TipeLakiLakiDariCaraKencingDiUrinoir

Tau yang namanya urinoir? Itu lho, tempat kencing yang biasa ada di toilet umum laki-laki, yang dipasang di dinding. Urinoir udah jadi semacem kewajiban di toilet umum laki-laki, karena selain efisien bagi si pengelola toilet untuk urusan tempat, juga efisien bagi para pengguna yang sebagian besar laki-laki (ya iyalah buat laki-laki, masa iya ada perempuan ngangkang di urinoir?) karena mereka cuma perlu buka retsleting doang untuk menongolkan pistolnya dan menembakkannya ke urinoir tersebut.

Ini nih yang namanya urinoir

Ini nih yang namanya urinoir

Nah ternyata eh ternyata, tipe dan karakteristik seorang laki-laki dapat dilihat dari bagaimana cara dia kencing di urinoir, khususnya dilihat dari ke arah mana dia ngeliat. Kalo dari cara kencingnya hampir semuanya sih sama ya, tinggal berdiri mepet menghadap ke urinoir, kemudian buka retsleting atau melorotin celananya dikit (kalo celananya nggak ada retsletingnya) sampe pistolnya nongol, kemudian ditembakkin deh tuh isi pistolnya ke urinoir. Sejauh ini yang gue liat sih gitu, nggak tau dah kalo lu pernah ngeliat orang kencing di urinoir dengan cara yang berbeda, misal kencingnya sambil kayang, atau kencing sambil sikap lilin, atau lain sebagainya.

Kalo dari cara kencing kan emang gitu ya, tapi sadar nggak sadar, kepala dan mata mereka umumnya ngeliat ke arah yang nggak selalu sama. Ada yang ngeliat lurus ke depan, ada yang nunduk ke bawah, ada yang ndongak ke atas, dan lain sebagainya. Nah disini kita bisa tau tipe-tipe seorang laki-laki dari arah mana yang dia liat. Masa sih demikian? Ya kalo nggak percaya, silahkan ini langsung dibaca aja.

Laki-Laki yang Kencing Sambil Melihat Lurus ke Depan

Laki-laki yang kencing sambil melihat lurus ke depan umumnya adalah tipe laki-laki pada umumnya. Nggak ada karakteristik khusus mengenai laki-laki seperti ini. Kecuali kalo di depannya (atau di atas urinoir) itu adalah kaca cermin, maka hampir dapat dipastikan bahwa laki-laki yang kencing sambil melihat lurus ke depan adalah tipe laki-laki narsis. Ya, dia sambil kencing sambil juga ngaca. Bahkan mungkin ngacanya pun agak-agak mengambil posisi dengan ekspresi wajah yang dikeren-kerenin seakan-akan dia lagi mau foto selfie.

Laki-Laki yang Kencing Sambil Melihat ke Bawah

Laki-laki yang kencing sambil melihat ke bawah biasanya adalah tipe laki-laki pemalu. Dia malu berpapasan mata dengan orang lain, sehingga dia lebih memilih untuk melihat ke bawah aja, ke arah punyanya sendiri. Bahkan jika didepannya adalah tembok pun, dia malu melihat ke tembok. Apalagi kalo di depannya adalah kaca, dia malu ngeliat mukanya sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa laki-laki seperti ini merupakan tipe laki-laki yang pemalu.

Tapi jangan salah, selain pemalu ternyata laki-laki yang kencing sambil melihat ke bawah juga merupakan tipe laki-laki yang fokus dan memiliki konsentrasi yang tinggi. Hal ini dibuktikan karena ketika melihat ke bawah, dia pun sebenernya juga sedang mengatur posisi pistolnya supaya tembakannya tepat sasaran dan nggak melenceng alias belepetan dan kececeran kemana-mana.

Laki-Laki yang Kencing Sambil Melihat ke Atas

Laki-laki yang kencing sambil melihat ke atas umumnya adalah tipe laki-laki yang penuh percaya diri dengan kecenderungan agak sombong dan arogan. Dia dengan sengaja mendongakkan kepalanya karena percaya bahwa pistolnya tanpa dilihat pun udah bakal nembak tepat sasaran dan nggak perlu diarahin lagi.

Selain itu, laki-laki yang kencing sambil melihat ke atas juga merupakan tipe laki-laki yang memiliki imajinasi dan fantasi yang tinggi. Apalagi kalo melihat ke atasnya disertai dengan mata yang merem-melek dan mulut yang mangap-mangap. Entah apa yang ada di dalam pikirannya ketika dia sedang mendongak ke atas, yang jelas ada sesuatu yang sedang dia imajinasikan di saat itu.

Laki-Laki yang Kencing Sambil Melihat ke Sebelah

Laki-laki yang kencing sambil melihat ke sebelah, nggak bisa dipungkiri, adalah tipe laki-laki yang homo alias maho alias pecinta sejenis. Ya iyalah, secara dia udah punya pistol sendiri, terus ngapain juga dia ngeliat-liat ke sebelah, khususnya kalo di sebelahnya lagi ada yang kencing juga. Laki-laki kaya gini biasanya kalo ngeliat ke sebelah ngeliatnya dari bawah dulu ngintipin pistol tetangganya, terus di screening naik ke atas, terus diakhiri dengan mata yang berkedip-kedip dan lidah yang melet-melet. Kalo lu ketemu tipe laki-laki kaya gini di toilet umum, gue saranin lu segera kabur aja dah mendingan. Kecuali kalo lu pun termasuk tipe laki-laki yang kalo kencing emang ngeliatnya ke sebelah, ya udah kalian cucok deh boooowww…

Jakarta, 24 Desember 2013, 11:58

Kencing berjamaah. Jamaaahhh~~~ Oyyy jamaaahhh~~~

Kencing berjamaah. Jamaaahhh~~~ Oyyy jamaaahhh~~~

MasKawin

Alkisah di suatu hari yang nggak diketahui harinya dan di suatu waktu yang nggak diketahui waktunya, gue iseng-iseng nanya seputar mas kawin ke beberapa ekor sohib perempuan gue yang udah cukup matang (matang bodinya, bukan kedewasaannya. Ups…) untuk menikah tapi masih belum diberi rezeki untuk menikah. Gue bertanya ke mereka untuk menjawab secara spontan pertanyaan berikut ini:

“Kalo nanti lu mau nikah, lu pengennya dapet mas kawin apaan?”

