Kucing #2

Malem ini sekitar pukul 21.30, gue baru pulang kantor dan baru mendarat di rumah selepas sebelomnya jemput anak dan bini gue di rumah mertua. Ketika gue ngebuka pager rumah, di garasi ada seekor kucing yang kemudian lari kabur menghilang entah kemana setelah melihat gue dateng. Sementara di depan pintu rumah, sekilas gue ngeliat ada seonggok kucing kecil warna item, tapi gue abaikan karena kemudian gue harus balik ke mobil lagi untuk masukin mobil ke dalem garasi.

Setelah mobil masuk garasi, dan bini gue udah turun dari mobil dan masuk ke rumah sembari menggendong anak gue yang baru berumur 3 bulan, bini gue berujar, “ih tadi ada anak kucing mau masuk ke dalem rumah. Masih kecil banget, kasian ngeliatnya! Itu ibunya kemana?”

Secara umum bini gue termasuk manusia yang ga begitu doyan sama kucing. Agak-agak takut dan geli gimana gitu, tapi ga sampe ke tahapan sarkastis bin sadistis binti barbarian yang sampe ngusir kucing sambal nimpuk-nimpuk segala. Tapi kali ini beliau merasa iba ngeliat ada anak kucing teronggok sendirian. Ya, itulah suara hati seorang ibu: ga akan tega melihat ada anak yang berkelana sendirian tanpa asuhan orangtuanya.

“Tadi pas gue buka pager sih ada kucing gede warna putih, tapi terus lari pas gue dateng”, gue menimpali bini gue. Gue ngelanjutin, “tolong siapin kaya mangkok yang agak kecil buat dia minum, sama kalo ada makanan apa gitu.” Bini gue segera menindaklanjuti apa yang gue anjurkan.

Akhirnya dapet lah kita semacem toples kecil yang pinggirannya agak rendah. Toples itu gue isi air putih dari galon, kemudian gue keluar ke teras rumah dan menyorongkan toples berisi air itu ke si anak kucing item. Si anak kucing item mengeong-ngeong lemah, dan gue masih belom jelas apakah si anak kucing ini sebenernya udah bias ngeliat atau belom. Lalu gue pegang bagian belakang leher si anak kucing dan gue angkat untuk dideketin ke toples air minum tadi. Tapi si anak kucing masih aja mengeong-ngeong dan ga nyentuh air minumnya sama sekali.

Ga lama kemudian bini gue nongol sembari membawa roti tawar yang baru banget kita beli pas perjalanan pulang tadi; roti tawar yang biasanya selalu gue bawa untuk bekal ke kantor. Beralaskan tissue, roti tawar tadi gue sobek kecil-kecil, gue taro di tissue dan gue sodorkan ke si anak kucing item. Sekali lagi, si anak kucing item ini tetap bergeming ga mau makan, cuma mengeong-ngeong doang.

Selagi gue nyodorin makanan dan minuman itu ke si kucing, sepintas gue denger ada bunyi kresek-kresek dari meja di teras, tapi gue ga begitu peduliin. Sampe tiba-tiba gue ngeliat laci yang ada di bawah meja itu kok posisinya kebuka sedikit, dan di dalem laci itu ada nyembul punggung kucing dewasa yang warnanya keabu-abuan. Pelan-pelan gue buka laci itu, dan sontak si kucing dewasa abu-abu bangun dan segera kabur meloncat ke sisi seberang. Setelah laci itu gue buka sepenuhnya, ternyata di dalemnya ada lagi 2 ekor anak kucing: yang satu warna abu-abu kaya emaknya, yang satu lagi warna putih. Total ada 3 ekor anak kucing di teras rumah gue malem ini, dengan 1 ekor kucing dewasa warna abu-abu, plus 1 ekor kucing dewasa warna putih yang udah menghilang sejak gue buka pager pas baru banget dateng tadi.

Si kucing dewasa abu-abu, yang gue asumsikan sebagai emaknya, agak takut-takut untuk mendekat ke gue. Selagi gue ngelus-ngelus ketiga anak kucing, si kucing dewasa abu-abu hanya bisa melihat dan menjaga jarak dengan tatapan mata penuh curiga. Kemudian gue menyodorkan secuil remahan roti ke arah kucing dewasa itu, dan dengan berjalan perlahan dia mendekati dan menyorongkan moncongnya ke remahan roti yang gue tawarkan. Happp… Lalu dimakan.

Berikutnya, gue sodorin tissue yang diatasnya ada sobekan roti tawar beserta toples berisi air minum yang tadinya untuk si anak kucing item ke si kucing dewasa abu-abu. Si kucing dewasa ini mendekati sobekan roti tawar dan memakan cuilan-cuilan rotinya. Akhirnya gue meninggalkan si kucing dewasa beserta 3 ekor anak kucingnya di teras depan, karena gue juga masih punya bayi berumur 3 bulan yang juga butuh perhatian.

Besok paginya, selepas bangun tidur gue segera meluncur ke teras rumah untuk mengecek kondisi keluarga kucing tadi. Dan sesampainya di teras, ternyata keluarga kucing tadi udah ga ada. Ya mungkin mereka sudah bermigrasi ke tempat baru yang lebih layak. Namun kemanapun mereka pergi, gue berterima kasih karena mereka telah menjadikan teras rumah gue sebagai tempat persinggahan walaupun hanya sementara.

***

Beberapa waktu sebelomnya, gue pernah nulis postingan mengenai kucing liar yang sering berkeliaran di sekitar kita. Lengkapnya bias klik disini: https://ckinknoazoro.wordpress.com/2014/09/21/kucing/ . Dan ya, tanpa perlu berlama-lama, sekali lagi gue ngingetin diri pribadi dan kita semua bahwa kucing juga merupakan makhluk hidup ciptaan-Nya yang perlu disayangi sebagaimana kita memperlakukan makhluk hidup lainnya.

Jakarta, 13 Mei 2015, 19:32

Heroes

Aku berdiri mematung memandangi dua orang terbaring penuh darah di hadapanku, Motor yang mereka tunggangi tergeletak bagai barang rongsokan tak jauh dari tempatku berdiri.Bagian depan mobil Soluna hadiah dari ayahku atas keberhasilanku masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri favorit sedikit penyok, hanya lampunya saja yang hancur dan pecah berantakan. Sementara orang-orang mulai datang menghampiri dan mengelilingi diriku.

Aku tidak ingat apa-apa.Yang aku tahu hanyalah bahwa setelah itu tanganku telah terikat dengan rantai borgol dan aku dibawa naik ke kendaraan dengan bak terbuka oleh petugas berseragam coklat. Ramai suara orang-orang berteriak, namun aku tidak dapat mendengar dengan jelas teriakan mereka: apakah mereka meneriakkan kemenangan ataukah kebencian. Perlahan kesadaranku menghilang dan yang kulihat selanjutnya hanyalah gelap.

***

Malam itu aku baru saja menghadiri acara farewell party rekan kerjaku yang harus resign dikarenakania memperoleh tantangan baru di tempat lain. Kami menghabiskan malam dengan makan besar dilanjutkan dengan karaokean dan sharing session mengenai kesan pesan rekanku itu selama bekerja di tempat kerjaku.Aku memacu Soluna keluar parkirankantor, diiringi oleh suara radio favoritku yang memutar lagu-lagu populer masa kini.

Jalanan malan mini sudah agak sepi, mengingat waktu pun telah menunjukkan pukul 00.30. Setelah menempuh perjalanan dari kantor selama sekitar 30 menit, sampailah aku di pintu gerbang kota tempat aku tinggal; sebuah kota yang kini dikenal oleh masyarakat luas atas kejadian pembegalan yang marak terjadi akhir-akhir ini. Ya, “Kota Begal”, begitu mereka menyebutnya. Entah sejak kapana istilah itu mulai tersebar luas, yang jelas penyebutan itu membuat masyarakat menjadi tidak nyaman lagi jika harus melintasi kota ini seorang diri, khususnya di jam-jam rawan di malam hari.

Aku pernah memiliki cerita buruk mengenai pembegalan, jauh sebelum kota ini terkenal dengan sebutan Kota Begal. Ketika itu aku masih berusia sangat muda, bersama kedua orangtuaku kami menjenguk salah seorang paman di rumah sakit. Kondisinya sangat mengenaskan: tangan kanannya putus dan bahu kirinya sobek dengan luka yang menganga. Pamanku, yang biasa kami panggil dengan sebutan Om Ed, baru saja menjadi korban kebengisan para pembegal.

