SiswaTitipan

 

Bulan Agustus seharusnya menjadi bulan yang penuh dengan semangat perjuangan. Di bulan ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Di bulan ini, bendera merah putih yang biasanya hanya disimpan di dalam lemari, dapat dilihat berkibar dimana-mana. Orang tua, remaja, sampai anak-anak, semua berkumpul merayakan kemerdekaan. Tapi entah mengapa selalu saja ada pihak-pihak berotak udang yang mencederai semangat perjuangan.

 

Kalo lu eksis baca berita, khususnya seputar dunia pendidikan di kota Depok, tentu udah sering lihat berita seputar siswa titipan di sekolah-sekolah yang ada di Depok. Mulai dari Kepala Sekolah yang ga berdaya sekolahnya dimasukin siswa titipan, Wakil Walikota yang mengamini-tanpa-mampu-menindaklanjuti maraknya siswa titipan, maupun para pejabat busuk yang dengan sadar dan sengaja “menitipkan” orang-orang pilihannya untuk dimasukkan ke dalam sekolah-sekolah tertentu yang disertai dengan berbagai ancaman jika titipannya ga dihiraukan. Tak lupa juga para pecundang yang berupaya menyuap oknum supaya orang-orang pilihannya juga bisa dimasukkan ke sekolah tertentu, meskipun tidak semuanya berhasil; dilihat dari pengakuan mereka yang mengaku sudah menyetor sekian juta tapi anaknya tetap saja belum bisa bersekolah disana.

 

Read the full post »

WhyIUninstallMyPath

Path

 

Postingan di atas yang gue tulis hari Jumat, 19 Agustus 2016 sekaligus mengakhiri karir dunia per-Path-an gue yang hanya berlangsung sekitar 3 tahun. Pertanyaannya, kenapa?

 

Sekarang ini dengan teknologi yang semakin maju, dunia seakan berada dalam genggaman. Lebih tepatnya, di dalam sebuah smartphone yang biasa kita genggam. Segala jenis informasi ada di sana, mulai dari hasil pertandingan sepakbola semalem, kasus racun maut Jessica yang ga kelar-kelar, ketegasan Duterte memberantas gembong narkoba, konspirasi bumi datar, sampai yang simpel-simpel semacam pesan martabak via layanan delivery.

 

Begitupun dengan social media, termasuk aplikasi chat dan sejenisnya. Mulai dari Facebook, Path, Instagram, Stellar dll, sampai ke Whatsapp, Line, Telegram, apapun itu namanya. Sehingga, melihat orang menggenggam smartphone kapanpun dan dimanapun sepertinya adalah hal yang biasa. Ya, sepertinya.

 

Read the full post »

CerpenRamadhan – Hari 30 – Selesai

cr30

 

“Seorang lelaki haruslah menyelesaikan apa yang telah ia mulai.”

 

Kamu mungkin tidak akan pernah menemukan kalimat tersebut dimanapun selain di sini, karena memang kalimat tersebut adalah prinsip yang aku tanamkan kepada diriku sendiri. Sebagai seorang lelaki, ketika kamu memutuskan untuk memulai sesuatu, maka kamu juga harus berani untuk menyelesaikan sesuatu itu. Dengan segala konsekuensi, apapun yang terjadi, kamu harus berani menyelesaikannya.

 

Begitupun dengan #cerpenramadhan ini. Bulan ramadhan segera berakhir, artinya kumpulan cerita yang aku tulis juga harus segera diakhiri. Namun, bagaimana mengakhirinya?

 

Read the full post »

CerpenRamadhan – Hari 29 – Tangis dan Senyuman

cr29

 

Gumpalan tanah terakhir telah diletakkan. Lubang dimana terletak jasad Si Kaki Satu kini telah tertutup oleh tanah. Serta secuil batu nisan diletakkan di ujung, sebagai penanda. Tapi tangis Nia masih belum berhenti mereda.

 

Nia memang tidak mengenal lelaki itu. Bukan hanya Nia, bahkan ternyata tidak seorangpun yang mengetahui siapa nama lelaki yang menyelamatkan Nia di malam itu. “Si Kaki Satu”, hanya nama itu yang disematkan dari rekan-rekannya yang sering menemaninya tidur bersama beratapkan bintang-bintang dan beralaskan trotoar jalanan.

 

Read the full post »

CerpenRamadhan – Hari 28 – Hari Ini

cr28

 

Mungkin hari ini, kamu terganggu dengan tangisannya. Ketika ia haus atau lapar, ia menangis. Dan kamu harus menyuapinya makanan untuknya. Itupun terkadang tidak semuanya ia telan: beberapa jatuh terbuang, beberapa hanya dijadikan mainan, bahkan terkadang ia enggan membuka mulutnya.