Dan dari hasil iseng-iseng nanya kaya gitu maka diperolehlah jawaban-jawaban seperi ini:

“Sajadah, mukena sama tumbler Starbucks”
-Asisten produksi di perusahaan media, 24 tahun-

“Emas 24 karat, berlian. Dalam bentuk batangan, kalung, gelang atau cincin. Dan ada berlian warna safirnya.”
-Human resources di perusahaan minyak dan gas, 25 tahun-

“Yang jelas bukan seperangkat alat sholat. Yang pasti sih perhiasan atau emas batangan. Sama uang yang nilainya ‘berarti’, misal tanggal lamaran, tanggal nikah, atau tanggal jadian.”
-Bank relation officer di perusahaan logistik, 25 tahun-

“Mobil. Hahahahaha…”
Mobil-mobilan kan ya?
“Hahahahaha mobil beneran”
-Sekretaris di perusahaan minyak, 21 tahun-

“Hahahahaha berlian. Lebay nggak sih jawabannya? Gue nggak tauuuu… Aaaaaa… Sumpah pertanyaannya bikin heboh”
-Voice over talent di perusahaan media, 23 tahun-

“Gue mah yang simpel aja. Seperangkat alat sholat sama cincin kawin. Udah.”
Cincin kawinnya ada requirement khusus nggak?
“Gue sih nggak. Simpel aja. Emas ada 1 diamond, atau polos juga no problem. Itu kan simbolis aja kalo gue sih.”
-Human resources di perusahaan minyak, 25 tahun-

“Belom kepikiran cyiiinnn…”
Jawab spontan aja cyiiinnn, kepikirannya apaan
“Sumpah nggak kepikiran apa-apa cyiiinnn.”
-Marketing di perusahaan advertising, 25 tahun-

“Dinar. Emas arab.”
-Model, 23 tahun-

“Rumah beserta isinya. Hahahaha…”
-Account executive di perusahaan perbankan, 24 tahun-

“Nggak tau…. Pilihannya apa?”
Nggak ada pilihan apa-apa. Pengennya apa?
“Ya cincin nikah lah. Ada diamond dan emas putih.”
-Human resources di perusahaan otomotif, 22 tahun-

“Emas. Mobil accord. Rumah”
-Mahasiswi, 21 tahun-

Yow begitulah kiranya jawaban dari beberapa ekor narasumber yang gue tanya secara spontan mengenai mas kawin apa yang mereka inginkan ketika mereka menikah nanti. Dan berdasarkan jawaban-jawaban tersebut, maka gue akhirnya berkeinginan bahwa kelak ketika gue menikah nanti, maka usulan mas kawin yang bakal gue berikan ke perempuan paling beruntung di muka bumi ini a.k.a calon istri gue nanti adalah…

…adalah…

…adalah…

…adalah…

…udah lah, liat aja nanti pas gue nikah ntar mas kawinnya apaan. Hohohohoho…

Cilegon, 19 Desember 2013, 19:59

Mas kawiin? Bukan, ini mas batangan

Mas kawiin? Bukan, ini mas batangan

Sakit

Tulisan ini dibuat ketika gue sedang teronggok lesu dan terkapar nggak berdaya di atas kasur di rumah gue. Ya nggak selebay gitu juga sih, buktinya gue masih bisa ngebuka laptop dan mencet-mencet tuts di keyboard buat ngetik tulisan ini.

Setelah hampir 14 bulan gue bekerja di tempat baru ini, akhirnya hari ini untuk pertama kalinya gue izin nggak masuk kantor dikarenakan sakit. Sebenernya ini bukan pertama kalinya nggak masuk sih, karena sebelomnya sekitaran akhir bulan Maret gue pernah nggak masuk kantor selama beberapa hari dikarenakan harus menjalankan perjalanan panjang ke luar negeri, dan di penghujung bulan Juli gue juga izin nggak masuk kantor 1 hari dikarenakan harus berjibaku di ruang sidang menghadapi serangan dari para dosen penguji thesis. Tapi kalo izin nggak masuk kantor karena sakit, ya baru hari ini.

Apakah itu berarti menandakan bahwa gue nggak pernah sakit? Jawabannya jelas: nggak juga kok. Ada beberapa saat dimana gue emang lagi nggak enak badan, tapi dengan segera gue bisa mengatasinya dengan minum doping. FYI aja nih bro, doping yang gue biasa minum kalo lagi nggak enak badan bisa macem-macem dan tergantung mood. Kadang minum Tolak Angin yang cair atau yang tablet, kadang minum UC 1000, kadang minum Larutan Penyegar cap Kaki Tiga, dan bila ada gejala-gejala khusus semisal diare, batuk atau pilek, gue langsung minum obat yang bersangkutan. Kadang juga pake doping buah-buahan, biasanya emak gue yang cantiknya Subhanallah rajin bikini gue jus tomat. Ataupun kalo ternyata doping dan obat-obatan masih belom mempan, barulah gue mampir ke dokter. Tapi tetep masuk kantor, cuma izin pulang cepet aja. Kalopun setelah ke dokter si dokter menganjurkan untuk istirahat dan nggak usah masuk kantor, karena ketika itu gue seorang diri masih single fighter di bidang kerja yang gue geluti di kantor akhirnya gue memutuskan untuk tetep masuk aja di keesokan harinya, mengingat perusahaan baru ini masih membutuhkan kehadiran makhluk imut macem gue.

Nah kali ini, ternyata penyakit gue nggak bisa disembuhin begitu aja. Jadi ceritanya, gue punya penyakit tahunan yang entah darimana asalnya, tiba-tiba aja datang dan tertanam di dalam lubuk hati gue. Penyakit apakah itu? Yaitu batuk kering tanpa henti, kapanpun dan dimanapun. Jadi nih bro, dalam 1 tahun pasti selalu ada aja masa-masa dimana gue terkena penyakit ini. Penyakitnya adalah gue batuk-batuk, tapi padahal badan gue nggak lemes-lemes amat. Cuma batuk aja. Tapi batuknya nggak ilang-ilang, biarpun udah diobatin pake obat apotek manapun, dipijet pake tukang pijet, atau bahkan dikerok juga. Gue menyebutnya “batuk-yang-tak-berujung”, kaya judul lagunya Glenn Fredly. Atau mau kita sebut “batuk-yang-namanya-tak-boleh-disebut” aja biar kaya di Harry Potter? Apapun itu, kira-kira ada apa gerangan dengan batuk ini?

Dulu-dulunya sih hal ini juga sering kejadian. Tapi batuknya berhasil diobatin pake obat khusus yang gue dapet dari bokap gue. Disebut khusus karena obatnya merupakan racikan herbal dan diperolehnya di suatu daerah pedalaman di Jawa Timur sana dengan harga yang luar biasa muahal. Tadinya obat itu buat ngobatin batuknya bokap gue, namun setelah bokap gue batuknya ilang, beliau nggak ngelanjutin minum obat itu, sehingga obatnya masih sisa dan jadilah dulu gue minum obat itu buat ngobatin batuk-yang-tak-berujung ini. Alhamdulillah cocok dan batuknya pun ilang, dan mari kita sebut obat ini sebagai “obat ajaib”.