Ketika itu Om Ed sedang dalam perjalanan pulang dari kantor setelah bekerja di shift malam, dimana waktu menunjukkan sekitar pukul 01.00. Di tengah perjalanan motornya dipepet oleh 2 motor dari sisi kanan dan kiri, masing-masing motor terdiri dari 2 orang. Orang di motor kiri yang duduk di belakang tiba-tiba mengeluarkan clurit dan langsung mengayunkannya ke arah Om Ed mengenai bahu kirinya, sehingga ia jatuh tersungkur bersama motornya. Dalam posisi terjatuh, salah seorang dari mereka kemudian turun dari motornya untuk dengan cepat mengambil motor Om Ed dan segera menungganginya. Om Ed mencoba menahan dengan memegangi motor tersebut dengan tangan kanannya, namun nahas, pelaku kembali mengayunkan cluritnya ke tangan Om Ed supaya terlepas dari motor tersebut. Akhirnya pelaku berhasil membawa kabur motor Om Ed, meninggalkan Om Ed terkapar sendirian di pinggir jalan.

Sejak saat itu, karena keterbatasan fisiknya kemudian Om Ed dipindahtugaskan dari pekerjaannya, dengan penghasilan yang lebih kecil tentunya. Motor yang jadi kendaraan satu-satunya untuk Om Ed mengantar anak-anaknya sekolah kini sudah tidak ada. Bahkan dengan kondisinya yang seperti itu, banyak tetangga Om Ed yang malah mencibirnya karena ia memilih untuk mempertahankan motornya. Sebaiknya diserahkan saja motornya, tak perlu coba melawan, begitu kata tetangga.

Dentuman lagu berjudul Heroes dari Alesso feat Tove Lo yang mengalun dari radio Soluna menyadarkanku dari lamunanku akan Om Ed. Entah mengapa meskipun aku bukan seorang yang gemar bergelut dengan dunia malam, namun aku selalu suka mendengar bagian interlude dari lagu ini; seakan-akan membuat semangatku membara dan membuatku berdendang mengikuti alunannya.

Aku masih sekitar 15 menit perjalanan lagi untuk sampai ke rumah.Anak dan istriku pasti telah tidur, kecuali kalau anakku yang baru berusia 2 bulan sedang merengek-rengek dengan tangisannya; entah karena popoknya basah atau karena kehausan. Belum selesai lamunanku akan kelucuan anakku yang masih bayi, aku melihat pemandangan yang ganji tak jauh di depanku.

Aku melihat seorang lelaki tua jatuh tertelungkup di trotoar. Punggungnya berdarah! Persis 2 meter di dekatnya, aku melihat 4 orang lelaki berjaket hitam dan helm full face: 2 orang berboncengan berada di atas 1 motor, 1 orang lainnya berada di atas 1 motor, dan 1 orang sedang mengangkat motor yang posisinya terjatuh. Pembegalan! Ini pembegalan dan aku menjadi satu-satunya saksi pembegalan ini! Akhirnya si lelaki berhasil mengangkat motor yang posisinya tadi terjatuh, segera menyalakan mesinnya, dan mereka ber-empat kabur meniggalkan lelaki tua yang baru saja menjadi korban aksi pembegalan mereka.

Aku bisa saja menghentikan Soluna ku untuk turun dan menolong lelaki tua itu, namun entah mengapa bukan hal itu yang ada di pikiranku saat ini. Aku teringat akan pamanku: Om Ed. Aku teringat bagaimana kini dia kurang mendapat tempat di pekerjaannya dan bagaimana dia harus menjalani sisa hidupnya dengan kondisi fisik yang tidak sempurna sebagaimana manusia lainnya. Aku teringat, Om Ed menjadi seperti itu karena para pembegal! Kehidupan Om Ed telah berubah tidak seperti dulu lagi, namun si pembegal masih bisa bebas berkeliaran dengan segala kebengisannya! Sehingga yang ada di pikiranku adalah aku harus menangkap pembegal yang baru saja melintas di depan mataku, meninggalkan lelaki tua tergeletak di pinggir jalan seorang diri.

Sejak kecil aku gemar bermain video game, khususnya game balap mobil seperti Gran Tourismo atau Need for Speed. Sehingga bukan hal yang sulit bagiku ketika aku telah memperoleh SIM dan mengendarai mobil di dunia nyata untuk berlaku layaknya seorang pembalap di video game.Aku memacu Soluna ku sekuat tenaga supaya bisa mengejar para pelaku pembegalan itu. Bagaimanapun caranya, aku harus menangkapnya!

100 kilometer per jam memang bukan hal yang sulit bagi Soluna, apalagi di jalanan yang sepi seperti malam hari ini. Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengejar 3 motor pelaku begal itu, namun sepertinya mereka menyadari bahwa ada yang mengejarnya. Mereka pun segera menambah kecepatannya dan sekali lagi, bukan hal sulit bagiku untuk segera menyusulnya.

140 kilometer per jam. Salah satu motor pelaku yang ditumpangi oleh 2 orang kini sudah persis berada di moncong Soluna ku. Aku tekan pedal gas sekali lagi dan BRAAAAKKK…!!! Moncong Soluna ku menyundul motor tersebut, membuatnya jatuh tersungkur dan terseret sejauh belasan meter.

Aku segera menginjak pedal rem dalam-dalam, mencoba menghentikan laju Soluna ku. Melalui kaca spion aku dapat melihat bahwa pelaku yang tadi kutabrak mencoba untuk bangkit kembali dan kabur dengan motornya.Aku memasukkan gigi mundur dan dengan kemampuan menyetirku aku berhasil menabrakkan bemper belakangku untuk membuat mereka terjatuh lagi.

Ada kepuasan tersendiri ketika bemper Soluna ku menghantam motornya. Entah perasaan apa namanya, yang jelas aku merasakan kepuasan yang amat sangat, membuatku ingin melakukannya lagi dan lagi, berkali-kali. Aku melihat kedua pelaku sekali lagi mencoba mengangkat motornya untuk kabur, namun dengan perasaan yang meluap-luap ini sekali lagi aku tabrakkan Soluna ku, membuat motor itu kini ringsek dan aku pastikan motor itu tidak akan dapat digunakan lagi.

Mengetahui motornya sudah sedemikian parah kerusakannya, pelaku mencoba berlari ke arah motor kedua rekannya yang ternyata menunggu agak jauh dan hanya bisa menyaksikan rekannya menjadi bulan-bulanan keganasanku. Aku tidak tinggal diam. Menabrak motor saja aku sudah mengalami kepuasan yang teramat sangat, lalu akan seperti apa rasanya jika yang aku tabrak adalah manusia? Begitu pikirku dalam hati.

Tanpa pikir panjang, aku tekan pedal gas dalam-dalam. Kuarahkan Soluna ku kepada dua orang pelaku yang sedang berlari mendekati rekannya yang telah menunggu di atas motor. Persis sebelum mereka mampu meraih motor rekannya, moncong Soluna ku telah menghantam perut mereka.Dan aku merasa bahagia.Sangat bahagia.

***

Kini aku sudah duduk manis di kantor polisi. Dua orang polisi duduk di hadapanku: salah seorang dari mereka sedang menanyakan bermacam-macam pertanyaan kepadaku, sementara yang seorang lagi sedang mengetik di atas komputernya. Aku tidak dapat mendengar jelas apa yang ia tanyakan, dan aku juga tidak sadar atas jawaban-jawaban yang aku berikan. Yang aku dengar hanyalah lirik lagu Heroes yang terus saja terngiang-ngiang di kepalaku.

“We could be heroes, me and you…”

Depok, 27 Maret 2015, 22:49

Brojol #3

Selasa, 10 Februari 2015, 18:00

Si bayi akhirnya udah bisa pulang ke rumah, hanya sekitar +24 jam setelah dia brojol dari rahim ibunya. Alhamdulillah lahirannya normal bin lancar, plus si bayi dan si ibunya juga ga mengalami keanehan lain yang mengharuskannya tetep lanjut nginep di rumah sakit. Jadilah setelah semua administrasi beres, sore itu kita udah pulang ke rumah bertiga. Cuma ada beberapa pesan dokter sebagai berikut:

1. Si dokter kandungan menginstruksikan supaya dateng lagi hari Rabu depan untuk periksa kondisi jahitan dalemnya. Kalo tiba-tiba ngeliat ada benang keluar, jangan penasaran untuk ditarik tapi biarin aja lepas dengan sendirinya supaya ga kenapa-kenapa.

