknologi Kulit Bantul dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten.

3. BEM KMFT UGM harus eksis dan aktif di tingkat eksternal, minimal universitas
Realita: Anggap aja sukses!
BEM KMFT UGM udah pernah dapet kunjungan dari UWM, ATK dan Untirta. Kita juga diminta ATK untuk jadi pembicara di acara LDK mereka. Untuk tingkat universitas, Humas sempet jadi tuan rumah forum Humas se-UGM. Advokasi juga sempet ngadain training Advokasi rumpun BGST. Sosmas ngasih pembelajaran intensif ke anak2 panti asuhan Aisyah dalam rangka menghadapi UAN. Kastrat ngadain workshop pemilu dengan pembicaranya antara lain adalah orang KPUD Jogja dan anggota DPR RI, serta pesertanya ada warga asing yang tertarik mempelajari sistem demokrasi di Indonesia.

4. BEM KMFT UGM punya nama dan disegani di tingkat universitas
Realita: Anggap aja sukses!
Fakultas Teknik gitu loh, siapa sih yang berani macem2 sama anak Teknik?

Nooooooh, kira2 begono evaluasi gue selama 3 bulan ini. Ayo buat yang lain, tertarik untuk bikin lembar perencanaan dan lembar evaluasi juga? Karena gagal dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan. Dan lebih baik bersimbah keringat di saat latihan daripada bersimbah darah di medan perang. Serta sesungguhnya Allah adalah seperti prasangka hamba2-Nya, dan Allah lebih dekat kepada manusia daripada urat nadi manusia itu sendiri. Harapan itu masih ada, Insya Allah, LANJUTKAAAAN!!!!

Add comment April 17, 2009

MenkoEksternal#3

Once again, another month of my existence as Menko Eksternal BEM KMFT UGM has passed. That was the third. And now i’m facing my next month.

There are no many events were held in March. March was “Makrab Month”. Makrab, known as Malam Keakraban or Solidarity Night was an event held by ministry or BEM itself in purpose to strengthen the relationship between the persons on it. If it is held at night, we call it Makrab. But if it is day, we rename it Sikrab, as known as Siang Keakraban. The difference is only at its time, one is held with stay overnight and the other is held all day long.

There are about 3 Makrab were held in March. The first is Daily Board Makrab. But that wasn’t true Makrab, that was just a Sikrab and we call it Forga, known as Forum Keluarga or Family Forum. All Daily Board were came except Dita from OASE, because she hasn’t felt better since her last accident that cause her to stay overnight at hospital. And so did Sheila who has been pointed to replace Dita’s place, she didn’t came either.
That Forga was held in Prambanan, one of the most popular temple. We came there at about 9 o’clock and left there at 5. But even though we were there all day, we didn’t even touch the Prambanan Temple itself! All we did was just an heart to heart talk, games, exchange gift and absolutely photo sessions. We didn’t have any time to touch the temple. What we did is just took the picture of the temple. How sad…

Then one day after Forga, The Ministry of Sosmas also held a Makrab. It was held ini Parangkusumo Beach, Bantul, South Jogja. We did stay overnight at somewhat inn. We spent the night by playing a card game called “Uno”, the one whom I like to win. And in the next morning, we play at the beach. Playing beach football, play in the sea, had our clothes wet, and also photo sessions, the one that I won’t forget! Every old man here was thrown to the sea, including me. And it was fun that you felt the soft sea water flow through your body.

Next week, The Ministry of PSDM won’t be defeated. They also held a Makrab. If Sosmas did it in beach, then PSDM did it oppositely: the mountain! That was took place in Cangkringan, some place near Merapi. We didn’t stay overnight at inn, but we used citizen’s house for our base camp. But the men should not sleep there. We were sleep at the mosque near there. But I didn’t follow all of event. I came at late night and then left at early morning. Didn’t know what was happened after I left it.

In the middle of the month, there was a talk show that organized by Humas. It was a talk show whom talks anything about how to get the chance to continuing our study in Japan. The speaker were they who had been in Japan.

Talking about Japan, there was a member of BEM that had a chance to study exchange in South Korea. He was Ahmad Nasikun, former leader of The Ministry of PSDM. He was departed at 21st this month. At 20th, we did a little goodbye anniversary for him. Because he will left Indonesia for about 9 months until January 2010. And we did accompany him to Tugu rail station. He will left to Jakarta using a train, and then use an air plane to move to South Korea.

Recruitment limited edition also held this month. There were about 30 new members who registered. They had any task to be done to complete their status as new members of BEM KMFT UGM. One of their tasks is to discuss with one of 3 top boards: Miftah, Fauzi or me. With this, I had a duty to prepare my material of discussion that I was going to discuss with them. That was Motivational Organization, Time Management and Between Ideality and Reality.

Not only that. Another tasks is to stay overnight at BEM and then made a discussion in the morning. Once again, I had a duty to become a speaker at that time. So I had to stay overnight at BEM too and then gave a discussion in the next morning. I was talked about Integrity and Preparing for the Dead.

And then, the final task of limited edition recruitment is somewhat called “Sekolah Kaderisasi”. It was held 2 days full day, start since 8 o’clock morning and ended at about 5 o’clock. And in this event, at the first day I had a duty to give material about Life Planning for them. I spoke in front of the class with a power point slide to tell them anything about life planning. And in the last day, I was pointed to be a judge for the drama presentation.

That was happened in March. There wasn’t a lot of big event, only a little event to strengthen our relationship in BEM itself. And then, my first quarter as Menko Eksternal had passed. What will be happen next?

2 comments April 17, 2009

PemiluPertama

 

 

Pagi2 jam 9-an, gue udah mejeng di BEM. Gue janjian sama Iqbal dan Ratih Monika alias Ramon untuk nyoblos ke TPS bareng. Eh bukan nyoblos, tapi nyontreng. Kita bertiga selaku pemilih yang kena mutasi genetik kebagian jatah nyontreng di TPS 36, dusun Nandan, Sleman Yogyakarta. Dan karena kita bertiga sama2 nggak tau tempatnya, ya udah kita janjian berangkat bareng aja. Biar kalo kesasar malunya bareng2.

Pagi itu gue pake baju warna merah, biar disangka fansnya PDIP. Bawahannya pake celana jins biru, biar disangka konstituennya PAN. Terus atasannya gue dobel lagi pake jumper warna abu2. Partai apa ya yang warnanya abu2? Kalo yang warna biru muda dengan bintang warna putih di tengahnya sih ada, Partai Pemersatu Mahasiswa. Hohohoho…

Jam setengah 10-an si Iqbal dateng. Iqbal, pemuda asal Ciamis yang bau amis, usia 20 tahun, Ketua Departemen Advokasi BEM KMFT UGM, bertanding 23 kali dengan rekor 21 kali menang, 8 kali kalah dan 31 kali seri. Loh kalo ditotal berarti lebih dari 23 kali dong? Ah whatever.

Dan nggak lama kemudian si Ramon alias Ratu Monyet (ups… hihihihi) nongol. Ratih Monika, 20 tahun, gadis asal Tanjung Priok Jakarta Utara, hadiah pelabuhan dari kapal kargo yang baru dateng dari Mozambik. Huehehe…

Lalu setelah ngaca serta dandan biar lebih ganteng, kita bertiga berangkat menuju lokasi kejadian. Sebelomnya kita sama sekali nggak tau TPS 36 dusun Nandan itu lokasinya dimana. Kemaren2 kita nggak sempet survey. Gue dan Iqbal cuma sempet nanya ke beberapa ekor warga asli Jogja, dan jawabannya mengarah ke tempat yang sama.

Responden pertama gue, Heni Oktaviani, bilang kalo dusun Nandan itu letaknya di deket2 Jalan Monjali (MONumen Jogja bALIk maning). Responden kedua, Sigit Nugroho, nggak bales sms gue. (Terus kenapa disini gue tulis sebagai responden ya?) Responden ketiga, Dyah Anindita Wikansari Yudianto Pambudi yang akrab dipanggil dengan panggilan “Bambang”, ngasih info bahwa dusun Nandan di sebelah selatannya ringroad Utara antara Jakal dan Monjali. Responden keempat, Tyaz Busuk, nggak tau tempatnya. Malah dia balik nanya:

 

“Wah dusun Nandan aku nggak tau Mas. Ancer2nya dimana?”

 

Pertanyaan gue kok dibales dengan pertanyaan ya? Ya udah gue kasih aja ancer2nya:

 

“Ancer2nya, dari Jakarta ambil arah Timur, lurus aja terus. Sampe Semarang belok ke Selatan. Terus ngelewatin Magelang, terus sampe ke Jogja. Nah abis dari situ nggak tau lagi kemana.”

 

Dan Tyaz nggak ngebales sms gue. Mungkin dia lagi menangis dan bersedih, kenapa punya temen se-imut gue…

Ya udah, bermodal data yang kita peroleh, kita bertiga naik 2 motor berangkat menuju tempat kejadian perkara. Ancer2nya adalah perempatan Jalan Monjali. Iqbal selaku pengemudi motor, memimpin perjalanan ini. Sementara gue nebeng aja bareng Iqbal. Kalo gue yang bawa motornya, bisa dipastiin kalo kita nggak bakal sampe ke TPS tapi malah nyasar ke RS Sardjito atau Panti Rapih, mentok2 ke kuburan Pogung lah.

Ngelewatin lampu merah Monjali dari arah Selatan, kita belok Timur ke ringroad dan masuk ke jalan kecil ke arah Utara. Tapi di jalan kecil ini nggak ada tanda2 kehidupan, kecuali kehidupan makhluk halus dan sebangsanya. Lalu  kita pun menepi dan nanya ke seekor makhluk yang kebetulan lagi ada disana. Nggak tau deh makhluk ini manusia apa bukan, yang penting tanya aja. Kan ada pepatah yang mengatakan: Bagai pungguk rindukan bulan. Eh nggak nyambung ya?

Karena gue adalah orang paling tua di rombongan ini, jadinya gue harus punya tanggung jawab lebih untuk memastikan keamanan dan keselamatan 2 orang lainnya yang masih muda dan ranum ini. Ya udah, gue pun turun dari motor dan nanya ke makhluk tersebut.

 

“Misi Mas, mau nanya. TPS 35 dusun Nandan itu disebelah mana ya Mas?”

 

Gitu kira2 pertanyaan yang gue ajuin ke makhluk tersebut. Spesial buat lu semua, berikut ini gue terjemahin pertanyaan gue ke bahasa2 asing yang mungkin lu ngerti. Mohon maaf kalo ada yang salah.

 

“Misi Mas, kulo arep takon. TPS 36 dusun Nandan kae ngendi to Mas?”

“Excuse me my Bro, I have a question to ask. Where does the 36th TPS in Nandan village takes place?”

“Excuse-moi Monseour, je suis interroger. Ou est le TPS trente-six a Nandan village?”

“Sumimasen aniki-san. Anoo… San juu roku no TePeSu de Nandan wa dochira desu ka?”

“Guk guk auuuuu… Kaing kaing guk guk kaing?”

“Uka uka wala wala ule ule holala wala uka uka?”

 

*Bahasa2 tersebut secara berurutan: bahasa Jawa, bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Jepang, bahasa lu semua dan bahasanya siapa tau dah…

 

Dan si makhluk yang gue tanya ngejawab,

 

“Wah kalo dusun Nandan di sebelah sana Mas, bukan disini.”

 

Si makhluk itu ngejawab sambil tangannya nunjuk ke arah yang berlawanan dengan arah yang gue tuju. Selaku makhluk cerdas yang hapal peta di luar kepala dengan wawasan geografi yang luas, gue ngerti maksud si makhluk itu. Lalu kita pun pamitan dan gue bertiga melenggang menuju arah yang dimaksud.

Waktu berangkat dari BEM tadi, di pinggir jalan Monjali (sebenernya sih namanya jalan A.M Sangaji, tapi nggak tau kenapa orang2 lebih suka nyebutnya Monjali. Padahal si A.M Sangaji ini kan pahlawan terkenal loh… Hwayoo pada kenal nggak?) gue sempet ngeliat ada TPS. Lalu gue nyuruh Iqbal melajukan motornya kesana buat nanya2.

Nggak lama kemudian kita sampe di TPS pinggir jalan A.M Sangaji tersebut. Ternyata itu TPS 35. Berarti udah deket sama TPS 36. Gue turun lagi buat nanya ke ibu satpam yang mejeng disana. Dan si ibu itu pun menjawab,

 

“Oh TPS 36 itu di gedung serba guna Mas. Ini lurus terus aja, ntar ada gapura, belok kiri!”

 

Gedung serba guna? Emang serba guna bisa buat apa aja? Bisa buat nongkrong, bisa buat olahraga, bisa buat buang jin, bisa buat mesum, bisa buat nginep, dan bisa buat kita gila. Bener2 serba guna…

Kita kembali melaju meninggalkan TPS 35 dan ibu satpam itu untuk menuju arah yang dimaksud. Nggak jauh berjalan, di sebelah kiri jalan ada gang kecil dengan gapura di kedua sisinya. Kita pun coba masuk ke sana. Tapi setelah agak jauh, ini kok malah masuk ke perkampungan gitu. Nggak ada tanda2 TPS. Di pertigaan, kita memutuskan untuk nanya ke warung disana.

Gue turun dari motor dan menghampiri warung tersebut. Gue ngelongok ke dalem, keliatannya nggak ada orang. Lalu gue mulai bersuara untuk memanggil si penjaga warung yang meninggalkan warungnya tanpa pengawalan,

 

“Permisi…”

 

Dan terdengar jawaban,

 

“Iya Mas?”

 

Ada suara perempuan yang ngejawab. Gue ngeliat sekeliling. Sejauh penglihatan gue, nggak ada orang di dalem warung tersebut. Pun demikian di belakang, kanan, kiri, atas atau bawah gue juga nggak ada orang selain Iqbal sama Ramon yang lagi sibuk muterin motornya. Berarti suara perempuan itu punya siapa? Wah hebat juga nih warung, udah punya mesin penjawab suara otomatis!

Rasanya nggak sopan kalo suara perempuan-penuh-misteri itu nggak gue jawab. Sambil tetep mencari dimana gerangan si pemilik suara, gue ngomong lagi.

 

“Misi Bu, mau nanya…”

 

“Iya?”

 

Gue masih nggak bisa nemuin dimana orangnya. Tapi gue tetep nanya,

 

“TPS 36 itu disebelah mana ya Bu?

 

“Oh itu di sebelah Selatan, di gedung serba guna.”

 

Berarti tadi gue salah belok. Mestinya masih lurus lagi aja.

Tanpa tau siapa gerangan si Ibu itu, gue pun pamit.

 

“Oh iya makasih ya Bu!”

 

Dan akhirnya gue pun meninggalkan warung tersebut tanpa pernah tau siapa pemilik suara itu sebenernya. Hiiiii…

Kemudian sampailah kita pada posisi yang dimaksud. Kita nggak nemu gedung serba gunanya dimana. Lalu kita pun nanya lagi ke salah satu warung yang ada di deket sana. Tapi warung ini ada penghuninya secara nyata, bukan warung fiktif sebagaimana warung sebelomnya. Mereka adalah ibu2 penjaga warung dan kakek2 yang lagi mejeng depan warung. Gue nggak sempet ngeliat kaki si ibu ini nyentuh tanah apa nggak, dan gue juga nggak tau si kakek ini punggungnya bolong apa nggak… Ih kok horor gini sih?

Biarpun horor, tapi mereka berdua langsung ngasih jawaban konkrit: Itu di sebelah sana ada TPS, coba kesana aja. Kita pun bergegas menuju TPS yang dimaksud dan: voila! Akhirnya nyampe juga kita di TPS 36! Alhamdulillah… Lalu kita segera masuk ke gedung serba guna tersebut dan disambut dengan senyuman manis oleh pak satpam yang lagi nahan pipis.

Untuk proses penyontrengan ini, kita nggak bisa asal2an. Ada prosedur2 yang harus dilakukan oleh para pemilih dalam proses penyontrengan di TPS. Dan sedikit banyak gue udah tau tentang prosedur ini. Soalnya di Fakultas gue dapet amanah jadi koordinator Palelu (Pasukan Peduli Pemilu) sebuah kepanitiaan yang dibentuk untuk mensosialisasikan pemilu 2009 ke temen2 di Fakultas. Gue juga punya video teknis pemungutan suara yang dapet dari KPUD Jogja.

Buat lebih jelasnya, berikut ini gue tulisin prosedur dalam proses penyontrengan tersebut:

 

1.       Pemilih masuk ke TPS dan mendaftar.

2.       Setelah mengisi catatan kehadiran, pemilih menunggu giliran untuk mendapatkan kertas suara.

3.       Mengambil kertas suara di meja ketua KPPS dan anggotanya.

4.       Memilih di tempat/bilik pemberian suara.

5.       Memasukkan kertas suara yang telah dicontreng.

6.       Mencelupkan jari ke tinta sebagai tanda sudah memilih.

7.       Pemilih meninggalkan TPS.

(Sumber: Harian Republika, Kamis 9 April 2009)

 

Karena gue adalah mahasiswa yang patuh pada peraturan, gue ngikutin prosedur tersebut. Begitu masuk TPS, gue langsung nyari dimana meja registrasinya. Si satpam pun dengan ramah nganterin gue bertiga kesana. Di meja registrasi itu ada bapak2 jenggotan yang lagi megang kertas apaan tau. Kita bertiga mejeng di depan meja si bapak itu, nunggu dapet pengarahan selanjutnya.

Tapi kok si bapak in cuek aja sama kehadiran kita bertiga, nggak kaya si satpam yang ramah dan langsung jemput bola. Plus lagi, gue kan pemilih mutasi, bukan warga sini. Jadi tanpa menunggu kiamat dateng, gue inisiatif buka suara untuk curhat ke bapak itu bahwa kita bertiga adalah pemilih mutasi yang mau registrasi. Mungkin prosedurnya beda atau gimana, jadi gue mau nanya.

 

“Misi Pak, kami…”

 

Belom sempet gue nyelesaiin kalimat gue, si bapak itu mulai buka suara dengan nada membentak,

 

“TUNGGU SEBENTAR! DUDUK DULU SANA!”

 

Buset deh Pak, Belanda masih jauh! Nadanya yang ngebentak itu mungkin ngebuat semua orang di TPS ngeliat ke arah gue. Tapi untung TPSnya lagi sepi. Dan dari pertemuan pertama ini, gue pribadi sepakat untuk menamai bapak ini dengan nama Mr. J, alias Mister JUTEK.

Lalu gue duduk di tempat yang ada tulisannya ”ruang tunggu”, diikutin sama Iqbal dan Ramon. Belom nyampe 1 menit kita duduk, salah seorang bapak di meja Ketua KPPS buka suara,

 

“Ada pemilih yang dari luar daerah?”

 

Pemilih dari luar daerah kan kita bertiga, alias pemilih yang kena mutasi genetik. Lalu kita bertiga melangkah ke meja bapak tersebut. Karena posisinya Ramon paling deket, dia yang dilayanin duluan.

 

“Ini dari luar daerah ya? Berapa orang? Tiga orang ya? Bukti mutasinya mana? Oh ini… Asalnya dari mana? Oh dari Jakarta… Karena mutasi berarti surat suaranya cuma 1 ya, yang untuk pusat aja”

 

*”Pusat” maksudnya surat suara DPR-RI. Jadi kita nggak kebagian milih DPD, DPRD tingkat 1 dan DPRD tingkat 2.

Si bapak ini ternyata friendly, nggak kaya Mr. J di meja registrasi. Akhirnya gue namain bapak ini dengan nama Mr. I, Mister IDOLA.

Kemudian Mr. I nanya ke Mr. J,

 

“Pak itu terakhir nomor berapa?”

 

“Nomor 133.”

 

Mr. I langsung nulis angka 134 di form mutasinya Ramon. Lalu dia memerintahkan Ramon untuk ngambil nomor urut 134 di meja registrasi yang ada Mr. J nya. Ramon pun mengambil nomor urut 134 dari tumpukan, dan dia bawa nomor itu ke Mr. I lagi. Mr. I segera menyerahkan surat suara DPR-RI yang ada warna kuningnya dan mempersilahkan Ramon untuk menuju bilik suara buat nyontreng.

Selesai Ramon, Mr. I ganti ngelayanin gue. Dia nulis angka 135 di form mutasi gue dan mempersilahkan gue ngambil nomor urut 135 di meja registrasi. Gue langsung melangkah menuju meja registrasi dan tangan gue menjulur untuk ngambil nomor 135 dari tumpukan. Belom sempet nomor tersebut gue pegang, lagi2 si Mr. J ngomong ke gue dengan suara kasar,

 

“SEBENTAR! TUNGGU DULU!”

 

Dan tangan gue segera menjauh dari nomor itu, sambil dalam hati gue mikir dosa apa yang telah gue perbuat sama si Mr. J sehingga dia jadi jutek banget sama gue. Ya mungkin dosa gue ke dia adalah karena dia gue namain Mr. J. Eh tapi gue ngasi namanya kan baru sekarang, bukan pas disana?

Lalu gue berdiri mematung di depan meja Mr. J, mematuhi perintahnya untuk tunggu dulu. Nggak tau mesti nunggu sampe kapan. Belom sampe 5 detik, si Mr. I yang ngeliat gue diem aja segera mempersilahkan gue dengan ramah untuk ngambil nomornya,

 

“Itu silahkan Mas nomornya diambil.”

 

Tangan gue menjulur sekali lagi dan gue ambil nomor itu. Sementara si Mr. J diem aja nggak bersuara. Dasar Je, Je…

Abis ngambil nomor, nomornya gue balikin ke Mr. I dan gue dikasih surat suara. Lalu gue menuju ke bilik setelah diperintahkan langsung oleh Mr. I lagi. Gue pun melangkah ke bilik suara. Dan gue nggak ngedenger ada teriakan yang sama yang diberikan oleh Mr. J kepada Iqbal yang dapet nomor 136. Mau lu apa sih Je?

Sampe di bilik suara, segera gue buka surat suaranya. Sejatinya gue udah nggak asing dengan surat suara yang segede gaban ini, soalnya di Palelu kita udah sering ngeliat ginian. Pas surat suaranya gue buka keseluruhan, ternyata bilik sekecil itu nggak cukup untuk menampung lebar kertas. Jadi ada sebagian kertas yang menonjol keluar bilik. Duh kalo gini apa gunanya bilik suara? Dasar KPU dan pemerintah sukanya aneh2 aja… Makanya, ngapain sih kita make sistem demokrasi dan pemilu segala?

Sebelom memastikan contrengan dengan bolpen merah yang tersedia, gue agak bingung milih pilihan diantara 2 partai yang selama ini selalu bersemayam di benak gue. Awalnya sih ada 3 partai, tapi 1 partai udah nggak lolos seleksi tahap awal dan menyisakan 2 ini. Akhirnya dengan bacaan basmalah dan inna lillahi, gue contreng salah satu dari kedua partai tersebut. Contreng… Soalnya kalo gue nyontreng dua2nya ya suara gue bakalan dianggap nggak sah donk…

Selesai nyontreng dan ngelipet surat suara sebagaimana sedia kala, gue melangkah ke kotak pengumpulan suara. Surat suara warna kuning untuk DPR-RI dimasukin ke kotak warna kuning. Hati2 loh, jangan sampe salah masukinnya. Soalnya Rasulullah kan melarang kita berhubungan lewat jalur belakang. Waaaaah ini ngomongin apa sih?

Lalu kita bertiga melangkah ke meja akhir untuk dikasih tinta. Gue memilih jari kelingking kiri gue buat dicelupin ke tinta, soalnya jari kelingking gue yang sebelah kanan biasa gue pake buat ngupil. Ih jorok…

Dan akhirnya kita melangkah keluar TPS lewat pintu keluar, dipandu oleh pak satpam yang jaga di pintu keluar. Nggak lupa kita juga dapet bonus senyuman manis dari satpam yang satu ini. Makasih pak, sama2…

Kemudian kita bertiga pun kembali ke parkiran untuk mengambil motor. Dan tanpa banyak buang waktu, gue Iqbal dan Ramon beranjak meninggalkan gedung serba guna yang di alih fungsikan sebagai TPS 36 itu. Selamat tinggal surat suara… Selamat tinggal TPS… Selamat tinggal bilik suara… Selamat tinggal bolpen merah… Selamat tinggal Mister Jutek… Kelaut aja lu sana!

 

 

TAMAT

 

 

Apakah cerita ini udah tamat? Oh ternyata belom sodara2! Begini lanjutannya:

Sekitar jam 12-an si Ramon sms gue. Dia bilang bahwa dia baru aja dapet sms dari Ketua Garda Pemilu BEM KM yang nggak lain adalah temen SMA nya. Temennya bilang bahwa mestinya tadi kita dapet 4 surat suara, nggak cuma 1 doang. Dengan kata lain, kita juga punya hak untuk milih DPD, DPRD tingkat 1 dan DPRD tingkat 2 untuk regional Sleman ini.

Setau gue, TPS udah tutup jam 12. Dan gue males kesana lagi. Gue nanya balik ke Ramon, dia maunya gimana. Kata temennya lagi, khusus untuk orang2 yang tadi nggak dapet ke-4 surat suara kaya gue, masih ada perpanjangan sampe jam 1. Udah disepakatin sama KPPS semuanya. Tapi gue udah terlanjur males. Jadilah gue nggak kesana lagi. Begitupun dengan Ramon, karena dia nggak tau tempatnya jadi dia juga nggak kesana lagi. Dia mau jalan kalo gue juga mau jalan, sebagai penuntun arah ke TPS 36 itu. Udahlah, daripada balik ke TPS, mending kita jalan aja nonton ke Amplaz atau karaokean di Happy Puppy gitu. Huehehehehe…

Lalu gue segera sms Iqbal terkait berita ini. Dan ternyata beliau udah tau, malahan udah balik lagi ke TPS dan udah nyontreng 3 surat suara sisanya. Wah hebat sekali kau anak muda, dapet info dari mana? Tadinya dia sempet nelpon ke simpati gue, tapi nggak nyambung2. Dan gue mengakui bahwa tadi emang sempet ada yang nelpon ke simpati gue yang gue taro di handphone Nokia 3510. Tapi di tengah jalan tiba2 telpon itu berhenti. Bukan karena Iqbal cuma miskol doank, tapi karena Nokia 3510 gue emang lowbat stadium 4 dan sering mati sendiri. Maklum lah handphone jadul, umurnya lebih tua dari masa jabatan SBY selaku presiden RI.

Dan akhirnya, siang itu gue memutuskan untuk nggak menyontreng 3 surat suara sisanya.

Udah deh, sekarang barulah cerita ini:

 

 

TOMAT

 

 

Eh maap salah tulis… Maksudnya yang bener adalah:

 

 

TAMAT

 

 

 

2 comments April 10, 2009

DLG

 

Di pagi hari ini, gue ngeliat kalender di handphone Nokia 6681 gue. Hari ini, tanggal 10 April, ada catetan yang gue tulis di kalender itu. Dan pas gue buka, ada gambar kado dengan tulisan “DLG” di sebelahnya. Yang artinya, pada tanggal ini DLG sedang merayakan anniversary-nya.

Apa itu DLG? DLG adalah sebuah kelompok ajaib yang aneh tapi nyata yang dibentuk pada taun 2008 tanpa dasar hukum yang jelas dan dibubarkan pada taun 2008 juga tanpa dalil yang menguatkan. DLG merupakan singkatan dari Dialog Lintas Gender, sekelompok 5 ekor anak manusia yang nggak kenapa2.

Dan pada hari ini, DLG merayakan ulang taunnya yang pertama. Dengan lincah tangan imut gue segera mengetik sms anniversary dan gue kirim ke 4 orang personel DLG lainnya.

 

“Asw.

‘..HAPPY BIRTHDAY DLG..!!’

Tepat tanggal ini, 1 taun yang lalu, pertemuan pertama DLG kita.”

 

Nggak perlu nunggu lama, nggak sampe setengah jam kemudian ke-4 ekor alien tersebut telah membalas sms gue, dengan jawaban yang berbeda2 tapi udah gue perkirakan bahwa intinya bakalan sama.

 

Orang pertama:

“Epy biday. Wah, nggak nyangka udah setahun yang lalu.”

 

Orang kedua:

“Huahaha… Ya Kink… Happy birth day…”

 

Orang ketiga:

“Wa’alaikumussalam warahmatullah…

Subhanallah…

1 tahun ya?

Aku lupa lho tanggal pertama kali DLG..

Hepy b’day… ^_^

Btw, DLG bakal ngapain lagi nih? Ada ide?

 

“DLG bakalan dugem di Hugo’s.

Dug jdag jdug jdag jdug jdag jdug… Hihihihihi…

Astagfirullah…”

 

“:D”

 

Orang keempat:

“Wa’alaikumussalam…

Hwaaa, aku nggak inget e Kink (C-Kink atau Dhita ni? Hehe) kalo kamu nggak ngasih tau, hehe…”

 

Gitulah intinya. Dan gue sendiri juga sebenernya nggak bakalan inget kapan pertemuan pertama DLG dilangsungkan, kalo gue ngga baca tulisan2 gue yang lama. Lebih tepatnya tulisan gue yang judulnya “KarenaSetiapHariAdalahBERARTI”. Kalo penasaran tulisannya kaya gimana, silahkan buka blog gue di www.ckinknoazoro.wordpress.com dan dicari aja. Silahkan, nggak usah malu2…

Dan terakhir, tulisan singkat ini harus segera diakhiri sampe sini. Adakah yang tau, apa inti dari tulisan ini? Hanya bilik suara dan bolpen merah itu yang tau jawabannya. Dih emangnya pemilu…

Add comment April 10, 2009

PartaiApaYa

 

“Kuesioner.

Insya Allah pemilu akan diadakan tanggal 9 April besok. Kira2 partai manakah yang cocok dengan karakter dan kepribadian seekor C-Kink?

Ditunggu jawabannya ya.

(mau jawab golput juga boleh)”

 

Sebait tulisan di atas bukanlah sebuah kalimat bijak, bukan nyanyian lirik lagu, bukan pidato Pak RT, juga bukan tangisan anak kecil. Tulisan di atas adalah sebuah sms yang gue kirimin ke temen2 gue beberapa hari menjelang pemilu legislatif 2009.

Pemilu kali ini adalah pemilu nasional pertama yang gue ikutin. Kalo pemilu kecil2an mah udah sering, di UGM sini kan tiap taunnya ada pemilu: Pemilihan Raya BEM KM UGM, Pemilu Fakultas Teknik dan Pemilu Keluarga Mahasiswa Jurusan Teknik Fisika. Tapi kalo untuk tingkat nasional yang terdaftar secara resmi di administrasi negara, belom pernah tuh.

Dulu waktu pemilu 2004, umur gue baru 15 taun, jadi gue belom punya hak suara. Waktu Nurmahmudi Ismail bersaing ngelawan Badrul Kamal buat jadi walikota Depok, umur gue juga cuma kurang beberapa bulan untuk terdaftar sebagai pemilih. Umur gue udah cukup waktu Fauzi Bowo saingan sama Adang Daradjatun buat jadi Gubernur DKI, tapi karena gue bukan orang Jakarta, ya gue nggak ikutan milih. Dan terakhir waktu PilGub Jawa Barat yang dimenangin Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf, gue juga nggak ikutan milih soalnya gue berdomisili di luar Jawa Barat. Jadilah pemilu legslatif 2009 ini adalah yang pertama kalinya.

Di pemilu ini kita bakal dihadapin dengan puluhan partai. Beraneka gambar yang jadi logonya, bermacam warna yang jadi latarnya. Tiap partai punya karakteristiknya masing2, meskipun ada beberapa diantaranya yang sama aja dan nggak jauh beda dengan partai2 lainnya.

Menjelang pemilu, gue jadi kepikiran buat ngeliat tanggapan orang2. Menurut mereka, kira2 kepribadian dan karakteristik gue ini identik dengan partai apa ya? Jadilah H-2 sebelom pemilu gue ngetik sms yang isinya sebagaimana tertulis di awal tulisan ini. Dan sms itu gue kirimin ke hampir semua nama yang ada di phone book HP Nokia 6681 gue, yang make nomor Im3 di dalemnya.

Gue sengaja make yang Im3 ini, soalnya kalo pagi Im3 kan gratis 100 sms ke semua operator setelah kirim 10 sms. Kalo malem juga, gratis 10 sms setelah kirim 10 sms. Makanya ayo kita pake Im3, kan bintang iklannya Asmirandah gitu loh… (penting ya???)

Selama 2 hari itu, sebelom jam 12 siang gue ngirim sms tersebut ke hampir semua phone book gue. Phone book gue itu total isinya ada +-320 nama. Jadi kita anggap aja sms itu gue kirim ke lebih dari 250 orang responden. +-70 orang yang nggak gue kirimin sms adalah mereka2 yang gue rasa nggak begitu kenal sama gue, tapi nomornya ada di phone book gue. Contoh: Bapak2 Dosen, temen2 dari Universitas/Fakultas lain yang pernah main2 ke BEM KMFT, tukang kredit, para penagih utang, dll.

Akhirnya gue kirimlah sms dengan redaksi seperti tertulis di atas. Nggak lama kemudian, sms2 balesan dari para responden mulai berdatangan. Criiiing… Criiiiing… New message… New message…

Selama 2 hari tersebut, HP gue baterenya suka cepet abis, gara2 dipake buat ngirim puluhan sms dalam satu waktu dan juga buat nerima puluhan sms balesannya. Semua sms yang masuk langsung gue salin ulang di laptop, buat jadi arsip di masa depan nanti.

Kemudian setelah 2 hari yang melelahkan, sms2 balesan tersebut mulai berhenti. Setelah gue rekap dan gue utak-atik, ternyata total ada sekitar 89 orang yang bales sms gue. Diawali dari salah seorang mahasiswa Teknik Nuklir 2006 dan diakhiri oleh mahasiswa Teknik Nuklir 2005. Meskipun ada 89 orang responden, tapi ada beberapa responden yang ngasih jawaban lebih dari satu. Karena gue nggak tau harus mengeliminir jawaban yang mana, ya jawaban mereka yang lebih dari satu itu tetep gue masukin semua. Jadilah total ada sekitar 100 jawaban yang masuk.

Meskipun demikian, nggak semuanya ngasih jawaban. Dari 100 tersebut, ada beberapa yang dengan konkrit nyebut nama partai, ada beberapa yang nggak ngasih jawaban konkrit dengan nggak nyebut nama partai. Malah ada beberapa juga yang ceramah. Gue jadi dapet sms2 Tausiyah gitu. Ketik REG(spasi)TAUSIYAH kirim ke 9090. Sms yang kamu dapet langsung dari operatornya lho…!

Oke deh, tanpa banyak omong lagi, mungkin lu semua pada penasaran gimana hasil dari kuesioner tersebut. Jadi sebelom badan gue makin kurus, berikut ini gue sajikan hasil dari kuesioner tersebut. Monggo Mas…

 

Dari 100 tersebut, data responden yang ngasih jawaban dan nggak ngasih jawaban konkrit adalah:

 

Ngasih jawaban

79

79.00%

Nggak ngasih jawaban

21

21.00%

Total

100

100.00%

 

(Sebenernya sih gue pengen nampilin diagramnya juga biar keren kaya di koran2. Tapi karena gue nggak tau gimana cara nampilinnya di sini, jadi nggak usah aja ya… Aduh malu gue ketauan gapteknya…)

Dari 79 yang ngasih jawaban, data responden yang menjawab dengan nama partai dan yang menjawab dengan pilihan golput adalah:

 

Milih partai

68

86.08%

Golput

11

13.92%

Total

79

100.00%

 

Lalu dari 68 yang tersisa, berikut ini adalah hasil kuesioner mengenai partai2 yang dimaksud:

 

Partai Buruh

1

1.47%

PPM

6

8.82%

Gerindra

3

4.41%

PKS

29

42.65%

Demokrat

4

5.88%

PDIP

2

2.94%

Golkar

5

7.35%

PAN

3

4.41%

Hanura

2

2.94%

PPD

1

1.47%

PDS

3

4.41%

Partai Ngasal

9

13.24%

Total

68

100.00%

 

Dan kalo data diatas kita urutin dari yang terbesar, hasilnya adalah:

 

1

PKS (Partai Keadilan Sejahtera)

29

42.65%

2

PPM (Partai Pemersatu Mahasiswa)

6

8.82%

3

Golkar (Golongan Karya)

5

7.35%

4

Demokrat

4

5.88%

5

Gerindra (Gerakan Indonesia Raya)

3

4.41%

6

PAN (Partai Amanat Nasional)

3

4.41%

7

PDS (Partai Damai Sejahtera)

3

4.41%

8

PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)

2

2.94%

9

Hanura (Hati Nurani Rakyat)

2

2.94%

10

Partai Buruh

1

1.47%

11

PPD (Partai Persatuan Daerah)

1

1.47%

12

Partai Ngasal

9

13.24%

 

Total

68

100.00%

 

Hohohohoho… Akhirnya ketauan deh… Gitu kira2 pendapat para responden tentang kepribadian dan karakteristik gue ini yang kiranya cocok dengan partai mana. Gue nggak membenarkan hasil tersebut dan juga nggak menyalahkannya, soalnya ini semua kan bebas nilai.

Terus berdasarkan hasil diatas, apakah artinya gue bakal memilih untuk nyoblos eh nyontreng Partai Kebanyakan Singkatan tersebut di pemilu nanti? Nggak tau yaaaaa, jangan ge-er dulu donk… Hanya bilik suara dan bolpen merah itu yang tau jawabannya. Ihihihihi…

 

Kalo diliat, posisi kedua ditempati oleh PPM alias Partai Pemersatu Mahasiswa. Mungkin banyak lu2 semua yang bingung, PPM itu di surat suara dapet nomor urut berapa?. Ya wajar lah kalo pada bingung, mau dicari sampe sudut mana pun juga nggak bakalan ketemu. Soalnya PPM bukanlah partai tingkat nasional, tapi cuma partai lokal. Loh berarti partai lokal yang ikut pemilu di Aceh? Nggak juga, lingkupnya masih terlalu luas. PPM hanyalah sebuah partai lokal di lingkup Fakultas Teknik UGM, sebuah partai dengan lambang segi lima warna biru muda serta ada bintang warna putih di tengahnya. Sebuah partai yang gue bikin di taun 2008 dan gue sendiri yang jadi Ketua Umumnya. Hohohohoho…

Terus juga, ada jawaban “Partai Ngasal” di pilihan di atas. Maksudnya Partai Ngasal adalah partai2 yang dijawab secara asal2an, alias partai yang sampe jaman Firaun main facebook pun nggak bakal ditemuin keberadaanya, kecuali kalo mereka2 sendiri emang pengen ngebikin partai tersebut.

Berikut ini adalah jawaban untuk partai2 ngasal:

 

Partai Sayang Akhwat

1

11.11%

Partai Menantu Idaman

1

11.11%

Partai MnG

1

11.11%

Partai Dendam Asmara

1

11.11%

Kalkulus

1

11.11%

Partai Gembel Tai

2

22.22%

Partai Saya Cantik

1

11.11%

P2GAB

1

11.11%

Total

9

1

 

(*Partai Gembel Tai = Partai Gerakan Pembela Tanah Air Indonesia

*P2GAB = Partai Peduli Gizi Anak Bangsa

*Kalkulus = Nama mata kuliah)

 

Yah, begitulah kira2 hasil dari kuesioner selama 2 hari ini. Nggak ada kebenaran dan kesalahan disini, soalnya ini kan sifatnya bebas nilai. Semoga kuesioner ini bisa menginspirasi kita untuk membuat tulisan2 yang lebih kreatif dan inovatif lagi ke depannya. Amiiiin…

 

Sebagai bonus berikut ini gue sertakan juga jawaban beberapa dari para responden gue, yang kiranya cukup menarik untuk ditulis disini. Tapi mohon maap, namanya gue rahasiain, soalnya kerahasiaan klien adalah amanah yang harus dijaga. Cieh gaya gue kaya konsutan pipa ledeng aja… (eh nggak nyambung ya?)

Plus, gue tulisin juga komentar gue terhadap jawaban mereka, gue tulis di dalem kurung dan dimiringin, alias di-italic.

Here they are! Voila! Hon no kimochi!

 

Pertanyaan:

 

“Kuesioner.

Insya Allah pemilu akan diadakan tanggal 9 April besok. Kira2 partai manakah yang cocok dengan karakter dan kepribadian seekor C-Kink?

Ditunggu jawabannya ya.

(mau jawab golput juga boleh)”

 

Jawaban:

 

Mahasiswi, 23, Depok

“Geerrrrindraa (baca dengan nada suara yang misterius dan mistik)”

 

(Buajigur… mentang2 gue cadel…)

 

Mahasiswa, 19, Jogja

“Pasti Kamu Suka Partai Kebal Sogokan ya kan?”

 

(Wah, korban iklan)

 

Mahasiswa, 21, Jogja

“Fitrahnya laki2 itu suka PKS (Perempuan Kerudungan dan Sholehah). Perempuan suka PKS (Pria Kuat dan Soleh). Udah nikah harapannya PKS (Pastikan Keluarga Sakinah). Punya anak harapannya PKS (Pintar Kreatif dan Soleh). Udah tua inginnya PKS (Punya Keturunan Sukses). Di akhirat harapannya PKS (Pertemuan Kembali di Surga).

Tapi semuanya kembali ke C-Kink aja, partai mana yang kira2 bisa mewakili visi C-Kink. Yang mana orang yang visinya bukan sekedar cari uang, tapi untuk mengabdi… Allahu a’lam”

 

(Dasar Partai Kebanyakan Singkatan!)

 

Siswi SMA, 17, Depok

“Partai Dendam Asmara”

 

(Lu kali yang dendam gara2 asmara lu gue tolak mulu? Hohohoho…)

 

Mahasiswa, 21, Jogja

“Pemimpin yang memperjuangkan sistem Islam. Ingat saudaraku bahwa kau akan berakad wakalah perkara ushul (akidah), membuat hukum. Kita yakin bahwa setiap perbuatan ada hisabnya. :-)

 

(Ketauan deh ini orang berafiliasi nya sama mahdzab apa… Tapi setiap kewajiban yang nggak kita perbuat juga ada hisabnya kan? :-) )

 

Mahasiswi, 19, Jogja

“Waduh… Sayang sekarang udah hari tenang tuh, nggak boleh saling mempengaruhi :-D Kalo pernah denger Mas punya cita2 menyatukan negara2 Islam di dunia, berarti partai Islam. Terus partai Islam yang kaya gimana? Yang selama ini santun berpolitik, belom pernah denger ada anggota legislatifnya di DPR yang kena korupsi (insya Allah), yang nggak kampanye tolol pake goyang erotis, yang nggak didominasi muka2 lama dan orang2 sepuh yang harusnya udah gendong cucu di rumah, yang nggak asal comot jadiin caleg (ada kaderisasi yang rapi), kalopun yang kusebut di atas nggak ada, paling nggak ya mendekati lah… Walaupun menurutku ada, tapi lagi2 karena udah hari tenang nggak boleh sebut merk… =) (boleh nggak setuju)”

 

(Iya iya, kami tau maksud Anda)

 

Perawat, 24, Bekasi

“Begini ney kalo caleg stress… Hwahaha…”

 

(Lebih stress lagi kalo punya temen kaya elu…)

 

Mahasiswi, 20, Depok

“Aagghh… Berhubung C-Kink itu busung lapar… Dan yang mau memperjuangkan pangan buat C-Kink itu partai GOLKAR… Hahahaha…”

 

(Gue bukan busung lapar, gue cuma cacingan. Adakah partai yang misinya memberantas cacingan di bumi nusantara?)

 

Mahasiswa, 21, Jogja

“Mungkin 8, tapi kayaknya 9, bisa juga 23, 31 juga cocok, 5 mungkin tepat, 1 kira2”

 

(Orang kaya gini ini yang bikin bangsa kita nggak maju2… Hohoho…)

 

Mahasiswa, 21, Jogja

“31, LANJUTKAN!!!”

 

(Weits awas Mas, jigongnya muncrat!)

 

Mahasiswa, 21, Jogja

“Partai Keren Sekali, Pojok Kanan ataS, Partai Kita Semua,  Partai Keadilan, Sejahtera, bersih, peduli dan profesional. Jangan lupa! Contreng sekali aja!”

 

(Ih malah kampanye…)

 

Mahasiswa, 20, Jogja

“Kink mari kita buat DPR bersih… Pilih yang sesuai hati nuranimu demi terciptanya keadilan sejahtera untuk wonk cilik… Ingat ini salah satu amanat nasional… Kalo aku sih pilih pojok kanan atas yang warna putih polos tanpa warna lain gitu deh”

 

(Maksudnya apa nih?)

 

Mahasiswa, 19, Jogja

“Kalkulus”

 

(Tabahkan hatimu Nak… UTS Kalkulus memang menyulitkan, tapi nggak perlu sampe berhalusinasi gitu donk, emang ada partai kalkulus?)

 

Mahasiswi, 20, Jogja

“PPM Mas! Hidup PPM. Hehehehe”

 

(Ini baru kader PPM yang setia… Hihihi…)

 

Mahasiswi, 21, Bogor

“Partai yang cocok sama kepribadian lu itu PDIP, selain mirip sama simbolnya, lu juga sepertinya fans berat Megawati :-D

 

(Muke gile… Gue fansnya Asmirandah bo…)

 

Mahasiswa, 20, Jogja

“Partai Persatuan Daerah namanya mirip Partai Persatuan Mahasiswa… ^^”

 

(Partai Pemersatu Mahasiswa kaleee…)

 

Mahasiswi, 21, Jogja

“Golkar (Golongan nggak karuan…) Hahahahahaha atau mungkin cari aja yang ketuanya mirip Nicholas Saputra! Hehe”

 

(Partai yang ketuanya mirip Nicholas Saputra berarti PPM donk, kan aku ketuanya? Heuheu…)

 

Mahasiswi, 19, Jogja

“Aku sendiri aja nggak tau 38 partai tuh apa aja… Terus kaya apa… Jadi… Hmm… Pilih sesuai feeling Mas aja… He…”

 

(Aduh Anak muda, betapa sia2 usaha Depkominfo dan KPU untuk menyoliasisasikan pemilu selama 1 taun ini… Padahal aku juga nggak apal semuanya. Hehehe)

 

Karyawati, 21, Depok

“Egp…”

 

(Ini pasti partainya Maia Ratu ya… Emang gue pikirin…)

 

 

Mahasiswi, 19, Depok

“Udah lu golput aja… Dodolipet lu… Telpon Esia gue donk cinta… Kangen nie”

 

(Eh buset, kok malah minta ditelpon? Astagfirullah…)

 

Mahasiswa, 19, Jogja

“Kalo aku mending golput, males milih nggak ada yang tepat. He…”

 

(Kalo disuruh milih calon istri mau nggak?)

 

Mahasiswa, 20, Jogja

“Menurut Hati Nurani Mahasiswa yang ingin mewujudkan Indonesia Raya demi masyarakat Adil dan Sejahtera maka jangan pilih partai yang jelas2 sudah gagal membangun negeri ini”

 

(Dasar mahasiswa jaman sekarang, kebanyakan retorika)

 

Mahasiswi, 20, Jogja

“Berhubung aku nggak nyontreng karena nggak masuk DPT, jadi maap aku nggak bisa kasih sugesti…”

 

(Aku nggak butuh sugesti, aku cuma butuh kasih sayang. Hueeeek hueeeeek cuiiiih…)

 

Mahasiswa, 21, Jogja

“Sorry baru bales… Ah pake minta saran segala, nggak usah gue saranin lu paling milih yang “itu” kan… Mau lu gue saranin suruh pilih PDS… Hahahaha…”

 

(Ini mah maling teriak maling… Ayo ngaku! Hehehe…)

 

Mahasiswa, 20, Jogja

“PPM Kink, lo banget. Kalo Nasikun gue nggak yakin kayanya sih PAN kali ya? Kalo gue apa?”

 

(Kamu pantesnya Partai Rujak aja, kalo diterjemahin ke bahasa Inggris: Rujak Party!)

 

Mahasiswi, 20, Jogja

“Golput, tapi nggak terlalu radikal. Hoho… B-)”

 

(Berarti golput yang lemah lembut dan kemayu kaya putri Solo ya?)

 

Mahasiswa, 22, Jogja

“Menurutku kalo kamu masih nggak masalah sama namanya demokrasi Islam atau Islam Pancasila, pilihan buat partai yang pake embel2 Islam juga sama aja kok… Itu menurutku lho”

 

(Jadi intinya apa?)

 

Mahasiswi, 20, Jogja

“Maaf Mas baru bales soalnya baru isi pulsa setelah satu hari nggak terisi. Aku tebak ya Mas pilih partai apa? Kalo partai PKS bener nggak Mas? ^^”

 

(Jadi secara nggak langsung kamu pengen bilang: “Mas isiin aku pulsa donk…” Hohoho…)

 

Mahasiswa, 20, Jogja

“Jawaban kuesioner C-Kink: Aku nggak tau karakter dan kepribadianmu. Karena kamu punya kepribadian ganda (mungkin lebih). Jadi aku nggak tau partai mana yang cocok. Tapi kalo golput, nggak cocok buat setangkai C-Kink. ^_^v Piss…”

 

(Iya, nggak ada Partai Ganda Campuran sih ya…)

 

Mahasiswa, 21, Depok

“Eh tau nggak? SBY itu PKS: Presiden Keren Sekali. Megawati juga PKS lho: Putri Keluarga Soekarno. Gus Dur juga PKS: Priyayi Kalangan Santri. Jusuf Kalla juga PKS: Putra Kelahiran Sulawesi. Dan yang paling mengejutkan, Rasulullah juga PKS lho: Panutan Kita Semua… Kamu PKS juga kan?”

