IntisariBuku: How Successful People Lead – John C. Maxwell

How Successful People Lead

How Successful People Lead

Keterangan buku:

 

Penulis                 : John C. Maxwell

Judul                     : How Successful People Lead

Penerbit              : MIC Publishing

Tahun terbit       : 2013

Tebal                     : 244 halaman

 

Bagi mereka yang tidak dikaruniai bakat memimpin, kepemimpinan bisa jadi sebuah misteri. Memimpin orang lain bagaikan berjalan dalam lorong yang gelap: mereka tahu ke mana mereka ingin pergi, namun tidak bisa melihatnya dan tidak tahu dimana letak masalah dan lubang-lubang yang bisa membuat mereka jatuh. Di dalam buku ini, John C. Maxwell menjelaskan Lima Level Kepemimpinan dengan jelas dan tidak berbelit-belit supaya mudah dipelajari oleh semua orang.

 

Kepemimpinan adalah sebuah proses, bukan jabatan. Dulu orang-orang pernah menyamakan kata “kepemimpinan” dengan “manjemen”, namun sebagian besar di antara mereka sekarang tahu bahwa ada perbedaan besar di antara kedua kata itu. Manajemen bisa berjalan dengan baik saat tidak terjadi perubahan, sebaliknya kepemimpinan melibatkan manusia dan dinamika mereka yang terus berubah. Kepemimpinan terus ditantang untuk menciptakan perubahan dan memfasilitasi pengembangan diri, dimana keduanya membutuhkan pergerakan dari satu level kepemimpinan menuju level selanjutnya.

 

Adapun Lima Level Kepemimpinan yang dimaksud di dalam buku ini adalah sebagai berikut:

 

  • Level 1: Jabatan.

Di level ini orang lain mengikuti kita karena keharusan. Tempat ini memang menyenangkan untuk disinggahi, namun sebaiknya kita tidak tinggal di sini. Penting diperhatikan bahwa jabatan tidak bisa disamakan dengan kepemimpinan sejati, sehingga kita diminta untuk terlibat dalam kepemimpinan yang sebenarnya.

 

  • Level 2: Perkenaan.

Di level ini orang lain mengikuti kita karena mereka memang ingin mengikuti kita. Kita tidak akan bisa memimpin orang lain jika kita sendiri tidak suka membina hubungan dengan mereka, sehingga kita ditekan untuk dapat membina hubungan positif. Dengan demikian tempat kerja yang kita pimpin akan menjadi lebih menyenangkan untuk semua orang.

.

 

  • Level 3: Produktivitas.

Di level ini orang lain mengikuti kita karena sumbangsih kita bagi organisasi: karena kita telah mampu membuktikan produktivitas organisasi. Tentu saja pada posisi ini beban kepemimpinan menjadi bertambah berat, namun kemampuan untuk mewujudkan banyak hal inilah yang membedakan pemimpin sejati dengan pemimpi.

 

  • Level 4: Mengembangkan orang lain.

Di level ini orang lain mengikuti kita karena sumbangsih kita bagi hidup mereka. Hal terpenting di level ini adalah untuk membantu pemimpin lain mengembangkan diri mereka. Dengan banyaknya pemimpin yang kita kembangkan, kemampuan organisasi pun menjadi lebih besar, dan di level ini mutlak dibutuhkan kedewasaan dan keahlian yang sangat tinggi.

 

  • Level 5: Puncak.

Di level ini, orang lain mengikuti kita karena jati diri kita dan nilai-nilai kita. Prestasi tertinggi di dalam Lima Level Kepemimpinan adalah ketika kita mampu mengembangkan pemimpin lain hingga mencapai level 4. Di dalam level ini pengaruh kita telah melampaui jangkauan dan waktu kita. Yang perlu dilakukan untuk membantu orang lain mencapai level 4 adalah dengan menciptakan ujian yang sangat berat bagi pemimpin yang kita kembangkan.

 

Dalam praktiknya, kita bisa naik satu level namun tidak akan pernah meninggalkan level sebelumnya. Untuk mencapai level selanjutnya seringkali membutuhkan waktu lama, namun kita bisa kembali ke level sebelumnya dengan cepat. Semakin tinggi level kita, semakin banyak waktu dan komitmen yang dibutuhkan untuk mencapai level selanjutnya. Selain itu, level kita belum tentu sama di mata semua orang, karena kepemimpinan itu dinamis dan harus disesuaikan saat membina hubungan dengan orang-orang baru. Begitupun saat posisi atau organisasi berubah, biasanya kita tidak bertahan di level yang sama. Perlu juga diperhatikan bahwa untuk mencapai level yang lebih tinggi membutuhkan pengembangan diri lebih lanjut. Namun semakin tinggi level kita, semakin mudah untuk memimpin. Dan tentu saja, semakin besar hasil yang bisa diberikan.