2. Si dokter anak menginformasikan bahwa karena darah bini gue O dan darah anak gue B, selama di kandungan ada potensi percampuran darah antara bini gue dengan bayinya: darah si anak masuk ke darah ibunya, sebaliknya darah ibunya masuk ke darah si anak, dan untuk itu perlu ada prosesi pembersihan “darah asing” dari diri masing-masing. Kalo buat si ibu membersihkan darah anak yang masuk ke tubuhnya adalah perkara mudah karena sistem imunnya udah berfungsi. Tapi ga demikian buat si anak: proses ini butuh penyesuaian dan ada kemungkinkan dampaknya akan membuat kadar bilirubinnya tinggi, atau umum dikenal dengan istilah “kuning.”

3. Si dokter anak juga menginstruksikan bahwa demi menghindari penurunan alergi pada anak (karena gue alergi dingin: kalo kena dingin langsung bersin-bersin), si ibu sebaiknya menghindari makanan seperti ikan tenggiri-tuna-tongkol, kacang-kacangan selain kacang kedelai, dan segala jenis coklat entah itu susu, permen, selai atau apapun. Selanjutnya hari Jumat diminta untuk dateng lagi buat periksa.

Pulanglah kita ke rumah dengan membawa segala pesan serta nasihat para dokter. Malemnya keluarga gue dateng untuk ikut bantu-bantu nyiapin rumah yang kedatengan bayi, dan temen-temen nari bini gue serta temen-temen kantor gue pada berdatangan untuk mengucap selamat atas kehadiran penghuni baru di rumah ini.

Jumat, 13 Februari 2015, 16:00

Gue udah mulai kerja lagi seperti biasa dan lagi ngajar ngisi training PDCA, sampai tiba-tiba bini gue whatsap plus sms nanyain udah bisa ditelpon belom. Pas lagi break gue menyempatkan diri untuk nelpon bini gue dan beliau menceritakan hasil kunjungannya dari dokter anak tadi siang.

Sederhananya, bilirubin si bayi udah menyentuh angka 15, dimana batas normalnya adalah 16. Kondisi si bay saat itu juga udah agak menguning, sehingga si dokter menyarankan supaya bayinya segera dinginepin di rumah sakit untuk disinar, mengingat opsi untuk menjemur bayi di bawah sinar matahari agak sulit dilakukan karena dari sejak bayi ini lahir cuacanya selalu mendung dan cenderung hujan.

Gue bertanya, kalo si bayi dinginepin terus minum ASI nya gimana? Ternyata bisa dengan cara kita standby di rumah sakit atau mompa ASI untuk ditinggal dan dikasih ke susternya. Selanjutnya si dokter minta supaya si bayi segera langsung dirawat, tapi bini gue minta penundaan dulu karena mau mompa ASI dan mau beberes dulu nyiapin perbekalan. Akhirnya kita sepakat bayinya dibawa pulang dulu aja untuk disiapkan perbekalan dan ASI-nya.

Jumat, 13 Februari 2015, 22:00

Setelah menempuh perjalanan yang macet selama 2 jam pulang dari kantor di Jumat malam, akhirnya mendaratlah gue di rumah sakit. Disana udah ada bini gue sama emaknya lagi di ruang laktasi nungguin suster, sementara bokap gue lagi di ruang tunggu. Bayinya sendiri udah dibawa sama susternya untuk persiapan disinaran. Karena gue udah dateng, emaknya bini gue dan bokap gue kita persilahkan untuk pulang, biar gue aja yang jagain bini gue.

Jadi kondisinya, si bayi sekarang udah disinar. Bini gue diberi pilihan apakah mau pulang atau standby di rumah sakit, silahkan, yang terpenting adalah ketika bayinya nangis karena haus, bini gue harus selalu siap sedia untuk ngasih ASI. Malem itu si bayi kita pinjem dulu untuk dikasi ASI dan setelah kenyang baru kita balikin untuk disinar lagi. Sementara gue dan bini gue cari makan dulu diluar untuk menambah tenaga.

Sabtu, 14 Februari 2015, 00:00

Gue sama bini gue udah standby di rumah sakit lagi. Karena si bayi belom rewel, kita manfaatin buat mompa ASI supaya bisa ditinggal dan kitanya pulang ke rumah. Di ruang laktasi bini gue mompa ASI-nya pake breast pump manual sembari gue temenin. Tapi di tengah-tengah pemompaan tiba-tiba ada ibu-ibu lain yang mau mompa ASI juga di ruangan itu, jadilah gue menyingkir sebentar ke ruang tunggu.

Pas lagi itu kemudian si suster dateng bawa bayi gue, katanya si bay nangis-nangis kehausan. Karena bini gue masih disitu akhirnya pompanya kita stop dulu dan ASI sekitar 75 ml yang udah ketampung dikasih ke susternya. Kemudian bini gue nyusuin si bayi dan setelah kenyang terus di balikin lagi ke susternya. Akhirnya setelah si bayi balik ke ruang penyinaran dan kita udah ngasih stok ASI, sekitar jam 3-an pagi gue sama bini gue pulang ke rumah untuk istirahat dan siap sedia kalo tiba-tiba ditelpon suster untuk dateng ke rumah sakit ngasih ASI lagi.

Sabtu, 14 Februari 2015, 06:00

Telpon bini gue berdering dan di ujung sana ada suara suster rumah sakit yang minta supaya bini gue segera ke rumah sakit dikarenakan bayinya udah nangis-nangis kehausan. Kita yang masih kriyep-kriyep karena baru tidur jam setengah 4an tadi segera bergegas. Untung semua property udah gue siapin sebelom tidur tadi, jadi ga perlu rusuh-rusuhan di pagi hari.

Jam setengah 7-an kita udah rapi jali di rumah sakit dan bini gue segera menyusui si bayi, sementara gue hanya bisa menunggu di ruang tunggu karena ada ibu-ibu lain yang lagi mompa di ruangan itu. Selesai menyusui bini gue berniat untuk mompa lagi ASI-nya buat stok di rumah sakit, tapi bini gue baru inget kalo botol ASI dari breastpump manual yang semalem dipake baru sekedar dicuci doang tapi belom dipanasin dan disterilisasi. Jadilah kita minjem breastpump punya rumah sakit yang elektrik. Ternyata yang elektrik ini praktis: tinggal colok ke sumber energy dan dia langsung memompa dengan sendirinya, ga perlu dipompa sendiri kaya yang manual.

Semalem, dengan breastpump manual bini gue mompa selama sekitar 2 jam cuma dapet 75 ml. Ini pake breastpump elektrik dalam waktu sekitar 1 jam udah bisa dapet hampir 100 ml, ditambah bini gue tangannya ga perlu cape mompa. Akhirnya jam 9an setelah beres mompa untuk stok ASI, gue sama bini gue melangkah meninggalkan rumah sakit. Dan terinspirasi dari breastpump elektrik yang ternyata lebih praktis, kita langsung mampir ke toko bayi langganan untuk beli breastpump elektrik. Alhamdulillah ada, biarpun ga secanggih yang kaya di rumah sakit tapi seenggaknya bini gue bisa menghemat energinya lah. Harga emang mahal, bahkan termasuk mahal bingits untuk ukuran gue. Tapi rasa sayang gue kepada bini gue dan si bayi mengalahkan mahalnya harga sebuah breastpump elektrik. Tsaaahhh…

Sabtu, 14 Februari 2015, 14:00

Lagi asik-asik baca koran sambil makan siang di rumah, bini gue ditelpon lagi sama rumah sakit. Ya udah deh kita kesana lagi, ngasih ASI buat si bayi.

Sabtu, 14 Februari 2015, 19:00

Seperti biasa, setelah bayinya beres nyusu dan udah ngasih stok ASI lagi, akhirnya gue sama bini gue pulang. Muka bini gue udah letih banget, karena dari kemaren malem kerjaannya Cuma nyusuin bayi, terus pas bayinya udah selesai disusuin dia merah ASI buat stok dan baru bisa istirahat setelah si bayi tidur dan stok ASI selesai dikasih. Tapi entah mengapa sepanjang hari ini si bayi minumnya banyak banget, jadilah bini gue kurang istirahat.