 

(Aduh, bener2 dah ini orang kadernya Partai Kebanyakan Singkatan ya? Hati2 jangan jajan sembarangan ntar kena PKS, Penyakit Kemaluan Sipilis)

 

Mahasiswa, 20, Depok

“PKS, secara kita sama2 di liqoin sama mereka. Secara mereka juga paling bersih diantara partai2 gajebo.”

 

(Whoooaaa… Ketauan deh… Hohoho… Eh tapi kenapa juga ini gue publikasiin ke umum ya?)

 

Karyawan, 20, Depok

“Wah Kink, gue aja nggak tau ada partai apa aja… Ada berapa partai pun nggak tau… Jadi menurut lu, mending gue ngapain pas pemilu? Hehehe…”

 

(Pemilu kan libur tuh, mending lu ke kosan gue aja sini, nyuciin mobil sama nguras bak mandi. Heuheu…)

 

Mahasiswi, 21, Depok

“Partai Peduli Gizi Anak Bangsa (P2GAB)”

 

(Gue maunya Partai Peduli Anak Cacingan…)

 

Mahasiswi, 19, Jogja

“Maaf Mas baru bales. Esiaku tadi mati…Wah… Jangan golput Mas… Hehe… Kalo Mas bisa milih ya pilih aja, kalo bingung mending wakilin suaraku… Pilih PAN aja Mas… Hahaha…”

 

(Siap…! Hidup adalah perbuatan…)

 

Mahasiswa, 20, Jogja

Alangkah baiknya hal itu dikembalikan ke HAti NURAni Mas sendiri, seberapa tingkat ketahuan Mas dengan para partai. Kalo boleh saran pilihlah partai yang mampu bergerak tanpa harus adanya perintah dari pusat, mengedepankan nasionalisme dan mempunyai agenda yang real bagi negara ini, maka jangan tanggung2 dan bingung2, contreng partai HANURA nomor 1. Suara Anda sangat berarti bagi kelangsungan negara ini!

 

(Waaaaaah kampanye…!)

 

Mahasiswi, 19, Jogja

“Ini nomernya C-Kink ya… Hee, nggak tau… Buat aku sendiri aja masih bingung milih apa… *tidak membantu*. Hehew…”

 

(Oh bukan Mbak, Anda salah sambung. Ini nomornya Nicholas Saputra)

 

Mahasiswi, 21, Jogja

“Tulis nama kamu di tempat yang tersedia, terus contreng deh…”

 

(Ini yang ngaco gue apa dia ya?)

 

Mahasiswa, 22, Jogja

“Hanya 2 yang tau apa isi hati… Dia sendiri dan Rabbnya yang lebih tau makhluk dari pada makhluk itu sendiri”

 

(Amiiiiin… Jadinya pilih partai apa?)

 

*Tambahan:

Sebagian besar orang bilang kalo gue identik dengan Pemuda Kurus dan Seksi itu. Ketika gue tanya, kenapa kok bisa mengidentikkan gue dengan pantai ParangKuSumo, salah satu responden ngejawab:

“Mas C-Kink kan seorang ikhwan, sepertinya identik sama PKS^^. Maaf lho Mas sama tebakan ku ini^^.”

Iya iya, dimaafin kok… Hehehehe…

  

 

2 comments April 9, 2009

AngkringanTonight #2

Masih di tempat yang sama dengan hari2 sebelomnya, di salah satu sudut kamar kos beralaskan kasur yang spreinya udah +- 1 bulan lupa diganti (bukan lupa, tapi nggak sempet. Bukan nggak sempet, tapi males). Malem ini sepulang les bahasa Prancis gue ngegelepar nggak ada kerjaan. Niatnya mau ke kosan salah satu anak Nuklir yang bernama Edi Subowo, panggilannya Mawar (bukan nama sebenernya) untuk belajar mata kuliah Komputasi Nuklir, belajar pemrograman Delphi. Tapi karena sms gue ke si Mawar ini pending melulu dan nggak ada kepastian, akhirnya gue leyeh2 aja di atas kasur sambil merenungi nasib gue yang dikaruniai wajah imut ini.

Lagi asik2 merenung, tiba2 cacing di dalem perut gue gemerincing. Eh maksudnya keroncongan. Kenapa harus keroncongan ya, kenapa nggak dangdutan atau campur sari-an, kenapa harus keroncong? Ah whatever.

Cacing2 yang keroncongan di perut gue bukan menandakan bahwa gue ini cacingan, melainkan bahwa gue yang kurus kering begeng kerempeng idup lagi ini sedang dilanda kelaparan yang amat sangat. Kalo kata pepatah, keadaan laper kaya gini disebutnya “bagai mencari jarum di tumpukan jerami”. Korelasinya apa? Ya nggak ada lah!

Akhirnya dengan segenap cacing yang tersisa, gue melangkah menuju warung makan terdekat: angkringan depan kosan! This is the nearest restaurant, closest to my home. Jadilah malam ini, jam setengah 10, gue terdampar di angkringan langganan gue ini, cuma berduaan doank sama Mas2 pedagang angkringannya. Dan kita berdua cuma diterangin oleh sinar rembulan malam hari dan cahaya lampu teplok di gerobaknya. Aaaaah, so sweet…

Dagangan di angkringan ini udah mulai menipis. Nasi dan gorengan masih ada beberapa. Tapi jumlahnya nggak sebanyak yang dulu ketika gue nulis tulisan “AngkringanTonight #1”. Sekarang ini dagangannya bisa dibilang udah hampir mau abis. Alhamdulillah!

Lalu gue pun mulai membuka percakapan dengan kalimat demikian,

“Jeruk angetnya ya Mas!”

Mas2 pedagang angkringan itu, selanjutnya kita sebut aja dengan nama Mr. X (bukan nama sebenernya) langsung merespon ucapan gue. Bagaikan terhipnotis, beliau melakuka apa yang gue minta. Wah gue baru nyadar kalo ternyata gue punya ilmu hipnotis. Buktinya si Mr. X ini mau ngelakuin apa yang gue ucapkan!

Sambil nunggu jeruknya jadi, gue ngemil tempe goreng 2 biji. Nyam nyam nyam… Kalo di angkringan malem2 gini, ditemani semilir angin malem dan diterangi cahaya rembulan, makan tempe serasa makan Pizza. Ada Pizza di setiap gigitan tempe. Sumpah deh! Nggak percaya kan lu? Ya sama, gue juga nggak percaya…

Setelah jeruk angetnya jadi, gue mesen mi rebus dobel, dua bungkus dijadiin satu mangkok. Plus telor juga nggak lupa. Dan sekali lagi, bagaikan terhipnotis, Mr. X melakukan apa yang gue ucapkan dengan sangat patuhnya.

Karena prosesi masak mi ini agak lama, si Mr. X yang malem ini keliatan kesepian dan butuh kehangatan, mulai mencoba melenyapkan rasa sepinya dengan ngajak gue ngobrol.

“Pemilu tanggal 9 April nanti pulang Mas?”

Waouw keren juga nih orang, topiknya tentang pemilu!

“Oh kayaknya nggak Mas, saya nyoblos disini”

“Loh emang bisa? Gimana caranya Mas?”

“Kan ada kaya semacem surat mutasi gitu Mas dari daerah asal. Jadi nanti saya bisa nyoblos disini”

Lalu obrolan kita berlanjut seputar pemilu. Gue pun nanya,

“Udah ada pilihan Mas, kira2 mau milih siapa?”

Dengan santainya Mr. X menjawab,

“Wah belom tau Mas!”

Dia berargumen bahwa sekarang nasibnya bakalan sama aja, mau milih yang mana pun nggak ada bedanya.

“Tapi kalo pemilu 2004 kemaren ikutan nyoblos Mas?” tanya gue lagi.

“Iya Mas, waktu itu saya masih di Bogor”

Bogor? Di sebelah mananya Mas? Deket donk, gue kan orang Depok.

Dan si Mr. X ini ngelanjutin curhatnya tentang pemilu presiden putaran kedua taun 2004 kemaren. Dengan polos beliau bilang bahwa dulu beliau milih SBY, soalnya udah bosen dengan Megawati yang notabene merupakan muka lama. Beliau lebih tertarik dengan muka2 baru macem SBY.

Mt. X juga bilang kalo di kampungnya dulu semua orang pada jagoin Mega. Cuma dia dan segelintir orang yang jagoin SBY. Bahkan dia sampe diketawain sama temen2nya gara2 milih SBY. Tapi dia tetep istiqomah dan berkoar, liat aja siapa yang nanti bakalan menang. Dan akhirnya seperti udah bisa kita liat sekarang, ternyata SBY yang menang, dan si Mr. X ini adalah salah satu konstituennya.

Tapi sekarang karena SBY juga statusnya udah berubah jadi orang lama, makanya Mr. X belom nentuin mau milih siapa. Ya nggak apa2 lah Mas, biar enak pilih aja PPM, Partai Pemersatu Mahasiswa Fakultas Teknik UGM. Warnanya biru muda, lambangnya segi lima sama ada logo bintang warna putih di tengahnya. Pilih PPM di Pemilu Teknik nanti! Loh kok malah kampanye?

Terus gue pun iseng2 berkomentar,

“Tapi sekarang kan udah nggak nyoblos lagi ya Mas, sekarang udah nyontreng!”

Nggak disangka, ternyata si Mr. X ini pun tergolong orang yang melek berita. Beliau juga udah tau kalo sekarang teknisnya make nyontreng, bukan nyoblos lagi. Malah beliau khawatir dengan nasib orang2 tua yang selama ini terbiasa nyoblos.

“Yang bahaya itu yang udah tua2 Mas, agak repot,” kata Mr. X.

“Iya Mas, apalagi namanya kan kecil2, mereka mana ngerti”

Bla bla bla bla bla bla… Si Mr. X ngelanjutin curhatnya,

“Dulu di kampung saya, yang orangtuanya tuh sebelum nyoblos diginiin dulu sama orang2: ‘Mbah nanti kalo nyoblos, cari yang ada gambar moncong putihnya!’. Wah itu gimana, mereka juga kan emang nggak begitu ngerti!”

Obrolan kita masih terus berlanjut seputar pemilu. Sampe tiba2 dari kejauhan terdengar suara orang teriak2. Teriaknya make bahasa Inggris. Tapi logat dan lidahnya bukan khas orang bule. Nggak tau dah ini bule beneran apa bule siluman, bule “bubulen sikil’e”.

Dan setelah deket barulah keliatan, ternyata mereka adalah 5 orang berwajah Asia Timur yang naik 2 motor. Kayanya sih mahasiswa asing. Mereka teriak2 keras banget pake bahasa Inggris, mirip kaya bule keselek pohon pisang. Teriak2 nggak jelas gitu, nggak tau apa maksudnya. Mereka melintas ngelewatin angkringan tempat gue berkhalwat sama Mr. X malem ini. Masih dengan teriakan yang sama. Lalu mereka berlalu gitu aja, tanpa salam dan tanpa permisi, meninggalkan suara teriakan mereka yang masih membahana.

Mr. X pun berkomentar,

“Wuoooo… Orang *tiiiiiit*!” (sensor, menyebut nama salah satu negara)

Pun demikian dengan salah seorang ibu kos di depan angkringan yang tiba2 udah nongol dari balik pintu. Dia nanya ke Mr. X;

“Sopo seh kae?”

“Wong *tiiiiiit* Bu!”

“Lha kok ora nduwe toto kromo!”

Dan si ibu itu masuk lagi ke rumahnya. Sementara si Mr. X yang juga ngerasa nggak nyaman dengan tingkah laku 5 makhluk ajaib tadi ikutan komen,

“Tinggal di negeri orang kok nggak punya sopan santun!”

Sementara gue hanya bisa tersenyum menanggapi keresahan Mr. X terhadap para makhluk asing yang berlaku sewenang2 di tanah leluhurnya.

Lagi siap2 makan mi rebus, tiba2 dateng orang naik motor ke angkringan ini. Ia menghampiri Mr.X dan bertanya,

“Mas, kosan C-19 ini kos laki2 apa perempuan ya?”

Itu kan kosan gue. Tapi Mr. X agak bingung dengan pertanyaan Mas2 yang dateng nggak dijemput – pulang nggak dianter ini.

“C-19 yang mana Mas?”

“Itu yang catnya warna pink!”

Sebelom si Mr. X semakin bingung, langsung gue jawab aja,

“Oh itu kosan laki2 Mas. Tapi kalo suami-istri mau tinggal disitu juga boleh kok!:

Tadinya gue mau nambahin kaya gini, ‘atau kalo ada perempuan mau ngekos disana juga bisa, tapi ngekosnya di kamar saya aja Mas! Gratis juga nggak apa2, saya bayarin. Saya ikhlas deh!’

Si Mas-pencari-kamar-kos itu pun nanya lagi,

“Mas kos disana ya? Bayarnya sebulan berapa Mas?

“Iya. Bayarnya per 3 bulan atau per 6 bulan. Kalo 3 bulan bayarnya sekian, kalo 6 bulan bayarnya sekian” (nb: mohon maaf, tarifnya sengaja nggak gue tulis disini)

“Oh tapi itu luas ya Mas?”

“Iya, kira2 ukurannya 4×3 meter lebih. Kamar mandi dalem juga kok!”

“Ada yang kosong nggak Mas?”

“Wah biasanya pake waiting list tuh! Mending besok pagi coba Mas temuin ibu kosnya aja, terus tanyain mesti waiting list dulu apa gimana”

“Oh iya udah. Makasih Mas ya!”

Kriiiiiik… Kriiiiiik… Si Mas-pencari-kamar-kos ini akhirnya pergi, menyisakan gue berduaan lagi sama Mr. X.

Lalu si Mr. X mulai curhat tentang kosan gue yang keliatannya selalu penuh, Satu penghuni keluar, langsung ada penghuni lain yang ngisi. Rezekinya lancar. Beda sama kosan perempuan yang baru buka di deket sini, udah beberapa minggu tapi sampe sekarang masih belom ada yang ngisi. Ya kalo gitu gue aja deh yang ngisi. Tapi ntar kalo udah ada perempuannya, gue masih boleh disana ya… Lumayan tiap malem bisa keliling keluar masuk kamar tetangga. Astagfirullah…

Nggak lupa Mr. X juga curhat tentang kontrakan di depan yang penghuninya adalah angkatan tua tapi sampe sekanag belom lulus2. Dia heran, kenapa mereka udah kuliah dari jaman kapan tau tapi kok sampe sekarang masih belom kelar. Biasanya pada lama di skripsi dan tugas akhir, kemungkinan mereka pada males ngerjainnya. Gitu kira2 asumsi si Mr. X ini.

Akhirnya mi rebus dobel plus telor gue beres, masuk semua ke perut gue. Cuma sisa piring, garpu sama sendoknya aja. Sengaja nggak gue makan soalnya itu emang haknya si Mr. X ini. Ah alesan aja, bilang aja nggak bisa makan sendok! Ya iyalah, masa ya iya donk!

Sekarang di angkringan ini udah ada 2 orang lagi yang dateng. Jadi gue udah bisa pamit, karena selanjutnya Mr. X bakal ditemenin sama 2 orang yang baru dateng ini.

Sebelom pamit, gue minta 2 biji tempe dibakarin sama Mr. X. Plus teh anget dibungkus. Dan terakhir nggak lupa 3 bungkus kerupuk gue kantongin. Buset dah, ini laper apa nggragas?

Tapi persis sebelom pulang, lagi2 ada sebiji motor yang parkir dan pengendaranya mampir dulu di angkringan ini. Pengemudi motor itu ternyata adalah Mr. S (bukan nama sebenernya), salah seorang temen kosan gue. Lalu kita mulai say hello dan mulai ngobrol2 ringan.

Dan seinget gue, selama 1 taun Mr. S ini ngekos di tempat yang sama dengan gue, baru malem ini gue pernah ngobrol sama dia! Wuaooouwww… Emang selama 1 taun kemaren kemana aja? Ya nggak tau juga sih. Kalo cuma say hello sih udah sering, tapi kalo ngobrol, ya baru malem ini!

Sebenernya nggak ada yang salah sih diantara kita berdua. Gue selama ini emang jarang eksis di kosan, lebih sering eksis di kampus, lebih tepatnya di BEM. Begitupun dengan si Mr. S ini, dia juga oleh anak2 kosan yang lain sering dijuluki dengan istilah “Ansos”, alias “Anti Sosial”, yaitu orang yang jarang bersosialisasi sama temen2 kos yang lain. Tapi ya nggak apa2, malem ini kita udah satu langkah membuka dinding yang memisahkan kita berdua.

Akhirnya semua pesenan gue beres untuk dibawa pulang. Lalu gue pun minta Mr. X menghitung semua komoditas yang gue konsumsi malem ini. Mi rebus dobel plus telor, jeruk anget, teh anget, tempe 4, kerupuk 3. Totalnya adalah 10300 rupiah. Wah, malem ini gue memutar uang sebesa 10300 dari kantong gue ke kantong Mr. X. Ya bagus kan, daripada gue kasih ke para orang2 kaya nan kapitalis?

Setelah pembayaran dan transaksi ijab kabul selesai, gue pun pamit ke Mr. X dan Mr. S. Gue melangkah menjauh meninggaklan gerobak angkringan yang punya penutup warna biru – oranye ini. Gerobak angkringan yang penuh kenangan. Gerobak angkringan yang so sweet dengan ditemani cahaya bulan dan secercah cahaya dari lampu teplok. Gerobak angkringan tempat segala macam manusia berkumpul dan bercengkrama. Gerobak angkringan yang dirawat dengan penuh keringat darah dan air mata.

Dan sekarang, jam setengah 12 malem, gue duduk seorang diri di depan laptop, menulis sebuah tulisan tentang keadaan angkringan depan kosan gue di malam yang sunyi ini…

 

“Ya Allah Yang Maha Pemurah, jangan lah kau jadikan hati Mr. X condong kepada kesesatan. Berikanlah ia kekuatan dan ketabahan dalam menjalani hidup ini. Tanamkanlah selalu rasa syukur di dalam hatinya. Dan janganlah Kau hukum ia jika ia lalai atau terlupa. Sesungguhnya kebesaran hanyalah milik-Mu ya Allah, maka ampunilah segala dosanya.”

 

Yogyakarta, 30 Maret 2009

Add comment March 31, 2009

PagiPagi

Hari ini adalah hari libur nasional, dalam rangka memperingati meninggalnya kucing milk tetangga sebelah yang mangkat gara2 kelindes sepeda roda tiga yang dikendarain oleh seorang balita. Loh kok?

Hari ini bertepatan dengan hari raya Nyepi, merupakan hari libur nasional. Kalo nggak percaya, coba aja liat kalender, pasti hari ini warnanya merah. Kecuali kalo kalender lu adalah kalender fotokopian, warnanya cuma item-putih doang.

Mumpung libur, dari kemaren gue udah ber-azzam kalo pagi ini gue mau ngenet di VidiNet, tempat ngenet cowok cerdas (eh itu mah slogannya Kompak ya). Kenapa harus pagi ini? Soalnya mumpung lagi libur. Kenapa harus pagi2? Soalnya kalo pagi masih murah, masih dapet diskon dari tengah malem. Kenapa harus di VidiNet? Soalnya yang deket kosan gue cuma itu doang, dan koneksinya juga bisa dibilang cepet. Kenapa harus cepet? Banyak tanya gue kepret juga lu!

Kenapa harus ngenet? Duh masih nanya2 juga… Ya nggak apa2 deh, kali ini gue jawab. Urgensi gue ngenet pagi ini adalah karena ada banyak kerjaan yang mau gue kerjain. Diantaranya adalah ngecek email. Kalo ini sih udah jadi kewajiban, dimana setiap kali kita ngenet, pasti kita langsung ngecek email dulu. Setelah ngecek email, situs apa yang kita buka selanjutnya? Yup, lu semua adalah benar kalo ngejawab: facebook! Ayo ngaku, lu juga suka gitu kaaaaan???

Tapi nggak cuma itu doang. Berkaitan dengan kuliah ke-nuklir-an, ue juga mesti nyari nilai tetapan kelarutan Iodium pada larutan PbI2 dan nyari besarnya waktu paruh I131. Hufff… Serta nggak lupa gue pengen nyari lirik lagunya Remioromen yang judunya Konayuki.

Akhirnya pagi ini gue mempersiapkan diri. Setelah Subuhan, sikat gigi, dandan dan segala macem, gue panasin MyLovelySolBro yang setia nangkring di depan kosan. Lalu gue lajukan MyLovelySolBro ke tempat VidiNet berada, setelah sebelomnya nggak lupa gue buka dulu gerbang pager kosan gue.

Nggak lama kemudian gue nyampe di VidiNet. Dari dalem mobil, gue liat VidiNet pagi ini bisa dibilang sepi, malahan sepi banget. Hal ini terlihat dari jumlah motor yang parkir di sana, cuma ada sekitar 2 butir, eh 2 buah. Jumlah motor yang parkir secara nggak langsung memiliki korelasi linearitas dengan jumlah pengunjung di dalemnya.

VidiNet di pagi hari kaya gini emang biasanya tergolong sepi. Biasanya kalo gue ke sini pagi2, motor yang parkir nggak nyampe 10-an. Di dalemnya pun banyak komputer yang kosong, cuma sebagian aja yang kepake. Padahal kalo malem parkirannya penuh banget. Di dalemnya pun kita masih mesti ngantri dulu, namanya ditulis di waiting list.

Tapi pagi ini lain dari pagi2 biasanya. Motor yang parkir cuma ada 2 biji. Ya nggak apa2 lah, yang penting mobil gue kan nggak ganggu eksistensi motor mereka gitu loh.

Lalu gue pun turun dari MyLovelySolBro dan melangkah menuju pintu masuk VidiNet. Prok prok prok… Kira2 gitu bunyi langkah kaki gue, sama kaya jalannya Pak Kapiten. Dan kita pun sama2 punya pedang panjang, walaupun dalam makna yang berbeda. Hohohoho…

Dan akhirnya setelah gue persis nyampe di depan pintu masuk VidiNet, barulah gue ngerti kenapa cuma ada 2 motor yang parkir disana. Kenapa? Soalnya persis di pintu masuk VidiNet itu ada tulisan kaa gini:

 

“TUTUP / CLOSED”

 

Buajigur… Pentesan aja motor yang parkir cuma dikit, VidiNet nya tutup kok! Dan di sebelahnya juga ada pemberitahuan bahwa karena hari ini hari raya Nyepi, jadinya mereka meliburkan diri. Wah, warnet yang buka 24 jam ternyata bisa libur juga ya. Kalo burjo 24 jam pada libur juga nggak ya?

Akhirnya dengan langkah gontai, gue balik lagi ke tempat MyLovelySolBro parkir. Dan gue pun melaju pulang, balik lagi ke kosan. Gue nggak minat ngenet di tempat lain soalnya gue nggak berani jamin koneksinya bisa secepet di VidiNet ini.

Jadilah niat gue untuk ngenet pagi ini batal, sehingga sekarang gue lagi terdampar nongkrong di kosan, buka2 laptop. Sembari ditemenin lagu Konayuki nya Remioromen dan lagu Only Human nya Susumu Ueda, gue ketik deh sebuah tulisan yang sekarang tulisan yang gue ketik itu lagi lu baca. Hohohohohoho…

4 comments March 26, 2009

IdoHaveApromise

I’ve got a task to finish my radiochemistry practical work report. Radiochemistry practical work is my second radioactive-lab-work at Nuclear Engineering research program in Physics Engineering, while the first radioactive-lab-work is called “radiation measurement and detection”.

The theme of my radiochemistry practical work is about solubility. The objective is to find the solubility of PbI2. Before I work with my report, I have to study about solubility first to understand about the theory of solubility itself. But my biggest problem is that I never had any solubility lesson in college. And the last time I had studied solubility, it was in my past high school! It means that it was about 3 years ago!

So I have to re-open my old high school book and search for the solubility lesson. Fortunately, my old chemistry books are inside my filing cabinet in my room at Jogja. Then I go search for it, and finally I find those solubility’s theory in my third grade high school book. Ah, so lovely…

When I open the book, the inside cover attract me. There is a Periodic Table draws there. It brings back memories. The memories of my past in those lovely high school. The memories of my past about the chemistry lesson that I always loved it. The memories of my past when I used to think that I wanted to continued my study in Nuclear Engineering because I loved chemistry so much. Now I know that Nuclear Engineering is not only about chemistry, but it has a lot of physics on it!

And once again, those Periodic Table reminds me of the promise that I have been made. What promise is it?

Before I answer that question, let’s see the Periodic Table first. If you don’t have one, then just imagine it on your mind. Periodic Table has a lot of box, and every box is filled with different atomic numbers and different elements. For example, the box in the most top-left is filled with the world “H”, which is means Hydrogen with atomic number is one. The most right boxes are filled with noble gas and popular with its magic atomic number, such as He for Helium, Ne for Neon, etc. Now, you should have remembered about Periodic Table, haven’t you?

If you do so, then let’s take a look at the most down boxes in the Periodic Table, especially some boxes in the right. In my chemistry book, the boxes are ended at the atomic number 112, with Uub for Ununbium element is on it. The Periodic Table has a box-space up until atomic number 118, but the last element is Uub with atomic number 112. But maybe the new one already has been updated up to 113 or 114 atomic number elements.

But it is still doesn’t touch the number 118 itself. Then, what does it means? It means that, there are still some elements that has not been found yet! And the elements are those who have atomic numbers 118, 117, 116, 115 and maybe 114 and 113.

That was my promise. When I was in third grade high school, I had a very genius seatmate called “Karnanim”. We both loved chemistry so much. We were the person who was always enthusiasm to answer any chemistry question. And because of our loves to chemistry, we also made a promise at that time.

What promise?

See Periodic Table once again. Do you see the blank space after the box with atomic number 112, Uub? And can you find the box with atomic number 118 on it? That is our promise!

We both made a promise that we will be the person who found them! We made a promise that we will find the elements that has not been find today! We will! Sure we will, Insya Allah!

We made an agreement that Karnanim will find the element with atomic number 117. Then I will complete the Periodic Table by find the element with atomic number 118. The names of those elements are referred to our name. Element with atomic number 117 is called “Karnanimium”, and the last element with atomic number 118 is called “C-Kinkium”. That was our promise!

Now, 3 years has passed. Karnanim is studying in Chemical Engineering at University of Indonesia, while I am still confused to study in Nuclear Engineering at Gadjah Mada University. Both of our concentrations are still related with our past promise, even though it is only a little bit off.

Both of us still have an endless journey. Both of us still have a lot of unrevealed future. Will we fulfill our promise? Just let the time answered it. And if you ask me, I would like to say: “YES WE WILL, INSYA ALLAH!”

2 comments March 26, 2009

DontAskMeWhatIsThis

I walk alone tonight

Through a long, dark, and lonely road

Without any lights shining

Without any friends coming

Even my shadow won’t accompany me

Sometimes I like to feel

That I was so selfish myself

I always want everybody to knows me

But I know none of them

I always want everybody to knows my existence

But I never know that they are exist too

Sometimes I like to feel

That I was so loser myself

I can only see it

Without even touch it

I can only dreaming

Without any moving

This world is so lively

But why do I’m alone?

This world is so noisy

But why do I’m here?

If I got no one

And i had no place to go

Would it be alright?

Could it be alright?

I still walk alone tonight

Through a long, dark and lonely road

The one that I always lose myself

But I hope, next time I pass this road again

I WON’T BE ALONE ANYMORE!

Add comment March 23, 2009

AngkringanTonight

Malem ini, gue baru pulang dari les Jepang di PBJ UNY. Les Jepang yang sarat makna, soalnya tadi akhirnya gue berhasil mendapatkan arti kata “autis” dalam bahasa Jepang, yaitu: “jiheishoo”. Sementara untuk orang yang bener2 autis, alias bos-nya autis, istilahnya adalah “jiheishoo-cho”. Duh ngapain juga nanya2 kata autis dalam bahasa Jepang. Dasar autis! Jiheishoo!

Balik lagi. Gue baru pulang dari les Jepang. Pas lewat angkringan yang letaknya di depan kosan agak sonoan dikit, gue ngeliat angkringan itu sepi nggak ada pengunjung. Cuma ada mas2 pedagang angkringan yang lagi selonjoran madesu ngejagain gerobaknya sambil nungguin datangnya pembeli. You know angkringan? Yes, angkringan also known as cat-rice, alias nasi kucing.

Ngeliat angkringan lagi sepi, gue jadi kepikiran buat mampir dulu ke situ bentar. Lumayan lah buat ngisi perut gue yang six pack dan berotot ini. Sekalian gue juga mau beli kopi buat nutrisi begadang malem ini.

Akhirnya setelah markirin MyLoveySolBro persis di depan kamar, gue beranjak melangkah ke angkringan. Ngeliat gue mau nongkorong di angkringan, si mas2 pedagang angkringan itu, sebut saja “mas X” (bukan nama sebenernya, soalnya gue lupa namanya siapa) langsung sumringah. Beliau yang tadinya leyeh2, langsung pasang posisi stand by, ready to serve.

Gue pun nongkrong di sana dan segera mesen coffeemix anget. Sementara mas X lagi ngeramu coffeemix angetnya, gue liatin makanan2 yang ada di gerobak angkringan itu. Loh kok tumben2an, makanannya masih banyak banget. Padahal sekarang udah jam setengah 9-an. Biasanya kalo gue nongkrong di angkringan jam segini, makanannya udah hampir abis. Tapi ini nggak, masih nyisa banyak banget. Ya nasi kucingnya, gorengannya, kerupuknya, kepala ayamnya, satenya, sedotannya dan kantong plastiknya. Dua poin terakhir kayanya nggak penting deh…

Biasanya sih, jam segini makanannya udah pada sekarat, udah tinggal penghabisan doang. Nasi, gorengan dan lauknya udah pada abis semua. Paling cuma cabenya doang yang masih nyisa. Itu juga gratisan. Tapi sekarang masih pada numpuk semua. Sampe gue sendiri juga kaget.

Terus gue mikir, kalo malem ini makanannya nggak abis, terus mau diapain ya? Apa mau diangetin buat besok? Apa mau dimakan sama mas X nya sendiri? Apa mau dikasih ke kucing (masa iya, kucing makan nasi kucing?)? Atau apa mau disedekahin ke tempat dugem yang buka sampe pagi?

Sejatina gue pengen nanya gitu ke mas X, tapi gue takut bakal dapet jawaban yang nggak mengenakkan. Mana ada pedagang mau rugi gara2 dagangannya nggak kejual. Dan juga sekarang kan lagi ngetren tuh, makanan kadaluarsa diawetin lagi, terus dikemas sedemikian rupa sehingga konsumen nggak tau kalo sebenernya makanan itu udah nggak layak makan. Hiiiii…

Daripada su’udzon yang nggak2, yang bisa gue lakuin sekarang hanyalah ngebantuin si mas X ini supaya dagangannya hari ini bisa ludes. Jadilah gue mesen 1 coffeemix anget. Terus gue minta 4 gorengan buat dibakar. Sambil nungguin gorengannya dibakar, gue makan 3 gorengan yang udah tersedia. Dan setelah gorengannya selesai dibakar, gue minta dibungkusin 1 coffeemix anget lagi. Plus 3 bungkus kerupuk juga gue kantongin. Jadilah malem ini gue beli gorengan 7, kerupuk 3 dan coffeemix 2, dengan total biaya 8500 rupiah. Pantesan aja gue nggak gemuk2, uang 8500 keluar cuma buat ngisi angin doang!

Itu gue lakuin nggak lain dan nggak bukan supaya dagangannya si mas X ini cepet abis, supaya nggak ada lagi makanan yang tersisa hari ini. Tapi karena rasa penasaran gue udah nggak tertahankan lagi, akhirnya sambil nungguin mas X ngebungkusin pesenan gue, gue memberanikan diri untuk nanya:

“Mas, ini makanannya kalo hari ini nggak abis terus dikemanain?”

Si mas X yang lagi asik ngutak-ngatik pesenan gue, ngejawab,

“Oh ini nanti dikembaliin ke juragannya”

Juragan?

“Loh, emangnya ini Mas bikin sendiri apa beli?”

“Ini saya ngambil dari juragannya. Kalo ada sisa nanti dikembaliin lagi”

Tuing2… Ternyata dalam dunia angkringan juga ada juragan2nya toh. Terus sii mas X ini nambahin lagi,

“Jadi saya nggak perlu khawatir bakalan rugi, Mas!”

Oh ternyata gitu ya… Sejatinya gue pengen nanya lebih jauh lagi, abis dikembaliin ke juragan, terus makanannya mau diapain. Tapi gue rasa itu bukan kompetensi mas X ini untuk ngejawab pertanyaan tersebut. Gue mesti nanya langsung ke juragannya supaya dapet jawaban yang memuaskan. Akhirnya gue nanya yang lain aja.

“Kalo gerobaknya ini punya juragan juga apa punya Mas sendiri?”

“Oh kalo gerobak ini punya saya sendiri Mas”

Akhirnya pesenan gue semua udah siap. Gue langsung ngeluarin 9 lembar uang seribuan yang dibales dengan sekeping uang 500an oleh mas X. Lalu gue pun berterima kasih dan berpamitan sama mas X ini.

Sekarang waktu menunjukkan sekitar jam setengah 9an lewat. Biasanya angkringan ini tutup jam 10 atau jam 11an. Masih ada beberapa jam lagi sebelom mas X ini pulang kembali ke kandangnya. Yang berarti masih ada beberapa jam lagi waktu yang dimiliki mas X untuk menunggu pembeli dateng dan menghabiskan dagangannya hari ini, supaya dia nggak mesti repot2 ngembaliin dagangannya ke juragan angkringan sebagaimana yang dia maksud.

Dan gue berjalan menembus pekatnya malam, melangkah menjauhi angkringan ini, memunggungi mas X yang masih setia dengan gerobaknya. Entah kehidupan seperti apa yang akan dia jalani di keesokan hari nanti…

“Ya Allah, mudahkanlah hidup mas2 pedagang angkringan ini. Lapangkanlah rezekinya. Sejahterakanlah hidupnya. Ampunilah dosanya. Jauhilah ia dari hal2 buruk. Lindungilah selalu dalam naungan-Mu. Wafatkanlah ia syahid di jalan-Mu. Dan tempatkanlah ia selalu di dalam surga-Mu.”

Yogyakarta, 19 Maret 2009

2 comments March 21, 2009

NggakNyolotLagi

(Sebelom mulai masuk pembahasan, gue mau nulis dulu bahwa sejatinya judul diatas kurang sreg dengan tulisan ini. Awaknya tulisan ini mau gue kasih judul “KestabilanEmosi”, tapi karena tulisan ini masih ada kaitannya sama tulisan gue sebelomnya yang berjudul “NyolotLagi”, ya udah deh akhirnya gue ngasih judul diatas buat tulisan ini.)

Di suatu pagi yang bukan malem2, gue lagi asik nongkrong di kelas buat ngedengerin Pak Agus Budhi Wijatna bercuap-cuap olala ngajar mata kuliah AMDAL, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Lagi asik2 konsentrasi dengerin Pak Agus ngejelasin tentang langkah2 perizinan proyek, tiba2 saku kiri celana gue bergetar. Drrrrtt… Drrrrtt… Wah awas ada gempa! Ayo ngumpet dibalik rok anak SMA!

Eh tapi masa gempa cuma di kantong sebelah kiri doank? Jelas bukan gempa lah, melainkan ada sms yang masuk ke handphone Nokia 6681 gue, dimana parameter bahwa telah masuknya sms itu ditandai dengan adanya getaran dari handphone gue.

Sms itu berasa; dari perempuan yang sama dengan perempuan yang gue maksud di tulisan gue yang berjudul “NyolotLagi”. Sms nya lumayan panjang, ada 3 halaman. Berarti dia mesti keluar pulsa +- 300 rupiah buat ngirim sms ini, soalnya kita sama2 pake Im3. Duh penting ya?

Bla bla bla bla… Gue baca sms itu di dalem hati. Read it. Undesrtand it. Remember it. Tapi belom masuk ke tahap destroy it, soalnya kalo pagi itu sms nya udah keburu gue destroy, ya sekarang gue nggak bisa nulis tulisan ini donk.

Sms itu juga masih ada kelanjutannya sama yang dulu. Dan dari 3 halaman sms itu, kalimat terakhirnya berbunyi kaya gini:

“Semua’a dah clear.. Afwan kalo kmaren gw trlalu meledak2.. Kumpulan emosi yg tertahan..”

Ting-tong! Dulu aja marah2 sama gue, sekarang minta maaf. Idih, emang akika cowo apaan bow…

Sekali lagi, karena gue dikaruniai rezeki sebagai makhluk yang nggak punya perasaan, abis baca sms itu gue nggak butuh waktu lama untuk balik lagi ngedengerin ceramahnya Pak Agus Budhi: “Jadi anak2, jika sel sperma berhasil menerobos masuk dan bertemu dengan sel telur, maka akan terjadi pembuahan. Selanjutnya sel hasil pembuahan ini akan berkembang dan berkembang selama +- 9 bulan, lalu brojol keluar, dan jadilah kalian semua yang jelek2 dan autis ini!”. Aduh, nggak mungkin banget di mata kuliah AMDAL ada materi kaya gini…

Dulu waktu si perempuan itu sms gue yang marah2, Alhamdulillah gue yang nggak punya perasaan ini bisa fine2 aja. Sekarang setelah si perempuan yang sama sms ke gue lagi untuk minta maaf, gue juga fine2 aja. Kalo pun ternyata suatu hari nanti perempuan itu meninggal, ya Insya Allah gue juga fine2 aja. Akika kan nggak punya perasaan gitchu bow..

“Afwan kalo kmaren gw tralu meledak2.. Kumpulan emosi yg tertahan..”

Don’t mention it. Ledakan bom atom Hiroshima dan Nagasaki masih jauh lebih dahsyat. Hidup nuklir!

Tapi emang itulah salah satu karakteristik manusia yang sering kali kita lupain: terlalu cepet ngikutin emosi. Terlalu ekspresif. Atau kalo pake bahasa dakwah: menuruti hawa nafsu. Cieh, tumben2an gue bisa ngomong bener. Tepok tangan dulu ah… Plok plok plok…

Manusia memiliki kecenderungan untuk lebih menuruti hawa nafsunya, dalam hal ini adalah emosi. Emosi disini nggak berarti emosi marah2, tapi juga sedih, senang, bahagia, menangis, dll, semuanya bagian dari emosi.

Ketika kita ngerasa marah, seringkali tanpa sadar kita langsung seenaknya aja marah2 dan meledak2 kaya Gunung Krakatau. Padahal bisa jadi, kadar marah kita ngelebihin yang seharusnya, sehingga kita belebih2an dalam marah2. Bahasa dakwahnya: bid’ah, alias berlebih2an. Dan kita sama sekali nggak mau tau gimana rasanya orang yang dimarah2in itu, kita cuma pengen ngelampiasin semua kemarahan yang kita punya.

Demikian juga ketika kita lagi bahagia, kita langsung jadi ketawa2 sendiri dan girang2 jejingkrakan kaya makhluk autis. Padahal bisa jadi, orang2 di sekitar kita lagi berduka akan suatu hal.

Ataupun ketika kita lagi sedih, aura kita seharian murung, lesu, letih, lelah, nggak semangat dan lemah syahwat, sehingga nggak bisa membahagiakan pasangan. Ups maap, salah konteks. Kita terlalu bangga mengekspresikan kesedihan kita sampe2 kesedihan kita ini ngenganggu temen2 kita yang mungkin lagi butuh semangat.

Dalam Hukum Newton, ada prinsip keseimbangan gaya. Dalam mekanika, ada prinsip kestabilan gaya. Dalam termodinamika, ada prinsip kesetimbangan energi dan kestabilan sistem. Dalam ilmu ekonomi-akuntansi, ada prinsip keseimbangan dan kestabilan neraca. Dan dalam Al-Qur’an pun, ada prinsip mizan. Begitupun kaitannya dengan emosi, harus ada keseimbangan dan kestabilan. Inilah yang gue namain dengan “KESTABILAN EMOSI”, sebuah frase yang sedianya mau gue jadiin judul tulisan ini.

Iya, ini adalah apa yang gue sebut sebagai “KESTABILAN EMOSI”, bahasa Inggrisnya: “emotional stability” (bener nggak tuh?). Kestabilan emosi adalah gimana caranya kita bisa sedemikian rupa mengendalikan kestabilan emosi kita sehingga nggak mengganggu emosi orang2 di sekitar kita.

Contoh kasus di atas, alias kasus yang gue alamin sendiri, gimana ketika seseorang ngerasa sedemikian marahnya, dia sampe bisa ngomong gini ke gue:

“Lo tau sberapa besar kebencian gw dlu sama lo. Dan skarang seribu kali lipat jauh lbh benci!”

Itu gara2 dia udah sedemikian dongkolnya, sampe dia punya ilmu yang Einstein sendiri nggak tau, yaitu ilmu untuk me-multiplikasi-kan perasaan benci. Sementara sekarang setelah dongkolnya udah agak2 turun, omongannya berubah jadi:

“Afwan kalo kmaren gw tralu meledak2.. Kumpulan emosi yg tertahan..”

Gyahahahahahaha… Ketawa dulu ah… Gyahahahahaha… Awas ada lalet masuk!

Alhamdulillah, dia marah2 dan minta maafnya ke orang yang nggak punya perasaan, jadi keadaan antara sebelom dan sesudahnya, Insya Allah bakalan sama aja. Kalo dalam bahasa Fisika nya: steady state condition. Tapi pernah kah terbayangkan jika ketika dia marah2 ke seseorang, orang itu jadi ketularan naik darah juga dan jadi ikutan dongkol sama dia? Dan ketika dia mau minta maaf, orang itu telah menutup pintu maaf baginya? Whatever, that wasn’t my business!

Untuk itulah, mari kita coba untuk menanamkan istilah “KESTABILAN EMOSI” di dalam alam bawah syahwat kita. Eh Astagfirullah, maksudnya alam bawah sadar kita. Karena akan sangat berbahaya kalo kita menggunakan emosi ini nggak pada tempatnya. Ibaratnya, seorang Michael Schumacher mengendarai motor Yamaha 800 CC punya Valentino Rossi, maka hasilnya Cristiano Ronaldo bakalan kesulitan mencetak gol. Loh kok nggak nyambung?

Gue sering dikritik sama temen gue, kalo ekspresi gue terlalu datar untuk seekor makhluk imut sekaliber gue. Mereka bilang, mereka nggak bisa ngebedain kapan gue lagi marah dan nggak. Soalnya katanya tatapan mata gue terlalu cool untuk itu (kata gue sendiri). Dan mereka juga nggak bisa ngebedain kapan gue serius dan kapan gue ngejayus. Soalnya gue sering ngelontarin lelucon jayus dengan ekspresi datar. Dan gue nggak sedih, tapi gue malah berbangga dengan itu semua. Huahahahaha… Ih autis banget dah ah! Ini juga lu pasti lagi pada bingung kan, sebenernya tulisan gue ini lagi marah, serius, jayus atau biasa aja?

Intinya, mari kita coba menerapkan “KESTABILAN EMOSI” dalam keseharian kita. Nggak perlu ngalahin bom atom kalo lagi marah. Nggak perlu sebanjir Bengawan Solo kalo lagi sedih. Nggak perlu jingkrak2 penuh keautisan kalo lagi seneng. Dan nggak perlu keliling dunia adalah lagunya Gita Gutawa yang jadi soundtracknya Laskar Pelangi (%X&@#$!!!)

Dan terakhir, sekali lagi, kesimpulannya gimana?

Ya kali ini gue nggak bakal jawab “talk to my hand” lagi, tapi gue cuma pengen jawab:

“TALK TO MY PAST!”

*hey hey yang ngerasa namanya “past”, dicariin tuh…*

2 comments March 21, 2009

NyolotLagi

Di suatu pagi yang berawan, ketika gue lagi asik goyang2 senam pagi dalam rangka Makrab Departemen PSDM BEM KMFT UGM di dusun Cangkringan, Sleman, handphone gue bergetar. Drrrrrt… Drrrrrt… Kira2 gitu bunyi getarannya. Segera gue buka handphone gue dan gue baca sebaris sms yang masuk disana:

“Knapa jadi marah sama gw? Hah gw SEBEEEELLL!!!

Lo tau sberapa besar kebencian gw dlu sama lo. Dan skarang seribu kali lipat jauh lbh benci!”

Gitu kira2 isi smsnya. Sebelomnya udah ada 2 sms panjang, yang isinya sebaiknya nggak perlu gue nongolin disini. Cukup sms ke-3 aja, yaitu adalah sms yang baru aja kita baca diatas.

Lagi asik2 senam, tiba2 gue dapet sms kaya gitu. Maksudnya apa? Alhamdulillah untung gue terlahir sebagai seorang manusia yang nggak punya perasaan, jadi sms kaya gitu nggak banyak mempengaruhi kestabilan mental serta emosi gue. Dengan gaya profesional kaya ajaran para trainer, gue masih tetep bisa ngelanjutin senam dan acara2 selanjutnya seperti biasa, penuh dengan keakraban dan canda tawa. Nggak ada seorang pun yang tau kalo di inbox gue ada sebiji sms autis kaya itu tadi.

Sms itu dikirim oleh seekor perempuan temen seangkatan gue yang lagi menempuh kuliah di Bogor. Nggak kaget sih baca sms kaya gitu, secara dia emang nggak punya saringan di otaknya. Dan dulu juga gue udah pernah dijajah sama dia selama 3 taun di SMA, jadi ya gitu deh.

Disini gue nggak mau berpanjang lebar cerita macem2, tapi cuma pengen ngapain ya gue juga nggak tau.

Tapi intinya… Gue juga nggak tau intinya apa…

*gubrak…!!!* Jatoh dulu ah…

Oke, jadi intinya adalah:

“Lo tau sberapa besar kebencian gw dlu sama lo.”

Iya gue tau, gue yang ngerasain kok. Dan gue juga tau kalo kebencian lu sama gue itu jauh lebih besar daripada seberapa besar gue tau kebencian lu sama gue.

“Dan skarang seribu kali lipat jauh lbh benci!”

Gue nggak tau ini orang pake perhitungan aljabar macem gimana, kok bisa2nya perasaan benci itu di-multiplikasi-in sampe 1000 kali besarnya. Apa dia pake deret Fourrier, transformasi Laplace, metode Eigen-Muller, perhitungan kekritisan, atau apalah whatever… Terus rasa benci itu satuannya apa ya? Elektron volt? Kilo Pascal? Becquerel? Meter per sekon kuadrat? Atau kilo Watt per jam? Ah I dunno…

Daripada bingung ya mendingan gue akhirin aja tulisan ini. Jadi, tulisannya sampe sini aja ya. Izinkan gue mengakhiri tulisan ini dengan sebuah doa:

“Ya Allah, jika aku menjadi temannya adalah suatu keburukan, maka pisahkanlah kami berdua.”

“Dan jika aku menjadi temannya adalah suatu kebaikan, maka buatlah agar ini menjadi buruk, supaya kami berdua akhirnya terpisahkan juga…”

Astagfirullah… Nggak tau deh doa kaya gini bakal dikabulin apa nggak, kan kita nggak boleh berdoa untuk keburukan. Tapi bisa jadi, kita memandang baik sesuatu padahal itu buruk bagi kita, dan bisa jadi kita memandang buruk sesuatu padahal itu baik bagi kita.

Jadi… Kesimpulannya gimana?

TALK TO MY HAND!

Add comment March 15, 2009

StartItAllOverAgain

“Sigh…”

It’s been a long time since the last time I did update my lovely blog. Maybe it was just about 2 weeks ago, when I posted “MenkoEksternal#2”. I should say sorry for leaving my blog alone. But I would like to say thank you very much for you whom always wait faithfully for my next post.

The reason why I didn’t update my blog is because I was so busy in the last 2 weeks. The college had started its existence, also with its never ending duty and homework. And the organization had having a lot of agenda.

Not only that, but I also took a course of French language class, 3 days a week, 2 hours each meeting. This one also stole my precious time a lot. So I needed to eliminate some of my activities, and this blog activity is the one which eliminated.

Honestly, now I still in such a busy situation, just like weeks before. And next, it will be more tiring than before, because there will be a lot of group-duty and presentation at the college. The organization will be more complex with its big events. The French class is still running, and I also take a course of Japanese language class. Monday, Wednesday and Friday are French class time, while Tuesday, Thursday and Saturday are Japanese class time. And I shouldn’t forget about my duty to prepare my KKN (Kuliah Kerja Nyata) in Gorontalo at July-August, insya Allah.

But now in my only 4 hours free time, I like to spend a little time of my life to write this article. Just to do writing as my hobby, because I need to update my blog before it comes rotten. Even though the result is only a short-meaningless article like this, but it’s okay, never mind.

If you want to look deeply, this short-meaningless article is very special for me. Why is it? Because this is my very first full-English blog article that is posted in my blog. Hihihihihi… Surprise, isn’t it? I myself also surprised with this: how could an autism person with TOEFL result only 487 can write a full-English blog article like this?

You don’t need to answer that, and so do I. The only thing you need to do is to read my blog completely, and the only thing I need to do is keep writing, so that I do promise to myself that I will conquer this world with my hand-made article. Does everyone agree?