Pernah juga kejadian batuk kaya gini lagi, kemudian gue minumin obat batuknya bokap gue lagi, akhirnya sembuh lagi. Tapi gue selaku anak muda yang penuh dengan semangat membara tentunya penasaran dong ya kenapa kok gue sering batuk kaya begini. Apakah karena gue keseringan kena AC, mengingat hampir setiap hari gue menghabiskan waktu +- 3 jam menghirup AC mobil. Apakah karena kena debu, mengingat dulu gue kerja di perusahaan logistik di daerah Cakung yang identik dengan truk-truk besar dan jalanan yang penuh debu. Ataukah karena gue keseringan begadang, mengingat gue ketika ngelanjutin kuliah ke S2 gue sering banget bangun antara jam 1 sampai jam 3 pagi demi untuk ngerjain tugas kuliah berupa ngerangkum jurnal-jurnal berbahasa Inggris untuk kemudian dibuat presentasinya. Akhirnya demi mengobati rasa penasaran, datenglah gue ke dokter langganan yang udah melayani gue sejak 20 tahun yang lalu.

Disana, si dokter bilang kalo batuk ini bisa terjadi karena beberapa alasan, yaitu alasan-alasan yang udah gue sebutin di paragraf sebelom ini. Kemudian gue coba di ronsen, gue agak-agak lupa persisnya gimana yang jelas kalo nggak salah ditemukan ada semacam gelembung atau flek di sekitaran paru-paru dan kerongkongan gue. Lupa, tapi ya kira-kira semacam itulah.

Kemudian hari ini, batuk-yang-tak-berujung ini kembali menerpa. Awalnya gue kira semacem batuk biasa, jadi gue minum obat batuk biasa, Ternyata setelah 8 hari lebih kok batuknya masih nggak ilang-ilang, jadi pastilah ini gejala batuk-yang-tak-berujung, Karena obat ajaibnya bokap gue udah abis, mau nggak mau gue pun memberangkatkan diri ke dokter hewan terdekat. Bla bla bla bla, si dokter pun menuliskan resep obat dan menganjurkan untuk istirahat dulu di rumah. Mengingat di akhir tahun ini kerjaan gue udah agak santai karena udah gue selesaiin semuanya di bulan sebelomnya dan di bidang kerja gue pun sekarang gue udah punya team, akhirnya gue memutuskan untuk menuruti anjuran dokter dan beristirahat di rumah. Jadilah besoknya gue izin nggak masuk kantor dengan alasan sakit, pertama kalinya setelah hamper 14 bulan kerja.

Sehari-hari, gue biasa bangun jam setengah 4 pagi supaya bisa segera berangkat ke kantor jam 5 kurang, biar nggak kena macet. Tapi di hari ini, gue bisa agak bersantai dan nggak perlu bangun di jam tersebut. Gue masih bisa nemenin emak gue sarapan di meja makan, nemenin emak gue baca koran di ruang tengah, kemudian biarpun (ngakunya) sakit tapi gue masih bisa nganterin emak gue belanja ke pasar dan duduk manis seharian sama emak gue di ruang tengah, biarpun cuma sekedar nonton televisi dengan channel yang diganti-ganti karena nggak tau apa yang mau ditonton maupun ketika emak gue tidur di sofa dan gue main gadget. Jadi gue yang biasa berangkat jam 4 pagi dan nyampe rumah sekitaran jam 10an malem (sebenernya pukang kantor jam 5 kalo mau tenggo sih bisa, cuma gue biasa tidur di mobil dulu sampe jam 9an sampe jalanan sepi, baru deh jalan) dan hanya bisa ketemu emak gue antara jam 4 sampe jam 5 pagi ketika sarapan (kalo malem jam 8 beliau biasanya udah tidur), hari ini bener-bener bisa ketemu emak gue seharian full.

Mungkin, inilah hikmah dibalik rasa sakit yang datang menghampiri. Pertama-tama, jelas bahwa ketika seseorang sedang terkena penyakit, sesungguhnya Allah sedang menghapus dosa-dosa yang ada di diri orang tersebut. Tidaklah suatu penyakit menimpa seseorang melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya. Selain itu, penyakit juga merupakan suatu ujian untuk melihat apakah seorang hamba termasuk pribadi yang bersabar dan bersyukur, yaitu dia yang ikhlas dan bertawakkal atas penyakit yang dideritanya, ataukah hamba tersebut merupakan pribadi yang kufur dan ingkar, yaitu dia yang berkeluh kesah atas penyakit yang menimpanya. Itu jelas, harapannya lu semua juga udah pada memahaminya ya.

Yang kedua, penyakit adalah semacam teguran dari Zat Yang Maha Menciptakan bahwa tubuh ini juga memiliki hak untuk beristirahat. Mungkin, selama ini kita terlalu semangat beraktivitas hingga memaksa tubuh ini untuk melakukan sesuatu sampai mencapai limitnya. Dengan diturunkannya penyakit, Allah secara halus hendak mengigatkan hamba-hambanya bahwa tubuh ciptaan-Nya ini juga perlu beristirahat sejenak. Berikan tubuh ini kesempatan untuk bernafas dan mengumpulkan energi, supaya dapat digunakan untuk belari kencang lagi di kemudian hari.

Ketiga, dengan diberikannya penyakit yang akhirnya mengantarkan gue untuk beristirahat dan stay di rumah seharian, maka gue bisa seharian full menemani emak gue yang semakin beranjak tua dengan keriput di wajahnya dan uban di rambutnya. Sebagaimana gue sebutin sebelomnya, biasanya tiap hari gue cuma ketemu emak gue 1 jam doang, antara jam 4 ketika gue bangun tidur sampe jam 5 ketika gue berangkat ke kantor. Tapi hari ini, dengan diberikan kesempatan untuk istirahat di rumah, gue bisa ketemu emak gue sepanjang hari penuh, nemenin beliau bepergian, dan duduk manis satu ruangan sama beliau.

Mungkin seringkali kita-kita yang masih muda ini terlalu asik mengejar mimpi dan cita-cita kita. Kita terlalu sibuk menikmati pertumbuhan dan perkembangan kita. Padahal, di saat yang bersamaan, ketika kita sedang tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, orang tua kita pun juga ikut tumbuh dan berkembang menjadi tua. Ya, menjadi tua.

Rasanya baru kemarin kita lulus sekolah, kemudian melanjutkan kuliah, kemudian mendapatkan rezeki untuk bekerja di tempat yang kita idam-idamkan. Ya, rasanya seperti baru kemarin. Tapi apakah kita sadar bahwa ternyata besok orang tua kita sudah akan memasuki masa pensiun? Apakah kita sadar bahwa gerakan orangtua kita sudah nggak lagi selincah dulu? Apakah kita sadar bahwa orang tua kita sudah mulai nampak keriput di wajahnya dan rambut putih di kepalanya? Apakah kita sadar?

Untuk itu, di hari ini dimana gue sedang off dari kantor dan stay di rumah, adalah suatu nikmat yang tiada tara bahwa hari ini gue masih bisa diberi kesempatan untuk nemenin emak gue seharian. Nggak ada yang gue sesali dari penyakit ini, karena setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Bahkan gue sampe nulis status kaya gini di path gue:

“The best thing about take a rest and stay at home is, you can see your mother’s face all day long.”