Kita pun mampir dulu di rumah makan di Kukusan buat makan Coto Makassar yang gue udah ngidam dari beberapa hari sebelomnya. Selepas makan barulah kita pulang ke rumah. Dan you know what, belom sampe beberapa menit gue sama bini gue buka pintu rumah, si rumah sakit udah nelpon lagi, ngabarin kalo stok ASI sebanyak sekitar 100 ml yang kita kasih tadi udah abis sementara bayinya masih rewel pengen nyusu.

Capek sih. Letih sih. Lelah sih. Tapi demi si bayi yang ga mau kita racuni dengan susu formula, dengan segenap energy tersisa gue sama bini gue langsung berangkat lagi ke rumah sakit, nyusuin si bayi. Kita emang butuh istirahat, tapi bayi yang belom berumur 1 minggu ini lebih butuh sumber energi dari ibunya. Dan ini konsekuensi yang udah gue dan bini gue ambil demi memberikan ASI ekslusif buat si bayi.

Sabtu, 14 Februari 2015, 23:00

ASI udah beres, stok udah dikasih, bayi juga udah tidur, selesailah sudah tugas kita di hari ini. Tapi karena seharian ini si bayi minumnya banyak dan kita jaga-jaga kalo nanti baru banget sampe rumah eh udah di telpon lagi, jadi malem itu kita memutuskan untuk ga pulang ke rumah. Nginep di rumah sakit? Iya, tapi karena disana ga disedian kamar inap buat kasus kaya gini sementara kalo mau buka kamar lagi statusnya kan jadi kaya pasien yang harga per kamarnya ga murah, terus ruang tunggunya juga kecil bin sempit serta udah dihuni oleh para penunggu yang sampe pada gelar tikar segala, akhirnya malem itu kita memutuskan untuk tidur di mobil, di parkiran. Jadilah kita berdua tidur di mobil dengan kondisi seadanya, dengan handphone yang selalu siaga kalo si pihak rumah sakit nelpon secara tiba-tiba.

Minggu, 15 Februari 2015, 01:00

Handphone bini gue berdering. Ya udah bisa ditebak, ini dari pihak si rumah sakit. Kita pun beranjak dari mobil dan segera masuk ke rumah sakit untuk melakukan ritual yang sama. Bini gue yang udah sedemikian letihnya, ga ada yang bisa gue lakuin selain mengiburnya. Entah itu dengan celetukan-celetukan konyol, cerita-cerita absurd, maupun gerakan dan tingkah laku yang ga jelas. Plus gue juga sambil iseng-iseng nyetel lagu Goyang Dumang nya Cita Citata sembari sesekali menirukan gerakan duyung mangap-mangap. Iyeuuuhhh… Pokoknya apapun gue lakukan supaya bini gue tetep terjaga dan tetep ceria, karena ASI yang keluar kan sangat dipengaruhi dari kondisi si ibunya. Kalo bini gue stress dan ASI nya ga keluar terus mau minta ASI dari siapa lagi, masa dari bapaknya?

Sekitar jam 4an ritual beres. Tadinya kita mau tetep lanjut tidur lagi di mobil tapi karena bini gue ngerasa bajunya udah pada lepek semua ditambah lengket-lengket karena suka ada ASI yang netes akhirnya pagi itu kita memutuskan untuk pulang dulu ke rumah buat mandi dan ganti baju. Sebelomnya gue sempet nanya ke susternya kapan si bayi ini kira-kira bisa pulang dan si suster menjawab bahwa sekitar jam 6 pagi nanti si bayi bakalan dicek darahnya lagi untuk diliat progresnya. Dan pagi itu kita pulang ke rumah dengan sejuta harapan semoga si bayi udah normal lagi dan bisa segera dibawa pulang.

Minggu, 15 Februari 2015, 07:00

Posisi gue sama bini gue udah di rumah sakit sejak selepas Subuh tadi untuk melakukan ritual. Karena pagi ini kita belom pada sarapan, gue minta izin ke bini gue untuk keluar sebentar nyari sarapan meninggalkan bini gue yang lagi mompa sendirian. Dan karena udah letih banget dari 2 hari terakhir, pagi itu gue memutuskan untuk melangkahkan Terios gue ke salah satu gerai cepat saji, demi menikmati makanan yang biarpun ga sehat tapi seenggaknya punya efek positif bisa meningkatkan mood. Tapi itu menurut gue sih ya… 3 potong burger dan 3 porsi kentang goreng gue bawa ke rumah sakit buat sarapan gue sama bini gue di pagi itu.

Sekitar jam 9an hasil cek darah si bayi udah keluar. Hasilnya? Alhamdulillah birilubinnya udah di angka 10, menandakan udah dalam kondisi normal dan si bayi udah boleh pulang. Muka bini gue langsung sumringah dan segala lelah letih lesu lemah lunglai selama 2 hari terakhir seakan terbayarkan sudah. Pengorbanan seorang ibu demi buah hatinya. Sementara apa pengorbanan sang ayah? Ga ada sih, selain merogoh isi kantongnya untuk membayar biaya perawatan si bayi yang jumlahnya ga bisa dibilang sedikit. Tapi demi anak, uang sebesar apapun ga masalah, karena kesehatan dan masa depan si bayi ga bisa dibayar dengan uang sebanyak apapun.

Akhirnya sekitar jam 11-an setelah semua proses pembayaran selesai, gue dan bini gue serta si bayi bisa melangkahkan kaki keluar rumah sakit untuk pulang ke rumah. Alhamdulillah prosesi penyinaran yang oleh si dokter dijadwalkan selama 2 hari lebih bisa kita lalui dalam waktu sekitar 1 setengah hari, semua berkat keikhlasan hati seorang ibu yang rela bolak-balik rumah-rumah sakit demi menyusui bayinya, rela kurang tidur demi memompa ASI untuk stok, dan rela terjaga demi kesehatan si bayi. Jadi kalo lu termasuk salah satu anak manusia yang suka membantah dan durhaka kepada orang tua, khusunya ibu lu sendiri, sesungguhnya lu ga akan pernah mengerti seberapa besar pengorbanan yang mereka lakukan kepada lu ketika lu kecil dulu…

Tamat

Jakarta, 27 Februari 2015, 20:57

Brojol #2

Senin, 9 Februari 2015, 17:00

Setelah semua administrasi beres, kemudian bini gue udah bisa balik ke ruang rawat inap, sementara si bayi lagi dikeringin selama 6 jam dari sekitar jam 2an tadi, gue disarankan bini gue buat pulang dulu ke rumah untuk mandi, bersih-bersih sekaligus ngangkutin barang-barang yang tadi belom sempet keangkut. Orangtua gue dan emaknya bini gue udah pulang dari tadi setelah ngeliat si bayi, biarpun cuma dari balik kaca karena si bayi lagi dikeringin. Satu hal yang ga mungkin gue lupain adalah bahwa sesaat setelah bokap gue ngeliat si bayi, beliau langsung ngerangkul gue, kemudian nyium kepala gue dan menepuk-nepuk bahu gue layaknya seorang bestfriend. Ya, anak laki-lakinya yang dulu hobi main playstation dan komputer berjam-jam kini udah memberinya seorang cucu perempuan.

Gue pun pulang ke rumah untuk mandi, makan mi gelas 4 bungkus (karena pas lagi ada itu doang), dan nyiapin barang-barang tambahan buat dibawa nginep di rumah sakit. Pas mau berangkat lagi pas orangtua gue mampir ke rumah, ngebawani bekal dan cemilan serta air minum buat di rumah sakit. Gue pun balik lagi ke rumah sakit nemenin bini gue.

Senin, 9 Februari 2015, 19:00

Sesampainya disana udah ada kakak gue sama suaminya, tapi mereka belom berkesempatan ngeliat si bayi karena masih dikeringin dan jam jenguk bayi udah lewat. Jadilah mereka ikutan duduk manis di ruang rawat inap. Selama disana, bini gue mengeluh kesakitan di bekas lahirannya. Malahan pas buang air yang keluar ga cuma air kencing tapi ada juga darah beku. Dan kejadian ini ga cuma berlangsung sekali tapi sampe 2 kali .Ada apa gerangan?

Si suster yang ga berwenang menentukan tindakan akhirnya manggil bu dokter yang kebetulan lagi jamnya praktek di rumah sakit itu. Si bu dokter pun segera menemui bini gue dan mengobservasi luar-dalam. Karena dikhawatirkan bekas jahitan hasil lahiran siang tadi kenapa-kenapa, bu dokter menyarankan bini gue untuk dibawa ke ruang bersalin lagi untuk diperiksa lebih lanjut dan bini gue pun menyetujui.