 

Mungkin hari ini, kamu terganggu dengan tangisannya. Ketika ia buang air, ia menangis. Dan kamu harus mengganti celananya. Membersihkan sisa kotoran yang melekat di tubuhnya. Itupun terkadang tidak semudah yang dibayangkan: ia terus bergerak kesana-kemari, membuat kotoran itu semakin tercecer kemana-mana.

 

Mungkin hari ini, kamu terganggu dengan tangisannya. Ketika seharusnya kamu beristirahat dengan tenang, ia terus saja menangis. Tanpa tahu apa yang ia tangisi. Tanpa tahu kapan ia akan berhenti.

 

Read the full post »

CerpenRamadhan – Hari 27 – Di Ujung Trotoar #4

cr27

 

Ini sudah ke-5 kalinya aku menelpon Yusuf malam ini, tapi tidak sekalipun ia mengangkatnya. Aku memang akan segera menikah, tapi entah mengapa dalam kondisi panik seperti ini, justru Yusuf lah orang yang ingin aku hubungi, bukan calon suamiku sendiri.

 

Malam ini aku mendapat amanah sebagai dokter jaga. Dan kamu tahu, sebagai dokter jaga, kamu harus selalu siap sedia dengan apapun yang terjadi. Termasuk apa yang baru saja aku alami malam ini.

 

Read the full post »

CerpenRamadhan – Hari 26 – Ada Yang Salah

cr26

 

Ada yang salah dengan bangsa ini.

Ketika peneliti yang sedang mencoba menciptakan mobil sendiri, untuk mengharumkan nama negeri, penelitiannya gagal malah dibui.

Sementara mereka yang wira-wiri di layar kaca, untuk merusak moral anak bangsa, malah dipuja dimana-mana.

 

Ada yang salah dengan bangsa ini.

Ketika keteladanan datang dari rakyat jelata, yang gajinya tidak seberapa, namun ketika menemukan uang senilai ratusan juta, dengan tulus ia mengembalikannya.

Sementara para pejabat yang mengaku wakil rakyat, biarpun gajinya jauh dari kata melarat, namun melihat proyek becek segera disikat.

 

Read the full post »

CerpenRamadhan – Hari 25 – Kapan Nikah?

cr25

 

Aku bingung, mengapa banyak orang yang takut hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan “Kapan nikah?”. Ada yang menjawabnya dengan tersenyum. Ada yang menjawabnya dengan cengar-cengir. Ada yang memasang muka masam. Ada yang melarikan diri. Dan sebagainya. Yang jelas, mereka semua menjadikan pertanyaan itu sebagai sesuatu yang menakutkan, bukan sebagai suatu tantangan yang perlu ditaklukkan.

 

Aku tidak tahu, seberapa cupu mereka sehingga untuk menjawab pertanyaan seperti itu saja tidak bisa. Menjawab pertanyaan tersebut dengan waktu yang spesifik bukanlah soal takabur, ujub, sombong atau sebagainya, melainkan soal ikhitar, usaha, dan mimpi. Ya, berani untuk bermimpi: berani memutuskan untuk menentukan target sendiri.

 

Simak salah seorang rekanku, sebut saja namanya Arya. Ketika itu tahun 2012, Arya hanyalah seorang jomblo yang sudah 2 tahun menyendiri dan selama 2 tahun itu, ia sudah 3 kali ditolak secara langsung dan ribuan kali ditolak secara tidak langsung. Banyak perempuan yang meremehkannya, meskipun aku sebenarnya mengakui bahwa Arya tidaklah seburuk yang mereka kira.

 

Read the full post »

CerpenRamadhan – Hari 24 – Larasati Zahra Khumaira

cr24

 

Dari tadi aku merasa ada yang memegang-megang kepalaku. Aku tidak tau itu siapa, tapi hal ini cukup untuk membuatku terbangun dari tidur panjangku.

 

Tangan itu datang lagi. Tapi kali ini ia bisa menyentuh kepalaku lebih jauh. Dan kalau sebelumnya aku hanya merasakan ada 1 jari yang menyentuhku, sepertinya kali ini jumlahnya bertambah menjadi 2 jari.

 

Mungkin tangan itu hendak memanggilku. Aku tahu, biarpun aku merasa nyaman tinggal di tempatku sekarang, tapi aku sadar bahwa tempatku bukan disini. Tempat ini hanyalah persinggahanku sementara, pikirku dalam hati.

 

Read the full post »

CerpenRamadhan – Hari 23 – Tidak Ada

cr23

 

Tidak ada rasa sakit yang lebih menyakitkan selain perasaan yang dialami para ibu ketika proses melahirkan.

 

Dan tidak ada rasa bahagia yang lebih membahagiakan selain perasaan yang dialami para ibu ketika melihat, menyentuh dan memeluk bayi yang baru saja dilahirkannya.

 

Depok, 28 Juni 2016, 23:48