Bunyi status di path

Bunyi status di path

Memang, sudah saatnya bagi kita yang muda-muda untuk membalas budi semua kebaikan orang tua kita. Sekalipun, kebaikan apapun yang kita lakukan, nggak akan mungkin bisa membalas secuilpun kasih sayang mereka kepada kita. Sebagaimana sebuah cerita yang gue lupa diriwayatin dari siapa, tapi kira-kira bunyinya kaya gini:

Alkisah ada seorang pemuda yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang berbakti kepada orang tua. “Ya Rasul, jika aku bersama ibuku yang sudah tua menjalankan ibadah haji dan aku menggendongnya sejak dari berangkat sampai selesai supaya dia tidak kelelahan, apakah hal itu dapat membalas kebaikan-kebaikan ibuku kepadaku?” Rasulullah saw menjawab, “Yang kamu lakukan itu tidak cukup untuk membalas kebaikan ibumu, bahkan jauh lebih kecil itu.”

*mungkin redaksi persisnya nggak kaya gitu. Kalo ada rekan-rekan yang punya riwayat persisnya, monggo silahkan boleh disampaikan

Intinya adalah, ditengah kesibukan kita-kita yang masih muda ini dalam mengejar mimpi dan cita-cita, ingatlah bahwa orangtua kita pun juga punya hak atas kita. Ridho Allah ada pada ridhonya orang tua, dan salah satu cara untuk membalas kebaikan mereka adalah dengan cara menjadi anak yang soleh yang senantiasa mendoakan orangtuanya. Dan, sakit adalah salah satu bentuk ujian dari Allah. Pasti nggak seorangpun diantara kita yang mau sakit, jelas semuanya pasti pengen sehat. Tapi ketika akhirnya penyakit itu datang, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan menjadi pribadi yang bersyukur, ataukah pribadi yang kufur? Pilihan ada di tangan kita masing-masing, dan gue rasa kita semua udah cukup dewasa dan berilmu untuk menikmati apa hikmah dari datangnya penyakit di dalam diri kita.

Depok, 7 Desember 2013, 02:31

CleanUpOurPlate!

Alkisah pada suatu masa di sekitaran awal April 2013 ketika gue berkesempatan untuk menginjakkan kaki ke luar negeri, yaitu ke Dubai, Uni Emirat Arab, gue berkesempatan menginap di salah satu hotel yang gue lupa namanya. Tibalah kita pada sesi makan malam dimana gue berkesempatan untuk menikmati makan malam secara prasmanan di restoran hotel tersebut.

As usual, gue mengambil makanan sebagaimana biasanya. Gue lupa sih persisnya menunya apa aja, yang gue inget adalah kebiasan gue (dan keluarga gue) untuk ngambil makanan secuil demi secuil. Jadi misal, gue datang dulu ke meja bubur ayam (emang di Dubai ada bubur ayam? Ya ini kan cuma permisalan doang, anggap aja ada deh ya), gue ambil buburnya kira-kira setengah mangkok, kemudian gue balik ke meja gue sendiri dan gue abisin bubur ayam itu. Setelah bubur ayamnya abis, baru gue ngider lagi untuk nyari makanan lainnya. Jadi ga mungkin bagi gue untuk mengambil makanan lain sementara makanan yang gue ambil sebelomnya belom abis.

Jujur gue lupa sih di restoran hotel itu ada makanan apa aja. Tapi gue ngambilnya ya begitu itu, ngambil dulu (misal) sosis sama kentang beberapa potong, gue abisin, terus baru ngambil yang lain, misalnya spaghetti sama macaroni beberapa sendok, gue abisin, baru ngambil yang lain lagi. Begitu seterusnya sampe hampir semua menu di restoran bisa masuk ke perut gue. Untuk setiap menu gue ngambilnya secuil-secuil, jadi ga ada ceritanya gue stuck di satu menu dan melupakan menu lainnya. Begitupun yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga gue lainnya.

Di tengah-tengah makan, seperti biasa ketika ada piring yang udah habis dengan sigap si pramusaji hotel segera menghampiri dan mengangkut piring-piring yang kosong tersebut. Begitupun juga dengan yang terjadi di meja gue. Ga lama setelah keluarga gue menghabiskan setiap makanan di atas piringnya, langsung si pramusaji datang menghampiri dan mengangkut piring kosong tersebut.

Sampai tiba-tiba ada salah satu pramusaji yang memberikan komentar terhadap piring-piring kosong yang ada di meja gue. Si mas-mas pramusaji ini dari tampangnya kayanya sih orang Arab keturunan, bukan Arab yang Arab banget tapi udah Arab yang ke Eropa-Eropaan, semacem Zinedine Zidane gitu dah. Dia ngomongnya pake bahasa Inggris, tapi logatnya kaya logat orang Prancis. Secara gitu gue kan pernah belajar bahasa Prancis 1 tahun jadi dikit-dikit tau lah ya bibirnya orang Prancis kaya gimana. Dengan bahasa yang udah gue terjemahkan (karena gue lupa persisnya dia ngomong apa), si pramusaji ini berujar:

“Well, terima kasih banyak karena telah menghabiskan makanan di piring Anda tanpa ada sisa.”

Dengan bahasa Inggris gue yang ala kadarnya, dimana gue cuma bisa ngomong “oh yes, oh no, oh f*ck” dan “oh sh*t” doang (nah ya ketauan suka nonton film apaan tuh yang dialognya cuma gitu-gitu doang…), gue pun mengucapkan terima kasih kembali kepada si mas-mas pramusaji itu. Dia pun lanjut berujar:

“Ya, banyak orang disini yang mengambil makanan sebanyak-banyaknya tapi mereka malah menyisakannya dan tidak menghabiskannya. Menyedihkan sekali.”

Kembali gue ucapkan terima kasih. Sementara anggota keluarga gue yang lain kayanya masih belum pada nyambung, jadi mereka ngangguk-ngangguk dulu aja. Akhirnya si pramusaji ini pun berujar kembali sembari meninggalkan meja kita:

“Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak karena telah membuat piring Anda bersih tanpa sisa.”

Dan akhirnya dia pun berlalu, meninggalkan keluarga gue yang masih terbengong-bengong. Akhirnya gue jelasin ke mereka kalo tadi si pramusaji give a compliment for us because we have clean up our plate and don’t make any mess on it. Keluarga gue pun akhirnya manggut-manggut tanda mengerti.

Singkat cerita, selama 24 tahun (usia gue ketika itu) gue hidup di dunia ini, baru kali ini kita dapet komentar kaya gitu dari pramusaji restoran hotel. Gue ga begitu aware sih apakah budaya untuk ngambil makanan secuil demi secuil ini apakah cuma ada di keluarga gue doang atau juga dilakukan oleh orang-orang Indonesia pada umumnya, yang jelas selama gue makan prasmanan di restoran di hotel-hotel di Indonesia, belom pernah ada pramusaji yang komentar kaya begitu. Baru kali ini aja kejadian di Dubai. Ya mungkin karena orang-orang dari negara lain ga punya budaya kaya gitu, jadilah si pramusaji ini takjub dengan apa yang kita lakukan.