Tibalah kita di kamar bersalin. Bini gue diobservasi lagi dalemnya. Ternyata ada pendarahan yang berasal dari otot. Gue ga tau persisnya gimana yang jelas ada gumpalan darah di otot. Kalo dibiarkan lama-lama darahnya bisa tersumbat kemudian nyangkut kemudian gumpalannya membesar kemudian ototnya pecah. Hiii… Akhirnya dokter mengambil tindakan untuk ngeluarin si gumpalan darah dan memperdalam jahitan hasil lahiran tadi.

Bini gue sempet ditanyain sama dokternya, mau ga pake bius atau mau dibius aja. Bini gue nanya apakah sakitnya kira-kira sama kaya waktu jahit persis pas abis lahiran tadi, dan si dokter menjawab iya. Bini gue pun memberanikan diri untuk ga usah pake dibius. Tapi melihat kondisi bini gue yang udah sedemikian letih setelah seharian berjuang, ditambah perut yang belom banyak keisi makanan, gue menyarankan supaya bini gue dibius aja. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya bini gue setuju untuk dibius. Dan karena dibius bakal bikin bini gue ga sadar, kehadiran gue di ruangan itu untuk nemenin bini gue ga bakal banyak berguna karena toh dia kan lagi ga sadar. Jadi gue pun nunggu di depan ruang bersalin sambil main game android Boom Beach, Clash of Clans sama Rise of Berk, Btw CoC gue Town Hall nya baru level 7 loh, masih cupu nih hahaha…

Senin, 9 Februari 2015, 22:00

Proses penjahitan bini gue udah selesai dan gue diminta untuk masuk ke ruang bersalin nemenin bini gue. Disana gue menemukan bini gue lagi tertidur dengan mata terpejam. Gue mengambil posisi duduk manis di sampingnya sambil lanjut main Boom Beach. Lagi asik main tiba-tiba bini gue bergumam, tapi matanya masih merem. Dia ngajak ngomong gue dan gue pun balik nyautin omongan dia yang ga jelas juntrungannya. Ternyata bini gue masih dalam kondisi dibius jadi biarpun matanya merem dan badannya ga bisa gerak tapi masih bisa ngomong ngelindur gitu. Omongannya juga ga jelas dan abstrak, semisal:

“Aku kaya lagi terbang di tempat tinggi, terus kamu kok kayanya jauh banget ya”

“Aku sadar kok. Tapi badan aku ga bisa gerak, cuma aku bisa denger kamu ngomong”

“Kok kepala kamu kayanya putus dari badan kamu sih”

Dan semacamnya. Intinya, itu efek dari sisa bius tadi. Kalo dirasa-rasa kondisinya mirip lah kaya orang mabuk hangover gitu, meskipun gue sendiri belom pernah liat langsung orang mabuk kaya gimana.
Tiba-tiba gue dipanggil sama si suster yang ngurusin bayi. Ternyata bayi gue udah selesai dikeringin karena udah lewat 6 jam. Terjadi percakapan singkat antara si suster dan gue yang salah satu percakapannya kira-kira gini:

“Pak ini kan bayinya udah waktunya minum, tapi ibunya kan masih dibius belom sadar. Kalo bayinya saya kasih susu formula gimana Pak?”

Susu formula? Dari sejak lahiran gue dan bini gue udah mengupayakan bahwa si bayi HARUS kita kasih ASI ekslusif dan jangan sekali-kali diracunin sama susu formula, eh tiba-tiba si suster ngomong begini. Dia emang ga salah sih karena kondisinya lagi kaya gini, tapi dengan tegas gue menolak.

“Wah ga bisa Sus, harus pake ASI. Ini sekarang disusuin ke ibunya ga bisa?”

“Belom bisa Pak, kan ibunya masih dibius.”

“Tapi jangan dikasi susu formula juga Sus!”

“Ya mau gimana Pak, bayinya udah kehausan, kan udah 6 jam lebih belom minum.”

“Kalo gitu ditunggu aja deh Sus sampe ibunya sadar.”

“Oke deh Pak kita liat 1 sampe 2 jam dulu ya.”

Gue mengupayakan segala cara supaya si bayi ini ga tersentuh susu formula, dan sementara berhasil dengan cara menunggu sampe bini gue sadar dari biusnya. Segera gue menghampiri suster yang bagian bius tadi dan nanya kira-kira berapa lama efek biusnya bener-bener hilang. Si suster menjawab, “biasanya sekitar 2 jam Pak!”

Oh man, 2 jam! Dan itu adalah batas waktu yang diberikan si suster bayi sebelom bayi gue bakal dikasi susu formula! Akhirnya gue segera balik ke ruang bersalin nemenin bini gue yang masih belom sadar tapi mulutnya udah ngelindur macem-macem. Masa depan bayi gue ditentukan di detik-detik ini. Kalo sampe akhirnya si bayi dikasi susu formula, bolehlah gue menganggap diri gue gagal menjadi seorang bapak!

Dengan segala cara gue mengupayakan supaya bini gue bisa sadar dari biusnya. Segala ocehan ngelindurnya gue tanggapin dengan kata-kata yang memotivasi supaya bini gue segera bangun. Matanya yang masih merem gue kompor-komporin supaya mau dipaksa melek. Pelan-pelan udah mulai melek cuma bini gue ngakunya langsung pusing begitu ngeliat cahaya. Gue ga menyerah, semua ocehannya terus aja gue tanggepin. Bahkan kalo bini gue mulai ga ngoceh, justru gue yang ngocehin balik dengan kalimat-kalimat pertanyaan supaya bini gue ikut aktif ngejawab. Tujuannya cuma satu: ngebangunin bini gue sesegera mungkin supaya bisa segera menyusui si bayi.

Setelah sekitar 1 jam akhirnya Alhamdulillah bini gue udah bener-bener sadar. Biarpun masih agak pusing, nggliyeng da nada beberapa bagian yang mati rasa, tapi bini gue udah bisa balik lagi ke kamar rawat inap dan rebahan di kasurnya. Kemudian si suster bayi dateng ke kamar dan menanyakan apakah udah siap menyusui atau belom. Bini gue yang masih biuslag (temennya jetlag tapi versi abis dibius) minta waktu sekitar 15 menitan lagi untuk memulihkan kesadarannya. Segera gue kasi doping semua makanan yang ada disitu buat dimakan bini gue karena udah dari jam 6 tadi dia belom makan, termasuk susu ultra milk yang udah disiapin banyak dari tadi pagi. 15 menit kemudian si bayi dianter ke kamar dan segera disusuin sama bini gue. Alhamdulillah akhirnya si bayi ini bisa minum ASI lagi dan terbebas dari susu formula.

Selasa, 10 Februari 2015, 00:00

Bayi gue udah kenyang abis minum ASI, dan sekarang lagi tidur di box bayi di kamar rawat inap yang sama dengan bini gue tidur. Dua orang perempuan yang gue sayang di kehidupan gue sekarang lagi bobo-bobo cantik dihadapan gue: yang satu kelelahan abis mengalami proses persalinan di siang hari ditambah proses pendalaman jahitan dan pembiusan di malam hari, sementara yang satu lagi kelelahan masih brojollag (temennya jetlag tapi versi abis brojol) dan membiasakan diri dengan kehidupan nyata setelah sebelomnya 40 minggu berada di dalam perut. Dan gue, lagi asik tidur-tiduran di sofa kamar rawat inap sambil nyetel televisi yang lagi menayangkan pertandingan sepakbola. Ah, c’est la vie, this is life!

Bersambung…

Depok, 23 Februari 2015, 00:09

Brojol #1

Minggu, 8 Februari 2015, 20:00

Berdasarkan estimasi bu dokter kandungan, diperkirakan bayi yang ada di dalem perut bini gue bakalan brojol di tanggal 8 Februari, lebih tepatnya di akhir minggu ke-39 usia kehamilan. Tapi ini tanggal 8 Februari udah tinggal 4 jam lagi kok masih belom ada tanda-tandanya. Mules-mules sama kontraksi sih iya, tapi cuma sebatas itu aja ga sampe ada bukaan atau sesuatu yang bisa bikin brojol banget. Tapi karena penasaran dan udah ga sabar ingin ketemu sama si baby, akhirnya sekitar jam 9an malem kita berangkat ke Rumah Sakit (RS) untuk ngecek sebenernya kondisinya ini gimana.