 

Depok, 19 April 2016, 10:47

IntisariBuku: Self Driving – Rhenald Kasali

Self Driving

Self Driving

Keterangan buku:

 

Penulis                 : Rhenald Kasali

Judul                     : Self Driving

Penerbit              : Mizan

Tahun terbit       : 2014

Tebal                     : 270 halaman

 

“Menjadi driver atau passenger?”

 

Kalimat tersebut menjadi tagline pada buku Self Driving karangan Rhenald Kasali ini. Sama seperti buku-buku beliau lainnya, buku ini berkisar seputar perubahan, keluar dari zona nyaman dan bergerak untuk meraih keberhasilan yang lebih tinggi. Dalam buku ini Rhenald Kasali menggunakan analogi driver (pengemudi) dan passenger (penumpang) sebagai sebuah pilihan dan sikap hidup.

 

Menjalani kehidupan ini sendiri berarti bertarung menghadapi tantangan dan perubahan, seperti seorang pengendara yang tak bebas risiko: kadang ia tergores atau berbenturan dengan kendaraan lain. Dan kalau kecelakaan dialah yang diadili, bukan penumpangnya. Sebaliknya, penumpang boleh mengantuk, tertidur, terdiam, tak perlu tahu arah jalan, bahkan tak perlu merawat kendaraan sama sekali. Dalam menjalani kehidupan ini setiap manusia telah dipinjamkan “kendaraan” oleh Tuhan, yang kita namakan sebagai self (diri), yaitu yourself. “Kendaraan” itulah yang akan mengantarkan setiap manusia menuju impian-impiannya. Semua “kendaraan” baru akan menunjukkan keperkasaannya di tangan pengemudinya: apakah ia dipelihara dengan prinsip seorang driver atau di tangan seorang passenger.

 

Read the full post »

IntisariBuku: How to Win Friends and Influence People in The Digital Age – Dale Carnegie & Associates

How to Win Friends and Influence People in The Digital Age

How to Win Friends

Keterangan buku:

 

Penulis                 : Dale Carnegie & Associates

Judul                     : How to Win Friends and Influence Pople in The Digital Age

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit       : 2015

Tebal                     : 281 halaman

 

Pada zaman sekarang yang serba digital dan teknologi yang semakin berkembang, pesan sampai dengan instan. Komunikasi media sudah berlipat ganda. Jaringan sudah meluas melewati batas, industri dan ideologi. Namun pernyataan Dale Carnegie puluhan tahun lalu yang berbunyi:

 

“Kemungkinan besar, masalah terbesar yang Anda hadapi adalah berurusan dengan orang lain.”

 

masih berlaku sampai saat ini. Pernyataan ini juga yang menjadi fondasi dari buku How to Win Friends and Influence Pople, namun sesuai dengan perkembangan zaman sehingga muncul istilah “in The Digital Age” di belakangnya. Buku ini sendiri bukanlah mengenai mengumpulkan pertemanan dan mengeksploitasi pengaruh, melainkan mengenai panduan hubungan manusia yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam.

Read the full post »

DasepAhmadi

DasepAhmadi

Sejak kelahiran si buah hati, ditambah sejak bekerja di perusahaan e-commerce yang menerapkan sistem flexible working hours, sekarang setiap pagi gue selalu punya waktu untuk main-main dulu sama si bocil, juga waktu untuk baca koran. Pagi ini gue lagi asik mangku bocil sambil nyuapin biskuit ke mulutnya dia, sembari membaca koran Tempo di meja makan. Baru masuk halaman 2, mata gue terperanjat melihat salah satu berita yang terletak di pojok kanan bawah.

“Pembuat Mobil Listrik Divonis 7 Tahun Bui”

Ya, beberapa tahun yang lalu ketika Dahlan Iskan masih menjabat sebagai salah satu pejabat tinggi negara, sempat muncul pemberitaan mengenai mobil rakitan anak bangsa. Terlihat membanggakan, karena negara ini yang selama ini cuma bisa mengimpor mobil-mobil dari Asia Timur, Eropa dan Amerika, akhirnya punya harapan untuk memiliki mobil ciptaan sendiri. Lebih membanggakan lagi karena mobil ini digadang-gadang bertenaga listrik, selangkah lebih maju dari mobil pada umumnya yang masih menggunakan bahan bakar berbasis minyak bumi.