Pada akhirnya, memang inilah yang seharusnya kita lakukan. Clean up our plate. Jangan menyisakan makanan yang telah kita ambil. Mungkin karena setiap harinya kita terlalu sering disuguhin makanan, nilai dari makanan itu sendiri menjadi kurang berharga di mata kita. Jadilah kalo makan ngambilnya kebanyakan; entah nasinya, entah lauknya, entah sayurnya, entah apapun itu. Dan dengan tanpa perasaan berdosa seenaknya aja kita sisain makanan itu kemudian kita buang ke tempat sampah. Padahal, padahal nih ya, makanan itu adalah salah satu bentuk rezeki dari Allah kepada kita. Begitupun lidah kita yang masih bisa merasakan setiap rasa dari makanan, dan perut kita yang masih bisa mengolah setiap makanan yang masuk. Semuanya adalah nikmat, semuanya adalah rezeki.

Pernahkah terbayangkan seperti apa kehidupan orang-orang yang tidak lebih beruntung daripada kita? Misal: pemulung. Pernahkah ngeliat mereka ngebuka-buka sisa makanan di tempat sampah kemudian dengan lahapnya mereka nikmati makanan yang udah tercampur dengan sampah itu? Pernahkah kita mencoba untuk memberikan sepotong roti (atau cemilan atau makanan apapun yang kebetulan kita bawa saat itu) kepada pemulung yang kita temui di perjalanan? Kemudian coba perhatikan bagaimana ekspresi mereka: menyedekapkan tangan sembari menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih serta memanjatkan doa untuk kebaikan kita. Pernahkah?

Buat kita, mungkin bisa makan 3 kali sehari dengan menu yang berbeda-beda adalah hal yang biasa. Tapi tidak buat mereka; mereka yang tidak seberuntung kita. Bisa makan 3 kali sehari aja udah Alhamdulillah, apalagi kalo menunya setiap hari selalu beda. Jadi, atas dasar apa kita menyisakan makanan yang udah kita ambil sementara di sekitar kita banyak orang yang mengais-ngais tempat sampah hanya untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya?

Jadi sekali lagi, LET’S CLEAN UP OUR PLATE!

Depok, 30 November 2013, 20:08

Perselingkuhan,MauSampaiKapan?

Perselingkuhan. Ya, perselingkuhan. Suatu hal yang selama ini gue kira cuma kejadian yang ada di film, sinetron, novel, ada di cerita-cerita fiktif lainnya. Tapi ya dasar cerita-cerita kaya gitu kan biasanya dibuat karena terinspirasi dari dunia nyata, akhirnya gue bener-bener tau cerita-cerita mengenai perselingkuhan yang terjadi di dunia nyata. Khususnya yang ada di sekitar gue. W+O+W=WOW…!!!

I won’t tell the stories so detail but in this second semester of 2013 suddenly there are so many stories about perselingkuhan in the people around me are comes to my life. About 4 stories lah kira-kira. Cerita pertama mengenai perselingkuhan seorang petinggi di office gue yang berselingkuh dengan salah satu rekan kerjanya, hingga sampai saat ini si rekan kerjanya itu bisa menginap gratis di apartemennya beserta menikmati segala fasilitasnya. Cerita kedua mengenai perselingkuhan (masih) seorang petinggi di office gue juga yang berselingkuh dengan salah satu bawahannya sampai-sampai membelikan mobil untuk si bawahannya itu. Cerita ketiga mengenai (masih) salah seorang rekan kerja gue yang main hati dengan orang ketiga yang bukan pasangan resminya sampai menikmati liburan ke luar negeri bersama. Dan cerita keempat mengenai a member of my big family yang berselingkuh dengan tetangganya sampai lebih dari 5 tahun.

Yes, those are true story. Perselingkuhan, yang biasanya cuma gue liat di dalam cerita, ternyata adalah sesuatu yang nyata. Gue nggak akan mengomentari mengenai perselingkuhan tersebut, karena bukan hak gue untuk berkata demikian. Yang ingin gue tanyakan hanyalah, mau sampai kapan perselingkuhan ini berjalan?

Perselingkuhan itu umumnya dilakukan secara diam-diam. Ya iyalah, kalau dilakukan secara sah dan terang-terangan itu mah namanya poligami (atau poliandri if you said so). Namun, 99% perselingkuhan pasti dilakukan secara tersembunyi dan seakan-akan nggak ingin ada pihak lain yang mengetahuinya, kecuali pihak-pihak yang benar-benar dipercaya (atau mau dibodohi) 200% oleh si pelaku perselingkuhan. Simpelnya, perselingkuhan adalah sesuatu yang disembunyikan oleh para pelakunya.

Pertanyaannya, mau sampai kapan? Mau sampai kapan perselingkuhan ini berjalan? Mau sampai kapan hubungan ini disembunyikan? Mau sampai kapan?

Bau busuk dari bangkai mau disimpan serapi apapun, pada akhirnya akan tercium juga. Makanan pedas mau dimakan dan ditahan pedasnya sebanyak apapun, pada akhirnya akan mencret juga. Dan laki-laki sekuat apapun imannya kalau udah ketemu istrinya pada akhirnya akan muncrat juga. Eh ini apaan sih kok jadi nggak nyambung begini…

What I’m trying to say is, perselingkuhan, mau disembunyikan sampai kapanpun, pada akhirnya pasti bakalan ketauan juga. Jadi, mau disembunyiin sampe kapan? Apa enaknya hidup penuh dengan kerahasiaan dan kepura-puraan?

Dua dari empat cerita yang gue sebutin diatas pada akhirnya telah terbongkar juga. Ya, keempat-empatnya sekarang emang udah jadi rahasia umum, karena gue bisa tau dan bisa gue tulis di sini. Tapi baru cerita ketiga dan cerita keempat yang akhirnya benar-benar terbongkar, khususnya oleh pasangan resmi dari para pelaku perselingkuhan tersebut.

Untuk cerita ketiga, pada akhirnya pasangan sah dari si pelaku perselingkuhan mergokin chat-chat mesra dan foto-foto mesra antara si pasangannya dengan selingkuhannya, dimana kemudian dia melaporkan hal tersebut kepada orangtua pasangannya dan rumah tangga mereka saat ini sedang galau. Untuk cerita keempat, pada akhirnya pasangan sah dari si pelaku perselingkuhan juga mergokin pasangannya sedang berduaan sama selingkuhannya di semacam kamar kontrakan yang emang udah jadi tempat langganan mereka untuk berselingkuh. What a life…

Dua cerita yang pertama, mungkin tinggal tunggu waktu untuk pasangan sah mereka masing-masing mergokin bahwa orang yang selama ini mereka telah mengikat janji setia dan sehidup semati dengannya ternyata di satu sisi memiliki permainan tersembunyi di belakangnya. Kita semua sih udah tau, tapi belom pada tempatnya buat kita ngomong langsung kepada pasangan sah mereka masing-masing. Time will tell, gitu kalo kata orang-orang. Tinggal tunggu waktu kapan semuanya akan terungkap.