Setibanya di RS yang jaraknya kira-kira +- 2 km dan ekuivalen dengan 10 menit perjalanan dari rumah gue, bini gue langsung dibawa ke kamar bersalin untuk di-Cardiocotography (CTG). Semuanya norma dan belom ada tanda-tanda, tapi pas di cek dalemnya ternyata udah bukaan 1. Oleh si bidan kita disarankan untuk langsung ngamar aja supaya lebih enak observasinya.

Akhirnya start jam 12 malem sekaligus memasuki usia kehamilan minggu ke-40, gue sama bini gue buka kamar di RS. Sebagai suami siaga, properti dan perlengkapan persalinan yang udah disiapin di tas besar di mobil gue bawa turun dari mobil dan gue taro di kamar. Selanjutnya si bidan menginstruksikan bahwa kalo masih juga belom ada tanda-tanda bukaan, paginya bini gue bakal diinduksi mengingat usia kehamilannya udah masuk minggu ke-40. Bini gue pun beristirahat dengan tenang di atas ranjangnya, sementara gue tidur di sofa sambil nonton TV yang kebetulan lagi nyiarin bola Liga Inggris.

Senin, 9 Februari 2015, 06:00

Gue masih dalam keadaan setengah sadar-setengah tidur ketika bini gue diinduksi oleh para bidan. Bangun-bangun sarapan buat bini gue udah tersaji di depan ranjangnya. Gue lupa persisnya sarapannya apa, tapi yang jelas sarapannya lumayan mewah buat ukuran gue. Bini gue juga kaget ini makanan buat pasien kok enak-enak banget. Ternyata gue baru tau kalo perlakuan untuk pasien berpenyakit dengan pasien ibu hamil itu beda: kalo pasien berpenyakit (alias kita rawat inap di RS gara-gara kita sakit) kan makanannya biasanya cuma bubur sama roti-rotian doang, nah ini buat ibu hamil makanannya nasi plus lauk-pauknya. Minumnya bukan cuma sekedar air putih: kadang jus; kadang susu. Plus ada dessertnya juga, dan setiap pagi sama sore ada semacem cemilan coffee breaknya juga. Yummyyy…

Sekitar jam 9an bini gue diminta untuk stay di ruang bersalin supaya lebih mudah observasinya, mengingat jam 6 pagi kan dia abis diinduksi. Siapa tau tiba-tiba kontraksi jadi udah enak langsung di ruang bersalin. Sebagai suaminya sekaligus bapak dari bayi yang ada di perut bini gue, gue ikutan ke ruang bersalin dan duduk manis nemenin bini gue disana. Bini gue yang emang dasarnya aktif bergerak, ga betah kalo cuma rebahan doang dan pengen bergerak jalan-jalan. cuma gue larang soalnya dia kan harus nyimpen tenaga buat pas sesi lahiran nanti.

Jam 10an emak gue sama emaknya bini gue dateng ke RS, bawain cemilan sama amunisi buat nambah energi. Selanjutnya karena semalem gue baru tidur jam 2an abis nonton bola, akhirnya mertua gue yang stay sama bini gue di ruang bersalin dan gue balik ke kamar rawat inap, numpang tidur di ranjang pasien supaya nanti juga punya energi buat nemenin bini gue lahiran.

Senin, 9 Februari 2015, 13:00

Gue bangun dan mendapati waktu udah menunjukkan pukul 1 siang. Gue tanya emak gue yang juga lagi duduk-duduk si kamar rawat inap, bini gue di ruang bersalin masih baru bukaan 3, ditemenin sama emaknya. Selanjutnya gue sholat Dzuhur dan selepas sholat ujug-ujug bokap gue nongol. Beliau izin setengah hari di kantor, ngakunya sih mau perjalanan dinas, padahal beliau mau menantikan kehadiran cucu pertamanya.

Gue pun balik ke ruang bersalin buat nemenin bini gue. Tanya-tanya ke emaknya bini gue yang lagi jaga disana, kata si bidan udah bukaan 5. Kemudian bidannya dateng lagi dan bini gue di CTG lagi plus cek dalemnya, dan emaknya bini gue disuruh keluar sama si bidan karena udah ada gue disana. Bini gue udah mulai terengah-engah keliatan kaya nahan sakit. Ga kaya di film-dilm dimana perempuan yang mau hamil biasanya teriak-teriak dan meracau ga jelas, bini gue sama sekali ga bersuara. Cuma matanya merem melek sama mulutnya gigit-gigit bibir nahan sakit, sembari tangannya menggenggam tangan gue erat. Gue udah ngeri aja bakal dicakar-cakar atau gimana, tapi Alhamdulillah bini gue bukan termasuk tipikal perempuan macem begitu.

Sekitar jam setengah 2 ternyata udah bukaan 7 dan si bidan belom berani ngambil tindakan apa-apa karena masih nunggu kedatangan dokter kandungannya. Soalnya ini gue udah nanyain terus ini udah bisa brojol belom, karena selama belom waktunya brojol kan bini gue dilarang untuk ngeden apapun alasannya. Coba bayangin aja, ibaratnya perut udah mules-mules pengen beol tapi kaga boleh ngeden. Gitu kira-kira rasanya.

Akhirnya ga lama kemudian si dokter kandungannya dateng. Kirain si dokter ini masih mau observasi atau ngapa-ngapain dulu, tapi kok tiba-tiba dia udah nyuruh para bidannya buat nyiapin peralatan perang semacem alat-alat kaya mau operasi gitu. Terus si dokternya berujuar gini:

“Oke Bu, ayo sekarang boleh ngeden!”

Udah boleh ngeden! Bini gue yang udah kepayahan karena dari jam 9an udah stay di ruang bersalin, kemudian memaksakan diri buat ngeden. Gue persis di sebelah kanannya, dengan tangan gue digenggam sama tangan kanan dia sementara muka gue persis di samping mukanya dia. Dibantu arahan bu dokter, bini gue mulai ngeden.

“Ayo Bu ngeden yang panjaaanggg…”

Bini gue ambil napas panjang, kemudian ngedeeennn… Ternyata masih kurang.

“Masih kurang panjang Ibu. Ayo coba ngeden lagi yang panjang”

Bini gue mengulangi eden-annya. Perlahan-lahan seutas rambut mulai muncul. Kemudian disuruh ngeden lagi yang panjang, secuil kepala mulai muncul. Sembari gue berujar lembut di telinga bini gue, bini gue ngeden lagi dan setelah 3 kali ngeden panjang akhirnya seluruh kepala si bayi mulai menyembul keluar, yang langsung ditarik oleh si dokter.

Senin, 9 Februari 2015, 13:45

Si bayi udah sepenuhnya keluar dari perut bini gue. Kemudian para bidan segera ngebantu membersihkan di bayi untuk selanjutnya ditaro di dada bini gue dalam rangka IMD alias Indonesia Mencari Duit. Eh maksudnya Inisiasi Menyusui Dini. Sambil si bayi rebahan, gue yang udah nangis terharu menyempatkan diri untuk adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri bidan-bidannya. Satu persatu bidan pun mulai pergi meninggalkan gue dengan tatapan penuh hina… Ya ga lah, bercanda. Maksud gue bayi gue yang gue azanin sama gue qomatin.

Sekitar 5 menitan si bayi nempel di badan bini gue, tapi ga bergerak. Nangis kaga, gerak-gerak berusaha nyari puting juga kaga. Akhirnya sama bini gue diarahin dan si bayi langsung nyusu. Sruput sruput sruput… Gitu kira-kira bunyinya. Gue ga tau apakah proses mengarahkan si bayi ini bisa disebut IMD berhasil atau ga, tapi yang penting bayi gue udah bisa nyusu. Sembari itu gue dipanggil si dokter, dikasi gunting operasi buat motong tali pusarnya si bayi. Gue langsung mengikuti instruksi bu dokter dan menggunting tali pusar si bayi. Gue kira motongnya gampang kaya motong tali biasa, ternyata kenyel-kenyel gitu dan guntingnya juga ga tajem-tajem banget. Akhirnya dengan 3 kali guntingan, tali pusar si bayi putus dan gue udah sah disebut sebagai bapak. Horeee…!!!

Selanjutnya si bayi dibawa sama si bidan untuk dibersihin, dan gue diminta untuk ke kasir ngurus pendaftaran buat si bayi. Sebelom ke kasir gue sempet-sempetin masuk ke kamar rawat inap dimana disitu udah standby kedua orangtua gue dan emaknya bini gue untuk mengabarkan bahwa bayinya telah brojol dengan lancar, normal dan Alhamdulillah selamat.
Jadi pada hari ini, Senin 9 Februari 2015, pukul 13.45 WIB, Alhamdulillah status gue udah naik ke level yang lebih berat: menjadi bapak bagi seorang anak perempuan. Alhamdu…??? Lillaaahhh…!!!