Add comment March 15, 2009

MenkoEksternal#2

Okeh eperibodi, para penonton, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, semua yang ada disini…

Akhirnya masa jabatan gue selaku Menko Eksternal telah memasuki bulan ketiga. Yang berarti gue harus mereview langkah2 gue selama 1 bulan yang lalu, tepatnya sepanjang bulan Februari. Mau tau ceritanya? Yuk yaaah…

Bulan Februari adalah bulan HPTT, Hari Pendidikan Tinggi Teknik alias Dies Natalis alias ultahnya Fakultas Teknik UGM. Rangkaian acara HPTT ini dibuka tanggal 1 Februari, dengan acara pembukaan berupa opening ceremony, jalan sehat, makan2, lomba2, dll.

Untuk acara pembukaan ini, sejatinya yang diundang hanyalah para dosen dan karyawan Fakultas Teknik UGM beserta keluarganya. Namun mereka juga memberikan undangan untuk 5 orang perwakilan mahasiswa, dalam hal ini adalah BEM KMFT UGM. Jadilah gue yang berstatus mahasiswa dapet kesempatan untuk dateng di acara ini, ber-4 bareng sama Miftah si Ketua BEM, Fauzi Cabul si Menko Internal dan Nasikun si calon mantan Kadept PSDM. Sementara jatah 1 orang lagi tadinya mau dikasih buat Tyas Busuk si Sekretaris Eksekutif atau si Ade Autis si alumni BEM, tapi mereka nggak mau ikutan.

Lalu di pagi hari ketika acara siap2 mau mulai, gue ber-4 dateng ke meja registrasi buat daftar dan registrasi sekaligus nyetor nama. Pas daftar ternyata kita juga dapet baju HPTT. Normalnya kita semua dapet baju yang ukurannya L, tapi karena gue takut bajunya kegedean, gue inisiatif minta baju yang ukurannya S. Bukan S untuk Small, tapi S untuk Seksi. Soalnya pas gue coba, ternyata baju ukuran S ini emang ngepas banget sama body gue yang six pack dan berotot ini. Ngepas dan ngepress gitu. Bukannya jadi keren, gue malah keliatan kaya banci salon atau homo2 gitu…

Setelah ganti baju, kita langsung ngumpul di tempat acara, tepatnya di deket tiang bendera. Opening ceremony dilakukan di sana, yaitu Pak Tumiran selaku Dekan Fakultas Teknik memotong tali yang ada balonnya, yang mana di balon itu disertain juga sebuah kertas berhadiah. Tulisannya kalo nggak salah bunyinya gini. “siapa aja yang bisa nemuin kertas ini, silahkan menghubungi KPTU Fakultas Teknik UGM untuk ditukar dengan hadiah”. Gue agak lupa juga sih hadiahnya apa. Dan setelah Pak Dekan memotong talinya, balon itu pun terbang mengangkasa diiringi tepuk tangan dari seluruh perserta yang ada disana. Plok plok plok plok plok…

Kemudian acara dilanjutkan dengan jalan sehat. Jalan sehat muterin Fakultas Teknik, mulai dari KPTU, ke ringroad Teknik Selatan sampe ujung Teknik Kimia, terus turun tracking ke pinggiran Kali Code, terus tembus ke Pogung, terus ke Selokan Mataram sampe Jalan Grafika, terus masuk lewat pintu gerbang Fakultas Teknik, terus ke ringroad Teknik Utara, terus lewat Teknik Arsitektur, terus lewat Mustek alia Musholla Teknik dan akhirnya kembali ke KPTU. Di KPTU kita udah disambut dengan sajian makanan. Langsung aja gue comot segala macem kue basah yang ada serta soto ayamnya. Slruuuup nyam nyam… Jangan pada ngiler ya.

Setelah acara pembukaan HPTT 63 ini berakhir, gue izin ke Pak Bos Miftah untuk cuti hamil. Loh masa cuti hamil? Ya iya lah, masa ya iya donk…

Bukan cuti hamil sih, tapi gue pengen pulang dulu ke Depok tercinta untuk ngeliat kondisi rumah yang lagi direnovasi. Direnovasi gara2 Global Warming yang makin hari makin Warmer aja, yang ngebuat rumah gue jadi kebanjiran.

Akhirnya setelah 1 minggu cuti hamil, bayi di dalem perut gue brojol juga. Ternyata bayinya laki2, dan langsung gue kasih nama Siti Aisyah Asmiranda. Ya tentunya, 2 kalimat tersebut adalah imajiner belaka.

Maksudnya, setelah 1 minggu gue pulang ke Depok, gue balik lagi ke Jogja gara2 mesti ngisi KRS. Sekalian selama 1 minggu itu juga gue bergelut dengan raker nya BEM KMFT UGM. Raker yang tetep alot seperti biasa, gara2 pada nggak mau ngalah. Sampe tulisan ini ditulis pun raker itu juga masih belom finish.

Beberapa hari sebelom 14 Februari, hari dimana orang2 bodoh-tolol-blo’on-goblok-idiot ngerayain Fucklentine’s Days, Departemen Kajian Strategis alias Kastrat, yang dulu gue pernah memimpin disana, ngadain diskusi tentang asal-usul Fucklentine’s Days. Selaku mantan Kadept, gue pun ikut serta numpang eksis di acara diskusi itu.

Plus di pertengahan bulan Februari, gue kedapetan amanah untuk ngewakilin Fakultas Teknik UGM di lomba debat Rexona: “Rextreme Futur Protetion Challenge”. Nggak cuma gue doank, tapi ber-4 barengan sama Ikhsanudin, serta Fauzi Cabul dan Ade Autis yang namanya tadi udah gue sebut di awal.

Lomba debat yang diadain di Ambarukmo Plaza ini lebih sreg kalo gue namain lomba debat autis, soalnya lombanya kurang intelek2 gimana gitu. Lomba ini sebenernya merupakan rangkaian acara promosi produk ketek itu tadi. Mereka lagi ngadain acara di Amplaz, dan lomba debat autis ini merupakan salah satu rangkaian acaranya yang bertujuan untuk menarik massa dari kalangan mahasiswa, dalam hal ini adalah para suporter tim lomba debat universitas yang bersangkutan. Untungnya sepanjang lomba ini nggak banyak anak2 Teknik yang dateng nyuporterin gue. Padahal temen2 gue semuanya udah pada gue sms-in kalo gue bakaln nampil lomba debat ngewakilin Fakultas Teknik UGM di Amplaz ini. Tapi realitanya, hampir sama sekali nggak ada yang dateng kecuali Fina dan Dinda. Duh, gue mesti seneng apa sedih ya?

Lomba debat bin autis ini diikutin 8 Universitas yang semuanya diwakilin oleh Fakultas Tekniknya, dengan format sistem turnamen. Selain UGM ada Universitas Negeri Yogyakarta UNY, Univeritas Ahmad Dahlan UAD, Sekolah Tinggi Teknologi STTNas, Universitas Islam Indonesia UII, Univesitas Atmajaya Yogyakarta, Universitas Santa Dharma, dan Universitas Kristen Duta Wacana UKDW.

Waktu technical meeting dan setelah pembagian jadwal, gue udah janjian sama UAD untuk ketemuan di semifinal, janjian sama UII untuk ketemu di final, dan janjian sama uang 1.5 juta bahwa uang itu bakalan gue bawa pulang. Tapi ternyata manusia hanya bisa berencana sedangkan Allah Al-Jabbaar yang menentukan. Di lombanya sendiri, gue ber-4 emang berhasil lolos ke semifinal dengan ngalahin UNY. Tapi ternyata gue nggak ketemu sama UAD sebagaimana yang udah dijanjiin, tapi ketemu sama STTNas yang ngalahin UAD. Pun demikian dengan UII yang udah kalah duluan sama Universitas Sanata Dharma. Padahal anak UII yang turun di lomba debat autis ini tuh anak UKM Debat lho!

Tapi nggak masalah, gue masih punya janji sama uang 1.5 juta selaku hadiah untuk juara pertama. Di semifinal, gue berhadapan sama STTNas, dan gue pun optimis Insya Allah bisa lolos ke final. Soalnya jalannya debat emang condong ke arah gue. Tapi ketika hasil akhir diumumin, nggak tau kenapa yang lolos ke final malah si STTNas itu. Huiks huiks… Lenyap deh uang 1.5 juta itu…

Karena kalah di semifinal, lalu gue harus tanding sekali lagi untuk perebutan tempat ketiga, yang hadiahnya 750 ribu rupiah. Disini kita ngelawan Sanata Dharma. Dan dari jalannya debat pun, mestinya kemenangan ada di pihak gue. Tapi sekali lagi, tim juri yang terdiri dari orang2 produk ketek tersebut malah menangin si Sanata Dharma. Ya jadilah di lomba debat ini gue ber-4 ngeraih posisi ke-4 Hadiahnya cuma berupa souvenir tas dan kaos doank, nggak dapet uang tunai. Eh sebenernya sih dapet, uang makan dan transportasi yang dikasih panitia untuk tim yang lolos semifinal. Pun souvenir gue itu sempet ketinggalan di sana, lupa gue bawa pulang. Untung Tyas Busuk si Sekretaris Eksekutif kebetulan lagi ada di Amplaz juga, jadi gue minta tolong dia buat ngambilin.

Selepas dari lomba debat autis ini, gue dan Fauzi Cabul dikasi info bahwa beberapa hari kemudian bakalan ada talkshow tentang pengembangan potensi diri dalam nentuin pilihan. Gue sama Fauzi manut2 aja, dengan janji bahwa insya Allah bakalan dateng kalo sempet.

Di pertengahan bulan Februari juga, diadakan pidato Dies Natalis Fakultas Teknik UGM, acara yang masih termasuk dalam rangkaian acara HPTT. Pidato ini isinya ya semacem sambutan dan refleksi gitu, dari Pak Tumiran selaku Dekan dan Pak Sujarwadi selaku Rektor UGM yang berasal dari Jurusan Teknik Sipil. Plus ada 1 pembicara lagi yang namanya Pak Bondan. Beliau adalah alumnus Fakultas Teknik UGM yang dulu pernah menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara. Tapi gue lupa itu waktu jaman kapan.

Sebenernya gue nggak tau acara pidato ini terbuka untuk umum apa nggak, soalnya mahasiswa yang dateng cuma sedikit, itupun statusnya undangan. Sedangkan yang lainnya adalah para dosen, pejabat dekanat dan karyawan Fakultas Teknik UGM. Selepa pidato yang juga disertai dengan penghargaan2 bagi pegawai2 tertentu itu, dilanjutin dengan makan2. Dan selaku anak kos yang selalu kelaperan, gue pun memberingas dengan melahap sebanyak mungkin makanan yang ada disitu. Ada sate, bakso, bubur, roti, buah2an, minuman bersoda, dll. Nyam nyam nyam… Sekali lagi, nyam nyam nyam…

Malemnya, gue diamanahin Woki Botak untuk ngejemput pembicara dari LIPI, Pak Bambang, yang bakalan jadi pemateri untuk seminar HPTT keesokan harinya. Lalu gue dan Arif pun menjemput beliau di stasiun Tugu sekaligus nganter ke penginapan.

Besoknya setelah paginya gue ngejemput Pak Bambang dari penginapan ka kampus, gue ikut jadi peserta di seminar HPTT itu. Tapi di tengah jalan gue udah harus pergi, soalnya gue sama Fauzi Cabul mau ikut talkshow yang dikasitau sama Mas2 panitia waktu lomba debat autis di Amplaz.

Gue dan Fauzi dan beberapa ekor anak Teknik lainnya dateng ke acara yang disponsori oleh salah satu produk rokok ini. Disini gue ketemu lagi sama beberapa orang yang dulu pernah gue temuin waktu lomba debat. Mulai dari panitianya, MC-nya, dan rekan2 dari UAD serta STTNas. Plus kita juga dapet gelang2an gaul warna putih, yang sekarang lagi ngetren itu loh. Jadilah gue punya 2 gelang yang ngelingker manis di lengan kanan gue, yaitu gelang merah “Bangkit Lawan Korupsi” dan gelang putih “Stay Ahead”. Tapi waktu tulisan ini dituis, gelang merah gue ilang entah kemana. Ada yang tau dimana?

Malemnya gue diamanahin Woki lagi untuk mulangin Pak Bambang ke stasiun Tugu lagi, dan amanah itu gue jalankan dengan sukses. Sepulangnya, gue pun mikir. Mestinya kan penginapan yang Pak Bambang ini check out nya baru jam 12 siang keesokan harinya. Tapi ini baru jam 8 malem beliau udah langsung pulang. Jadilah sekarang penginapan itu haknya masih ada di Pak Bambang, tapi nggak ada yang nempatin. Akhirnya dengan inisiatif anak kos yang hidup serba sengsara, gue pun berniat untuk nempatin penginapannya Pak Bambang yang udah ditinggal itu. Jadilah malem ini gue ber-3 sama Andhika si Hobi Keramas dan Pras si Bocah Klaten numpang bermalam di penginapan tersebut. Lumayan lah untuk ukuran anak kos yang biasa tidur di kosan yang menyengsarakan.

Penginapan ini ukurannya luas, kasurnya empuk, ada tivinya, kamar mandi dalem, shower, AC, plus ada kolam renang persis di depannya. Tapi sedihnya kolam renang ini nggak sempet gue nikamtin soalnya besok paginya gue udah mesti kuliah. Jadilah kita cuma sempet nikmatin sarapan gratis yang disediain disana, berupa 2 potong roti bakar dobel, 2 gelas teh anget, 2 butir telor rebus, dan 4 cup selai, yang harus dibagi rata ber-3. Plus ada sedikit accident, yaitu ketika Andhika si Hobi Keramas matahin kunci kamar ketika kita ber-3 lagi di dalem. Jadilah kita terpenjara di dalem kamar tanpa bisa keluar. Jadi serasa horror gini. Untung Mas2 Office Boy nya baik, mau ngambilin kunci baru dan ngebukain dari luar. Tapi ternyata di front desk gue tetep harus ganti rugi atas kunci yang patah itu. Ah dasar kapitalis.

Akhirnya HPTT sampe di acara penutupannya, yaitu malam inagurasi. Di malam inagurasi ini, gue nampil untuk nyanyiin 3 buah lagu. Jelasnya sih bukan gue yang nyanyi. Bisa muntah2 aja penontonnya kalo denger gue nyanyi. Jadilah gue mengajak Tyas Busuk selaku vokalis, yang punya suara emas layaknya piring pecah. Disini kita ngebawain 3 lagu, yaitu “Diam Tanpa Kata” nya D’Massive, “We Will Not Go Down” nya Michael Heart, sama 1 lagi lagu ciptaan gue sendiri, judulnya “Selamanya Teknik”. Lagu ini merupakan salah satu bukti eksistensi gue terhadap Fakultas Teknik, setelah taun lalu gue juga punya lagu tentang Teknik yang judulna “Teknik Bersatu”. Alhamdulillah respon orang2 cukup membahagiakan. Pasti itu karena gue selaku gitarisnya, bukan karena Tyas Busuk selaku vokalisnya. Hihihihihihi… Sayang aja nggak ada produser rekaman yang ngeliat.

Kemudian Gunawan Saputro si Sinden selaku Kerumahtanggaan (KRT) BEM KMFT UGM punya acara yang namanya “Sambatan”, artinya “sambil bersih2 pererat persahabatan”. Yaitu acara beres2 ruang BEM plus olahraga, untuk semakin mengakrabkan kekeluargaan diantara anak2 BEM itu sendiri. Di acara Sambatan ini gue cuma sempet ikut olahraganya doank, yang beres2nya nggak ikut. Soalnya sekali lagi gue mesti ngewakilin Fakultas Teknik UGM untuk ikut acara pelatihan Scud Memory, pelatihan tentang otak kanan-otak kiri, sekaligus promosi dari salah satu lembaga bimbingan yang mengajarkan metode Scud Memory itu.

Di pelatihan Scud Memory itu ternyata yang jadi trainernya adalah anak Fakultas Teknik sendiri, lengkapnya mahasiswa Program Studi Fisika Teknik angkata 2002 yang sampe sekarang belom lulus2 dan belom kawin2, sekaligus alumnus BEM KMFT UGM beberapa taun lalu. Mas2 yang sebelomnya pernah dateng main2 ke BEM bareng mantan Ketua Bem KMFT UGM taun 2004. Ya nggak apa2 lah, sekalian mempererat silaturrahim.

Setelah itu semua, akhrnya tibalah minggu terakhir bulan Februari, dimana raker juga masih belom selesai2. Lalu diputusin bahwa dana raker akan dipotong sepihak oleh gue ber-3, sama Miftah dan Fauzi Cabul. Setelah dana itu kita potong sepihak pun ternyata masih pada belom puas juga, malah sampe pada ngotot2an dan ngambek2an. Jadilah sekarang nyawa gue ber-3 terancam oleh mereka2 yang nggak puas dengan hasil raker ini. Huh dasar kapitalis semuanya!

Nggak lupa, gue berdua sama Miftah juga nyempetin diri untuk ngejenguk Mas2 alumni yang lagi terbaring di rumah sakit gara2 kecelakaan motor. Korban tabrak lari. Tapi kita nggak sempet ketemu orangnya langsung, soalnya jam jenguk udah lewat. Lalu kita beralih jenguk Menteri Aksi dan Agitasi BEM KM UGM yang juga terbaring gara2 kecelakaan 1 minggu yang lalu. Kita ngadain doa bersama untuk beliau, soalnya sejak kecelakaan itu terjadi 1 minggu yang lalu, beliau masih dalam keadaan nggak sadarkan diri sampe sekarang. Dan 2 hari kemudian barulah gue dapet kabar kalo Pak Menteri yang bernama Bagus Aji itu akhirnya telah dipanggil oleh Allah Al-Azhiim. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun…

Emang sekarang kayanya lagi ngetren kecelakaan. Beberapa waktu sebelomnya gue juga ngejenguk Dyah Anindita Wikansari selaku Kadept Oase yang mengalami patah jati gara2 kecelakaan motor di kampus. Cepatlah sembuh wahai saudariku…

Akhirnya tibalah saatnya BEM KMFT UGM kedatengan tamu dari Dewan Mahasiswa (Dema) Akademi Teknologi Kulit alias ATK, salah satu universitas di Bantul sana. Mereka dateng dengan niat untuk belajar tentang seluk beluk organisasi kemahasiswaan, mengingat Dema ATK ini sempet vakum selama 2-3 taun ke belakang dan sekarang mencoba untuk eksis lagi.

Surat dari mereka udah Miftah terima dari bulan lalu, dan gue langsung diamanahin untuk mengeksekusi agenda ini, terkait dengan fungsi gue selaku Menko Eksternal. Lalu gue pun ngumpulin akan2 Humas dan PSDM untuk menjadi panitianya, ngebahas rundown, konsep acara, materi, dll. Akhirnya terpilihlah Dendy Catur Setiawan yang biasa dipanggil Maya (??????) ini untuk jadi penanggung jawabnya, dan peran gue cuma sebagai pembimbing dan penasehat aja.

Dema ATK yang dateng berjumlah sekitar 27 orang, dan langsung kita arahin ke ruangan yang udah kita siapin. Acara penyambutan ini bentuknya kaya seminar atau pelatihan gitu, dimana kita dari BEM KMFT UGM yang jadi pematerinya dan mereka selaku pesertanya. Di acara ini pun gue kebagian jatah sebagai pemateri, yaitu untuk ngejelasin tentang fungsional organisasi dan struktur organisasi BEM KMFT UGM periode 2009 ini. Nggak lupa gue juga berbagi ilmu tentang logika otak kanan-otak kiri dan gerakan2 simpel yang gue dapet waktu ikut pelatihan Scud Memory beberapa waktu lalu, yang ngebuat anak2 ATK jadi pada nyegir2 sendiri setelah gue kasih gerakan2 yang aneh bin autis binti ajaib ini.

Di tengah acara pun gue nyempetin ngobrol2 sama mereka, nanya2 kabar, nyari2 info, dll. Plus gue juga sempet2in ngasih kartu nama autis gue ke Ardiansyah, ketua Dema ATK. Harapannya semoga kartu nama autis gue itu mampu memotivasi mereka untuk jadi lebih autis lagi daripada gue. Huehehehe…

Dan akhirnya acara kunjungan ATK ini diakhiri sekitar jam 5-an, setelah sebelomnya gue kabgian jatah untuk sharing dalam forum melingkar tentang pengalaman gue berorganisasi. Kita juga sempet foto2 dulu, rame2 semuanya dari BEM KMFT UGM dan dari Dema ATK.

Nggak tau kenapa, sama orang2 gue dilarang foto di barisan paling depan. Katanya bisa nutupin yang di belakang. Duh rasis juga nih. Jadilah gue nangkring di barisan laki2 paling belakang, sementara persis di belakangnya ada barisan perempuan yang posisinya sedikit lebih tinggi. Ketika kamera mulai dijepret, terdengar perempuan di belakang gue pada kasak-kusuk bisik2 nggak tau ngomongin apa. Tapi yang gue tangkep sih, kayanya mereka pada seneng bisa foto persis deketan sama gue. Jadilah kepala mereka dideket2in ke kepala gue. Mungkin supaya nanti fotonya bisa dicrop sehingga hasilnya cuma kepala kita berdua doank aja yang bersebelahan dengan mesranya. Huahahahaha… Narsis banget dah ah.

Lalu Dema ATK pun pulang kembali ke kandangnya naik bus dinas, setelah sebelomnya sekali lagi kita foto2 di Tugu Teknik. Dan panitia dari BEM KMFT UGM juga pulang kembali ke sarangnya. Sementara gue sendiri pun harus pulang ke alam kubur, menuju surga yang abadi. Dan seperti itulah perjalanan hidup seekor Menko Eksternal di bulan kedua masa jabatannya.

4 comments March 1, 2009

TechnicalMeetingAutis

Di sela2 liburan gue di awal bulan Februari, ketika gua lagi di Depok, hp gue berdering. Datang seekor sms dari Fauzi Muharram alias Fauzi Ingah-Ingih alias Fauzi Cabul (Calon Bupati Bantul) yang isinya menyatakan bahwa tanggal 14-15 Februari bakalan ada lomba debat di Ambarukmo Plaza, biasa disingkat Amplaz. Lomba debat ini diadain oleh salah satu produk deodoran ketek yang bernama, sebut saja “Mbleketek” (bukan nama sebenarnya. Kalo nama sebenernya ntar disangka promosi. Huehehehe… Gue sih mau aja promosiin brand itu, asal ada kompensasinya lah…). Dan, gua bareng Fauzi Cabul diamanahin untuk ngewakilin Fakultas Teknik UGM dalam lomba debat itu, bareng 2 temen gue lainnya yang bernama Ade Autis dan Ikhsanudin.

Lomba debat ini temanya tentang “menghadapi perubahan iklim di masa mendatang”, nggak jauh2 beda sama produk deodoran keteknya si Mbeleketek ini. Si Mbleketek ini pada tanggal segitu emang ngadain event promosi di Amplaz, dan lomba debat ini adalah salah satu bagian dari event tersebut, untuk menarik massa tentunya.

Gue yang sama sekali nggak punya pengalaman debat, akhirnya menyetujui untuk ambil bagian di lomba debat ini. Soalnya anak2 Teknik yang lain lagi pada disibukkan dengan acara HPTT alias Hari Pendidikan Tinggi Teknik, jadi kita2 yang pengangguran ini lah yang bakal mewakili. Agak aneh juga sih, secara gitu gue nggak hobi debat sama sekali. Ngedebat pedagang atau sopir angkot dalam masalah harga juga nggak pernah. Paling dulu waktu mau beli handphone aja kita berdebat adu tawar harga. Atau ngedebat polisi waktu kena tilang. Atau dulu gue pernah jadi juri debat waktu Ospek Teknik taun 2008 kemaren.

Beberapa hari sebelom hari H, gue di sms sama si Fauzi Ingah-Ingih buat dateng di Technical Meeting alias TM. TM nya ini hari Jumat 13 Februari jam 19.30, bertempat di Jalan Imogiri. Karena gue nggak tau jalan Imogiri dimana, akhirnya gue minta ditemenin. Dan Fauzi Cabul pun bersedia nemenin, karena dia adalah makhluk asli produksi Bantul yang udah apal jalan2 di Jogja. Bahkan dengan menutup mata pun, dia masih bisa melintasi jalan2 di kota Jogja ini. Bisa nabrak, maksudnya…

Akhirnya selepas Maghrib, berkumpullah kita berdua di BEM. Menggunakan motor Astreanya Fauzi Ingah-Ingih, kita berangkat. Tapi tiba2 di tengah jalan hujan turun rintik2. Namun hujan ini nggak menghalangi langkah kita untuk tetap melanjutkan perjalanan, soalnya insya Allah kita adalah makhluk2 berintegritas tinggi yang selalu mengusahakan untuk menghargai waktu. Jadilah kita terobos hujan itu supaya bisa sampe tujuan sebelom jam 19.30 sebagaimana yang udah dijanjikan.

Di tengah jalan ternyata Adzan Isya berkumandang. Akhirnya mampirlah kita di masjid untuk sholat Isya dulu. Selesai sholat ternyata ujannya malah tambah deres. Deres banget malah. Tapi sekali lagi, hujan ini pun nggak mampu untuk menghalangi langkah laju motor kita. Fauzi Cabul langsung mengeluarkan jas hujannya dan menggulung celananya ke atas sampe memperlihatkan pahanya yang item dan nggak ada mulus2nya itu. Hohohoho… Nggak kok, ini mah bid’ah, nggak ada di cerita nyata.

Sementara gue cukup dengan make topi di bawah helm gue, untuk nutupin kacamata supaya nggak kebasahan. Dan kita pun menerobos hujan, menyerahkan sisanya dan segalanya kepada Allah semata. Atau dengan kata lainnya, “Tawakkal aja…”

Sampe jalan Imogiri, ternyata kita sempet kebingungan nyari tempatnya. Setelah ngelirik sana-ngelirik sini, akhirnya kita pun memutuskan untuk nanya orang. Gue pun turun dan nanya ke Bapak2 pedagang nasi goreng kaki lima yang ada di situ.

“Misi Pak numpang nanya. Jalan Imogiri nomer 162 sebelah mana Pak?”

Gue nanyanya menggunakan Bahasa Indonesia yang baik namun belom tentu benar, alias bahasa sehari2. Tapi ternyata si Bapak itu ngejawabnya pake bahasa planet. Bukan bahasa planet sih, tapi bahasa Jogja asli yang levelnya masih asli banget.

“!#@?+x#$ *!@#+?xE %$#@!*& X^+#*@”

Gitu kira2 jawaban si Bapak itu. Nggak ngerti kan lu? Ya sama, gue juga nggak ngerti…

Tapi selaku mahasiswa Teknik Nuklir UGM dengan IPK 3.02 yang punya kapasitas otak nggak kalah dengan otaknya Habibie, gue bisa menarik kesimpulan bahwa lokasi yang gue tuju nggak jauh dari tempat gue sekarang.

“Oh jadi ini tinggal lurus aja ya Pak? Nanti tempatnya di sebelah kiri jalan?”

Dan si Bapak itu menjawab,

“Injih, ler wae!”

Hah apa tuh artinya gue nggak ngerti…

Mungkin “ler” artinya lurus aja, atau arah Utara (dari kata ngalor). Buat gue yang berdarah Jawa Timur, kalo mau ngomong “lurus aja” biasanya pake istilah “bablas wae”. Sementara kalo kedua pertanyaan gue ditraslate ke bahasa Jawa Timur, kira2 jadi gini terjemahannya:

“Kulo nuwun Pak, arep takon. Dalan Imogiri nomer 162 iku ngendi Pak?”

“Oh dadi iki bablas wae Pak? Engko’ tempat’e nang kiri dalan?

Oke cukup, sampe disini pelajaran Bahasa Jawa kita hari ini.

Kita kembali lagi. Setelah nanya ke Bapak itu, kita pun berhasil menemukan lokasi yang dimaksud, sebuah rumah yang kayanya merupakan kantor Event Organizer alias EO, telihat dari plang EO tersebut yang terpampang di atas. Kita sebut saja EO ini dengan nama “Mbahwek”, juga bukan nama sebenernya. Sekali lagi, kalo gue nulis nama aslinya, itu mah sama aja kaya promosi gratisan. Ogah ah, emangnya akika cowo gratisan bo…

Waktu menunjukkan pukul 19.40-an. Setelah memarkir motor, kita pun masuk ke dalem. Lirik sana-lirik sini, akhirnya gue nemu orang yang bisa gue tanya. Seorang Mas2 yang penampilannya agak gaul dan trendy gitu deh.

“Mas ini yang technical meeting Rexona itu ya?”

Si Mas2 yang gue tanya pun menjawab,

“Iya. Ini yang apa?”

“Kita yang debat Mas”

“Mmm… Dari mana?”

“Dari UGM”

“Oh ya udah, gabung aja. Silahkan duduk, bareng temen2 yang laen!”

Mas2 yang merupakan salah satu panitia EO itu pun menyuruh dan memaksa gue serta Fauzi Ingah-Ingih untuk duduk di ruangan yang udah penuh dengan manusia itu. Bukan duduk sih tepatnya, tapi lesehan.

Lalu gue pun ngeleseh di space yang kosong. Karena di situ udah lumayan rame, gue langsung ngajak salaman 2 orang yang posisinya ada persis di deket gue, sekalian kenalan. Laki2 dua2nya, Ternyata mereka dari UAD alias Universitas Ahmad Dahlan, peserta lomba debat juga. Mereka juga dari Fakultas Teknik, soalnya lomba debat ini ditujukan buat perwakilan dari Fakultas Tekniknya doank.

Setelah mendapatkan posisi lesehan yang enak, gue mulai ngeliat2 sekeliling ruangan yang ukurannya nggak seberapa itu. Di sebelah Barat berkumpul orang2 yang sebagian besar laki2, termasuk gue. Agak heran juga gue, ini peserta debat tapi kok tampang sama style nya kaya preman ya? Pada make baju warna2 gelap dan celana jins gitu. Padahal umumnya lomba debat kan diisi oleh aktivis2 yang identik dengan celana kain dan jaket khas aktivis. Tapi disini cuma Fauzi Cabul doank yang berdandan kaya gitu, lainnya nggak. Termasuk 2 anak UAD tadi, yang keliatan lebih “normal” dibanding yang lainnya.

Lalu gue ngeliat ke sebelah Timur dan… Subhanallah… Banyak pemandangan indah terpampang disana!

Di situ duduk berjejer beberapa ekor perempuan atau Mbak2 dengan dandanannya yang khas anak gaul, plus juga dengan bajunya yang nggak kalah gaulnya. Rambutnya, khas rambut yang akrab dengan salon-menyalon. Kulitnya, khas kulit yang akrab dengan perawatan tambal sulam dan ketok magic sana-sini. Bajunya, Subhanallah… Menampakkan keindahan2 ciptaan Allah yang ada pada tubuh seorang wanita. Alhamdulillah, eh Astagfirullah…

Sebenernya sih mungkin bagi mereka dandanan kaya gitu tergolong biasa aja. Tapi buat gue dan Fauzi Ingah-Ingih yang sehari2nya hidup di lingkungan yang insya Allah terjaga, dandanan kaya gitu udah tergolong luar biasa. Entah itu luar biasa menyejukkan mata, luar biasa menentramkan, luar biasa menggoda, luar biasa bejatnya atau luar biasa apanya lah terserah. Fauzi Cabul pun sependapat, dan kita saling bisik2,

“Ini apa sih, kok isinya kaya ginian semua…”

“Ji, nanti abis ini kita mesti langsung muroja’ah nih, ngecek apalan kita ada yang ilang nggak…”

Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Ajaib juga nih, masa iya peserta debat kok kinclong2 aya gitu? Masa iya anak Teknik yang kebanyakan laki2, ada yang menggairahkan kaya gitu?

Akhirnya gue dan Fauzi Ingah-Ingih pun kembali ngobrol2 ngalor-ngidul ngetan-ngulon sama anak2 UAD tadi, sambil nungguin Technical Meeting nya mulai. Sekarang udah masuk jam 8 dan TM ini masih belom mulai. Kata Mas2 tadi sih, nunggu peserta yang belom dateng. Sekalian juga orang dari Mbleketeknya yang terbang langsung dari Jakarta, mengalami penundaan penerbangan. Aduh payah juga nih, ngaret melulu. Dasar Indonesia… Tapi ya nggak apa2 lah, sambil nunggu acaranya mulai, gue bisa sedikit ngelirik ngeliatin Mbak2 kinclong yang ada di sebelah Timur itu. Huohohoho… Astagfirullah…

Setelah jarum jam menunjukkan pukul 20.30-an, akhirnya TM dimulai. Itu pun bukan dengan orang Mbleketeknya langsung yang masih di jalan, tapi oleh salah seorang panitia dari EO Mbahwek itu tadi. Ini juga kayanya gara2 si anak UAD nggak henti2nya memprotes kengaretan ini. Ya iyalah, kasian mereka. Udah datengnya on time jam 7, sambil ujan2an juga, eh acaranya ngaret. Udah gitu nggak dapet makanan dan minuman pula, selain makanan syahwat yang diberikan oleh Mbak2 itu tadi.

TM pun dimulai, dan TM ini ternyata ajaib juga. Ajaib, soalnya ternyata semua komponen pendukung event Mbleketek besok dikumpulin jadi 1 di TM ini. Jadi di sini isinya bukan cuma peserta lomba debat doang, tapi juga ada SPG, band, kru, MC, dll.

Oh ternyata Mbak2 kinclong penggoda iman yang ada di sebelah Timur itu rupanya adalah SPG buat event besok. Pantesan aja tampilannya pada good looking kaya gitu. Sementara laki2 yang agak2 preman yang gue sebut tadi ternyata perwakilan dari band pengisi event besok. Dan ada satu lagi Mbak2 yang manis dan mukanya mirip artis, yang ternyata dia kebagian jatah jadi MC. Halo Mbak, boleh kenalan nggak?

Konyol juga nih TM kaya gini. Semua komponen itu dikumpulin dalam 1 forum. Jadi ketika TM nya dibacain oleh Mas2 dari Mbleketek yang akhirnya datang juga, semua komponen tau seluk beluk komponen lainnya yang mestinya bukan urusannya.

Contohnya, TM dimulai dengan ngebahas masalah SPG. SPG itu harus gini dan gitu. Besok ada games, games nya itu gini dan gitu. Terus ada quiz dan doorprize, hadiahnya gini dan gitu. Dan hal2 lainnya yang mestinya itu jadi urusan internal Mbleketek dan Mbahwek itu sendiri, tapi pada akhirnya didenger juga sama gue dan lain2nya. Plus, mau nggak mau, ketika dia lagi ngebahas tentang SPG, kita2 yang bukan SPG jadi nggak ada minat sama pembicaraan ini. Satu2nya minat mungkin dari pandangan mata ini yang nggak henti2nya ngelirik ke SPG2 yang semuanya perempuan itu. Astagfirullah…

Ada yang lebih konyol lagi. Di situ ada 2 lembaran materi yang tergeletak gitu aja, seakan2 nunggu untuk diambil. Materi yang pertama adalah jalannya acara keseluruhan. Materi satu lagi tentang product knowledge buat pegangan SPG2 itu tadi. Nah karena forum ini dicampur, akhirnya ada beberapa orang yang kebagian materi product knowledge yang mestinya cuma buat SPG itu tadi. Di dalem materi itu, ada soal quiz yang bakal dikasi besok. Plus jawabannya juga ada disana.

Apa artinya? Ya artinya adalah, kalo emang buat quiz besok pertanyaannya adalah seperti yang tertera di situ, ya gue udah tau jawabannya. Jadi bisa curi start gitu. Langsung aja semua pertanyaan beserta jawaban yang ada disitu gue catet, kali aja besok gue dapet kesempatan buat jawab quiz. Kan lumayan, hadiahnya t-shirt sama travelling kit. Hohohohoho…

Berdua sama Fauzi Ingah-Ingih gue catet itu jawabannya. Sementara si anak UAD cuma gue bisikin aja, nggak tau dia bakal ngikutin juga apa nggak. Sedangkan anak UII di sebelah gue nggak gue kasih tau tentang ini, soalnya dia nggak kebagian materi yang ini. Aduh liciknya…

Akhirnya setelah bla bla bla bla bla, TM untuk SPG pun selesai. Dan Mas2 dari Mbleketek itu mempersilahkan para SPG untuk pulang karena urusan mereka udah beres, termasuk masalah seragam yang baru dateng besok pagi. Yah Mbak jangan pulang dulu, kita belom sempet kenalan dan tuker2an nomor handphone…

Lalu TM pun beralih ngebahas tentang lomba debat, yang ngebuat MC dan band jadi planga’-plongo’. Debatnya begini dan begitu, peraturannya begini dan begitu. Standar sih, kaya lomba debat pada umumnya, yaitu dikasi satu pernyataan, terus ada yang positif dan ada yang negatif alias ada yang pro dan kontra. Tapi tetep aja, gua nggak punya pengalaman sama sekali ikut lomba debat kaya beginian.

Pesertanya ada 8 tim, dibuat sistem turnamen. Kebetulan tim gue, Fakultas Teknik UGM yang oleh Fauzi Cabul dikasi nama “Fantastic Future”, kebagian nomor 5, yang berarti besok kita harus tanding lawan UNY alias Universitas Negeri Yogyakarta yang dapet nomor 6. Sodara serumpun nih, kan kampus kita sebelahan. Nanti kalo debatnya nggak selesai di Amplaz sini, kita lanjutin di belakang aja ya.

Hadiahnya adalah 1,5 juta untuk juara 1, 1 juta untuk juara 2 dan 750 ribu untuk juara 3. Sementara semua peserta bakalan dapet kenang2an atas keikutsertaannya. Nggak tau kenang2annya apa, palingan produk2nya Mbleketek. Ya iyalah, namanya juga promosi. Tapi kalo boleh milih sih, gue pengen kenang2annya si Mbak2 SPG itu aja, lumayan buat mainan di kosan. Aduh aduh, Astagfirullah…

Lama kemudian setelah segala seluk beluk lomba debat selesai dibahas, TM untuk lomba debat ini pun selesai. Sekali lagi, Mas2 Mbleketek itu pun mempersilahkan kita untuk meninggalkan ruangan. Terpaksalah gue melangkah sebelom sempet berkenalan dengan Mbak2 MC yang manis itu. Ya nggak apa2 lah, tawakkal aja. Kalo emang rezeki, pasti suatu hari nanti kita akan dipertemuka kembali. Huiks huiks…

Sesaat sebelom pergi, jiwa narsis gue mulai keluar. Sebelom pamitan, gue berujar sama anak2 UAD yang kebagian nomor 7.

“Eh nanti kita ketemu di semifinal ya!”

Dan anak UAD itu pun tersenyum lalu mengiyakan. Terus gue menghampiri anak2 UII yang kebagian nomor 2.

“Eh nanti kita ketemu di final ya, insya Allah!”

Anak UII itu juga tersenyum dan mengiyakan. Hohohoho… Semoga besok jadi kenyataan. Dan seandainya uang hadiah sebesar 1,5 juta itu ada di situ saat itu juga, gue juga bakalan ngomong gini ke dia.

“Eh, insya Allah nanti lu gue bawa pulang ya!”

Hehehehe… 1,5 juta, oh 1,5 juta…

Lalu gue dan Fauzi Ingah-Ingih dan semua peserta debat lainnya pun meninggalkan ruangan untuk bergegas pulang. Di luar, gue masih sempet ngeliat 2 orang Mbak2 SPG yang tadi ikut TM di dalem. Dan ternyata Mbak2 SPG ini lagi ngobrol2 sama Mas2 dari Mbahwek yang gue tanyain di waktu awal tadi. Huh, dasar buaya! Huahahahaha…

Lalu gue dan Fauzi Cabul pun melajukan motor menembus malam untuk kembali ke BEM, setelah sebelomnya sempet berhenti gara2 10 meter dari kantor Mbahwek itu tadi ada kecelakaan motor yang mengakibatkan pengemudinya pingsan. Motor Astreanya Fauzi Ingah-Ingih pun terus melaju dan melaju… Brrrrmmmm…. Brrrrmmmm….

5 comments February 13, 2009

LPJmediaOpini

Laporan Pertanggung Jawaban

Divisi Media dan Opini

Keluarga Muslim Adz-Dzarrah

Teknik Fisika UGM

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaa ha illallaah wallahu akbar

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Mukaddimah alias Pendahuluan

Hmmm… Nggak terasa 1 tahun telah berlalu. Dan Alhamdulillah hari ini aku atas nama C-Kink Sahid Syaifullah masih diberikan kesempatan untuk menulis lembar demi lembar LPJ ini. Lembaran LPJ yang nantinya harus aku pertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Di suatu malam yang terang benderang, seorang anak manusia bernama Huda datang menghampiri diriku di tengah sunyinya ruang BEM. Beliau selaku Ketua Kamadz terpilih secara jujur dan terbuka langsung menawarkan posisi Ketua Divisi Media dan Opini di Keluarga Muslim Adz-Dzarrah (Kamadz) di periode 1429 Hijriah kepada ku yang autis dan nggak ngerti apa-apa ini.

Tawarannya nggak langsung aku terima. Setelah itu aku berdiskusi dengan seorang makhluk lainnya yang bernama D. Miftahul Anwar yang saat tulisan ini ditulis, beliau telah duduk sebagai Ketua Umum BEM KMFT UGM. Beliau menyarankan aku untuk menerima posisi sebagai Ketua Divisi Media dan Opini tersebut. Aku pun manggut-manggut aja, meskipun sejatinya juga masih belom yakin.

Akhirnya aku bersemedi selama beberapa menit di dalem kosan, dan akhirnya dibukakan pintu hatiku oleh Allah Al-Baasith, Allah Yang Maha Melapangkan, bahwa aku bersedia untuk menerima tawaran Huda sebagai Ketua Divisi Media dan Opini. Sebuah hal yang sesungguhnya amat berat, karena sekecil apapun amanah tetap akan dipertanggungjawabkan di akhirat nantinya.

Yang juga melatarbelakangi diriku untuk mengemban posisi ini adalah karena sejatinya media memiliki peran penting dalam menyebarkan cahaya Islam. Tidak bisa dipungkiri bahwa hari ini media massa telah dikuasai oleh Zionis Yahudi dan dimanfaatkan dengan optimal untuk memenuhi nafsu mereka. Kaum Muslimin pun banyak yang tidak sadar dengan propaganda mereka. Untuk itulah umat Islam harus bangkit, dan penguasaan di bidang media adalah salah satu kewajiban yang harus dipenuhi dalam rangka menyiarkan keagungan Islam ke seluruh penjuru dunia.

Idealita

Setelah resmi mengemban amanah ini, aku langsung menyusun proker untuk Divisi Media dan Opini selama 1 tahun ke depan ini. Proker ini mengacu kepada proker Divisi Media nya Keluarga Muslim Teknik (KMT) yang aku peroleh dari ukhti Alviana Hanivatun Nisa serta proker Divisi Media nya SKI Teknik Sipil (Al-Hadiid) yang aku peroleh dari akhi Friski Cahya Nugraha. Kedua proker tersebut aku jadikan sebagai referensi dalam membuat proker Divisi Media dan Opini di Kamadz ini, yang hasilnya adalah sebagai berikut:

1. Mading (update setiap bulan)

Tujuan:

a. Meningkatkan ketertarikan untuk mempelajari Islam

b. Menambah wawasan tentang pengetahuan Islam dan umum

c. Memperbaiki sudut pandang membaca terhadap isu yang menyudutkan umat Islam

2. Buletin (terbit setiap 2 bulan

Tujuan:

a. Memperkenalkan Kamadz ke masyarakat umum

b. Menambah wawasan tentang pengetahuan Islam dan umum

3. Kamadz Dunia Maya

Tujuan:

a. Memperkenalkan Kamadz ke masyarakat umum melalui dunia maya

Itu kiranya proker dari Divisi Media dan Opini untuk 1 tahun ke depan.

Sementara dari staff, jumlah staff yang terdaftar ada 3 orang dengan komposisi sebagai berikut: Barra (Teknik Nuklir 2007), Bekti (Teknik Nuklir 2007), dan Apriadi (Teknik Nuklir 2006). Kemudian masuk seorang staff lagi yang bernama Andhika (Fisika Teknik 2007). Masuknya Andhika pun bisa dikatakan melalui jalur khusus, karena waktu itu aku secara lisan minta tolong Andhika buat bantu-bantu di Divisi Media dan Opini Kamadz, dan beliau pun mengiyakan. Alhamdulillah…

Realita

Akhirnya sampai lah kita di bagian paling menyedihkan di LPJ ini, yang aku pun merasa berat untuk menulisnya dan merasa malu saat menyadarinya. Realita. Realita yang memang nggak pernah seindah idealita.

Dari 3 proker di atas, ternyata nggak semuanya bisa terlaksana dengan sukses.

Untuk mading yang direncanakan untuk hadir setiap bulan, ternyata hanya muncul 1 kali dalam 1 tahun ini. Itupun bukan Divisi Media dan Opini yang mengerjakannya, melainkan atas inisiatif Dhanis, Andhika dan rekan2.

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, Kamadz meluncurkan mading yang bernama Madz-Magz (alias Kamadz Magazine). Mading yang cukup eksis ketika itu, namun lama kelamaan mulai ditinggalkan oleh masyarakat Teknik Fisika karena nggak pernah di update lagi.

Dan sedihnya, aku yang semestinya bertanggung jawab disini malah nggak berperan apa-apa. Ampunilah hamba-Mu yang hina ini Ya Allah…

Bagaimana dengan buletin? Sami mawon… Nggak ada 1 buletin pun yang beredar selama 1 taun ini.

Sementara untuk Kamadz Dunia Maya, Alhamdulillah mulai akhir tahun lalu Kamadz udah punya email. Baru email doank, belom punya friendster dan facebook. Friendster sekarang udah mulai kehilangan penggemarnya karena banyak beralih ke facebook. Tapi hati-hati, facebook itu buatan orang Yahudi loh! Karena ke-Yahudi-annya itulah, sebaiknya Kamadz nggak mengeksiskan diri di dunia facebook. Sedangkan untuk blog nggak jadi diwujudkan karena khawatir blog itu cuma punya halaman utama doank, tapi isinya kosong sama sekali.

Evaluasi

Kenapa hal-hal yang menyedihkan itu bisa terjadi? Banyak jawaban yang bisa kita peroleh disini.

Pertama, jelas dari diriku sendiri. Nggak tau kenapa, aku merasa rasa kepemilikanku atas Kamadz makin hari makin berkurang. Di awal-awal aku sangat semangat, ditandai dengan adanya rapat PH dan rapat Divisi Media dan Opini. Itu semua terjadi sebelum bulan Juni, sebelum UAS semester genap yang kemudian dilanjutkan dengan libur panjang.

Ketika itu, aku udah punya tekad bahwa insya Allah Kamadz bisa eksis di Fakultas Teknik, baik itu lewat mading atau buletin. Selama ini nggak banya SKI yang pernah menerbitkan buletin, dan Kamadz harus jadi garda terdepan disana.

Tapi nggak tau kenapa, setelah bulan Agustus dan mulai masuk semester ganjil, semangat itu perlahan mulai luntur. Ditambah lagi, nggak ada seorang pun yang mencoba untuk men-charge nya kembali. Astagfirullah… Ampunilah hamba-Mu yang tidak mampu istiqomah ini Ya Allah…

Sejak setelah libur tahun ajaran, semua seakan futur. Aku baru tersadar bahwa sejak setelah bulan Agustus itu, nggak ada lagi yang namanya rapat PH. Nggak tau, apakah memang nggak ada, atau sebenernya ada tapi aku aja yang nggak tau. Sehingga forum PH yang seharusnya jadi ajang untuk mengisi kekosongan ini malah nggak berjalan dengan semestinya.

Pun demikian dengan keadaan internal Divisi Media dan Opini. Sejak setelah liburan tahun ajaran itu, ternyata ada beberapa staff yang (sepertinya) ganti nomor handphone. Pernah beberapa kali aku kirim sms, tapi nggak ada yag delivered. Jadilah komunikasi dengan para staff pun terputus. Pun kita jadi nggak pernah ada rapat lagi setelah itu.

Hal ini membuat aku bingung sendiri. Aku punya idealita agenda yang sejatinya harus aku kerjakan. Tapi semangatku telah terlanjur turun, dan lebih lagi nggak ada suatu forum yang mampu me-refresh semangat ini kembali. Sejatinya aku sangat mengharapkan rapat PH, karena itulah forum untuk kita saling mempererat ukhuwah kita.

Sampai hari ini, udah banyak klipingan-klipingan dari koran tentang artikel-artikel ke-Islam-an yang ingin aku sampaikan kepada khalayak umum, khususnya warga Teknik Fisika. Tapi ya itu tadi, aku kebingungan bagaimana caranya aku mengeksekusi keinginan ku ini? Sampai detik ini pun klipingan-klipingan itu tetep tersimpan di laci kamar kosan ku.

Plus, sejak bulan Agustus aku dapet amanah baru di BEM KMFT UGM. Aku yang tadinya sebagai Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia Departemen Kajian Strategis, mulai saat itu harus mengemban posisi sebagai Ketua Departemen Kajian Strategis, menggantikan posisi Miftah yang naik menjadi Menko Eksternal. Dan selama 1 semester terakhir, waktu ku emang lebih banyak tersita disana.

Dan sampai pada akhirnya, tibalah hari ini. Hari dimana aku harus mempertanggungjawabkan amanah ku ini selama 1 tahun dalam bentuk LPJ. Astagfirullah… Aku nggak tau harus berkata apa nanti jika ke-tidak-amanah-an ku selaku Ketua Divisi Media dan Opini ini harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Astagfirullah…

Kritik dan Saran

Sejatinya nggak pantes untuk makhluk hina dan rendahan seperti diriku ini mencoba memberikan kritik dan saran. Sejatinya kritik dan saran itu lebih pantas untuk ditujukan pada diriku sendiri. Semoga kritik dan saran ini bisa bermanfaat. Jika ada tulisan yang salah dan kurang berkenan, silahkan tinggalkan saja, karena itu berasal dari diriku selaku manusia biasa yang lebih cenderung mengikuti hawa nafsunya.