Pemberitaan itu menghilang begitu saja, dan belakangan ini tiba-tiba muncul berita bahwa si Dasep Ahmadi, sang pelopor mobil listrik, dijatuhi hukuman penjara karena tuduhan merugikan negara sebesar rp 28,99 miliar.

Read the full post »

30HariBercerita – Hari 30 – Berbagi

IMG_0361

Hari ini adalah hari terakhir 30 hari bercerita. Apa yang akan aku lakukan selanjutnya setelah semua ini berakhir?

Sejujurnya aku bukan termasuk orang yang gemar bercerita. Aku tidak suka bercerita. Aku hanya gemar berbagi, itu saja. Karena ini adalah 30 hari bercerita, maka yang aku bagikan selama 30 hari ini adalah sekumpulan cerita. Berbagi cerita.

Read the full post »

30HariBercerita – Hari 29 – 30 Hari Bercerita

30HBC29

30 hari bercerita kini telah memasuki hari ke-29. Besok, prorgram ini akan berakhir dan semua orang menanti bagaimana kelanjutannya.

Dari sebuah obrolan di group whatsaap yang berisi komunitas para relawan di dunia pendidikan, banyak yang juga gemar menulis. Dan ternyata banyak juga yang memperhatikan postingan-postingan 30 hari bercerita, biarpun tidak semuanya turut serta terlibat di dalamnya.

Read the full post »

30HariBercerita – Hari 28 – Michael Porter

30HBC28

Michael Porter.

Aku mengenal nama itu sudah sejak 5 tahun yang lalu. Ketika itu aku yang merupakan seorang lulusan Teknik Nuklir, sedang bekerja sebagai seorang perencana strategi di sebuah perusahaan logistik. “Porter’s Five Forces” adalah salah satu tools strategi yang pertama kali aku kenal, yang mengantarkanku untuk pindah jalur dari dunia teknik ke dunia manajemen.

Untuk mendalami lebih dalam mengenai ilmu manajemen, lebib khususnya manajemen strategi, aku melanjutkan study di salah satu kampus di pinggiran ibukota. Dari sana aku semakin sering mendengar nama Michael Porter, bahkan mulai banyak mempelajari jurnal-jurnal yang ditulis olehnya.

Read the full post »

30HariBercerita – Hari 27 – Gitar

30HBC27

Tantangan 30 Hari Bercerita di hari ini adalah harus memposting gambar yang digambar menggunakan tangan. Aku tidak malu untuk mengetahui bahwa aku tidak berbakat menggambar, sebagaimana yang kamu lihat ini.

Aku tidak tahu apa yang harus gambar. Sudah lama aku tidak menggambar. Kalaupun ada, yang aku gambar hanyalah bagan proses kerja atau proses bisnis di suatu perusahaan. Atau menggambar blueprint untuk rencana jangka panjang perusahaan. Bukan gambar berupa obyek, benda, apalagi pemandangan.

Read the full post »

30HariBercerita – Hari 26 – Manajemen Strategi #2

30HBC26

Kamu masih ingat ketika di hari ke-5 aku bercerita mengenai group whatsapp tentang komunitas manajemen strategi/corporate planning? Malam tadi, untuk pertama kalinya kita para member saling bertatap muka. Ya, kopi darat istilahnya.

Diinisiasi oleh salah seorang anggota member, kita berkumpul bersama di sebuah kafe di Selatan Jakarta. Pada akhirnya yang confirm datang memang tidak banyak jumlahnya, tapi bagi kita bukan kuantitas, melainkan kualitas yang lebih utama.

Read the full post »

30HariBercerita – Hari 25 – Tempat Tidur

30HBC25

Jika kamu mendefinisikan tempat tidur sebagai sebuah properti dari kayu atau semacamnya yang dilapisi dengan kasur dibagian atasnya untuk kamu merebahkan tubuhku, maka definisi kita jelas berbeda. Bagiku, tempat tidur adalah tempat dimana aku bisa tidur. Sesederhana itu.

Tak perlu kasur. Tak perlu selimut. Tak perlu bantal guling. Dimana saja aku bisa meluruskan kakiku dan memejamkan mataku, itulah tempat tidurku. Bahkan sesederhana kursi mobil depan yang disandarkan hingga sesajar dengan kursi di bagian tengahnya.

Read the full post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,222 other followers