Bersambung…

Depok, 22 Februari 2015, 23:29

HidupIniKeras

Tersebutlah seorang lelaki, sebut saja namanya Dono, bukan nama sebenarnya. Beliau baru saja resign dari tempat kerja sebelumnya, sebuah pabrik yang bergerak di bidang manufacturing untuk beralih ke tempat kerja barunya, sebuah pabrik manufakturing juga yang memiliki lini bisnis tidak jauh beda dengan pabriknya sebelumnya. Beliau mendapatkan penempatan untuk menjadi manajer pabrik di daerah pedalaman Kalimantan, kira-kira 10 jam perjalanan darat dari ibukota provinsi.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. Pabrik dimana dia bekerja sekarang sejak awal memang sedang dalam kondisi sulit: biaya produksinya cukup tinggi. Ditambah lagi kondisi bahan baku yang cukup langka dan harga produk jadi nya yang sedang jatuh di pasaran, adalah sebuah tantangan besar bagi beliau untuk berada di pabrik seperti itu. Namun beliau tidak menyerah dan tetap menyanggupi tantangan tersebut.

Perlahan tapi pasti kinerja di pabrik tersebut mulai beranjak membaik ke arah yang positif. Produktivitas per jam nya sudah mulai meningkat, meskipun masih dibawah target yang ditetapkan oleh manajemen. Keadaan internal sudah mulai kondusif. Meskipun secara umum masih berada di bawah target, tapi pelan-pelan semuanya sudah jauh lebih baik dibanding sebelum beliau datang dan menjadi manajer disana.

Sampai tiba-tiba muncul berita mencengangkan. Pabrik itu, yang biaya produksinya masih sangat tinggi dan bertahun-tahun menggerogoti keuntungan perusahaan secara keseluruhan, oleh pihak manajemen disepakati untuk ditutup. Ya, ditutup. Artinya tidak akan ada lagi aktivitas produksi. Tidak ada lagi. Semua yang sudah dibangun oleh Dono menjadi sia-sia. Semua kerja kerasnya, semua usahanya, semua jerih payahnya, mendadak lenyap ditelan awan. Manajemen telah memutuskan bahwa pabrik itu akan ditutup demi menyelamatkan perusahaan secara keseluruhan.

Sebagian besar pekerja yang ada di pabrik akan dirumahkan. Pekerja yang sudah bekerja sejak lama akan diberikan golden shake hand. Pekerja yang masih kontrak tidak akan diperpanjang. Dan pekerja harian atau borongan akan diputus pelan-pelan. Yang menyedihkan, si Dono ini masih dalam masa kontrak percobaan 6 bulan sejak masa awal dia bergabung. Artinya belum ada kepastian apakah si Dono ini akan diangkat menjadi pegawai tetap dan di mutasi ke bagian lain, ataukah bernasib sama dengan pekerja kontrak lainnya yang tidak diperpanjang kontraknya.

Eksekusi untuk merumahkan para karyawan mulai diurus. Dono ikut serta mengatur pengurangan karyawan secara bertahap, pengaturan suasana agar tetap kondusif, penyerahan pesangon, dan lain sebagainya. Semua pekerja level bawah telah berhasil dirumahkan tanpa ada kendala berarti. Dan kini tiba giliran Dono untuk menentukan nasibnya.

Palu telah diketuk. Manajemen memutuskan bahwa Dono, sekalipun berstatus sebagai manajer pabrik, kontraknya tidak akan diperpanjang. Bukan saja tidak diperpanjang, melainkan juga akan diputus saat itu juga, dimana dia baru menjalani 5 bulan dari jatah 6 bulan masa kontrak percobaannya. Tidak ada yang dapat dilakukan Dono, selain pasrah menghadapi kenyataan yang dia terima. Beliau telah resign dari pabrik lamanya untuk menjemput harapan baru di pabriknya ini. Namun apa daya beliau ditempatkan di pabrik yang sejak awal kondisinya memang sudah susah dan ketiban sialnya ketika oleh manajemen pabrik itu diputuskan untuk ditutup dan saat itu beliau sedang berada di pabrik itu.

Dono mengemasi barang-barangnya. Koper telah terisi dan beliau bersiap untuk pergi. Pergi dari pabrik yang telah coba dibangunnya kembali. Pergi dari mess pabrik yang telah memberikan sejuta kenangan di hati.

Pada akhirnya, seperti inilah hidup. Seperti inilah dunia kerja. Seperti inilah. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di depan kita. Tidak ada yang tahu, tidak seorangpun.

Karena hidup ini memang keras, sobat…

Jakarta, 17 November 2014, 19:20

DPR #3

Tapi, gimana caranya?

Gue mencoba untuk tetep keep in touch sama dia selepas pertemuan itu. Dia nge-twit apa, langsung gue sautin. Dia ganti profil picture atau ganti status apa di BB, langsung gue komenin. Dia lagi ngapain, gue stalking-in. Dan lain sebagainya.

Cuma yang gue lupa waktu itu entah gimana ceritanya kok gue ga sempet ketemuan lagi sama dia. Update status gue tetep sama, penuh #kode ngajakin jalan ataupun ketemuan. Tapi entah karena guenya sibuk atau dianya sibuk, pada akhirnya kita emang ga sempet jalan bareng lagi.

Ada satu kejadian dimana ketika itu di suatu pagi agak siang di salah satu mall yang cukup jadul di kota Depok, sebut saja D’Mall (memang nama sebenernya) gue sama salah seekor sohib perempuan gue yang ketika itu doyan banget curhat sama gue (di kemudian hari gue baru tau bahwa ternyata si sohib perempuan ini ternyata suka sama gue hahaha… Cerita lengkapnya gue tulis kapan-kapan aja ya) lagi meet up untuk curhat-curhatan seperti biasa. Salah satu hal yang gue ceritain ke dia adalah bahwa ketika itu gue lagi ada rasa sama si DPR yang notabene juga kenal sama sohib gue ini.

Selepas curhat ketika lagi mau jalan, ladhalah ternyata tiba-tiba si DPR nongol dan papasan sama gue berdua. Waktu itu gue udah mau jalan ke parkiran sementara si DPR ini baru datang dari luar mau masuk ke mall. Cuma sekedar say hello doang kemudian gue tetep lanjut ke parkiran dan dia tetep lanjut masuk ke mall. Udah, gitu aja.

Setelah itu ga ada lagi gue ketemuan sama dia. Berminggu-minggu, sampai tiba-tiba dia gue stalking lagi ngadain semacam party sama sohib-sohibnya. Ketika itu gue ga tau itu party apaan, tapi belakangan akhirnya gue tau bahwa itu adalah farewell party mengingat dia akhirnya keterima kerja di salah satu perusahaan farmasi namun penempatannya di Bali. Iya, Bali a.k.a pulau dewata. Singkat cerita, si DPR ini akhirnya terbang ke Bali dan bekerja disana, tanpa sempet ketemu atau pamitan sama gue. Gue pun taunya dia ke Bali setelah dia udah di Bali, tau dari update-an status-statusnya.

Namun demikian, interaksi antara gue sama dia di social media masih tetep lanjut. Saling ceng-cengan dan sejenisnya,khususnya via twitter. Kalo lu mau tau gimana interaksi gue dengan dia ketika itu, ini ada beberapa twit yang terdokumentasi dan terarsip buat gue tampilin disini. Mohon lu jangan muntah-muntah ngebaca kalimat-kalimatnya yang mungkin terdengar alay pada jamannya.

“Worried about me? Wow RT @DPR A lil bit worried……..”

“Ini tiap denger lagu Rosy nya Depapepe kenapa selalu mendadak keingetan @DPR yah. #modus”

“Buka baju aja biar adem. Pasti gue seneng deh RT @DPR Ya Allah puanase pooolll…”

“Kalo gue mention ke @DPR , bakal berbuntut panjang ga nih? RT @MentionKe #MentionKe tmn cewe lo yg super cantik tp jomblo.”

“Kalo timnas Indonesia U-23 menang malem ini, gue bakal ngedate bareng sama @DPR . #eh? #ngarep”

“Karena semalem timnas kalah, artinya gue ga harus ngedate sama @DPR . Ummm harus seneng apa sedih ya? #ngomongsamamobil”

“#kode banget nih. Ayo sini gue potongin RT @DPR Potong poni jam segini sendirian = kurang kerjaan. dan itu adalah gue. Ok, sekian.”