Rapat PH adalah satu hal yang penting, yang berguna untuk me refresh kembali semangat rekan-rekan yang mungkin sempat luntur akibat kuliah dan kegiatan lainnya. Jadi sebaiknya optimalkan rapat PH, karena para PH adalah garda terdepan dari organisasi itu sendiri.

Mengenai keadaan staff yang dirasa kurang eksis, hendaknya ada kejelasan mengenai sistem kaderisasi dan rekruitmen di Kamadz itu sendiri. Dari tahun ke tahun, staff Kamadz banyak yang ghaib, yaitu ada namanya tapi nggak ada orangnya. Pun banyak staff Kamadz yang ternyata berada di Divisi yang tidak sesuai dengan keinginannya. Serta, bagaimana nasib staff-staff dari periode sebelumnya, kurang ada kejelasan disana.

Pemilihan PH hendaknya disesuaikan dengan kondisi masing2 PH. Ternyata kemarin banyak PH yang lebih eksis di luar Kamadz daripada di Kamadz itu sendiri, yang mengakibatkan keadaan internal Kamadz sedikit terbengkalai.

Masalah pendanaan dan lainnya juga terasa kurang jelas. Pun demikian dengan nasib Kamadz itu sendiri, kurang memiliki gaung di mata masyarakat Teknik Fisika.

Namun apapun alasannya, Kamadz harus tetap hidup. Cahaya Islam harus selalu bersinar di jurusan Teknik Fisika. Nggak cuma di dalam diri individu-individunya saja, tapi juga secara sosial dan memasyarakat. Hendaklah ada sebagian diantara kita yang mengajak kepada yang ma’ruf, serta mencegah dari yang munkar.

Ucapan Syukron alias Terima Kasih

Akhir kata, aku atas nama C-Kink Sahid Syaifullah ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

- Allah Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Segala puji hanya bagi-Mu Ya Allah, Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, yang telah memberiku nikmat Islam dan nikmat untuk bertemu dengan saudara-saudara ku di Kamadz ini.

- Nabi besar Muhammad Rasulullah saw, manusia terindah yang pernah terlahir ke muka bumi. Shalawat dan salam tercurah selalu pada mu Ya Rasul. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertatap muka, insya Allah.

- Pudji Indrawati dan Astoto Slamet, selaku kedua orang tua ku yang telah merawat dan mendidik anak laki-laki satunya ini. Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhumma kama rabbayanii saghiiraa.

Selanjutnya, aku juga mau ngucapin terima kasih sekaligus permintaan maaf kepada:

- Huda selaku Ulil Amri alias Khalifah alias Amirul Mukminin di Kamadz periode 1429 Hijriah ini. Mohon maaf jika aku gagal melaksanakan tanggung jawab yang kamu amanahkan kepadaku ini dengan baik. Kamadz periode ini emang kurang eksis, dan ternyata aku turut berkontribusi disana. Semoga kedepannya kita bisa terus berpacu untuk lebih baik lagi.

- Dhanis dan rekan2 yang telah mengkoordinir Madz-Magz dengan sangat baiknya. Terima kasih atas segala teguran yang telah diberikan, dan mohon maaf jika dalam perjalanannya ternyata proker ku malah berantakan kaya gini.

- Barra, Bekti, Apriadi dan Andhika, kita pernah berada di bawah 1 atap yang sama, atap Divisi Media dan Opini. Mohon maaf jika selama ini silaturahim kita agak terputus.

- Faisal, Nasrul, Aulia, Hafiq dan semua Kamadz-er lainnya. Jangan pernah lelah untuk terus menebarkan cahaya Islam di muka bumi.

- Mas Boni selaku Amirul Mukminin Kamadz periode sebelumnya, yang telah memperkenalkan aku dengan dunia Kamadz dan telah mempromosikan diriku kepada Miftah untuk membantunya membangun Departemen Kajian Strategis BEM KMFT UGM.

- Mas Ayi selaku Ketua Divisi Sumber Daya Manusia periodenya Mas Boni, sekaligus sebagai atasanku waktu itu. Lauh Mahfudz menuliskan bahwa ternyata kita bertemu lagi di BEM KMFT UGM dan kita ternyata lebih eksis disana.

- Sungkowo dan Kholid selaku rekan2 di Divisi Sumber Daya Manusia periode Mas Boni dulu.

- Dan semua pihak lainnya yang aku kenal maupun yang nggak aku kenal, yang kenal aku maupun yang nggak kenal aku. Semoga suatu hari nanti kita semua bisa dipertemukan di Jannah-Nya.

Sekian kiranya LPJ ini dibuat dalam keadaan sadar, dengan usaha sebaik-baiknya, dengan tulus dan ikhlas tanpa ada paksaan dari pihak manapun, kecuali atas perintah Huda supaya aku segera menyelesaikan LPJ ini secepatnya sebelum tanggal 15 Februari. Hohohoho…

Add comment February 13, 2009

MenkoEksternal

Huuuuaaaaah… Akhrnya mau nggak mau taun ini gue masih harus eksis lagi di BEM KMFT UGM yang ajaib ini…

Berdasarkan rencana gue di akhir taun 2008 kemaren, dealitanya gue pengen segera berhenti dari segala kegiatan ke-BEM-an. Udah cukup selama 3 semester gue ikut BEM dengan posisi sebagai Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia Departemen Kajian Strategis selama 2 semester dan Ketua Departemen Kajian Strategis selama 1 semester. Gue rasa udah cukup banyak pengalaman yang gue dapet disana. Meskipun sejatinya pengalaman itu nggak akan abis kalo mau terus kita cari, tapi gue juga harus membagi porsi antara organisasi dengan kuliah yang agak terbengkalai selama ini.

Ya begitulah. Ketika semester 1 gue nggak ikut organisasi apa2, IP gue masih bisa nyampe angka 3.5 dan itu adalah nilai tertinggi untuk 1 angkatan Teknik Nuklir 20006. Semester 2 cuma ikut di SKI Kamadz yang nggak begitu eksis, masih bisa dapet IP 3.13. Nah semester 3 pertama kalinya kenal Kastrat dan BEM, IP langsung terjun drastis jadi 2.73. Dan terakhir di semester 4 dan lebih eksis di BEM, IP juga masih tetep dapet 2.88, dengan bonus ada 1 mata kuliah 3 sks yang dapet nilai E. Nggak tau deh ni sekarang semester 5 bakalan dapet berapa.

Maka dari itulah resolusi gue di taun 2009 sejatinya adalah ingin kembali kepada fitrah gue selaku seorang engineer. Anak Teknik udah seharusnya bergerak di bidang keteknikan, jangan melulu berpolitik. Jadilah gue berencana di taun 2009 ini gue mau off total dari BEM dan organisasi lainnya untuk kembali berkutat dengan apa yang namanya Dosis Radiasi, Tampang Lintang Makroskopik, Paparan, Termoluminesensi, Burnup dan Konversi Bahan Bakar, Nilai Batas Dosis, dll. Nuklir oh nuklir…

Tapi ternyata semua berubah. Gara2nya adalah karena salah seekor sohib karib gue yang bernama Dede Miftahul Anwar pada akhirnya terpilih jadi ketua BEM KMFT UGM periode 2009. Dulu dia lah orang yang ngajak gue untuk masuk Kastrat (sehingga seharusnya dia lah orang yang paling bertanggung jawab atas merosotnya IP gue. Hohohoho…). Selama 1 taun kita eksis di Kastrat bareng2, dia sebagai Ketua Departemen dan gue sebagai Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusianya. Sampe akhirnya dia diangkat jadi Menteri Koordinator Lini Eksternal dan gue kebagian jatah gantiin posisi dia sebagai Ketua Departemen Kastrat.

Terus suatu ketika dia nyalon jadi ketua BEM, dan emang udah seharusnya dia nyalon. Gue pun termasuk salah seorang yang ngompor2in dia supaya mau jadi ketua BEM dan gue juga termasuk salah satu tim suksesnya. Dan sampai akhirnya dengan mudah dia kepilih jadi ketua BEM. Horeeee…!!!

Nah setelah dia jadi ketua BEM, otomatis dia harus milih orang2 buat mengisi susunan kabinetnya. Dan nggak tau atas alasan apa akhirnya dia minta gue supaya mau ngisi posisi Menteri Koordinator Lini Eksternal, posisi yang dulu pernah dia pegang.

Secara gitu gue udah niat buat mau kembali ke bangku kuliah dan menjadi mahasiswa studi oriented. Tapi karena gue orangnya sami’na wa watho’na, akhirnya dengan sedikit tolakan dan sedikit keengganan yang bisa dimentahkan, gue terima posisi itu.

Plus juga gue ngerasa ada perasaan nggak enak ketika telah menjerumuskan dia buat jadi ketua BEM. Buat sebagian orang, mungkin posisi ketua BEM adalah suatu targetan atau suatu prestise atau apalah yang menunjukkan kapabilitas seseorang. Tapi itu nggak berlaku buat kita, soalnya Insya Allah kita sadar bahwa jabatan adalah amanah, hendaknya jangan diberikan kepada seseorang yang memintanya. Dan di akhirat nanti kita bakalan diminta pertanggung jawaban atas amanah tersebut. Jadi, posisi sebagai ketua BEM bukanlah suatu kebanggaan, tapi suatu amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Nah terus masa iya gue yang udah menjerumuskan Miftah buat jadi ketua BEM, terus gue lepas tangan gitu aja setelah dia akhirnya terplih jadi ketua BEM? Jadilah mau nggak mau, gue nggak bisa dan nggak berdaya untuk nolak waktu Miftah minta gue buat tetep stand by nemenin dia disana. Meskipun sejatinya awalnya gue udah nggak begitu berminat ikut BEM lagi karena mau mengejar IP yang makin hari makin ajaib aja.

Jadilah kini pada akhirnya gue masih tetep bertahan di BEM, dengan sekarang menempati posisi Menteri Koordinator Lini Eksternal, selanjutnya disebut Menko Eksternal. Ternyata pemilihan gue di posisi ini pun bukan tanpa alasan, soalnya di posisi Menteri Koordinator Lini Internal diisi oleh Fauzi Muharram alias Fauzi Ingah-Ingih alias Fauzi Cabul (Calon Bupati Bantul) yang juga angkatan 2006 kaya gue dan Miftah. Dulu si Fauzi ini menjabat sebagai Ketua Technopreneurhip Departemen (wirausaha) selama 2 periode / 3 semester.

Jadilah kita bertiga selaku angkatan 2006 yang tersisa. Dan Miftah pun menyebutnya sebagai “Segitiga Bermuda” ( yang gue pelesetin jadi “Segitiga Ber-Muda”, soalnya kita bertiga paling tua sendiri di BEM sini, namun kita masih berjiwa muda loh…). Fauzi dapet amanah buat mewujudkan misi Miftah di bidang “advokasi” dan “kemandirian keuangan”, gue dapet amanah mengaplikasikan misi Miftah di bidang “pengokohan jaringan” dan “kultur ilmiah”, sementara kita berdua dapet amanah juga di bidang “media sebagai basis informasi”, mengingat kita berdua sama2 hobi ngeblog.

Dan sebagai Menko Eksternal ini, gue membawahi 2 Departemen plus 1 Biro, yaitu Departemen Sosmas (Sosial Kemasyaratan), Departemen Kastrat (Kajian Strategis) dan Biro Humas. Jadi disini gue bertugas untuk mengkoordinir mereka bertiga serta sebagai kepanjangan tangan dan lisan Miftah terhadap mereka.

Itu kira2 gambaran Menko Eksternal. Kini kita langsung beralih aja ke pengalaman gue selama 1 bulan menjabat sebagai Menko Eksternal.

Menko Eksternal itu nggak punya proker, karena emang nggak punya staaf dan proker2 itu jatahnya Departemen atau Biro. Jadi selama awal2 menjabat sebagai Menko Eksternal, yang gue lakukan hanyalah sebatas mendengarkan curhatannya anak2 2008 tentang segala seluk-beluk dunia ke-BEM-an. Plus juga selaku angkatan yang paling tua, gue bertugas untuk membagi pengalaman gue ke mereka dengan ikhlas dan dengan senang hati. Secara gitu gue bakalan lengser dan mereka lah yang bakalan jadi penerus selanjutnya.

Job pertama adalah ketika Miftah minta tolong anak2 2008 buat ngadain aksi advokasi terhadap masalah agresi Israel terhadap Jalur Gaza, Palestina. Aksi itu berupa orasi, shalat ghaib dan penggalangan dana. Panitianya adalah anak2 2008. Karena anak2 2008 masih agak awam, jadi disini gue bertugas untuk menjawab segala kebingungan anak2 2008 itu, terkait konsep aksi, persiapan, logistik, dan macem2.

Plus sebelom aksi itu berlangsung, gue usul supaya diadain dulu diskusi tentang sejarah negara Israel dan kedhzaliman2 mereka kepada bangsa Palestina. Alhamdulillah usul gue ini langsung dikabulkan. Dan gue pun secara sepihak langsung nunjuk Fahjri Adhi Nugroho si manusia geblek jarang mandi untuk jadi pemantiknya, yang dijawab dengan protes dan mencak2 dari dia gara2 dia kaget tiba2 disuruh jadi pemantik.

Dari situ terkumpul dana yang lumayan banyak buat beli es cendol, kira2 sekitar 3 juta lebih dikit. Kalo segelas es endol harganya 3 ribuan, dana sebesar 3 juta itu kira2 bisa beli 1000 gelas es cendol untuk bangsa Palestina yang kehausan. Duh masa iya sih…

Dana itu rencananya mau disalurkan ke lembaga kemanusiaan yang akan menyalurkannya langsung ke Palestina. Opsinya ada dua, yaitu PKPU (Posko Keadilan Peduli Umat) atau MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Setelah diskusi bla bla bla, akhirnya kita bakalan ngasih ke MER-C aja. Dan gue diamanahi untuk mengontak si MER-C itu.

Setelah gue mengontak si MER-C, kita pun janjian di sekretariat BEM. Lalu di siang hari yang terang benderang, salah seorang relawan MER-C bernama Muhammad Genta dateng ke BEM dan langsung gue sambut dengan se amplop uang berjumlah 3 jutaan. Lalu kita pun bertransaksi, ijab kabul, dan nggak lupa juga foto2 buat dokumentasi. Serta nanya2 lebih jauh lagi tentang MER-C itu sendiri, gimana awalnya Mas Genta bisa masuk MER-C dan gimana cerita relawan MER-C yang diberangkatkan ke Palestina sana. Setelah selesai itu semua, si Mas Genta ini ninggalin kartu nama dan dia pun pergi melenggang kangkung membawa serta uang 3 juta itu. Dari sini Insya Allah BEM KMFT UGM telah membuka satu link tersendiri dengan rekan2 MER-C. Semoga besok2 yang dateng kesini nggak melulu Mas Genta lagi, tapi Mbak2 good looking gitu, biar kita bersemangat buat gabung di MER-C juga. Huehehehehe…

Itulah job pertama gue selaku Menko Eksternal. Selanjutnya, yang gue lakukan adalah mengisi kekosongan kekuasaan di BEM gara2 Pak Bos Miftah harus pulang kampung dulu ke Tasik selama beberapa hari. Jadilah gue dan Fauzi diamanahi untuk menghandle segala dinamika BEM selama Miftah sedang cuti hamil itu.

Terus di penghujung bulan Januari, tiba2 kita kedatengan 2 ekor makhluk BEM KM, yaitu Guntoro selaku Menko Internal dan satu lagi gue lupa namanya selaku Menteri Advokasi. Kita pun ngobrol ngalor-ngidul ngulon-ngetan bla bla bla bla, yang intinya dia mengumumkan bahwa sore ini akan ada konsolidasi BEM se-UGM untuk menyambut kedatangan rekan2 dari Universitas Widyagama Malang.

Selaku Menko Eksternal, gue punya idealita bahwa suatu hari nanti BEM Teknik harus bisa eksis di mata dunia, untuk tahap awal minimal di UGM sendiri dulu. Karena Fakultas Teknik adalah Fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak, seharusnya ini bisa jadi kekuatan tersendiri. Dan sebagaimana bunyi lirik lagu ciptaan gue yang judulnya “Teknik Bersatu”, yang bunyinya gini: “Bersatulah mahasiswa Teknik/Bersatu dalam suka dan duka/Buktikan kepada dunia/Bahwa kita adalah juara”, jadi gue pengen membawa dan membuktikan bahwa anak2 Teknik adalah anak2 juara dan harus bisa membuktikan eksistensi serta kontribusi bagi dunia ini.

Untuk tahap awal, gue pengen mengeksiskan diri di lingkup UGM dulu. Jadilah gue dengan patuh memenuhi undangan untuk konsolidasi itu, meskipun datengnya agak telat gara2 nungguin Miftah yang pada akhirnya gue dateng kesana sama si Fahjri, manusia geblek jarang mandi yang tadi udah pernah gue sebut sebelomnya.

Konsolidasi ini diadain di BEM KM. Selain gue dan Fahjri, dateng juga perwakilan dari BEM Pertanian, Dema Hukum dan anak2 BEM KM sendiri. Dan itulah pertama kalinya gue bisa langsung berhadapan dan berdiskusi secara face to face dengan orang2 atas macem Qodaruddin si Ketua BEM KM, Ganendra si Sekjend BEM KM, Zulfan si Ketua BEM Pertanian dan lain2nya. Suatu forum yang Insya Allah memperkenalkan gue dengan para calon pemimpin bangsa ini nantinya.

Di forum konsolidasi itu intinya mengumumkan bahwa besok kita bakalan kedatengan temen2 BEM Universitas Widyagama Malang (UWM), dengan susunan rundown acara yang udah diatur oleh Mas Ganendra. Di UWM ini ada 4 Fakultas, yaitu Teknik, Ekonomi, Hukum dan Pertanian, dan dalam rundown tersebut direncananakan bahwa rekan2 UWM akan berdiskusi dengan BEM2 Fakultas sesuai dengan Fakultasnya masing2. Jadilah tiap Fakultas harus mempersiapkan diri untuk berbagi cerita dengan rekan2 UWM.

Lalu gue pun langsung mencoba menghubungi anak2 BEM Teknik untuk persiapan penyambutan. Akhirnya kita sepakat untuk ngajak anak2 UWM main2 ke sekretariat BEM Teknik sekaligus studi banding. Tapi sebelomnya kita mesti beres2 dulu, soalnya BEM ini tuh berantakan banget.

Sebenernya niat untuk beres2 sih udah ada dari dulu, tapi ya karena kecenderungan manusia adalah menuruti hawa nafsunya, akhirnya niat itu nggak terlaksana. Barulah sekarang mumpung ada momen yang tepat, yaitu kedatangan rekan2 UWM, akhirnya kita bisa menggerakkan massa untuk bantu beres2 BEM. Nggak lupa kita juga nyiapin struktur organisasi untuk dibawa rekan2 UWM dan snack kecil2an untuk pencuci mulut.

Akhirnya di sore hari kita nongkrong di BEM KM buat nyambut kedatangan rekan2 UWM. Tapi sebelomnya kita udah pada mandi dulu setelah sebelomnya badan kita bau asem semua gara2 beres2 BEM itu tadi. Akhirnya rekan2 UWM dipandu Mas Ganendra pun tiba di BEM KM dan langsung diarahkan untuk berdiskusi dengan Fakultas masing2. Untuk yang Fakultas Teknik UWM ada 3 orang, yang terdiri dari 2 orang laki2 dan 1 orang perempuan. Pas untuk gue angkut cukup dengan 1 mobil aja.

Sepanjang perjalanan, Miftah selaku tour guide nunjukin place2 yang interest di jalanan yang kita lewatin. Dan akhirnya kita pun sampe ke sekre BEM Teknik dengan selamat, yang disana dilanjutin dengan sesi diskusi. Namanya sih diskusi, tapi nggak tau kenapa ini kok malah jadi debat gitu. Padahal dari konsep awal tiap BEM aja udah beda. Tapi ya nggak apa2 lah, namanya juga anak muda…

Akhirnya setelah debat eh diskusi ini selesai, kita pun mengembalikan rekan2 UWM kembali ke pangkuan Mas Ganendar. Nggak lupa sebelomnya kita udah tuker2an link sama rekan2 Teknik UWM, supaya kedepannya silaturrahim kita bisa terjaga. Serta gue sempet ngasih kartu nama autis gue ke mereka. Nggak tau deh gimana respon mereka ntar kalo ngeliat kartu nama gue itu. Huohohoho…

Dan nggak lupa di tengah malem Mas Ganendra juga ngucapin terima kasih atas bantuan temen2 Fakultas Teknik. Iya sama2 Mas, makasih juga tadi kita udah kebagian jatah nasi bungkusnya.

Itu kira2 pengalaman 1 bulan pertama menjadi Menko Eksternal. Cuma ada 1 rencana yang belom kesampean, yaitu ngobrol2 dengan Pak Muslih selaku Sekjend Katgama alias Keluarga Alumni Teknik Gadjah Mada. Sebenernya sih kita udah punya nomor telponnya Pak Muslih, tapi nggak tau kenapa dia kayanya susah banget dihubungin. Kalo kata Mas2 ECC (Engineering Career Community) sih Pak Muslih itu adalah orang sibuk yang nggak mau nerima telpon atau bales sms dari orang2 yang nggak dikenal. Aduh sampe segitunya…

Dan kedepannya, masih ada 11 bulan lagi yang harus gue lalui sebagai Menko Eksternal. Idealitanya sih masih 11 bulan, tapi kan bisa aja kurang. Kaya misalnya gue dipecat atau lengser di tengah jalan, gue mengundurkan diri, atau mungkin gue meninggal selama masa jabatan. Ya nggak apa2 lah, tapi semoga ntar anak-istri gue dapet uang pensiun ya. Hehehehe…

3 comments February 10, 2009

AdaKonfirmasi

Beberapa waktu yang lalu kan gue pernah nulis tulisan yang judulnya “KosKosAn”. Masih pada inget kan? Nah ternyata ada salah seorang tokoh dalam cerita tersebut yang baca tulisan gue itu. Merasa namanya telah dicemari oleh gue yang serampangan ini, akhirnya dia ngirim sms ke gue buat mengkonfirmasikan dirinya atas apa yang telah gue saksikan dan apa yang gue prasangkakan.

Karena gue adalah orang yang bertanggung jawab telah menulis tulisan itu, maka kini gue jadi terpanggil untuk menyebarluaskan konfirmasi itu ke lu2 semua. Adalah sangat merugi kalo konfirmasi itu cuma gue doank yang tau, sementara para pembaca lain yang otaknya udah terracuni oleh tulisan gue sebelomnya nggak tau apa2 tentang kejadian yang sebenernya yang dia sampein lewat sms ini.

Jadilah, gue ngerasa perlu untuk menulis ulang isi sms tersebut (dengan format yang udah dirapiin) dan mempublikasikannya di sini, supaya lu2 semua juga pada bisa tau kejadian yang sebenernya. Kira2 gini ceritanya:

Waktu itu suatu siang di hari Senin yang cerah, terlihat bulan dan bintang berkilauan di atas sana. Loh masa siang2 ada bulan sama bintang sih? Ya iya donk, tetep ada lah. Kan siang di Indonesia, tapi malem di Amerika. Lha terus ini di Indonesia apa di Amerika? Ah, whatever…

Siang itu, seekor pemuda imut bernama C-Kink sedang mendengarkan curhatan dari seekor anak manusia bernama Muhammad Sultan Iskandarsyah, biasa dipanggil Nanda. Sepintas, nama itu terlihat sangat bagus dan menawan, “Muhammad Sultan Iskandarsyah”. Tapi kalo lu ngeliat sendiri orangnya kaya gimana, beuuuh… Ancur pisan! Huehehehe… Peace bro!

Iya, si Nanda ini dari beberapa hari yang lalu udah niat pengen ketemuan sama gue buat berbagi cerita. Tapi karena waktu itu kita lagi UAS (Ujian Agak Serius) dan kita juga sibuk dengan kegiatan masing2 (for your info, Nanda adalah ketua KMTF (Keluarga Mahasiswa Teknik Fisika), sementara gue adalah tukang molor nomor wahid) akhirnya baru sekarang kita bisa ketemuan. Lokasinya di depan ruang BEM KMFT UGM, tempat dimana dulu kita pernah menghabiskan masa muda bersama, Nanda di Departemen PO (Pengembangan Organisasi) sementara gue di Kastrat (Kajian Strategis).

Intinya sih Nanda cuma pengen cerita tentang prospek PPM (Partai Pemersatu Mahasiswa), soalnya dia juga konstituen di sana. Terus juga tentang kabar KMTF, kabar BEM, perkuliahan, dll.

Di tengah2 curhatan itu, handphone Nokia 6681 gue bergetar. Karena gue lagi asik ngegosip sama Nanda, jadi gue diemin dulu. Terus bergetar sekali lagi. Masih gue diemin juga. Nggak tau kenapa, gue selalu ngerasa adalah suatu hal yang sangat nggak sopan kalo kita sibuk dengan handphone kita sendiri sementara di depan kita ada orang yang lagi serius ngobrol sama kita.

Jadilah beberapa lama kemudian setelah ada jeda sebentar, gue sempetin buat ngeiat handphone. Ada 2 sms masuk, dari si Bambang, salah satu tokoh dalam tulisan gue yang berjudul “KosKosAn”. Tapi karena waktu itu masih asik ngegosip sama Nanda, akhirnya sms itu cuma gue liat sekilas (soalnya isinya panjang) dan gue lanjut ber-kasak-kusuk-ria bareng Nanda.

Lama kemudian, gosipan kita masih belom selesai, sementara handphone gue bergetar lagi. Tetep gue biarin, dan gue tetep lanjut ngegosip lagi.

Akhirnya sekitar jam 3-an menjelang Ashar, gosip2an gue dan Nanda harus diakhiri, soalnya dia juga masih ada urusan lain. Fiiuuuh… Ini kita mulai ngegosip dari sekitar jam setengah 1-an lho, jadi total udah sekitar 2 jam kita nongkrong di depan BEM ini. Lalu Nanda beranjak pergi dan gue pun masuk ke dalem BEM.

Di dalem BEM baru deh gue baca secara keseluruhan isi sms dari si Bambang itu. Total ada 3 sms, kira2 gini bunyinya, eh isinya:

Mau ngejelasin sesuatu. Kejadian si Bunga dan Bambang tuh gini. Daku lagi ngejar deadline ngumpulin tugas 1 jam lagi, padahal belom ngeprint (dan ngeprint A3 tuh langka dan lama banget dan ngantri dengaan temen2 *tuuuut* [nama jurusan, gue sensor] juga, jadi ku kirim bala bantuan untuk ngeprint. Kalo nggak daku bakal KO nggak dapet nilai. Secara tuh komputer yang di tempat dia tuh punyaku, jadi daku yang buka tuh komputer. Kan aku pernah bilang komputerku rusak, jadi kami tukeran komputer dll (punyaku di benerin sama dia). Masalah aku udah biasa ke tempat dia, karena kalo DIA LAGI NGGAK ADA di kos dia, aku biasa numpang make komputer dia (sebelom tukeran). Kami cuma transfer data kemaren, just itu. Toh aku juga langsung cabut”.

Date 19/01/2009

Time 12:57

“Itu juga alasan daku nggak bisa rajin2 di *tuuuut* [nama sebuah instansi, gue sensor juga], karena waktuku dipake buat mipil tugas [what is mipil??? Yang dikorek2 dari lobang idung ya? Eh itu mah upil]. Karena komputerku rusak, jadi numpang di komputer temen2 yang bisa dipake. Jangan berburuk sangka bro”.

Date 19/01/2009

Time 13:04

“Boleh *tuuuut* [nama aslinya si Bambang, harus gue sensor] tau? Apa *tuuuut* [nama asli gue, sengaja gue sensor] tuh adalah orang yang tidak berkata ‘terima kasih’ dan ‘maaf’? Hati2 *tuuuut* [nama asli gue lagi].. Jangan sering termakan prasangka. Hati2 *tuuuut* [lagi2 nama asli gue].. Lidah tidak bertulang..”

Date 19/01/2009

Time 14:20

Oh, ternyata itu konfirmasi dari si Bambang atas apa yang gue prasangkakan di tulisan gue itu. Buat lu2 semua para pembaca, tuh silahkan dibaca dan dipahami, supaya pada tau juga kejadian apa yang sebenernya terjadi.

Beberapa menit sebelom adzan Ashar berkumandang, barulah gue bales sms tersebut. Balesannya pun sangat2 singkat, soalnya gue nggak bermaksud membela diri dan gue menerima segala apa yang dia pikirin tentang tulisan gue itu.

“Asw. Iya thank you atas semua konfirmasinya. Aku minta maap kalo tulisanku udah bikin kamu jadi gimana2. Aku terima kalo kamu ada marah dan kesel sama aku”.

Date 19/01/2009

Time ??:?? (nggak ada waktunya. Maklum lah handphone bekas. Huehehehe…)

Lalu adzan berkumandang dan gue menegakkan ibadah Sholat Ashar di Mustek. Selesai Sholat, gue cek lagi handphone gue dan ada balesan lagi dari si Bambang.

“Iya. Terima kasih juga. Itu memacu *tuuuut* [nama aslinya si Bambang lagi] untuk lebih berhati2 dan baik dalam bersikap. Maaf kalo kata2 *tuuuut* [masih nama aslinya si Bambang] menyinggung atau tidak baik”.

Date 19/01/2009

Time 15:32

Tapi yang ini nggak gue bales, soalnya gue juga nggak tau mau ngomong apa lagi. Yang jelas sih intinya gue menerima kalo emang dia ngerasa gimana2 gitu sama gue.

Nah kira2 begitulah ceritanya. Para pembaca yang budiman dan budiwati, yang tentunya punya kapasitas dan kualitas otak yang jauh diatas otak seekor udang, harapannya bisa menafsirkan sendiri sms2 tersebut dan kaitannya dengan tulisan gue yang berjudul “KosKosAn” itu. Ayo silahkan ayo…

Sekali lagi, ini bukan kali pertama tulisan gue bermasalah. Dulu di bulan November, gue pernah bikin tulisan yang isinya mengkritik salah satu lembaga kemahasiswaan di kampus gue berada sekarang ini. Dan ternyata lembaga tersebut nggak terima dengan kritik yang gue berikan. Akhirnya di malam hari selama 1 setengah jam gue disidang oleh lembaga tersebut. Gue sendirian, sementara di depan gue ada 9 orang anggota lembaga tersebut yang semuanya melototin gue dengan sorotan mata antagonis kaya di sinetron2. Huehehehe…

Tapi nggak tau kenapa, gue malah ngerasa seneng disidang kaya gitu, gue jadi punya kesempatan untuk berbicara dan didengarkan oleh 9 orang di hadapan gue itu. Plus juga, adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi penulis jika ada feedback atas tulisannya. Feedbacknya pun nggak harus melulu yang bagus2 dan positif, tapi akan lebih menantang lagi kalo feedbacknya tuh yang kontra dan negatif. Hal ini nggak lain dan nggak bukan adalah untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas diri si penulis itu sendiri.

Khusus untuk kasus yang bulan November itu, sebenernya gue berniat untuk ngeposting tulisan gue itu ke blog ini. Tapi lembaga dengan anggota2nya yang arogan itu melarang gue buat mempublikasikan tulisan gue. Jadilah ntar gue berinisiatif nunggu 1 taun dulu, baru gue posting deh itu tulisan. Huahahahahaha.

Kembali lagi ke bahasan awal. Emang tadi kita lagi ngebahas apa? Wah nggak tau ya, gue juga lupa. Daripada bingung nggak jelas gini, mending tulisan ini kita akhiri aja deh.

3 comments January 25, 2009

KauCuriLagi…Uuuuu

Laporan pandangan mata dari balik kacamata seekor C-Kink. Waktu: Selasa malem, 30 Desember 2008 alias 3 Muharram 1430 H. Lokasi: Margo City Depok.

Malem ini katanya J-Rocks bakalan manggung di Margo. Dari pagi tadi, panggung dan alat2nya udah mulai disiapin. Katanya sih acara bakalan dimulai sekitar jam 7-an malem. Para Jrockstar alias fans2nya J-Rocks udah keliatan berceceran di sekitar Margo, bersiap2 mengepung panggung dari abis Maghrib.

Bla bla bla bla bla, dan akhirnya jam tangan di lengan kanan gue nunjukin angka 19.10. 4 orang naik ke atas panggung, stand by di alat musiknya masing dan mereka mulai nyanyiin beberapa biji lagu yang nggak ada satupun lagu yang gue kenal. Oh cuma band pembuka. Nama bandnya apa juga gue nggak tau, katanya sih “Bonus”.

Terus muncul 2 ekor MC, seorang perempuan dan seorang setengah laki2. Loh kok setengah laki2? Ya iya, maksudnya laki2 yang agak2 melambai gitu loh, yang feminim2 gitchu bo… Agak heran juga sih gue, kenapa tiap acara2 kaya gini, MC yang laki2nya kok selalu dipilih yang model2 melambai kaya gitu ya? Aduh, akika jadi kepikiran juga dech. Gimandang dong bow…

Iyah, si MC itu bercuap2 olala menghibur para penonton, bapak2, ibu2, semua yang ada disini… Sementara gue yang ngambil posisi di deket backstage nggak bisa jelas ngedengerin cuap2an kedua ekor MC tersebut, soalnya soundnya emang cuma diarahin ke bagian depan. Tapi dari sini gue ngeliat Rio Febrian di backstage lagi siap2. Kenal Rio Febrian kan? Yang nyanyi lagu “Belah Duren” itu loh, masa nggak kenal sih.

Gue nggak begitu tertarik dan nggak begitu napsu sama Rio Febrian. Ya iyalah, sama2 cowok gitu loh… Bukan, bukan itu masalahnya. Maksudnya gue nongkrong disini cuma pengen nonton J-Rocks doang. Karena J-Rocks belom keliatan nongol, akhirnya gue ke Musholla buat sholat Isya dulu bentar.

Balik ke panggung, ternyata Rio Febrian belom nampil. Yang lagi nampil adalah seekor perempuan yang kalo nggak salah namanya Anggi. Gue juga nggak kenal nih orang siapa. Abis Anggi turun, si MC nongol lagi dan ngasi game buat penonton. 3 ekor penonton disuruh maju, terus disuruh niruin gayanya Rio Febrian waktu lagi nyanyi lagu “Maaf”. Lagi2 karena gue nggak tertarik, gue balik ke backstage, satu2nya tempat di sekitar panggung yang agak lega.

Beberapa menit kemudian setelah si MC cuap2 sampe mulutnya berbusa, akhirnya tibalah giliran Rio Febrian buat nampil. Beliau pun naik ke atas panggung dan mulai beraksi. Namun sekali lagi karena gue nggak napsu sama Rio Febrian dan nggak apal lagu2nya, gue tetep npngkrong lesehan aja di deket backstage, nungguin J-Rocks.

4 lagu udah dibawain dan gue tetep nggak ada yang kenal lagunya. Sampe di lagu terakhir akhirnya ada juga lagu yang gue kenal, yaitu lagu yang judulnya “Jenuh”. Masih dari backstage, gue pun ikut2an nyanyi ngikutin alunan lagu.

“Ternyata hati tak bisa berdusta… Meski kucoba… Tetap tak bisa…

Dulu cintaku banyak padamu… Entah mengapa… Kini berkurang…

Maaf ku jenuh padamu… Lama sudah kupendam… Tertahan di bibirku

Mau ku tak menyakiti… Meski begitu indah ku masih tetap saja…

Jenuh…”

Wah maknyuss dah. Serasa kaya C-Kink Febrian aja gue. Mestinya gue tuh yang nampil di atas panggung, bukan Rio Febrian. Cuma sayang aja nggak ada satupun produser yang mau ngelirik bakat gue di bidang tarik suara ini. Ya kalo pun ada, pasti produser itu patut kita ragukan kesehatannya. Hohoho…

Balik lagi ke jalannya acara. Ternyata beberapa saat sebelum Rio Febrian turun dari panggung, para personil J-Rocks diem2 udah jalan ke backstage. Mereka turun dari lift tembus pandang yang posisinya persis di belakang panggung. Keluar dari lift langsung ke backstage yang posisinya persis bersebelahan. Saking diem2nya sampe gue sendiri nggak nyadar kalo Bang Wima alias bassisnya J-Rocks keluar dari lift dan jalan ke backstage. Yah nggak bisa salaman sama Wima donk…

Karena J-Rocks udah stand by di backstage, gue sama temen gue, seorang novelis yang bernama Djalu alias Mastur buru2 ke depan panggung buat nyari posisi yang strategis. Sementara 2 orang temen gue lainnya nggak ikut ke tengah, nonton dari pinggiran aja.

Ini ke-3 kalinya gue nonton J-Rock live, sekaligus yang pertama nonton J-Rocks di Depok. Soalnya yang sebelom2nya gue nontonnya di Jogja sono. Gue selalu berusaha berada paling depan, sedeket dan semepet mungkin dengan pager yang memisahkan antara panggung dengan penonton. Soalnya udah jadi kebiasaan kalo acara kaya gini pasti ada yang moshing. Biasanya orang2 yang ditengah yang pada moshing2 nggak jelas kaya anak autis. Dan barisan yang paling depan, yang mepet pager adalah barisan yang nggak bakalan moshing, soalnya mereka sibuk dengan handphone dan kameranya masing2 buat moto2. Plus, kalo barisan paling depan mau ikutan moshing juga, ya pastilah kepentok2 sama pager pembatas itu tadi. “Ctaang…” Kira2 gitu bunyinya kalo ada orang yang kejedot pager. Nggak percaya? Cobain aja sono gidah.

Awalnya gue dapet kira2 baris ke 2 dari pager, posisinya di depan agak pinggir panggung. Begitu si MC turun panggung, personil J-Rocks satu persatu naik ke panggung, sambil gaya2 dikit. Nggak dikit ding, tapi banyak gaya. Dimulai dari Sony, Anton terus Wima. Dan terakhir si Iman ikutan mejeng. Jrang jreng jrang jreng, lalu mulailah mereka mainin intro lagu “Aku Harus Bisa” yang nggak dilanjutin dengan nyanyian tapi cuma instrumental doang.

Jreeeeng… Opening yang cuma instrumen doang itu selesai. Para penonton yang sebagian besar adalah Jrockstar langsung tepuk tangan riuh dan teriak2. Padahal openingnya tadi biasa aja, menurut kacamata gue selaku makhluk autis. Malah ada yang teriak2 kaya gini,

“Wima… Kyaaa Wima…”

“Anton nengok sini Anton…”

“Iman… Imaaaaan…”

“Guk guk guk… Kaing kaing…”

“Auuuuuuuuuu…”

Yah nggak apa2 lah, biarlah mereka yang teriak2 itu menikmati masa muda mereka… Kan ntar nggak lucu kalo nanti udah peyot, keriput dan ubanan mereka masih teriak2 juga. Kaya gini dah ntar jadinya,

“Wima… Wim.. Uhuk uhuk…”

“Anton nengok sin… Uhuk uhuk..”

“Iman… Imaaaaaaa…”

“Tulilulilulilulilut…” (ceritanya ini bunyi ambulans yang di dalemnya ada nenek2 meninggal gara2 pita suaranya putus)

Balik lagi ke jalannya acara. Lalu J-Rocks segera menggebrak lagi dengan lagu “Cobalah Kau Mengerti”, lagu dari album ke-2 yang video klipnya dibintangi oleh seekor perempuan seumuran gue yang sekarang perempuan itu jadi pacarnya Wima. Gue ikutan jejingkrakan sambil mulut komat-kamit nyanyi lagu ini. Sekalian pelan2 gue juga mulai nyempil2 dan ndesel2 (ndesel2=bahasa Jawanya nyempil2, cuma lebih nyempil lagi, atau disebutnya: nyuuueeeempil. Yang orang Jawa Timur pasti ngerti) supaya bisa dapet posisi yang mepet pager. Di pertengahan lagu tangan gue udah bisa megang pager dan di akhir lagu akhirnya seluruh badan gue bisa nempel sama pager. Sementara di belakang sana orang2 lagi pada moshing dengan sangat autisnya.

Setelah lagu “Cobalah Kau Mengerti” abis langsung dilanjut sama lagu “Lepaskan Diriku”, single pertama di album pertama. Dari lagu ini gue pertama kali kenal J-Rocks dan langsung jatuh hati denger bassnya yang agak2 L’arc~en~ciel gimana gitu. Dan lagi2 di lagu ini gue ikutan jejingkrakan sambil nyanyi2.

Kini kuingin… Pergi darimu…

Tak kan ada yang bisa menahanku lagi…

Karena ku tau dirimu tak seperti dulu lagi…

Sudahlah sudah… Lepaskan diriku…”

Sementara di belakang sana orang2 maih asik bermoshing2 ria dengan sangat rusuhnya, sampe2 petugas security ngejagain pager supaya nggak runtuh dan berkali2 ngingetin supaya penonton nggak goyang secara berlebihan. Sebenernya sih menurut gue moshingnya nggak rusuh2 amat, cuma karena ini acaranya di dalem mall, jadi kondisinya beda sama konser outdoor.

Beberapa penonton nganggep security nya berlebihan. Saking keselnya sampe ada penonton perempuan jilbaban yang tiba2 ndesel2 lewat samping gue bawa botol Aqua (ups nyebut merek) kosong. Dia terus ndesel2 sampe depan banget. Setelah posisinya dirasa cukup strategis, langsung dia lempar botol kosong di tangannya ke arah beberapa security yang lagi jagain pager, diikuti tangannya yang mengacungkan jempol ke bawah, dan perempuan itu langsung ngeloyor pergi. Untung botolnya nggak kena siapa2. Tapi salah seorang security ada yang nyadar kalo botol itu ditujukan buat mereka. Lalu ia langsung menoleh ke arah perempuan berjilbab yang udah ngeloyor tadi, dengan ekspresi marah plus mata yang melotot dan mendelik kaya tokoh2 antagonis di sinetron2.

Itu tadi kisah si perempuan dan si security. Abis lagu “Lepaskan Diriku” kelar, Iman langsung ngelepas gitarnya dan dilanjutin sama lagu J-Rocks yang paling baru, “Falling in Love”. Biarpun lagunya agak slow, tapi tetep aja gue ikut goyang.

“Aku jatuh cinta… Telah jatuh cinta…

Cinta kepadamu… Ku jatuh cinta…

I am falling in love… Falling in love…

With you…”

Ini lagu liriknya ada Bahasa Inggrisnya gitu. Mau mirip2 si Cincyah Laurah kali ya?

Terus dilanjutin lagi sama lagu “Kau Curi Lagi”, lagu yang sedianya dinyanyiin J-Rocks duet bareng Prisa. Tapi karena kontraknya Prisa udah abis, jadi sekarang si Iman nggak punya temen duet bareng lagi. Agak stress juga dia kayaknya ditinggal perempuan manis macem Prisa. Saking stressnya, di tengah2 lagu dia sempet ngasi mic nya ke Wima selaku bassis, dan Wima menyambutnya dengan nyanyiin 1 baris dari lagu itu. Nggak ada Prisa, Wima pun jadi. Gitu kali pikir Iman. Huehehe…

Dulu waktu pertama kali nonton J-Rocks di Jogja, si Prisa masih terikat kontrak, jadi dia ikut nampil pas di lagu ini. Tapi nggak masalah nggak ada Prisa juga. Lagunya tetep enak buat jejingkrakan kok.

“Kau curi lagi… Uuuuuuu…

Kau genggam lagi… Uuuuuuu…

Kau tawan lagi hatiku yang telah terbiasa tanpa dirimu…

Kau jerat diriku…”

Jreeeng… Lagu “Kau Curi Lagi” selesai. Si Anton selaku drummer udah keliatan siap2 mau mainin intro lagu “Ceria”. Tapi tiba2 Wima, Iman dan Sony langsung turun dari panggung tanpa pamit. Disusul sama si Anton. Mereka melangkah ke backstage dan langsung hilang dari pandangan. Dan acaranya pun berakhir.

Kriiiik… Kriiiik…

Gue masih tetep berdiam diri di tempat.

Kriiiik… Kriiiik…

J-Rocks nggak balik lagi ke panggung. Berarti acaranya emang udah selesai. Ya nggak apa2 sih, cuma agak gantung aja endingnya. Menurut analisis gue dan Mastur yang sama2 tamatan SMA N 1 Depok, kayanya J-Rocks masih pengen mainin minimal 1 lagu lagi. Tapi ngeliat antusiasme penonton yang makin rusuh dan untuk menghindari kerusuhan lebih lanjut, maka diputuskan suoaya acara dihentikan sampe situ doang. Jadilah endingnya keliatan gantung dan tergesa2 gitu.

Lalu gue dan Mastur pun beranjak meninggalkan tempat itu dan balik ke backstage buat kumpul lagi sama 2 orang temen lainnya gue yang udah disana.

Sekian laporan konser J-Rocks malem ini yang berakhir mendadak, kira2 jam setengah 10-an.

Selesai.

Udah selesai?

Oh ternyata belom!

Kita baru mau masuk ke inti tulisan kali ini.

Oke, kita lanjut lagi.

Akhirnya berkumpullah gue berempat di deket backstage. Kita semua sama2 bingung dengan endingnya yang agak2 gantung ini. Sambil ngobrol2, gue rogoh saku kiri celana gue. Gue ambil handphone Nokia 3510 gue dan gue cek kiranya ada sms atau telpon masuk. Terus gue rogoh saku kanan celana gue. Gue ambil dompet gue. Terus gue masukin tangan gue ke saku kanan celana buat ngambil handphone Esia Huawei gue.

Tapi saku kanan celana gue rata.

Nggak ada sesuatu yang menonjol disana.

Gue cek sekali lagi, masih tetep aja rata dan nggak ada apa2 disana selain sebungkus permen Chox (aduh nyebut merek lagi).

Sekali lagi, nggak ada sesuatu yang nyembul dan menonjol disana. Kecuali kalo tangan gue gue geser ke tengah celana, jelas ada seuatu yang menonjol disana. Tonjolannya gede banget! Hohoho… Apa itu? Biarlah imajinasi dan fantasi lu aja yang menjawabnya. Astaghfirullah…

Gue cek ketiga kalinya, saku kanan celana gue maih tetep rata.

Dan ini berarti,

HANDPHONE ESIA HUAWEI GUE KECOPETAN!

Alhamdulillah… Inna lillahi wa inna illaihi rajiuun…

Akhirnya, kecopet juga handphone Esia Huawei gue yang satu ini, setelah 2 minggu sebelomnya, sodara si Esia Huawei ini yaitu si Nokia 6230 dan Nokia 6670 juga kemalingan waktu lagi di Jogja (baca tulisan gue yang judulnya “CeritaSuatuHari”).

Asumsi gue, Esia Huawei ini kecopetan waktu lagi nonton J-Rocks tadi. Yah namanya juga nonton konser yang penuh sesak, ditambah dengan anak2 autis yang pada mohing, emang sangat memungkinkan banget buat si copet ngehe’ bin brengsek bin bajingan bin ngepet itu beraksi. Ups Astaghfirullah…

Tapi ini ajaib. Bener2 ajaib. Soalnya di saku kanan celana gue ada handphone Esia Huawei dan dompet gue. Tapi yang kecopet cuma handphone doang, dompetnya nggak. Kok bisa? Ya nggak tau, mungkin copetnya masih punya perasaan. Eh nggak juga sih, kalo copetnya masih punya perasaan, tentunya dia nggak bakalan nyopet dong…

Kronologisnya gini. Awalnya di saku kiri celana gue ada Nokia 3510. Di saku kanan ada Esia Huawei. Di saku kanan belakang ada dompet. Sementara di saku kiri belakang ada sisir putih kecil pemberian Pak Astoto Slamet tercinta. Nah karena saku belakang ini rawan dan nggak terjangkau mata gue, jadi gue pindahin dompet gue dari saku kanan belakang ke saku kanan depan, barengan sama Esia Huawei. Posisinya pun Esia Huaweinya ada di bawah, terus gue timpa sama dompet gue di atasnya. Dan gue pake celana setan, eh celana jin, yang artinya kantong depannya tuh sangat2 sempit dan nge-pres.

Tapi selepas konser, ternyata Esia Huawei yang posisinya di paling bawah telah raib, sementara dompet yang posisinya lebih luar maih tetep utuh. Ini kenapa bisa gini? Apa yang nyopetnya adalah makhluk2 ghaib sebangsa Edy Tansil atau Osama bin Laden? Eh itu mah bukan makhluk ghaib, tapi orang yang nggak ketauan rimbanya.

Ya udahlah, tawakkal aja. Sesungguhnya kejadian ini emang udah tertulis di Lauh Mahfudz, dan Allah Yang Maha Mengetahui pasti punya rencana sendiri yang kita nggak ngerti apa2. Dalam rentang waktu 17 hari terakhir ini, gue udah kehilangan 3 biji handphone. Tapi sekali lagi, itu nggak apa2. Janganlah kita sibuk menangisi rezeki yang dicopet itu, tapi beryukurlah karena kita masih punya rezeki lainnya yang nggak kecopet. Bukan begitu?

Dan mengenai kaitannya dengan J-Rocks tadi, gue jadi terpikir untuk menyayikan sebuah lagu untuk si copet brengsek itu.