Kembali lagi ke pertanyaannya, mau sampai kapan? Karena gue termasuk orang yang enggan berada di zona abu-abu dan lebih memilih untuk berada di zona hitam atau putih, which means I hate sesuatu yang serba menggantung, maka sebagai seorang anak manusia, khususnya bagi yang berjenis kelamin laki-laki, jika kita saat ini berada di zona abu-abu maka segeralah putuskan apakah akan memilih untuk menghitamkan atau memutihkan semuanya. Jangan terlalu lama berada di zona abu-abu, karena gray zone will brings you nowhere.

Dengan cara apa? Ada dua pilihan. Pilihan pertama, bertindaklah secara jantan dengan cara memutuskan hubungan tersembunyi itu. Ya, sudahi segera perselingkuhan tersebut. Setialah kepada pasangan sah kalian, sebagaimana lagunya Fatin yang berjudul Aku Memilih Setia. Pilihan kedua, bertindaklah secara jantan juga dengan cara mengesahkan hubungan tersembunyi itu. Ya, segera katakan kepada pasangan sah kalian bahwa kalian terlibat asmara dengan orang lain. Apakah mau disahkan kedua-duanya, atau dibubarkan dulu yang pertama baru disahkan dengan si selingkuhannya, terserah. Yang jelas, apapun pilihan yang diambil, yang terpenting adalah jangan terus menerus menyembunyikan hubungan perselingkuhan tersebut dari orang banyak. Cepat atau lambat pasti semuanya akan segera diketahui. Dan hidup terlalu singkat jika dihabiskan hanya untuk menjadi pribadi yang selalu berpura-pura dan menyembunyikan sesuatu.

Tetapi yang terbaik adalah, untuk mencegah supaya perselingkuhan tersebut tidak terjadi. Setia. Ya, setia. Setiap tikungan ada. Eh salah, maksudnya setia menjaga komitmen dan janji yang pernah disepakati bersama, dengan pasangan sah yang telah mengikat janji untuk sehidup semati.
Godaan memang akan selalu datang. Orang-orang yang tampaknya lebih baik dari pasangan kita saat ini juga akan terus hadir dari arah yang tidak disangka-sangka. Ya, akan selalu ada orang yang terlihat lebih baik daripada pasangan kita. Namun sebaliknya, hal yang sama pun berlaku bagi dia. Orang-orang yang jauuuuuhhh lebih baik dari kita pun setiap hari selalu hadir dihadapan pasangan kita. Namun tidak peduli sebaik apapun mereka dan sebusuk apapun kita, pasangan kita telah menentukan pilihannya kepada kita. Ya, kepada kita. Kitalah orang yang telah dipilihnya untuk menjalani sisa hidupnya.

Jadi, sampai kapan para pelaku perselingkuhan akan membohongi dirinya sendiri, dan juga orang-orang disekitarnya. Tidak ada zona abu-abu, yang ada hanyalah hitam atau putih. Sekian dan terima kasih.

“Lelaki yang keren bukanlah laki-laki yang mampu memikat hati jutaan wanita. Lelaki yang keren adalah laki-laki yang mampu tetap setia kepada pasangannya biarpun jutaan wanita datang menghampirinya.”

Depok, 20 Oktober 2013, 23:45

AntarJemput

 

 

Bro, kalo lu udah lama bergaul sama gue apalagi sampe pernah menggauli dan digauli gue, pasti paham kalo gue punya satu kebiasaan yang mungkin bikin lu semua jadi agak males bergaul sama gue. Apa itu? Ayo coba tebak:

Ga bisa naik sepeda? Iya, gue emang ga bisa naik sepeda, tapi bukan itu.

Ga bisa ngomong huruf “R”? Iya gue cadel, tapi bukan itu juga.

Jomblo, ga laku-laku dan ditolak melulu? Oh please deh itu mah masa lalu kaleee… #eaaa #sombong

Jadi apa dong? Antar-Jem*ut. Ya, mengantar dan menjemput, bukan jem*ut yang letaknya ada di bawahnya perut.

Emang ada apa dengan antar-jemput? Frankly speaking, and as you know it, sebagai orang yang sering menggunakan kendaraan pribadi instead of kendaraan umum, gue termasuk orang yang paling males antar-jemput orang. Kalo misal ada janjian sama orang untuk dating ke suatu acara, gue lebih prefer supaya dia gue pick up dan gue drop di jalur yang gue lewatin. Kalo emang jalurnya ga searah atau ga se-lewat-an, mending langsung ketemuan aja di tempat tujuan.

Kenapa demikian? Apakah gue termasuk orang yang pelit, kikir, bakhil dan sebagainya? Ya you may speak as you want, but seseorang yang harus anter-jemput temennya sebenernya berada di posisi yang cenderung dirugikan. Nggak percaya? Ya bukan urusan gue juga sih lu mau percaya atau nggak.

Mungkin lu-lu semua pada berpikir bahwa gue nggak mau nganter jemput karena rugi bensin: karena harus menempuh jarak yang lebih jauh sehingga harus ngeluarin bensin lebih sehingga harus keluar lebih banyak uang. Ya mungkin begitu, tapi itu bukan faktor utama. Karena sesungguhnya faktor utamanya adalah: rugi waktu! Ya, waktu, sesuatu yang lebih berharga daripada sekedar uang. Uang mah kalo ilang bisa dicari, tapi waktu kalo udah terbuang ga bakalan bisa dibeli dimanapun, apalagi di Toko Bagus yang katanya bisa ngejual barang-barang bekas, termasuk bekas pacar a.k.a mantan.

Apa maksudnya rugi waktu? Supaya gampang, ini gue bikin simulasinya. Anggaplah ada 2 ekor anak manusia, 1 adalah Si Sopir yaitu orang yang punya kendaraan dan 1 lagi adalah Si Temen yaitu temennya Si Sopir. Alkisah suatu hari kedua ekor anak manusia ini harus mengikuti sebuah acara di suatu tempat pada jam 9 pagi sampe sekitar jam 2-an siang.. Si Temen minta supaya Si Sopir jemput dulu ke rumahnya, yang notabene rumahnya nggak searah dengan tempat yang mau dituju.  Simulasinya adalah demikian:

Pagi-pagi, Si Sopir udah bangun untuk siap-siap berangkat. Kemudian setelah siap-siap, dia berangkat menuju rumah Si Temen yang jaraknya kira-kira selama 1 jam perjalanan. Di saat Si Sopir ini udah berangkat menuju rumah Si Temen, Si Temen baru beranjak dari tidurnya dan mulai siap-siap nunggu dijemput Si Sopir. Akhirnya Si Sopir tiba di rumah Si Temen dan mereka berdua berangkat menuju lokasi acara. Sepulang dari acara, Si Sopir pun nganterin Si Temen pulang ke rumahnya. Setelah dianter sampe depan rumah persis, kemudian Si Sopir pun berangkat lagi untuk pulang ke rumahnya sendiri.