“Met pagi @DPR . Mumpung lagi dini hari, kangen2an dikit boleh kan ya… #eaaa”

“I am still here, my deer. RT @DPR Where have you been, my dear…?”

“Ga mupeng sih, asal jalan2nya jangan sama cowo lain aja. #eh #siapague RT @DPR hari ini l eyeh2 dulu, besok baru deh jalan2”

“Lebih indah lg kl kita liburan bareng RT @DPR bangun krn liat jam udh stgh 9 dan baru inget kalo hari ini gue libur. Aaaah. Indahnya.”

“Kan gue centilnya cuma sama lu doanggg… *tingting* RT @DPR eh centil….”

“Wah gue baru mau nyodorin bahu RT @DPR Ok, gak jadi galau. Sekian.”

“@DPR . Ora ayu sih, tp isih ora nduwe bojo. #bukankode RT @NgomongNgapak Mention kancamu sing ayu tapi ora nduwe pacar… #trikDaplun”

“Good morning @DPR . Have a nice day today & everyday. #abaikan”

“Good night world, good night tweeps. Good night @DPR , I do miss you so much… #eeeeehhhh??? #mumpunggaadaygbaca #abaikan”

“Langsung nge-bbm atau nge-mention @DPR . #eaaa #truestory RT @SoalCINTA: Apa yg kamu lakukan kalo lagi kangen seseorang? #SoalCINTA”

“Si @DPR udah lama ga nongol2, apakah dia sudah hilang dimakan leak Bali?”

“@DPR . #huek #cuih #pret RT @MentionTo #MentionTo your friend who has a sweet smile.”

“Cb @DPR tolong jawab gue mesti ngapain RT @SoalCINTA Apa yg km lakukan untuk bisa mencari perhatian orang yg km suka? #SoalCINTA”

“#random adalah ketika kamu mimpi si @DPR main film FTV yg settingnya di pantai Bali. Tapi cuma 1 scene doang nongolnya, jd figuran.”

“#random adalah ketika si @DPR (lagi2) muncul di mimpi kamu. Ya Tuhan, apa dosa saya…”

“#kode -> RT @DPR Puasa kedua kalinya gak bareng keluarga…”

“Nyindir gue banget nih -> RT @DPR Tepatilah jika merasa pernah berjanji.”

“Hei nama gue C-Kink, bukan monday. #eh? #abaikan RT @DPR I love monday…. :D”

“Good night too, honey… #eh? RT @DPR Night, dear….”

“@DPR Gimana nih, udah siap belom? #ups RT @TweetKlik Banyak Perempuan Tak Siap Hadapi Malam Pertama http://de.tk/QbnZ2”

“Punyamu punyaku. Punyaku ya punyaku. RT @DPR Yours + Mine = Ours.”

“C3mUn9UdH ! ! ! Gue tonton deh biar lebih semangat RT @DPR Ngajar, tidur, latihan (lagi). Hoaahm… Semangat”

“Cieeeee avatarnya ganti. Jadi #meleleh dah gue… #truestory RT @DPR Nite……. :)”

“Kl lu mau posisi ky gmn jg tetep cantik kok… #truestory #huek RT @DPR Kata temen gw secantik2nya cewe kalo jongkok cantiknya ilang”

“Met pagi @DPR . Rambut barunya dirawat baek2 ya. #huek #cuih”

“Nih gue kasi lg nomor gue: 085691013852. #eh? RT @DPR Ceroboh. Mau telfon malah jd delete contact. Grrrrr…..”

“Latihan? Kirain mau ngajakin gue nonton RT @DPR Mandi trus cuuus latihan…. What a perfect saturday night.”

“Cupcupcup… *ngelus2pundak* RT @DPR Baru ngeh liat 3 mentions terakhir dr ckinkcute semua. Poor me -___-“

“Mengerikan adalah ketika kamu melihat foto bbmnya @DPR apalagi di tengah malam.”

“Emang situ punya ‘dear’ ? RT @DPR It’s already June, my dear.”

“Inget umur wuoy RT @DPR Liat anak SMA latihan cheers, jd kangen nge-cheers lagi…. #latah”

“Selamat pagi dunia. Selamat pagi juga duniaku, @DPR . #gombal #najis #huek #cuih”

“@DPR Eh gila loh 10 dari 19 twit terakhir lu isinya ngemention gue semua… #blushing”

“Aduh makasih, jadi enak… #blushing RT @DPR You make me feel brand new #np :)”

“Selamat pagi dunia, selamat beraktivitas. Selamat pagi juga yg spesial untuk @DPR , selamat mengajar. #eaaa #bikingosip”

“Wow keren donk, saya suka ngeliat perempuan yg keringetan. #kode RT @DPR Yeh dibilang abis nguli…”

“Si @DPR kemana ya kok jarang ngetwit lagi? #kangen”

“Bukan gue, bukan gue Bapaknya! RT @DPR Masih kebayang baca koran tadi pagi dgn headline : Siswi kelas 1 SMA melahirkan di toilet”

“Mama papa udah minta menantu tuh RT @DPR Having a good conversation with my beloved mum and dad”

“Terus kita kapan nyusul? #eh? RT @DPR Satu persatu temanku akan menikah… Congratz ya…. Semoga bahagia dan langgeng”

“Bantuin tambahin donk, buat lucu2an nih RT @DPR Nyengir sendiri liat tweetnya ckinkcute dgn hashtag #HornywoodMovies”

“Mau ngucapin happy birthday buat emaknya @DPR , semoga dikasi menantu yg baek hati dr si anak perempuannya.”

“Udh gue add dr dulu. Tp gpp kok santai aja sm gue RT @DPR Ah ga bs ‘nyampah’ di bbm lg kan… Lo sih ngeadd pin gw… *tapi seneng*”

“Makanya kamu temenin aku ngobrol donk *tingting RT @DPR Kasian ya temen ngobrolnya kalo ga cacing ya tembok ckck”

“@DPR . Cipokan sama tembok RT @MentionKe #mentionke temen lo yg pernah cipokan didepan umum…”

“Have a nice friday like her smile. Nice RT @DPR Morning tweeps! Have a nice friday!”

“Oh ga suka brondong ya. Tp kl sama aku suka kaaan? #gombal RT @DPR Yah sayang ya… Ga suka brondong sih..“

“#unyu : band lokal yg vokalisnya Pasha. #unyu : sejenis kura2. #unyu : gigi (bahasa jawa) RT @DPR Adyuuuh kamu unyu unyu deeeh”

“Cinta ga mungkin datang karena kasihan. Apalagi datang ke @DPR , ga mungkin banget. “

“I’m still here :p RT @DPR Hope to see you soon….. :)”

Singkat kata singkat cerita, biarpun dia udah di Bali tapi perasaan gue udah membuncah ga tertahankan lagi. Akhirnya di suatu malam yang hening dan sepi, gue BBM dia. Cerita detailnya terlalu menjijikkan untuk gue tulis disini, tapi intinya adalah bahwa di malam itu gue mengutarakan perasaan gue padanya dan jawabannya –seperti yang kita tau semua- adalah, ya, ditolak. Gue ga perlu cerita kronologis detailnya, namun intinya adalah gue ditolak. Dan ditolak is ditolak, nothing more nothing less.

Jadilah selepas itu status jomblo gue semakin ga terbantahkan: ditolak 2 perempuan dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun (dan setelahnya ada 1 perempuan lagi yang nolak gue sehingga dalam waktu 1 tahun gue udah ditolak 3 kali. Cerita lengkapnya gue tulis kapan-kapan deh). Dan perlahan-lahan gue mulai menarik diri dari interaksi antara gue dengan si DPR ini. Frankly speaking, di kemudian hari twitternya gue mute supaya ga muncul di timeline gue (sehingga gue ga terpancing untuk nyautin). Kemudian karena memang Allah Maha Besar, kemudian BB dia ada sempet kecopetan dan pin nya pun berpindah tangan, sehingga gue pun udah ga bisa berinteraksi lagi dengan dia via BB. Waktu terus berlalu dan tanpa interaksi berarti, akhirnya pelan-pelan gue mulai bisa ngelupain si DPR ini. Dan dengan demikian, maka cerita ini…

TAMAT

Jambi, 23 Oktober 2014, 23:12

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,301 other followers