“Kau curi lagi… Uuuuuu…”

“Kau genggam lagi… Uuuuuu…”

Hohohohoho… Dasar maling, copet, pencuri atau apapun istilahnya. Kau curi lagi handphone yang dititipin ke gue itu. Dan kau genggam lagi handphone itu yang seharusnya berada di dalem genggaman gue.

Lagi2 gue kecurian. Lagi2 handphone gue raib. Dan lagi2 gue masih tetep imut (?????). Semoga dengan ini gue bisa menjadi lebih sabar dan lebih bersyukur lagi dalam menjalani hidup ini.

“Kau curi lagi… Uuuuuu…”

8 comments January 13, 2009

CeritaSuatuHari

Memperkenalkan:

C-Kink Sahid Syaifullah (C-Kink) selaku korban

Septiyadhi Wirawan (Yadhi) selaku korban

Dede Miftahul Anwar (MIftah) selaku temennya korban

Pencuri selaku dirinya sendiri

Fajri Adhi Nugraha (Farji’ eh Fajri) selaku figuran

Karimma Annas (Annas) selaku temennya figuran

Sigit Nugroho (Sigit) selaku temennya temen figuran

Anak-anak Satu Bumi selaku figurannya figuran

Bapak-bapak SKK selaku tempat curhat

(Tulisan ini dilihat dari sudut pandang seekor C-Kink)

Pendahuluan

14 Desember 2008 M/17 Dzulhijjah 1429 H. Waktu menunjukkan pukul 23.00 alias jam 11 malem. Terlihat 3 ekor makhluk sedang bersemayam di ruang BEM KMFT UGM. Yang pertama adalah si imut C-Kink alias gue sendiri. Yang kedua adalah Miftah yang lagi nonton film Armageddon di laptopnya Yadhi. Dan yang ketiga adalah Yadhi selaku pemilik laptop yang lagi dipake Miftah nonton.

Gue lagi tidur2an sambil baca sebuah buku berjudul “Teori Politik Islam” karangan M.Dhiauddin Rais. Tas gue yang berisi laptop gue jadiin buat bantal. Agak alot juga sih, tapi lumayan lah daripada nggak ada bantal sama sekali. Persis di sebelah kiri kepala gue ada 1 rim kertas A4s merek PaperOne yang gue beli seharga rp 25.000,00 di Toko Merah (penting ya?). Di atasnya ada +-98 halaman Laporan Kerja Praktek gue yang baru gue print di printernya Farji’ eh Fajri.

Kebiasaan gue kalo tidur adalah naro semua properti yang biasa gue pake. Properti itu berupa kacamata, handphone Nokia 6230 yang berumur +- 4 taun 3 bulan dengan nomor 085691013852, handphone Nokia 6670 yang berumur +- 1 bulan (baru beli second seharga rp 900.000,00) dengan nomor 081317135161, sama sebuah jam tangan oleh2 dari nenek waktu naik haji beberapa taun lalu. Katanya sih jam itu belinya di Arab sana. Tapi waktu gue liat kotaknya, eh ada tulisan “Made in Thailand”. Ya nggak apa2 lah, daripada tulisannya “Made in Cibaduyut”.

Kesemua properti itu gue taro di atas tumpukan kertas A4s 1 rim itu tadi, yang juga ada laporan Kerja Praktek di atasnya. Jadi di atasnya itu ada kacamata, jam tangan, handphone Nokia 6230 sama handphone Nokia 6670.

Gue masih ngelanjutin baca buku “Teori Politik Islam”. Setelah beberapa saat gue mulai ngerasa ngantuk. Akhirnya gue taro buku itu di sebelah kiri kepala gue, di deket kertas A4s 1 rim itu tadi dan gue pun mulai tertidur. Hoooaaaahhmmm… Zzzzz… Groook… Zzzzz… Zzzz… Meninggalkan Miftah dan Yadhi yang lagi asik nungging2 bareng. Astagfirullah…

Sementara itu di plaza KPTU (Kantor Pusat Tata Usaha) Fakultas Teknik UGM ada beberapa ekor anak Infotek (Departemen di BEM yang ngurusin media) dan anak KMAP (Keluarga Mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan) yang lagi pada beres2 buat acara pameran besok, termasuk si Fajri dan Annas yang bakalan jadi figuran di cerita ini.

Setelah Pendahuluan

Keesokan harinya, yaitu tanggal 15 Desember 2008 M/17 Dzulhijjah 1429 H gue terbangun jam 04.23 pagi, akibat dicolek2 sama Miftah (ih emang akika cowo apaan bow, seenaknya aja yey nyolek2 eike…). Lalu gue pun segera bangkit dari posisi tidur gue. Nyawa gue yang tadinya baru kekumpul beberapa persen langsung terakumulasi 100% gara2 Miftah nanya gini ke Yadhi,

“Yad, laptop kamu mana?”

Karena setelah Miftah nonton di laptop Yadhi semalem, dia naro laptop itu di deketnya dan dia pun tertidur. Bangun2, dia ngeliat kalo laptop itu dah nggak ada di tempatnya, makanya dia nanya gitu ke Yadhi. Dan Yadhi pun menjawab,

“Nggak tau Mas”

Kita pun ngeliat ke sekeliling ruangan BEM. Dan ternyata hasilnya tetep nihil: LAPTOP YADHI NGGAK ADA. Atau dengan kata lain, LAPTOP YADHI DICURI ORANG.

Iya, asumsi kita semalem ada pencuri laknatullah dateng dan masuk ke ruang BEM ini lalu menggasak laptop Yadhi. Lalu nyawa gue yang udah kekumpul 100% pun langsung bergerak cepet dan nengok ke arah tumpukan 1 rim kertasA4s yang ada +- 98 halaman Laporan Kerja Praktek gue di atasnya.

Di atas kertas2 itu, cuma ada kacamata dan jam tangan gue.

Perasaan ada yang kurang deh. Apa ya?

Dan yang kurang adalah…

HANDPHONE GUE!

Sekali lagi, HANDPHONE GUE!

HANDPHONE GUE NGGAK ADA!

DUA2NYA NGGAK ADA!

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi-Mu ya Allah. Insya Allah handphone gue juga bernasib sama kaya laptopnya Yadhi.

DASAR MALING LAKNATULLAH!

Lalu kami bertiga segera mencari sekeliling, dan hasil akhirnya tetep nihil. Terus kita ngeliat ke arah pintu, dan salah satu dari 2 pintu itu telah terbuka lebar…

Jadilah kita bertiga berkesimpulan, dini hari tadi waktu kita lagi pada ngorok, ada seekor pencuri laknatullah masuk ke sini dan mencomot laptop Yadhi serta 2 biji handphone gue.

Padalah nggak jauh dari posisi gue, tergeletak sebuah kunci motor Vario punya si Fajri. Alhamdulillah kunci motor itu nggak digasak sama si maling ngehe’. Begitupun dengan dompetnya Fajri dan dompetnya Yadhi yang juga sama2 geletakan.

Akhirnya gue pun mengeluarkan jurus andalan gue, yaitu sebuah kalimat yang berbunyi,

“Tawakkal aja…”

Lalu kita pun segera bergegas ke MusTek alias Musholla Teknik untuk melaksanakan Sholat Subuh berjamaah.

Setelahnya Setelah Pendahuluan

Selesai Sholat Subuh, kita langsung beritikad untuk nyari si pelaku, yaitu si maling ngehe’ alias pencuri laknatullah itu. Mungkin aja masih ketemu. Gue coba nyari ke kebon di belakang BEM, kali aja ada orang lagi ngumpet. Yadhi nyari di dalem BEM, mungkin tersembunyi entah di mana. Miftah turun ke sekretariatnya Satu Bumi (pepalanya anak2 Teknik) buat nyari2 informasinya.

Dari obrolan dengan anak Satub, diperoleh hasil demikian:

Anak2 Satub tiap malem emang hobinya begadang. Dan baru pada tidur menjelang Subuh. Dari omongan anak2 Satub selaku saksi mata, kata mereka semaleman itu nggak ada orang yang lewat depan Satub. Plus, semaleman itu juga nggak ada anak Satub yang ke toilet. Soallnya posisi toilet persis di sebelah samping-belakang sekretariat BEM. Kalopun ada yang ke toilet pasti bisa langsung di geledah saat itu juga. Bahkan, beberapa minggu lalu mereka juga sempet kecurian laptop sama sepeda.

DASAR MALING LAKNATULLAH!

Lalu anak2 Satub beritikad baik untuk bantu nyariin. Akhirnya gue, Miftah, Yadhi dan beberapa anak Satub gerilya ngelilingin Fakultas Teknik, siapa tau pencurinya masih ada dan masih berkeliaran di sekitar sini. Sementara gue nongkrong di pos satpam depan, di depan gerbang Fakultas Teknik yang masih ketutup.

Lagi nongkrong di pos satpam, tiba2 dateng satpam yang asli yang disini disebutnya SKK (Satuan Keamanan Kampus) buat ngebukain gerbang. Setelah ber-say hello dengan beliau, gue langsung curhat bahwa gue dan temen gue baru aja kecurian. SKK itu mendengarkan curhatan gue dengan seksama dan penuh perhatian, meskipun gue nyadar bahwa dia nggak bisa ngebantu banyak dalam kasus ini.

Setelah nongkrong di depan dan disamperin Yadhi, Miftah sama anak Satub, kita semua balik lagi ke BEM. Disana juga udah ada anak2 Infotek sama seorang SKK lainnya. Akhirnya disitu kita semua curhat2an tentang apa yang baru aja terjadi dini hari tadi. Ada gue, Miftah, Yadhi, Fajri, Annas, Sigit dan seorang bapak SKK.

Disitu kita saling curhat tentang semuanya. Dari gue yang tidur paling awal, Miftah yang terakhir tidur, Yadhi yang perutnya gendut (apa hubungannya?), Annas dan Sigit yang tidur di KPTU, Fajri yang belom mandi dan nggak pernah mandi, serta bapak SKK yang berbagi informasi. Lalu dari omongan2 seluruh saksi yang ada, didapatlah kronologis kejadian dini hari itu sebagai berikut.

1. Jam 23.00 lewat dikit, C-Kink yang imut tertidur setelah baca buku “Teori Politik Islam”, dengan posisi kacamata, jam tangan dan 2 buah handphone berada di sebelah kiri kepalanya.

2. Jam 23.30–an si Yadhi tidur dengan posisi memunggungi C-Kink. Ih Yadhi kenapa yey malah munggungin akika, kenapa nggak ngadep ke akika aja? Yey kaya mau cerai aja deh bo… Ih apa sih jijik dueh…

3. Jam 24.00 alias jam 00.00, Miftah selesai nonton Armageddon di laptopnya Yadhi. Terus dia naro laptop itu dalam posisi ketutup di deketnya. Nggak lupa sebelomnya dia juga udah nutup pintu BEM dan digerendel (diselot) dari dalem, sisi atas dan sisi bawahnya. Lalu Miftah ikut2an ngorok bareng gue dan Yadhi. Grooook… Zzzzz…. Grooook…

4. Sekitar jam 01.00, Annas yang lagi sibuk di KPTU buat nyapin pamerannya Infotek, dateng ke BEM buat ngambil sapu. Niatnya dia pengen sekalian masuk ke dalem BEM. Tapi niatnya itu nggak terlaksana, soalnya pintu BEM udah digerendel dari dalem sama Miftah. Dan si Annas udah ngedobrak berkali2, tapi tetep aja usahanya untuk ngebuka pintu BEM sia2. Akhirnya beliau kembali ke KPTU tanpa sempet masuk ke dalem ruang BEM.

5. Jam 02.00-an, Fajri yang juga lagi sibuk bareng Annas di KPTU mampir ke MusTek alias Musholla Teknik yang letaknya berseberangan dengan ruang BEM buat numpang buang air kecil. Loh buang air kecil kok di Musholla? Ya maksudnya di toiletnya gitu loh… Terus apa hubungannya sama kasus pencurian? Nggak tau deh…

6. Sekitar jam 03.00, ada seekor anak KMAP yang belom sholat Isya mau minjem sarung sama Fajri. Fajri yang jelek bulukan dekil dan belom mandi itu inget kalo di BEM ada sarung. Lalu dia dateng ke BEM buat ngambil sarung. Sesampainya di ruang BEM, ternyata pintunya udah nggak kekunci dan agak kebuka sedikit. Jadi tinggal didorong aja, udah kebuka deh. Sangat bertolak belakang dengan apa yang dialami Annas 2 jam yang lalu. Dan kata Fajri juga, waktu itu dia nggak ngeliat ada laptopnya Yadhi di deketnya Miftah. Tapi Fajri nggak merhatiin handphone gue.

7. Jam 04.23 pagi, gue, Miftah sama Yadhi terbangun. Dan cerita selanjutnya silahkan baca paragraf2 di awal tulisan ini.

Jadi menurut asumsi dan perkiraan kami semua yang imut2 ini, si pencuri laknatullah itu masuk ke dalem ruang BEM antara jam 01.00 sampai jam 03.00. Lalu dia menggasak laptopnya Yadhi dan 2 buah handphone gue itu. Dasar maling laknatullah… Sekali lagi, dasar maling laknatullah… Lagi, dasar maling laknatullah…

Sebelumnya Sebelum Penutup

Kira2 seperti itulah kejadiannya. Kini laptop dan handphone telah melayang. Masa lalu dan masa muda gue telah melayang. Loh, apa hubungannya handphone dan masa muda? Semoga aja nggak ada…

Sebelum Penutup

Sambil curhat2an di ruang BEM pagi itu, terkuaklah semua cerita tentang segala kasus pencurian yang pernah terjadi disini. Emang sih, di BEM pada khususnya dan di Fakultas Teknik pada umumnya udah sering banget terjadi kasus pencurian. Gue sendiri dulu juga pernah kehilangan sepasang sepatu Ellesse putih di BEM dan sepasang sendal Bata Power biru di MusTek. Nasikun pernah kehilangan sepeda. Andhika pernah kehilangan laptop. Doni pernah kehilangan handphone. Dan Reza pernah kehilangan keperawanan. Astaghfirullah…

Dulu, entah kapan, pernah ada kejadian kaya gini. Anak2 Satub lagi pada ngorok di base campnya. Terus tiba2 ada seekor maling ngehe’ yang masuk ke dalem ruangan tersebut. Beliau berniat, eh tunggu dulu. Kayanya penyebutan “beliau” terlalu bagus untuk seekor pencuri. Kita ganti aja ya. Si pencuri ngehe’ itu berniat untuk menggasak barang2 yang ada di ruang tersebut.

Tapi Alhamdulillah, Allah berkehendak lain. Tiba2 ada salah seorang anak Satub yang terbangun, dan dia mergokin si maling ngehe’ itu dengan telak. Anak Satub selaku anak pecinta alam yang emang terkenal dengan bodynya yang aduhai, eh maksudnya bodinya yang sangar2 itu langsung ngejambak si maling ngehe’ yang ketangkep basah dan nggak berkutik itu. Hampir aja si maling ngehe’ itu digebukin sama anak2 Satub yang lain. Tapi karena mereka baik hati, akhirnya si maling ngehe’ dibawa ke SKK dan diproses lebih lanjut oleh para SKK.

Plus kata si bapak SKK, dari dulu juga udah sering ada pencuri ketangkep. Dan orangnya emang selalu beda2. Yang ketangkep sama anak Satub itu adalah bapak2 warga sekitar berumuran 35-an. Terus dulu juga pernah ada mahasiswa Diploma yang ketangkep. Gara2 itu, dia langsung di DO alias di Drop Out. Dan banyak juga pencuri2 lain yang pernah ketangkep.

Kalo saran si bapak SKK, udah semestinya di Fakultas Teknik ini dipasangin CCTV. Apa tuh CCTV? Ya semacem kamera pengintai gitu lah. Di Teknik yang luas dan bervariasi ini emang nggak ada CCTV nya. Padahal wilayahnya paling luas diantara fakultas lain di UGM dan banyak spot2 yang bisa dikatakan “tersembunyi”. Di Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang isinya orang2 borjuis hedonis kapitalis dan kalangan menengah ke atas aja udah dipasangin CCTV. Terus Teknik kapan mau masang CCTV juga?

Penutup

Tapi apapun yang terjadi, nasi kuning itu telah menjadi bubur ayam. Dan nggak masalah, mau itu nasi kuning atau bubur ayam, dua2nya sama enaknya kok…

Intinya kedua handphone gue telah raib. Laptop Yadhi juga telah raib. Bukan kecurian, bukan juga ilang. Melainkan telah kembali kepada pemiliknya. Ya udah lah, tawakkal ajah…

2 comments December 24, 2008

BusyNovember

Hoooaaahm… Halo para pembaca blog C-Kink di seluruh penjuru dunia binatang di manapun kalian berada, long taim no si. Its bin a long taim sins de las taim wi met. Ai was so bisi det ai cennot apdet mai laveli blog. Dont bi sed abaut det, bicaus i will bi bek en bi acktiv egen leter. So plis dont miss mi enimor, bicos aim alredi hir. Huehehehehe…

Huah, bahasa apaan tuh di atas? Bahasa Prancis yua? Ya kita anggap aja demikian. Intinya, gue minta maaf sebesar2nya kepada lu semua kalo kemaren2 blog gue kurang aktif (bukan kurang aktif, tapi emang gak aktif). Ini gara2 bulan November adalah bulan yang melelahkan (bukan bulan November aja, semua bulan pun melelahkan). Banyak anget job gue di bulan ini, mulai dari ngebencong di lampu merah, ngeladenin bokingan tante2, jadi penari striptis di arisan ibu2 sampe mijetin janda2 yang kesepian. Astagfirullah… Gara2 kebanyakan kerjaan, badan gue sekarang jadi kurus kering kaya gini. Padahal dulu kan perut gue six pack gitu loh…

Wuah seperti biasa udah mulai ngaco nih. Oke, jadi gini aja. Minggu pertama November itu gue lagi menjalani UTS. What is UTS? You know UTS? UTS yang biasa nongol di tengah2 semester merupakan kependekan dari Ujian Tidak Serius. Sementara UAS yang di akhir semester merupakan kependekan dari Ujian Agak Serius. Lah terus ujian seriusnya kapan donk?

UTS yang nggak serius itu Insya Allah beres. Lalu tiba2 terjadilah sebuah bencana. UGM kena puting beliung! Iya, kampus UGM yang katanya kampus kerakyatan (tapi kenyataannya adalah kampus yang menyengsarakan rakyat) kesapu puting beliung pada hari Jumat sore November. Akhirnya UGM kena azab juga gara2 terlalu kapitalis. Hohohoho…

Gak semua UGM sih yang kena, cuma di sepanjang Boulevard plus GSP sama di Sekip aja. Tapi tetep aja parah. Pohon2 bertumbangan. Kabel2 berjatuhan. Daun2 berserakan. Kucing2 berkeliaran. Dan Teletubbies berpelukan. Berpelukaaan…

Lalu gue dan rekan2 BEM KMFT UGM sepakat untuk membantu meringankan beban mereka yang ketimpa musibah itu. Akhirnya gue turun ke jalan ngebantuin mereka yang secara langsung terkena akibat dari puting beliung itu. Gue dan rekan2 bantu motong2in pohon, ngangkut2in kayu, dll. Cerita lengkap tentang puting beliung ini mungkin dibahas kapan2 aja ya.

Setelah masalah puting beliung yang ternyata merugikan UGM sebesar 12 miliar rupah itu beres, terus gue langsung menghadapi yang namanya LMT, Leadership Manajemen Training yang diadakan di Kaliurang pada tanggal 15 – 16 November. LMT ini semacam makrab buat anak2 barunya BEM. Disini gue emang bukan jadi panitia, tapi dengan posisi gue sebagai Ketua Departemen Kajian Strategis BEM KMFT UGM, gue harus ikut serta bantu2 disana. Jadi pemandu, moderator, fasilitator, supervisor, dan istilah2 berakhiran “or” lainnya seperti nyosor, bolor, molor, kolor ataupun pelor. Ih nggak nyambung deh…

Iya, LMT itu mulai dari hari Sabtu jam 7 pagi sampe hari Minggu jam 2 siang. Itu bersihnya. Kalo kotornya dari Sabtu jam 6 pagi sampe Minggu jam 4 sore. Plus, setelah hari Minggu jam 4 sore, gue tidur semaleman sampe besok paginya. Pokoknya 2 hari itu bener2 full. Jadi semua job2 gue yang rencananya gue kerjain di hari Sabtu atau Minggu itu, gue rapel di hari2 sebelumnya.

Selesai LMT, tanggal 22 – 23 November Kastrat ngadain acara seminar & training riset. Bekerja sama dengan LPKTA. Disini gue ikut kepanitiaan dan terdaftar sebagai Bendahara. Baru liat kan bendahara ganteng kaya gini… Hohohoho… Seminar dan training riset yang 2 hari ini juga cukup menguras tenaga. Tapi lumayan juga bisa dapet penyegaran, soalnya peserta seminar risetnya banyak yang kinclong2 lho…

Oh sebelomnya tanggal 20 November gue dan Departemen Sosmas BEM KMFT UGM ngadain donor darah, bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran dan PMI (duh kenapa harus PMI, kenapa nggak Mer-C aja). Dan karena partner kita adalah anak2 Kedokteran yang terkenal kinclong2 dan tajir2, lagi2 gue juga dapet penyegaran disana. Huehehehe… Ternyata niatnya nggak bagus ya…

Okeh, akhirnya seminar dan training riset beres. Terakhir, di minggu terakhir bulan November, waktunya untuk mempersiapkan diri menghadapi Pemilu Teknik. Setiap akhir taun, Fakultas Teknik ngadain semacem pemilu gitu buat suksesi ketua BEM. Pemilu ini diikutin oleh calon ketua BEM dan Partai Mahasiswa. Nah kebetulan di sini gue punya yang namanya partai mahasiswa, jadi gue harus bergerak kesana-kemari untuk mendaftarkan partai gue supaya bisa ikut pemilu teknik kali ini.

Syarat pendaftarannya keliatannya sih gampang, tapi ternyata ya emang gampang. Hohoho… Nggak juga kok. Kita perlu ngumpulin 75 KTM (Kartu Tunai Mandiri. Eh itu mah ATM. KTM tuh Kartu Tanda Mahasiswa) yang minimal harus ada di 5 Jurusan dengan 10 KTM per jurusannya. Terus bikin AD/ART, struktur kepengurusan, profil, dan bla bla bla bla lainnya. Deadline pendaftaran peserta pemilu adalah tanggal 26, dan tanggal 27 batas akhir verifikasinya. Akhirnya jadilah selama 2 hari itu, tanggal 25 dan 26, gue bergerilya melengkapi berkas2 tersebut. Alhadulillah lulus, dan kini partai gue yang bernama Partai Pemersatu Mahasiswa itu sedang bersiap2 untuk menghadapi Pemilu Teknik yang akan diadakan tanggal 15 – 16 Desember nanti.

Plus, sejak tanggal 24 November kemaren sampe 3 Desember, Bank Syariah Mandiri (BSM) buka gerai di plaza KPTU Fakultas Teknik UGM. Dan ketika sebelomnya orang BSM dateng ke BEM buat minta izin dan minta bantuan, kebetulan gue lah yang menyambut dan menerima kedatangan mereka. Karena gue adalah orang pertama yang mereka temuin, akhirnya BSM sekalian minta tolong gue dan 3 ekor rekan gue buat jadi semacam Outsource selama BSM buka gerai di KPTU. Outsource disini tuh fungsinya untuk menyoliasisasikan BSM ke masyarakat Teknik dan supaya masyarakat Teknik mau membuka rekening dan menjadi nasabah BSM. Istilahnya aja Outsource, tapi kerjanya sih sales. Huehehehe… Akhirnya selama beberapa hari itu gue nyambi magang jadi Outsource nya BSM.

Satu lagi. Hari Jumat 28 November gue dan rekan2 Teknik Nuklir manggung (baca: ngeband) di parkiran jurusan, sekaligus audisi tingkat Jurusan/Program Studi buat manggung di TechFest, pensinya anak Teknik. Disitu kemaren gue selaku bassis ngebawain lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” yang udah gue aransemen ulang dengan menyisipkan theme song Doremon di dalemnya. Sama lagu “Cukup Siti Nurbaya” punya Dewa. Alhamdulillah band gue lolos audisi buat mewakili Teknik Nuklir di TechFest, soalnya band dari Teknik Nuklir yang nampil cuma band gue doank. Huehuehue…

Otreh, itulah ke-busy-an gue selama bulan November ini. Dimohon supaya para penggemar C-Kink mania di seluruh penjuru dunia mau mengerti dan mau memahami. Hohohoho… Nah untuk sementara ini, agenda gue yang terdekat adalah Pemilu Teknik. Karena gue punya partai yang namanya Partai Pemersatu Mahasiswa dan gue sebagai ketua partainya, maka gue punya tanggung jawab untuk menyoliasisasikan partai gue ini ke seluruh lapisan masyarakat Teknik, atau bahasa kerennya: kampanye!

Masa kampanye ini berlangsung dari tanggal 1 sampai 12 Desember. Plus ntar pencoblosannya tanggal 15 – 16 Desember. Sementara di tanggal 13 ada TechFest. Nah, yang lebih urgen disini adalah masalah Pemilu Teknik. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat gue kepada seluruh fans C-Kink mania, izinkanlah gue untuk mengalihfungsikan blog gue ini sebagai media kampanye. Kampanye atas nama Partai Pemersatu Mahasiswa. Sepakat? Sepakaaat…!!! Kalo nggak sepakat ya nggak apa2, nggak mengubah pendapat gue kok. Hohohohoho…

Jadi, silahkan nikmati segala seluk beluk tentang Partai Pemersatu Mahasiswa selama beberapa hari ke depan ini. Yuk yah…

8 comments December 3, 2008

LebihDekatDenganC-Kink

Assalamualaikum wr wb

 

Kepada seluruh makhluk di seluruh penjuru dunia binatang di manapun kalian berada, dalam kesempatan kali ini marilah kita mengenal lebih jauh lagi tentang eksistensi dari seekor makhluk imut yang diketahui bernama C-Kink, yang Insya Allah lahir pada tanggal 22 Muharram 1408 Hijriah di sebuah rumah sakit yang sekarang sudah roboh di salah satu sudut daerah Pasar Minggu.

 

Kepribadian

 

C-Kink adalah seekor makhluk dengan kepribadian yang unik yang sampai detik ini masih belom bisa diidentifikasikan oleh para dokter hewan di seluruh penjuru dunia. Secara general, 1 kata sudah cukup untuk mewakili kepribadian beliau, yaitu: “Aneh”. Aneh dimananya? Ya aneh dimana2. Kalo kata “aneh” masih belom mewakili, kita tambahkan dengan kata “Autis”. Kalo masih belom mewakili juga, kita tambahkan kata “Ajaib”. Wuaouw… Ini kenapa kok kesannya beliau adalah makhluk yang gimana gitu? Ya    nggak salah juga sih karena C-Kink adalah seekor satwa langka yang keberadaannya patut dilindugi dan dilestarikan, karena hanya akan terlahir seekor C-Kink dalam setiap kurun waktu 500 tahun.

 

Karakter

 

Apa beda karakter dengan kepribadian? Hmmmm… Tanyakanlah kepada monitor komputer di hadapan mu itu. Yang jelas secara umum karakter yang dapat kita temukan dalam diri seekor C-Kink diantaranya adalah:

1.       Imut

Hah imut? Kalo ini sih semua orang juga mengakuinya… Jangan pada protes ya. Kalo mau protes, protes aja sana ke kebun  binatang terdekat.

2.       Cool

Cool (dibaca: kul) adalah karakter yang cukup menonjol yang hadir dalam diri C-Kink. Pendapat ini disetujui secara absolut oleh C-Kink itu sendiri, jadi sekali lagi jangan pada protes ya…

3.       Jayus

Menurut Kamus Besar Anak Autis yang diterbitkan oleh PT C-Kink Loser Production Jayus adalah suatu keadaan dimana suatu banyolan yang seharusnya lucu ternyata malah ditanggapi secara tidak lucu . Begitupun dengan C-Kink. Sebenernya sih bukannya C-Kink itu jayus, tetapi banyolan2 yang dilontarkan oleh beliau adalah banyolan tingkat tinggi yang hanya dipahami oleh orang2 dengan tingkat intelejensia tertentu. Jadi nggak semua orang bisa tertawa mendengarnya, melainkan hanya orang2 dengan tingkat intelejensia tertentu saja.

4.       Malas

Hooooaaaahmm… Ini juga merupakan karakter yang menonjol pada diri C-Kink. Beliau adalah makhluk yang sangat2 malas. Bahkan untuk sekedar  mengisi perut untuk memenuhi kebutuhannya sehar2 pun beliau juga sering merasa malas, yang mengakibatkan badan beliau menjadi seksi dan six pack seperti sekarang ini.

5.       Polos

Sebuah slogan salah satu produk permen mengatakan, “Polos, permen bolong rasa plong!” Tentunya slogan tersebut nggak ada hubungannya dengan tulisan ini. Udah gitu, produknya kan bernama “Polo”, bukan “Polos”. Aduh, polos banget sih kamu…

6.       Dan karakter2 lainnya yang akan muncul belakangan

Cukup jelas.

 

Kekurangan dan kelebihan

 

Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh seekor C-Kink diantaranya adalah sebagaimana tertulis berikut ini:

1.       Imut

Huohohohoho… Kalo tadi imut secara karakter, maka imut disini adalah imut secara fisik. Ih apanya tuh yang imut2? Jangan berfantasi dan berimajinasi yang aneh2 dulu. Cukup liat C-Kink dengan sekilas pandangan mata, maka kalian akan menemukan sesosok wajah cute terpampang di sana. Subhanallah…

2.       Baik

Iya, C-Kink itu makhluk yang baik lho. Dan baiknya pun kepada semua makhluk tanpa pilih2, Insya Allah demikian. Saking baiknya, beliau pernah mengizinkan sekitar 1400 virus untuk menetap dan tinggal di dalam laptopnya. Kalo ini mah lebih tepatnya disebut baik apa blo’on ya?

3.       Pendiam

Pernah denger istilah “silence is gold” yang artinya “di dalam badan yang kuat terdapat jiwa yang sehat”? Ya, tentu saja arti tersebut adalah sangat2 ngaco dan ngasal. Maksudnya istilah “diam adalah emas”. Nah itulah yang coba diterapkan dalam diri C-Kink. Lisannya selalu diusahakan untuk terjaga dari hal2 yang nggak berguna. Tapi sekalinya ngomong, waaaah, udah deh ketauan aslinya.

4.       Ganteng

Hueeeekk… Apa2an nih… Jijik ah…

5.       Dan kelebihan2 lainnya yang akan muncul belakangan

Cukup jelas

 

Sementara itu, kekurangan2 yang hadir pada diri seekor C-Kink adalah sangat2 banyak. Beberapa diantaranya adalah:

1.       Kurang berat badan

Yaelah kalo ini mah nggak perlu dipertanyakan lagi. Dunia telah mengakuinya. Kalo beliau gemuk, tentunya nama beliau bukan lagi C-Kink tapi ganti jadi G-Ndut.

2.       Kurang jelek

Iya, beliau ini terlalu ganteng, jadi seringkali membuat orang lain iri terhadap kegantengan beliau. Astagfirullah…

3.       Kurang gizi

Wah ini masih berkaitan dengan poin pertama di atas. Tapi biaya maintenance alias pemeliharaan seekor C-Kink cukup murah kok, soalnya beliau tergolong makhluk yang jarang makan. Itu tuh kekurangan apa kelebihan ya?

4.       Kurang ajar

Terkait dengan poin “jayus” pada bahasan sebelom ini, terkadang banyolan2 yang beliau lontarkan telah menyentuh suatu layer yang bernama kurang ajar. Tapi untungnya ke-kurang ajar-an beliau dapat tertutupi oleh senyuman manis beliau yang dapat mendamaikan dunia, dapan melerai orang yang bermusuhan, dan dapat menghentikan anak kecil dari tangisannya. Ah so sweet…

5.       Dan kekurangan2 lainnya yang akan muncul belakangan

Cukup jelas.

 

Prinsip hidup + penjelasan

 

Kalo kata sebuah iklan rokok, jadi orang itu harus punya prinsip. Sedangkan kata seorang ketua RT, lingkungan perumahan mereka haruslah dijaga oleh seorang prinsip supaya terciptanya keamanan lingkungan, khususnya dari tangan2 pencuri. Itu mah hansip, dodol!

Tanpa bermaksud mempertentangkan definisi prinsip maupun hansip di atas, mari kita lihat hansip2 apa saja yang dimiliki oleh seekor C-Kink. Eh bukan hansip, tapi prinsip.

1.       There is no God except Allah and Muhammad is Allah prophet

2.       Impossible is possible

3.       Jangan takut sendiri

4.       You’ll never walk alone

Aduh tapi males juga nih kalo dijelasin satu2. Jadi silahkan kalian terjemahkan menurut bahasa kalian sendiri ya.

5.       Jika kita punya waktu untuk mengeluh, maka seharusnya kita punya waktu untuk bertindak

6.       Tak ada seorang pun yang meminta terlahir sebagai pecundang. Tetapi ia dapat memilih apakah ingin mati sebagai seorang pecundang ataukah mati sebagai seorang pemenang

7.       Berbuat baiklah kepada siapapun yang kita temui. Jika ternyata ia mengkhianati kita, maka itu adalah urusan dia dengan Tuhannya

8.       Badan boleh kurus, tapi otot harus ter-urus

9.       Maaafkanlah orang lain sebelum orang itu sempat meminta maaf kepada kita

10.   Hari ini kita ikhlas dibilang aneh. Tapi biarlah waktu yang akan membuktikan siapa yang aneh sebenarnya

11.   Dan prinsip2 lainnya yang akan muncul belakangan

Insya Allah demikian. Silahkan definisikan sendiri kalimat2 tersebut sesuai dengan kemampuan intelejensia kalian.

 

Sikap yang diambil dalam momen tertentu

 

Maksudnya apa nih? Agak susah juga kalo disuruh menjelaskan tentang contoh kasus dan menyikapinya. Intinya, C-Kink adalah seekor makhluk yang “seri”, bukan “paralel”. Maksudnya apa? Seri adalah jika kita hanya bisa berkonsentrasi dan fokus pada satu hal dalam suatu waktu tertentu. Sedangkan paralel adalah jika kita bisa berkonsetrasi dan fokus pada banyak hal dalam suatu waktu tertentu.

Intinya, orang seri baru bisa beralih ke pekerjaan lain setelah satu pekerjaan selesai. Sedangkan orang paralel bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Insya Allah demikian. Dan secara umum, C-Kink termasuk golongan orang yang hanya bisa fokus ke satu pekerjaan pada satu waktu tertentu, dan baru bisa beralih ke pekerjaan lain setelah pekerjaan sebelumnya terselesaikan.

 

Sikap ketika berinteraksi dan berkonflik dengan orang lain

 

Sebelumnya mari kita flashback dulu ke salah satu prinsip yang berbunyi “berbuat baiklah kepada siapapun yang kita temui. Jika ternyata ia mengkhianati kita, maka itu adalah urusan dia dengan Tuhannya”. Secara general, C-Kink tidak pernah mempermasalahkan segala konflik yang terjadi antara beliau dengan orang lain. C-Kink terlalu polos pada semua orang, termasuk kepada pihak2 yang berniat untuk menipunya sekalipun.

Lalu, “maaafkanlah orang lain sebelum orang itu sempat meminta maaf kepada kita”. Silahkan terjemahkan kalimat tersebut sesuai kadar intelejensia kalian masing2. Yang jelas beliau adaah orang yang easy going yang tidak suka banyak menuntut macem2 dari orang2 di sekitarnya. Everybody knows himself better, dia lebih kenal siapa dirinya sendiri. Jadi nggak perlu kita repot2 memaksakan keinginan kita kepada orang lain.

 

Hal yang dibenci

Hal-hal yang dibenci oleh seekor makhluk bernama C-Kink diantaranya adalah:

-          Kedzaliman Israel dan Amerika

Kalo ini udah pada ngerti kan, jadi nggak perlu dibahas lebih jauh lagi ya.

-          Perempuan bercelana jins ketat dan perempuan punuk unta

Kenapa perempuan bercelana jins ketat adalah sebuah hal yang C-Kink benci? Karena beliau merasa bahwa ada semacam magnet di sana yang membuat mata setiap laki2 akan selalu menyempatkan diri untuk menikmatinya. Kalo itu nggak dosa ih nggak apa2, tapi kalo terjadi terus-menerus, maka apa yang bisa kita pertanggung jawabkan di akhirat nanti? Demikian juga dengan perempuan yang berlenggak-lenggok bagaikan punuk unta.

-          Makhluk2 sombong

Nah ini juga udah cukup jelas kan. Tidak pantas bagi manusia dan makhluk2 lainnya untuk berlaku sombong di muka bumi ini.

 

Hal yang disenangi

 

Beberapa hal yang disenangi oleh C-Kink diantaranya adalah:

-          Kucing

Meeeeoooong…. Aw, so sweet… Hati manusia mana yang nggak tergoda melihat seekor kucing manis nan lucu dan imut plus menggemaskan. Pus pus meooong…

-          Meningkatkan kompetensi diri

Sebagai seekor makhluk hina dan rendahan, C-Kink memiliki niat dan keinginan untuk selalu meningkatkan integritas dan kompetensi diri. Namun sedihnya, semua itu hanya terbatas di niat doank, nggak banyak yang terwujud dalam langkah nyata.

-          Bermusik

Definisi bermusik disini adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan musik, entah itu nyanyi, main gitar, main bass, ngulik lagu maupun bikin lagu.

-          Menulis

Poin yang ini mungkin nggak perlu dijelasin lebih lanjut lagi. Cukup sudah tulisan ini mewakili semuanya. Huohohohoho…

 

Hal yang bisa membuat senang dan bahagia

 

Apa aja hal2 yang bisa membuat C-Kink senang dan bahagia? Wuaah, banyak banget. Intinya, hal2 yang bisa membuat beliau bahagia adalah jika hal2 tersebut merupakan hal2 yang bisa membawa dunia ini ke arah yang lebih baik. Maksudnya apa? Maksudnya adalah semua hal yang itu akan berdampak baik bagi kehidupan dunia dan kelangsungan hidup manusia pada umumnya. Contohnya bila melihat ada orang yang berbuat baik demi kemaslahatan umat manusia, maka C-Kink akan merasa senang dan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.

Dan, hal yang bisa membuat C-Kink bahagia adalah jika beliau melihat ada orang lain bahagia. Bahagia melihat anak kecil berada dalam gendongan ibunya. Bahagia melihat anak SMA diterima di universitas favoritnya. Bahagia melihat tukang becak nggak mengeluh dengan hidupnya. Bahagia melihat guru yang mengajar murid2nya dengan tulus dan ikhlas. Bahagia melihat anak2 muda respek dan hormat kepada orang tua. Dan lain2nya.

 

Hal yang bisa membuat marah dan kecewa

 

Huuaaah… Kalo yang ini sih tinggal di balik aja sama yang diatas. Hal2 yang bisa membuat C-Kink marah dan kecewa diantaranya adalah jika beliau harus menunggu sesuatu yang tidak pada waktunya. Marah bila melihat Israel sengan semena2 mendzhalimi rakyat Palestina. Marah melihat kebodohan penguasa2 yang tunduk pada harta dan mengabaikan kesejahteraan umatnya. Marah melihat kesombongan dan arogansi tingkat tinggi yang seenaknya sendiri. Dan lain2nya.

 

Lain-lain

 

Lain-lain tuh apa ya? Hmmm… Mendingan segini dulu aja deh. Kalo masih ada yang kurang jelas dan kurang memuaskan, silahkan tanyakan keingintahuan kalian kepada C-Kink, mumpung beliau masih hidup. Okeh? Ya udah ya. Daadaaaaah…

 

Wassalamualaikum wr wb

5 comments November 8, 2008

AduhMalunya

Huy huy huy huy huy huy… Cerita ini masih kelanjutan dari tulisan sebelomnya lho, yang judulnya “LagiLagiIlang”. Disitu kan diceritain tentang kejadian ketika sendal Bata Power gue ilang di MusTek. Nah disini gue bakalan nyeritain kejadian setelah sendal gue itu ilang. Jadi buat lo2 semua, sebelom baca tulisan ini lebih jauh lagi mendingan lo baca dulu deh tulisan gue yang “LagiLagiIlang” itu, biar nyambung.

Singkat cerita, setelah sendal gue ilang tersebut, gue langsung inisiatif buat beli sendal baru. Mumpung lagi nggak ada kerjaan, ya udah gue minta tolong Andhika buat nemenin gue beli sendal di sebuah super market mini alias mini market bernama Gading Mas. Tapi gue lebih suka menyebut mini market tersebut dengan nama Mas Gading, biar kesannya kaya nama orang gitu. Mas Gading Martin? Apa Mas Gading Laura? Ih ngaco dueh…

Gue berangkat ke Mas Gading naik motor bareng Andhika. Tentunya gue yang dibonceng dan Andhika yang nyetir motornya. Kalo gue yang nyetir, mungkin saat itu kami nggak bakalan nyampe ke Mas Gading melainkan malah mendarat mulus di Rumah Sakit Sardjito, Panti Rapih atau bahkan langsung ke kuburan, dan hari ini pun gue nggak bisa menulis tulisan ini untuk  dibaca oleh lo2 semua. Huiks huiks…

Bla bla bla bla bla bla bla dan sampailah kami di Mas Gading. Selesai parkir motor, gue melangkah ke lantai 2 Mas Gading, ke tempat sendal2. Gue searching sendal2 disana. Bukan searching modelnya yang bagus yang mana, tapi searching sendal mana yang ukurannya paling besar yang pas buat kaki gue. Soalnya sendal disana ukurannya kebanyakan nomor 40 atau 41, dan ukuruan itu nggak muat buat kaki gue. Sendal disana ukurannya paling besar 43, tapi agak jarang. Nggak semua model yang ada disana yang punya ukuran 43.

Oh sebelomnya, perlu dijelasin dulu kalo sendal disana secara general terbagi 2 jenis, yaitu sendal jepit, yaitu yang ada jepitannya diantara jempol dan telunjuk, serta sendal selop, yaitu yang diantara jempol dan telunjuk nggak ada jepitannya. Gue lebih suka make yang sendal selop, soalnya lebih comfort aja dan ruas2 jari antara jempol dan telunjuk nggak bakal lecet2 gara2 jepitan yang ada di sendal jepit.

Gimana dengan merk nya? Ini yang menarik untuk dibahas. Kenapa? Soalnya sendal disana merk nya pelesetan semua, istilah halus untuk abal2 alias palsu.  Dulu waktu sendal Bata item gue nyemplung ke got waktu mau makan di Jogja Chicken (keterangan lebih lengkapnya silahkan baca tulisan gue yang judulnya “SandalDanPemiliknya”), gue beli sendal baru juga di Mas Gading ini, di tempat yang sama dengan yang gue datengin saat ini.

Waktu itu pilihan gue jatuh kepada sebuah sendal selop warna item dengan sedikit ornamen putih plus tulisan “Quiksilver” pada selopnya. Harganya 16000 rupiah lho! Eits, jangan pada kaget dulu. Mana mungkin merk setenar Quiksilver meluncurkan produk sendal seharga rp 16.000,00? Hmmmm… Coba kita telaah lebih jauh lagi, anak muda.

Quiksilver, sebuah merk terkenal yang counternya banyak beredar di mall2 yang identik dengan kata2 mahal dan mewah, ternyata hadir di sebuah mini market sekelas Mas Gading. Sepintas, itu adalah hal yang nggak mungkin. Tapi jangan salah. Itu semua bisa menjadi mungkin jika sendal yang gue beli itu merknya adalah Quiksilver, bukan Quicksilver. Loh emang apa bedanya? Ada, yaitu pada satu huruf, dan huruf itu adalah huruf “C”. C untuk C-Kink? Ya nggak lah, C itu untuk Cincyah Laurah…

Iya, yang di jual di Mas Gading itu adalah Quiksilver, yang merupakan plesetan dari Quicksilver. Modelnya sih nggak kalah dengan Quicksilver yang asli, yang ada huruf “C” nya. Tapi nggak tau deh gimana kualitas Quiksilver yang gue beli ini, yang nggak ada huruf “C” nya. Quiksilver gue itu sekarang lagi nangkring di rak sepatu di rumah gue di Depok. Quiksilver itu yang tadinya gue pake setelah sendal Bata item gue nyemplung ke got. Tapi setelah gue dibeliin sendal Bata Power biru sama keluarga gue, Quiksilver gue itu telah tergantikan perannya.

Kita balik lagi ke bahasan awal. Setelah searching ukuran kesana kemari, akhirnya gue memilih sebuah sendal selop yang modelnya sumpah jelek banget dengan warna dasar item plus ornamen warna coklat keunguan yang sama sekali nggak matching. Yang jelas, sendal pilihan gue itu modelnya bener2 nggak banget deh. Satu2nya alasan kenapa gue milih sendal itu adalah karena cuma sendal itu yang punya ukuran nomor 43. Sendal lainnya rata2 berukuran nomor 40 atau 41. Sebuah alasan yang sangat2 nggak masuk akal dan nggak rasional.

Gue tunjukin pilihan gue itu ke Andhika. Dan Alhamdulillah, Andhika adalah seekor makhluk pintar berintelejensia tinggi yang dengan tegas menolak sendal pilihan gue itu. Dia pun berasumsi sama, bahwa sendal itu modelnya bener2 nggak banget. Mungkin harga diri gue bakalan turun drastis kalo gue terlihat berjalan di tempat terbuka dengan mengenakan sendal itu.

Akhirnya gue taro sendal terkutuk itu ke tempatnya semula dan gue mulai searching lagi. Sekali lagi, bukan model yang gue jadikan patokan, tapi ukurannya. Karena sendal yang ukurannya 43 udah nggak ada lagi, akhirnya gue ngalah turun 1 level ke sendal2 berukuran 42. Mata gue menangkap sosok sebuah sendal selop warna item dengan ornamen putih bernomor 42. Modelnya mirip dengan Quiksilver gue yang dulu, yang gue beli di tempat yang sama.

Gue ambil sendal itu dan gue tunjukin ke Andhika. Alhamdulillah dia pun sepakat, soalnya sendal yang ini emang nggak jelek2 banget. Harganya pun standar, 16800 rupiah. Dan Andhika agak kaget ngeliat tulisan merk yang terpampang di bagian selopnya: “Bilabong”.

Bilabong? Merk sekelas Bilabong dijual di Mas Gading dengan harga rp 16.800,00? Weits jangan pada takjub dulu. Seperti udah dibilang, yang dijual disini tuh sendal Bilabong lho, bukan Billabong. Bedanya apa? Billabong yang asli tuh huruf “L” nya dobel, sedangkan sendal gue ini huruf “L” nya cuma satu. L untuk Laura? Iya mungkin, Laura Yagami.

Okeh, akhirnya gue ambil Bilabong abal2 itu untuk gue jadikan sebagai pelindung kaki gue plus alas kaki yang akan menemani gue kemanapun gue melangkah dan akan menjadi saksi setiap langkah kaki yang gue tuju. Welcome home my Bilabong. My fake Billabong.

Sebelom gue bawa ke kasir, gue menyempatkan diri dulu untuk beli barang2 lain. Mumpung gue lagi di Mas Gading, jadi sekalian aja gue beli barang2 yang gue rasa perlu untuk gue beli. Masih di lantai 2, dengan sendal Bilabong di tangan, gue menuju bagian stasionary untuk beli sebungkus kertas binder isi 100 lembar dengan harga 4500 rupiah. Lalu gue turun ke lantai bawah. Niatnya sih gue mau beli cemilan dan beberapa properti kamar mandi semacem sabun, shampo, odol, sikat gigi dll. Tapi mengingat setelah ini gue pulangnya ke BEM, bukan ke kosan, akhirnya gue nggak beli itu semua. Gue cuma ngambil 2 pak Adem Sari sachetan untuk mencegah leher gue dari penyakit radang tenggorokan. Jadilah kini gue menggenggam sendal Bilabong, kertas binder dan 2 pak Adem Sari di tangan gue. Lalu gue segera menuju kasir.

Sebenernya, di antara sekian penjaga kasir di Mas Gading ini yang sebagian besar perempuan, ada seekor perempuan yang terlihat lebih “kinclong” di antara yang lainnya. Biasanya tiap kali gue ke Mas Gading, kalo mau bayar gue selalu ngincer mbak2 penjaga kasir yang kinclong ini. Lumayan lah sambil nunggu barangnya diitung, gue bisa sedikit refreshing memandangi kekinclongannya. Astagfirullah…

Tapi malem ini mbak2 kinclong itu nggak keliatan. Ya udah deh gue asal milih kasir yang agak sepi. Gue datengin tuh kasir dan gue taro barang2 gue disana. Sembari nungguin barang2nya diitung, mata gue sempet ngeliat2 ke sekitar Mas Gading. Kebetulan mata gue beradu pandang dengan seekor mbak2. Buru2  deh gue buang pandangan dan ngeliatin yang lain. Tapi terus pandangan gue ke dia lagi, dan lagi2 gue mergokin kalo dia juga lagi ngeliat ke arah gue. Gue buang lagi pandangan gue. Terus gue sempet2in ngelirik ke dia lagi. Eh ternyata dia juga lagi ngelirik ke gue. Aduh jadi malu… Ada apa mbak liat2? Pasti ujung2nya mau minta nomor handphone deh… Ya udah sini nggak usah malu2. Nggak minta pun bakalan tetep gue kasih kok. Huehehehe… Astagfirullah…

Nah itu sedikit intermezzo aja. Mbak2 yang hobi ngelirik gue itu (idih ge-er…) sekarang udah ikutan ngantri di kasir yang sama dengan kasir gue, cuma jeda 1 orang doang, Jadi urutannya adalah gue, seekor laki2, lalu si mbak2 itu.