Sepintas terlihat nggak ada yang aneh kan ya. Tapi kalo gue tambahin variabel waktu di setiap aktivitas yang mereka jalanin, hasilnya akan terlihat seperti tabel berikut ini:

 

 

Jam

Durasi

Si Sopir Si Temen

5:00

0:15

Bangun tidur  —

5:15

0:20

Makan  —

5:35

0:20

Mandi  —

5:55

0:20

Siap-siap  —

6:15

0:15

Berangkat dari rumah Bangun tidur

6:30

0:20

Perjalanan menuju rumah temen Makan

6:50

0:20

Perjalanan menuju rumah temen Mandi

7:10

0:20

Jemput temen Siap-siap

7:30

1:00

Perjalanan menuju acara Perjalanan menuju acara

8:30

6:00

Acara Acara

14:30

1:00

Perjalanan menuju rumah temen Perjalanan pulang

15:30

0:20

Nganterin temen pulang Nyampe rumah

15:50

1:00

Perjalanan menuju rumah  …

16:50

0:30

Nyampe rumah  …

 

Nah silahkan dibaca baik-baik. Apa hal yang membuat Si Sopir berada di posisi dirugikan dibanding Si Temen?

Jawabannya adalah: waktu. Ya, waktu. Coba kita lihat. Ketika jam 5 Si Sopir udah bangun tidur, Si Temen masih punya waktu untuk molor, dan baru bangun sekitar jam 6-an. Artinya, Si Sopir udah merelakan 1 jam di dalam hidupnya demi menjemput Si Temen, atau sebaliknya, Si Temen punya waktu tidur 1 jam lebih lama dibanding Si Sopir. Kemudian kita lihat pas nganterin pulang. Jam setengah 4-an Si Temen udah sampe rumah, sementara Si Sopir masih harus menempuh 1 jam perjalanan lagi baru bisa sampe rumah. Artinya, di saat Si Temen udah bisa ngumpul-ngumpul sama keluarganya di rumah, Si Sopir baru bisa ngumpul sama keluarganya 1 jam lagi. Understand?

Inilah yang gue maksud rugi waktu. Si Sopir rela mengikhlaskan waktunya, dimana dalam contoh diatas adalah 2 jam di dalam hidupnya hanya untuk antar-jemput Si Temen. Emang masalah buat lu? Nggak tau dah, yang jelas ini sih masalah banget buat gue. Karena secara nggak langsung Si Temen udah mencuri 2 jam dari hidup Si Sopir hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. “Ah cuma 2 jam doang kok.” Ya, buat orang yang nggak bisa menghargai waktu mungkin emang 2 jam nggak ada artinya dibanding 24 jam sehari, atau dibanding seluruh hidupnya yang telah berumur sekian puluh tahun. Tapi pernahkah lu ngebayangin betapa berartinya 2 hari bagi penderita leukemia? Betapa berartinya 2 jam bagi ibu hamil dan bayinya? Betapa berartinya 2 menit bagi orang yang ngejar pesawat? Dan betapa berartinya 2 detik bagi para pembalap F1?

Jadi buat orang-orang yang termasuk golongan Si Temen, kalo lu dianterin oleh temen-temen lu yang termasuk golongan Si Sopir, adalah sangat elegan jika lu membalas kebaikan Si Sopir lu itu dengan suatu apresiasi. Ucapan terima kasih mungkin cukup, tapi 2 jam yang udah lu curi dari hidupnya (kalo emang 2 jam. Kalo rumahnya jauh dan bolak-balik makan waktu lebih dari 3 jam?) mungkin bisa dikompensasi dengan sesuatu yang lebih bermakna. Bisa berupa cemilan, minuman dingin, diganti ongkos bensinnya sesuai dengan biaya transportasi yang lu keluarin kalo misalnya nggak nebeng dia, diminta mampir ke rumah untuk istirahat, dikenalin sama temen lu yang cantik-cantik, atau bahkan kalo dia sering anter-jemput lu sebagai bagian dari usaha dia buat PDKT sama lu, ya mohon dong diterima cintanya. #eaaa

Kalo lu beralasan bahwa lu pengen dianter-jemput demi faktor keamanan, karena kendaraan umum rawan dengan kejahatan, oh b*tch please, lu kira naik kendaraan pribadi pun nggak rawan kejahatan. Angkot, bus atau kereta mungkin rawan copet, rampok, begundal dan lain sebagainya. Tapi kendaraan pribadi pun juga punya resiko yang nggak kalah: dirampok dan dijebak orang, dikasi ranjau paku, diserempet kemudian dituduh nabrak, dan lain sebagainya. Resiko itu ada dimana-mana, bukan cuma punya mereka yang di kendaraan umum tapi juga punya mereka yang naik kendaraan pribadi.

Intinya adalah, plese give a biggest respect to your friends yang mau diminta untuk anter-jemput lu sampe di depan rumah persis. Disaat lu masih enak-enak ngorok, mereka udah melek dan siap-siap. Disaat lu udah bisa santai-santai di rumah, mereka masih harus berjibaku di tengah jalan untuk pulang ke rumah. Mereka rela mengikhlaskan beberapa jam dalam umur mereka hanya untuk anter-jemput lu doang. Itu pun belom termasuk biaya ekstra yang harus mereka keluarin, entah itu untuk bensin, ongkos perjalanan, ataupun biaya penyusutan dari besarnya kilometer yang dia tempuh. So gue mohon dengan amat sangat, hargai apa yang telah mereka lakukan. Dan sebaliknya, kalau mereka memilih untuk nggak nganter-jemput lu, dan lebih memilih untuk ketemuan di satu tempat yang emang searah dengan jalan yang mereka lewatin, maka itu adalah hak mereka. Nggak perlu misuh-misuh, mencibir apalagi menggunjing di belakang. Oke bro?

 

Depok, 15 Oktober 2013, 22:12

DailyActivityPlan

Apakah lu ngerasa bahwa hidup lu gitu-gitu aja?

Apakah lu ngerasa bahwa 24 jam dalam hidup lu setiap harinya terbuang sia-sia?

Apakah lu ngejalanin hidup lu bagaikan air yang mengalir? Mengalir dari kloset ke comberan?

Apakah lu pengen supaya hidup lu lebih terencana?

Apakah…???

 

“Gone with the flow. Ikutin kemana air mengalir aja deh.” Gitu kira-kira kata mayoritas anak manusia di dunia ini pada umumnya.  Manusia-manusia biasa. “Just an ordinary people,” gitu kalo kata biography di twitter orang-orang kebanyakan. Sebagian besar orang adalah kaya gitu, nah apakah lu mau ikutan kaya gitu juga?

“Ah, gue kan hanya manusia biasa.” Bukan, lu adalah manusia luar biasa!

“But I’m just an ordinary people.” No, you can be an extraordinary people!