Akhirnya barang gue selesai diitung. Terus si mbak2 kasirnya bilang, “Tiga puluh satu ribu Mas!”. 31000. Angka itu yang tertera di layar komputer kasir. Gue keluarin dompet biru gue yang sering dikatain “lucu” sama temen2 perempuan gue yang udah pernah liat. Nggak tau juga sih lucunya dimana. Mungkin karena di dalem dompet biru gue itu ada 2 lembar foto gue di dalemnya, jadi muncullah istilah lucu tersebut. Idih narsis.

Gue buka dompet gue dan gue lirik uang di dalemnya. Deg. Gue kaget. Seinget gue, tadi pagi ada selembar uang 100000-an di dompet gue, minimal 50000 lah. Tapi ini kok nominal terbesarnya cuma 10000 rupiah doank? Itu pun juga cuma selembar. Sisanya adalah beberapa lembar uang 1000 rupiah yang gue nggak tau jumlahnya berapa.

Panik. Gue mulai ngerasa panik. Tapi paniknya cuma di dalem hati aja. Nggak gue tunjukin dalam ekspresi wajah, raut muka ataupun attitude dan tingkah laku. Kan ngikutin pelajaran yang gue dapet dari para trainer, yaitu bahwa meskipun diri kita sedang bermasalah, tapi tampilan luar kita nggak boleh memperlihatkan bahwa kita sedang memiliki masalah. Bahasa kerennya: profesional.

Bingung. Gue takut uang gue kurang. Akhirnya dengan ucapan Bismillah, gue itung lembar demi lembar uang gue tersebut. 1 lembar 10000 rupiah, itu yang udah pasti. Terus gue itung uang seribuannya. 1 lembar, 2 lembar, 3 lembar, 4 lembar, bla bla bla bla bla dan itungan gue terhenti di angka 12 lembar. Berarti ada 12 lembar uang seribu rupiah dan 1 lembar uang 10000 rupiah yang kalo ditotal berjumlah 22000 rupiah.

Deg. 22000 rupiah? Gue liat lagi nominal yang tertera di layar komputer kasir, disana terlihat angka 31000. Gue masih nggak percaya. Gue itung lagi uang di dompet gue. Dan sedihnya, hasilnya tetep sama, cuma ada rp 22.000,00. Sedangkan sekali lagi, gue ngeliat bahwa di layat komputer kasir tertera angka 31000.

OH MY GOD! DUIT GUE KURANG!

Panik. Pucat. Bingung. Kalut. Takut. Bau kentut. Badut. Burung perkutut. Lelembut. Ih apa sih kok nggak nyambung?

Dag dig dug der, jantungan lah gue saat itu juga. Tapi sekali lagi, cuma hati gue yang ngerasa gitu, sedangkan tampilan luar gue tetep datar dan tanpa ekspresi seperti biasa. Tapi sedihnya, laki2 di belakang gue kayanya udah mulai nyadar kalo duit gue kurang. Hei Mas, kalo udah tau ya tolong dibantu, jangan malah cekikikan sendiri gitu.

Akhirnya dengan jiwa profesionalisme seperti anjuran para trainer, dengan gaya cool gue ngomong sama Andhika yang berada agak jauh di sebelah gue. Gue colek dia terus gue berujar,

“Dik, minjem uang bentar donk!”

Saat ini, hanya Andhika satu2nya manusia yang gue kenal yang ada di situ, yang bisa gue minta pertolongan. Dan Alhamdulillah akhirnya Andhika menjawab,

“Wah, aku nggak bawa dompet Mas!”

DUUUAAAAARRR!!! Merapi meletus. Samudera Pasifik tsunami. Tanah bergemuruh. Bumi gonjang-ganjing. Matilah awak…

Andhika, ternyata nggak bawa dompet dan intinya, dia nggak bawa uang sama sekali. Pupuslah harapan gue untuk berharap lebih jauh lagi.

Akhirnya dengan segenap tenaga tersisa dan semangat yang masih ada, dengan wajah polos dan tanpa dosa gue ngomong ke mbak2 penjaga kasir tersebut.

“Mbak, itu Adem Sarinya dibalikin aja deh…”

Mbaknya kaget. Dia bengong. Sambungan kabel di otaknya mencoba mempercepat koneksi terhadap ucapan gue barusan. Lalu setelah loadingnya beres, dia berujar,

“Dua2nya Mas?”

“Iya Mbak…”

Kriiiik… Kriiiik… Kriiiik… Seumur2 baru kali ini gue ngembaliin barang kaya gini. Untung mbak2nya baik. Dia manut ngikutin perintah gue. Dia ambil Adem Sarinya, dia balikin ke tempatnya dan dia mulai mencet2 komputer kasirnya.

Kejadian ini diliat dengan jelas oleh laki2 yang ngantri di belakang gue. Pun demikian dengan mbak2 di belakang laki2 itu yang tadi sempet lirik2an sama gue. Aduh malunya… Tapi nggak apa2 Mbak, saya masih tetap bersedia ngasih nomer handphone saya kok buat Mbak…

Akhirnya setelah perhitungan selesai, di layar komputer kasir tertera angka 21300. Fiuuuh… Alhamdulillah, akhirnya budget nya sesuai dengan isi dompet gue. Bukan cuma sesuai, tapi nyaris mendekati kematian, atau kalo dalam bahasanya si Ashif, temen gue di Kastrat, yang kaya gini tuh namanya “Near Dead Experence”, pengalaman mendekati kematian.

Hati gue lega ngeliat angka 31000 itu terreduksi jadi 21300. Sekali lagi dengan ekspresi wajah datar, polos dan tanpa dosa, gue keluarin uang 22000 rupiah satu2nya itu dari dompet gue dan gue kasi ke mbak2 penjaga kasir. Mbak2 itu pun mengambilnya dan balik ngasih gue 2 keping uang logam bernilai total rp 700,00 buat kembalian. Transaksi selesai. Ijab kabul beres. Sendal Bilabong dan kertas binder udah di tangan. Akhirnya pergilah gue meninggalkan kasir kemaluan itu, sekali lagi dengan gaya yang tenang seakan2 nggak terjadi apa2. Huohohoho…

Sampe di tempat parkir, Andhika ngeluarin motornya. Dan gue disamperin sama mas2 tukang parkir. Karena Andhika nggak bawa uang, jadilah gue yang bayar uang parkir itu. Alhamdulillah, Subhanallah, Segala Puji Hanya Bagi Allah, tarif parkir motor di Mas Gading hanya sebesar 500 rupiah. Dan dengan satu2nya uang yang tersisa, yaitu uang rp 700,00 hasil kembalian tadi, gue kasih uang itu ke mas2 tukang parkir, dan kami pun dibebaskan untuk melajukan motor kami melintasi jalan raya. Aaaah, lega… Seandainya aja parkir motor disana bayarnya rp 1000,00, apologi macem apa lagi yang bakal gue pake ke tukang parkir itu? Haruskah gue nyuciin bajunya dulu supaya bisa dibebaskan menebus uang parkir itu? Yah, intinya sekarang gue udah bebas dari Mas Gading itu, dengan uang yang tersisa di dompet adalah 200 rupiah doank. Uang yang mungkin bakal gue kasih ke tukang ngelap motor di perempatan lampu merah nanti.

Sesampainya di BEM, gue baru inget. Tadi pagi emang ada uang sebesar rp 350.000-an di dompet gue. Tapi sedihnya di hari itu ternyata gue menghabiskan 150000 rupiah untuk beli bensin buat makanan MyLovelySolBro, 168500 rupiah untuk beli pulsa di FreesqCell, dan sisanya buat beli makanan yang pada akhirnya hanya tersisa rp 22.000,00 itu di dompet gue.

Aduh malunya…

4 comments November 8, 2008

LagiLagiIlang

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 3 November 2008/5 Dzulqaidah 1429 di petang hari setelah Maghrib yang syahdu dan menenangkan, aku beserta 2 ekor anak manusia yang bernama, sebut saja Ayi Wirawan (21/M/Bantargebang) dan Andhika Pranayudha (19/M/Ciputat) yang saat itu lagi nongkrong di BEM KMFT UGM, merasakan adanya bunyi cacing2 yang menggeliat-geliat di dalam perut kami. Cacing2 itu menggelinjang dan menimbulkan bunyi keroncongan yang bersumber dari dalam perut. Apa artinya? Artinya adalah bahwa kami bertiga terkena penyakit cacingan.

Ya nggak lah! Bukan cacingan maksudnya, tapi itu adalah tanda2 kecil dari laparnya perut seseorang. Kaya kiamat aja, ada tanda2 kecil dan ada tanda2 besar. Ya udah tanpa menunggu kami jadi cacingan beneran, kami bertiga melangkahkan kaki ke sebuah restoran, eh rumah makan yang terletak di Pogung yang bernama Ngundi Rejeki.

Ngundi Rejeki yang terletak persis di pengkolan ini merupakan tempat makan favorit anak2 Pogung dan sekitarnya. Beberapa alasan diantaranya adalah karena harganya yang murah, pelayannya ramah, penyajiannya cepet dan birokrasinya yang nggak berbelit. Plus, kalo lagi makan di sini kadang2 kita sering ketemu sama orang yang kita kenal. Jadi tunggu apa lagi, mari makan di Ngundi Rejeki sekarang juga! (pesan ini disponsori oleh: Rumah Makan Ngundi Rejeki. Alamat: Pogung Kidul pengkolan Selokan Mataram).

Kita lewatin aja bagian makan2 tersebut, ditakutkan kalian nanti malah bakalan ngiler ngeliatin aku makan sop daging sapi plus jus jeruk. Singkat cerita, kami bertiga telah selesai makan dan kini tibalah waktunya untuk kembali pulang ke BEM. Kaya lagunya Kangen Band, “kembali pulang”. Kekasih yang dulu hilang… Kini dia t’lah kembali pulang…Ih kok malah nyanyi sih.

Di perjalanan pulang, tiba2 Afgan berkumandang. Berarti menandakan bahwa sudah masuk waktu Isya. Loh emang apa hubungannya si Afgan sama waktu Isya? Ya iyalah, yang berkumandang kan Afgan Isya. 1 jam sebelomnya, yang berkumandang itu Afgan Maghrib. Kalo pagi2 jam 4-an, ada Afgan Subuh. Buset dah, itu mah Adzan, dodol!

Karena Afgan eh, adzan berkumandang, kami bertiga melangkahkan kaki ke Musholla Teknik. Musholla Teknik yang biasa disingkat ShoNik, eh maksudnya MusTek ini berada di seberang ruang BEM, bersebelahan. Tapi bangunannya berdiri sendiri2, nggak dempetan kaya di ruko2 gitu. Lalu aku sama mas Ayi masuk ke ShoNik eh ke MusTek dari pintu arah Jurusan Arsitektur yang berada di sebelah Utara Mustek, karena posisi kami emang lebih deket dari situ setelah pulang dari Ngundi Rejeki tadi. Sedangkan si Andhika memutuskan untuk ke BEM bentar, lalu dia ke MusTek lewat pintu utama yang berada di sebelah Selatan Mustek, karena posisi ruang BEM lebih deket dengan pintu utama MusTek daripada pintu arah Jurusan Arsitektur.

Mas Ayi berjalan di depan ku. Ia lepaskan sendalnya di emperan MusTek sebelah Barat. Aku menyusulnya dan kuletakkan sendal ku di sebelahnya sendal mas Ayi. Lalu aku beranjak ke lantai kedua untuk mengumandangkan Afgan eh adzan Isya dengan suara ku yang Insya Allah merdu dan menghanyutkan layaknya Afgan yang asli. Ih dari tadi Afgan melulu, ngefans ya?

Selesai adzan, aku turun ke bawah buat wudhu, shalat rawatib, nungguin orang2 dateng, terus ke lantai 2 lagi buat qomat, dan turun lagi ke bawah buat melaksanakan shalat Isya berjamaah. Lalu bla bla bla bla bla bla bla bla… Akhirnya shalat berjamaah selesai dan aku tutup dengan shalat rawatib.

Lalu aku beranjak untuk meninggalkan MusTek. Aku melangkah ke emperan Utara untuk mengambil sendal ku. Sesampainya di sana, aku nggak melihat sendal ku itu. Yang ada Cuma sendal biru punya mas Ayi. Dan juga nggak ada sendal2 lainnya soalnya orang2 datengnya dari pintu utama di sebelah Selatan, jadi mereka pada naro sendalnya di sana.

Aku menyusuri emperan Utara itu sekali lagi. Dan aku masih nggak menemukan sendal ku disana. Wah, kemana nih sendal, mungkinkah beliau ilang? Berdasarkan premis yang ada, aku berasumsi awal bahwa sendal ku emang ilang. Tanpa perasaan berdosa dan tanpa perubahan ekspresi wajah apapun, dalam hati aku berujar, “Alhamdulillah sendal ku ilang!”

Tapi aku masih punya asumsi lain. Mungkin aja sendal ku itu udah nangkring di ruang BEM, dibawa sama siapa gitu yang iseng. Lalu aku meninggalkan Mustek dan berjalan kaki secara nyeker alias tanpa alas kaki ke ruang BEM. Di depan pintu yang terkunci ada Andhika dan Doni yang nungguin aku untuk ngebukain kunci pintunya. Tapi ternyata di sana pun aku juga nggak menemukan kehadiran sendal ku itu. Wuah ilang beneran nih.

Aku masih belom nyerah. Akhirnya aku nyeker sekali lagi ke MusTek. Dan aku telusuri lagi emperan Utara tempat sendal ku terakhir kali aku lihat. Dan sekali lagi, hasilnya nihil. Sendal ku telah hilang dan raib entah kemana. Sekali lagi aku pun berujar, “Alhamdulillah sendal ku ilang.

Lalu aku balik lagi ke ruang BEM masih dengan kondisi tanpa alas kaki. Di sana udah ada mas Ayi sekarang. Melihat kedatanganku tanpa alas kaki, mereka bertanya,

“Gimana sendalnya?”

Dan aku menjawab singkat,

“Alhamdulillah ilang”

Tanpa ekspresi, tanpa perubahan raut wajah, dan tanpa perubahan suasana hati. Insya Allah demikian.

Iya, akhirnya sepasang sendal selop Bata dari bahan jins berwarna biru dengan tulisan Power itu kini telah tiada dan telah berpindah tangan ke seseorang entah siapa. Eh bukan berpindah tangan, tapi berpindah kaki, kan sendal dipakenya di kaki.

Aku pribadi sih nggak masalah sendal ku ilang. Sebagaimana tulisan ku sebelumnya yang berjudul “Sendal dan Pemiliknya”, aku berpendapat bahwa sendal ini hanyalah titipan dari Allah kepada kita. Sebelom ini pun aku udah pernah kehilangan sepasang sepatu Ellese yang kuhadapi dengan ikhlas dan membuatku mendapatkan sepasang sepatu Puma dan sepasang sepatu Bata lainnya. Plus, dulu juga aku pernah kehilangan sebelah sendal Bata ku yang nyemplung ke got, yang membuat ku mendapatkan sendal Bata bertuliskan Power itu sebagai gantinya. Duh dari tadi Bata melulu nih, mau promosi lagi ya?

Yang aku sedihkan adalah nilai historis dari sendal Bata Power itu. Kan dulu waktu sendal Bata ku kecemplung got, aku menggantinya dengan sendal QuickSilver abal2. Lalu aku bawa sendal QuickSIlver itu ke Depok. Sesampainya di sana keluarga ku tercinta menyadari kalo anak laki2nya yang imut ini kini udah nggak lagi mengenakan sendal Bata yang udah bertaun2 nongkrong di kakinya. Akhirnya aku ceritakan kejadian nyemplungnya sendal Bata ku yang membuat aku harus beli sendal QuickSilver ini.

Mungkin keluarga ku terenyuh mendengarkan penuturan ku tentang nyemplungnya sendal Bata tersebut. Lalu tanpa aku sadari, mereka berinisiatif untuk membelikan ku sebuah sendal baru. Ya itulah sendal selop Bata berbahan jins warna biru dengan tulisan Power diatasnya. Sebuah sendal yang punya nilai historis yang sangat tinggi, karena merupakan pembuktian sebuah kasih sayang keluarga. Aku pun terkejut dan bahagia ketika pertama kali dapet sendal tersebut, soalnya sendal ku selama ini hanyalah sendal2 standar yang nggak punya nilai estetika dan seni di dalamnya. Pemilihan sendal Bata Power ini adalah keputusan keluarga ku untuk memberikan sebuah alas kaki yang gagah dan macho yang matching dengan body anak laki2nya yang juga macho dan six pack ini.

Tapi apa mau dikata. Sekarang sendal itu udah raib entah kemana. Sendal yang dulu aku dapet dengan nilai historis yang tinggi, kini juga lenyap dengan nilai historis pula. Dasar maling nggak tau diri. Bukan masalah materinya yang membuat kita bersedih, melainkan adalah adanya nilai historis yang dimiliki oleh materi tersebut. Dengan ini, apa yang harus ku katakan di hadapan keluarga ku nanti jika mereka bertanya kenapa sendal Bata Power yang dulu mereka belikan dengan penuh rasa cinta kini nggak nangkring di kaki ku lagi?

Pun demikian dengan sepatu Ellese ku yang dulu ilang di depan ruang BEM. Sepatu itu modelnya SAMA PERSIS dengan punya kakak ku, karena kita emang belinya janjian dan kompakan gitu, biar kaya anak kembar. Tapi si maling nggak tau diri itu emang sukanya nyolong hal-hal yang bernilai historis tinggi.

Ya udahlah tawakkal aja. Semoga si maling bisa memanfaatkan sendal Bata Power ku itu di jalan yang benar dan untuk kegiatan yang bermanfaat. Dan terakhir, sekali lagi aku hanya bisa berkata, “Alhamdulillah sendal ku ilang.

1 comment November 5, 2008

Panggilan

Langsung aja ya coy. Selama +- 18.5 tahun gw idup di muka bumi ini, dimana +-10 tahun diantaranya gw abisin buat tidur, gw telah dipanggil dengan banyak panggilan. Mungkin lu taunya kalo gw biasa dipanggil C-Kink doang (dibaca : Ceking), tapi sesungguhnya sebenarnya masih ada nama panggilan lainnya buat gw. Berikut ini bakalan gw kasitau nama panggilan apa aja sih yang pernah gw terima atau nama panggilan yang pernah ditujukan buat gw. Tapi ini cuma yang gw inget doang lho. Jadi kalo lu ngerasa pernah mannggil gw dengan nama yang gak biasa, silahkan tulis di comment ya. Oh iya, sebelumnya gw mohon maap kalo nama asli gw gak gw ikut sertakan. Bukan maksud apa-apa, tapi ini semua demi kelangsungan hidup gw dan keturunan gw dan demi masa depan gw dan anak-cucu gw dan kesejahteraan hidup gw serta cita-cita gw. Gak nyambung ya? Bodo amat lah, dilindungin kok sama Undang-Undang, terutama pasal Perlindungan Terhadap Binatang. Loh emangnya gw binatang? Kurang ajar…

·         C-Kink (dibaca : Ceking)

Hmmm… Kalo ini sih udah gak perlu gw jelasin lagi. Keterangan lebih jelasnya bisa lu liat di Blog gw sebelumnya yang berjudul “NAMAPUNYAKU”. Sebagian besar makhluk yang gw kenal memanggil gw dengan panggilan ini. Dan karena panggilan inilah sampai saat ini gw gak bisa gemuk. Melasnya… Dulu sih berat gw sempat pernah nyampe 62 kg. Tapi trus gw sakit & beratnya turun jadi 58. Trus bisa gw naikin lagi ke 60 kg, tapi trus gw sakit lagi. Kalo gini terus gw kapan gemuknya. Eh, kok malah curhat sih?

 

·         Ardya

Ardya? Gak salah tuh? Iya, emang gak salah kok, kan nama gw C-Kink Ardya. Tapi yang manggil gw Ardya juga cuma 1 orang doang, yaitu wali kelas gw waktu gw SMP kelas 3 di SMPN 2 Depok di kelas 3-1 yang bernama Ibu Endang Hermining. Kenapa gw dipanggil Ardya, ya soalnya emang gw sendiri yang minta. Kenapa gw sendiri yang minta, soalnya di kelas 3-1 itu ada temen gw yang namanya sama. Jadi supaya gak ribet ya udah gw minta dipanggil Ardya aja.

 

·         Fisichella

Huek huek cuih… Hwehehe… Pada kaget ya? Ya sama, gw juga kaget kok. Fisichella yang bernama lengkap Giancarlo Fisichella kan pembalap F1 terbaik abad ini. Kok bisa-bisanya gw dipanggil gitu? Duh kaya gak tau aja lu, kan gw ngefans sama beliau. Udah gitu gantengnya juga mirip lho, jadi sah-sah aja kalo gw dipanggil Fisichella. Tapi sayangnya hanya ada 2 orang yang pernah manggil gw Fisichella, yaitu Hendro Priyo Dwi Utomo, seorang penggemar Fernando Alonso yang Insya Allah akan menjadi calon dokter gigi dan Wita Kartika Restu, sesama penggemar Fisichella juga.

 

·         Zola

Siapa tuh? Zumy Zola yang artis itu ya? Bukan lah, ndeso banget lu. Zola yang dimaksud disini adalah Gianfranco Zola, pemain sepakbola terbaik abad ini. Kenal gak? Gapapa kok kalo gak kenal, sekarang beliau dah pensiun kok. Dulu waktu jamannya gw masih aktif sebagai pemain bola, +- sekitar tahun 1997-2000, skill gw gak beda jauh sama Zola. Beneran lho gak beda jauh, tapi beda jauuuuuuuuuh banget. Karena gw nge-fans sama beliau, trus sama temen-temen gw di Depok Indah 2  gw suka dipanggil Zola kalo lagi maen bola di lapangan tenis (Loh, main bola kok di lapangan tenis? Maklum lah gak ada tanah kosong).

 

·         P-Man (Plastic Man)

Apaan tuh? Begini ceritanya. Dulu waktu gw kelas 1 SMP di SMPN 2 Depok di kelas 1-5, gw hobi ngeletek-ngeletekin jari. Karena keseringan ngeletekin jari, posisi jari gw jadi rada-rada aneh gitu deh. Trus ada temen yang ngeliat & bilang kalo jari gw lentur amat. Selain itu, kalo lagi duduk, posisi kaki gw juga suka rada-rada aneh. Padahal menurut gw sih gak aneh, cuma temen-temen gw aja yang pada gak bisa niruin. Ya udah deh, gara-gara 2 kejadian tersebut, sama temen sekelas gw dipanggil Plastic Man, yang kalo disingkat jadinya P-Man.

 

·         Batu

Duh, sebenernya sih gw males buat nulisin yang ini. Kenapa gw bisa dipanggil Batu & siapa yang manggil gw Batu? Untuk pertanyaan pertama akan kita bahas kemudian. Unutk pertanyaan kedua, orang yang telah berjasa memberi gw nama panggilan Batu adalah seorang temen (Padahal sih gw gak mau ngakuin dia sebagai temen. Hwehehe…) di UGM yang bernama Prisiliastuti, yang biasa dipanggil Tuti, eh, Lia. Kenapa gw dipanggl Batu, soalnya kata dia gw orangnya gak punya perasaan. Kenapa gw gak punya perasaan, soalnya kata dia gw kalo ngina dalem banget, dah gitu kalo gw lagi iseng suka kebangetan. Duh para pembaca, masa sih seorang C-Kink suka ngina dan suka iseng? Ga mungkin banget kan? Jadi gw pengen nanya ke lu-lu semua, bener gak sih gw nginanya dalem & isengnya kebangetan? Silahkan tulis jawaban lu di comment ya. Tapi tentunya buat lu-lu yang ngejawab “iya” untuk 2 pertanyaan diatas bakalan merasakan nikmatnya radiasi nuklir loh. Hahahahahahaha… (Dih, ini mah ngancem…)

 

·         Mike

Weits apa-apan nih? Masa nama ndeso kayak C-Kink bisa berubah dipanggil jadi Mike? Tenang, jangan emosi dulu. Mike disini bukanlah Mike yang juara Indonesia Idol, bukan Mike dari Michael Jackson, apalagi Mike dari Mikrofon. Mike disini adalah nama bassisnya Green Day yang bernama Mike Dirnt. Ceritanya, gw kan dulu waktu kelas 2 dan 3 SMP ngefans banget sama Green Day. Trus gw juga punya band yang ngebawain lagu-lagunya Green Day. Personilnya 3 orang, 2 lagi adalah Bintang Haruman Saragih dan Kukuh Adi, dan mereka berdua inilah yang kadang-kadang suka manggil gw pake panggilan Mike.

 

·         Ustad

Bwahahahahaha… Heh jangan ketawa. Pada heran gak, kenapa gw dipanggil ustad? Ya sama, gw sendiri juga heran kok. Yang suka manggil gw ustad adalah temen-temen di kosan gw di Jogja. Gw juga ga tau kenapa bisa dipanggil ustad, tapi mungkin sebabnya adalah karena dibanding semua orang yang kos di tempat gw ini, gw yang paling alim sendiri. Jadi ya gitu deh.

 

·         Reny

Aduh aduh… Kenapa nama gw yang bagus ini kok bisa dipanggil Reny sich? Tau tuh gw juga bingung. Untuk lebih jelasnya, silahkan lu tanyakan kepada duat Anto Bersaudara (Anto Sisters) yaitu Alvianto Hanivatun dan Yulianto Susanto di BEM FT UGM. Mereka berdualah yang senang memanggil gw dengan nama panggilan ini. Kaya nama perempuan aja yach, Reny. Padahal akika khan cowo asli bo… Gimandang sich yey… Sebeelll…

 

Ya begitulah kiranya nama-nama panggilan yang pernah gw sandang. Mohon maap ya kalo ada nama panggilan lainnya yang pernah lu tujukan ke gw tapi gak gw tulis diatas, kan gw suka pikun nih. Maklum lah dah tua. Dadaaaaah…

4 comments October 30, 2008

AntologiPuisi

Kagak Tau Judulnya Apaan

Matamu tajam bagaikan pisau

Tanganmu lincah secepat anak panah

Tapi mengapa itu semua

Kau manfaatkan di jalan yang salah?

Sebodoh itukah dirimu?

Mengambil yang bukan milikmu?

Setan-setan tertawa melihatnya

Tidakkah kau malu

Kalau orang tuamu tahu

Anaknya berbuat seperti itu?

Atau mungkin kau ingin

Anakmu juga berbuat begitu?

Takutlah dengan siksa neraka

Penyesalanmu nanti takkan berguna

Benda itu haram kau gunakan

Tidakkah kau menyadarinya?

Kembalilah ke jalan yang benar

Dan berusahalah dengan cara halal

Tak perlu kau putus asa

Karena Allah Maha Pemurah

Hanya itu yang dapat kuucapkan

Untukmu, seseorang

Yang terbuai oleh dunia ini

C-Kink, 11 Oktober 2003

=====================

Semua Tentang HISTERIS

R***** A****, itu namanya

Emang dia ganteng orangnya

Namun badannya terlalu tinggi

Dan juga ceking sekali

Hanya saja dia tak banyak bicara

Yang hanya bicara seperlunya saja

Aneh, seperti itulah dia

Raut wajahnya biasa-biasa saja

Ditemani gitar dan kacamata

Yang selalu setia bersamanya

Alangkah serasinya mereka bertiga

Krismansyah, itulah namanya

Rumahnya berada di Cagar Alam

Ite dan Uti adalah temannya

Sepeda adalah kenangannya sewaktu kecil

Mastur, begitu dia biasa dipanggil

Anak buahnya sangat banyak jumlahnya

Namun dia tetap rendah hati

Seperti seekor ayam di pagi hari

Yang membangunkan manusia dari tidurnya

Andai ia ditindas oleh temannya

Harun akan segera datang membela

Prisman Hasudungan, itu namnya

R***** C-Kink, guru gitarnya

Ikan Louhan meniru model jidatnya

SMU Negeri 3 sekolahnya

Matanya ada dua, tentu saja

Aslinya, Pasaribu adalah nama marganya

Nama yang khas dari Sumatera

Hobinya adalah berburu wanita

Anak kecil pun dilahap juga

Senyumnya memang menawan

Untuk memikat hati perempuan

Dia ingin pulang malam-malam

Untuk berkumpul dengan teman-teman

Namun orang tuanya tidak mengizinkan

Gregetan, pasti ia rasakan

Angan-angannya berlalu semua

Namanya juga hidup, nikmati saja

Triyas Sukmawati, itulah namanya

Rambutnya memang tiada duanya

Ia memiliki rambut di tangannya

Yang terlihat bagai seekor gorila

Akan tetapi, ia adalah manusia asli

Suryadi pun tahu akan hal ini

Suka kentut sembarangan

Uplinya pun berserakan

Kucing adalah binatang yang dibencinya

Makanan, pasti disukai olehnya

Anak kecil sering menangis dibuatnya

Wajah aslinya masih diragukan

Apakah laki-laki atau perempuan

Tetapi apapun yang terjadi

Ia tetap periang dan baik hati

Ega Faris Afif, itu namanya

Gunadi adalah nama bapaknya

Angkot 03 kendaraan favoitnya

Film kartun Jepang ia saksikan

Ada lagu Jepang juga ia dengarkan

Ramah dan pemarah sifatna

Ia suka menampung berbagai masalah

Sayangnya, semua itu bagaikan tempat sampah

Ayu Ismiarti, itulah namana

Yang agak lemot orangnya

Untunglah dia pintar akan segalanya

Ia menaklukkan banyak lelaki

Sampai Nanang bahkan Riandi

Mulutnya tak pernah berhenti bicara

Itulah salah satu keanehannya

Ayi, adalah nama adiknya

Rumah mereka berada di Depok Lama

Tatkala ia ingin satu yang pasti

Izin dari orang tua tidak diberi

Adisty Sekar Yudistari

Dengan tinggi badan seadanya

Ia tidak malu dan tidak berbangga

SMUNSA, disitu sekolahnya

Tempat belajar dan bertemy teman

Yang membosankan dan menjemukan

Senyum selalu terpancar dari wajahnya

Entah itu apa artinya

Keinginannya untuk ikut ‘Ortopedi’

Agar dapat menjadi lebih tinggi

Raihlah apa yang ia inginkan di dalam mimpinya

Histeris, itulah nama bandnya

Imut-imut para personelnya

Studio 19 tempat mangkalnya

True Love lagu andalannya

Ega dan Ayu vokalisnya

R***** C-Kink pemain bassnya

Iman, Triyas dan Adiz gitarisya

Serta Krismansyah Djalu drumernya

C-Kink, 29 Oktober 2003

====================

Gak Ada Kerjaan

Di malam hari yang sunyi sepi

Aku melamun seorang diri

Diiringi lagu berjudul “Yang Terlupakan”

Yang menemaniku saat tak ada kerjaan

Saat ini aku sedang bosan

Biarpun ada PR tapi malas kukerjakan

Ingin sekali kubaca ayat-ayat Al-Qur’an

Tapi aku tak dapat menahan godaan setan

Kembali aku merenung sendiri

Memikirkan apa yang terjadi di esok hari

Diiringi suara merdu Bang Iwan Fals

Membuat badan ini menjadi tambah malas

Aku ingin tidur terlelap

Tapi malam belum terlalu gelap

Aku ingin bernyanyi dan bermain gitar

Tapi suaraku akan membuat orang bergetar

Akhirnya aku memutuskan

Untuk menulis sebuah puisi

Dan puisi yang telah kutuliskan

Sudah dapat Anda baca saat ini

C-Kink, 3 Desember 2003

====================

… … …

Buka matamu…

Buka hatimu…

Buka jiwamu…

Buka telingamu…

Lihatlah dunia…

Lihatlah isinya…

Nikmati keindahannya…

Rasakan apa yang terasa…

Bersujudlah pada-Nya…

Bersyukurlah pada-Nya…

Beribadahlah pada-Nya…

Berimanlah pada-Nya…

Allahu Akbar…

Allah Maha Besar…

Subhanallah…

Maha Suci Allah…

Alhamdulillah…

Segala puji bagi Allah…

Laa ilaa ha illallaah…

Laa ilaa ha illallaah…

Laa ilaa ha illallaah…

C-Kink, 3 Desember 2003

====================

Untukmu

Hei kamu…

Yang lagi berduaan di situ

Kuatkanlah imanmu

Karena setan akan menemanimu

Serta setan akan menggodamu

Melakukan yang lebih dari itu

Dan janganlah kamu berduaan di hadapanku

Karena aku…

Adalah laki-laki yang tak laku-laku

C-Kink, 10 Desember 2003

=====================

Tahun Baru

Tahun telah berganti

2003 takkan kembali

Orang-orang datang dan pergi

Meninggalkan kenangan di hati

Semua itu takkan terulang lagi

Kini di ufuk Timur telah terbit matahari

Tak terasa sekarang sudah bulan Januari

Harapanku di tahun 2004

Semoga imanku semakin kuat

Otakku semakin smart

Dompetku semakin padat

Kemampua bermain bassku semakin hebat

Fisichella menjadi yang tercepat

Ada presiden yang adil terhadap rakyat

Dan tugas-tugas sekolah tidak semakin berat

Tapi jangan dulu kiamat

Selamat tahun baru

1 Muharram 1425 H

C-Kink, 2 Januari 2004

==================

?????

Cinta,

Ada apa dengan Cinta?

“Tidak ada apa-apa,” jawab Cinta

Oh ternyata tidak ada apa-apa

Sudah ya!

C-Kink, 8 Januari 2004

==================

Juventus vs Chievo

(Apa Hubungannya?)

Diriku termenung seorang diri

Duduk di tepi menunggu mati

Akankah datang secercah harapan

Sebuah jalan menuju kebahagiaan

Semua orang tertawa

Semua orang bersuka-cita

Semua orang menikmati dunia

Aku hanya sanggup melihatnya

Saat semua orang berjuang

Aku hanya diam bagai binatang

Saat semua orang berusaha

Aku tetap diam, diam dan diam

Hidup ini penuh cobaan

Hanya yang kuat yang mampu bertahan

Cobaan itu akan tetap datang

Sampai maut datang menjelang

Kini aku kembali sendiri

Bersama rinai hujan yang setia menemani

Dan mungkin di esok hari nanti

Ku kan tetap disini tersiksa sepi

C-Kink, 1 Februari 2003

===================

Aku Ingin Pulang

Telah lama ku berdiri disini

Sendiri, sunyi dan sepi

Menanti sesuatu yang tak pasti

Hanya untuk kebahagiaan duniawi

Aku ingin pulang

Bukan ke rumahku

Bukan ke tanah airku

Tapi kedunia akhirat yang abadi

C-Kink, 10 Februari 2003

====================

Aneh

Detik berganti menit

Menit berganti jam

Jam berganti hari

Hari berganti minggu

Minggu berganti bulan

Bulan berganti tahun

Tahun berganti dasawarsa

Dasawarsa berganti abad

Abad berganti millenium

… … … … …

… Kiamat

C-Kink, 10 Februari 2004

====================

Apalah Arti Sebuah Judul

(Jangan Kau Tanya Judul Puisi Ini)

Pikiran dan perasaan telah berubah

Hilang satu muncul yang lain

Telah lama menanti dan mmencari

Untuk dapatkan satu yang pasti

Dan apa yang terjadi

Setelah terungkap rasa di hati

Malam kembali sunyi sepi

Saling menunggu dan saling menanti

Serta tawa riang yang seakan hilang

Entah apa yang terasa olehnya

Jangankan bersuara

Bertatap muka pun tidak bisa

Kisah ini tak akan ada habisnya

Sebelum berani untuk mencoba

Dan sang waktu tidak mau menunggu

Berjalan terus tanpa pedulikanku

C-Kink, 24 Februari 2004

====================

Puisi Ini Puisi yang Pendek

Hei, kucing manis

Datang dan mendekatlah kemari

Hanya kau yang ada disini

Marilah bersama kita bernyanyi

Dan bila tak ada lagi yang peduli

Aku ingin tidur 100 tahun lagi

C-Kink, 26 Februari 2004

====================

Untuk Engkau Sahabatku

Sahabatku

Walaupun kau tak pernah bercerita

Tapi aku tahu yang kau rasakan

Kita sama-sama sedang menghadapi dilema

Seiring bertambahnya usia kita

Tersisihkan, terlupakan

Tak berani bicara, tak berani menyapa

Cobalah lupakan itu semua

Nikmati saja indah dunia

Bila kau mau

Kau dapat letakkan tanganmu di bahuku

Supaya dapat terbagi beban dirimu

Dan kita ceria kembali seperti dulu

Tidakkah kau menyadari suatu hal?

Kita bagaikan sepasang cermin

Yang saling memantulkan satu sama lain

Walau ku tahu kau lebih bahagia dariku

Tujuan dan cita-cita kita sama

Cara pikir dan sudut pandang pun juga sama

Karena itu, kita akan mencoba

Bersama-sama membela negara

Dan membasmi penguasa yang gila akan harta

Aku akan disisimu

Dan membantumu mencapai keinginanmu

Aku akan disampingmu

Dan membantumu mewujudkan mimpimu

Aku akan dibelakangmu

Bila kau telah dapatkan yang kau mau

Aku akan didepanmu

Bila ada musuh yang datang mengganggu

Dan bila putus asa sudah di depan mata

Serta tiada lagi harapan tersisa

Maka ikutlah denganku

Berjuang berperang demi kebahagiaan

Berjihad fisabilillah menegakkan kalimat Allah

Apapun yang terjadi

Semoga persahabatan ini akan berarti

Tersenyumlah, sahabatku

C-Kink, 26 Februari 2004

====================

Saat Semua Berakhir

Saat semua sudah berakhir

Maukah engkau buka matamu?

Saat semua sudah berakhir

Maukah engkau buka hatimu?

Saat semua sudah berakhir

Maukah engkau buka telingamu?

Saat semua sudah berakhir

Maka cobalah untuk mencoba satu langkah baru

Setiap pertemuan akan mengalami perpisahan

Semua awalan akan memiliki akhiran

Dan saat semua sudah berakhir

Maka kenanglah saat-saat itu

C-Kink, 19 Maret 2004

==================

Pecundang Cinta

(Maafkanku Wahai Gadisku)

Entah sudah berapa bulan lamanya

Kau mengakui bahwa aku cintamu

Dan entah sudah berapa bulan lamanya

Aku tak sanggup membalas cintamu

Aku bukanlah Romeo

Yang rela mati bodoh demi cintanya

Aku bukanlah David Beckham

Yang tetap setia walau cobaan menimpa

Aku bukanlah Krismansyah

Yang berani mencintai walau secara sembunyi

Aku hanyalah aku dan tetaplah aku

Pecundang cinta yang tak mampu memberi arti cinta

Gadisku, maafkan aku

Bila aku tak sanggup membalas cintamu

Gadisku, lupakan aku

Aku tak ingin kau terluka mencintaiku

Gadsku, bukalah matamu

Ada banyak lelaki yang lebih baik dariku

Gadisku, oh, gadisku

Walaupun aku mencintaimu

Walaupun kau selalu di hatiku

Walaupun senyummu hadir di mimpiku

Tapi aku tetaplah pecundang cinta

Yang tak mampu membalas cinta yang kau berikan padaku

Gadisku, biarkan aku sendiri

Aku tak akan sanggup untuk mencintai

Gadisku, terima kasih banyak untukmu

Karena kau rela membuang waktumu

Hanya untuk mencintai diriku

Pecundang cinta tersiksa dalam kesendiriannya

Pecundang cinta mencoba tertawa walau hati terluka

Pecundang cinta tak dapat menjaga cintanya

Pecundang cinta tak akan sanggup menyatakan cintanya

C-Kink, 29 April 2004

==================

Akhir Cerita Kita

Mungkin

Inilah akhir dari segalanya

Semua pertanyaan yang tersimpan

Semua perasaan yang terpendam

Semua kegelisahan yang terasa

Semua kenangan yang pernah ada

Dan semua cerita kita

Seakan telah terhapus semua

Dan terlupakan dari ingatan

Malam ini

Ku merasa sepi

Karena ku disini sendiri

Tanpa dirimu lagi

Memang salahku

Yang selalu diam membisu

Sampai kapan

Ku kan selalu sendiri

Mungkin

Sampai nanti

Sampai kutinggalkan dunia ini

C-Kink, 25 Mei 2004

=================

Tangisan Malam Hari

Alhamdulillahirabbilalamin

Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan semseta alam

Akhirnya…

Malam ini aku menangis

Air mataku menetes membasahi pipi ini

Bukan aku menangis karena menguap

Bukan aku menangis karena tertawa terbahak

Aku menangis tersedu dan terisak

Menangis di tengah keheningan malam

Apa yang kutangisi?

Apakah aku menangisi dosa-dosaku?

Apakah aku menangisi jiwaku yang jauh dari-Mu?

Apakah aku menangisi jasa-jasa ibuku?

Apakah aku menangisi tangan lembut ibuku yang mengusap halus rambutku?

Apakah aku menangisi kedurhakaanku?

Apakah aku menangisi keindahan tiap-tiap ayat dari kitab suci-Mu?

Atau, apakah aku menangisi cinta yang telah hilang dari seorang gadis yang kucintai?

Aku tak tahu

Yang jelas, malam ini aku menangis dan bersujud di hadapan-Mu

Allahu Akbar, Allahu Akbar

C-Kink, 12 Juli 1004

================

Suara-Suara yang Disuarakan oleh Si Penyuara yang Menyuarakan Suara-Suara

Ting ting ting

Denting piano

Jreng jreng jreng

Genjrengan gitar

Tes tes tes

Tetes air hujan

Ring ring ring

Dering telepon

Nong nong nong

Kenongan tukang es

Tong tong tong

Kentongan pak hansip

Crek crek crek

Kecrekan pengamen

Tok tok tok

Ketokan pintu

Cring cring cring

Krincingan uang logam

Pok pok pok

Tepokan tangan

Byur byur byur

Deburan ombak

Dug dug dug

Bedug masjid

Diikuti suara Adzan

Waktunya menegakkan Sholat

C-Kink 29 Juli 2004

================

Add comment October 11, 2008

HanyaKumpulanSampah

P.T.E #1

Dalam setiap detik lamunan ku

Dirimu selalu hadir menghiasinya

Dalam setiap saat renungan ku

Dirimu selalu hadir menghiasinya

Kau bukanlah sekuntum bunga

Karena bunga menjadi tak berguna jika layu

Kau bukanlah bulan purnama

Karena bulan tak menyinari bumi bila tertutup awan

Kau adalah seorang gadis

Yang setiap detik selalu memancarkan pesona

Yang setiap saat selalu memancarkan keindahan

Yang membuat ku jatuh hati padamu

Setiap ada waktu

Ku sempatkan mata ini

Untuk memandang mata indah mu

Setiap ada waktu

Ku sempatkan telinga ini

Untuk mendengar suara manis mu

Walau hanya dari kejauhan

Aku dapat melakukan semua itu

Aku tak kan mampu bicara pada mu

Aku tak kan mampu berdiri disisi mu

Aku tak kan mampu menggenggam tangan lembut mu

Karena kau terlalu indah untuk diriku

Semua cerita dan kenangan kita

Tak akan pernah ku lupakan

Dan tak akan pernah terhapuskan

Walaupun perasaan ini membuat ku tersiksa

Tapi aku tak kan menyesalinya

Aku akan tetap bertahan

Untuk selalu memuja mu di dalam kesendirian ku

Entah sampai kapan

Yang pasti

Aku kan tetap bertahan

C-Kink, 14 Juni 2004

=================

P.T.E #2

Hari yang indah ni

Adalah waktu untuk melepas kejenuhan

Waktu untuk mengingat segala kenangan

Dan waktu untuk mengadakan perpisahan

Bagi mereka yang memang sudah harus berjalan

Semua keramaian ini

Tak ada artinya bagi ku

Semua hingar bingar ini

Tak ada artinya bagi ku

Semua yang ada di sini

Tak ada artinya bagi ku

Karena kau tidak disisi ku

Karena kau tidak disamping ku

Karena aku sendiri tanpa diri mu

Dimanakah kau berada

Ku rindu senyum manis mu

Ku rindu hangat tawa mu

Ku rindu…

Ku rindu semua yang ada pada mu

C-Kink, 15 Juni 2004

=================

P.T.E #3

Tepat tanggal ini

16 tahun yang lalu

Seorang bayi perempuan terlahir ke bumi

Dari rahim ibunya

Di sebuah rumah sakit entah dimana

Dan lihatlah kini

Bayi perempuan itu sudah berubah

Menjelma menjadi seorang gadis

Gadis dewasa yang manis dan jelita

“Selamat Ulang Tahun”

Hanya kalimat itulah

Yang dapat ku ucapkan untuk gadis itu

C-Kink, 16 Juni 2004

=================

P.T.E #4

Mungkin

Kini ku tak lagi ada di hati mu

Mungkin

Kini ku tak lagi ada di pikiran mu

Mungkin

Kini ku tak lagi hadir di lamunan mu

Mungkin

Kini ku tak lagi hadir di mimpi mu

Mungkin

Kini tak ada lagi namaku di buku harian mu

Mungkin

Kini tak ada lagi rasamu untuk ku

Tetapi

Kau tetap ada di hati ku

Kau selalu ada di hati ku

Karena kau telah mencuri hati ku

C-Kink, 17 Juni 2004

=================

P.T.E #5

Menyedihkan…

Melihat masa lalu kita

Saat tatapan mata kita berjumpa

Ikmati canda tawa bersama-sama

Menyedihkan…

Melihat masa lalu kita

Saat kita bersama

Berbagi segala suka dan suka

Menyedihkan…

Melihat semua ini

Kita seakan dipisahkan oleh dinding yang tebal

Menyedihkan…

Melihat begitu mudahnya dirimu berbicara dengan lelaki lain

Dan begitu mudahnya diriku berbicara dengan gadis lain

Namun betapa sulitnya bagi kita untuk bicara berdua

Menyedihkan…

Melihat kisah kita

Yang menggantung dan tiada akhir

C-Kink, 25 Juni 2004

=================

P.T.E #6

Ku beranikan diri

Untuk menenangkan rasa sepi di hati

Namun sebaliknya yang terjadi

Kesepian ini semakin menjadi

Akulah bodoh

Akulah pengecut

Akulah pecundang

Segala perasaan ini

Ku alami sendiri

Ku nikmati sendiri

Ku rasakan sendiri

Ku simpan sendiri

“Maaf” ku ucapkan untuk mu

Bila aku bersalah pada mu

“Maaf” ku ucapkan untuk mu

Bila aku pernah menyakiti mu

Kapan semua ini berakhir?

Kapan ini semua berakhir?

Bila rasa ini telah hilang

Akankah semua kembali seperti semula?

C-Kink, 30 Juni 2004

=================

P.T.E #7

Assalamualaikum wr wb

Hai gadis manis

Apa yang sedang kau lakukan saat ini?

Aku tak tahu

Yang aku tahu hanyalah

Pasti kau sudah tak lagi memikirkan ku

Aku tak mengerti

Apakah kau ini cerdik licik atau munafik

Yang aku mengerti hanyalah

Bahwa aku adalah orang bodoh yang mencoba mengharapkan cinta mu

Aku lelah memikirkan mu

Aku lelah menulis tentang mu

Aku lelah memendam cinta ku

Jadi, harus kuakhiri semua ini

Semoga inilah puisi terakhir dari ku untuk mu

Aku hanya akan menjadi pengagum mu

Aku hanya akan menadi penggemar mu

Aku hanya akan menjadi pemuja mu

Hanya doa ku yang akan menemani mu

Semoga kau mendapatkan bahagia dengan lelaki itu

Wassalamualaikum wr wb

C-Kink, 12 Juli 2004

=================

2 comments October 11, 2008

TambahSatuLagi

Setiap harinya, manusia bertambah menjadi semakin tua. Bukan cuma setiap hari, tapi juga setiap menit bahkan setiap detik pun umur kita terus bertambah. Detik demi detik terus berlalu, semakin mendekatkan kita kepada suatu hal yang bernama kematian.

Di bulan ini, khususnya bulan September, aku telah melangkah maju. Bukan melangkah maju menuju suatu kebaikan atau melangkah maju untuk menempuh cita2, tapi melangkah maju mendekati kematian. Kok bisa? Ya bisa duonk… Soalnya di bulan September ini akika berulang tahun lho bow… Huohohoho…

Sebelom berlanjut lebih jauh lagi, mari kita nyanyi2 dulu…

“Happy birthday to you…

Happy birthday to you…

Happy birthday happy birthday…

Happy birthday to you…”

Eh stop dulu. Kita kan orang Indonesia, kok nyanyinya pake bahasanya Cinta Laura sih? Mari kita nyanyi sekali lagi…

“Selamat ulang tahun kami ucapkan…

Selamat ulang tahun kita kan doakan…

Selamat ulang tahun sehat sentosa…

Selamat panjang umur dan bahagia…”

Hore… Plok… Plok… Plok… Plok… Pit piuw… Suiiit suiiit… Cewek godain kita donk… Astagfirullah…

Iya, kira2 begitulah. Hari ini, eh bukan hari ini tapi bulan ini umur ku tambah 1 lagi. Bukan berarti tambah tua, tapi tambah deket dengan kematian. Gak terasa udah +- 20 tahun sejak terakhir kali aku brojol dari rahim seorang perempuan cantik bernama Pudji Indrawati. Tapi itu kalo pake tanggalan Masehi. Kalo pake tanggalan Hijriah mungkin udah 21 tahun lebih dikit, soalnya aku terlahir di bulan Muharram 1408.

Nah, sekarang apakah sebaiknya kita berbahagia atau bersedih? Bukan kita sih, tapi aku doank. Bahagia apa sedih nih? Happy or sad? Hmmm… Kalo pertanyaan itu ditujuin buat aku, mungkin jawabnya adalah bahagia. Eh gak bahagia, sedih kok. Eh bahagia aja. Eh sedih deh. Eh bahagia kali. Eh sedih ah. Eh bahagia tau. Eh sedih lah.Eh bahagaia donk. Eh sedih aja deh. Eh bahagia apa sedih ya? Tanyakanlah pada ayam yang mengeong itu… Meooooong… Ih ayam kok mengeong, ayam kan menggonggong… Guk guk…

Kita kembali lagi ke bahasan awal, atau dalam bahasa Semarangnya, “kembali ke Laptop”. Bulan ini umurku telah bertambah dan kematian semakin mendekat. Apakah yang sudah aku lakukan selama 20 tahun ini? Sudahkah aku memanfaatkan 20 tahun ini dengan sebaik2nya?

Mari kita flashback ke masa2 20 tahun yang lalu. Kita runut satu-persatu dari jaman dulu, dari sejak aku brojol di salah satu ranjang empuk di sebuah rumah sakit di Pasar Minggu, meskipun rumah sakit tempat aku pertama kali menghirup udara dunia itu kini telah tiada, entah tergusur atau diruntuhkan. Tapi yang aku inget aja lho, yang lupa ya biarlah terlupa…

Kita mulai dari umur 0 tahun. Disini aku sama sekali gak inget apa2. Lanjut ke umur 1 tahun. Aku juga gak inget apa2. Terus ke umur 2 tahun. Aku masih gak inget apa2. Lalu ke umur 3 tahun. Aku juga tetep aja gak inget apa2. Duh gimana nih, masa gak inget apa2 sih? Ya sutralah, kita loncat aja ke tahun2 selanjutnya…

Sampe kelas 3 SMP, hidupku masih totally rubbish. Hah apaan tuh totally rubbish? Total = merek air minum kemasan, Rubi = batu permata. Jadi Totally Rubbish = merek batu permata kemasan. Bukan begitu? YA BUKAN LAH, MASA YA BUKAN DONK… Huehehehe, biasa aja kali… Mulan aja Jamilah, bukan Jamidonk. Kalo pusing juga kan sakit kepalah, bukan sakit kepadonk. Ih maksa deh…

Totally rubbish tuh artinya Benar-Benar Sampah. Weits, jangan langsung tutup idung kalo denger kata “sampah”. Apalagi tutup mata. Ya kalo matanya ditutup ntar tulisan ini gak kebaca lah, eh gak kebaca donk.

Udah2, mari kita kembali ke laptop. Jadi intinya, sampe jaman SMP, kehadiranku di dunia ini cuma sekedar nyampah doank. Sampah masyarakat. Ya kira2 begitulah. Sebenernya sih sampe sekarang juga aku masih tetep hanya sekedar sampah masyarakat, cuma gak mau ngaku aja. Huohohoho…

Kita berlanjut ke jaman SMA. Sampe SMA juga sebenernya masih tetep sampah, tapi sedikit demi sedikit aku udah mulai mengerti akan arti kehidupan. Di saat itulah pertama kalinya aku mengungkapkan cita2ku di depan kelas. Waktu itu, cita2ku masih simpel dan membuatku ditertawakan oleh seluruh penghuni kelas. Apa itu? Yaitu aku bercita2 untuk MATI SYAHID. Huahahahahaha… Mari tertawa bersama2…

Tapi itu no problemo. Seiring dengan berjalannya sang waktu, khususnya di akhir2 kelas 3 SMA, aku mulai dapat menentukan arah dan tujuan hidup ku ini. Bergaul dengan tukang minyak bakal membuat kita kecipratan wanginya, sementara bergaul dengan tukang jagal bakal membuat kita kecipratan darahnya, sedangkan bergaul dengan Komeng akan membuat kita ketularan gantengnya. Nah, di kelas 3 ini Alhamdulillah aku berada di kelas yang kondusif dengan makhluk2 di sekitarku yang memnungkinkanku untuk meningkatkan kompetensi diri. Jadilah di kelas 3 ini aku telah mampu membuat semacam Life Planning. Penjelasan mengenai life planning ini telah aku tulis di suatu postingam tersendiri di blog ini.

Plus, di kelas 3 semester 2 ini juga merupakan pertama dan terakhir kalinya aku dapet ranking semasa SMA. Itu pun gak nanggung2, langsung ranking 2. Dan dilanjuti dengan kesuksesan ku meraih nilai UAN tertinggi ke-11 dari +-240 siswa di SMA serta keberhasilan menembus UM UGM di pilihan pertama yaitu Teknik Nuklir. Terima kasih buat temen2 SMA yang telah mampu memberikan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan potensi diri ini.

Kita berlanjut ke jaman kuliah. Selama tahun pertama kuliah, aku termasuk golongan mahasiswa kupu2, Kuliah-Pulang Kuliah-Pulang. Outputnya, nilai IP ku selalu diatas 3. Semester pertama 3.5, semester kedua 3.13. Nyombong dikit nich…

Tapi ya cuma itu doank, cuma ngefek di IP. Sementara softskill, public speaking, leadership dan lain2nya sama sekali gak terasah. Akhirnya karena sebuah kecelakaan, terdamparlah aku di BEM KMFT UGM, tepatnya di Departemen Kajian Strategis. Nah barulah disini kehidupanku yang sebenarnya dimulai. Aku mulai belajar banyak hal,m mulai dari hal yang sepele sampai hal yang besar sekalipun.

Kini aku telah berumur 20 tahun. Kalo dibandingkan dengan umur Muhammad Rasulullah saw, umur ku udah 1/3 umur beliau. Yang berarti kira2 1/3 perjalanan hidup telah aku lalui. Itu pun kalo aku emang bakalan diwafatkan di umur 60-an. Gimana kalo ternyata malaikat maut menjemput di umur ku yang ke 21? Atau bahkan nyawaku telah diambil persis setelah aku menyelesaikan tulisan ini?

Tapi gak peduli seberapa banyak sisa waktu ku di dunia ini, yang pasti aku akan terus mencoba untuk memberikan semua yang terbaik yang aku punya. Untuk siapa? Untuk semuanya. Untuk orang tua, untuk keluarga, untuk lingkungan, untuk tanah air, untuk bangsa dan negara, serta untuk Allah Lillahi Ta’ala.

Aku gak tau berapa lama lagi aku masih bisa bernapas di dunia ini. Namun aku telah bertekad, suatu hari nanti Insya Allah nama ku akan tercantum di buku sejarah dunia. Dan untuk mewujudkan hal itu, maka aku harus bisa MEMBAWA INDONESIA MENJADI NEGARA YANG BESAR DAN BERJAYA. Aku harus bisa MENUMBANGKAN KESOMBONGAN AMERIKA SERIKAT DAN ISRAEL. Aku harus bisa MEMBEBASKAN PALESTINA DARI KEDZHALIMAN ISRAEL. Dan aku harus bisa membuat PARA LELUHURKU BANGGA KARENA MEREKA TELAH MELAHIRKAN SEORANG MANUSIA SEPERTI AKU. Insya Allah demikian…

Aku telah melamli 20 tahun di daam hidup ku ini, sebagian besar berisi dengan penuh kesia2an. Kini di sisa umur ku selanjutnya, aku bertekad untuk menjadi lebih baik lagi dan memang harus menjadi lebih baik lagi. Semoga di dalam sisa umur ku ini, aku dipermudah untuk mewujudkan cita-cita ku ini… Amiin.

2 comments September 20, 2008

PengalamanPertama

Hari Minggu 7 September 2008 / 7 Ramadhan 1429 H yang lalu BEM KMFT UGM ngadain acara open house buat nyambut para calon anggota baru yang telah mendaftar, mengisi formulir dan wawancara. Untuk periode kali ini, total ada lebih dari 600 formulir yang diambil, lebih dari 500 formulir yang dikembaliin, dan sekitar 400 orang yang ikutan wawancara. Tapi di open house ini kayanya yang hadir cuma sekitar 200-300 orang aja, gak semuanya dateng.

Open house ini merupakan kegiatan rutin yang diadain oleh Departemen Pengembangan Organisasi, sebuah departemen yang ngurusin masalah SDM, kaderisasi dan litbangnya anak2 BEM. Di acara ini, para PH (Pengurus Harian) diwajibkan untuk hadir, karena bakalan ada sesi perkenalan dengan para calon anggota baru. Gw yang baru menjabat 1 bulan sebagai Ketua Departemen Kajian Strategis mau gak mau harus ikut dateng, dan mau gak mau juga nanti gw harus maju ke depan dan memperkenalkan diri di hadapan anggota baru yang jumlahnya ratusan pasang mata itu.

For your info aja, seumur2 gw jarang banget nampil jadi “main figure” di depan umum. Kalo nanya2 di waktu seminar atau diskusi sih lumayan sering, tapi kalo gw harus memperkenalkan diri di depan ratusan orang, wuaduh akika belom pernah tuh bo… Gimandang nich…

Di acara ini para Pengurus Harian ditempatkan berjejer di pojok depan, duduk di kursi yang tersusun rapi. Gw sempet malu juga sih harus duduk di posisi ini, soalnya audiens dan yang lainnya pada duduk lesehan di lantai. Cuma PH dan MC aja yang dapet tempat duduk. Awalnya gw sempet ikut lesehan bareng anggota baru, tapi menjelang acara dimulai gw dipaksa untuk duduk di kursi para pejabat ini.

Acara dibuka oleh seekor gadis bernama Ansita selaku MC sekaligus protokoler dan pembawa acara. Eh emangnya bedanya MC, protokoler, sama pembawa acara tuh apa?

Setelah dibuka lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum BEM KMFT UGM yang bernama Ayi Wirawan. Lalu dilanjutkan dengan sambutan plus perkenalan para PH yang terdiri dari Bendahara Umum, Kesekretariatan, Kerumahtanggaan, Kordinator Lini Internal, Kordinator Lini Eksternal, Departemen Advro (Advokasi dan Propaganda), Departemen OASE (Olahraga dan Apresiasi Seni), Departemen Infotek (Informasi Teknik), Departemen Technopreneurship, Departemen Sosmas (Sosial Kemasyarakatan), Departemen Kastrat (Kajian Strategis) dan terakhir Departemen PO (Pengembang Organisasi).

Kastrat dapet jatah kedua sebelom terakhir. Wuaduh bingung nih gw, mau ngomong apaan di depan nanti. Gw kan gak punya public speaking dan communication skill yang bagus. Retorika juga gak bisa sama sekali. Bahkan penempatan gw sebagai Ketua Departemen Kastrat pun merupakan sebuah kebetulan yang bener2 kebetulan, gara2 Ketua Departemen Kastrat sebelumnya yang bernama Dede Miftahul Anwar harus menempati posisi barunya sebagai Koordinator Lini Eksternal. Karena pada saat itu staff Kastrat yang masih hidup cuma tersisa 9 orang, ya pada akhirnya dari sedikit orang tersebut gw lah yang ditunjuk oleh si Ketua Umum untuk menggantikan posisi Miftah.

Kita kembali lagi ke jalannya acara. Semua udah pada nampil, tinggal Kastrat dan PO aja yang belom. Sekarang lagi giliran Sosmas. Miftah yang duduk di deket gw dan seekor anak Kastrat yang bernama Nadia Aghnia Fadillah yang berdiri di depan gw sambil foto2 jalannya acara, mencoba untuk mengarahkan gw untuk ngomong apa di depan nanti. Gw manut2 aja, secara gw juga bingung ntar mau ngomong apaan.

Isa Falaq selaku Ketua Departemen Sosmas telah menyelesaikan sambutannya. Lalu Ansita selaku protokoler menyebut nama gw,

“Selanjutnya, kita perkenalkan, Ketua Departemen Kajian Strategis, Rxxxxx Axxxx! Beri aplaus yang meriah…!!!”

Seisi ruangan bertepuk tangan, membuat gw semakin bingung apa yang mesti gw omongin di depan sana. Tapi apapun yang terjadi, the show must go on. Gw beranjak dari tempat duduk, lalu gw melangkah ke depan. Gw ambil mikrofon dari tangan Ansita, lalu dengan penuh rasa malu gw melangkah ke depan, berjalan perlahan sampai kira2 ke tengah ruangan.

Gw cek tombol on-off di mikrofon, gw ketuk2 dengan jari untuk mengecek apakah sudah nyala atau belom. Setelah mantap, akhirnya gw dekatkan mikrofon itu ke bibir dan lisan gw pun berujar,

“Yo, terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…”

Dijawab dengan serempak oleh para calon anggota baru baru di seluruh penjuru ruangan, “Waalaikumussalam warahmatulahi wabarakatuh…”

Gw mengatur diri, mencoba membuat serileks mungkin. Lalu gw kembali berujar,

“Pertama2, saya atas nama pribadi mengucapkan terima kasih dan selamat atas kehadiran temen2 di sini, yang berarti bahwa temen2 di sini semuanya telah bergabung di dalam keluarga besar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik UGM…”

Gw menghentikan ucapan gw sebentar. Mengambil napas. Audiens masih tetap diam memperhatikan gw di depan, sementara sepintas terdengar kasak-kusuk entah di sebelah mana. Lalu gw kembali melanjutkan,

“Kedua, saya ucapkan terima kasih atas kesediaan temen2 semua yang telah menyisihkan sebagian umur dalam hidup kalian hanya untuk menghadiri acara ini…”

Gw kembali diam sejenak. Menghela napas sembari menjaga diri serileks mungkin.

“Ketiga, saya atas nama BEM meminta maaf kepada temen2 semua disini karena kami dipaksa untuk duduk di kursi itu…” Tangan gw menunjuk ke tempat gw duduk tadi, tempat dimana para Pengurus Harian sedang duduk. “…yang notabene tempatnya sedikit lebih tinggi daripada kalian. Semestinya gak seharusnya kami duduk di situ. Kita semua kan sama, maka seharusnya kami pun ikut duduk di bawah dan lesehan juga bersama teman2.”

Terdengar beberapa orang bertepuk tangan kecil atas ucapan gw barusan. Ah lumayan, ada juga yang merhatiin.

“Yah mungkin satu2nya alasan mengapa kami bisa duduk disana adalah karena kami brojol lebih dulu daripada temen2 semua…”

Gw berhenti sejenak. Kira2 3 poin tadi cukup untuk membuka mimbar bebas ini. Mencoba untuk percaya diri, gw kembali melanjutkan.

Nah sekarang kita bicara tentang Kastrat. Apa sih Kastrat itu? Kastrat adalah Kajian Strategis. Mungkin banyak temen2 yang merasa asing dengan istilah Kastrat itu sendiri. Kajian itu makanan apa? Strategis itu binatang apa? Bahkan ketika wawancara pun banyak orang yang dengan terang2an menolak, gak mau masuk Kastrat. Ketika saya menjelaskan tentang Kastrat dan mencoba menawarkan Kastrat, banyak yang menolak, ‘Hah Kastrat? Gak Mas, gak mau’”.

Sampe sini gw baru nyadar kalo tadi gw belom memperkenalkan diri. Langsung gw ubah haluannya.

“Oh iya tadi saya belom memperkenalkan diri ya? Iya, nama saya Rxxxxx dari departemen Kajian Strategis, Teknik Nuklir angkatan 2006. Disini saya gak akan bertanya mana anak Teknik Nuklir atau mana anak Kastrat, tapi saya ingin bertanya, mana anak Teknik?” ujar gw seraya mengangkat tangan kanan gw ke atas untuk meraih perhatian audiens.

Terlhat hampir sebagian besar audiens ikut serta mengangkat tangannya, membuktikan kalo mereka emang asli anak Teknik. Tapi ada beberapa orang yang gak ngangkat tangan, mungkin karena males, mungkin karena gak respon atau mungkin karena gak nyimak pertanyaan gw. Melihat ada beberapa orang yang gak ngangkat tangan, gw iseng berujar,

“Wah itu tadi kok ada yang gak angkat tangan. Anak Fisipol ya? Apa anak Kedokteran?” yang disambut dengan sedikit tawa kecil dari audiens.

“Ok, kita kembali lagi ke Kastrat. Sebenernya di sini saya gak bermaksud unutk membuka aib KAstrat, tapi ya apa mau dikata, inilah kenyataannya. Pada periode ini, open recruitmen untuk Kastrat ternyata memiliki peminat yang sedikit, bahkan paling sedikit di antara departemen2 yang lain. Kalo gak salah jumlahnya hanya sekitar 17 orang. Bener2 sedikit lah. Bahkan itu pun gak nyampe 5% dari jumlah kalian yang mendaftar di BEM ini, yang jumlahnya ada sekitar 400 orang.”

Terlihat beberapa orang tersenyum mendengar realita ini.

“Yah tapi itu gak masalah. Meskipun secara kuantitas atau secara jumlah kita kalah, tapi kalo ditanya kualitas, yaaa kita…” Gw sedikit menggantung kalimat gw. “… kalah juga!”

Gw ngeliat ada beberapa orang yang ketawa kecil. Gw juga ngeliat ke arah anak2 BEM lama yang lagi pada ngumpul di pinggiran, yang kayanya pada ketawa2 juga. Setelah tawa meeda, kembali gw melanjutkan,

“Iya, Kastrat emang orangnya paling sedikit. Tapi secara pribadi saya gak apa2 kok, yah saya ikhlas. Biarlah itu menjadi derita saya…”

Beberapa orang tertawa lagi, membuat gw harus mengalah sejenak untuk ngedengerin tawa mereka.

“Nggak kok, gak gitu juga sih. Biarpun anak Kastrat cuma sedikit, tapi saya percaya kalo anak Kastrat itu Insya Allah hebat2. Itu terbukti ketika saya ngewawancarain beberapa orang kemaren. Anak2 Kastrat tuh adalah orang2 yang luar biasa, beda dengan departemen yang lain. Mereka adalah calon2 orang hebat. Hal ini bisa saya lihat dari sorot matanya…”

Lagi2 gw ngeliat para audiens ketawa. Padahal gw masih belom menyelesaikan kalimat gw. Karena audiensnya lagi pada ketawa, ya udah gw ikutan cengengesan aja di depan, gak ngelanjutin kalimat gw.

Setelah tawa audiens mereda, baru gw lanjutin lagi,

“Ya pokoknya bisa diliat lah dari sorot matanya…”

“Kita kembali lagi ke Kastrat. Mengenai struktur Kastrat sendiri, di dalamnya itu terdiri dari 2 divisi yaitu divisi Internal dan divisi Eksternal, serta 1 divisi lagi yaitu divisi Pengembangan Organisai khusus internal Kastrat.”

Gw berhenti sejenak. Niatnya gw ingin memperpanjang kalimat gw diatas mengenai struktur organisasi di dalam Kastrat tu sendiri. Tapi karena gw gak bisa nemuin kata2 lagi dalam waktu cepat, ya udah masalah struktur organisasi gw tinggalin dan gw beralih ke topik lain.

“Kastrat itu sendiri, seperti namanya, punya hobi untuk melakukan diskusi dan kajian2. Jadi Kastrat disini akan mencoba untuk meningkatkan minat2 diskusi para mahasiswa. Salah satu realitasnya adalah dengan mengadakan suatu kegiatan yang bernama DiSpoSu.”

Gw berhenti mengambil napas.

“Apa itu DiSpoSu?”

Gw berhenti lagi supaya orang2 penasaran.

“DiSpoSu itu adalah singkatan dari…”

Gw mengucapkannya dengan perlahan, kata demi kata.

“…Diskusi-Spotan-dan-Suka2.”

Lagi2 audiens tertawa. Gak tau juga sih apa yang diketawain, singkatan dari kata DiSpoSu itu tadi atau mungkin gara2 orang yang berbicara di depan mereka saat ini lebih tepat jika disebut dengan lumba2 daripada seorang Ketua Departemen.

“Ya itu tadi, DiSpoSu. Jadi kalo ntar temen2 ketemu dengan anak Kastrat, silahkan langsung tarik mereka dan ajak diskusi bareng. Terserah mau diskusi apa. Kita terima diskusi apa aja kok. Mulai dari Sheila Marcia yang kena kasus narkoba, atau Robinho yag pindah ke Manchester City, ya kita bersedia.”

Gw memutar otak mencari kata2 apa yang harus gw keluarkan selanjutnya untuk menyambung tema DiSpoSu ini. Tapi lagi2 dengan keterbatasan otak gw yang kemampuannya masih kalah dengan processor yang udah rusak sekalipun, akhirnya gw kembali mengubah topik pembicaraan. Namun sayangnya karena udah kehabisan kata2, ya gw pun berniat mengakhiri.

“Mungkin segitu dulu aja ya, karena tadi saya udah di briefing oleh panitia supaya ngomongnya jangan lama2…”

Beberapa orang terlihat tersenyum kecil.

“Yah saya pribadi menyadari kalo pasti banyak di antara temen2 yang ingin tanya jawab dengan saya, tapi ya gimana, panitia gak mengizinkan…”

Belom sempet gw nyelesaiin kalimat gw, lagi2 audiens tertawa. Begitupun dengan anak2 BEM lama yang juga pada ketawa, bahkan ada yang sampe terjungkal. Karena ruangan jadi rame, terpaksa gw ngalah dan berdiam sebentar, sampe tawa audiens mereda kembali.

“Jadi gitu, kalo mungkin temen2 pengen tau lebih lanjut tentang saya, mungkin bisa nanti aja di luar forum ini ya…”

Lagi2 beberapa orang tersenyum.

“Mungkin segini aja dulu. Tapi yang perlu diingat, gak peduli dari departemen manapun kalian berasal, sesungguhnya kita ini adalah anak BEM. Juga gak dari jurusan mana kalian berasal, sesungguhya kita ini adalah mahasiswa teknik. Dan gak peduli dari manapun kalian berasal, sesunggunya kita ini adalah Bangsa Indonesia,” ujar gw sembari mengepalkan tangan kanan gw ke atas saat mengucapkan “Bangsa Indonesia”.

Terlihat beberapa anak juga ikut mengangkat tangannya. Terlihat juga yang lain bertepuk tangan kecil.

“Ya terima kasih, mungkin segitu aja dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Dijawab oleh audiens, “Waalaikumussalam warahmatulahi wabarakatuh…”

Gw pun melangkah beranjak dari tegah ruangam menuju tempat para Pengurus Harian berkumpul. Gw berikan mikrofon kembali kepada Ansita. Ansita pun meraihnya dan dia berujar kepada audiens,

“Beri aplaus yang meriah sekali lagi untuk Ketua Departemen Kajian Strategis!” yang disambut dengan tepok tangan dan aplaus meriah dari para audiens.

Lalu gw pun duduk di posisi gw semula. Tapi gw teringat dengan ucapan gw tadi yang mengatakan bahwa gak seharusnya gw duduk di tepmat yang notabene posisinya lebih tinggi daripada anak2 baru yang duduk lesehan. Gw pun bangkit dari tempat duduk gw dan ikut lesehan bareng anak2 baru.

Kemudian seekor anak autis bernama Nadia datang menghampiri gw dan berujuar, “Yah Mas, kok malu2in sih…”

3 comments September 9, 2008

WawancaraAh

Baru2 ini, BEM KM FT UGM ngadain open recruitment untuk para mahasiswa baru yang mau ikutan gabung jadi pengurus. Algoritma dari open recruitment ini yaitu :

Ambil formulir -> Isi formulir -> Balikin formulir -> Wawancara -> Tunggu kabar

Nah jadi setelah ngutak-ngatik formulir, selanjutnya para mahasiswa baru harus menjalani prosesi wawancara untuk mengetahui bakat potensinya.

Kebetulan gw kebagian tugas buat ngewawancarain para anak baru ini. Pada rapat Pengurus Harian (PH) sebelomnya, Reza Nurrahman selaku Ketua Departemen Pengembagan Organisasi (PO) mewajibkan kepada seluruh PH khususnya para Kadep (Ketua Departemen) untuk menjadi petugas pewawancara. Selain itu, tiap2 Departemen juga diusahakan mengirimkan beberapa ekor delegasi untuk membantu ngewawancarain kalo2 Kadepnya gak bisa hadir.

Jadilah disini gw punya tanggung jawab baru untuk menjadi pewawancara. Wawancara dimulai sejak hari Sabtu 30 Agustus 2008 / 28 Sya’ban 1429 H pukul 08.00 waktu setempat. Karena ada suatu urusan, gw baru bisa dateng ke sekre BEM sekitar jam 9-an. Disana udah banyak orang yang lagi wawancara. Terus gw dikumpulin sama Reza bareng beberapa pewawancara lainnya yang juga baru dateng buat dikasi TOR (Team of Reference) dan sedikit pengarahan. Akhirnya dengan modal nekat gw mulai stand by pada posisi gw untuk menyambut anak baru yang mau wawancara. Sementara si Reza sendiri kembali pada posisinya selaku Korlap (Koordinator Lapangan) untuk prosesi wawancara ini, yang kerjanya mejeng di depan sekre dan mengarahkan para anak baru.

Lalu Reza memanggil seekor lelaki dan mengarahkannya untuk mendatangi gw. Si lelaki itu pun manut2 dan duduk persis di depan gw. Gw ambil formulirnya, gw tulis nama gw di bagian belakangnya dan gw mulai ngewawancarain si anak tersebut sembari menulis komentar2 gw tentang dirinya di halaman bagian belakang formulirnya.

Awalnya gw juga bingung ini yang mau ditanya tentang apa aja. Gw pun mulai dengan pertanyaan2 standar yang terinspirasi dari formulirnya, buat mendapatkan gambaran kira2 orang di depan gw ini tuh karakternya gimana. Kemudian gw lanjutkan dengan menanyakan kekurangan dan kelebihan dia. Lalu beralih ke departemen yang dia pilih, dan terakhir tentang komitmennya. Gak lupa di sela2 wawancara gw punya tugas buat ngejelasin tentang semua departemen yang ada di BEM ini untuk mengarahkan orang2 yang gw wawancarain. Dan di akhir wawancara gw juga harus menjelaskan tentang sistem kaderisasi di BEM ini serta tak lupa untuk meminta orang yang udah selesai wawancara buat ngisi database di komputer.

Setelah orang pertama ini selesai, lalu datang lagi orang kedua yang berjenis kelamin insya Allah perempuan. Gw mulai wawancarain dia. Ternyata dari wawancara ini, gw bisa nebak kalo orang yang lagi duduk di hadapan gw ini adalah orang hebat. Ketauan dari ngomongnya, pengalamannya, skillnya, dan lain2. Asyik juga nih, bisa ketemu sama orang hebat kaya gini, secara gw juga bisa ikut termotivasi dan terpancing untuk semakin meningkatkan kompetensi diri gw.

Lalu setelah orang hebat ini selesai, datang lagi orang selanjutnya. Perempuan lagi. Begitu ngeliat formulirnya, gw agak kaget juga. Dia ini perempuan, tapi jurusannya Teknik Mesin. Jarang lho bisa ngeliat anak perempuan di Teknik Mesin. Dan ketika gw liat tempat tanggal lahirnya, ternyata dia lahir di Kaiserslautern, Jerman. Wuaouw…

Begitulah seterusnya, gw mewawancarai banyak orang sampe gak ada lagi orang yang dateng. Sejatinya wawancara ditutup jam 4 sore, tapi kalo udah sepi ya kita udah bisa pulang.

Gw pibadi enjoy juga sih dengan wawancara ini. Dari sini kita bisa ketemu banyak orang, mulai dari orang hebat sampe orang luar biasa hebat, dari orang pendiem sampe ahli pidato, dari pemalu sampe over pede, semuanya ada. Membuat gw belajar rendah hati dan semakin sadar bahwa dunia ini luas. Ada banyak manusia2 hebat dan mereka bertebaran dimana2. Beberapa di antaranya beredar di Fakultas Teknik UGM dan mengikuti open recruitment BEM KMFT UGM ini.

Di hari2 selanjutnya, wawancara tetap berjalan. Apalagi di hari kedua, yaitu hari minggu. Hari minggu ini gw kosong gak ada kuliah. Ya iya lah, aneh2 aja kalo ada dosen minta kuliah di hari Minggu. Jadinya gw bisa seharian nongkrong di BEM buat menyambut anak2 baru yang minta diwawancarain.

Dari sini gw bisa kenal banyak orang dengan banyak karakteristik. Ada anak yang gw wawancarain yang umurnya baru 16 tahun, tapi dia udah kuliah gara2 waktu SMP dan SMA kemaren dia ikut kelas akselerasi. Buset dah, kecil amat? Gw aja umur segitu masih ngempeng sama nyokap…

Terus juga gw ada pengalaman lain. Ketika itu jam udah menunjukkan pukul 5 sore. Sejatinya wawancara udah ditutup. Tapi tba2 kucluk2 ada seorang pemuda yang dateng, mau minta wawancara. Reza selaku Korlap menolak untuk mengizinkan orang itu untuk diwawancarai dan menyarankan supaya orang tersebut dateng lagi aja keesokan hari. Tapi gw gak tega ngeliatnya. Dia udah dateng entah dari mana, bela2in kesini buat wawancara. Udah gitu juga gak ada seorangpun yang bisa menjamin apakah kita masih tetp hidup di keesokan hari. Jadilah gw mengizinkan pemuda itu untuk masuk dan gw berkenan untuk mewawancarai dia. Reza ngalah aja sama gw yang tambeng ini.

Ternyata pemuda itu asalnya dari Bali. Dari wawancara gw dengan dia, gw sedikit banyak bisa mengulik karakter dia. Dan setelah gw timbang2, ternyata pilihan departemen yang dia minati kurang cocok dengan potensi dan karakter yang dia punya. Gw pun menawarkan alternatif departemen lain kepada dia. Dari sini kita diskusi lagi panjang lebar, mengarahkan minat dan potensi dia. Akhirnya dia pun mantap untuk pindah departemen, berbalik drastis meninggalkan pilihan awalnya. Semoga potensi mu lebih terasah di sana, anak muda…

Dari situ, gw mulai merasa gak tegaan untuk tidak melayani orang, khusunya para anak baru tersebut. Di hari Senin, sejatinya gw ada kuliah 4 kali, dari jam 7.30–09.10, lalu 09.30-12.00, kemudian 13.00-14.40 dan terakhir 15.30-17.10. Setelah selesai kuliah ke 2 yang berakhir jam 12 kurang, gw beranjak ke BEM setelah sebelomnya sholat Dzuhur dulu di Musholla Teknik. Mestinya wawancara ini ada break dulu untuk Dzuhur dari jam 11.45 sampe jam 13.00 Tapi ketika gw nyampe di BEM sekitar jam, 12.25-an, ternyata di depan BEM udah banyak anak baru yang lagi nongkrong, nunggu giliran wawancara. Lagi2 gw gak tegaan ngeliat mereka ditelantarkan oleh birokrasi ini. Ya udah akhirnya setelah berdiskusi dengan orang2 yang ada di BEM, wawancara dibuka lagi pukul 12.30. Orang2 pun manut aja. Dan kembali gw pun harus mewawancarai para anak baru, lebih cepet setengah jam dari jadwal seharusnya.

Seharusnya jam 1 siang gw ada kuliah lagi, mata kuliahnya Regulasi Nuklir yang diampu oleh Bu Anung Muharini. Tapi gw masih berada di BEM, masih ngelanjutin ngewawancara anak baru. Sebenernya gw pengen beranjak dari ruang BEM ini dan masuk ke kelas untuk mengikuti kuliah. Tapi sekali lagi, gw gak tegaan ngeliat banyak anak baru ngegerombol di depan pintu BEM buat ngantri wawancara. Terlebih, jumlah pewawancara yang tersedia gak sebanding dengan jumlah orang yang mau wawancara.

Akhirnya gw memutuskan untuk tetap bertahan disitu. Gw putuskan untuk gak ikut kuliah. Gw gak tega ngeliat anak2 baru ngantri dan terlantar kaya gitu. Ya udah gw pun ngelanjutin tugas gw buat ngewawancarain mereka.

Mungkin ini terdengar lebay atau berle, tapi ya begitulah. Gw ngerasa kalo kuliah gw tuh adalah urusan pribadi gw, jadi gak apa2 lah gw korbanin dulu. Sedangkan gw selaku Ketua Departemen juga punya tanggung jawab di wawancara ini, yang mana ini adalah urusan sosial. Kalo gw gak ngewawancarain mereka, terus mereka gimana?

Dalam urusan birokrasi, tentunya kita semua pengen dipermudah kan? Contohnya kalo bikin SIM, bikin KTP atau buat laporan ke kantor pemerintah. Kita pengennya kita dateng, dilayani dengan cepet, birokrasinya dipermudah, petugasnya ramah2, dan akhirnya urusan bisa selesai tanpa perlu waktu lama. Kadang2 yang bikin lama adalah karena petugasnya yang gak profesional, yang ngelayaninnya males2an, yang suka main lempar dan main oper tanggung jawab, dan sebagainya. Kita yang tadinya penegn dapet layanan memuaskan akhirnya malah harus kecewa sendri karena tidak dilayani dengan sebaik2nya.

Begitupun yang mau coba gw terapkan di prosesi wawancara ini. Para anak baru tentunya pengen birokrasi wawancarana dipermudah. Dateng, ngambil formulir, wawancara, ngisi database, selesai terus udah deh beres. Tapi sedihnya, rekan2 gw di BEM pun ternyata banyak juga yang gak profesional. Sejatinya mereka punya tugas buat wawancara, tapi mereka malah asik ngerumpi dan ngobrol2 di ruang BEM, menuh2in tempat aja. Ngelayanin para anak baru nya juga setengah hati, males2an. Kalo disuruh wawancara, mereka dengan sok sibuk mengopernya ke orang lain.

“Yang lain aja!” ujarnya sambil menunjuk orang lain. Atau,

“Bentaran, gw lagi sibuk!” Padahal dari tadi dia cuma ngobrol2 gak jelas atau bahkan malah tidur2an.

Tapi lain ceritanya kalo yang mau wawancara adalah anak perempuan, apalagi yang charming dan good looking. Mereka langsung bersiap siaga pada posisinya dan meminta untuk wawancara. Huh, dimana harga diri mu? APAKAH ITU YANG NAMANYA MAHASISWA?

Dalam kasus ini, kita bertugas sebagai pelayan. Pelayan bagi siapa? Bagi para anak baru yang kebingungan dengan prosesi wawancara ini. Dan anak baru itu pun tentunya tidak ingin dipersulit dengan birokrasi yang ada, lebih2 dengan petugas yang yang males2. Tapi sedihnya, rekan2 gw di BEM pun bisa dikategorikan ke dalam petugas2 pemalas tersebut. DIMANAKAH JIWA RENDAH HATI KALIAN, HAI MAHASISWA? APAKAH KALIAN HANYA MAU DILAYANI, SEMENTARA KALIAN SENDIRI TIDAK MAU MELAYANI?

Astagfirullah, kenapa kita jadi marah2 gini? Oke cukup. Mari kita kembali lagi ke jalan yang benar. Jadi, hal itulah yang coba gw terapkan ke diri gw, yaitu suatu hal yang bernama PROFESIONALISME. Dari sini gw juga menempatkan posisi gw sebagai PELAYAN yang tanggung jawabnya adalah untuk MELAYANI anak baru yang mau wawancara. Ya contohnya itu tadi, gw masih menerima wawancara meskipun semestinya jam wawancara sudah habis atau ketika sedang isirahat.

Gara2 ini juga, gw sempet bolos kuliah. Tapi itu gak masalah, kuliah adalah urusan pribadi diri gw, sedangkan wawancara adalah urusan sosial antara interaksi gw dengan orang lain dan gw juga punya tanggung jawab disana. Dan gara2 ini juga, pada akhirnya gw jadi orang yang mewawancarai anak baru paling banyak diantara pewawancara lainnya. Mungkin jumlahnya ada sekitar 50 orang atau lebih, gw gak tau pastinya.

Oke sekarang mari kita kembali lagi ke jalan yang lurus. Dari wawancara itu pun, lagi2 gw bertemu banyak orang hebat. Mungkin ini beberapa diantaranya :

Ada yang jago dan hobi masak. Sampe sekarang dia udah punya banyak resep dan dia masih terus mencoba resep2 baru. Dari SMP, dia udah mulai terbiasa masak. Dia pun menjual hasil masakannya itu kepada teman2nya dan di sebuah Sekolah Dasar yang ada si depan rumahnya. Dari situ dia mulai tertarik untuk belajar masak lebih giat lagi dan membuka usaha jualan makanan. Ketika gw tanya cita2nya, ternyata dia pengen mendirikan sebuah restoran dan kemudian akan dia buat waralaba/franchise.

Ada yang bener2 inovatif. Dia pernah ikutan Jawara Lifebuoy dan jadi juara, dapet duit kalo gak salah 25 juta-an. Wuaouw… Gw agak lupa dia punya karya inovatif apa, tapi yang jelas buat gw itu udah hebat banget. Gw agak2 minder juga sih waktu wawancarain dia. Gak ada sesuatu yang bisa gw banggain dari diri gw, kecuali bahwa gw brojol ke dunia ini 2 tahun lebih awal dari dia, sehingga pada saat ini status gw adalah pewawancara dan dia adalah yang diwawancarain. Selain itu dia juga pelopor terbentuknya suatu ekskul baru di sekolahnya dulu. Wuaouw… Lagi2 gw cuma bisa melongo…

Ada yang lagi2 salah milih departemen. Dari wawancara gw ke dia, dia dengan jujur mengatakan kalo dia punya obsesi buat jadi ketua BEM. Gw pun terhenyak. Cuma orang yang bener2 hebat yang berani menceritakan cita2 hebatnya. Terus gw mengulik lebih jauh lagi tentang dirinya. Dari situ gw nyadar kalo dia punya potensi hebat dan potensi itu gak bakal berkembang di departemen yang dia pilih sekarang. Kemudian kita diskusi lagi, lama banget. Akhirnya ia pun mantap untuk pindah departemen seperti yang gw saranin. Ketika gw liat jam tangan gw, ternyata kita telah berdiskusi selama 40 menitan. Padahal normalnya wawancara cuma sekitar 15 menit doank lho.

Ada yang pernah jadi juara lomba fotogenik apa gitu. Wuaouw… Ini engineer apa artis? Padahal basic dia di olahraga. Tapi baru2 ini dia gak sengaja ikut semacam agen modelling, kemudian secara gak sengaja juga dia ikut suatu kontes apa gitu. Dan ternyata dia langsung meraih juara pertama lomba fotogenik itu. Wuaouw… Untuk sekalian kalinya mulut gw menganga lebar. Kalo ada kulkas mungkin muat tuh dimasukin ke mulut gw yang lagi nganga itu.

Ada yang hobi nulis. Kalo ini banyak nih, tapi karakternya macem2, diantaranya :

Ada yang suka banget nulis puisi. Waktu gw tanya udah berapa ribu puisi yang ia bikin, ternyata hampir setiap hari dia nulis puisi. Tiap malem ia berkutat dengan puisinya. Bahkan gw tanyain, setelah wawancara ini apakah dia bakal nulis puisi tentang gw? Dia pun menjawab sambil cengengesan, “Ya mungkin aja!” Aduh gw jadi malu…

Ada yang suka bikin cerpen dan bikin novel. Novelnya udah ada kira2 sekitar 4 buah. Kaget gw, itu kan tergolong jumlah yang banyak untuk ukuran novel. Terus gw minta izin buat liat novelnya, tapi dia gak mau ngasih. “Malu…” gitu katanya. Aduh, sebuah karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dipublikasikan kepada umum, supaya si penulis bisa dapet feedback dari karya sastranya itu. Dia cerita, ternyata novel itu bercerita tentang pengalaman pribadinya. Mungkin kaya di film “Fiksi” yang dibintangi Ladya Cheryl itu. Kalo dikasi liat ke orang lain, bakalan ketauan deh gimana perasaannya dia terhadap orang2 di sekitarnya itu.

Ada yang hobi nulis juga dan suka bikin blog. Untuk orang2 yang punya blog, gw langsung menyodorkan formulir mereka yang ada di tangan gw dan meminta mereka buat nulis alamat blognya. Tapi ternyata gak semua orang mau. Kebanyakan malah pada kaget, alasannya masih malu. Yah hari gini kok malu sih? Kan tadi kita udah punya dalil di atas, yang berbunyi “karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dipublikasikan kepada umum, supaya si penulis bisa dapet feedback dari karya sastranya itu.” Gw gak tau dapet kalimat ini darimana, barusan aja terlintas waktu lagi ngetik tulisan ini Huohohohoho… Kalo gw sih, gw bakalan dengan senang hati mempromosikan blog gw ke orang lain. Tanpa diminta pun bakalan gw kasih kok.

Iya mungkin itu tadi sebagian orang2 yang kebetulan gw inget waktu gw lagi nulis tulisan ini. Mohon maap ya buat temen2 yang merasa namanya gak tercantum dalam kategori kelompok orang2 diatas. Bukannya kita gak inget, tapi kita cuma lupa. Hohohoho… Sama aja ya? Ya pokoknya itulah intinya, maapin gw ya…

Gara2 wawancara ini juga, waktu hidup atau life time gw jadi agak berkurang. Dari abis sahur dan berkegiatan pagi, gw ke kampus buat kuliah. Kelar kuliah, gw nongkrong di BEM sampe sore. Sampe bener2 sore, bahkan sampe Magrhib buat ngeladenin orang2 yang mau wawancara. Malemnya setelah ta’jilan dan buka puasa, dilanjutkan dengan tarawih keliling sama anak2 BEM. Keliling kemana aja, bisa di Masjid Kampus, Masjid Nurul Islam, atau masjid lainnya, mentok2 keliling di kosan gw sendiri buat tarawih sendirian.

Sebenernya selama 1 minggu wawancara itu ada 1 hari dimana gw merayakan hari kelahiran gw, atau dalam bahasa Norwegianya, “Hari Ulang Tahun”. Mohon maap ya jika tanggalnya dirahasiakan. Tapi ya itu tadi, di hari ultah gw pun gw masih tetep harus bertugas dalam tanggung jawab gw untuk mewawancarai anak baru.

Di hari itu, gw kuliah nya 2 kali. Yang pertama jam 07.00-08.40, yang kedua jam 09.00-10.40. Selesai kuliah pertama, seekor temen gw yang bernama M. Sazar Assegaf hendak meminta softcopy foto2 waktu kerja praktek di Kamojang. Lalu kami melangkah ke BEM untuk mewujudkan keinginan Sazar, karena laptopnya gw taro di mobil dimana mobilnya gw parkir di Jurusan Teknik Arsitektur dimana parkirannya berada di dekat ruang BEM.

Jam menunjukkan pukul 08.45. Niat gw ke BEM cuma mau ngasi softcopy ke Sazar terus kemudian ikut kuliah lagi jam 9, kuliah Non-Destructive-Test yang diampu oleh (lagi2) Bu Anung Muharini. Ruang BEM lagi sepi, cuma ada Fauzi Muharram yang lagi wawancarain seekor anak.

Ketika Sazar lagi ngopy, tiba2 datang 2 ekor perempuan. Mereka nanya ke gw tentang wawancara. Sedikit gw ragu. Niat gw sih pengen masuk kuliah. Tapi gw juga punya tanggung jawab untuk melayani dan memuaskan kedua perempuan ini. Eits, istilah “melayani” dan “memuaskan” di sini jangan di salah artikan lho… Maksudnya, gw punya amanah buat mewawancarai SETIAP anak baru yang mau wawancara, kaya tadi yang dah gw bilang di beberapa paragraf sebelum ini.

Akhirnya lagi2 gw pun mengalah, Gw putuskan untuk mewawancarai mereka dan gw izin Sazar buat gak ikut kuliah. Lalu gw meminta salah seorang perempuan itu untuk duduk di depan gw, dan satu lagi untuk bersabar menunggu Fauzi yang masih mewawancarai orang lain.

Gw mulai mewawancarai dia dengan pertanyaan standar. Lalu ketika gw ngeliat prestasi terbaiknya, gw sedikit terperangah. Hah beneran nih? Gw nanya ke dia buat memastikan, dan dia pun menjawab jujur. Gw bertanya sekali lagi tentang prosesi untuk meraih prestasi tersebut, dan lagi2 dia menjawab apa adanya. Dari situ, gw langsung minder melihat sesosok orang di hadapan gw ini… Membayangkan diri gw yang gak punya prestasi apa2 harus mewawancarai orang sehebat dia.

Eh tapi emangnya prestasi apa sih yang dia punya? Ya gw mohon maap, gw gak bisa memberitahukannya karena gak diizinkan oleh orangnya sendiri. Awalnya gw sempet ngebecandain dia tentang prestasinya itu, tapi dia minta gw supaya gak cerita ke siapa2. Ya udah gw pun tutup mulut dan mematuhi keinginan dia. Yang jelas, prestasi yang dia raih itu adalah sebuah pencapaian yang sangat2 luar biasa dan fenomenal menurut kacamata gw. Terlebih, ternyata dia memutuskan untuk memilih kuliah di Fakultas Teknik. Jarang lho ada anak Teknik yang punya prestasi kaya dia. Kalo anak Humaniora sih mungkin wajar, tapi anak Teknik? Wuaouw luar biasa… Gw pun berkesimpulan kalo mahkluk di hadapan gw ini adalah salah satu aset Fakultas Teknik UGM yang paling berharga, yang kelestariannya perlu dilindungi. Untuk itu mari kita masukkan beliau ke penangkaran Suaka Margasatwa atau ke reservasi Cagar Alam untuk menjaga kelestariannya. Huohohohoo….

Iya, meskipun gw minder, tapi sekali lagi gw harus tetep profesional selaku pewawancara. Ya udah deh gw mencoba sebaik mungkin untuk mewawancarai perempuan asal Tenggarong ini. Meskipun sejatinya dengan segudang pengalaman dan prestasi yang dia punya, dia secara kasta berada jauh lebih tinggi dari gw yang cuma makhluk rendahan ini.

Pun demikian, di hari ulang tahun gw itu, wawancara tetep berlangsung. Gak ada waktu buat beristirahat sejenak dan refreshing. Juga gak ada waktu buat nraktir anak BEM makan2 di suatu tempat dimana gitu, karena sejatinya waktu itu emang lagu bulan puasa. Jadi mana bisa kita makan2 di snag hari? Huehehe…

Setelah lelah mewawancarai puluhan orang selama 1 minggu, akhirnya tibalah gw di hari Jumat 5 September 2008 / 5 Ramadhan 1429 H pukul 17.42 yang berarti batas wawancara sudah ditutup. Ah lega…. Alhamdulillah gw telah diberi kesempatan untuk mewawancarai banyak orang. Alhamdulillah gw telah dipertemukan dengan banyak orang untuk menambah khazanah keilmuan gw. Dan Alhamdulillah akhirnya wawancara ini telah berakhir. Tinggal nunggu pengumumannya ditempel di keesokan hari. Dan setelah wawancara ini usai, kini gw harus kembali ke tanggung jawab gw semula selaku mahasiswa Teknik Nuklir, yaitu untuk kuliah, belajar dan menuntut ilmu supaya nantinya gw menjadi orang besar yang berilmu yang dengan ilmu ini Insya Allah akan gw bawa INDONESIA MENJADI NEGARA BESAR DAN BERJAYA. Berjanjilah…!!!

3 comments September 9, 2008

MyLovelySolBro

Assalamualaikum wr wb

Ketika tadi ngeliat judul di atas ini, apakah yang terbayang dalam pikiran lu2 semua? Apakah lu ngebayangin sepiring nasi dengan lauk cumi goreng tepung serta Teh Botol Sosro? Apakah terbayang tentang foto2 Tiara Lestari dengan posenya yang menantang, yaitu menantang berantem? Ataukah malah ngebayangin seekor ayam sedang main petak umpet dengan seekor kelinci? Bila memang demikian, maka bayangkanlah adalah salah satu judul lagunya Padi….. Udah ah, jayus deh.

Pernahkah kalian mendengar tentang istilah “MyLovelySolBro” sebelomnya? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab “belom pernah”. Kalo si Cinta Laura jawabnya “not yet” atau “no I have not”. Atau si Tukul bakalan jawab “durung”. Tapi apapun jawabannya, minumnya tetap Teh Botol Sosro…

Nah setelah 2 paragraf di atas isinya cuma suatu kejayusan belaka, kita balik lagi ke topik awwal. Wuoy yang namanya Topik, dimana lu? Sini donk, akika mau ngomongin yey nih bo….

Itu tadi tambahan 1 paragraf yang masih tetep jayus. Udah wuoy, bosen nih jayus2an melulu. Gak peduli kaya gimana pun jayusnya, minumnya tetap Teh Botol Sostro… (aduh masih aja…)

Oke deh, apa itu istilah “MyLovelySolBro”? Buat lu2 semua yang hobi ngebaca blog C-Kink ini, pastilah sudah sering denger istilah barusan. Bahkan kalo lu2 semua gak cuma ngebaca doank tapi juga meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan, pasti lu udah tau dengan jelasnya apa sih MyLovelySolBro itu.

MyLovelySolBro adalah kependekan dari My Lovely Soluna Brothers, yang kalo diterjemahin artinya adalah Brother Soluna yang Kucintai. Siapakah beliau? Emang gw punya sodara laki2 yang namanya Soluna? Nama lengkapnya siapa, Soluna Widyaatmaja apa Suratman Solunawati? Kita simpan jawabannya untuk paragraf berikut ini.