 

*ini kenapa ngomongnya jadi kaya motivator begini ya. Pasti ujung-ujungnya mau jualan produk deh…*

 

Bukan begitu bro. Gue hanya ingin berbagi sebuah hal yang semoga bisa menjadi inspirasi buat lu-lu semua. Apa itu? Langsung aja kita menuju ke Tee Kaa Pee…!!!

Jadi begini ceritanya. Sebagai seorang yang mengenyam bangku pendidikan di manajemen strategi dan sebagai seorang professional yang berkutat di dunia corporate strategic planning, adalah sia-sia jika semua ilmu itu ga gue wujudkan di dalam kehidupan sehari-hari gue. Loh emang bisa, bukannya manajemen strategi dan corporate strategic planning bicara dalam konteks perusahaan/organisasi? Kenapa nggak, bukankah definisi organisasi itu sendiri adalah sekelompok individu yang bergerak bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama?

Dalam kaitannya dengan manajemen strategi pada konteks individu, gue mau membagi suatu tools yang mungkin bisa bermanfaat buat lu-lu pada untuk membantu menjawab 4 pertanyaan yang gue sebutkan di awal tulisan ini tadi. Sebuah tools yang akan mengubah jalan hidup lu-lu pada. Tools apakah itu? Itu adalah sebuah tools yang gue beri nama…

 

…DAILY ACTIVITY PLAN…!!!

 

Ya, Daily Activity Plan. Atau rencana aktivitas harian. Wow, apaan tuh? Tenang-tenang, ambil nafas dulu, buang pelan-pelan lewat jalur belakang. Duuuutttt… Ah lega…

Dailiy Activity Plan adalah semacam pencabaran dari manajemen strategi dalam konteks individu berupa alat bantu yang gue gunakan di dalam keseharian gue. Seperti namanya, Daily Activity Plan ini berisi tentang rencana aktivitas harian gue setiap bulannya, setiap minggunya, setiap harinya bahkan sampai setiap setengah jam nya. Tools ini gue gunakan untuk merencanakan apa-apa aja yang kiranya bakal gue kerjakan di hari-hari tersebut, dan untuk level terkecil gue gunakan rentang waktu per setengah jam. Selain dari rencana aktivitas, gue juga menambahkan aktualisasi dari perencanaan yang udah gue susun. Per setengah jam gue bandingin plan dan actual dari aktivitas gue. Ini berguna untuk memonitor apakah rencana yang udah gue susun bener-bener dapat terlaksana dengan baik, atau ada yang belom dikerjain, atau sebaliknya malah aktual nya lebih oke dibanding perencanaannya.

Penasaran wujudnya kaya gimana? Nih buat lu-lu semua gue kasih liat dah nih:

Daily Activity Plan 2

 

Kaga keliatan? Ya emang. Bentar gan ane zoom in dulu eeaahh…
Daily Activity Plan

 

Udah liat? Ada yang bingung? Pasti ada dong ya. Pegangan gih sana kalo bingung.

Di baris paling atas adalah tanggal. Bulannya gue tulis di sheetnya. Jadi 1 file excel itu ada banyak sheet, dimana 1 sheet adalah aktivitas selama 1 bulan. Di bawahnya ada plan yang dikasi warna hijau, merupakan rencana aktivitas gue yang gue tulis di hari/minggu/bulan sebelomnya, sementara yang actual adalah realisasi dari rencana aktivitas, yang gue tulis H+1 atau di malam hari dari tanggal bersangkutan. Itu karena gue ngasih contohnya di hari-hari yang udah lewat aja makanya plan sama actualnya udah ke-isi. Kalo di hari-hari yang belom dijalanin, yang udah ke-isi cuma yang plannya doang. DI bawahnya lagi adalah hari di tanggal tersebut.

Selanjutnya di kolom yang sebelah kiri adalah detail per setengah jam dari setiap harinya. Jadi disitu udah coba gue rencanain bahwa di hari itu, setiap setengah jam nya gue bakal ngapain. Mulai dari jam 00.00 sampe ke jam 24.00. Full 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Terus di paling bawah masing-masing hari ada 3 poin, itu apaan ya? Oh sebagai perwujudan anak manusia yang selalu bersyukur kepada Tuhannya, setiap hari gue menulis 3 hal yang luar biasa yang terjadi di hari itu. Ga harus hal yang luar biasa sih, yang penting semangatnya adalah bahwa di hari itu apa aja hal-hal yang kita perlu bersyukur karenanya. Seburuk-buruk apapun hari yang kita jalanin, pasti ada banyak hal yang kalau kita sadari seharusnya bisa membuat kita lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.

Gue udah menggunakan tools ini mulai dari Desember 2011, dan masih terus gue pake sampe sekarang. Apakah dengan menggunakan tools ini kemudian hidup gue jadi lebih terarah dan terencana? Ya gue sih nggak bisa ngasih tau jawabannya. Tapi kalo lu ngeliat bahwa sampe ketika tulisan ini ditulis ( Oktober 2013), dimana di Januari 2012 gue menjadi ranking 1 The Best Management Trainee di perusahaan yang lama, kemudian jadi Supervisor di usia 24 tahun, nerbitin novel perdana di Agustus 2012 dilanjut novel kedua Maret 2013, selesai thesis S2 persis 2 tahun di Juli 2013 dan berkesempatan meng-umroh-kan diri sendiri dan orang tua di April 2013, ya harapannya lu-lu semua udah bisa ngejawab sendiri lah ya.

Kembali lagi mengenai tools Daily Activity Plan ini, gue nggak mewajibkan lu-lu semua untuk menggunakannya, tapi kalo lu mau nyoba ya dengan senang hati gue persilahkan. Spirit yang coba gue ambil disini adalah bahwa dalam hidup ini perencanaan adalah suatu hal yang mutlak diperlukan. Perencanaan, biarpun mungkin pada pelaksanaannya ada sedikit melenceng dari rencana, adalah masih jauh lebih baik dibanding nggak ada perencanaan sama sekali. Serta rasanya sayang kalo di hidup kita yang singkat ini kita ngejalaninnya cuma gitu-gitu aja, ga ada nilai lebih dan value added yang kita peroleh dari setiap detik yang kita lalui. Semua makhluk di dunia ini diberi jatah waktu yang sama: 24 jam per hari. Namun yang membedakan orang sukses dengan orang yang kurang sukses adalah bahwa mereka yang sukses umumnya lebih lihai di dalam memanfaatkan setiap detik yang mereka punya di dalam hidupnya.

Semoga tools ini bisa menjadi inspirasi. Kalo ada yang kurang jelas silahkan boleh lah kita diskusi. Mumpung masih gratis nih, mumpung gue bleom jadi profesional di konsultan manajemen strategi. Dan terakhir, berikut ini ada sebuah idiom menarik yang pernah gue baca entah dimana:

 

“Gagal dalam merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.”

 

“Without a strategy the organization is like a ship without a rudder.”

 

Depok, 15 Oktober 2013, 21:30

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.