MyLovelySolBro merupakan panggilan gw buat mobil kesayangan gw. Di Jogja ini, gw “dititipkan” sebuah mobil Toyota Soluna keluaran tahun 2001 dengan transmisi manual. Dia lah MyLolvelySolBro yang gw maksud. Kenal mobil Soluna kan? Itu lho, yang sering dipake buat taksi. Kalo Soluna gw keluaran tahun 2001, yang dibelakangnya ada mata kucingnya. Karena Soluna banyak dipake buat taksi, maka kadang2 gw suka dipuji sebagai sopir taksi dengan MyLovelySolBro sebagai taksinya. Tarik Mang…!!!

Kenapa gw manggil dia dengan nama MyLovelySolBro? Ya karena gw sayang dan cinta banget sama mobil ini. Tapi masih dalam taraf normal lho, gak sampe berlebihan dan bunuh2an apalagi mutilasi kaya Ferry Idham Heryansyah yang lebih akrab akrab dipanggil dengan nama “Sinta”. Eh kok gak nyambung? Maksudnya Ryan, si pelaku pembunuhan dan mutilasi plus kelainan orientasi seksual.

Iya, gw dan si Soluna ini udah layaknya sodara, makanya gw menambahkan kata Brothers buat dia. Setiap hari kita berkhalwat bersama2. Kemanapun kaki ini melangkah, MyLovelySolBro selalu setia nungguin gw di parkiran. Tidur kita pun hanya dipisahkan oleh seuntai tembok kamar. Gw tidur di kosan, dia ngorok di parkiran.

Sebelom ngebahas lebih jauh, kita flashback dulu ke sejarah antara gw dan si Soluna ini. Mari kita saksikan dan silahkan menjadi saksi sejarah atas cerita yang akan gw tayangkan ini. Tapi setelah yang mau lewat berikut ini dulu ya….

(Ini bukan iklan)

“Gluk… Baru liat susu kaya gini. Baru liat juga kan, susu kaya gini?”

(Coba tebak iklan apa?

Dulu ketika pertama kali gw menjalani masa2 kuliah di Program Studi Teknik Nuklir Jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, gw membutuhkan pengorbanan untuk berangkat ke kampus. Kenapa? Ini dia alasannya :

1. Jarak antara kosan gw dengan kampus lumayan deket, kira2 sekitar 2.7 km. Dan gw sama sekali gak punya kendaraan. Buat orang yang punya kendaraan, jarak 2.7 km bisa ditempuh dalam waktu singkat, kecuali kalo kendaraan itu adalah gerobak dorongnya tukang nasi goreng.

2. Jadilah tiap hari gw menempuh jarak sedeket itu dengan berjalan kaki. Mendaki gunung, lewati lembah, dan sungai yang mengalir indah ke samudera adalah suatu pemandangan biasa buat gw. Ih emangnya Ninja Hattori? Jarak 2.7 km itu normalnya gw tempuh dalam waktu 25 menit. Kalo perut gw lagi kosong, bisa dalam 20 menit. Tapi kalo abis makan terus kekenyangan, bisa nyampe 30 menitan.

3. Cuaca di Jogja ini luar biasa lho, luar biasa panasnya. Kalo dapet kuliah pagi, gak masalah gw jalan kaki ke kampus. Malah enak, bisa bikin badan. jadi sehat. Tapi kalo kuliahnya jam 1? Wuaow jangan tanya, sampe kampus gw langsung bermandikan keringet. Begitupun kalo kuliahnya jam setengah 4. Di Jogja sini karena deket gunung jadi gak ada awan. Sinar mataharinya langsung menusuk menghujam ke bumi. Jadilah gw berpanas2an menjalani 2.7 km menuju kampus.

4. Karena hal2 diatas, gw butuh waktu ekstra buat pulang pergi ke kampus. Misalnya, kuliahnya tuh cuma 2 jam, dari jam 9 sampe jam 11. Tapi buat gw, kuliahnya gak cuma 2 jam itu doank. Gw harus udah siap dari jam 8.15 supaya bisa berangkat jam 8.30. Terus nyampe kampus jam 9. Kuliah sampe jam 11, terus langsung pulang. Nyampe kosan jam 11.30. Nah di kosan badan gw itu bakalan keringetan dan kecapekan, biasanya gw langsung tidur dan normalnya tidur selama 2 jam. Jadilah gw baru bangun jam 1.30-an dan baru bisa beraktivitas kembali. Lebay juga ya, kuliah cuma 2 jam tapi kok makan waktunya 5 jam?

5. Lebih nyesek lagi kalo udah dateng kuliah tapi gak ada dosennya. Wuidiiiiih….

Nah kira2 kaya begitu. Mungkin lu pada nanya, kenapa gak naik bis aja? Kalo gw pribadi, gw itu gak hobi naik kendaraan ke tempat yang “nanggung”. Nanggung gimana? Maksudnya nanggung jaraknya. 2.7 km tuh tergolong deket, jadi rasanya nanggung aja kalo mesti naik bis yang bayarnya 2000 perak. Enakan jalan kaki aja, murah meriah menyehatkan melelahkan. Kadang2 gw biasanya nebeng temen gw yang punya motor. Tapi itu juga tergolong jarang.

Jadilah gw menghabiskan semester pertama gw di Jogja ini dengan jalan kaki eveywhere everytime. Tapi outputnya bagus kok, IP gw waktu itu tertinggi seangkatan, 3.5. Huehehehehe….

Melihat penderitaan anak laki2nya yang IMUT dan MANIS ini, orang tua gw berkeinginan untuk membelikan anaknya sebuah kendaraan. Mau beli motor, gw gak bisa naik motor. Mau beli kuda, susah ngerawatnya. Mau beli pesawat, gak ada landasannya. Mau beli baling2 bambu, gak ada yang jual. Mau beli kompor, tapi kompor kan buat masak, bukan buat transportasi. Akhirnya dibelikanlah gw sebuah mobil.

Awalnya gw mau dibeliin Daihatsu Feroza. Tapi katanya itu boros banget, bensin 1 liter cuma bisa buat jarak tempuh 3 km. Terus kepikiran mau beli Toyota Starlet, kebetulan tetangga gw ada yang punya. Waktu gw nyoba duduk di depan setir, ternyata badan gw yang kurus tinggi dan seksi ini kepentok2. Lutut gw mentok di setir dan pala gw mentok di atas. Akhirnya gak jadi deh. Sempet ada yang nawarin Honda Jazz, tapi gw dan orang tua gw nolak. Alasannya adalah : MAHAL. Iya, 124 juta itu terlalu mahal untuk harga sebuah mobil. Udah gitu, Honda Jazz juga identik dengan anak gaul, suatu hal yang sangat gw benci di dunia ini.

Setelah survey kesana kemari dan konsultasi pada ahlinya, bokap gw memutuskan untuk beli Toyota Solluna aja. Alasannya adalah karena konsumsi bensinnya lumayan irit dan mesinnya bandel. Untuk 1 liternya bisa dipake buat 10 km untuk dalam kota dan 15 km untuk luar kota. Belinya juga bukan brand new, soalnya Toyota udah gak produksi lagi. Belinya yang bekas2 aja. Biar bekas yang penting masih kenceng dan tarikannya kuat. Mesinnya lho yang kenceng, jangan mikir yang aneh2….

Bergegaslah bokap gw ditemani istrinya tercinta dan kakak sulung bokap yang ahli dalam dunia otomotif untuk berburu mobil. Sempet ada niat buat beli mobil di Bojonegoro aja biar nganternya gampang. Tapi ternyata harga mobil disana lebih mahal sekitar 5 jutaan daripada di Jakarta. Jadinya nyari di Jakarta aja deh, di tempat jualan mobil2 second. Wilayah Kelapa Gading dan Kemayoran yang jadi tempat tujuannya. Sementara mereka sedang berburu, gw lagi memutar otak di Jogja menjalani UAS semester pertama.

Ketika liburan semester pertama, gw pulang ke Depok naik kereta Taksaka, turun di stasium Gambir. Di sana gw dijemput sama keluarga. Dan gw lihat di parkiran, mereka ngejemput gw bukan dengan Daihatsu Taruna yang biasa mangkal di garasi rumah, tapi dengan sebuah mobil sedan saloon Toyota Solluna warna ijo tua dengan pelat nomor B 8074 SP. Wuaouw…

Soluna ini belinya di pasar mobil Kemayoran. Pemilik sebelomnya adalah sebuah perusahaan yang gw lupa namanya apa. Harganya sekitar 70 jutaan, jauh di bawah Honda Jazz yang 130 jutaan apalagi Honda Odyssey yang 400 jutaan atau Jaguar yang 1 milyar. Mahal amat 1 milyar, itu bayarnya pake duit semua ya? Dicicil pake es cendol bisa gak?

Itulah ceritanya pertama kali gw ketemu dengan MyLovelySolBro. Ketika gw coba nyetir, gw langsung terasa comfort dan chemistry nya dapet. Selama ini seumur2 gw cuma pernah nyetir mobil Daihatsu Taruna doank, jadi gw gak tau gimana rasanya bawa mobil lain. Dan ketika nyetir Soluna, feelnya bener2 beda dibanding naik Taruna. Muter setirnya gampang. Pedal gas, rem dan koplingnya enteng. Tarikannya (dalam bahasa Cinta Laura : acceleration) juga enak. Dan duduknya pun rendah, kakinya bisa lebih nyelonjor. Pokoknya enjoy banget dah ah.

Singkat cerita, akhirnya ketika semester 2 dimulai, MyLovelySolBro udah nangkring dengan manis di parkiran kosan gw. Mulailah sejak saat itu dia selalu setia menemani gw ke kampus. Perjalanan ke kampus yang biasanya memakan waktu sekitar 25 menitan, dengan adanya MyLovelySolBro bisa terpotong habis jadi sekitar 7 menitan doank. Plus, gw gak perlu capek2 lagi setelah pulang kuliah. Kuliah yang 2 jam ya cuma 2 jam, ga makan waktu sampe 5 jam kaya dulu.

Seringkali gw keluyuran kemana2 sendirian, cuma ditemenin sama MyLovelySolBro. Eh gak juga sih, tapi bertiga sama Allah Yang Maha Melihat. Jalan2 d kota Jogjakarta gw lintasi dengan Soluna ini. So sweet…

Begitupun dengan kelangsungan hidup MyLovelySolBro. Selaku sopirnya, gw punya tanggung jawab buat merawat dan mendidik dia dengan sebaik2nya. Kalo bodinya kotor, pagi2 gw bersihin pake kanebo. Kalo dalemnya juga kotor, baru gw bawa ke tempat cucian mobil. Saban tiap menempuh 5.000 km mesti dibawa ke bengkel resmi Toyota buat general check up. Kalo perutnya kosong mesti diisi bensin. Kalo bannya kurang angin juga mesti diisi angin. Tapi jangan banyak2, ntar masuk angin. Mesti dikerokin deh.

Terkait bensin, dulunya gw ngasi makan MyLovelySolBro dengan pertamax. Tapi itu dulu banget, waktu pertamax masih seharga 5.400 perak. Sejak harga pertamax naik, gw beralih ke premium biasa yang waktu itu harganya masih rp 4.500,00. Sekarang harga pertamax udah 10.000-an dan harga premium juga naik jadi rp 6.000,00. Tar lama2 kalo naik terus, ini Soluna gw kasi makan nasi telor tempe juga deh. Itupun kalo harga beras dan harga telor serta harga keledai, eh kedelai juga gak ikutan naik.

Dan terkait bannya, dulu gw ngisi anginnya pake Nitrogen. Nitrogen emang lebih awet dan lebih berkualitas daripada angin biasa, tapi jelas lebih mahal. Sekalinya nambah Nitrogen buat 4 ban, harganya sekitar 20.000-an. Bandingkan dengan angin biasa yang cuma 2.000-an. Tapi gara2 kejadian waktu gw kerja praktek di suatu desa terpencil di Kamojang, Garut, gw sekarang ngisi bannya pake angin biasa, bukan Nitrogen lagi. Waktu itu ban gw kurang angin, sedangkan di tempat itu gak ada tempat tambal ban yang bisa buat isi Nitrogen. Jangangkan itu, sinyal Im3 dan Esia aja gak nyampe. Akhirnya disana Nitrogennya dikeluarin terus diisi angin biasa deh.Goodbye Nitrogen ku…

MyLovelySolBro gw juga udah gw lengkapin dengan sarung jok. Waktu beli seken dulu, joknya masih belom disarungin. Terus di Jogja sini gw pakein sarung deh biar dia gak masuk angin dan biar lebih safety (sarung apaan tuh safety? Yang ada rasa duren atau strobery itu ya? Astagfirullah…). Tapi budget gw cuma mampu buat beli sarung yang paling murah, yang harganya sekitar 600.000-an. Maafkan aku wahai Soluna, jika suatu hari nanti ada rezeki, akan kusarungi diri mu dengan sarung yang lebih berkualitas lagi, entah itu sarung cap Gajah Duduk atau sarung tinju.

Selain sarung, kacanya juga udah gw kasih kaca film. Tapi lagi2, due to the low budget, gw cuma bisa beli kaca film yang murahan. Kalo kata mas2 montirnya, yang paling bagus itu merknya V-Kool yang 100%, seharga 5 juta-an. Sedangkan budget gw sangat jauuuuuh dari segitu. Ya udah deh gw cari yang murah meriah aja, dapetnya Solar Gard yang 60%.

Selama 1 tahun 8 bulan nemenin gw, MyLovelySolBro ini udah melintasi banyak petualangan yang penuh luka duka tawa canda dan air mata serta air tuba. Berikut ini diantaranya rute2 yang pernah kita lalui bersama :

1. Juni 2007, gw hijrah dari Jogja ke Depok selama 2 bulan buat liburan semester bersama MyLovelySolBro melintasi jalur Selatan Pulau Jawa, rame2 sama temen kosan gw. Ini pertama kalinya gw lewat jalur Selatan, lewat Gombong, lewat Nagreg, dll.

2. Agustus 2007, gw balikin si Soluna ini ke Jogja sama keluarga. Ini juga lewat jalur Selatan lagi, tapi ini dari arah Barat.

3. Oktober 2007, gw jalan2 ke Kaliurang sama rekan2 Kastrat BEM KMFT UGM buat makrab. Pulangnya mampir dulu buat buka puasa di UII.

4. November 2007, gw dan rekan2 Kastrat nyusul anak2 BEM yang lain yang lagi pada LMT (Leadership Management Training) di Ketep, Magelang. Ketep tuh adanya di gunung lho, belakangnya gunung Merapi. Jalannya lurus doank tapi nanjak. Pas pulangnya, tinggal masukin ke gigi 3 terus biarin aja ndelosor sendiri, gak usah di gas.

5. Desember 2008, gw jalan2 ke Pantai Parangkusumo buat ikut acara makrabnya anak2 TD (Technopreneurship Departement) BEM KMFT UGM. Parangkusumo tuh di sebelahnya Parangtritis.

6. Februari 2008, gw dan (lagi2) rekan2 Kastrat jalan2 ke Kiai Langgeng, Magelang buat makrab.

7. April 2008, gw sama anak2 panitia seminar HPTT (Hari Perguruan Tinggi Teknik) jalan2 ke Pantai Sundak. Pantai ini berada di sebelah tenggara kota Yogyakarta, beautiful lho…

8. Mei 2008, gw ikutan bakti sosialnya anak2 Sosmas BEM KMFT UGM di desa Samigaluh. Ini desa tempatnya terpencil di pegunungan. MyLovelySolBro gak bisa nyampe persis di desa ini, soalnya jalanannya naik tinggi banget, udah gitu masih dari batu2, belom diaspal. Jadilah gw parkir si Soluna ini di pinggir jalan sebelom jalanan tanjakan tersebut.

9. Juli 2008, gw kerja praktek di PT Indonesia Power, Kamojang, Garut, bertiga sama temen gw. Gw naik MyLovelySolBro dari Jogja lewat jalur selatan ke Garut, terus ke Kamojang. Kamojan ini juga desa terpencil, di tengah gunung. Letaknya +-25 km dari Garut. Mengenai cerita gw 1 bulan di Kamojang mungkin bakal gw ceritain lain kali ya…

10. Agustus 2008, gw mulangin MyLovelySolBro ke Jogja lagi, sama keluarga.

Entah sudah berapa ribu kilo meter yang gw lalui bersama MyLovelySolBro. Hari2 gw di Jogja gw lalui bersama dia. Ke manapun gw jalan2, dia selalu mengintili. Dia lah yang menjadi saksi perjalanan gw di Jogja ini. Kadang2 kita bernyanyi bareng, nyanyiin lagu2 dari kaset yang diputer di radio tape yang ada di dashboardnya. Seringnya sih lagu2 Laruku, Campur Sari, Top 40 ataupun Murottalnya si Sudais.

Seringkali gw ketemu mobil2 Soluna lain di jalan. Kalo udah gitu, maka gw ngerasa kalo kita sesungguhnya adalah sodara. Gak peduli mobil Soluna itu adalah taksi ataupun mobil pribadi biasa, gw merasa seakan2 ada sebuah feeling yang mengatakan gw bahwa sesungguhnya kita adalah “Soluna Brotherhood”, Persaudaraan Soluna. Soluna gw, Solunanya sopir taksi, Soluna yang suka parkir di Pogung, Soluna yang melintas di jalan raya ataupun Soluna yang jualan bakso (?????), semuanya diproduksi di pabrik yang sama, pabrik Toyota di Jepang sana. Meskipun pemiliknya mungkin beda2, ada yang mahasiswa kaya gw, ada yang sopir taksi, ada yang PNS, ada yang pejabat atau apalah. Gak peduli siapapun pemiliknya, minumnya tetap Teh Botol Sostro… Ih promosi lagi.

Terkait Soluna Brotherhood ini, gw punya kejadian menarik. Yang pertama, waktu pertengahan bulan Juli 2007 yang lalu. Waktu itu Soluna gw pelat nomornya masih B 8074 SP. Gw lagi jalan2 muterin Jakarta. Waktu itu gw di Tol Jagorawi, tapi dari arah Selatan, mau ke arah Utara (Tanjung Priok). Waktu itu lagi di simpang susun Cawang, atau bahasa kerennya Cawang Interchange. Eh bener gak ya? Ah whatever…. Kan gw lurus ke arah Tanjung Priok. Di sebelah kiri tuh lagi macet, macet mobil2 yang pada mau masuk ke tol dalem kota Jakarta. Nah diantara kerumunan mobil itu gw nangkep ada sebuah mobil Soluna yang warnanya sama persis kaya mobil gw.

Mata gw emang gampang nangkep mobil2 Soluna yang keleleran di jalanan, soalnya bagian belakang Soluna tuh berkarakter banget. Apalagi yang keluaran 2001 yang ada mata kucingnya. Ya udah deh, gw pelototin tuh mobil, soalnya jiwa Soluna Brotherhood gw mulai keluar. Dan ketika gw liat pelat nomornya, you know what? Pelat nomor mobil itu adalah B 8072 SP, yang berarti cuma beda tipis sama pelat gw yang B 8074 SP! Wah ternyata kita gak cuma Soluna Brotherhood doank, tapi lebih dari itu. Iya, kan tadi gw udah bilang kalo MyLovelySolBro yang gw beli second ini dulunya punya perusahaan apa gitu. Dan perusahaan2 kaya gitu tuh biasanya punya mobil dinas yang pelat nomornya mirip2.

Jadi kesimpulannya, Soluna gw dan Soluna itu pernah berada di dalam satu garasi yang sama di perusahaan yang sama. Kalo bahasa manusianya, “Mereka pernah satu sekolah” atau “Mereka pernah satu kos bareng”. Gitu lho… Cuma sayangnya Soluna yang B 8074 SP udah gw ambil alih, sedangkan yang B 8072 SP itu gak tau apakah masih punya perusahaan tadi atau udah di akusisi juga. Intinya, MyLoveySolBro ketemu dengan saudara tuanya.

Yang kedua waktu gw pulang dari Kamojang, Garut mau ke Depok. Jarak sejauh itu gw tempuh sendirian dalam waktu +- 4 jam-an. Waktu itu gw lagi di tol Cikampek, dari Timur mau ke arah Jakarta. Gw kan termasuk pribadi yang gak bisa duduk diam dan menunggu mobil di depan gw berjalan lambat tanpa alasan yang syar’i. Kalo di jalan tol, begitu ngeliat mobil di depan gw berjalan lebih lambat dari gw, gw langsung lirik kanan-lirik kiri dan nyari kesempatan buat ngebalap. Kecuali kalo semua lajur yang ada emang lagi padet, ya udah gw tungguin aja.

MyLovelySolBro yang gw sopirin ini suka meliuk-liuk bergonta-ganti lajur buat ngebalap mobil2 yang berjalan lambat tanpa alasan yang syar’i. Bahkan kadang2 bahu jalan juga gw embat. Tapi gw nyetirnya di sini tuh gak serampangan dan asal2an lho, masih pake ilmu juga.

Nah ketika lagi jalan kaya gitu, jauh di depan sana gw ngeliat ada sesendok, eh sekeping, eh seekor, eh sebutir, eh maksudnya sebuah mobil Soluna keluaran 2001 yang warnanya juga sama persis kaya punya gw. Wah Soluna Brotherhood nih. Segera gw meliuk2 ngelewatin mobil2 di depan gw untuk mengejarnya. Dan setelah deket, ternyata emang sama persis, Soluna 2001 warna ijo tua. Bedanya cuma satu, dia transmisinya udah otomatis sedangkan gw masih manual. Hal ini bisa diliat dari tulisan timbul yang ada di belakang mobil. Kalo tulisan di mobil gw cuma LGX, dia ada embel2 automatic nya.

Ya udah deh jadinya gw ngintil aja di belakang tuh mobil. Kebetulan mobil itu juga lumayan ngebut dan hobi meliuk2 buat nyari jalur yang kosong. Karena dia udah ngebuka jalur ya udah gw ikutin aja. Kita buntut2an lumayan lama juga tuh. Mungkin mobil2 lain yang ngeliat pada mikir, “Ini Soluna kok pada akrab banget sih?”

Sampe pada akhirnya kita terjebak di jalur yang padat. Chance buat ngebalap gak banyak. Tapi gw ngeliat ada celah yang bisa dilalui. Gw ambil celah tersebut, gw balap Soluna automatic di depan gw dan gw mulai meliuk2 memecah kepadatan. Gak disangka, ternyata si Soluna automatic ini juga ngikutin gw dari belakang. Jadi deh sekarang kita buntut2an lagi, cuma bedanya sekarang gw yang buka jalan. Kita begitu terus sampe masuk Jakarta, tepatnya sampe di Cikunir Interchange. Dari situ gw harus belok kiri ke arah Depok, sedangkan si Soluna automatic awalnya juga belok kiri terus hilang entah kemana.

Nah begitulah. Cape juga gw nulisnya. Ada yang mau mijetin gw? Tapi pijetnya gak pake plus2 lho…

Hari ini saat tulisan ini ditulis, MyLovelySolBro sedang terparkir dengan manis di kosan gw, persis di depan kamar. Moncong dia face to face sama pintu kamar gw. Dan gw nulis tulisan ini pun di pinggir jendela yang menghadap ke arah luar, face to face sama si Soluna. Dari sini keliatan di bawah bemper grill depan MyLovelySolBro tergeletak sebuah keset bekas yang entah udah ada di situ dari kapan. Di atas keset itu ada seekor kucing lagi tidur sekaligus numpang ngadem di bawah mobil dari panasnya sengatan matahari.

MyLovelySolBro telah menjadi saksi petualangan gw berkeliaran di Jogja dan sebagian Pulau Jawa ini. Bagi lu2 semua mungkin dia hanyalah benda mati, tapi buat gw, dia seakan punya nyawa. Dengan sabarnya dia nongkrong di parkiran kosan, nungguin gw untuk berangkat ke kampus. Dengan sabarnya dia nungguin gw pulang dari kampus. Sampai saat in dia gak pernah mengeluh, gak pernah berkeluh kesah. Dia setia dengan majikannya. Dengan sabarnya dia anterin gw kemanapun gw mau pergi.

Usianya udah sekitar 7 tahunan, namun baru 1 tahun 8 bulanan ia nemenin gw. Odometernya udah menyentuh angka 60.000-an. Sampai kapankah dirimu sanggup berjalan? Sampai kapankah dirimu sanggup menemani ku dalam setiap petualangan yang akan kuhadapi? Masihkah dirimu tegar menghadapi kerasnya arus lalu lintas jalan raya?

Saat ini gw masih menggunakan MyLovelySolBro sebagai sohib karib gw kemanapun gw pergi. Tapi entah esok hari, tak ada seorangpun yang tau. Entah apa yang tertulis di Lauh Mahfudz, kita gak bisa menebaknya. Namun semoga, meski mungkin Insya Allah suatu hari nanti gw telah memiliki Toyota Alphard atau Honda Odyssey atau Honda Accord ataupun Mazda RX-7 sekalipun, MyLovelySolBro tetap setia menemani diri ini kemanapun gw melangkah pergi. Setidaknya, dia tidak mengeluh dan tetap setia meski hanya sebagai penghias garasi rumah.

Dan terakhir gw minta maaf karena gw serigkali menzhalimi MyLovelySolBro. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya lecet2, beret2, penyok2 dan goresan2 lainnya yang menghiasi bodi mobil Soluna gw ini. Hohohohohoho…

Wassalamualaikum wr wb.

3 comments August 25, 2008

HanyaSebuahSampah

Hmmm… Hmmm… Hmmm… Setelah sebelomnya blog ini penuh dengan tulisan2 jayus, maka kali ini kita akan sedikit serius ya. Disini kita akan flashback ke jaman semono, suatu jaman di mana gw masih mengenakan seragam putih-abu2.

Oiya, tulisan ini juga bisa dikatakan sebagai “Blog C-Kink : Special Edition” lho. Kenapa? Karena jarang2 gw cerita masalah yang kaya beginian. Bahkan kalo pun gak ada paksaan dari pihak manapun, Insya Allah gw juga gak bakalan nulis tulisan ini.

Duh kok sampe segitunya? Emang ada apaan sich? Mending sekarang lu2 semua duduk yang manis dan nikmati tulisan gw ini, gak usah banyak tanya.

Kali ini kita akan membahas tentang masa lalu gw terhadap seekor makhluk yang berjenis kelamin perempuan, temen gw semasa SMA di SMA Negeri 1 Depok dulu. Untuk menjaga kerahasiaan identitas dirinya, selanjutnya kita akan menyebut perempuan ini dengan nama samaran “Bambang”. Loh, masa perempuan namanya Bambang? Ya udah deh kalo gitu kita ganti aja jadi “Joko”. Eh masih salah juga ya? Kalo gitu perempuan ini kita sebut saja dengan nama “Bunga” (bukan nama sebenarnya). Kaya di koran2 aja yah…

Tapi gak guna juga sih, mungkin setelah baca tulisan ini lu bakalan ngerti siapakah si Bunga yang dimaksud itu.

Sebenernya tulisan ini dibuat untuk merespon tulisan dia sih. Alhamdulillah dia telah berbaik hati untuk menceritakan apa pendapatnya tentang gw, jadi sekarang gw juga mau ber-imut hati untuk menceritakan apa pendapat gw tentang Pancasila dan Undang2 Dasar 1945. Loh kok?

Sebelom melangkah lebih jauh lagi, mari kita saksikan yang mau lewat dulu berikut ini…

(Ceritanya ini iklan)

“Berapa lapis?”

“Ratusan…”

“Lebih…!!!”

(Hayo coba tebak iklan apa?)

Nah sekarang kita kembali lagi ke acara utama. Perlu dijelaskan sebelomnya kalo gw di jaman SMA dulu adalah sesuatu yang JAUH BERBEDA dengan gw di masa kuliah ini. Apa sebabnya? Ya gw juga gak tau. Mungkin karena sekarang gw udah ngekos, tinggal jauh dari orang tua dan harus struggle sendirian menghadapi kerasnya kehidupan dan pergaulan di Jogja ini. Atau mungkin bener kata dia, karena dia udah mematikan potensi gw selama SMA dulu. Eh kalo itu sih kata2 gw sendiri ya? Ya intinya, buat lu2 semua yang baru kenal gw semasa gw kuliah, bahkan semasa gw masuk BEM, jangan pernah menyamakan C-Kink yang lu liat saat ini dengan C-Kink yang hidup di masa2 SMA.

Gw mengakui dengan sebesar2nya bahwa di SMA dulu gw termasuk golongan makhluk yang cenderung kaku, tertutup, pemalu dan pendiem. Eh tapi mungkin lebih tepatnya lagi kalo gw itu adalah seekor PECUNDANG. Kenapa bisa demikian? Tanyakanlah pada lampu merah di pinggir jalan…

Dengan kepribadian gw yang kaya gitu, maka kehadiran seekor TEMAN adalah sesuatu yang sangat berarti, meskipun terkadang hati kecil gw selalu berkata bahwa “Gw gak butuh temen, karena pada akhirnya temen kita sendiri lah yang akan meninggalkan kita”. Suara hati yang sedikit banyak pengaruhnya masih terasa sampai sekarang.

Dan hari2 gw semasa kelas 1 SMA dulu pernah terasa berwarna karena gw punya seekor kambing piaraan, eh maksudnya seekor temen. Si Bunga inilah temen yang gw maksud. Gw lupa (atau sengaja ngelupain?) gimana ceritanya gw pertama kali kenal sama dia, tapi yang jelas dia itu selalu ramah & baik banget sama gw.

Sebenernya sih dia ramah gitu gak cuma ke gw aja, tapi juga ke semua orang. Tapi itu gak penting. Buat gw yang berjiwa PECUNDANG ini, yang setiap hari hanya duduk melamun di pojokan memandang dengan tatapan kosong keluar jendela berharap datangnya Sailor Moon (?????), apa yang dia lakukan terhadap gw udah bisa memberi warna baru dalam hidup gw.

Gw juga udah agak lupa dulu tuh ngapain aja, tapi kalo gak salah kita sering telpon2an ngebahas PR Matematika, terus apa lagi gitu, gw lupa. (Atau sengaja ngelupain?)

Yang jelas, dulu kita sempet akrab untuk beberapa waktu. Gw pun seneng dengan keakraban ini. Nilai lebihnya lagi, dia itu perempuan. Lah terus kenapa? Ya sekali lagi gw tegaskan bahwa gw yang PECUNDANG ini sangat sangat sangat sangat sangat susah untuk berinteraksi dengan lawan jenis, apalagi ngebangun relationship. Meskipun di tulisannya dia bilang kalo gw punya banyak fans (dan gw pun mengakui. Hohohohoho….), tapi sebenernya gw gak pernah bisa dapet chemistry kalo lagi ngobrol sama perempuan. Dan hal ini masih kebawa sampe sekarang. Untungnya gw gak sampe ter-influence jadi homo. Ntar bakalan ada Ryan episode 2 deh….

Balik lagi, intinya gw seneng bisa deket sama dia. Gw berterima kasih karena dia mau temenan sama gw yang PECUNDANG ini, meskipun sebenernya dia emang gampang temenan sama siapa aja, termasuk sama makhluk halus kalo dia mau. Hiiiiii….

Tapi keakraban ini berlangsung cuma sebentar banget. Gak tau sejak kapan tiba2 gw ada rasa lebih sama dia. Sebuah rasa yang benar2 BODOH dan MENJIJIKKAN yang membuat hubungan ini menjadi rusak.

Iya dia udah bilang sendiri di tulisannya, kaya gimana rasa gw ke dia (dan gw pun gak mengingkari, malah meyakini dan beriman dengan sebenar2nya).

Seperti udah gw bilang sebelomnya, jangan samakan C-Kink yang sekarang dengan C-Kink yang ada di masa lalu. Dulu itu gw bener2 buruk dalam masalah komunikasi verbal (sebenernya sampe sekarang sih masih). Gw juga gak punya tempat buat berbagi cerita. Kenapa? Kan tadi gw udah bilang kalo gw itu orangnya tertutup gitu loh…. Jadilah gw mengekspresikan segala yang gw rasain saat itu dalam media tulisan, salah satunya adalah puisi.

Jaman2 gw kelas 1 SMA dulu, gw emang lagi hobi2nya bikin puisi, karena ya itu tadi, gw gak punya tempat buat menyuarakan kegelisahan hati ini. Dan gw juga gak mengingkari kalo apa yang terjadi saat itu telah mampu mengilhami gw untuk membuat puisi-puisi SAMPAH tentang dirinya. Kumpulan puisi yang dulu gw puja2 namun kini gw hanya akan muntah2 bila membacanya kembali.

Sebenernya gw pengen ngeposting puisi2 gw itu di blog ini. Tapi puisi2 gw itu gw tulis di binder gw, sedangkan binder gw ada di rumah gw di Depok dan gw saat ini lagi di Jogja. Jadi ntar kapan2 aja ya Insya Allah.

Eh tapi tunggu dulu. Diantara sekian banyak puisi gw buat dia, ada 1 puisi yang gw jadiin lagu. Dan kebetulan lirik2 lagu gw selalu gw bawa kemana2 di binder gw yang ada di Jogja ini. Jadi khusus buat lu semua pembaca setia blog C-Kink, nih gw bersedia untuk menuliskan lirik dari lagu tersebut. JANGAN DIBAJAK ya….

Mungkin

(C-Kink, Juni 2004)

Mungkin kini diriku tak lagi ada di hatimu

Mungkin kini diriku tak lagi ada di pikiranmu

Mungkin kini diriku tak lagi hadir di lamunanmu

Mungkin kini diriku tak lagi hadir menghias mimpimu

Reff:

Tapi kau tetap ada di hatiku

Dirimu kan selalu ada di hatiku

Karena kau telah mencuri hatiku

Mungkin kini tak ada lagi namaku di buku harianmu

Mungkin kini tak ada lagi cintamu untuk diriku

Nah kira2 kaya gitu. JIJIK BANGET GAK SIH? Huehehehe… Sekarang aja gw nganggep ini jijik, padahal dulu sih, jangan ditanya… Mari kita semua siapkan ember dan kita muntah bersama2. Huuueeeeek…. Hueeekk… Cuuuiiiiihh…

Puisi di atas gw tulis waktu dia udah mulai jutek sama gw. Gw sendiri udah lupa (atau sengaja ngelupain?) kapan & gimana ceritanya kok tiba2 dia mulai jutek melulu sama gw. Yang jelas, di saat gw mulai ada rasa sama dia dan rasa ini semakin bertambah, saat itulah dia mulai jutek sama gw dan juteknnya pun juga semakin bertambah pula.

Sebenernya apa sih tujuan dari rasa gw ke dia? Kalo ditanya gitu, gw juga gak bisa jawab secara konkrit.

Buat jadi pacar? Mohon maap, lingkungan gw telah menanamkan keyakinan pada diri ini bahwa pacaran itu HARAM hukumnya.

Buat jadi istri? Jauh2 amat, anak kelas 1 SMA udah mikirin kawin.

Buat jadi pembantu? Lah kok pembantu?

Buat jadi kain pel? Ih ini apaan sih kok gak nyambung banget….

Kalo gitu buat jadi apa donk? Ya gw juga gak tau. Yang jelas, gw pernah ngerasa nyaman kalo ada di deketnya, dan gw gak pengen rasa nyaman yang jarang2 gw rasakan itu hilang berlalu begitu saja. Dan pada saat itu, kebetulan hanya dia yang bisa ngebuat gw nyaman (kalo sekarang sih, NOTHING!).

Mungkin jelasnya gini, dulu tuh kita pernah akrab. Dan gw termasuk individu yang susah banget bergaul sama orang lain. Jadi, gw pengen supaya kita bisa tetep akrab selama2nya sampai akhir jaman, sampai tanah kuburan menenggelamkan gw dan pisau sembelihan menggorok leher dia….

Namun sayangnya keakraban itu gw rusak oleh rasa yang dateng dengan sendirinya, tanpa diundang, dah gitu gak ada yang jemput juga. Gw juga gak punya penangkal buat nahan rasa itu. Dan rasa itu semakin membuncah dan membesar yang diiringi dengan rasa penasaran, karena dia malah jadi jutek sama gw. Mungkin seandainya dia tetep mau mengakrabkan dirinya sama gw, rasa penasaran itu akan hilang dan rasa ini pun akan normal kembali dengan berjalannya waktu. Tapi ternyata kenyataannya gak demikian tuh….

Dan ada satu kejadian menarik tentang hal ini. Waktu itu gw memberanikan diri buat nelpon dia. Padahal waktu dulu masih akrab sih kita udah biasa aja telpon2an. Tapi sekarang kan udah lain ceritanya, dimana yang satu berharap untuk mendekat sementara yang lain berharap untuk menjauh.

Gw pernah nelpon dia beberapa kali, tapi gw lupa kita sempet ngobrol lagi di telepon atau udah gak pernah. Kalo pun ada yang udah, isi pembicaraannya pasti dia ngejutekin gw dan ujung2nya dia bete kalo gw yang nelpon.

Utuk yang satu ini, gw lupa kapan persisnya kejadian ini terjadi, tapi kira2 ceritanya kaya gini :

Gw puter nomor dia di telepon. Di ujung sana ada yang mengangkat,

“Halo,”

Ternyata suara anak kecil. Mungkin itu adik laki2nya.

“Halo. Bunga nya ada?” ujar gw di telepon.

“Sebentar yah.”

Si adik itu meletakkan gagang teleponnya, membuat gw menunggu. Lalu dari ujung sana terdengar percakapan antara adik dan kakak, kira2 begini.

“Kak ada telepon,” teriak si adik.

“Tanyain dari siapa!” seru si kakak yang tidak lain adalah si Bunga itu sendiri.

Lalu si adik kembali mengangkat gagang telponnya dan bertanya ke gw,

“Ini dari siapa ya?”

“Dari Ferry.” Gw sengaja make nama samaran, soalnya gw udah bisa nebak kaya gimana ekspresinya kalo telpon itu dari gw.

Si adik kembali berteriak kepada si kakak,

“Dari Ferry Kak!”

“Hah, Ferry?” Hening sejenak. Mungkin si Bunga sedang berpikir dan berasumsi bahwa yang menelpon bukanlah Ferry yang sebenernya, cuma minjem nama doank. Dan sedihnya, asumsi dia itu 100% benar. Lalu dia berteriak lagi kepada adiknya,

“Udah, bilang aja gw gak ada!”

Si adik pun sami’na wa atho’na kepada si kakak dan dia berujar ke gw di telpon,

“Bunganya gak ada.”

Gw yang mendengar dengan jelas dialog 2 ekor kakak beradik ini pun menjawab,

“Oh ya udah.” Lalu telepon gw tutup dan gw kembali termenung melamun di tempat tidur memikirkan kePECUNDANGAN diri gw ini.

Do you got the point from the story above?

Singkat cerita, pada akhirnya gw bener2 telah berhasil MEMBUANG semua rasa gw terhadap dirinya di pertengahan bulan Juli 2004, beberapa hari setelah gw bikin lagu di atas. Mengenai kronologisnya mungkin bisa gw ceritakan lain kali di tulisan tersendiri, soalnya kejadian itu bener2 mampu MENGUBAH kehidupan gw. Kehidupan yang seperti apa? Ya tunggu aja deh Insya Allah kapan2 gw tulis kok tentang kejadian itu.

Intinya, terhitung sejak bulan Agustus 2004, gw SAMA SEKALI udah GAK ADA RASA sama dia, dan akhirnya gw bisa menjalani hari2 gw seperti biasa. Tapi sedihnya, ternyata kita sekelas lagi di kelas 2 ini. Ya udah gw sih biasa aja ke dia. Dia-dia, gw-gw. Sempet ada beberapa ekor temen yang menggoda dan mencoba mengungkit kembali rasa yang udah 100% hilang ini. Tapi pepatah mengatakan : biarlah kafilah menggonggong, anjing tetap berlalu. Wuaduh, berarti gw anjingnya donk? Kurang ajar….

Di kelas 2 ini teknologi udah semakin berkembang seiring dengan majunya zaman. Begitu pun yang terjadi dengan si Bunga ini. Sekarang dia udah punya handphone lho… (penting ya?) Dan untuk mencoba meretas kembali hubungan gw dan dia yang udah rusak, gw memberanikan diri buat ngirim sms ke dia. Seperti yang udah dia bilang di tulisannya, sms2 gw itu gokil2 dan jayus2, dan gw pun mengakuinya. Kadang2 malah gw juga suka ketawa2 sendiri kalo ngeliat sms2 gw. Ih autis banget sich….

Tapi tetep aja, juteknya sama gw gak berubah. Biasa kalo kita lagi ngumpul sama anak2, dia bakalan langsung jadi jutek & bad mood kalo gw dateng. Padahal gw dateng mau ngasi dia duit 100ribu lho, tapi gara2 dia jutek akhirnya gak jadi gw kasih deh. Huehehehehe…. Kalo yang ini mah bid’ah, ga ada dalam cerita sebenernya.

1 tahun berlalu dengan segala kejutekan dia sama gw yang ngebuat gw gak bisa bebas ngambil tempat duduk. Selama kelas 2, duduk gw selalu di pojokan di sebelah depan, entah itu pojok kanan depan, kedua dari pojok kanan depan, atau pojok kiri depan, face to face sama meja guru.

Akhirnya kelas 2 telah berakhir. Ah lega juga bisa pisah sama kecoak yang satu ini. Perasaan lega ini semakin berlipat setelah gw denger kalo dia milih jurusan IPS, sedangkan gw udah mantep di IPA.

Tapi sekali lagi, apa yang tertulis di Lauh Mahfudz tidak seperti yang ada di pikiran manusia. Kelas 3 telah dimulai dimana gw berada di kelas 3 IPA 3. Dan tiba2, jreeeeeng…. Lumba2 ini sekelas lagi sama gw! Huiks huiks…. Dosa apa yang telah aku perbuat Ya Allah hingga aku harus selalu sekelas dengan mahkluk ini selama 3 tahun di SMA. Tapi Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Ya udah deh, enjoy aja. Toh udah sejak 1 tahun yang lalu gw udah sukses membuang segala rasa yang gw punya buat dia. Kalo dia mau ngejutekin gw, itu urusan dia. Yang jadi urusan gw adalah gimana cara gw bikin badan gw ini jadi gemuk. Eh gak nyambung ya?

Begitulah kiranya akhir kisah ini. Selama kelas 2 dan kelas 3, gw emang udah gak berharap apa2 lagi sama dia. Tapi gw juga gak ngerti kenapa dia masih aja always jutek selalu sama gw, padahal sama orang lain mah gak gitu.

Emangnya salah ya kalo gw pernah punya rasa sama dia? Sejujurnya gw juga gak mau tersiksa dalam perasaan yang kaya gini. Rasa itu hadir gitu aja, gw gak minta didatengin kok. Dan setelah rasa itu ilang, kenapa juteknya juga gak ilang? Sebesar itukah kebencian dia terhadap gw yang emang hina dan rendahan ini?

Gw emang gak bisa untuk membuat semua makhluk di dunia ini seneng dengan kepribadian gw. Tapi, kalo pun emang bener2 ada orang yang mau benci sama gw, maka gw berharap bahwa orang2 itu adalah George Bush, atau Ariel Sharon, atau Geert Wilders, atau begundal2 lainnya yang gemar berbuat zhalim di muka bumi ini. Bukan si Bunga, yang notabene gw dan dia Insya Allah menyembah Tuhan yang sama, membaca Al-Qur’an yang sama, meneladani Rasulullah yang sama, serta lahir dan hidup di tanah air yang sama.

Alhamdulillah sekarang gw mendarat di UGM dan dia kuliah di IPB, sesuai dengan bakatnya yang mengenal dengan baik tentang seluk-beluk binatang yang bernama kambing. Gak tau kenapa, mungkin karena mukanya emang mirip kambing, mungkin karena ia lahirnya di kandang kambing, atau mungkin karena dia emang sebenernya siluman kambing? Kalo gitu jagain lilinnya supaya dia gak balik ke wujud asalnya. Huehehe…. (mohon maap, tulisan diatas hanyalah sebuah kejayusan belaka). Demen banget sih sama kambing, padahal keluarga gw pada gak suka makan kambing lho. Katanya kolesterol atau apalah gitu…

Dan gw, atas nama C-Kink noa Zoro Syahid Syaifullah bin Astoto Slamet bin Siti Cholimah binti Said Hidayat bin Sastro bin bapaknya Sastro bin bapaknya bapaknya Sastro, dengan ini menerima dan mengakui semua tulisan yang dimuat di dalam blog si Bunga tersebut. Gw gak protes dan gak menyangkal atas tulisan dia mengenai pendapat dia tentang gw, karena apa yang dia tulis di situ emang BENER ADANYA. Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenar2nya dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun, diketik di laptop gw di kamar kosan sembari ngedengerin lagu-lagu dari band L`Arc~en~ciel.

Gw menerima segala permintaan maap dari dia. Sebenernya ini udah agak terlambat, soalnya gw selalu berusaha untuk memaapkan segala kesalahan orang lain sebelom orang itu sendiri minta maap ke gw. Dan gw udah memaapkan segala kesalahan dia sejak bulan Agustus 2004 lalu. Sekalipun saat itu dia masih tetep jutek sama gw, saat itu juga gw mencoba untuk menerima dan sesungguhnya Insya Allah hari ini dia gak punya salah sama gw kok. Tapi gak tau besok gimana….

Gw atas nama pribadi juga meminta maap yang sebesar2nya karena sebenernya yang menjadi sumber permasalahan ini adalah gw sendiri. Maapkanlah diriku yang hina dan bodoh serta tak tau diri ini, wahai Bunga….

Serta, gw telah berterima kasih sama dia karena sejak lulus SMA, dia telah menjauh dari hidup gw sehingga gw mampu mengembangkan potensi gw yang selama ini gw sadari. Kesempatan yang udah dia berikan ini Insya Allah gak akan gw sia2in. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Hari ini pun dia telah menjadi bagian dari keluarga besar IPB. Dia udah punya nama, dia punya banyak temen, punya jabatan, seringkali dipercaya memegang amanah yang gak semua orang bisa, dan intinya, sekarang dia udah jadi manusia HEBAT dan LUAR BIASA. Silahkan teruskan apa yang udah dia raih selama ini. Dan gw gak akan kaget kalo suatu hari nanti gw bisa liat nama dia tercantum di buku sejarah yang akan dibaca oleh anak cucu kita di generasi mendatang.

“Sesungguhnya hari esok dimulai dari hari ini, dan hari ini merupakan kelanjutan dari hari kemarin. Dan sesungguhnya, SEJARAH TIDAK PERNAH SALAH. Hanya bagaimana kita menghadapi hari esok dengan masa lalu yang tak akan kembali. Serta bagiamana kita merajut kembali dan membangun semua yang pernah rusak di masa yang lalu.” (C-Kink, Sya’ban 1429 H / Agustus 2008)

Oiya, buat lu2 semua yang masih gak nyambung sama tulisan di atas, silahkan coba kunjungin blognya si Bunga. Blog dia udah gw link kok sama blog gw, jadi silahkan dicari aja sendiri.

9 comments August 21, 2008

BukuSudahBaca

Assalamualaikum Wr Wb

Haluuuuuu…. Tanpa banyak cing-cong lagi, berikut ini ada daftar buku-buku yang udah gw baca, terhitung mulai sejak bulan Agustus 2005 sampai saat tulisan ini ditulis, yaitu bulan Juli 2008. Dalam rentang waktu 36 bulan, masa cuma ada 87 buku lho yang gw baca. Duuuiiiikit banget… Hiks hiks hiks… Sebenernya sebelom bulan Agustus 2005, gw juga udah banyak baca buku, tapi gw baru terpikir untuk membuatkan daftarnya baru sejak bulan itu. Selain itu, buku-buku yang gak gw baca full (keseluruhan 1 buku) dan buku-buku E-Book gak gw sertakan di daftar ini, biar gak ribet. Novel-novel juga gak gw tulisin di sini.

Yo wes monggo iki di delok wae…

No

Judul Buku

Pengarang

Penerbit

1

Asyiknya Mencintai Cinta

Alia Yumadiawati

Media Insani

2

Alangkah Buruknya Dosa

Dr. Khalid Abu Syadi

Gema Insani Press

3

Karena Itu Aku Mencintai Tuhanku

Dr. Khalid Abu Syadi

Gema Insani Press

4

Sederhana Penuh Berkah

Al-Harits Al-Muhasibi

Serambi

5

50 Perisai Mukmin

Abdurrahman Al-Mukaffi

Darul Falah

6

Agar Harta Tidak Menjadi Fitnah

Ahmad Abdul Ghaffar

Gema Insani Press

7

Akhlak Rasulullah

H. Abdullah Faqih

PT Raudatul Ilmi

8

40 Amalan Ringan Berpahala Besar

Dr. Iyadah bin Ayyub Al-Kubaisi

Gema Insani Press

9

Nikmatnya Qiyamul Lail

Bassam Athiyabi MA

An-Nadwah

10

Amr Ma’ruf Nahi Munkar

Al-Ghazali

Karisma

11

Akidah Tanpa Bid’ah

Al-Ghazali

Pustaka Hidayah

12

Wanita dan Laki-Laki yang Dilaknat

Majdi Assayid Ibrahim

Gema Insani Press

13

Kudung Gaul

Abu Al-Ghifari

Mujahid Press

14

Senyum dan Tangis Rasulullah

Ahmad Musthafa Qasim Ath-Thatthawy

Pustaka Al-Kautsar

15

Rasulullah saw Berkisah Tentang Surga dan Neraka

Wahid bin Abdussalam Bali

Pustaka At-Tazkia

16

60 Bahaya Lisan

Uwes Al-Qarni

PT Remaja Rosdakarya

17